Jumat, 31 Desember 2010

Kritik Universitas

Beberapa hari yang lalu saya diundangan seorang kawan untuk menghadiri acara seremonial wisuda. Memang pada bulan Desember, beberapa kampus di Makassar mengadakan wisuda bagi para mahasiswanya. Saat inilah mahasiswa disahkan mendapat gelar sarjana atau diploma ataupun gelar yang sejenisnya. Setelah sekian lama digodok di kampus maka keluarlah mereka ke masyarakat untuk mengabdikan ilmunya. Gelar yang didapatkannya adalah bukti bahwa mereka sebagai agen-agen yang siap melakukan perbaikan dalam kehidupan bermasyarakat.

(gambar : google.com)

Merekalah orang yang diharapkan kehadirannya untuk membangun masyarakat dan Negara. Mereka adalah bagain dari masyarakat dan memiiki tanggung jawab kepada lingkungannya. Dengan ilmu pengetahuannya sehingga mengetahui permasalahan yang ada dalam masyarakat dan dengan itu mereka dapat memberikan solusi.

Satiap tahunnya, semua universitas di Indonesia dapat mencetak puluhan ribu sarjana-sarjana dengan kapasitas ilmu yang cukup. Sebagai lembaga pendidikan universitas harusnya menjadi rahim pencipta manusia-manusia yang berilmu dan tercerahkan. Manusia yang mampu melakukan fungsi pembebasan kepada segala ketimpangan dalam masyarakat.

Dalam realitasnya, banyak keluaran-keluaran universitas yang justru menjadi beban bagi masyarakat. Dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, mereka justru menyusahkan orang-orang disekitarnya. Salah-satu contohnya para koruptor, mereka adalah jebolan-jebolan universitas. Mereka harusnya memiliki tanggung jawab kepada sesamanya dan justru sebaliknya. Sejatinnya keberadaannya sangat diharapkan masyarakat. Justru keberadaan mereka sama dengan ketidak-beradaannya bahkan ketidak beradaannya lebih baik dari keberadaannya. Sungguh memalukan.

Realitas ini adalah bukti bahwa universitas belum menjadi lembaga pendidikan yang mampu mencetak manusia yang peka terhadap lingkungan sekitarnya. Dalam prakteknya universitas hanya melakukan transfer ilmu pengetahuan atau melaksanakan kegiatan-kegiatan akademis. Pendidikan hanya dimaknai sebagai pemberian ilmu pengetahuan tanpa pemberian nilai-nilai dan budaya. Harusnya universitas mampu menjadi sumber segala kebaikan pengetahuan, nilai dan budaya. Sehingga mampu menjadi sumber peradaban suci yang menciptakan kehidupan lebih baik.

Mengisi waktu yang luang, mudah-mudahan menjadi referensi.

Makassar, 31 Desember 2010

Indonesia Kalah karna Mental

Pertandingan final leg ke dua piala AFF telah usai. Meskipun Indonsia menang pada laga terakhir ini namun yang menjadi juara adalah Malaysia. Dalam pertandingan terakhir ini, skor 2-1 untuk Indonesia. Skor ini kemudian diakumulasi dengan hasil pada pertandingan leg pertama saat Malaysia menjadi tuan rumah. Menurut prediksi sebagian pengamat sepak bola mengatakan bahwa Indonesia akan menjadi juara karna melihat kemampuannya saat pertandingan-pertandingan sebelumnya.

Jika kita amati dalam pertandingan sebelumnya maka kemenangan Indonesia hanya terjadi ketika berada di stadion Gelora Bung Karno. Seperti halnya timnas Indonesia mengalahkan timnas Malaysia dalam pertandingan babak penyisihan. Hal ini kemudian terbalik setelah Indonesia berada di stadion Bukit jalil, Malaysia. Hasil pertandingan ini sungguh memalukan bagi timnas Indonesia karna harusnya Indonesia mengalami peningkatan namun justru penurunan prestasi.

