Senin, 04 Mei 2015

Jangan biarkan mereka seenaknya memasuki pikiranmu

Mulut berbicara dimana-mana. Telinga mendengar dimana-mana. Mata melihat dimana-mana. Semua sudah berubah. Kejadian di belahan bumi lain, seketika dapat ketahui oleh manusia dibelahan bumi lainnya. Dunia telah berubah dan segalanya bisa akan berubah.

Terus terang saya sudah bosan dengan acara-acara televisi kita hari ini. Selain malas untuk menonton, juga karena dihiasi oleh program acara yang kurang menarik untuk di tonton. Melalui televisinya, para pebisnis media terkesan hanya berpikir bisnis demi mendapat bagaimana menaikan ratting (laba) yang sebesar-besarnya tanpa mengoreski konten acara.

Orang bijak berkata: masa depanmu di tentukan oleh tiga hal. Pertama, dengan siapa kamu bergaul. Kedua, buku apa yang kamu baca. Ketiga, acara apa yang kamu tonton. Sesungguhnya ketiga poin di atas sangat penting. Hemat saya ketiganya adalah hasil pengerucutan dari berbagai hal faktor yang menentukan arah kita ke depan. Namun, Saya hanya ingin menuliskan tentang poin ketiga: program acara yang seriing kita tonton.

Tentang program acara yang kita nonton adalah hal telah menjadi aktivitas rutinitas manusia. Dunia kita telah masuk dalam dunia tekhnologi informasi. Mungkin dahulu, sangat sulit bagi orang-orang untuk mengakses informasi melalui media elektronik seperti televisi atau radio terlebih di daerah-daerah pedesaan dan pelosok. Televisi hanya akrab bagi mereka yang berada di daerah perkotaan yang tergolong maju dan modern serta mungkin juga yang terkategori dalam kelas menengah ke atas.

Sebelum kita berbicara lebih lanjut, saya ingin sedikit bernostalgia dengan masa kecil saya di desa terkait bagaimana kegagapan kami terhadap keberadaan televisi. Jangankan televisi, listrik pun merupakan barang langkah. Bayangkan saja, ketika saya dan kawan-kawan sedang asik bermain di penghujung senja, seketika kami akan bersorak tatkala lampu (listrik) tiba-tiba menyalah. Sorak gembira bak melihat saudara yang baru pulang dari rantauan. Sedang di kota-kota anak sudah biasa dengan listrik dan mungkin akan tertawa kegirangan jika melihat tingkah kami ini ketika lampu (listrik) menyalah. Mengingat hal ini jadi senyum-senyum sendiri, meskipun di desa kami sampai hari ini listrik belum sepenuhnya bisa dirasakan. Maklum namanya juga desa, terkesan selalu ‘teranak-tirikan’.

Kembali ke topik. Yah, hidup kita dihiasi oleh media, elektronik maupun cetak. Dahulu televise hanya menjadi barang langkah milik orang yang berpunya. Namun sekarang, benda ajaib berbentuk kubus ini sudah menjadi kebutuhan primer manusia dan tentunya cukup mudah didapatkan. Realitas ini membuat para industri pertelevisian memproduksi acara sebanyak-banyaknya yang salah satu tujuannya adalah meraup untuk sebesar-besarnya. 

Tidak mengherankan jika program acara diproduksi dengan berbagai jenis. Mulai hiburan yang berkualitas rendahan hingga informasi yang memuat informasi ‘sampah’, provokatf dan sarat kepentingan tertentu kemudian disebarkan bebas dan serampangan. Tidak peduli dampak sosial (negatif) yang ditimbulkan. Konten acaranya terkandung nilai moral dan sosial atau tidak urusan belakangan, asalkan laku di pasar maka selesai. Wajar saja, jika dalam banyak hal program acara di televisi kita, kurang bahkan sangat tidak berkualitas atau justru melahirkan kehancuran moralitas masyarakat. 

Inilah yang terjadi di dunia arus informasi dan tekhnologi yang besar ini. Kita harus pandai-pandai mengonsumsi program acara baik berbentuk hiburan maupun pemberitaan. Jangan biarkan informasi-informasi ‘jahat’ seenaknya memasuki pikiran kita.
 
Akhirnya saya kadang berpikir, betapa bersukurnya kami yang tinggal di desa. Karena listrik sehingga kami kurang intens mengkonsumi acara pertelevisian. Meskipun ini masih butuh diskusi yang panjang. hehehe... 

~Kediri, 4 Mei 2015

Minggu, 03 Mei 2015

Bahasa kita sama, Kita Indonesia

Perbedaan itu indah. Peberdaan itu juga adalah konflik. Perbedaan ibarat dua mata uang yang selalu berada berdampingan. Keduanya dapat mewujud tergantung bagaiamana perbedan itu di manajemen.

Sesungguhnya perbedaan itu adalah keniscayaan. Tak ada manusia yang sama dicitakan di dunia ini. Manusia yang dilahirkan dalam keadaan kembar pun, tidak persis sama misalnya sidik jari yang setiap manusia berbeda satu sama lain. Apalagi jika kita melihat perbedaan dalam konteks sosial kebudayaan
.
Sudah banyak hal-hal yang unik dalam perbedaan-perbedaan kebudayaan di Indonesia. Kebetulan saya suka berpetualang. Sudah banyak daerah di Indonesia yang aku jumpai yang memiliki perbedaan terutama bahasa. Inilah yang membuat Indonesia unik dan sangat indah jika mampu dijaga serta dikelolah dengan baik.

