Saling Memahami Itu Penting; Cerita Bersama Teman Amerika

Makan siang bersama, senin (13/01/2020). Dari kiri ke kanan: Putra, Ibu Asisten rumah tangga (tidak terlihat), Megy, Marwan Upi, Sadar, Launa dan Rahmat.


Saya dan kawan-kawan saya di komunitas “MAKES” (terkait komunitas ini, silahkan baca ini) punya beberapa teman dari Amerika. Awal perkenalan kami dengan mereka ketika mereka hadir berdiskusi di komunitas kami. Mungkin karena tertarik dengan materi-materi diskusinya atau juga karena mereka suka berteman sehingga mereka sering hadir. Akhirnya mau tidak mau kami saling akrab.

Apalagi mereka tinggal di Makassar untuk sementara waktu. Saya kurang tau berapa lama mereka telah berada di Makassar, yang sebenarnya saya sudah tanyakan sebelumnya tapi saya sudah lupa. Pastinya, mereka sudah tinggal lebih dari setahun bahkan mereka juga sudah bisa berbahasa Indonesia meskipun belum begitu baik. 

Banyak hal-hal baru yang kami pelajari dari mereka yang berasal dari budaya, agama serta latar belakang berbeda. Mereka pun demikian. Mungkin di banyak tempat, perbedaan mengakibatkan konflik tapi tidak dengan kami. Kami justru menggunakan perbedaan sebagai sarana untuk saling memahami dan belajar dan akhirnya kami saling bersahabat akrab. Kami saling menoleransi dalam batas-batas tertentu.

Dari segi usia, mereka terlampau lebih tua di atas kami. Mereka orang-orang paruh baya bahkan mungkin terkategori tua. Tapi itu tidak menjadi penghalang untuk kami saling bersahabat.

Pada suatu hari, kami ke tempat tinggal mereka. Kami ingin bersilaturahmi. Kami menyepakati dulu waktu yang tepat karena kadang masing-masing memiliki jadwal kegiatan. Setelah hari dan jam disepakati, kami ke rumah mereka. 

Sebenarnya berkunjung ke rumah mereka sudah kerap dilakukan, misalnya kami pernah mengadakan diskusi di rumah mereka tentang sebuah topik kalau tidak salah terkait fenomena perubahan iklim. Narasumber saat itu adalah salah satu kawan kami dari Amerika ini. Dia cukup berkapasitas dalam hal ini. Terlebih dia adalah mantan pegawai di badan antariksa Amerika (NASA).

Oke, kembali ke cerita. Sebelum ke rumahnya, kami membeli buah sebagai hadiah sekaligus untuk dimakan bersama. Kami ingin menunjukan beginilah muslim yang baik, meskipun kami tidak sebaik itu dan tentunya kami masih terus belajar untuk menjadi baik. Kami hanya berusaha menjadi agen islam yang baik yang memberikan kebaikan kepada alam semesta (rahmatan lilalamin) termasuk kepada sesama manusia meskipun berbeda keyakinan/agama.

Menjadi muslim yang baik adalah bagian dari metode dakwah yang tidak kalah pentingnya bahkan langkah awal yang cukup efektif untuk berdakwah ke teman-teman non muslim, apalagi jika sedang berada di tengah mayoritas masyarakat yang tidak memeluk islam. 

Seperti kata orang bijak: “Banyak orang-orang non muslim tidak membaca Al Qur’an dan Hadits, yang mereka lihat dari islam adalah perilaku (akhlak) kita (muslim). Oleh karena itu, tunjukan bahwa kita adalah muslim yang punya akhlak yang terpuji.”

Di langit beberapa gumpalan awan hitam terbang tertatih-tatih. Tidak dominan meskipun ada kemungkinan mereka memanggil kawan-kawannya untuk menjadi mendung yang sangat. Pasalnya sehari sebelumnya, hujan tidak henti-hentinya mengguyur kota Makassar hingga malam hari. Saat itu, kami barusan tiba dan dipersilahkan masuk ke rumah. Tuan rumah sudah menyambut kami.

