Minggu, 30 Desember 2012

Jatuh cinta

siang begitu indah
pandangi mentari siang
dia garang namun tetap cantik
aku jatuh cinta

bukan pada gadis berjibab itu
ketika dia mengisaratkanku pada tatapan indahnya
pada tatapan dalamnya yang slalu tersipu malu
aku diam tanpa kata
tapi saat ini, aku tak meberi rasa itu

pada mentari siang
ku tegaskan
aku jatuh cinta pada_Mu.

Selasa, 25 Desember 2012

Rehat sejenak

Akhir-akhir ini, bisa dikatakan saya kurang  bersemangat untuk menulis. Padahal komitmen saya di awal bulan desember ini, ingin menulis lebih banyak lagi artikel di blog ini. saya memiliki target khusus tentang menulis agar kualitas menulis lebih baik lagi.

Salah-satu penyebab kurangnya semangat menulis saya adalah terlalu disibukan dengan aktivitas lain. Padahal banyak hal atau inspirasi yang bisa dijadikan tulisan. namun itulah waktu yang tidak mempersilahkan saya. dia selalu bergerak tanpa mengenal lelah dan berlaku pada siapa saja.

Tapi sebenarnya, waktu itu selalu ada dan tergantung dari bagaimana kita memanajemennya. Itulah saya yang terjadi sekrang dengan ketidakmampuan mengeolah waktu secara efisien.  Jadi wajar saja jika banyak inspriasi yang terlewatkan untuk di ikat kemudian di abadikan dalam tulisan. padalah sudah banyak kali Tuhan mengingatkan agar kita menghargai waktu. Sebagaimana firmannya dalam Al-Quran, Demi masa (QS. Al Ashr).

Mungkin disinilah kita butuh komitmen yang tinggi tentang sebuah niat. Tidak ada gunanya rencana dan pelaksanaan tanpa ada konsistensi dalam perjalanan rencanya tersebut. Seorang bijak pernah berkata: untuk sukses ada empat rumus yang harus di jalankan. Pertama, niat dan keyakinan. Dua, siapkan strategi-strategi dalam pelaksanaannya. Tiga, laksanakan dan doa. Serta terakhir adalah konsisten untuk menjalankan.

Inilah hal yang harus saya benahi dalam konsep kehidupan saya. saya mahfum, bahwa manusia tidaklah sempurna termasuk saya. banyak proses kehidupan yang sarat makna agar kita dapat belajar. Dengan belajar menemukan hikmah-hikmah kehidupan kita akan menjadi dewasa dan bijaksana memandang hidup. Karena standarisasi manusia bukan pada bentuk fisik, bukan pula prestasi dunia melainkan bagaiamana menjadi manusia yang berkualitas intelektual dan spiritual atau dalam bahasa islam adalah manusia yang yang insan kamil.

Hikmah adalah harta yang berharga pada diri manusia yang hilang. Dan jika kita menemukannya maka segeralah ambil. Demikian kurang lebihnya rasul Muhammad SAW berkata dalam sebuah riwayat. Maka untuk membuat gerak hidup ini menuju kesempurnaan maka wajib kiranya untuk menemukan hikmah-hikmah itu. bukankah Allah pernah berkata bahwa dalam perputaran siang dan malam ada tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir? Ya, btul.

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." [QS Ali 'Imran 3:190-191]


Selasa, 18 Desember 2012

Dua bocah dan pemilukada

Sore itu di pelataran gedung kuliah, dua orang bocah dengan pakaian copang camping dan kotor sedang modar mandir. Duduk beberapa orang mahasiswa sedang menikmati keteduhan siang dengan hembusan angin sepoi-sepoi. Kelihatannya bagi beberapa mahasiswa itu, sore itu adalah sore yang indah melepas kejenuhan usai melaksanakan rutinitas perkuliahan yang membosankan.
ilustrasi gambar dari google

Di antara deretan mahasiswa yang duduk itu ada saya. Biasanya usai kulia jika tidak ada kegiatan yang penting saya segera meninggalkan kampus. Tapi tidak untuk sore itu sambil menunggu dimulainya diskusi publik yang di adakan oleh sala satu organisasi mahasiswa, saya terus memandangi kedua bocah itu.

Seperti halnya para pedagang asongan lain, kedua bocah ini datang menghampiri kami. Segera saya panggil dengan niat ingin membeli dagangannya. Sebenarnya alasan utama bukan karena ingin membeli melainkan ingin memberinya uang sembari ingin mengetahui lebih dalam perihal kondisi mereka. Sebelum saya bertanya, hipotesis saya adalah mereka sedikit dari banyak korban kemiskinan struktural yang lebih disebabkan karena adanya system yang salah.

