Kamis, 26 September 2013

Mekanisme dalam lingkuangan baru

Maka mulailah kami membuat kesepakatan untuk melaksanakan agenda yang telah direncanakan beberapa bulan sebelumnya. Kami merasa bahwa perihal ini sangat penting. Bukan lagi syarat melainkan sudah menjadi kebutuhan, terlebih di era globalisasi sekrang. Makanya malam itu kami mengikuti kursus untuk belajar bahasa inggris.

Semula kami cukup kesulitan menemukannya (baca: tempat kursus). Bertanya tak jarang yang memberikan alamat palsu. Belakangan diketahui pemberi petunjuk adalah orang yang hanya menerka-nerka saja karna dia juga orang asing untuk alamat yang kami cari. Perjuangan memang harus di kobarkan untuk mencapai sesuatu apalagi kebaikan. Maka dengan tak putus asa, akhirnya kami menemukannya.

Dari depan kelihatan cukup ramai. Mereka juga sama seperti kami, ingin belajar bahasa inggris. Karena kami belum registrasi, maka segra kami lakukan dan melengkapi segala keperluan administrasi. Tuntas dan bergabunglah dalam forum dengan orang-orang yang asing dan akan menjadi sahabat baru lagi.

“Kalau belajar bahasa inggris, Harus gila” ucap kawan yang menemaniku dari tadi. Resep ini dia dapat dari orang yang pernah belajar bahasa inggris dan Alhamdulillah sudah lancar. Ide ini cukup membantu karena bahasa apalagi bahasa inggris jika tidak diperbiasakan atau dilatih maka akan kaku dalam pengucapannya. Kalau mau jujur, bukan baru pertama kali ini saya belajar bahasa inggris. Sejak sekolah menengah hingga kuliah, bahasa inggris sudah dipelajari tapi sampai sekarang belum bisa menggunakannya dengan fasih, baik dan benar. Metodenya terlalu kaku dan kurang prakatek, ibaratnya hanya belajar rumus tapi tidak digunakan.

Pada umumnya para pemenang adalah mereka yang memiliki mental dan dapat menguasai keadaan. Awalnya ada rasa canggun dan kaku menyerangku saat berada dalam lingkungan yang baru. Untungnya, saya sudah memiliki manajemen psikologi dan lagian sudah terbiasa menceburkan diri di lingkungan baru. Sehingga dengan mudah kepercayaan diri tetap terjaga dan lingkungan baru ini pun mudah tertakluk. 
~Makassar, 26 September 2013

Selasa, 24 September 2013

Cerita di Pulau Lae-Lae, Makassar

“Ahahaha….ahaha.. ahaha… “ Tertawa aneh, yang menurut kami tidak memilikii sebab meskipun di alam semesta ini tidak terjadi begitu saja melainkan memiliki sebab termasuk kenapa lelaki ini tertawa. Rasa bingung menyelimuti pikiran kami. Entah apa yang sedang dia tertawakan. Bisa jadi ada yang lucu dari kami tapi kami merasa tidak ada yang janggal. Ataukah memang orang ini memiliki kebiasaan bahkan tabiat yang demikian? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang masih menjadi teka teki saat itu.

 Bermula ketika kami sampai di parkiran dermaga penyebrangan menuju pulau lae-lae Makassar, tepatnya lagi di sebalah pantai losari yang jaraknya cukup dekat. Meskipun dekat harus menggunakan jasa transporatasi laut yakni kapal-kapal penumpang kecil. Mungkin rata-rata kapasitasnya sampai sepuluh orang. Sebenarnya ada cara gratis hingga bisa sampai di pulau lae-lae ini yakni dengan jasa diri sendiri, berenang. Hehe…

 Bolla

 Jangan dulu berpikir pada laga sepak bola semisal liga champion atau liga spanyol. Ini bukan bola, si kulit bundar yang disepak dalam pertandingan sepak bola. Ini manusia bro. kasian kalau di tendang-tendang. Bisa sebenarnya di tendang dengan sarat anda sudah tidak manusiawi lagi. Hehe.

 Ini bolla, bukan bola. Beda kan? Iya, bolla adalah nama lelaki yang diceritakan dalam paragraf di atas. Dia tergolong manusia unik dan kadang juga dapat di jadikan inspirasi untuk menciptakan teka teki. Yah, karena awal-awalnya dia membingungkan tapi seru.

