Rabu, 11 Juli 2012

Aku menyebut kalian pahlawan

Suara itu tak asing bagiku. Di saat rutinitas mentari mulai meninggalkan siang, suara itu biasanya melewati persimpangan jalan di dekat kosku. Dia biasanya datang 1-2 kali dalam seminggu untuk menjalankan tugasnya melewati jalan-jalan yang ada di kompleks tempat tinggalku.
 
                                                                   (foto:koleksi pribadi)

Yah, btul. Ternyata tidak salah dugaanku. Suara itu adalah suara mobil trek yang biasa datang itu. Dengan 3-4 orang yang menumpanginya, mereka segera mengambil sampah-sampah yang terletak di tempat pembuangan sampah. Sampah itu adalah sampah yang digunakan oleh orang-orang yang tinggal di kompleks ini.

Sore itu bagiku, sore yang tidak adil. Sore adalah ujung dari siang hari yang akan berganti menjadi malam, dimana orang akan melepas kelelahannya. Biasanya pada moment ini, orang-orang pulang dari aktivitas kesehariannya. Pulang kerumah untuk melepas kepenatan lalu membersihkan diri kemudian beristrahat di rumah masing-masing.

Namun tidak seperti orang-orang yang berada di atas mobil trek itu. Mereka masih belum menyelesaikan tugas-tugasnya yang berat dan mulia itu. Meskipun banyak orang yang menggap profesi mereka adalah profesi rendahan. Padahal, bagaiamana jadinya daerah kompleks tempat tinggal kami jika sampah-sampahnya tidak di buang ke tempat pembuangan akhir? Saya yakin akan penuh dengan sampah.

Saya menyebutnya mereka sedang melakukan tugas mulia yang tak mampu di kerjakan oleh semua orang. Orang-orang yang bekerja seperti ini adalah orang yang rela mengotori dirinya dengan sampah-sampah kotor yang merupakan sumber penyakit. Mereka rela memegang bahkan memeluk sampah-sampah itu kemudian dibawanya ke atas mobil trek. Tujuan mereka hanya satu, demi kompleks tempat tinggal kami bersih dan nyaman untuk di tinggali.

Bagi yang berprofesi seperti ini, aku menyebut kalian pahlawan.


Senin, 09 Juli 2012

Idealisme vs Pragmatisme

Term idealisme jika di telusuri, sesungguhnya dipopulerkan oleh seorang filsuf Jerman Friedrich Hegel dalam filsafat dialektika idealisme. Dialektika hegel diartikan sebagai proses kontradiksi atau penegasian dua komponen yang berbeda. Dia menyebutnya sebagai thesis dan anti thesis yang menghasilkan sintesis, kemudian dalam diri sinthesis juga terdapat dua komponen tadi yaitu thesis dan anti thesis. Kedua komponen ini juga akan menghasilakan sinthesis baru, demikian seterusnya. Sedangkan idealisme, berasal dari kata idea yang artinya pemikiran atau ide. Jadi sesungguhnya, Hegel ingin mengatakan bahwa kontradisksi sebenarnya hanyalah terjadi pada pemikiran atau ide. Atau ada juga yang menyebutnya dengan dialektika ide.

Dalam perkembangannya, idelisme kemudian bergeser makna yang berbeda dengan yang didefinisikan Hegel. Namun perubahan definisi biasanya tidak terlalu jauh dari makna aslinya. Idelisme mengalami perubahan makna sesuai dengan beberapa faktor salah satunya adalah konteks penggunaan yang disesuaikan dengan kondisi sosial yang ada sehingga disepakati untuk digunakan. Oleh karena itu, idealisme dalam tulisan ini dimaksudkan sebagai paham yang selalu berada pada hal-hal yang ideal atau seharusnya. Biasanya orang-orang yang menganut paham ini selalu mempertahankan pemikirannya dan berusaha untuk mewujudkannya secara konsisten dalam keadaan apapun. Mereka tidak mengenal kompromi yang keluar dari prinsip dasarnya meskipun itu dapat mengantarkan mereka pada tercapainya tujuan. Bagi mereka kompromi sperti ini adalah penghianat terhadap idealism itu sendiri, jadi biasanya militansi akan melekat pada pengikut paham ini.