Suatu ketika saya berjumpa dengan beberapa kawan. Saya menyebutnya para ‘si fulan’ namanya. Dia berasal dari salah satu tempat di pulau besar Indonesia yang sebagian besar penduduk Indonesia berdiam di sana. Di sinilah perbedaan kami berdialog bahkan mungkin berdebat.

Perjumpaan menghasilkan interaksi. Ketika kami berbincang-bincang dengan menggunakan bahasa Indonesia, mereka selalu menganggap bahasa yang saya utarakan agak lucu. Lebih spesifiknya lagi adalah dialek (logat). Maklum saja, Indonesia adalah negeri yang unik dengan berbagai budaya serta banyak dipisahkan oleh pulau-pulau. Sehingga setiap kali orang bertutur dengan bahasa Indonesia hampir semua membawa dialek kebudayaan masing-masing. Meskipun sebenarnya, bisa saja saya atau siapapun menggunakan bahasa Indonesia formal atau bahkan ilmiah dalam obrolan itu. Tapi saya melihat peruntukan dengan pertimbangan situasi, kurang tepat karena saat itu bukanlah forum yang ilmiah, formal atau serius.

Saya ingin mengajukan pertanyaan. Bagaiamana seandainya ketika anda sedang berbicara tiba-tiba orang-orang akan menertawakanmu karena dialek yang anda guanakan? Apalagi tidak hanya sekali atau berulang kali? Saya yakin sisi manusia kita akan tersinggung, entah berapa kadar ketersinggungan itu. Itulah yang saya alami dan mungkin juga anda.

Akhirnya saya berinisiatif untuk mengingatkan para sifulan ini. Saya ingin memahamkan mereka tentang arti kebudayaan Indonesia atau bahkan substansi dari pancasila itu. Bahwa sesungguhnya tidak boleh ada yang merasa sebagai budaya superior atau disuperiorkan dalam kehidupan keIndonesiaan kita. Berikutnya, budaya lain disubordinatkan. Jika demikian yang terjadi, sesungguhnya ini bukanlah Indonesia dengan lima sila dalam pancasilanya. 

Daerah dan kebudayaan termasuk si fulan ini sebenarnya sering di angkat dalam media-media mainstream Indonesia. Baik dalam pemberitaan politik, ekonomi atau kebudayaan serta yang lainnya maupun dalam banyak program acara hiburan pertelevisian kita. Sehingga tidak mengherankan banyak orang terutama kalangan muda selalu menstandarkan kebudayaan mereka pada kebudayaan para si fulan ini. Mereka merasa tersubordinat oleh kebuayaan orang lain. Anak-anak muda ini secara tidak sadar menganggap kebudayaan dan bahasa mereka adalah hal yang lebih ‘rendah’ di banding kebudayaan para si fulan ini. Mental seperti inilah yang disebut dengan mental ‘terjajah’ yang kadang mereka tak menyadarinya. Fenomena ini, dalam istilah akademik ada yang menyebutnya dengan fenomena ‘hegemoni’ yakni penjajahan yang terjadi dimana para korban tidak menyadarinya jika sedang dijajah.

Cara berikir seperti, hemat saya adalah keliru. Kita dalam posisi yang sama baik dalam pandangan pancasila terlebih dalam pandangan agama islam yang merupakan agama mayoritas penduduk Indonesia. Bahasa dan kebudayaan para sifulan ini hanya ‘aji mumpung’. Hanya kebetulan didukung oleh kekuatan media besar yang berada di sekitar mereka. Media membantu mendistribusikan ke seluruh penjuru Indonesia melalui program acara hiburan, program berita ataupun program-program acara media lainnya.

Kembali pada diskusi saya dengan para si fulan. Karena tak suka dan cukup ‘alergi’ dengan cara berpikir seperti mereka. Saya melihat para si fulan ini dalam posisi merasa bahwa kebudayaan mereka adalah superior sehingga selalu medefinisikan kebudayaan yang lain dengan cara pandang mereka sendiri. Mereka merasa bahwa budaya (bahasa) mereka lebih baik di banding bahasa lain di Indonesia. Atau para si fulan merasa bahwa budaya dan bahasa merekalah yang perlu di jadikan contoh. Sehingga saya sedikit menjelaskan agar mereka paham. Saya jelaskan bahwa dalam cara pandang bahasa daerah lain di Indonesia, bahasa si fulan juga aneh dan mungkin juga lucu. 

Inilah fenomea kebudayaan kita. Kita harus mempertahankan lokalitas kebuyaan daerah kita. Karena kebudayaan Indonesia adalah kumpulan (akumulasi) kebudayaan-kebudyaan nusantara, merauke sampai sabang. Tidak ada yang merasa sebagai budaya atau bahasa daerah yang berderajat tinggi di antara suku-suku di Indonesia. Semoga kita menyadarinya.

~Pare, 6 April 2015