Kemenangan bukan hanya dipengaruhi oleh faktor skil atau kemampuan individu maupun kerjasama tim. Lebih dari itu kondisi internal setiap Individu pun tak kalah pentingnya. Lihat saja, ketika timnas Indonesia main di kandang sendiri mereka memiliki performa yang memukau tapi terbalik ketika mereka berada di kandang tim lain yang dalamnya dipenuhi oleh supporter lawan mereka tidak dapat menunjukan performa kemampuan permainannya.

Dari segi skil individu dan permainan kolektifnya Indonesia cukup baik. Namun mentalnya belum memenuhi syarat sebagai mental pemenang. Ternyata mental terjajah Indonesia masih belum ditinggalkan dan masih dipelihara. Untuk kedepannya Indonesia harus membenahi mentalnya agar menjadi mental pemenang.

Terlepas dari kelemahan mentalnya, sebagai supporter sejati saya bangga dengan permainan timnas Indonesia. Meskipun kalah dari Malaysia mereka menunjukan sportivitas sebagai pemain yang profesional. Lagi pula pertandingan leg kedua sangat indah namun hanya keberuntunganlah yang belum memihak. Dan ingatlah kekalahan bukanlah akhir dari segalanya. Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Dengan kekalahan dapat menjadi cambuk agar kita semakin termotivasi untuk membenahi kekurangan-kekurangan untuk menjadi pemenang dalam pertandingan-pertandingan selanjutnya.

Hidup Garudaku, terbanglah tinggi meraih mimpi-mimpimu…!!!

Makassar, 30 Desember 2010

Rabu, 29 Desember 2010

Toko Buku, Inspirasiku

Salah-satu cara untuk menghilangkan kejenuhan adalah mencari suasana baru dari rutinitas. Perlu saya ingatkan bahwa rutinitas memiliki sisi positif dan negatif. Positifnya, membuat kita tidak perlu lagi berfikir tentang bagaimana cara kita untuk melakukan pekerjaan itu sehingga dapat menghemat energi pikiran dan tenaga. Negatifnya, dapat membuat daya kreatifitas menjadi tumpul. Akhirnya sore itu diputuskan untuk mengunjungi toko buku yang bernama Gramedia. Sebenarnya ada beberapa alernatif tempat yang dapat memberikan inspirasi selain toko buku tapi kebetulan ada buku yang ingin dibeli sehingga toko bukulah yang menjadi pilihan.

Dalam toko buku, begitu banyak judul buku yang ada. Produksi pengetahuan terus terjadi yang termanifestasi dalam berbagai judul buku. Membuat saya tertarik untuk memilikinya namun karna tak cukup uang akhirnya untuk memilikinya ditunda sementara. Setidaknya ada beberapa hal (hikmah) yang saya dapatkan ketika saya berada di dalam toko buku ini, yaitu:

Pertama, ternyata untuk menjadi cerdas haruslah memiliki cukup uang. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya bahwa inilah kendala saya untuk memiliki buku karna harga buku yang mahal. Logikanya yang dapat memiliki buku dan menjadi cerdas adalah mereka yang memiliki uang (kaya). Oleh karna itu bagi pihak yang ingin mencerdaskan anak bangsa haruslah mempermudah akses terhadap buku-buku.

Kedua, melihat banyak pengunjung dan berbagai spesifikasi buku saya berpikir, ternyata begitu banyak potensi dan bakat yang dimiliki manusia. Ada yang menulis komik, novel, agama, politik dan berbagai jenis buku yang lainnya. Begitu juga para pengunjung bermacam-macam minat tentang buku untuk dibacanya. Saya bertanya pada diri sendiri: apakah potensi masyarakat Indonesia yang berjumlah 230 juta lebih ini sudah di eksplorasi? Coba bayangkan, seandainya semua potensi ini telah diakomodasi maka betapa mempesonanya khasana pengetahuan masyarakat Indonesia.

Ketiga, membuat saya sadar tentang betapa masih kurang pengetahuan yang saya miliki. Judul buku yang terus mengisi deretan rak-rak buku sedang belum semua saya mengetahui isinya. Pengetahuan yang tercipta tertuang dalam bentuk tulisan yang dirangkum dalam buku-buku itu membuat saya termotivasi untuk mengetahuinya. Minat pengembaraan intelektual saya semakin terstimulus untuk menjelajahi belantara pengetahuan.