Sedangkan term pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan kebenaran dengan membuktikan dirinya sebagai benar dan melihat apa yang menjadi akibatnya. Pragmatisme menekanan pada eksperimen atau pengamatan. Dalam perkembangannya, pragmatisme mengalami pergesaran makna. Pragmatisme kini dimaknai sebagai paham tentang bagaiamana cara memperoleh kepentingan. Caranya pun tergantung dari kemauan aktornya, meskipun melanggar prinsip dasar tujuannya. Mereka biasanya tidak konsisiten dengan tujuan prinsip atau nilai dasar perjuangannya. Asalkan kepentingan itu terwujud maka mereka melakukanya dengan cara apapun. Singkatnya pragmatisme adalah lawan dari idealisme.

Terus terang, dulu saya pernah menganut paham ini. Saya selalu begitu keras pada sesuatu yang menurut saya tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Misalnya saja tentang permasalahan sosial yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang salah. Sebagai mahasiswa, saya selalu mengatakan bahwa pemerintah salah dan harusnya begini dan begitu. Saya tidak takut berteriak pada pemerintah karena saya tidak memiliki hubungan apa-apa dengan mereka, hanya sebatas hubungan rakyat dan wakil rakyatnya.

Namun, tahukah kita bahwa pemerintah atau wakil rakyat kita juga adalah mantan mahasiswa seperti saya? Bahkan banyak dari mereka banyak melakukan hal yang seperti saya lakukan malah lebih hebat lagi. Melawan pemerintahanya yang katanya salah mengeluarkan kebijakan, melakukan demonstrasi jalanan karena merasa membela rakyat tertindas untuk melawan penindas (sebutan bagi pemerintah) atau selalu merasa diri paling benar dan menganggap pemerintah hanyalah mementingan diri sendiri. Dan lain sebagainya.

Tapi yang mengherankan, ternyata para mahasiswa penentang penindasan itu kini telah menjadi penindas (wakil rakyat) kembali. Banyak dari kalangan mahasiswa yang ketika menjadi mahasiswa selalu berada pada posisi yang idealisme namun disaat berada pada sturuktur kekuasan maka idealisme itu hilang. Pragmatisme kini telah menjangkiti mereka. Kenapa ini bisa terjadi?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya tidak akan terlalu banyak mengeluarkan konsep-konsep atau teori-teori. Cukup kita melihat beberapa paragraph di atas. Bahwa, ada perbedaan konteks mahasiswa dan pemerintah. Mahasiswa hanya berada dalam kampus, kurang bahkan tidak bersentuhan dengan kekuasaan. Mahasiswa belum punya kepentingan pada kekuasaan, jika mahasiswa melawan pemerintah maka tidak ada hubungannya dengan nilai akademi (untuk beberapa kasus terutama di zaman orde baru, mahasiswa mendapat intervensi yang lebih dari penguasa). Namun, yang menjadi titik tekan disini adalah “kepentingan” terhadap pemerintah.

Sedangkan ketika Mahasiswa sudah keluar dari kampus. Mereka berhadapan dengan dunia baru yang berbeda dengan kampus. Mereka dituntut mencari kepentingan ekonomi (uang) untuk menghidupi dirinya bahkan orang lain. Akhirnya mereka harus mengorbankan idealisme mereka demi kepentingan ekonomi. Selain itu hemat saya, se idealisme apapun seseorang jika sudah masuk dalam sturuktur kekuasaan maka dia akan susah mempertahannyakaannya. Dia harus mengikuti arus (aturan main) sistem yang berlangsung karena konsisten dengan idealisme maka berarti harus siap keluar struktur.

