Rabu, 17 Desember 2014

Kesiapan dan Peluang

Siang. malam. Matahari terbit-terbenam. Buah yang jatuh dari pohonnya. Manusia berjalan. Ikan berenang. Burung terbang. Rasa senang-sedih. Menyesal-bangga. Demikian perputaran siang dan malam, bahwa selalu ada tanda-tanda bagi yang berpikir.

Banyak tanda (hikmah) dalam proses kehidupan jika kita membacanya. Biasanya terselip dalam kejadian-kejadian yang kadang tidak begitu penting bagi kebanyak orang. Tapi setiap kejadian itu, tergolong penting atau tidak, akan ditemukan hikmah bagi yang memikirkannya.

“Berpetualanglah layaknya seorang backpacker, dalam perjalan engkau akan menemukan tujuan-tujuan”.
Kalimat yang diungkapkan oleh kawan padaku cukup berarti jika dimaknai secara dalam. Dalam kehidupan selalu banyak hal yang membuat hati dan akal tertarik untuk mengikutinya, mungkin inilah bagian dari cita-cita itu.

Namun bagaimana jika kita menginginkannya tapi kita tidak memiliki kesiapan untuk berhasil mendapatkannya? Inilah masalah yang saya hadapi. Ada sebuah kompetisi yang menurut saya cukup menarik. Sayang, syarat-sayat untuk mengikutinya tidak terpenuhi oleh saya. Saya kurang bersiap sedari dulu sehingga ketika peluang ini muncul saya tidak bisa terlibat di dalamnya.

Namun apa jadinya para backpacker hanya memiliki kesiapan untuk menempuh perjalanan, jika hanya duduk diam tak bergerak? Tentunya mereka tidak akan menemukan peluang atau mimpi-mimpi itu. Peluang/terwujudnya mimpi hanya akan menemui orang-orang yang bersedia menempuh perjalanan. Jika hanya duduk mengeluh dan tidak bersedia mencari tangga untuk sampai ke tingkat atas, maka mimpi itu tidak akan terwujud.

Pelajaran yang saya peroleh dari pengalaman beberapa hari ini adalah tentang bagaiamana mewujudkan mimpi. Bahwa di perjalanan selalu ada peluang-peluang untuk mewujudkan mimpi-mimpi. Namun, berjalanlah dengan bekal atau persiapan. Ada peluang  tapi ketiadaan persiapan, absurd. Ada persiapan tapi ketiadaan peluang, sama absurdnya. Hanyalah kepemilikan akan keduanya yakni peluang dan kesiapan kita dapat mewujudkan mimpi itu. Mari menyiapkan segala amunisi yang diperlukan dan mari temukan peluang itu.

~Makassar, 17 Desember 2014

Sabtu, 13 Desember 2014

Kurikulum pendidikan individu

Gayatri. Yah, dia seorang anak yang ajaib. Bayangkan saja, diumurnya yang belum mencapai dua dekade, dia sudah menguasai lebihdari sepuluh bahasa secara otodidak. Dia tidak pernah ikut kursus sebagaimana banyak orang lakukan untuk menguasai bahasa tertentu. Dengan kemampuan, metode serta strategi sendiri, dia mampu membuktikan bahwa belajar itu bisa bisa dilakukan dengan banyak cara, tidak mesti harus mengikuti cara-cara mainstream. Apalagi jika selalu mengikuti sistem atau kurikulum yang ditetapkan oleh lembaga tertentu atau institusi yang bernama negara.
 
Saya tidak ingin membahasa gayatri lebih dalam di sini. Saya hanya ingin mengucapkan turut berbela sungkawa karena gadis ini belum terlalu lama ini (saat menulis tulisan ini) telah dipanggil oleh sang Kuasa untuk menghadap pada_Nya. Semoga amal ibadahnya mendapat tempat yang layak dan dosa-dosa terampuni,  Al Fateha. Smoga kita menginspirasinya.
 
Beberapa hari yang lalu, saya juga bertemu dengan orang yang mirip dengan Gayatri. Dia juga menguasai beberapa bahasa dengan cara belajar sendiri (otodidak). Saya berdikusi banyak dengannya tentang bagaimana bisa menguasai bahasa dengan sistem pendidikan ala dia. Saya terkagum-kagum dengan ceritanya. Lagi-lagi saya terinspirasi.
 
