Rabu, 27 Februari 2013

Aku, ibu dan hujan

Nyanyian alam ini sungguh indah
Mengusir terik mentari yang garang
Membasuh koyakan luka membara
Menyejukan hati dikala panas

Hujan hujan dan hujan
Ini kisah yang kau ciptakan
Tentang kasih sayang ibu padaku
Itu kau tulis kembali dalam kesejukan rintikanmu

Rintikanmu menyeret imajinasiku
Aku berlari melepas dekapan ibu
Di tengah belantara aku memeluk hujan
Aku menengadah, merasakan kesejukan alam

Aku tau, ibu mencemaskanku
Ibu takut hujan membuatku gigil hingga sedih
Tapi hentakan kakiku terus berayun
Ibu membiarkanku riang dalam derasan hujan

Hujan,
Ibu menyayangiku dengan ketulusan
Hujan,
Kau adalah sejarah aku dan ibu
Smoga Tuhan menyayangimu selalu ibu

~Makassar, di saat hujan turun, 27 Februari 2013

Minggu, 24 Februari 2013

Bacalah; Inspirasi menulis

Untuk beberapa hari ini, saya tidak tahu mau tulis tentang topik apa. Saya rasa ada yang kurang perihal inspirasi yang dapat dijadikan tulisan. Sebenarnya, saya mafhum apa yang harus saya lakukan. Tapi saya tetap belum bisa karena ada beberapa faktor yang membuat saya tidak melakukannya.

Membaca harian surat kabar nasional, menonton televisi terutama konstelasi sosial-politik nasional atau mendengar radio. Namun ini belum bisa menghilangkan dahaga inspirasi yang saya butuhkan. Stagnan, bosan, jenuh serta ini dan itu, bisa dikatakan adalah aktivitas rutin dalam beberapa minggu ini.

Sebenarnya saya berencana pergi dan keluar sejenak meninggalkan ini semua. Untuk menemukan ‘hidup baru’ yang lain dari yang lain. Jalan-jalan mengunjungi tempat yang jarang saya jumpai atau belum pernah sama sekali, bertemu teman atau mencari tempat baru untuk melaksanakan akrivitas rutinitasku.

Saya pernah membaca certia tentang kisah perjuangan seseorang agar dapat menulis. Dia di ajak oleh salah satu temanya yang menjadi pembimbing (mentor) dalam menulis, ke suatu tempat pembuangan akhir sampah yang kumuh. Selain sebagai tempat pembuangan sampah, juga terdapat rumah-rumah (gubuk) kumuh sebagai tempat tinggal para pengemis dan pengais sampah. Tempat ini jarang dikunjungi oleh kebanyakan orang. Yah, alasanya sudah dapat dipastikan bahwa kebanyakan orang tidak suka tempat yang demikian.

Apapun kita dapat menjadikannya tulisan. Tempat yang kotor dan kumuh seperti ini banyak inspirasi yang dapat dijadikan bahan tulisan. lihatlah, saudara-saudara kita yang hidup memprihatinkan ini, mereka sangat tidak layak untuk tinggal di tempat seperti ini. Sangat jelas terjadi kesenjangan antara warga di sini dan mereka yang memiliki gedung tinggi itu. Orang kaya semakin kaya sedang yang miskin semakin miskin. Bukankah pemerintah bertanggung jawab atas ini? memberikan hidup yang layak, bukan? Yah, realitas ini dapat dijadikan bahan untuk menulis. Demikian kata mentor menulisnya.

Benar apa yang dikatakan seorang mentor itu. Banyak hal yang tersembunyi yang sebenarnya bisa di ungkap jika jelih kita melihatnya. Banyak hal yang selama ini di abaikan oleh kebanyakan orang namun sesungguhnya banyak inspriasi (hikmah) kehidupan di dalamnya. Hanya orang-orang yang mampu ‘membacalah’ yang bisa menguak hikmah yang tersembunyi itu.

Jika di awal tulisan ini saya katakan: saya tidak tahu menulis tentang topik apa maka terjawablah sudah. Maka Bacalah…!!!

~Makassar, 24 Februari 2013

Rabu, 20 Februari 2013

Pemuda pencari cinta

Tak seperti biasanya, semakin hari ada yang berubah. Saat malam tiba pemuda pencari cinta itu segera berada di kamar kosnya. Tempat ini biasa disebutnya dengan markas besarnya, tempat melakukan perenungan dan banyak aktivitas lain. Malam itu sambil menatap langit di serambi markas besarnya, dia duduk ditemani segelas kopi hitam. Inilah kebiasaannya dikala kesendirian apalagi perenungan mulai bersamanya. 

Dia terus teliti melihat pergerakan bintang. Harapnya, smoga ada bintang jatuh agar bisa berdoa seperti yang dilakukan oleh banyak orang. Konon, mengucap harap pada momentum bintang jatuh maka akan segera terkabul. Tinggal tunggu waktu saja ibarat menunggu hujan dikala awan mulai gelap dan angin sudah mulai berhembus kencang. 

ilustrasi gambar dari google
Apa itu cinta ? Semoga saja, saya mengerti tentang cinta. Pertanyaan dan harap seperti ini terus menghujani pikirannya. Apalagi ketika sahabat-sahabatnya menjelaskan tentang definisi cinta dengan menunjukan manifestasi-manifestasinya, “lihat yang kami lakukan sekarang, inilah cinta”.

