Kamis, 24 Oktober 2013

Aku dan Gadis Kecil Pemulung

Tiba-tiba aku berhenti, yang sedang mengendarai sepeda motor. Di pinggir jalan aku melihat seorang gadis kecil yang menemani ibuya sedang mengai-ais sampah. Lalu lalang kedaraan serta polusinya sudah menjadi pemandangan kesehariannya. Yang dia lakukan hanyalah satu-satunya cara yang dimiliki untuk mempertahankan keras kehidupan. Sampah-sampah itu akan di tukar dengan uang yang nantinya akan di ubah menjadi sesuap nasi.

Harusnya gadis kecil yang cantik nan lucu ini, seperti anak-anak seumurannya. Di manja oleh keluarganya, di cium oleh ayah ibunya, mengerjakan tugas sekolah atau tidur pulas serta mimpi indah. Tapi dia bukanlah gadis yang beruntung itu. Dia harus mengeluarkan sisa-sisa energinya untuk menaklukan malam yang penuh dengan kompetisi. Dari raut wajahnya tergambar, malam itu cukup melelahkan baginya.

“Bagaiman mungkin, gadis kecil ini harus memulung sampah-sampah yang kotor ini?” desisku dalam hati seolah protes terhadap kehidupan. Kasian dia. Meskipun itu, tak tampak dalam raut wajahnya keluh kesah. “Tuhan ada apa dengan negeri ini, yang alamnya kaya raya akan alam tapi gadis kecil ini harus menjalani hidup seperti ini?, dimana pemimpin?” mengharapkan pemimpin negeri, sangat pesimis rasanya. Mereka hanya asik mengurus urusannya sendiri, mereka jarang turun melihat langsung kehidupan rakyatnya seperti gadis kecil ini. Kita sudah banyak dibohongi dengan janji-janji kosong yang dibungkus dengan retorika yang indah. Pun sistem yang digunakan untuk mengurus negeri ini sangat kacau balau.

Rasa ibaku tak dapat ku tahan lagi. Mata mulai berkaca-kaca melihat si gadis kecil pemulung yang masih saja terbongkok mengais di tong sampah. Aku tertegun, melamun menyaksikan kondisi ini. Tanpa di sadari si gadis kecil dengan wajah dan baju yang kotor berjalan ke arahku. Sontak aku tersadar dari lamunan. Dia terus berjalan mendekat. Aku baru sadar ternyata aku sedang berada di dekat sampah-sampah yang akan di ambilnya. Dia ingin membersihkan tempatku berdiri dari sampah-sampah yang mengotori. Segera ku rogoh sedikit uang kiriman dari orangtua di kampung, kemudian ku berikan pada gadis kecil ini. “Trimaksih kak” dia bersuara dengan tersenyum dan suara yang lembut. “iya, sama-sama dek”. Kemudian segera ku tinggalkan dia. “Tuhan cukupkanlah rizkinya, angkatlah kemiskinannya, jadikanlah gadis kecil ini menjadi gadis soleha demikian jg ibunya, amin” sepenggal desisku dalam hati.

~Makassar, disuatu malam, 22 Oktober 2013

Jumat, 18 Oktober 2013

Stigma itu masih ada

Mata semakin sayu. Di jelang sepertiga akhir malam, ruang itu masih saja ramai. Mereka sedang saling berdiskusi tentang sebuah tema. Lebih khususnya lagi berkisar pada keadilan. Membahas keadilan memang tak akan habis-habisnya. Tak jarang banyak yang memiliki kacamata (baca: ideologi) sendiri dalam melihatnya. Sehingga dalam meperjuangkannya pun kadang berbeda.

Perjuangan dengan kata-kata hingga perjuangan fisik. Meskipun kadang perjuangan itu harus di pertanyakan, apakah memang sudah pada jalur yang benar atau tidak. Atau apakah hasil akhir dari perjuangan itu dapat menghasilkan keadilah yang benar-benar adil? entahlah.

Keadilan di dunia tidaklah hakiki. Keadilan yang sebenarnya hanyalah di kehidupan setelah kehidupan di dunia (akhirat). Tuhanlah yang berhak dan memiliki kemampuan melihat sisi keadilan secara sempurnah. Selama kita di dunia, maka keadilan kita hanya bersifat parsial. Tapi tidak kemudian, kita duduk pasrah menerima nasib melainkan tetap harus memperjuangkannya (baca: keadilan).

Kurang lebih di mulai dari pukul satu dini hari hingga azan shubu berkumandang. Kebetulan saya di percayakan untuk menjadi pembicara dalam diskusi saat itu. Berbagai argument di lontarkan dalam forum itu. Masing-masing memiliki kacamata yang sendiri dalam melihat keadilan. Bagiku, inilah yang menjadi keniscayaan di dunia. Perbedaan selalu ada, bahwa tidak ada kesepahaman tentang kacamata apa yang tepat untuk melihat keadilan.

