Bernostalgia di Sumur

Gara-gara air tidak mengalir maka banyak yang berbondong-bondong ke Kelurahan Bahari. Mesin air kebetulan lagi di perbaiki. Info yang beredar katanya bak penampungan akan dibersihkan. Ada juga yang katakana kalau pipa utama bocor. 

Tidak mengalirnya air sudah berlangsung selama dua hari dengan hari ini. Entah sampai kapan akan berakhir karena sampai sekarang tidak ada informasi resmi dari pihak pengelolah air terkait ini.

Orang-orang pun banyak mengalami kesusahan dan tentunya banyak yang mengeluh. Ada juga yang santai-santai saja. Saya orang yang menggabungkan keduanya: santai-santai dan mengeluh. Haha. Tapi ada hal yang menarik dan juga menyenangkan yakni orang-orang banyak yang bernostalgia dengan masa lalu. Termasuk saya.

Maksudnya, gara-gara air tidak jalan di dua hari ini, maka orang-orang kehabisan persedian air di rumah dan harus mencari sumber air, yakni di Kelurahan Bahari. Orang yang melakukan itu, salah satunya adalah saya. 

Saya sebenarnya orang bahari. Ada rumah di bahari. Hanya saja sekarang rumah sudah pindah ke Kelurahan Tongano Barat meski hampir tiap hari saya ke bahari. 

Karena di sana, ada banyak keluarga, tetangga-tetangga rumah lama yang baik dan tentunya banyak memori di sana terutama ada rumah. Lagian saya besar di sana. Saya pindah ke kelurahan tongano barat belum lama. 

Eh, ayo kita kembali ke topik. Jadi yang mau saya katakan adalah saya akhirnya pergi mencari air di Bahari. Jauh sebelum ada mesin dan pipa-pipa air yang mengalir ke rumah-rumah, sumber air orang-orang ialah di Bahari. 

Soalnya, tempat ini gampang dapat air. Tinggal gali sumur dua meter, sudah dapat air. Struktur tanahnya pun gampang untuk digali yakni pasir. Jadi wajar jika banyak sumur di bahari.

Saya akhirnya dalam dua hari ini ke bahari untuk mandi di sumur. Ada kebahagiaan tersendiri. Pasalnya, ada memori yang lama tentang sumur (orang-orang pun demikian). Waktu kecil dulu, saya ingat terutama saat mau ke sekolah, terlebih dahulu Bapak atau Ibu datang memandikan saya di sumur. 

Saat itu saya telanjang bulat. Yah, hal biasalah. Soalnya masih anak-anak. Haha. Di pagi hari banyak orang berkumpul di sumur. Selain mandi, juga mencuci pakaian. Ada juga yang hanya sekedar datang duduk-duduk mencari teman berbagi cerita. 

Jadi kalau di zaman itu, bisa dikatakan sumur adalah media sosial. Tempat perkumpulan orang-orang dan lalu lintas infomasi. Hubungan emosional pun sangat terasa di tempat ini. Ini terjadi juga di sumur-sumur lain.

Jadi ceritanya begini. Kemarin dan hari ini, saat saya mandi di sumur, saya agak berlama-lama. Sumur ini adalah sumur yang kami sering pakai dulu sebelum pipa-pipa air masuk ke rumah. Dan Alhamdulillah masih terpakai meski sumur-sumur lain di bahari sudah banyak yang ditutup.

Sumurnya di pinggir jalan dan hanya ditutup oleh pagar semen yang punya celah untuk melihat ke jalan dan orang-orang di jalan juga bisa melihat dari luar. Itupun hanya sedikit saja atau tidak terlalu lebar untuk menutupi semua sumur. Tingginya juga tidak tinggi. Persis sejajar dengan kepala saya. 

Alasan saya berlama-lama karena ada sensasi sendiri mandi di sumur. Seperti yang saya katakan tadi: ada banyak sejarah/nostalgia di sini. Banyak orang yang bisa saya ajak bercerita. Banyak tetangga-tetangga yang duduk di teras rumahnya untuk bercerita-cerita dan bercanda dengan saya. 

Maklum, rumah saling berdempet-dempet dan persaudaraan cukup kuat. Jadi sangat seru. Bahkan ada yang mengomentari saya: lama sekali mandi!!! Ahahaha.

Saya juga membawa cergen air untuk saya bawa ke rumah di Tongano Barat. Bukan hanya saya melainkan juga orang-orang lain dari kelurahan yang lain yang terdampak air yang tidak mengalir, terutama tongano barat dan timur, datang juga mandi dan membawa cergen untuk di isi air kemudian dibawa kerumahnya masing-masing. 

Sumur tempat saya mandi ini tidak telalu besar. Tapi sumur-sumur besar lain, kata orang-orang, ada antrian yang cukup panjang. Banyak orang yang ingin menggunakan sumur terutama mengisi wadah-wadah air yang sudah dibawa.

Melihat situasi seperti ini, penting untuk tidak menutup sumur-sumur yang ada. Ada memori, nilai kearifan lokal dan untuk mengantisipasi jika air tidak mengalir melalui pipa-pipa ke rumah seperti kasus sekarang.

~Tomia, 22 Zulhijjah 1441/ 12 Agustus 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Idealisme vs Pragmatisme

Kisah Aku dan Pekerja rumah tangga itu

Kisah Aku dan tenggelamnya Kapal Van der Wijck