Keempat, dengan berkunjung ke toko buku dapat memberikan inspirasi baru. Termasuk inspirasi untuk menulis artikel ini. Jebakan rutinitas dapat terlepas dengan mengunjungi gudang pengetauan ini.

Makassar, 29 Desember 2010

ket: telah diposting di www.kompasiana.com/marwan_antopulo

Hujan yang tak Usai dan Global Warming

Dalam beberapa pekan terkahir, Makassar diguyur hujan yang tak kunjung usai. Hal ini wajar terjadi karna momentumnya sudah tepat yaitu musim hujan. Namun menurut saya cuaca ini tergolong ekstrim. Bagaimana tidak, selama beberapa pekan hujan bisa dikatakan tidak perna berhenti. Kalaupun berhenti hanya dalam waktu yang cukup singkat. Apalagi menurut sebagian orang cuaca tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karna harusnya pada akhir bulan Desember ini, intensitas hujan harus sudah berkurang bahkan harus sudah berakhir.

Menyoal hujan yang tak kunjung usai, ini merupakan salah-satu dari sekian fenomena alam. Dalam hukumnya, alam selalu membenah diri ketika dirinya mengalami ketidakseimbangan yaitu dengan mencari keseimbangan. Hujan yang sangat ekstrim ini adalah dampak dari intensitas panas matahari yang sangat. Bumi semakin panas hal ini karna karbon dioksida (CO2) telah banyak diproduksi. Sebagaimana kita ketahui, manusia dalam melakukan proses pernapasannya (respirasi) selalu menghasilkan karbon dioksida. Selain itu, juga dalam pembakaran dalam industri rumah tangga dan penggunaan bahan kimia yang terdapat pada peralatan elektronik dimana bahan ini dapat merusak lapisan ozon yang menahan sinar matahari yang menuju bumi. Tapi aktifitas ini masih dalam kategori yang wajar dan bahkan mesti dilakukan.

Sebenarnya karbon dioksida (presentase terbanyak penyebab panas bumi) dapat dinetralisir oleh adanya oksigen (O2). Jika produksi oksigen jauh lebih banyak maka intensitas panas tidak terlalu banyak. Tapi akibat ulah manusia yang tak mempertimbangakan ekologi sehingga mereka melakukan pembakaran dan pembalakan hutan yang berlebihan untuk kepentingan tertentu. Belum lagi industrialisasi yang berlebihan dengan mengesploitasi alam yang tak mengenal batas sehingga lebih memperparah panas bumi. Hasil gas buang kendaraan bermotor yang menghasilkan gas karbon dioksida juga turut menyumbang panas bumi. Inilah yang terjadi di zaman modern yang biasa dikenal dengan era pemanasan global (Global Warming).

Pemanasan global inilah menyebabkan penguapan dibumi yang berlebih akibat peningkatan suhu bumi. Penguapan ini akan membentuk titik-titik air dan berubah menjadi awan. Dan setelah mencapai klimaksnya maka air itu akan dijatuhkan kebumi atau terjadilah hujan. Artinya musim hujan yang ekstrim ini adalah dampak dari panas bumi yang ekstrim pula.


Selasa, 21 Desember 2010

Sepak Bola dan Nasionalisme

Setelah mengalahkan lawan-lawannya, akhirnya tim nasional (timnas) Indonesia sampai pada laga final. Begitu euforia dan antusiasnya masyarakat Indonesia dalam mengawal para timnas ini untuk memenangkan pertandingan. Semua perbedaan melebur menjadi satu dan menuju tujuan yang sama untuk mengalahkan lawan-lawan Indonesia.

Semangat ini sama halnya ketika Indonesia ingin merebut kemerdekaan dari para penjajah. Pada momentum itu, konsentrasi masyarakat Indonesia tertuju pada satu yaitu melawan para penjajah. Meskipun, lawan kita sekarang bukanlah ‘penjajah’ namun semangat itu kini lahir kembali. Sekian banyak peristiwa dalam maupun luar negri yang menimbulkan konflik internal, kini hilang sesaat tatkala pemain timnas Indonesia melawan dan memasukkan bola ke gawang timnas lawan. Dari merauke sampai sabang berteriak gembira. Semua ‘ke-akuan’ berubah menjadi ‘ke- kitaan’, kita Indonesia.

