Sabtu, 30 April 2011

Rumah sakit, tempat merenung

Ketika kita kerumah sakit maka asumsi orang mengatakan bahwa ada yang sedang berobat. Memang hal itu tidak dapat dipungkiri. Karna dari namanya saja “rumah sakit” artinya rumah tempat orang sakit.

Dalam rumah sakit saya melihat banyak manusia-manusia yang mengeluhkan keadaan dirinya. Mereka mengungkapkan
pada perawat bahwa dirinya sendang tidak dalam keadaan baik. Hal inlah yang membuat saya harus mengucapkan syukur kepada Tuhan atas kesehatan yang diberikan karna saya tidak seperti yang tergelatak diruang perawatan menunggu datangnya rasa sehat. Banyak orang yang ingin sehat namun kesempatan itu kadang mereka tidak dapatkan. Banyak pula yang ingin merasakan indahnya hidup dengan berkativitas namun lagi-lagi harus menanggalkannya karna kondisi tubuh yang kurang mendukung.

Setidaknya inilah hal positif yang saya dapatkan dari rumah sakit. Kalau sebelumnya kita menganggap rumah sakit adalah tempat yang paling tidak disukai oleh banyak orang maka bagi saya di sini pula tempat untuk melakukan perenungan untuk mensyukuri hidup. Begitu bnayak orang yang tergeletak di atas ranjang tempat tidur. Sedang di luar sana banyak pula yang menikmati kesehatannya dengan melakukan hal yang sia-sia bahkan merugikan orang lain.

Melihat realitas kehidupan seperti ini, maka kadang-kadang perlu kiranya kita mengunjungi rumah sakit melihat kehidupan di dalamnya. Meskipun mungkin banyak orang yang tidak menginginkannya karna rumah sakit selalu di gambarkan sebagai sesuatu yang menakutkan. Namun itulah yang harus menjadi bahan renungan. Karna di balik pelabelan demikian terdapat hal yang dapat menyadarkan kita.

ku tulis di rumah sakit, sambil menemani dia yang sakit.

Kamis, 21 April 2011

Ingin ku

Membaca beberapa artikel yang dimuat dalam sebuah blog pribadi, aku terkagum-kagum. Sungguh memberikan pencerahan. Saya juga kembali tersadarkan bahwa pengetahuan itu sangat luas. sehingga hasrat untuk memiliknya semakin bertambah.

Sekarang aku harus lebih tekun lagi dalam mencari pengetahuan. Pengetahuan yang ada di alam semesta sangat luas dan sekalipun kita hidup beribu-ribu tahun pasti kita belum mampu untuk mendapatkannya. Menurut
seorang ahli bahwa alam semesta ini ada telah bermiliar tahun sedangkan kehidupan manusia baru hanya sekian juta tahun. Artinya ilmu pengetahuan yang belum terjangkau oleh manusia masih sangat banyak. Dalam sebuah ceramah-ceramah agama pun selalu dianalogikan begitu luasnya ilmu Tuhan karna meskipun lautan menjadi tinta untuk menuliskan ilmu-ilmu itu, maka sampai habispun tak akan mampu menuliskan semua ilmu Tuhan.

Tapi aku kadang terkendala dalam persoalan kenyamanan belajar. Salah-satunya bagaimana menciptakan kondisi yang tepat. Baik kondisi internal dalam diri maupun eksternal (lingkungan). Mungkin akau harus mengikuti saran seorang teman bahwa kenali dulu tipe belajar agar kamu lebih nyaman dalam belajar. Namun saya tidak tahu secara pasti tipe belajarku. Tapi yang pastinya aku akan mencari kenyamanan dengan caraku sendiri (autodidak).

Ayo belajar...!!!

Selasa, 19 April 2011

Sebuah keraguan

Ingin ku menggapai bintang
Namun aku ragu,
Ragu apakah aku mampu
Ataukah hanya menjadi keinginan untuk memeluk gunung
Tapi apa daya tangan tak samapi

Aku ingin bebas dari belenggu
Belenggu yang pernah di rasakan oleh Romeo dan
Juliet
Yang kadang telah keluar menjebol dinding logika akal sehat
Yang selalu bergejolak menuju titik kedamaian

Haruskah ini berakhir dengan kepedihan ataukah kedamaian
Aku hanya ingin kamu tahu tentang belenggu ini
Belenggu yang membatasi jiwa yang bebas
Jiwa yang ingin menari seolah tak ada yang melihat
Jiwa yang ingin bernyanyi seoalah tak ada yang mendengar
Atau jiwa ingin mencintai seolah tak ada yang menolak apalagi membenci