Setelah terjadi proses tawar menawar perihal berapa tiket penyebrangan, akhirnya disepakati Rp 5000,-. Kata pak bolla, itu harga khusus kami. Kata beliau (supaya lebih terhormat,hehe) kalau orang lain menggunakan transporatasinya biasanya Rp 10000 hingga Rp 15000. Yah, itu cara lama dalam siasat bisnis yang usang. Kira-kira demikian pemikiran kami bertiga saat itu. Hehe…

 Oh, iya. Saya lupa perkenalkan identitas kami. Sebenarnya identitas kami ini sangat dirahasiakan, karena berbagai macam pertimbangan bahkan demi keselamatan. Tidak hanya keselamatan kami bertiga melainkan lebih dari itu yakni keselamat Indonesia bahkan seluruh dunia. Waow… segitunya kah? Yah, bgitulah. Baiklah khusus para pembaca tulisan ini maka kami menggunakan nama inisial saja. U, A dan T. Silahkan anda berpikir siapa nama tokoh publik dengan inisial itu. Kalau sudah tau, di rahasiakan saja ya. Hehehe…

Di atas jonson

 Jonson. Nama transportasi laut yang kami gunakan. Saya tidak tau apa bahasa Indoensia yang baik dan benarnya. Entahlah… kalau mau tau, silahkan cari kamus bahasa Indonesia kemudian cari atau gunakan saja jasa om google. Hehe..

 Pak bolla ternyata orangnya periang yang mungkin juga sudah sedikit melebihi dosis orang periang. Pasalnya ketika di Tanya maka jawabannya seolah mewajibkan kita untuk tertawa. Selain memang lucu juga unik bercampur aneh bahkan antik dan langkah (lengkap sudah, hehe). Misalnya ketika kami bertanya: “Pak, bapak orang asli mana?”. Tanpa spasi di menjawab, “saya orang asli pulau lae-lae ini tapi blesteran”. Maksudnya ? kami kembali bertanya. “Orang tua saya dari arab dan india”. Wah, kenapa bisa bgitu pak? “Lihat saja kulit saya, seperti orang arab kan? Kalau mata, seperti orang india kan?”. Kami pun tertawa bersamanya. Mungkin sudah tertawa yg juga melampaui dosis, tertawa yang sejadi jadinya. Ahahaha… dan masih banyak cerita lucu lagi.

 Beliau ini sebenarnya orangnya assik di ajak diskusi. Meskipun dermaga itu menjadi saksi pertemuan perdana kami, tapi tak menjadi alasan untuk kami membisu bahkan kaku untuk bercanda dengannya. Banyangkan saja, sejak di parkiran kendaraan hingga sampai di dermaga tujuan (baca: pulau lae-lae) hampir tak sunyi dari gelak tawa yang di sebabkan oleh pelaku utamanya adalah pak bolla ini. Bahkan saya sempat berpikir untuk menyuruh beliau ini, agar ikut seleksi stand up comedy, yang biasa di selenggarakan oleh salah satu TV swasta nasional. Hehe…

 Selain periang, pak bolla ternyata baik hati. Beliau mengantarkan kami ke rumah tujuan kami berkunjung. Sebenarnya masih ingin bercerita tentang beliau ini (baca: pak bolla) tapi dia ibarat wanita. Bahwa membahas wanita tak akan habis-habisnya. Dalam kaca matanya saya bahwa pak bolla juga demikian, tak akan habis untuk di bicarakan. Ahaha…..

 Posko itu

 Suasana cukup panas siang itu. Hingga suhunya berhasil menerobos dinding-dinding rumah beton yang berwarna kuning muda itu. Di depan rumah itu terpampang spanduk yang bertuliskan posko mahasiswa KKN. Kami tidak ber-KKN disitu, tetapi mengunjungi salah satu peserta KKN yang terkenal dengan baik hati dan rajin menabungnya serta imut-imut. Tapi bukan imut=ingin muntah. Hehe… Dia adik yang lucu.

 “Assalamu alaikum,,,,” kurang lebih tiga kali kami menuturkan itu, akhirnya diterjawab juga. Keluarlah seroang lelaki yang kami tidak kenal. Dia salah satu penghuni rumah yang asing ini. Rumah yang memiliki aura panas. Ingatkah, bahwa panas itu identik dengan api? Dan api identik dengan iblis? Dan iblis sebagai mana kita ketahui adalah makhluk jahat ? yah, benar. Aura panas itu cukup kami rasakan di rumah yang baru di tinggali belum genap sepekan itu.  Tunggu tunggu… rumah apa ini…. ???