Oleh karna itu Sepak bola tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bangsa Indonesia. Olah raga ini dapat menyatukan semua perbedaan dan membangkitkan nasionalisme. Perbedaan yang berpotensi konflik dapat diredamkan dengan adanya olah raga ini. Namun tidak hanya sepak bola, olah raga lain pun memiliki kekuatan membangkitkan jiwa nasionalisme. Semangatlah Garudaku…!!!

Makassar , 21 Desember 2010
ket : telah diposting di ngurunto.blogdetik.com

Senin, 20 Desember 2010

Renungan Tengah Malam

Tepatnya pukul satu lebih 45 menit waktu Tamalanrea-Makassar (Indonesia tengah). Aku menuangkan isi pikiran dalam tulisan ini. Malam sunyi sendiri, begitulah keadaan diriku yang lagi merenung. Hidup yang penuh dengan permaslahan (cobaan) yang tak jarang membuat manusia mengeluh. Kadang yang kita harapkan atau rencanakan tak sesuai dengan yang tejadi, namun lagi-lagi saya harus katakana bahwa itulah hakekat hidup. Sering temanku berkata padaku, ‘bukan hidup kalau tidak punya masalah’. Kalimat ini membuatku semakin larut dalam renungan ...!!!


Memang benar apa yang dikatakan temanku tadi. Masalah adalah bunga dari kehidupan. Ibarat mimpi dalam tidur, ibarat ombak dilautan tatkala kita mengarungi lautan di atas kapal. Masalah adalah sebab terjadinya kehidupan bermasyarakat. Dengan masalah sehingga manusia dapat saling tolong menolong dengan sesamanya karna itu manusia disebut dengan makhluk sosial. Masalah membuat kita sadar tentang kelemahan dan kelebihan yang kita miliki. Dengan kelebihan yang kita miliki dapat digunakan untuk mengisi kelemahan orang lain dan sebaliknya kelemahan yang kita miliki dapat diisi dengan kelebihan orang lain. Sehingga interaksi sosilapun terjadi. Inilah hikmah masalah (cobaan) dalam sisi kehidupan bermasyarakat.

Bagi diri pribadi, masalah juga memiliki hikmah tersendiri. Dengan masalah kita dapat mengetahui kelemahan yang kita miliki sehingga membuat kita termotivasi untuk memperbaikinya. Dengan masalah akan membuat mental, kepribadian dan kebijasanaan kita akan di uji sehingga dapat mendewasakan diri.

Namun aku kadang tidak ikhlas dan mungkin bisa dikatakan tidak mensyukuri nikmat dari sang Pencipta. Ketika aku melihat kehidupan orang lain, sering timbul rasa iri dan muncul perkataan ‘seandainya!!!’. Seandainya aku begitu dan begini dan seperti mereka maka saya akan merasa lebih bahagia dari sekarang. Itulah kalimat yang selalu menghampiriku ketika aku mengeluh tentang masalah yang menghinggapiku saat ini. Ironisnya, sebelum terjadi demikian aku selalu berkata ‘seandainya’ (seperti kalimat sebelumnya) tapi ketika itu terwujud justru yang terjadi kadang tidak sesuai dengan yang kita rencanakan.

Sehingga aku berkesimpulan ternyata apapun pilihan hidup maka masalah itu pasti mutlak ada dan bersiaplah menghadapinya. Mungkin aku harus berkata inilah pilihan hidup dan masalah adalah wajib adanya. Kata seandainya harus dilupakan. Yang harus saya lakukan adalah tegar dan optimis dalam menjalani hidup dan meraih cita-cita.

Makassar, 18 Desember 2010

Kamis, 09 Desember 2010

Identitas Tomia yang Ambigu

Tulisan ini mengkhususkan pengkajiannya pada subuah pulau yang ada dalam gugusan kepulauan wakatobi. Pulau yang terdiri atas dua kecamatan yang berada di kabupaten wakatobi. Pulau ini adalah pulau Tomia. Penulis sengaja mengangkat objek kajian pada dua kecamatan ini karna mengingat daerah asal penulis. Selain itu, sebagai upaya memenuhi permintaan pengunjung blog ini.