Wahai sang pencinta
Saya ragu apakah ini salahku?
Apakah ini juga salahmu, yang menampakan sosok yang indah
Aku takut dan tidak mau semua orang mempersalahkanmu
Salah karna kehadiranmu sebab dari gejolak ini
Dan mereka perlu tahu
Bahwa aku akan menjadi pahlawan untuk melawan mereka demi engkau
Karena aku untukmu

sekolah yang membosankan

Di belantara kampus unhas, begitu ramainya mereka hilir mudik. Mereka bisa dikata adalah penghuni selama beberapa tahun di tempat itu. Tiap hari aku melihat mereka dalam kesibukan, entah apa yang dikerjakan. Temanku bilang: begitulah mahasiswa. Tapi terus terang saja, kadang akau bosan melihat mereka. Sok atau apalah bahasanya. Yang pastinya mataku sepertinya alergi melihat tingkah mereka. Kalau saya beranalogi, ibaratnya mereka terlalu berbicara tentang fungsi air sementara tenggorokan mereka telah kering karna tidak meminum air yang didiskusikannya. Apalagi untuk memberikan kepada orang-orang yang dahaga disekitarnya.

Selain itu, kadang aku berpikir ingin menghancurkan semua termasuk tempat ini. Aku ingin
keluar segera dari tempat ini tapi aku tak kuasa. Masih dibelenggu oleh persepsi dan budaya yang selalu melekat dan susah untuk dilepaskan. Tapi yang pastinya ini bukan yang kuharapkan.

Ingin egeois untuk menjeneralisasikan semua, bahwa semua lembaga pendidiakan formal terlalu otoriter. Tapi memang begitulah faktanya. Memaksakan dan menyeragamkan kehendak yang banyak menindas itu. Dia merasa Tuhan yang tau akan semua termasuk kami tak terkecuali saya sebagai penghuni kampus yang sesak dengan retorika palsu ini. Bagaiman tidak? Mereka egois untuk tidak mengajak kami untuk mendiskusikan mana yang baik dan apa kebutuhan yang tepat.

Mereka telah mematok kami agar mengikuti alur pikiran mereka. Dari yang paling atas sampai ke bawah. Mungkinkah mereka tidak tahu atau pura-pura tidak mengerti kalau kami ingin dinamis dengan cara kami sendiri. Janganlah mereka mengarahkan secara sepihak mengikuti rencana mereka. Mencetak kami menjadi manusia-manusia yang seragam melalui kurikulum yang diseragamkan pula. Mengurung kami dalam sebuah ruang formal yang di batasi oleh dinding-dinding yang tidak peka dengan keadaan sekitarnya. Banyak tangisan, jeritan atau semua yang sejenisnya terhalangi oleh dinding tembok yang tak ber-prikemanusiaan.

Aku ingin bebas. Bebas menari seolah-olah tak ada yang melihatku. Aku ingin bernyanyi sekeras-kerasnya seolah-olah tak ada yang mendengarkanku. Aku juga ingin terbang bebas ke angkasa nan jauh tinggi disana melintasi cakrawala kehidupan dan melepaskan semua belenggu yang mengikat. Biarlah aku terbang mencari apa yang ku inginkan mencari pelepas dahaga intelektual. Aku tidak terlalu percaya dengan penawar yang ada dalam ruang-ruang formal itu. Bahkan aku muak melihatnya tatkala dia berdiri megah sementara di sampingnya banyak gubuk-gubuk yang akan roboh tatkala angin sepoi berhembus.

Aku ingin bebas. Aku tak mau seperti burung dalam sangkar emas yang indah itu. Banyak yang kagum dengannya karna berada pada sangkar emas yang mengagumkan itu. Tapi mereka yang kagum itu tidak tau keadaan yang sebenar-benarnya bahwa sang penghuni sangkar terkekang dalam sangkar tempat ia berada.

Sekali lagi aku ingin bebas.

Senin, 18 April 2011

Cinta: damai atau benar

Ini hanyalah sebuah rekayasa cinta. Terjebak dalam kolonialisme cinta adalah sebuah penjara yang tak mampu diselesaikan dengan revolusi fisik. Aku putuskan sekarang, kalau aku akan bersama hegel dalam hal ini. Aku butuh anti tesis dalam dialektika makna ini untuk menghancurkan kerasnya tembok cinta yang abstrak.

Sebuah anugerah dan mungkin juga adalah kemutlakan pada manusia ketiaka berbicara
cinta dan memilikinya. Cinta adalah sebuah anugera yang melekat pada setiap insan manusia yang menginginkan kedamaian. Karnanya cinta tak mengenal dimensi waktu dan siapa dia. Karna dia akan menghampiri siapa, kapan dan dimana saja.

Retorika cinta kadang membuat semua menjadi lazim yang sesungguhnya penuh dengan jebakan yang penuh dengan kepedihan. Manis tapi tak bersubstansi atau antara kedamaian dan kebenaran. Tak jarang orang memilih kedamaian yang menjanjikan kebahagiaan itu. Begitu banyak kamuflase untuk menutupi kebejatan cintanya dalam bungkusan kedamaian. Ternyata bagaikan lebah yang di depannya membawa manis namun dibelakang membawa racun yang mematikan.