 Tapi buladnya tekad, gigihnya usaha dan sikap pantang mundur kami bertiga, maka kami tetap memaksa untuk masuk ke dalam rumah itu, meskipun rumah itu asing bagi kami. Akhirnya misteri itu terjawab juga. Bahwa aura panas ini karena rumah ini memiliki struktur bangunan yang cukup pendek dan dekat dengan pantai. Jadi wajar saja panas. Ini bukan cerita mistis bro… hehehe…

 Kembali pada seseorang lelaki yang menjawab dan keluar menyapa kami tadi. Ternyata dia teman dari adik yang kami cari. Segeralah di panggilnya, akhirnya dengan wajahnya yang mengekpresikan kebosanan, dia menjumpai kami. Kami dipersilahkan duduk sembari menikmati makanan dan minuman ringan yang kami bawa. Sebenarnya makanan dan minuman itu untuk dia, tapi akhirnya kami juga yang makan. Dasar tamu tidak sopan. Hehehe…

 Entah topik apa yang kami perbincangkan saat itu. Yang pastinya tanpa sadar kami telah membincangkan masyarakat dan pulau lae lae yang terletak cukup dekat dengan pusat kota makasssar. Pulau ini memang terpisah dari pulau Makassar tapi hanya membutuhkan kurang lebih 5 menit maka kita akan sampai padanya. penduduk yang menghuni pulau ini, kurang lebih 1000 orang dan mayoritas penduduknya menjadikan laut sebagaia sumber kehidupannya. Rata-rata mereka bekerja sebagai nelayan.

 Kota dunia dan pesta demokrasi

 Dalam visi dan misi kota Makassar, salah satunya ingin menjadikannya sebagai kota dunia. Saya masih belum tau pasti definisi kota dunia. Apakah disimbolkan dengan banyaknya gedung-gedung yang tinggi? Dengan jalan raya yang bagus? Atau dengan air dan listrik yang memadai? Entahlah… tapi hukum peradaban modern hari ini, selalu menimbulkan pandangan yang sangat paradoks.

 Lihat saja, di berbagai kota besar bahkan metropolitan di Indonesia. Banyak gedung pencakar langit tapi tak jauh dari gedung itu terdabat gubuk atau rumah rakyat yang kumuh dan tidak layak tinggal. Atau di sekitar bangunan yang mewan nan indah, banyak yang berkeliaran mencari sesuap nasi dengan pakaian compang camping, yang tak memiliki tempat hunian melainkan di pojok gang atau di kolong jembatan. Atau banyak rumah yang mewah dengan pagar yang cukup tinggi seolah keangkuhan menjadi tabiat mereka hingga kamu yang msikin dan kumuh tidak boleh masuk ke rumah itu. Hanya orang yang selevel dalam hal prestari materilah yang bisa masuk kerumah itu. Dan dalam banyak kasus biasanya banyak bangunan yang indah itu di bangun dengan merampas tanah orang lain dngan cara tak halal. Inilah keanehan di peradaban yang katanya modern hari ini. Banyak bangunan sebagai simbol keangkuhan di lihat di mana-mana meskipun nilai kemanusiaan harus dikorbankan. inikah negeri “alengka dwipantara” dalam karya fiksi 'Dajjal' itu? Ups… colek yg berinisial 'A'. hehe (kami pernah membaca novel itu)

 Fenomena ini tejadi pula di pulau lae-lae. Dari pulau ini, bangunan kota makassar sungguh megah serta gemerlap namun tidak untuk kota ini. Apalagi menurut warga setempat, pelayanan listrik sangat tidak memadai dan memprihatinkan apalagi untuk kota yang bervisi menjadi kota dunia. “Di sini listrik jam 6 sore baru aktif dan pukul 12 malam harus dimatikan” kata seorang warga. Kondisi ini menjadi lahan empuk para politisi untuk meraup suara sebanyak-banyaknya, apalagi momentum sekarang adalah momentum pemilihan walikota dan menuju pemilu raya 2014 nanti. Maka jadilah isu listrik menjadi komoditas politik.