Dia semakin bingung tentang definisi yang cinta yang sebenarnya. Dia selalu membawa alam pikirannya pada cinta terhadap lawan jenis. Meskipun dia yakin bahwa cinta tidak hanya berkisar pada lawan jenis. Maklum saja, semua sahabat dekatnya mencontohkan arti cinta melalui kasih sayang terhadap lawan jenis.

“Cinta itu adalah ketertarikan terhadap lawan jenis. Kemudian, kita menjalin hubungan dengannya dan melakukan apa saja yang membuat kita bahagia” Demikian definisi yang selalu diperdengarkan oleh sahabat-sahabatnya.

Namun dalam realitasnya, cinta yang dijelaskan sahabat-sahabatnya banyak berakhir dengan perpisahan dan tak jarang menghasilkan kebencian hingga saling menyakiti. Kondisi ini membuatnya ragu terhadap penjelasan para sahabatnya karena tenyata teori mereka tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Rasa penasaranpun menjadi beban tersendiri baginya. Dia semakin haus untuk mengatahui definisi cinta.

“Mana mungkin ada cinta yang berakhir dengan kebencian? Bukankah cinta adalah kebahagiaan? Dengan kata lain benci  adalah hal yang berlawanan dengan cinta” Gumamnya dalam hati yang membuatnya semakin bingung.

Kuatnya tekad membuatnya rela melakukan apa saja demi mengetahui apa itu cinta. Dia pernah mendengar sebuah cerita tentang seorang nenek yang sudah cukup tua. Si nenek terkenal dengan ilmu cintanya, sudah banyak yang berguru padanya dan berhasil dipraktekan.

Namun dia menemui kendala yang cukup besar. Dia harus menempuh jalur yang begitu penuh tantangan. Kebetulan si nenek tinggal di sebuah puncak gunung yang jarang dikunjungi orang. Bahkan para pendaki gunung pun ragu untuk melewati tempat si nenek. Dari pengakuan yang pernah berkunjung ke tempatnya, banyak ke anehan yang didapatkan sebelum dan ketika berada di tempat itu. Mungkin inilah yang membuat banyak orang mundur untuk tidak mengunjungi tempat si nenek. Bisa dikatakan hanya orang yang memiliki tekad ikhlas, kuat dan pengorbananlah yang mampu menerobos segala rintangan hingga dapat bertemu dan belajar pada si nenek.

Ternyata cerita tentang kesulitan itu tidak menjadi halangan pemuda pencari cinta itu. Setelah segala kelengkapan dan keperluannya sudah siap maka segeralah dia berangkat. Dia tak ragu melangkah meskipun banyak yang memperingatinya agar jangan ke tempat si nenek itu.

Dalam banyak kisah perjalanan kesana tak sedikit yang tidak pulang. Bahkan yang didapatkan hanyalah tulang-belulang yang dicurigai sebagai milik para pengunjung ke tempat si nenek. Tidak tahu, apakah mereka yang berkunjung telah sampai atau belum. Entahlah. Ini pertanyaan yang sampai sekarang belum bisa terjawab oleh banyak orang.

Dengan perjuangan yang begitu keras, singkat cerita maka sampailah dia di tempat si nenek. Segeralah dia menemui si nenek. Karena kesaktian si nenek sehingga telah mengetahui maksud kedatangannya.

“Kamu mau belajar tentang cinta ya nak?” Pertanyaan pertama si nenek.

Dia tersontak. Tanpa ragu sedikitpun dengan dihantui rasa heran, dia segera mengiyakan pertanyaan si nenek. “Iya nek”

“Saya dengan ikhlas akan berusaha semampuku melakukan apa saja keinginanmu nek. Asalkan nenek sudi mengajariku tentang cinta” Ujarnya yang semakin mengakui kehebatan si nenek.

Si nenek hanya tersenyum karena melihat ke ikhlasan dan kegigihan anak muda ini. Kemudian berkata “Nak sesungguhnya kamu telah mengetahui definisi cinta”

Kebingungan semakin menghantuinya. Mana mungkin dia tau tentang cinta sementara perjalanan ke tempat si nenek karena ketidak mengertiannya tentang cinta. Sudahlah, si nenek hanya bergurau. Mungkin ini alasan si nenek untuk tidak mengajarinya. Demikian prasangka-prasangka dalam pikirannya.

“Saya berkata yang sebenarnya nak. Bukan seperti yang kamu prasangka kan itu” Ucap si nenek.

Dia kaget ternyata si nenek bisa membaca pikirannya. Dia segera tidak berprasangka yang negatif lagi terhadap si nenek. “Maafkan aku nek, aku tidak bemaksud begitu”.

“Sudah-sudah nak, saya maklumi. Bukan hanya kamu yang berprsangka seperti itu ketika bertemu saya” Ucap si nenek.