Hemat saya, kedua orang ini sebagai anti thesa dari sistem mainstream yang dianut oleh kebanyakan orang. Kita selalu terpaku dan tergantung pada sistem atau konsep budaya pendidikan kita yang turun temurun. Bahwa jika ingin cerdas harus mengikut pada sistem sekolah formal. Atau jika ingin menguasai bahasa asing harus mengikuti kursus di lembaga bahasa tertentu. Saya pikir ini paradigma yang kurang tepat.
 
Dalam kasus belajar bahasa inggris misalnya, saya ingin mengajukan pertanyaan kepada hadirin pembaca: Sudah berapa lama anda belajar bahasa inggris? Rata-rata kita akan menjawab sejak SD hingga universitas atau bagi yang bersekolah di desa yang tepencil dan tertinggal seperti saya mungkin sejak mulai dari SMP atau bahkan tidak sama sekali karena tidak pernah sekolah. Atau kalaupun sekolah guru-guru pengajarnya masih kurang kompeten. Pertanyaan berikut: Sudakah anda ahli dalam berbahasa inggris? Saya yakin, jika mengandalkan sistem pengajaran seperti di sekolah formal kita, maka sebagian besar dari kita atau bahkan semua akan menjawab: Tidak. 
 
Jika demikian faktanya, berarti ada yang salah dalam sistem pendidikan (pengajaran) kita. Jika kita berbicara sistem, kita akan berbicara seluruh pihak-pihak yang terkait krena sistem adalah kumpulan bagian-bagian yang bersatu. Mungkin karena gurunya, konsep belajarnya, kondisi kelas, siswanya, anggaran pendidikan termasuk gaji pengajar atau yang lainnya. 
 
Namun, dalam kasus kedua orang yang dibicarakan di atas menarik untuk kita ajukan pertanyaan: Kenapa mereka bisa se ahli itu dalam belajar? Okelah, ada faktor kecerdasan (kelebihan) yang dimiliki setiap manusia. Tapi untuk kasus belajar bahasa asing banyak orang cakap dengan belajar secara otodidak. Mereka tidak  menggantungkan diri pada sistem pendidikan kita yang ambu radul ini. 
 
Kurikulum Individu
 
Teori atau konsep atau sistem pendidikan, hemat saya tidak semua bisa digeneralkan atau di universalkan kepada semua peserta didik (siswa). Banyak teori lahir adalah adanya upaya melakukan penyamarataan (generalisasi) terhadap semua objek yang diteliti. Mengambil sampel kemudian mengeneralkan ke smua populasi. Padalah kemungkinan seluruh populasi berbeda dengan keadaan sampel yang diteliti adalah masih terbuka lebar. Untuk lebih sederhananya, saya berikan contoh.
 
Menurut dokter tidur ideal bagi manusia dalam sehari adalah 8 jam. Pertanyaannya: Apakah seluruh manusia pernah di teliti oleh sang dokter? Saya pastikan, jawabannya: Tidak. Bisa saja orang yang tidak diteliti tersebut tidak membutuhkan 8 jam tidur untuk kesehatannya. Bisa saja lebih atau kurang dari 8 jam. 
 
Inilah yang saya ingin tekankan. Setiap orang punya pola sendiri, metode, sistem, cara atau apalah namanya, untuk menguasai pengetahuan tertentu. Kurikulum atau sistem pendidikan hanya upaya menjeneralkan semua siswa atau pendidikan, padahal kondisi semua siswa tidak selamanya mereka ketahui. Atau kadang kurikulum pendidikan terlampau sok tahu dengan kondisi siswa secara umum, karena tidak selamanya siswa cocok dengan sistem pendidikan itu.
 
Sekarang, di tingkat elit tengah diperbincang kurikulum pendidikan untuk diterapkan di negeri kita, Indonesia. Terkesan setiap ganti pemerintah (mentri), kurikulum pendidikan juga ikut diganti. Inilah yang terjadi sekrang. Terjadi bongkar pasang kurikulum pendidikan. Pemerintah sekarang tiba-tiba secara mengejutkan mengganti kurikulum pendidikan yang digunakan oleh pemerintah sebelumnya. Konsekuensinya terjadi kebingungan dan ke’kacauan’ di tingkat pelaksanaan. 
 