Sebagaimana disebutkan disebelumnya Tomia memiliki dua kecamatan dalam hal ini kecamatan Tomia Timur dan Tomia Barat. Namun dua kecamatan itu akan disatukan dalam satu objek kajian yaitu Tomia. Tomia tergolong kecamatan yang semi moderenis. Artinya ada nilai-nilai tradisional belum ditinggalkan sepenuhnya dan nilai moderenitas belum sepenuhnya diadopsi. Atau bisa dikatakan sebagai identitas yang ambigu yaitu berada diantara dua identitas (budaya).

Dalam sejarah perkembangan peradaban manusia, masyarakat pernah mengalami masa hidup bersama yang sangat menjunjung nilai kebersamaan. Nilai inilah yang dimiliki oleh setiap manusia tradisional sebelum beranjak ke fase kehidupan berikutnya. Perkembangan sejarah peradaban tersebut telah membawa manusia pada kehidupan modern. Kehidupan modern ini tertunggangi oleh budaya barat yang akan mengekspasi hingga menghegemoni manusia dalam satu budaya tunggal yaitu budaya barat (westernisasi).

Budaya barat yang cenderung jauh dari kehidupan spiritual dan lebih mementingkan kehidupan dunia telah diadopsi oleh manusia yang hidup di zaman modern ini, tak terkecuali Tomia. Sikap saling tolong-menolong dan menghargai telah tergantikan perilaku individualisme.Pergaulan masyarakat antara pria dan wanita sangat menjunjung tinggi nilai (ajaran) islam, kini telah tergantikan dengan pergaulan ala barat (pergaulan bebas). Permainan tradisional sebagai salah-satu bentuk budaya telah digilas oleh permainan hasil moderenisasi yang berpotensi membunuh kreatifitas anak. Dan semua nilai tradisional yang mengajarkan tentang tatakrama dalam masyarakat baik dari tingkah laku, tutur kata maupun kostum keseharian dan kebersamaan dalam hidup (egaliter) yang teraktualisasi dalam saling tolong-menolong (poasa-asa pohamba-hamba) secara perlahan-lahan telah terkikis menuju kepunahan.


Adalah sebuah keniscayaan bahwa moderenisasi menghampiri kita. Ini adalah sebuah konsekuensi perkembangan IPTEK. Oleh karna itu menghindari terlebih menghilangkan adalah absurd. Sebagai manusia yang tengah dilanda oleh arus modernisasi hanya mampu untuk meminimalisir dampak negatif. Upaya menyeleksi segala nilai-nilai yang masuk harus dilakukan demi menjaga budaya yang telah ada. Selain itu perlu melakukan re-interprestasi terhadap budaya yang tradisonal. Hal ini dilakukan demi mempertahankan kearifan lokal yang kita miliki dan menghadapi tantangan zaman.

Langkah ini terbilang sedikit dilakukan oleh masyarakat Tomia sendiri bahkan bisa dikatakan tidak ada. Masyarakat baik pemerintah maupun masyarakat nonpemerintah jarang menggubris persolan ini. Jika ada sifatnya apatis dan tak mampu diaktualisasikan. Terlebih masyarakat biasa (masyarakat yang diperintah) yang mayoritas kadar intelektualnya masih rendah. Mereka hanya asik dengan arus moderenisasi yang mengalienasikan dan tak mampu untuk mempertanyakannya.

Figur mayarakat yang merupakan tokoh agama dan adat setempat tak mampu membaca fenomena moderenisasi ini. Mereka hanya sibuk dengan kegiatan seremonial agama dan adat belaka di momentum-momentum tertentu. Mungkin karna kurangnya perspektif mengenai ini. Tokoh agama hanya aktif jika perayaan hari besar agama telah tiba begitupun dengan momentum adat. Mereka tak memaknai ajaran agama dan adat memiliki praktek cara hidup. Upaya menghidupakan kembali budaya-budaya tradisional seperti salah-satu contohnya taraian daerah pun jarang dilakukan bahkan tidak sama sekali. Demikian halnya yang terjadi pada pemerintah setempat. Pemerintah yang seharusnya menjadi jawaban dari segala permaslahan masyarat pun bersikap acuh (apatis).

