Idul Adha 1441 H di kampungku yang cukup ramai

“Idul Adha kali ini lebih ramai dari Idul Fitrih baru-baru ini” kata temanku.

Saya cukup setuju dengan apa yang dikatakan oleh kawan saya tersebut. Idul Adha 1441 H/2020 M kali ini agak berbeda dan tampak sedikit meriah dibanding perayaan-perayaan idul adha sebelumnya. Bahkan sedikit lebih meriah dibanding idul fitrih 1441 H yang belum terlalu lama juga dilaksanakan. 

Hal yang membedakan dengan idul fitrih adalah Idul adha kali ini dilaksakan di Masjid setelah ada larangan untuk menjalankan shalat idul fitri 1441 H di tempat umum seperti masjid dan lapangan. Penyebabnya adalah untuk mencegah penularan penyakit covid 19 yang sedang melanda dunia.

Seperti ada kerinduan untuk menjalankan perayaan hari besar umat islam ini secara bersamaan. Kini baru mendapat momentum sehingga orang-orang bersuka cita untuk kumpul di masjid untuk shalat idul adha. 

Di idul adha kali ini juga, kampung saya agak ramai oleh para perantau. Hal ini disebabkan karena para perantau Tomia cukup banyak yang pulang kampung. Biasanya fenomena ini terjadi di idul fitrih tapi hal ini justru tampak di idul adha. 

Sebenarnya, para perantau ini kembali ke kampung sejak idul fitrih tapi tertahan untuk belum merantau kembali ke tanah rantauan karena penyakit Covid 19 yang masih terus memakan korban. Selain takut karena jangan sampai tertular, juga tempat rantauan mereka memiliki aturan yang ketat untuk bisa memasuki tempat tersebut. 

Bahkan ada juga tempat rantauan yang melarang orang-orang dari luar untuk masuk untuk menghindari penularan dan tentunya penambahan korban baru dari penyakit ini.

Saya termasuk dalam kategori perantau Tomia yang belum pergi merantau lagi. Selain karena sulitnya merantau karena covid 19, juga karena urusan-urusan saya diharuskan dilakukan secara online. 

Misalnya yang barusan saya lakukan yakni mendaftar untuk melanjutkan kuliah pasca sarjana (master). Proses pendaftaran termasuk seleksinya dilakukan secara daring. Selain saya, banyak mahasiswa juga yang mengalami hal yang sama dengan saya yakni diharuskan kuliah online. 

Selain kelompok pelajar, perantau Tomia juga yang masih meramaikan kampung adalah para pebisnis terutama yang berbisnis di Papua. Kebetulan banyak masyarakat di kampung saya yang menjadikan perniagaan di Papua sebagai mata pencaharian. Mereka “terjebak” di kampung karena akses ke Papua sementara ini cukup rumit bahkan ditutup.

Perantau lain yang pulang kampung adalah para pegawai negeri yang berkerja di Wangi-Wangi Ibu Kota Kabupaten. Sebab-sebab inilah yang membuat idul adha tampak ramai. 

~Tomia, 11 Zulhijjah 1441 H/ 1 Agustus 2020 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Idealisme vs Pragmatisme

Kisah Aku dan Pekerja rumah tangga itu

Kisah Aku dan tenggelamnya Kapal Van der Wijck