Benar saja, hipotesis yang saya ajukan tadi. Ketika saya tanya perihal kondisi mereka.

“Seandainya saya orang kaya kak, saya tidak mau berjualan begini” jawab sala satu bocah, sambil mengoles-oles luka di kakinya yang sudah lama tidak sembuh.

“Saya sebenarnya sekolah tapi berhenti kak, karna bantu ibu dan ayahku cari uang. Temanku ini yang parah kak, ayah ibunya sudah meninggal” dia melanjutkan lagi.

Mereka bukanlah orang malas sehingga miskin. Mereka adalah pekerja keras dan bahkan pahlawan bagi keluarganya. Harusnya kedua bocah ini tidak berjualan seperti ini. Mereka harusnya istrahat atau bermain bersama rekan sebayanya. Tapi apa daya, system yang berlaku di negeri ini tidak mempersilahkan untuk itu. System di negeri ini hanya mengharuskan banyak bocah seperti mereka menjalani masa kecilnya di ‘jalan’.

Pada saat yang sama, di kota saya tempat menuntut ilmu saat ini (baca: Makassar) sedang terjadi eskalasi dinamika politik yang cukup tinggi. Pasalnya sebentar lagi, pesta demokrasi yakni pemilihan kepala daerah tingkat provinsi dalam hitungan minggu akan segera di gelar. Para simpatisan dan tim kampanye sedang gencar-gencaranya melakukan sosialisasi agar kandidat yang mereka dukung dapat dipilih oleh rakyat setempat. Mereka berusaha menciptakan citra positif kandidat yang mereka dukung, begitupun dengan kandidat yang akan bertarung dalam pemilukada ini. Tak jarang mereka memoles keburukan mereka menjadi kebaikan yang dapat menarik hati pemilih agar memilih mereka.

Melayani rakyat. Mengentaskan kemiskinan. Menciptakan lapangan kerja. Memberikan pendidikan yang layak. Kesehatan yang baik. Dan segala janji-janji indah lainnya telah menjadi pemandangan yang lumrah.

Terus terang saya jenuh dengan prosesi-prosesi semacam ini. hajatan demokrasi seperti ini bukan lagi hal  yang asing terjadi di Indonesia. Janji-janji manis sudah menjenuhkan namun jarang di buktikan. Kita dapat melihat realitas yang terjadi pada dua bocah ini. Belum usai penderitaan mereka, kandidat yang rata-rata adalah pemerintah yang tengah berkuasa berhasrat kembali untuk menjadi penguasa di periode berikutnya. Padahal janji pada saat kampanye sebelumnya hanyalah janji kosong yang begitu indah tanpa ada pembuktian. Kedua bocah ini di hitung pada saat menjelang pemilukada dan setelah itu mereka tidak dihitung.

bocah yang malang...

Minggu, 16 Desember 2012

Gara-gara zinonis dan yahudi

Diskusi publik. Itulah yang saya sering ikuti, baik sebagai audiens, moderator maupun sebagai narasumber. Kebetulan diskusi ini membahas tema terkait konflik timur tengah, lebih spesifik lagi konflik di jalur Gaza.
sumber gambar: google.com

Betul, konflik ini memang cukup rumit. Konflik ini sudah berlangsung ratusan tahun yang lalu dan sampai hari ini belum usai. Tulisan ini tidak akan berbicara tentang sejarah konflik kedua kubu, Palestina vs Israel. Yang perlu kita pahami adalah konflik ini seolah menjadi keniscayaan. Hal ini memang di amini oleh banyak kalangan apalagi kalangan agamawan dari agama samawi, islam salah satunya.

Dalam diskusi, kedua narasmber (kebetulan narasumbernya dua orang) memiliki sedikit perbedaan pandangan dalam hal sebab kemunculan konflik. Pembicara pertama secara inplisit mengatakan bahwa sebab konflik merupakan akumulasi dari berbagai kondisi sosial yang ada. Baik urusan ekonomi, pangan, kebutuhan energy, tanah termasuk ideology yakni perang antara islam dan yahudi (zionis).

Pembicara kedua menguraikan bahwa konflik agama tidak mendapat tempat dalam perseteruan sengit di jalur gaza antara hamaz dan Israel. Yang terjadi hanya perebutan sumber-sumber ekonomi, utamanya adalah tanah. Tanah palestina yang dahulu mereka miliki sekarang bisa dikatakan tidak sampai 20% lagi karena kekejaman tentara Israel (zionis).

