Azzam menulis dan Iman

Bismillahirrahmanirrahiim... Baiklah. Saya harus benar-benar kuatkan azzam (niat) untuk menulis kembali terutama menulis di blog ini. Mungkin kalau teman-teman membaca tulisan-tulisan saya di blog ini, telah sering tulisan yang berisi deklarasi diri untuk kembali menulis. Tapi sayang, niat itu tidak begitu lama bertahan. Saya menyerah dengan berbagai tantangan yang menghampiriku terutama lemah dihadapan rasa malas.

Saya kembali menyadari bahwa saya memiliki passion dalam menulis. Telah banyak track record saya dalam menulis dan sering mendapat apreasiasi dari pembaca (semoga bukan riya. Sekali lagi sungguh sayang, saya belum mengeksploasi dan mengembangkannya hingga taraf yang tak terhingga. Hehe. Karenanya, bismillah. Saya akan dan terus melakukan itu. Insya Allah. Semoga Allah terus menguatkan istiqomah ini dan meluruskan niat ini.

Mungkin itu cukup pengantar saja. Saya ingin mengurai tentang iman yang pergulatanku dengannya cukup intens beberapa hari terakhir ini. Bagaimana manusia termasuk diri saya, begitu fluktuasi dalam berurusan dengan masalah iman. Atau, iman tidaklah statis. Kadang hari ini berada di posisi puncak tapi esok atau bahkan dalam hitungan detik, Ia bisa jatuh ke tempat yang begitu rendah dan membuat manusia berlumuran dosa.

Dalam observasi yang saya lakukan, bahwa iman manusia bisa jatuh atau berada di peringkat bawah jika manusia tersebut kurang khusuh dan intens dalam beribadah, terutama ibadah wajib seperti shalat lima waktu dengan berjamaah dan di awal waktu. Hasil ‘risert’ itu seketika mengingatkan saya pada ceramah seorang ustad di youtube, suburnya iman bisa di dukung oleh amal ibadah yang kita lakukan. Semakin sering beribadah, maka semakin bertambah iman kita. Sebaliknya pula, semakin kurang ibadah, semakin lemah iman manusia. Semoga saya tidak salah. Wallahu alam.  

Selain itu, dosa. Dosa juga menjadi hukuman bagi pelakunya yang membuat imannya lemah. Mungkin banyak orang yang tidak mafhum terkait konsuekuensi dari dosa, yakni salah satu hukuman Allah bagi pelakunya adalah malasnya beribadah. Jika sebelumnya giat beribadah, kemudian tiba-tiba intensitasnya dan kualitasnnya berkurang maka bisa jadi itu dikarenakan ada dosa yang telah dilakukan. Seperti yang dikisahkan pada ulama-ulama terdahulu, yang biasanya rajin shalat tahajjud. Pada suatu waktu, sang ulama tidak terbangun untuk shalat tahajud. Kemudian Ia bermuhasabah (evaluasi) diri terkait dosa yang pernah dilakukannya di siang hari. Menyadari hal itu, Ia langsung meminta ampun kepada Allah.

Ini mungkin yang sedang menimpah saya. Saya merasa iman saya begitu lemah dalam beberapa hari terakhir. Meskipun hal yang demikian bukan baru bertama kali, melainkan sering dan sering sekali. Yah, mau diapa lagi. Saya belum begitu kuat melawan diri saya sendiri. 

Seorang penceramah mengatakan teruslah memohon ampun kepada Allah, karena ALLAH MAHA MENGAMPUNI HAMBA-HAMBANYA. Bertobatlah hingga akhir hayat. Jika bertobat tapi terpeleset lagi, kembalilah bertobat. Kepeleset lagi, kembali lagi bertobat. Berdosa lagi, bertobat lagi. ALLAH TIDAK PERNAH BOSAN DAN MALAH SENANG MENDENGAR TOBAT DARI HAMBA-HAMBANYA. Semoga Allah mengampuni dosaku, kedua orangku, keluargaku dan kita semua. Aaamin.

Baubau, 15 Juni 2019

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Idealisme vs Pragmatisme

Kisah Aku dan tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Kisah Aku dan Pekerja rumah tangga itu