Ternyata persepsi yang selama ini terbangun dalam pikirannya runtuh seketika ketika melihat sikap si nenek yang begitu baik padanya. Sebelumnya, dia membangun persepsi menakutkan terhadap si nenek karena begitu sulitnya menuju kerumah si nenek. Karenanya sulitnya perjalanan itu, kemudian menyamakan dengan watak si nenek yang menakutkan. Ternyata tidak.

“Sekali lagi kamu telah mempraktekan cinta itu” Ucap si nenek.

Kamu telah berkorban sekuat tenaga demi sebuah ilmu tentang cinta. Begitu kerasnya perjuangannmu melewati segala rintangan bahkan nyawapun menjadi taruhan. Memang benar, perjalanan menuju tempatku adalah hal yang cukup sulit. Tapi ternyata kamu berhasil melewatinya. Ini karena ke ikhlasanmu dan pengorbananmu menuntut ilmu cinta” Si nenek melanjutkan.

“Lantas, apa hubunganya dengan cinta? Dan kenapa nenek katakan bahwa saya sudah mengeri cinta?” Pemuda pencari cinta itu meluapkan kebingungannya pada si nenek.

“Nak, bacalah…!!! Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang Maha Mencintai dengan penuh ke ikhlasan. Bukankah engkau tadi mengatakan bahwa engkau ikhlas memberi apa saja kepadaku asalkan aku sudi mengajarimu tentang cinta? Bacalah nak…! kau dengan ikhlas berkorban melewati semua rintangan menuju ke tempatku karena demi ilmu tentang cinta. Yang kamu lakukan adalah cinta. Itulah cinta nak” Sang nenek menjelaskan dengan cermat.

Setidaknya lelaki pencari cinta itu sudah mendapat titik terang perihal kebingunganya. Pelita telah hadir menuntunnya menuju ujung lorong yang gelap. Meskipun si nenek menyadari apa yang dijelaskan belum sepenuhnya di pahami pemuda itu. Tapi si nenek tetap membiarkannya karena kebingungannya membuat dia akan berusaha mencari lebih dalam lagi makna cinta itu. Karena perjalanan akan selalu menemukan jejak-jejak cinta dibanding langsung mengatarkannya pada ujung jalan.

Selamat memaknai dan menikmati cinta.

~Makassar, masih di mabesku, pukul 04:15, 20 Februari 2013

Senin, 18 Februari 2013

Berkasih Sayang

Kasih sayang. Dua kata ini dimiliki oleh Sang Maha berkasih sayang. Karena kasih sayang_Nya, dia memberikannya kepada setiap insan tanpa terkecuali.

Tuhan sengaja menurunkan kedua sifat ini untuk memberikan kehidupan di bumi. Kehidupan yang damai yang jauh dari konflik seperti yang banyak terjadi sekarang. Namun sifat itu tidak diberikan keseluruhan, mungkin karena kapasitas manusia tidak mampu untuk menampungnya. Manusia sangat terbatas sedang Tuhan Maha Luas yang tak terbatas sehingga sifat-sifatnya pun diberikan dengan kadar tertentu. Mungkin juga agar manusia dapat mengerti tentang kelemahannya yang harus saling memberi dengan sesamanya serta memohon kasih sayang kepada_Nya agar selalu di alirkan kasih sayang yang tak terputus-putusnya.

Ternyata kasih sayang Tuhan itu tidaklah dijaga oleh manusia. Banyak manusia yang menyia-nyiakannya. Kasih sayang berubah menjadi kebencian terhadap sesama hingga memuncak pada konflik. Padahal kasih sayang diturunkan sebagai perekat semua perbedaan agar saling menghormati, menghargai dan mencintai. Bukan berarti untuk memaksakan semua perbedaan agar sama melainkan menyesuaikan perbedaan agar saling dimengerti satu sama lain antara yang terlibat dalam perbedaan dengan landasan kasih sayang.

Ketidakpahaman terhadap kasih sayang membuat manusia lupa tentang hakekat perbedaan itu. Lupa sesungguhnya perbedaan itu adalah keharusan yang tak perlu ada kebencian karenanya. Dan jika dimaknai secara dalam, perbedaan itu adalah rahmat yang tercipta agar manusia berpikir untuk berkasih sayang. Tapi sayang, tidak sedikit manusia yang melakukan pengklaiman bahwa dialah yang berhak atas kasih sayang itu. Manusia seperti ini merasa sebagai hamba Tuhan yang hanya berhak mendapat kasih sayang, sehingga merasa mendapat mandat untuk tidak memberi kasih sayang kepada yang berbeda dengan mereka. Hingga mereka berusaha menyingkirkan yang berbeda hingga melenyapkannya.

Hari kasih sayang

Tentunya ada sebab musabab sehingga ditetapkan dan diperingati sebagai hari kasih sayang atau biasa disebut dengan hari valentine. Konon ada sebuah peristiwa haru tentang perjuangan cinta anak manusia yang pernah ada di muka bumi. Tapi saya tidak mau berceritra tentang sejarah yang cukup memiliki ragam versi ini. Yang cukup dipahami adalah kasih sayang milik siapa saja, milik semua identitas bahkan semua agama pun mengajarkan tentang berkasih sayang pada apa saja selama itu benar.