Imbasnya, gerakan zaman yang kian berlanjut telah menemukan hasilnya. Gerak evolusinya telah memastikan arahnya dan berlangsung secara perlahan-lahan namun pasti. Budaya masyarakat setempat telah tercemari oleh budaya yang dibawa oleh moderenisasi yaitu budaya barat. Sedang kita hanya asik menjadi penonton dan menikmatinya tanpa mempertanyakannya. Inilah fase kehidupan imprealisme budaya. *)

Ku tulis demi perubahan

Makassar, 7 desember 2010
Waktu begadang sendiri


Refleksi Tahun Baru Hijriah


Sebelum saya menulis artikel ini. Saya tidak sadar tentang ada momentum besar bagi umat islam. Momentum itu adalah tanggal 1 muharam 1432 H. Periode tahun hijriah telah mencapai ujung putaranya dan akan memulai dengan periode yang baru. Inilah yang dikenal dengan tahun baru baru Hijriah atau tahun baru Islam.

Alasan utama kelupaan kaum muslimin termasuk penulis sendiri terhadap momentum ini adalah dialeniasi (keterasingan) oleh kehidupan moderenisasi yang didalamnya terkandung westernisasi. Westernisasi adalah sebuah term yang diberikan kepada karakter budaya barat yang berbeda dengan budaya yang islami. Westernisme inilah yang tengah diadopsi oleh hamper semua kaum muslimin. Sehingga dampak yang hadir salah-satunya adalah amnesia semu terhadap hari besar islam. Bahkan memungkinkan terjadi amnesia permanen jika kungkungan hegemoni ini tetap dibiarkan.

Berbeda dengan tahun baru masehi yang begitu mendapat sambutan di negeri ini. Tahun baru hijriah yang merupakan identitas tersendiri bagai kaum muslim telah dilupakan. Sedang kaum muslim di negri ini adalah mayoritas bahkan dikenal dengan negera terbesar yang beragama islam, sungguh ironis…!!!

Berbicara tahun baru berarti bagaimana memulai dengan kehidupan dalam periode yang baru. Sejatinya, dalam setiap perode waktu kehidupan manusia mengalami perkembangan secara kualitatif. Tahun baru hijriah inilah harus dijadikan sebagai momentum kebangkitan dan perubahan. Momentum menumbuhkan kesadaran untuk melihat segala realitas baik di dalam maupun luar diri manusia. Melakukan interupsi kepada realitas yang buruk dan memperbaharui yang telah baik adalah keharusan untuk meraih pencerahan hidup. Jika hal ini tidak dilakukan maka kehidupan akan berjalan mundur.

Secara historis, tahun hijriah dimulai ketiaka Rasulullah saw melakukan pindah (hijrah) ke Madinah dari Kota Mekkah. Hijrah tersebut bertujuan untuk menyebarkan ajaran Tuhan yang yang mengajarkan kebaikan dalam hidup. Oleh karna itu harusnya kita dapat mengambil pelajaran sejarah ini. Hijrah bukan hanya berpindah tempat tapi lebih dari itu berpindah dari hal yang buruk menuju baik, dari kerusakan ke perbaikan atau dari kemaksiatan ke hal yang di ridhoi Tuhan.

Tahun baru Hijriah adalah sebuah tangga yang harus dijadikan sebagai pijakan kaki untuk melompat lebih tinggi lagi. Tahun baru adalah awal aktualisai dari revolsui jiwa yang baru. Jiwa yang selalu mendambakan pencerahan abadi. Jiwa yang haus akan kebenaran. Jiwa yang melahirkan intelektual yang mampu melakukan perbaikan. Jiwa yang mengaktualisasikan energi intelektual dalam mentranformasi kehidupan sosial masyarakat. Sehingga kaum muslimin bangkit dari keterpurukan dan membebaskan dirinya dari alienasi westernisasi.

Salam pencerahan dan pembebasan.

Makassar, 1 Muharam 1432 H (7 Desember 2010 M)

ket: telah diposting di ngurunto.blogdetik.com