 Maka tak mengherankan, sekarang di pulau ini terdapat banyak poster, spanduk serta baliho para politisi yang sudah membosankan. Muka mereka di desain sebaik mungkin dengan bedak-bedak ‘kemunafikan’ hingga keburukannya tak terlihat lagi. Biasanya akan terlihat ketika sudah menjadi wakil rakyat. Janji mereka saat ini sungguh indah termasuk pelayanan listrik yang memadai di pulau ini (baca: pulau lae-lae). Padahal rutinitas pesta demokrasi (pemilu dan pemilukada eksekutif/legislatif) sudah sering tejadi tapi janji-janji itu tak kunjung terwujud. Yah bgitulah, rakyat diperhitungkan di momentum seperti ini tapi rakyat akan tidak di hitung lagi ketika calon wakil rakyat ini telah menjadi wakil rakyat.

 Jembatan korea

 Masyarakat setempat popular menyebutnya jembatan korea. Entah apa alasannya. Bisa jadi karena pengaruh gelombang budaya korea yang akhir-akhir ini menyerang struktur kesadaran dan kebudayaan kita. Hingga nama tempat yang idealnya menggunakan nama-nama khas loka (kearifan lokal) tergantikan oleh hal-hal yang berbau ke korea-koreaan. Inilah tanda bahwa kita tidak memiliki kesadaran dan kedaulatan budaya.

 Oke, lanjut. Dengan jumlah yang sudah bertambah (bukan 3 orang lagi), kami menyusuri lorong-lorong jalan menuju jembatan korea. Entah dimana jalan rayanya mungkin itulah lorong itulah jalan rayanya. Karena dari hasil diskusi dengan pak bolla, di pulau lae-lae ini tidak terdapat angkutan transportasi darat.

 Sepanjang jalan, kami menemui pemandangan pesisir pantai yang hampir di penuhi dengan kapal-kapal nelayan. Penduduk setempat menumpukan mata mencahariaannya pada laut. Meskipun hanya kapal nelayan, tapi bagi kami itu adalah pemadangan yang cukup indah apalagi di kombinasikan dengan laut tenang dan senja yang mempesona.

 Di jembatan korea pemandangan cukup memunculkan decak kagum. Ku lemparkan pandangan kami segala penjuru. Terlihat jembatan yang cukup panjang yang membuat kami enggan untuk sampai pada ujungnya. Terhampar pasir putih yang indah. Bgitupun hamparan laut yang tenang terdapat kapal-kapal, menjadi pemandangan tersendiri yang cukup indah. Pemandangan indah tapi mungkin sedikit memiriskan adalah dari situ kita dapat melihat indahnya kota Makassar dengn baungunan fisik yang indah serta lampu yang gemerlap. Sementara di pulau lae lae ini kue pembangunan sedikit mereka dapatkan.

Pulang

Salah satu tujuan kami ke jembatan korea ini adalah ingin menikmati indahnya sang surya terbenam (sun set). Dari bibir pantai kami menanti tergelincirnya sang surya. Sungguh benar-benar indah. Bola surya yang mulai merah ke kuning-kuningan telah sampai di batas penghujung laut. Kami menikmati saat-saat itu. Ada yang berdiri juga duduk santai menikmat detik-detik sang surya meninggalkan siang. Dengan kamera yang kami bawa, momentum itu kami abadikan. Subhanallah… sungguh indah ciptaan sang Maha Pencipta.

Akhirnya sang surya kembali juga keperaduannya. Kami segra bergegas pulang. Sesuai dengan perjanjian, kami akan naik di jonson pak bolla. Setelah segala persiapan sudah oke, kami pun permisi ke adik yang imut-imut dan rajin menabung tadi untuk meninggalkan posko tempat di tinggal sementaranya. Sebenarnya dia ingin ikut ke Makassar bersama kami tapi karena satu dan lain hal akhirnya dia urungkan niatnya. Kamipun bergegas ke dermaga dan disana jonson pak bolla sudah menunggu.

 Trimakasih banyak dan maaf kalau ada salah, terutama untuk pak bolla. Tidak ada niat untuk menyinggung atau mendiskreditkan siapaun dalam tulisan ini. Hehe… tapi serius ini.
 Sekian dulu……..

 *Petualangnya pada jum’at 13 September 2013
~ Makassar, 16 September 2013

Jumat, 20 September 2013

Ulama dan legitimasi

Akhir-akhir ini Indonesia kembali di kejutkan dengan konflik sosial. Konflik semacam ini sebenarnya sudah sering terjadi di era reformasi, pasca tumbangnnya orde baru. Berbagai kelompok mengaktualkan identitasnya masing masing. Tak jarang kemudian muncul friksi krena kepentingan kelompok lain merasa terusik.