Jika memang ini adalah saat yang tepat, mungkin tidak salah jika saya berkasih sayang. Salahkah jika hari ini saya berkasih sayang padamu? Pada dia? Pada mereka? Pada kami? Pada kalian ? terlebih pada kita semua? Justru malaikat pun akan berkasih sayang padaku jika aku berkasih sayang pada siapa saja selama itu benar, Tuhan pun demikian. Bukankah berkasih sayang adalah perintah? Ya, benar.

Banyak manusia di dunia telah menetapkan 14 Februari adalah hari berkasih sayang itu (baca: valentine). Tidak salah, tidak ada yang keliru jika saya harus berkasih sayang pada setiap momentum ini. Lagi pula momentum ini juga sebagai pengingat agar kita terhentak dari kelupaan, keengganan serta kekikiran untuk memberi kasih sayang. Lihat saja ketidakadilan di muka bumi ini yang membuat manusia miskin, terusir, sakit, dibenci, bahkan di bunuh dan banyak lagi hal sebagai tanda bahwa kasih sayang itu sudah mahal harganya.

Inilah maksud dan alasan kenapa saya berkasih sayang pada kalian semua pada momentum ini. Saya hanya ingin pada momentum ini (baca: valentine), kita semua sadar bahwa indah sungguh indah jika melihat anak-anak tertawa, Ibu menyusui anaknya, Ayah bekerja dengan penuh kasih sayang, masyarakat hidup dengan berkasih sayang dan negara melayani rakyatnya dengan kasih sayang pula. Kasih sayang pun akan terbentuk menjadi indah yang akan dirasakan oleh siapa saja di muka bumi ini. Bukankah orang bijak berkata: kasih sayang dari keluarga akan membentuk kasih sayang dalam masyarakat, kemudian akan membentuk kasih sayang dalam negara hingga kasih sayang se dunia, bukan?

Bukankah juga berkasih sayang adalah bentuk peleburan identitas? Dengan berkasih sayang sesungguhnya kita diajak untuk kembali pada hakekat kita sebagai manusia yang memiliki nilai yang universal dan derajat yang sama. Manusia yang seharusnya tidak mengenal kasta karena identitas sosial. Manusia yang bukan aku dan kamu atau kami dan kalian melain manusia yang kita semua. Manusia yang ibarat satu tubuh, jika anggota tubuh lain sakit maka yang lainnya ikut sakit. Manusia yang saling mengingatkan terhadap manusia lain jika bersalah, tentunya dengan cara yang berkasih sayang pula. Ini semua dapat terjadi ketika kita berkasih sayang.

Tapi sunguh tidak bijak dan salah jika berkasih sayang itu hanya pada momentum ini, selepasnya manusia menaggalkannya. Manusia kembali membunuh secara perlahan-lahan kasih sayang itu hingga melahirkan kebencian. Valentine momentum sesaat kemudian ditanggalkan melainkan harus dipahami sebagai cara mengingatkan agar kasih sayang itu selalu diberikan yang tak mengenal lelah. Sebagai bentuk perenungan agar berkasih sayang seperti Tuhan kepada ciptaannya, pada sang surya kepada bumi, pada guru ke murid, pada orang tua ke anaknya yang tak pernah mengenal balas budi. Semoga kita semua berkasih sayang pada setiap waktu selama helaan nafas itu masih berhembus dan sekali lagi tidak hanya pada hari kasih sayang (valentine) itu.

Selamat berkasih sayang.

~Makassar, 14-15 Februari 2013

Sabtu, 16 Februari 2013

Harta berharga itu..

Sesuatu apa yang berharga yang kamu miliki? Tentunya banyak, tidak hanya satu dan cukup susah untuk memilih mana yang terbaik itu. Tapi saya yakin setiap orang memiliki penilaian yang berbeda tentang barang mana yang berharga itu. Mungkin karena cara pandang, kebutuhan, keinginan atau mungkin pertimbangan-pertimbangan lain yang membuat penilaian itu berbeda.

Tapi jika saya ditanya dengan pertanyaan yang sama, maka saya akan menjawab salah satunya buku. Buku merupakan kumpulan pengetahun yang terdokumentasi dan berhasil di ikat melalui bahasa tertulis. Pengetahuan inilah yang esensi dari buku itu, sehingga saya kadang rela mengorbankan yang lain deminya.

Orang bijak berkata: tuntutlah ilmu jika ingin bahagia dunia dan akhirat. Kalimat ini mengisaratkan bertapa penting ilmu pengetahuan sehingga dia dapat dijadikan alat untuk pembahagia dunia hingga ke akhirat. Dia ibarat pelita membimbing manusia yang tersesat dikala malam atau kompas dikala kapal tersesat di tengah lautan. Sehingga ilmu pengatahuan bagiku merupakan sesuatu yang sangat urgen untuk dimiliki.

Dalam akhir-akhir ini, harta yang berharga itu mulai berkurang. Buku dalam deretan etalase buku yang saya miliki harus berkurang. Terus terang saya cukup merasa kehilangan, dengan berbagai pengorbanan saya menemukannya kemudian menikmatinya (baca) dan usai itu, saya menempatkan dalam etalase. Ada kebahagian ‘khas’ ketika melihat deretan buku yang terpajang dalam sebuah ruangan kamar kos. Selain menjadi koleksi juga sebagai simbol pengetahuan, lagi pula saya memiliki rencana untuk membangun peradaban melalui buku, salah satunya akan membangun perpusatakaan nantinya terutama di kampung tempat saya dilahirkan.

