Senin, 25 Juni 2012

Harus Istiqamah

Hal yang paling berat dilakukan adalah istiqamah (konsisten/komitmen). Inilah sepenggal kalimat yang disampaikan oleh seorang kawan sekaligus saya menganggapnya sebagai guru.

Niat  dan action adalah dua mantra yang cukup hebat untuk mengantarakan kita pada keberhasilan mencapai tujuan. Namun perlu kita ketahui juga, masalah atau hambatan adalah keniscayaan dalam hidup. Hakekat masalah adalah bentuk tantangan untuk meraih tujuan. Jika berhenti apalagi mundur berarti kalah. Sebaliknya yang harus dilakukan adalah terus melawan dan melewati hambatan itu jika ingin menang.

Teringat ucapan lagi seorang kawan. Dia beranalogi dengan sebuah kapal. Kawan ini berkata, ketika kapal sudah berlayar maka sebuah keniscayaan dia akan menemui tantangan berupa ombak atau angin ataupun sejenisnya, mungkin kecil hingga yang besar. Jika kita ingin sampai pada tujuan jangan pernah mengeluh dengan adanya tantangan ini apalagi mempersalahkannya bahkan mundur. Karena ombak dan angin adalah sebuah kewajiban adanya di laut. Jika tetap mengeluh maka jangalah berlayar dan diamlah bahkan matilah engkau. Titik.

Merenungi analogi ini, sangat betul adanya. Hidup adalah proses menyelesaikan masalah. Jika masalah yang satu sudah selesai maka muncul lagi masalah yang baru hingga kematian itu menghampiri.

Jadi yang hanya kita lakukan adalah tetap konsisten/komitmen (istiqamah) dalam perjuangan kita menuju cita-cita yang di inginkan. Sebagus apapun niat dan metodemu, jika tidak istiqamah maka jangan pernah berpimpi untuk sukses.

Manjadda wa jadda, Manshabar zhafirah. Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan sukses, barang siapa yang bersabar maka dia akan beruntung. (Mantra dalam novel ranah 3 warna)

*Inspirasi malam sebelum tidur.
Di kosku, daerah tamalanrea, 25 Juni 2012

Minggu, 24 Juni 2012

Ekonomi Kemanusiaan


Ekonomi merupakan isu yang cukup menarik untuk dibicarakan. Jika kehidupan akhirat kita lebih berbicara pada aspek spiritual maka kehidupan dunia adalah ekonomi atau mungkin saya bisa menyebutnya ekonomi untuk dunia dan spiritual untuk akhirat. Tapi pemisahan yang saya maksudkan hanyalah model kategorisasi, bukan pemisahan yang membuat saya harus disebut dengan penganut sekulerisme.

Saya mungkin berbeda dengan banyak orang terutama para pemikir ekstrim liberal yang menganggap kehidupan duniawi tidak bisa berada dalam ruang  yang sama dengan spiritualitas. Spiritual harus di tempatkan dalam ranah personal dan ranah dunia terlebih publik adalah urusan rasionalitas manusia. Bahkan bagi mereka agama (spiritualitas) adalah hal yang mengahambat progresifitas kehidupan dunia. Melainkan saya harus mengatakan bahwa spirtulitas adalah hal yang penting di tempatkan pada ruang personal dan ruang publik dalam batasan tertentu tanpa memisahkannya secara ekstrim.

Melanjutkan keberlangsungan kehidupan dunia maka ekonomi merupakan hal yang krusial harus dipenuhi. Tak mengherankan, jika ekonomi selalu dijadikan landasan penting ideologi tertentu. Karl Marks, seorang ideolog Jerman mengungkapkan teori dependesia dan determinisme ekonomi dalam kehidupan sosial. Bahkan pengaruh kuatnya filsafat materialisme dialektika historis yang dianutnnya bisa dikatakan arah perjuangan ideologi ini sangat bertendensi pada penyembahan ekonomi. Kehidupan sosial baginya, adalah pengaruh basic struktur yakni hubungan produksi yang mempengaruhi supra struktur lainnya semisal politik, budaya, pendidikan bahkan agama.

Tulisan ini tidak akan terlalu dalam membahas tentang konsep ekonomi apalagi menawarkan konsep ekonomi yang paling ideal. Namun hanya sedikit melihat bagaimana harusnya  atau landasan apa yang harus menjadi pijakan ekonomi di dunia.

