Senin, 28 November 2011

Kesan 27-11-2011

Ada beberapa hal yang berkesan dalam perjalanan hidup kemarin. Awalnya, menghadiri kegiatan yang diadakan di kampus. Kebetulan kegiatannya dilaksanankan dua hari berturut-turut yaitu sabtu dan minggu. Hal ini dilaksanakana mengingat sabtu-minggu adalah hari libur lanjut mencari kekosongan ruangan
perkuliahan .

Kegiatan itu adalah sekolah risert dan kepenulisan yang diadakan oleh pusat studi demokrasi (PSD) UNHAS. Kebetulan saya juga masuk dalam kepengurusan dalam lembaga studi ini. Mekipun peserta kurang dari target tapi kegiatan ini tetap konsisten dilaksanakan. Sebenarnya, kegiatan-kegiatan kelembagaan untuk kondisi sekarang sangat kurang di minati oleh mahasiwa. Tidak hanya di PSD UNHAS, bisa dikatakan semua organisasi (lembaga kemahasiswaan) mengalami penurunan animo.

Langsung saja kehari yang kedua (hari mingu). Dalam perjalanan ke kampus, tepatnya di depan pintu kampus terlihat kerumunan orang dijalan. Tidak seperti biasanya karena ditengah padatnya lalu lintas jalan tiba-tiba macet. Banyak kendaraan yang sedang berjalan tiba-tiba memarkir kendarannya. Hal itu dilakukan karena rasa penasaran tak terkecuali saya.

Ada percikan darah di jalan raya. Dua orang pria menggendong seorang nenek yang sudah tak berdaya lagi. Segera ku dekati, dan membantu menggotongnya. Sangat memprihatinkan, di mulut dan kedua rongga hidungnya bercucura darah. Salah satu kakinya (betis) patah karena pada waktu di angkat bagian kaki akan jatuh karena tulang sudah patah dan satu-satunya penyambung (penyangga) adalah tinggakal daging yang dan kulitnya. Sungguh menyedihkan.

Dalam kepanikan, mimik si nenek seolah tak terjadi apa-apa meskipun mulut dan hidungnya mengeluarkan darah. Saya yakin si nenek belum sadar, dan masih dalam kondisi bingung dan bleng. Keprihatinan itu ternyata tidak dimiliki oleh semua orang. Ketika si nenek di carikan kendaraan untuk di bawa ke rumha sakit tepi jarang supir yang mau mengangkutnya. Saya kurang tahu pasti alasannya, tapi asumsi mengatakan para supir takut. Dan pada akhirnya, sebuah mobil yang mengangkut penumpang mahasiswa segera di berhentikan dengan paksa dan ancaman. Karena seperti supir lain, supir mobil ini tidak mau untuk membawa si nenek dalam kondisi krtis.

Lanjut cerita coy…

Di ruangan kelas, tempat kegiatan berlangsung. Banyak hal yang didapatkan. Salah satunya, bertemu pemateri-pemateri yang cerdas dalam bidangnnya. Terkesima oleh salah-satu pemateri dengan kapasitas intelektual dan retorika yang cukup bagus. Irih, wajar saja karena begitulah manusia. Tapi perlu diketahui bahwa irih memiliki dua wajah. Irih yang baik dan yang buruk atau dilarang. irih yang baik adalah irih melihat orang senang atau mendapatkan kelebihan tapi kita berusaha untuk mendapatkannya tanpa berusaha menghilangkan kelebihan (kebahagiaan orang). Selanjutnya, irih yang dilarang adalah irih yang berusaha tidak senang melihat orang bahagia atau memiliki kelebihan dan berusaha menghilangkan kebahagiaan yang dimiliki orang tadi. Dan alahamdulillah irih yang mengindap saya sampai stadium puncak adalah irih yang baik.

Dengan itu, membenah diri untuk lebih baik adalah hal yang terpenting dalam ruangan kelas itu. Ada beberapa sisi yang harus diterapkan pada pribadiku. Yang terpenting bahwa kita memilki keunikan masing-masing. Kita akan menjadi hebat jika ke unikan(potensi) itu di asah dengan sebaik-baiknya.