Akhirnya kalimat ini terucap juga dari mulut mereka yang telah merasakan pahitnya kedamaian yang dijanjikan. Kenapa aku tak memilih kebenaran? dalam jeritan dia mengikhlaskan kalimat ini terucap. Ini adalah ekpresi kekalahan sebagai tanda penyesalan.

Mereka terlalu menjanjikan cinta melalui kedamaian namun kebenaran telah mati olehnya. Sedang kebenaran yang akan membawa cinta dan kedamaian itu telah terpasung dalam nikmat yang sesaat.

Minggu, 10 April 2011

Tentang malam menanti embun pagi

Hari ini, pagi kembali menemuiku. Senyum mentari membuatku silau. Aku ingin marah karna dia menggangu dan menghentikan mimpi. Mimpi yang melarikan aku dalam genggaman malam. Tapi aku harus berbalik dan kembali menyapanya dengan senyuman. Karna ini bertanda aku keluar dari malam yang membosankan itu.

Meskipun dinginnya embun serasa membekukan tangan namun gelapnya malam yang baru aku
lewati seolah menghapus dingin pagi ini. Gelap yang tak kulihat ada dimensi materil karna mereka selalu berdialektika dalam makna. Makna yang selama ini mereka koar-koarkan namun tak mampu membuat apresiasi atau setidaknya memaksaku berkata wah,,,!!! Justru sebaliknya.

Aku bosan sayang. Untunglah kau meninggalkan aku. Aku tak mau kau bersamaku. Aku tidak mau melibatkanmu dalam ruangan yang fatamorgana itu. Telingaku bising oleh retorika yang mereka umbarkan. Harusnya malam itu adalah momentum melepasakan segala kepenatan namun yang terjadi sebaliknya.

Untunglah kau segera meninggalkan aku, dia, mereka dan ruangan yang sedikit ucapan manis yang biasa kita dapatkan. Aku ingin lari meninggalkan malam, namun waktu tidak memihak padaku. Bukannya aku tak ingin bersamamu dan saya yakin kau dan mereka juga demikian. Tapi inilah realitas yang memaksa untuk dijalani.

Sekali lagi aku bosan sayang. Tapi biarlah itu menjadi kenangan pahit dalam sejarah kita. Biarlah embun pagi ini hilang oleh cahaya mentari yang semakin meyengat. Namun ada hal yang harus kalian tau dan juga kamu. Saya tak ingin hilangnya embun pagi ini akan menghilangkan rasa sayang ini. Aku sayang kalian semua, terlebih kamu.


Jumat, 08 April 2011

Hujan, dingin dan ayam di malam hari

Seperti ada yang melempar kerikil ke atap kamar kos, ternyata dugaanku yang salah. Yang terjadi malam itu adalah awan yang menumpahkan airnya ke bumi. Malam yang semakin dingin di tambah dengan guyuran angin malam dan hujan. Sambil mendengar insrumen musik bertanda sedang menenangkan badan dan pikiran yang terasa jenuh.

Ayam yang saling bersahutan menandakan adanya sebuah tanda dalam perputaran waktu kehidupan. Kalau orang tua kampung mengatakan
sebagai terjadinya pergantian waktu ke jam berikutnya. Mungkin itu benar, karna betepatan selesainya mendengar teriakan ayam yang berbunyi “kukkuruyuuukkkk…..” itu saya kembali mendengarkan detak bunyi jam dinding. Gerakan refleks tanpa di sadari ternyata pandanganku telah tertuju pada jam dinding. Dan jarum pendeknya menunjuk angka 1 (satu) malam dan jarum panjangnnya menunjuk angka sedikit melewati angka duabelas.

Ternyata bunyi layaknya orang melempar kerikil ke atap kos tadi tiba-tiba lenyap. Namun segala yang di bawanya tak ikut bersama lenyapnya bunyi itu. Dinginnya yang menusuk sampai ke tulang masih tetap terasa. Sedikit ingin kesal dan protes pada hujan yang tak bijaksana. Bagai mana tidak? Dia meninggalkan dingin dan tak dibawa pergi.

Ah, tak ada guna aku memikirkannya. Mungkin mantra pak ustadz harus aku gunakan. Bahwa ikhlas atas kejadian yang menimpamu tatkala ikhtiarmu telah maksimal. Akhirnya, singkat kata keinginan protes karna tidak terima akhirnya hilang dengan sendirinya bagai hilangnnya bintang langit ketika mentari menampakan wajhnya di ufuk timur.

Mungkin inilah hikmah yang tejadi pukul 1 malam itu. Bukankah Tuhan pernah berkata kalau ada tanda-tanda bagi manusia yang berpikir pada perputaran siang dan malam?. Tuhan memberi ilmunya melalui bacaan pada alam semesta. Tuhan menyuruh kita untuk membaca semua fenomena kehidupan di alam semsta ini. Oleh karna itu bacalah karna ayat-ayat Tuhan sungguh luas ini.

Ditulis di Makassar, pada tanggal 5 April 2011.