“Terimakasih atas buahnya”. 
“Sama-sama”

Sembari duduk melingkar di kursi tamu, kami saling ngobrol banyak hal termasuk masalah buah. Saat itu saya baru tahu kalau buah rambutan dan langsat yang kami bawa tidak ada di Amerika. Apel adalah buah yang populer di Amerika. Mereka memuji bahwa di Indonesia banyak jenis buah dikarenakan Indonesia berada di daerah tropis. 

Selain itu, kita juga sempat menyinggung masalah pendidikan terutama masalah jurusan yang saya akan ambil jika melanjutkan kuliah master yakni hubungan internasional. Terkait jurusan ini, salah seorang dari teman dari Amerika ini punya anak yang sedang kuliah di jurusan yang juga fokus pada masalah-masalah global di Georgetown University di Amerika. I hope you can meet her, katanya. 

Menurut majalah foreign policy yang kebetulan pernah saya sedikit baca saat berkunjung ke American corner di Universitas Hasanuddin, Georgetown University adalah salah satu kampus rekomendasi untuk kuliah jurusan hubungan internasional. 

Tanpa terasa diskusi kami sudah cukup lama dengan macam-macam topik. Bahasa yang kami gunakan campur-campur: Indonesia dan Inggris, karena bahasa inggris kami masih belum begitu bagus dan bahasa Indonesia mereka juga demikian. 

Tak terasa juga jarum jam sudah mendekati pukul 12 siang. Dari dapur terdengar suara-suara piring yang saling berdenting. Mata saya seketika menoleh ke meja makan. Benar saja, makan siang sudah disiapkan dan digelar di atas meja makan. Sebelumnya, kami sudah diberitahu bahwa kami akan makan siang bersama-sama. 

Kami kembali duduk melingkari meja di kursi masing-masing sembari menghadap ke piring yang sudah disediakan. Di rumah mereka ada asisten rumah tangga yang berasal dari warga makassar. Ibu itulah yang memasakkan untuk kami. Menu siang itu adalah nasi, telur goreng serta mi goreng. Makanan yang sangat enak siang itu. Ibu asisten tadi pun ikut makan bersama. Semua setara (egaliter). Tidak ada status sosial di situ. 

Saya meletakan nasi cukup banyak di atas piring. "Maklum orang Indonesia banyak makan nasi, sebenarnya bisa dikatakan semua negara Asia. Kalian di Amerika saya lihat sedikit makan nasi. Kira-kira kenapa?" tanyaku sambil tertawa tidak tau malu. hahaha.

"Mungkin karena kalian punya sawah yang banyak" salah satu dari mereka menjawab sambil ikut tertawa.

Kebetulan sahabat Amerika kami ini adalah kristen yang taat sehingga kami diajak berdoa dahulu sebelum makan. Salah satu dari mereka yang memimpin doa sesuai dengan agamanya. Kami yang muslim pun ikut berdoa tapi dengan cara islam. 

Inilah pentingnya saling berinteraksi dan saling memahami sehingga bermuara pada persahabatan. Tanpa ada interaksi dan dialog maka akan terjebak pada prasangka dan saling curiga. Ini sekaligus mengkritik thesis Samuel P Huntington, pakar politik Universitas Harvard bahwa setelah babak perang dingin berakhir, fase masyarakat dunia akan masuk pada fase benturan peradaban. 

Yakni, antara peradaban barat yang bersumber dari nilai-nilai Kristen dan peradaban timur yang bersumber dari nilai-nilai islam. Apa yang kami lakukan saat itu telah membantah teori itu. Kami justru bersahabat akrab meskipun berbeda budaya dan agama. Saling memahami itu penting.

Di teras rumah, mereka mengantar kami. Kami izin pulang. Kami menyalami mereka dan mengucapkan banyak terimakasih atas pelayanannya yang baik hari itu. 

“Terimakasih banyak atas hari ini. Dalam ajaran islam, kunjungan kami ini disebut dengan silaturahmi. Tujuannya agar persahabatan kita semakin erat,” kataku sambil menyelami mereka satu persatu sekaligus mempromosikan ajaran islam “Terimakasih juga, kami sangat senang atas kunjungan ini. Jangan lupa kontak kami lagi jika ingin kesini” sambil tersenyum bahagia.

~Makassar, 14 January 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Idealisme vs Pragmatisme

Kisah Aku dan tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Kisah Aku dan Pekerja rumah tangga itu