Jika demikian, apakah saya akan menjadi penindas ketika suatu saat menjadi penguasa? Atau apakah saya harus terus berada dalam posisi yang idealisme sedang bagiku idealisme yang radikal itu absurd jika berada dalam struktur kekuasaan? Jawabannya: entahlah…

*Jawaban saya hanya dilihat dalam perspektif kepentingan dan konteks ruang yang melingkupi aktor.

Sabtu, 07 Juli 2012

Langit menangis dan aku tidak romantis lagi

Malam ini, langit tampaknya belum bisa menghentikan tangisnya. Entah, apa yang membuatnya menangis. Apakah karna jenuh melihat keangkuhan makhluk yang bernama manusia? Atau mungkin terharu atas keberhasilan manusia melaksanakan tugas khalifahnya? Entahlah.

Tangis adalah ekspresi jiwa (emosi) yang mungkin karena sedih atau malah terharu. Jikalau langit terharu atas bumi, mungkinkah ? sedang di sini dan sana bahkan hampir semua tempat bumi kian gersang. Bumi telah memunculkan tanda-tanda ketidaklayakan untuk di huni. Lagi, oleh manusia yang katanya bertugas sebagai khalifah pemakmur bumi dan alam semesta malah ingkar. Karena itu saya sepakat kalau kita semua tidak mengatakan kalau langit tengah terharu.

Inilah kesedihan. Langit terus menangis dan susah di tebak kapan berhenti dan menangis lagi. Langit mungkin marah pada bumi yang tak mampu menjaga diri hingga dia sakit-sakitan. Dia mencoba menyeimbangkan dirinya ketika kondisi dirinya tidak seimbang lagi. Dia sengaja mengeluarkan lahar dari perutnya untuk mengatakan kapada makhluk bernama manusia bahwa dia sedang marah. Bumi sengaja membuat gelombang dan air yang besar untuk membersihkan dirinya dari kotoran-kotoran dan mungkin kotoran itu adalah makhluk yang bernama manusia. Mungkin juga bumi ingin mengobati dan membersihkan sakitnya yang semakin parah hingga dia meminta bantuan langit untuk menurunkan air matanya, hujan dengan dasyat hingga makhluk bumi ternggelam kerenanya.

Kini anomali terjadi dimana-mana. Musim kini tak seperti biasa. Sepesang kekasih itu, mungkin tak seperti dulu lagi. Menikmati musim hujan dengan segelas kopi hitam hingga mereka larut dalam gelapnya malam dan rintikan hujan. Bukankah itu kita sayang…!!! yang mungkin tidak akan seromatis dulu lagi ketika musim hujan dan payung merah jambu itu. Saya tidak ingin memalingkan memoriku dari kisah itu, ketika engkau membersihkan titik noda yang ada pada kerak bajuku. Kau tersenyum padaku dalam guyonan angin malam yang dinginya menusuk hingga ke hati dan memaksaku untuk mengatakan: demi Tuhan sang pemilik cinta, aku menyayangimu karnya-Nya. Apakah kisah kita akan berulang pada hujan malam ini? Entahlah sayang.

Aku pesimis sayang. Meskipun banyak kawanku yang melarangku untuk pesimis, tapi aku tidak bisa memaksa diriku untuk melawan itu. Hujan ini sulit membawa memori romantika itu dan merubahnya menjadi realitas yang dapat kita nikmati. Hujan ini beda dengan hujan kemarin ketika kau memayungiku dengan payung merah jambu itu karena kamu takut terjadi apa-apa pada kekasihmu ini. Hujan kali terasa kejam sayang. Dia kejam karena ulah banyak manusia yang telah kejam pada bumi, kekasih langit itu. Hingga langit harus terseduh-seduh menangis karena manusia tidak lagi menjalankan tugas kekhalifaannya dan malah sebaliknya membuat bumi semakin tak layak di huni.

Sayang...! maaf jika aku tidak seromantis dulu lagi. Aku ingin menangis bersama langit karena ulah mereka dan mungkin juga kita yang telah menyakiti bumi, kekasih langit itu. Sayang ikutlah menangis bersamaku dan bersama hujan ini.

Makassar di saat hujan malam, 7 juli 2012