Ketika sesi respon dari audiens di buka para pesertapun saling berinteraksi satu sama lain. Saya melihat, di antara banyak audiens yang masih belum bisa membedakan antara yahudi dan zionis. Sehingga tidak jarang dari mereka melakukan over generalisasi terhadap kedua term ini. Padahal kedua istilah ini berbeda, memang zionis sudah pasti yahudi tapi tidak semua yahudi adalah zionis.

Yahudi adalah nama agama yang kemudian disebut juga suku bangsa. Yahudi dalam kitab suci Al-Quran disebutkan dengan nama bani israil atau keturunan Ibrahim as dari putranya nabi Ishaq as. Sedangkan zionis, jika di lihat dari asal usulnya maka berasal dari kata zion yaitu batu zion. Zion kemudian menjadi nama gerakan zionisme yang menganggap bangsa yahudi adalah bangsa yang tertinggi di dunia di antara bangsa-bangsa lain. Kemudian mereka ingin mendirikan kekuasaan di dunia di atas bukit ini (baca: bukit zion) seperti halnya nabi Sulaiman as mendirikan kekuasaan di atas bukit zion yang menguasai dunia. Konon Sulaiman adalah pemimpin mereka dahulu. Dan menurut kepercayaan mereka bahwa tanah palestina adalah tanah suci yang dijanjikan oleh Tuhan untuk mereka nantinya dari tanah itulah mereka akan menguasai dunia. Cita-cita mereka adalah mendirikan Israel raya di dunia.

Segala cara mereka halalkan demi mewujudkan hasrat itu meskipun darah dan air mata manusia yang tak bersalah harus ditumpahkan. Meskipun dikecam oleh dunia internasional mereka tetap meborbardir palestina di jalur gaza dengan senjata dan bom-bom yang membunuh anak-anak, wanita serta kaum lansia yang tak bersalah. Mereka seolah tak memiliki hati nurani hingga ada yang menyebut gerakan ini sebagai Hitler baru.
zionis menggunakan Israel sebagai alat menguasai dunia sehingga zionis selalu di identikan dengan israel. (sumber gambar: google.com)


Meskipun di Israel sendiri sebagai negara bangsa yahudi namun tidak semua setuju dengan gerakan zionisme ini. meskipun juga pendukung zionis masih lebih banyak (mayoritas). Oleh karenanya kembali saya tekankan lagi bahwa yahudi belum tentu zionis namun zionis sudah pasti yahudi. Banyak orang yahudi yang tidak tergabung di gerakan zionis bahkan ada di antara suku bangsa ini adalah beragama Islam dan tersebar di beberapa negara termasuk Indonesia. Atau juga, malah banyak warga muslim yang berprilaku seperti zionis.

Inilah yang menarik dari diskusi yang saya ikut tersebut. Beberapa komentator tidak membedakan antara zionis dan yahudi ini. Mereka menjelek-jelekan yahudi secara over generalisasi. Bahkan ada yang secara tidak langsung mengatakan ingin membunuhnya hingga hari kiamat nanti.

Dalam suasana diskusi yang cukup meriah itu, tiba-tiba kami semua di kejutkan oleh seorang komentor yang bernada marah. Ketika dia dipersilahkan untuk berbicara, segeralah dimulai dengan memperkenalkan dirinya.

“Nama saya….. (maaf penulis lupa namanya) dan orang tua tepatnya ayah saya adalah keturunan yahudi dan saya sendiri secara ototmatis adalah yahudi” demikian katanya.

Semua tersontak termasuk saya. Dia marah atas pernyataan beberapa komentator yang menjelek-jelekan yahudi secara total karena tidak membedakan yahudi dan zionis. Meskipun kaget ternyata ada orang yahudi dan beberapa orang teman-temannya dalam forum diskusi, saya menganggapnya kejadian hari itu cukup unik dan lucu. Akhirnya, Ahahahahaha……

Makassar, 14 desember 2012

Kamis, 06 Desember 2012

Kebijaksanaan melihat hubungan islam-negara

Saya, aktvisi IMM dan aktivis gema pembebasan (Hizbut Tharir)  

Dimana Ibu kotanya? Siapa Khalifahnya? Dan Mahzab apa yang di gunakan?

Tiga pertanyaan ini yang diucapkan oleh sala satu aktivis IMM (ikatan mahasiswa Muhammadiah) ketika dalam sebuah acara diskusi. Menurutnya tiga pertanyaan ini yang belum bisa terjawab sampai sekarang terkait negara islam (khilafah Islamiyah). Bersamanya dan seorang akhtivis dari Hitzbut Tahrir, saya menjadi nara sumber dalam diskusi panel yang bertema “ilusi negara demokrasi”.