Terlepas ideal atau kurang idealnya kurikulum pendidikan yang diberlakukan dan tengah diperbincangkan saat ini, saya masih yakin dengan metode kedua orang yang dibicarakan di atas  (gayatri dan kawan yg kutemui). Bahwa setiap pribadi manusia punya ruang sendiri untuk bermanuver belajar untuk memahami sesuatu tanpa harus tergantung pada sistem/kurikulum pendidikan. Lagi pula kurikulum pendidikan tidak menjamin semua siswa akan merasa cocok dengannya.
 
Sejatinya, kurikulum pendidikan apapun, sebaiknya memberikan ruang kreatif bagi siswa untuk mencipatkan metodenya belajarnya sendiri. Karena setiap individu punya metode, pola, teori, strategi, kurikulum atau sistem belajar (pendidikan) sendiri yang kadang hanya di ketahui oleh pribadinya sendiri. Yang demikian saya menyebutnya “kurikulum individu”. Mari belajar pada gayatri dan kawan saya di atas.

~Kesunyianlah yang membuatku menulis saat ini. Makassar, pukul 11:37, 13 Desember 2014

Selasa, 09 Desember 2014

Memoriku terseret ke masa kanak-kanak

Sore biasanya digunakan oleh sebagian orang untuk segera menyelesaikan tugas-tugas hariannya. Ada juga yang sudah selesai sehingga hanya sekedar mengisinya dengan aktivitas santai atau istrahat. Demikian dengan kami saat itu.

Saya dan beberapa kawan, duduk di pelataran salah satu Masjid di kota Makassar. Seorang kawan tiba-tiba bercerita tentang masa kecilnya. Cerita itu muncul lantaran, ada beberapa anak yang tengah bermain, bergembira ria di sekitar kami. Saya yakin anak-anak inilah yang membuat memori kawanku terseret ke masa lalu, saat dia masih anak-anak.

“Bahagia sekali mereka ya?” kawanku bertanya dengan pertanyaan retoris. Kami mengiayakan. Saya melihat saat itu anak-anak yang sedang bergembira ria di sekitar kami, begitu bahagia. Tak ada beban yang terpancar dalam raut mukanya. Asumsi saya, anak-anak ini tidak seperti anak remaja atau dewasa yang sering diperhadapkan dengan masalah-masalah hidup yang cukup berat membutuhkan penyelesaian. Yah, bagiku itulah dunia anak-anak yang ideal. 

Namun, asumsi saya tersebut bisa seketika terbantahkan, tatkala saya melihat bagaiamana anak lain se usia mereka tidak tertawa riang sebagaimana mereka rasakan. Lihat di belahan dunia lain. Tidak usah belahan tempat yang jauh, tapi lihatlah di belahan tempat di kota ini. Banyak anak-anak seumuran mereka, sore hingga larut malam masih di jalan. Mereka menjual koran, mengais sampah bahkan hanya sekadar meminta-minta belas kasihan orang lain.

Idealnya anak-anak adalah dunia penuh kebagiaan. Tanpa beban masalah. Pagi hari bangun. Belajar dan bermain dengan kawan sebayanya. Beribadah. Bercanda ria dengan keluarga. Di sayangi oleh orang sekitarnya. Tidur nyeyak tanpa beban masalah dan lainnya. Tapi inilah kehidupan. Bahwa pengharapan kadang tidak sesuai dengan kenyataan.

“Dahulu, ketika saya masih anak-anak, saya begitu penasaran dengan dunia orang dewasa. Bahkan saat itu saya menginginkan untuk menjadi dewasa” kawanku kembali bercelatuk. “Persis, saya juga”. Tapi bagiku ini bukan karena kebosanan akan dunia kami saat itu. Melainkan inilah dunia segala keingintahuan. Dunia yang ingin mencoba hal baru dengan kebebasan yang kadang tidak memikirkan resiko.

“Tapi justru sekarang sebaliknya. Aku ingin kembali lagi seperti masa anak-anak dahulu”. Dia melanjutkan lagi. Kami kembali mengamini yang dia katakan. Benar adanya, kadang kita rindu akan masa lalu. Rindu akan masa kanak-kanak. Tidak lain adalah seperti alasan tersebut di atas.

Demikianlah siliha bergantinya siang dan malam. Bahwa selalu memiliki dinamikanya sendiri. Tapi saya yakin setiap zaman, setiap fase dan setiap proses punya kebahagiaan tersendiri. Kita hanya di tugaskan untuk menjalaninya dengan baik dan mengambil segala kebaikan yang ada padanya. Kita akan bijaksana karenanya.

~Makassar, musim penghujan, saat aku masih menanti beberapa jawaban, 9 Desember 2014.