Seorang sahabat meminta bantuan untuk dicarikan buku tertentu. Kebetulan yang dicarinya saya miliki, maka dengan ikhlas saya memberinya apalagi sahabatnya saya ini menggunakannya untuk kepentingan sosial. Karena dia seorang sahabat baik, juga salah satu alasan yang membuat saya harus mengikhlaskan kehilangan buku untuk dimilikinya adalah dia sedang melakukan apa yang saya cita-citakan. Kerja peradaban dengan berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia  (intelektual) dengan membangun sebuah wadah yang salah satu penunjangnya adalah buku yang saya berikan itu.

Selain memberikan sahabat yang baik, juga memberi kepada seorang anggota keluarga. Saya baru ingat, ternyata dahulu pernah menjanjikannya untuk memberi buku yang cocok untuk pengembangan dirinya. Saya pernah menganjurkannya agar rajin membaca agar wawasan pengetahuannya semakin luas. Memang ini salah satu kebiasaan saya dengan menebarkan virus membaca terutama kepada anggota keluarga.

Meskipun saya kehilangan harta yang cukup berharga ini, tapi setidaknya itu karena alasan mulia yang juga merupakan bagian dari agenda tujuan yang saya rencanakan. Semoga semangat untuk membangun peradaban yang lebih baik selalu terjaga dan terus meningkat.  Dan pembaca juga demikian. Amin.

~Makassar, 16 Februari 2013

Jumat, 15 Februari 2013

Tuhanku atau Tuhanmu ?

Suatu ketika saya mengucapkan selamat hari ulang tahun kepada seorang sahabat dalam jejaring sosial dunia maya. Dalam ucapan itu saya menyisipkan doa agar selalu sukses menjalani kehidupan dunia dan akhirat kelak. Selang beberapa jam, sahabat saya ini mengirim balik doa kepada saya yang kurang lebihnya sama dengan yang saya ucapkan padanya.

Doa merupakan bentuk kepasrahan diri kepada Tuhan. Bahwa kita manusia tidak kuasa penuh atas hasil yang kita usahakan. Melainkan Tuhanlah yang memiliki kuasa total atas semua apa yang ada di alam semesta ini tak terkecuali hasil atas usaha tadi.

Tuhan? Tuhan yang mana? Tuhan siapa? Mungkin pertanyaan ini agak menggangu akar teologis yang selama ini telah tumbuh pada diri kita dan malah sudah berbuah dalam bentuk pengabdian kepada Tuhan. Tuhan itu banyak karena agama juga banyak yang masing-masing memiliki Tuhan yang berbeda. Padahal harusnya Tuhan itu satu, utuh, tidak terbagi serta tidak terbatas. Jika Tuhan banyak maka Tuhan bisa terbagi-bagi sehingga bisa dikatakan dia itu terbatas, dibatasi oleh Tuhan yang lain. Dengan kata lain harus ada satu Tuhan yang benar di antara banyak Tuhan itu, tidak boleh ada lebih Tuhan.

Lantas, pada Tuhan siapa kita berdoa? Tuhan agamaku, agamamu, agama kalian atau agama siapa? Doa adalah hubungan pribadi (batin) antara hamba (pendoa) dan Tuhannya. Dia masuk dalam ruang pribadi batiniah yang tidak bisa dimasuki oleh orang lain sebab, orang lainpun memiliki ruang batiniah itu.

Atas dasar ini, banyak para ahli teologis (ilmu ketuhanan) berpendapat bahwa semua agama sebenarnya sama saja. Hanya dalam praktek (implementasi) para penganutnya yang berbeda namun sesungguhnya bermuara pada satu yakni Tuhan. Tuhan yang aku, kamu dan kalian pahami sesungguhnya sama saja hanya berbeda pada persoalan nama atau persepsi.

Tapi oleh ahli teologis lain menampik pendapat demikian. Agama yang benar hanyalah satu, yang lainnya salah. Juga tidak boleh benar semua. Jika semua agama sama dan benar maka manusia akan bebas berpindah-pindah agama padahal setiap agama melarang itu. Malah, jika saya disuruh pilih maka saya akan memilih agama yang ibadahnya kurang intens agar saya lebih banyak bersantai.

Terkait doa yang saya mohonkan dan sahabat saya mohonkan, maka biarlah Tuhan yang satu itu, yang menilai. Tuhan maha Tahu, Maha bijaksana dan Maha adil dalam segala urusan. Kami tetap saling berdoa dan urusan terkabul atau tidaknya itu bukan otoritas kami, melainkan Tuhan yang maha adil dalam segala pertimbangannya.

Pluralisme?

Terminologi ini cukup menjadi diskursus (wacana) dikalangan umat islam. Jika kita mau jujur, istilah pluralisme bukanlah berasal dari tradisi keilmuan islam. Istilah ini merupakan kata asing yang di impor kedalam tradisi inteletual islam. Bukan karena asing sehingga kita tidak menerima melainkan harus dijadikan sebagaia materi ilmu baru yang harus di cerna oleh kaum muslimin. Apalagi untuk menakutinya seperti yang dilakukan oleh banyak kalangan islam sehingga segala isme-isme (paham) asing diluar tradisi islam harus disingkirkan.