Inilah yang terjadi pada kasus konflik keyakinan. Dalam islam terdapat dua mahzab besar antara sunni dan syiah (dalam banyak ulama tidak mengakui syiah bagian dari islam). Dalam tataran teologis, kedua mahzab ini memiliki perbedaan, meskipun Tuhan dan nabi terakhir masih bersepakat. Tapi dalam tulisan ini tidak akan meluas untuk membicarakan perbedaan itu.

Yang menarik adalah terkait legitimasi ulama. Dalam sebuah diskusi publik yang diadakan untuk menjembatani konflik ini, dihadirkan berbagai pembicara dari berbagaia kalangan temasuk perwakilan dari pihak yang berkonflik. Ada yang menarik untuk di telitik, dimana ada pergesaran legitimasi terhadap ulama.

Dahulu ulama merupakan tokoh sentral dalam masyarakat yang sangat di hargai. Mereka memiliki legitimasi religius, moral bahkan kultur untuk menjadi tokoh publik. Mereka menyebarkan ilmu dan kebaikan dalam masyarakat. Tidak hanya terbatas pada retorika, melainkan pada bagaiamana ilmu dan kebaikan itu melekat dalam aktivitas keseharian mereka.

Selain itu, tradisi hirarki-patriarki memegang andil dalam perilaku kebudayaan ketimuran kita. Hubungan patron clien ini menjadi tradisi yang telah mengakar sehingga ulama tak jarang menjadi rujukan dalam menyelsaikan permasalah sosial yang ada. Dan ini berlangsung cukup lama bahkan sampai sekarang tradisi semacam ini masih selalu ditemui.

Namun dalam diskusi itu, kultur yang demikian secara perlahan mulai pudar terutama di kalangan masyarakat kelas menengah yang terdidik. Dalam merespon permasalahan sosial, ulama sebagai sumber legitimasi mulai dicampakan. Kalangan masyarakat terdidik ini sudah mulai rasional dalam melihat apa yang ada sehingga legitimasi ilmu pengetahuan menjadi anti tesa dari peran ulama. Maka jika dahulu pendapat ulama sami’na wa ta’na, maka hari ini kadang tidak demikian lagi.

Kelemahan ulama

Ada yang mendikotomikan antara ilmu agama (akhirat) dan ilmu dunia. Banyak ulama yang menganjurkan untuk lebih memprioritaskan ilmu agama dibanding ilmu dunia. Padahal hemat saya, keduanya tidak perlu di dikotomikan. Karena keduanya adalah ilmu dan ilmu ‘dunia’ bisa di jadikan ilmu ‘akhirat’ jika di niatkan untuk akhirat. bukankah dunia adalah sarana untuk akhirat?

Segala sesuatu di dunia adalah dipersembahkan untuk akhirat. Segala aktivitas di dunia jika diniatkan untuk akhirat maka akan berubah menjadi kegiatan ke akhiratan. Begitu pula dengan ilmu dunia, akan bernilai ibadah (akhirat) jika digunakan untuk kemasalahatan. Bahkan ilmu dunia sangat penting untuk mengatasi permasalahan dunia. Karena jika dunia tidak dapat di atasi maka kita bisa jadi kalah dalam akhirat. Jika konsep ekonomi tidak dapat dijalankan maka jatulah dalam jurang kemiskinan. Dan kemiskinan sangat dekat dengan kekafiran. Lihatlah karena miskin, maka pelanggaran norma dan kemanusiaan sering terjadi dan kalah lah dari akhirat.

Selain itu banyak ulama yang masih resisten dengan dinamika zaman. Mereka mengurung diri dari pengaruh perkembangan zaman dengan alasan agar islam tetap autentik. Padahal islam lahir bukan dalam ruang hampa melainkan mengalami pergulatan zaman. Maka sangat perlu islam mampu berdialog dengan perubahan ini. Harus ada keterbukaan terhadap perubahan. Jika tidak, islam hanyalah akan menjadi berlian yang terbungkus rapi dalam lemari yang tak dapat menakjubkan orang di sekitarnya.  Keterbukaan ini pula berdampak pada luasnya perspektif yang berkonsekuensi pada kebijaksanaan dalam melihat sesuatu.

~Makassar, 18 September 2013