Kegiatan ini merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh gerakan mahasiswa pembebasan, sayap organisasi Hizbut Tahrir di tingkat mahasisiwa. Tidak mengherankan jika temanya sangat pesimistis dan anti terhadap demokrasi. Organisasi islam ini merupakan organisasi yang cukup konservatif karena ideologinya yang tidak kompromistis dengan apapun yakni islam dalam versi mereka.

Islam bagi mereka adalah bukan hanya sekedar agama melainkan juga ideology kenegaraan sebagaiamana Rasul Muhammad SAW mendirikan negara Madinah yang berlandas pada syariat Islam. Sehingga mendirikan negara islam bagi mereka adalah sebuah kewajiban.

Ternyata pendapat seperti ini, tidaklah di amini oleh berbagai kelompok islam lain. Banyak organisasi islam baik di Indonesia maupun di dunia memiliki versi lain terkait hubungan islam dengan negara. Bahkan banyak yang masih mempertanyakan finalitas bentuk negara islam di Madina untuk di terapkan sekarang. Karena bisa jadi, negara Islam madina waktu itu adalah hanya bersifat eksperimen sejarah yang kondisional. Artinya negara islam bisa jadi akan berbentuk lain tanpa secara total mengikuti apa yang terjadi pada negara Madina ketika rasul Muhammad SAW mendirikannya.

Setidakanya dalam melihat hubungan islam dan negara terdapat tiga perspektif. Yakni hubungan integratif, sekuler ataun komplementer. Perbedaan seperti ini bukanlah hal yang harus di takuti bahkan sudah merupakan keniscayaan islam. Sehingga mengklaim diri paling benar (untuk permasalah hubungan islam-negara) dan mengganggap yang lain tidak memiliki kebenaran atau mengkafirkannya, bukanlah hal yang bijkasana.

Ini terjadi pada proses diskusi yang sementara berlangsung. Dalam sesi tanya jawab, seorang aktivis hizbutahrir menyinggung salah satu tokoh Muhammadiah yang telibat dalam penulisan buku “ilusi negara islam”. Dia mengklaim bahwa dia adalah umat Muhammad SAW yang paling benar menjalankan ajaran beliau. Hingga salah-satu potongan kalimatnya “orang islam apa itu !!! masa mengaku islam tapi tidak mendirikan negara islam?” dengan bangganya dia mengatakan demikian.

Bagiku ini sangat berbahaya dan tidak bijaksana atau mungkin sudah sangat terdoktrin tanpa pernah melakukan studi komparasi yang mendalam tentang pemikiran. Saya ingin beranalogi, buku memiliki kulit (sampul) depan dan belakang. Kulit depan berwarna merah dan belakang berwana putih. Jika kita melihat buku dari kulit depan saja tanpa pernah melihat kulit yang di belakang maka kita dengan keras akan mengatakan bahwa buku itu berwarnah merah. Demikian juga sebaliknya, jika kita melihatnya dari belakang saja maka kita akan hanya berkesimpulan bahwa buku itu warna putih dan tidak mengakui ada warna merah di depan.

Analogi ini, saya ingin mengatakan bahwa bijaksanalah dengan melihat kebenaran-kebenaran lain. Terutama dalam melihat hubungan antara islam dan negara agar tidak fanatik yang sangat sementara masih ada perspektif lain. Dalam sebuah kesempatan ketika saya diberikan kesempatan untuk menenggapi berbagai pertanyaan,  kurang lebih saya katakan seperti analogi di atas.

Dan saya perjelas lagi, bahwa ketika Rasulullah Muhammad SAW masih ada semua polemik segera cepat terselesaikan jika semua mengaduh padanya. Karna beliaulah yang merupakan menafsir tunggal yang paling benar terhadap wahyu Allah. Sedangkan sekarang ketika rasulullah Muhammad SAW sudah meninggalkan kita dengan jarak waktu yang cukup lama, maka penafsir itu diserahkan kepada ulama-ulama yang kompeten sehingga wajar saja ada perbedaan pendapat. Dan menganggap diri atau kelompok adalah penafsir tunggal yang paling benar serta menganggap mereka yang berbeda adalah salah, maka terkait hubungan islam dan negara, saya menganggap mereka adalah kurang bijaksana dan kurang tepat.

Semoga kita selalu bijaksana dalam melihat permasalahan seperti ini, sebagaimana Allah yang Maha Bijaksana.