Pluralisme bisa di artikan sebagai penghargaan (toleransi) pada perbedaan.  Pluralisme, kini seolah menjadi istilah yang ampuh untuk mendamaikan segala perbedaan yang ada dalam masyarakat. Dia biarat pahlawan untuk mengatasi kecurigaan hingga yang berujung pada konflik fisik. Namun karena merasa sebagai pahlawanlah maka dia dibawa kemana saja hingga dalam ranah aqidah (Tuhan). Nah, disinilah masalahnya.

Selain ‘doa’ yang dipanjatkan pada ‘Tuhan siapa’ dalam ceritra di atas, juga terdapat realitas sosial yang cukup menarik untuk dicermati. Kedua ini dapat menjelaskan istilah pluralisme atau toleransi agar dapat ditempakan dalam porsinya juga tidak kebablasan menerapkannya. Atau dalam kasus seperti apa toleransi itu didapat digunakan.

Peristiwa yang saya maksudkan ketika dalam prosesi seremonial pasca kematian agama tertentu. Dengan kostum yang kenakan sebagai ciri khas agama itu hadir pula penganut agama lain dengan ke khasan agamanya. Kebetulan seremonial itu terjadi dalam lingkungan masyarakat yang tidak homogen agamanya. Sehingga untuk mewujudkan rasa toleransi itu, maka tetangga yang lainpun ikut dalam prosesi agama tetangganya yang sesungguhnya berbeda agama.

Banyak yang berpersepsi bahwa kehadiran penganut agama lain dalam prosesi ‘ibadah’ agama lain yang berbeda, secara tidak langsung membenarkan agama itu. Namun pendapat lain mengatakan, perilaku yang ditunjukan dalam peristiwa di atas adalah sebagai wujud toleransi dalam kehidupan bermasyarakat sebagaiamana diperintahkan oleh agama apapun.

Mungkin saya bukanlah orang yang tepat untuk mendamaikan perihal ini. Saya hanya akan coba memaparkan tentang makna pluralisme itu agar kita dapat menggunakannya pada konteksnya. Selebihnya silahkan berpikir dan menilai, mana yang benar termasuk pemaparan saya.

Pluralisme (toleransi) untuk mewujudkannya tidak mesti harus terlibat dalam apa yang dilakukan oleh orang yang berbeda dengan kita. Misalnya dalam kasusu di atas, tidak mesti menghadiri seremonialnya maka kita dikatakan pluralisme. Duduk, diam serta tidak mengganggu  seremonial dan segala prosesinya pun bisa dikatakan toleransi. Malah jika tidak dipahami secara sewajarnya maka bisa terjebak dalam prilaku sirik. Maka perlu kiranya dipahami terlebih dahulu apa sebenarnya hekekat pluralism itu sendiri, agar tidak tejadi kebablasan dalam mempraktekannya.

Sesungguhnya dapat dibedakan menjadi dua, yakni pluralisme teologis dan sosiologis. Pluralisme teologis dimaksudnya agar kita mengakui kebenaran kayakinan agama yang kita anut serta tetap menghargai keberadaan agama lain tapi tidak untuk menggapnya benar. Sedang pluralisme yang kedua, dimaksudkan pada penghargaan dalam perbedaan sosial (pendapat) selain menyangkut aqidah agama. Agama tidak boleh dimungkinkan untuk di akui secara keseluruhan kebenarannya sedangkan perbedaan sosial lainnya bisa saja memungkinkan perbedaan itu benar semua.

Jadi Tuhanku dan Tuhanmu kah yang akan mengabulkan doamu ? Silahkan berpikir, smoga kita semua diberi petunjuk. Amin.

~Makassar, masih di mabesku saat hujan turun, 15 Februari 2013

Rabu, 13 Februari 2013

Televisi, selebriti dan kelas menengah

Pemberitaan mengenai selebriti telah menjadi hal yang popular dalam industri media pertelevisan kita. Dari pagi hingga malam, hanya dengan rentang beberapa waktu saja kita selalu disuguhkan dengan acara hiburan semacam ini. Berbagai program acara dipertontonkan dengan berbagai kemasan tapi sesungguhnya substansinya sama yakni infotaimen, kabar tentang kehidupan selebriti.

Hal ini dapat dijelaskan dengan logika kapiltalisme. Logika yang lebih mengutamakan kepentingan bisinis (ekonomi) dibanding tujuan lain. Padahal, televisi merupakan media yang sangat strategis untuk melakukan pendidikan hingga perubahan sosial yang lebih baik. Jika dilihat konten infotaimen hari ini, lebih kepada hiburan semata yang miskin substansi. Fenomena budaya popular telah menghinggapinya sehingga tujuan mulia seperit nilai edukasi (pendidikan) serta makna hidup menjadi terpinggirikan.