Diskusi akhirnya sampai pada bagaiamana kacamata kapitalisme dalam melihat keadilan. Dalam konteks ke Indonesiaan kita, kapitalisme begitu bercokol pada salah satu orde kekuasaan, yakni orde baru. Segala musuh kapitalisme di era ini begitu di singkirkan, misalnya saja paham sosialis-komunisme yang saat itu diterapkan oleh negara China. Sehingga segala hal yang mengarah ke ideologi ini akan mendapat perlakuan yang diskriminasi dari rezim orde baru.

Kebetulan perantau (diaspora) China cukup banyak di Indonesia. Tak ayal, hampir semuanya menjadi korban kekejaman orde baru. Mereka distigmakan sebagai orang yang berbahaya bagi ke langgengan rezim. Negara asal mereka, China sebagai penganut setia ideologi komunis yang secara tegas sangat anti kapitalisme, milik orde baru. Maka di kondisikanlah agar mereka mendapat perlakukan diskriminatif di masyarakat. Bukan hanya oleh penguasa tapi juga masyarakat sipil di Indonesia pun melakukan hal demikian. Dan ternyata efek kebijakan yang diskriminatif itu di rasakan hingga sekarang, meskipun zaman bukan lagi orde baru.

Hal itu terlihat pada forum kami malam itu. Sebelum peserta diskusi mengajukan pertanyaannya, terlebih dahulu saya menganjurkannya untuk menyebut nama dan asal daerah (suku). Maka bertanyalah seorang peserta yang masih keturunan/berasalah dari etnis tionghoa. Setelah dia mengucapkan asal etnisnya, beberapa peserta diskusi lain mengeluarkan ekspresi suara yang menyindir. Segera saya ambil alih forum untuk menetralisir agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.

Berceritalah saat itu tentang sekelumit kisah diksriminasi orde baru. Selain hampir semua masyarakat etnis tionghoa dan budayanya, juga terhadap buku-buku atau sejarah yang berkaitan dengan mereka. Banyak sejarah yang menceritakan tentang kisah perjuangan seorang maupun kelompok tionghoa di Indonesia. Namun orde baru sengaja menghapusnya dari sejarah. Sebenarnya diskriminasi bukan hanya pada etnis tionghoa, melainkan juga pada beberapa kelompok ‘islam politik’.

Sungguh pengaruh orde baru itu sangat terasa. Peserta diskusi baru menyadarinya, betapa banyak  ketidak adilan di era orde baru di Indonesia. Akhirnya kami menyepakati bahwa kacamata (ideologi) orde baru yang kapitalisme harus di singkirkan. Hal positif di ambil dan negaratif harus dilawan.

Malam semakin larut. Jangkrik semakin  mendesis. Ayam berkokok bersahutan. Anjing terus menggonggong. Inilah nyanyian alam malam itu. Sungguh indah, apalagi di isi dengan kegiatan intelelektual seperti ini. Karena ilmu (hikmah) adalalah harta yang hilang dan jika kau mendapatkannya, Maka ambillah. Demikian kurang lebih kata nabi.

Sebelum akhirnya forum di tutup karena sebentar lagi azan akan segera berkumandang. Sesuai dengan janji, saya akan memperkenalkan satu kacamata yang ideal untuk melihat keadilan. Tapi terlebih dahulu saya cukupkan pembahasan tentang kelemahan-kelemahan kacamata yang digunakan oleh kebanyakan orang termasuk para wakil rakyat kita hari ini. Maka saya tawarkan islam sebagaia agama rahmatan lil alamin sebagai kacamata yang tepat. Apalagi islam tidak pernah mengenal diskriminasi sesama manusia. Perbedaan manusia hanya terletak pada kemanusiaannya. Meskipun banyak perdebatan perihal tafsiran islam versi mana yang benar, namun saat ini pancasila bagiku adalah nilai islam yang di ‘indonesiakan’.

~Makassar, 18 Oktober 2013

Selasa, 01 Oktober 2013

Ada cinta dalam segelas kopi

Sudah sering saya di undang oleh kawan untuk menghadiri acara perayaan wisudah sebagai tanda selesainya masa studi dalam jenjang tertentu. Biasanya perayaan itu, dirayakan dengan acara jalan-jalan, makan-makan hingga hanya sekedar minum kopi. Meskipun itu, yang terpenting adalah rasa syukur yang mendalam dan ikhlas atas perjuangan menempuh studi ini. Karena untuk meraih sebuah gelar akademik, bukanlah hal yang mudah. Apalagi jalan untuk menempuhnya tidak selalu mulus melainkan selalu ada tantangan. Meskipun tak jarang juga dalam banyak fakta ada jalan yang mulus itu, jalan yang tak wajar (ilegal) tapi kadang sudah menjadi hal yang lumrah dan legal.