Cerita berikutnya, bung…

Malamnya, berkunjung ke kamar kos seorang teman. Sebelum acara kunjungan itu dilakukan, Saya di traktir oleh teman.hehehe. cewek lagi. Cantik lagi. Makanannya enak lagi. Momentumnya pas lagi. Olek lanjut, Saya pergi dengan senior yang baru saja ujian akhir dan alhamdulilah sudah predikat sarjananya sudah didapatkan. Kami bertiga menyepakati untuk beljar bahasa inggris. Sebenarnya yang belajar hanya dua orang, saya dan senior saya karena kami berguru pada seorang teman yang kami kunjungin tadi. Dia seorang mahasiswa sastra inggris UNHAS, satu kampus dengan saya. Kalau kapasitasnya dalam bahasa inggris tidak bisa di ragukan lagi.

Lanjut coy…

Terus terang di kamar kosnya, kepalaku mulai pusing. Itulah penyakit kronis dan laten yang mengindap ditubuhku. Biasanya penyakit ini muncul ketika melihat buku-buku yang menarik dan belum dbaca. Bayangkan saja, di kamar kosnya tertimbun buku yang lumayan banyak baik yang berbahasa inggris maupun Indonesia. Yang inggris kebanyakan dibeli ketika dia ke Amerika dalam program pertukaran pelajar. Banyak buku yang menarik untuk di baca dan waktu yang tersedia didunia tidak cukup untuk menguasai pengetahuan-pengetahuan itu.Selain itu, si teman sastra inggirs ini memiliki kelebihan lain.

Sebenarnya banyak hikma saya dapatkan hari itu. Alhamdulillah Ya Allah.

“Sesungguhnya silih bergantinya siang dan malam ada tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir”. Kalimat ini saya mengutipnya dari islam, kalau bukan Al-Qur’an atau Hadist, Wallahu alam. Singkatnya, kalimat ini mengajak kita mencari hikmah di setiap kejadian di muka bumi ini. Kejadian apapun itu punya makna.




Sabtu, 26 November 2011

Jama’ah shalat jum’at = jama’ah shalat shubu?

Menjelang berapa detik setelah pak imam mengucapkan salam tanda shalat jum’at berakhir, saya kaget melihat keluar masjid. Banyak jama’ah shalat jumat hingga ke teras masjid karena masjid tidak bisa lagi menampung seluruh jama’ah. Tidak seperti
waktu shalat lain (isa, shubu, lohor, ashar dan magrib) yang jama’ahnya rata-rata paling banyak dua saf untuk jama’ah laki-laki.

Kurang tahu secara tepat alasannya. Sejak mengenal islam shalat jum’at begitu diistimewakan oleh kaum muslim. Bahkan banyak yang menyebutnya sebagai hari raya dalam tiap minggu. Tapi kalau berbicara masalah shalat, sesungguhnya semua shalat yang lima waktu (isa, shubu, lohor, ashar dan magrib) itu hukumnya wajib. Orang akan berdosa jika meninggalkan shalat karena tak ada bedanya dengan shalat jum’at. Toh, shalat jum’at hanyalah pengganti shalat lohor di hari jum’at. Hemat saya, banyak kaum muslimin yang belum tahu secara umum hakekat shalat jum’at termasuk saya sendiri, ahahaha. Mungkin jama’ah yang banyak hanyalah sebuah motivasi kultural yang terkonsruksi dalam pikiran setiap kaum muslimin.

Melihat fenomena seperti ini, saya bertanya dalam hati: kapan semua shalat wajib jama’ahnya seperti shalat jum’at? Seandainya itu terjadi apa yang akan terjadi dengan umat muslim? Mungkinkah akan disegani oleh kalangan non muslim? Atau efeknya nanti bagaimana?

Usai merenung sejenak, tiba-tiba teringat seorang non muslim (kalau tidak salah seorang yahudi). Dia seorang pemikir yang disegani, pernah berkata seandainya jama’ah shalat jum’at sama dengan jama’ah shalat shubu maka umat islam akan menjadi kekuatan yang luar biasa dan disegani diseluruh dunia. Pertanyaannya: kenapa yang dibandingkan hanya shalat shubu ? karena shalat shubu adalah shalat yang paling berat dilaksanakan.

Sungguh analogi yang mendalam. Mampukah kita mengikuti saran dari seorang non muslim itu?