Akhir-akhir ini, media pertelivisian kita santer mengekspos perihal kasus yang menimpa salah satu selebriti papan atas di Indonesia. Selebriti ini tersandung kasus narkoba yang membuatnya harus berurusan dengan pihak yang berwajib. Sebenarnya pemberitaan selebriti dan kehidupannya bukan hanya menyeruak dalam kasus ini. Melainkan dalam sebelumnya tanpa kasus ini sekalipun, selebriti telah menjadi figur publik (public figure) yang tak bosan-bosannya di ekspos segala kehidupannya hingga ke urusan pribadi. Kasus narkoba yang menimpa seorang selebriti ini hanyalah momentum dan isu yang cukup empuk untuk diberitakan dan sekali lagi, tanpa inipun infotaimen akan terus berlanjut dengan berbagai suguhannya.

Kelas menengah

Meskipun definisi mengenai kelas menengah ini masih menimbulkan banyak tafsiran. Namun setidaknya kita akan bersepakat jika di antara ciri kelas menengah adalah kemampuan mengakses pendidikan dan tekhnologi untuk mengakses informasi pula. Sehingga wajar saja, yang dikatakan ahli politik Samuel Huntington bahwa kelas menengah sangat berpotensi melakukan perubahan besar di masyarakat. Ini bisa dilihat bagaimana revolusi musim semi Arab yang terjadi dalam dua tahun terakhir yang belum berakhir hingga hari ini. Fenomena itu, tidak bisa dilepaskan dari peran pemuda yang berpendidikan atau yang bisa menggunakan tekhnologi untuk mengakses dan menyebarkan informasi.

Akhir-akhir ini dengan ditangkapnya seorang selebriti yang sebagai public figure dan menjadi bahan pembicaraan di media, ternyata juga menularkan kepada kelas menengah. Beberapa kawan yang penulis temui tak terkuali pria maupun wanita juga populer membicarakan kasus ini. Pembicaraan pun hanya berkisar pada persoalan si aktor tanpa melihatnya secara kritis. Dan ketika di ajak berbicara mengenai isu sosial kebangsaan yang kini lagi hangat malah kurang mendapatka respon, padahal ini cukup penting dibanding hanya sekedar melihat seorang selebriti yang tertangkap.

Banyak kelas menengah hari ini terserang oleh virus budaya populer. Budaya yang sala satunya memberikan hiburan tapi miskin substansi. Budaya yang sadar atau tidak, telah menyeret mereka dalam logika hiburan yang tidak memiliki makna yang edukatif. Misalnya kita hanya menikmati hiburan infotaimen yang sebenarnya tidak memiliki manfaat yang signifikan bagi masyarakat televisi (sebutan bagi penonton tayangan media televisi). Banyak yang tidak menganalisis secara mendalam motif dan siapa yang berkepentingan di balik pemberitaan dan kasus semacam ini. Khalayak hanya menjadi pelaku pasif yang konsumtif tanpa menciptakan pikiran produktif yang kritis untuk melihat realitas yang sesungguhnya. Menerima dan terlena mengikuti arus yang ada tanpa mau aktif melawan arus. Jika demikian kondisi kelas menengah maka teori Samuel Huntington tadi sukar untuk terwujud.

Menurut data yang penulis pernah dapatkan (dalam salah satu harian nasional), bahwa di penghujung 2012 kelas menengah Indonesia mengalami perkembangan yang cukup mencengangkan. Kalau tidak salah kurang lebih mendekati angka 50% dari total penduduk Indonesia telah terkategori sebagai kelas menengah. Jika kelas menengah ini memiliki kesadaran sosial yang tinggi terhadap perubahan sosial yang lebih baik, mungkin kondisi bangsa akan lebih baik dari sekarang. Tapi sayang, dalam realitasnya tidak demikian.

Kelas menegah di Indonesia cenderung konsumtif dan kurang peka terhadap kondisi lingkuangan sosialnya. Mereka enggan untuk membentuk ataupun bergabung dalam komunitas (organisasi) yang mengawal perubahan sosial yang ada. Kalaupun kelas menengah ini terlibat dalam komunitas, itu karena berhubungan dengan kebutuhan mereka secara langsung seperti organisasi lingkuangan atau profesi. Adalah akan lebih bijak, jika kelas menengah di Indonesia tidak hanya memikirkan diri sendiri. Lebih dari itu, mereka juga lebih peka terhadap kondisi sosial kemasyarakatan terutama dalam merespon isu sosial yang ada.

Salah satu ciri kelas menengah Indonesia juga cenderung konsumtif. Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia secara makro cukup stabil ternyata hal itu banyak di topang oleh pertumbuhan kelas menengah yang konsumtif. Sedangkan prilaku produktif yang seharusnya efektif untuk membangun ekonomi nasional secara makro maupun mikro ternyata sangat kecil peranannya. Inilah juga yang menjadi masalah dalam kelas menegah kita. Bukankah akan lebih baik jika prilaku produktif juga menjadi karekter kelas menengah kita, Indonesia ?

Terkait dengan media, ternyata konsumerisme ini juga merambat pada perilaku terhadap bagaimana mengkonsumsi tayangan media. Rata-rata masyarakat kita tak terkecuali kelas menengah masih menikmati tanyangan industri pertelevisian hanya sekedar tontonan dan hiburan semata. Mereka tidak melihat secara kritis motif dan kepentingan apa yang berada di balik adanya program acara atau tayangan pemberitaan itu. Apalagi untuk menawarkan atau menciptakan alternatif hiburan lain yang lebih berkualitas.