"Ibu buatkan kopi ya? Ibu jamin kopinya pasti enak" kata ibu itu sambil tersenyum. 

Dengan malu-malu tapi mau, kami segra mengiyakan. "iya bu. makasih sudah merekpotkan". 

"Tidak apa-apa, lagian tidak ada yang repot".

Malam itu memang kami hanya sekedar minum kopi hitam. Kopi yang kami nikmati ini sungguh berbeda dengan kopi yang saya minum biasanya. Ini kopi yang khas daerah asal kawan saya yang wisudah ini. Saya biasa menyebutnya kopi ‘kearifan lokal’.

Kopi semacam ini sudah mulai tersingkir oleh pertarungan pasar yang menawarkan segala macam produk kopi. Dengan kampanye yang massif dan kemasan yang indah membuat kopi kearifan lokal mulai kurang di nikmati. Masyarkat mulai jatuh cinta pada kopi kemasan yang sebenarnya rasanya tidak begitu enak. Apalagi jika ditinjau dari komposisi bahan pembuatnya, telah banyak campuran selain kopi, dengan kata lain bukan lagi kopi yang original.

Jika membahas kopi dari penanamannya hingga terseduh di dalam gelas memiliki banyak ceita. Cerita tentang kearifan, sosial kultural, politik, ekonomi hingga cinta. Kopi sebagai simbol kebudayaan dapat menjelaskan kepada kita untuk melihat tanda-tanda perubahan zaman. Misalnya jika dulu kopi plus gula diseduh dalam gelas dengan cara yang manual (tradisional), kini globalisasi menawar dengan banyak cara. Bahkan dengan gaya seni tersendiri. Lihatlah bagaimana kedai-kedai kopi starbucks dalam penyajian kopinya. Mereka menggunakan mesin pembuat kopi yang lahir dari negara-negara maju. Dalam mesin itu melekat nilai-nilai tradisi dari negara asalnya kemudian berpindah ke negara yang mengadopsi sistem pembuatan kopi ini hingga melahirkan budaya popular (pop culture).

Aku melihat cinta dalam gelas kopi hitam ini. Larutnya malam melarutkan juga cinta seorang ibu kepada kami. Juga aku melihat betapa sang ibu cinta akan nilai kearifan lokal yang melekat pada kopi. Dari cara menyeduhnya hingga menyajikannya di depan kami, begitu penuh dengan kasih sayang. Bagiku ini adalah bentuk perlawanan terhadap budaya mainstream dalam arus globalisasi yakni budaya populer dan budaya kapitalisme ‘eksploitasi’ yang miskin akan cinta.

Selain mengadakan kopi, sang Ibu dan sanak keluarga lainnya begitu baik pada kami. Mereka begitu terebuka menerima kedatangan kami. Menyeduhkan kopi, bercanda, saling menghargai sampai ingin member kopi khas daerahnya (baca: kopi kearifan lokal) untuk ole-ole buat kami.

Orang-orang demikian perlahan sudah mulai berkurang. Hubungan manusia di era modern hari ini tak sedikit yang cenderung ‘eksploitatif’ karna alasan adanya ‘keuntungan’, bukan lagi kemanusiaan. Apalagi ada perbedaan status sosial di antaranya seperti perbedaan suku, agama, rasa tau antargolongan (sara). Maka tak jarang, perbedaan ini menjadi hambatan untuk saling berinteraksi terlebih saling tolong menolong. Bahkan dalam banyak kasus, justru konfliklah yang terjadi. Miris.

Tapi itulah kemuliaan sang Ibu tadi. Meskipun kita berbeda keyakinan beragama, beliau sangat menyayangi kami. Perlakuan pada kami sebagai kawan dari anaknya, sama dengan perlakuannya terhadap anaknya. Kami di anggap sebagai anaknya sendiri. Dalam suasana yang penuh cinta itu aku berdesis dalam hati: “Tuhan, apakah mereka tidak akan mendapat balasan yang baik di akhirat nanti (surga misalnya) atas kebaikannya padaku? Sedang tak jarang yang se agama denganku, tidak memiliki kasih sayang seperti Ibu ini?”. Tuhan, akal kami untuk menilai keadilanmu, tidaklah akan sanggup. Di pengadilan akhiratlah, semua akan jelas, semua akan terang benderang. Tuhan, hanya engkaulah yang Maha adil”

~Makassar, 29 Sepetember 2013