Seorang ulama Iran yang juga berperan besar dalam revolusi islam Iran 1979, Murtadha Muthahhari mengatakan ideologi di dunia ini hanyalah dua yaitu ideologi kelas dan ideologi kemanusiaan. Ideologi kelas adalah ideologi yang memihak pada kelas masyarakat tertentu tidak memihak pada masyarakat secara keseluruhan. Dia mencontohkan kapitalisme dan sosialisme, kedua ideologi ini tergolong dieologi besar dalam wacana dunia. Sedangkan ideologi kemanusiaan baginya hanyalah satu yakni ideologi islam, yang juga merupakan mainstream ideologi dunia selain kapitalisme dan sosialisme.

Kapitalisme adalah teori ekonomi yang diprakarsai oleh ekonom klasik Adam smith. Meskipun konsep ekonomi ini tengah menjadi pemenang dunia hari ini dengan berbagai model metamorfosis namun terbukti tidak memihak pada kemanusiaan secara umum. Sistem ekonomi ini hanyalah memihak pada kepentingan kaum borjuis (pemodal) dan kaum proletar (kaum miskin) tidak mendapat maslahat darinya. Begitu pula dengan sistem sosialisme yang dipopulerkan oleh Karl Marks, meskipun ideologi ini bertentangan dengan kapitalisme namun pada dasarnya tetap hanya memihak pada kelas masyarakat tertentu. Oleh Karl Marks ideologi ini adalah ideologi kaum atau kelas miskin (proletar) dengan kata lain musuh terbesarnya adalah kelas (kaum) kaya (borjuis/kaya).

Meskipun perdebatan islam sebagai ideologi atau bukan belumlah final, namun terlepas dari perdebatan ini yang harus kita sepakati adalah islam agama rahmatan lil alamin (agama rahmat sekalian alam). Islam diturunkan untuk manusia dan memaslahatkan seluruh alam semesta. Islam bukanlah konsep yang memihak kepada si kaya (borjuis) seperti konsep kapitalisme. Juga bukan  konsep yang memihak kepada si miskin saja (proletar) seperti sosialisme meliankan islam merangkul semuanya, merangkul si borjuis dan si proletar untuk hidup memaslahatkan manusia dan alam semesta. Atas dasar inilah Murtadha Muthahhari menyebut islam sebagai ideologi kemanusiaan. Jika kita mengacu pada pandangan ini maka yang harus dijadikan pijakan membangun ekonomi kita adalah ekonomi kemanusiaan (islam) bagi terciptanya rahmatan lil alamin.

Selasa, 19 Juni 2012

Mungkinkah ini alienasi?

Alhamdulillah sekarang saya mulai menulis lagi. Setelah berita duka atas kehilangan leptop, saya seakan tidak memiliki gairah lagi untuk menulis. Padahal ada fasilitas lain yang bisa saya gunakan. Saya kebetulan masi memilki komputer meskipun produk lama yang tidak ada lagi di pasaran bahkan suku cadangnya pun tidak dijual lagi. Bahkan jika komputer ini rusak, kata kawanku
kemungkinan tidak bisa diperbaiki lagi. Meskipun itu, saya tidak termotivasi untuk menulis menggunakan komputer ini.

Teknologi adalah hasil manifestasi ilmu pengetahuan manusia yang dituangkan dalam karya nyata yang dapat mempermudah kerja manusia. Karena hasil cipta manusia maka dia dapat dikendalikan oleh manusia. Tapi seiring perkembanganya teknologi yang dapat memudahkan kerja manusia akhirnya membuat manusia tergantung padanya. Ketika teknologi itu hilang darinya banyak manusia yang seolah tidak lagi mampu menyelesaikan pekerjaannya. Dengan ini manusia seolah hilang atau asing dari dirinya karena kemampuan sebenarnya telah tereduksi oleh kemampuan teknologi.

Fenomena ini terjadi pada diri saya. Sebenarnya saya sadar akan hal ini namun saya tidak mampu melawan hegemonik teknologi ini.  Saya memulai menulis tulisan ini setelah ada leptop, jika tidak ada saya tidak akan memulia menulis. Memang teknologi dapat dikendalikan tapi tanpa kita sadari kadang telah mengendalikan kita. Inilah yang disebut teralienasi oleh teknologi.