Inilah sebab sehingga betapa tingginya rating acara infotaimen di Indonesia hingga ditayangkan terus menerus. Ini juga bisa menjadi indikator betapa rendahnya keadaran media masyarakat televisi di Indonesia. Karena harus dipahami, jika media massa apalagi media televisi (audio-visual) tidak bisa dilepaskan dari kepentingan bisinis bahkan telah menjadi tujuan utamanya. Dan sasaran utamanya adalah pada masyarakat yang kurang memiliki daya kritis terhadap konten acara. Bahwa semakin sering program acara yang tidak berkualitas itu ditayangkan (rating) maka sesungguhnya semakin rendah ke kritisan masyarakat televisi itu. Inilah yang terjadi pada program acara infotaimen di Indonesia. Jika sudah demikian yang terjadi, penulis tidak tahu apa yang terjadi terjadi masa depan masyarakat dan negara kita. Ingat...!!! hari ini adalah hasil masa lalu dan masa depan adalah hasil dari masa kini.

~Makassar, masih di mabesku, 13 Februari 2013

Selasa, 12 Februari 2013

Imlek; Tahun ular air

Tahun selain penanda waktu, juga sebagai identitas sebuah agama atau golongan tertentu. Islam dengan hijriah, masehi yang katanya dari Kristen, maya yang memiliki kalender penanada waktu, tionghoa (china) dengan imlek dan lainnya. Setiap golongan ini memiliki cara tersendiri dalam perayaannya (ceremonial) tergantung dari tradisi setiap yang merayakannya. Untuk saling mengharagai, maka tak jarang setiap perayaan kadang ikut dirayakan bersama dengan golongan lain. Bahkan tahun masehi pun selalu bukan lagi menjadi identitas golongan tertentu melainkan telah menjadi perayaan semua golongan jika pergantian tahun ini berlangsung.
ilustrasi dari google

Beberapa saat yang lalu kita baru saja merayakan pergantian tahun baru masehi. Kemudian menyusul tahun baru hijriah. Dan bisa dikatakan baru saja kita menemui tahun baru ilmlek yang biasa di kenal dengan tahun baru bagi etnis tionghoa (china). Ketiga pergantian tahun ini dirayakan dengan cukup meriah sesuai cara masing-masing yang merayakannya.

Dalam tulisan ini, penulis akan menyempitkan pada tahun baru imlek. Tahun ini dalam masyarakat Indonesia memiliki sejarah tersendiri. Sejarah tentang ‘suka dan duka’. Penulis menggunakan kedua istilah ini, untuk menggambarkan suasana imlek dalam perjalanan politik di Indonesia.

Dalam era orde baru yang dipimpin oleh Suharto, kita mengenalnya sebagai pemimipin yang ororiter. Segala sesuatu yang mencurigakan apalagi jelas bertentangan dengan kehendaknya (idelogi) maka di upayakan untuk di singkirkan, ‘China’ salah satunya. Segala sesuatu yang berkaitan dengan China di era ini sangat sensitif bagi penguasa. Sala satu alasannya adalah china sebagai suku bangsa dan negara bisa dikatakan merupakan penganut ideologi komunisme, sementara Suharto penganut ideologi kapitalis-liberalisme. Kedua ideologi ini secara prinsip sangat bertentangan sehingga bangsa china di Indonesia selalu di curigai membawa ideologi komunisme ini yang bisa mengancam kekuasaan Suharto.

Hal ini berkonsekuensi pada tindakan diskriminasi terhadap etnis tionghoa. Mereka tidak di akui sebagai agama resmi dalam Indonesia. Sehingga jika imlek tiba, mereka merayakannya secara diam-diam jika tidak ingin mendapatkan sanksi dari negara. Termasuk sala satu icon kebudayaannya seperti tari barongsai juga mengalami imbas dari tindakan diskriminatif penguasa orde baru saat itu.

Baru ketika reformasi, tepatnya Gusdur menjabat sebagai presiden RI. Beliau berusaha menghapus segala diskriminasi selama orde baru berlangsung yakni sekitar lebih dari tiga dekade (32 tahun). Etnis tionghoa pun dibebaskan dari diskriminasi tersebut ditandai dengan di akuinya konghucu sebagai agama resmi di Indonesia. Tak beda dengan agama resmi lain, hari libur nasional pun diberikan untuk menghargai agama konghucu dalam menjalankan ibadahnya.

Demikian sedikit sejarah perayaan imlek dalam sejarah dinamika politik di Indonesia.

Ular air

Dalam tradisi konghucu, setiap tahun memiliki nama tersendri. Jika sebelumnya disebut dengan tahun naga air, tahun baru china kali ini dinamai dengan tahun ular air. Setiap nama ini memilik filosofis tersendri bagi masyarakat etnis china.

Dalam tafsiran ahlli fengsui tahun ular air dapat dimaknai dengan melihat tabiat hewan ini. Ular adalah hewan yang sangat licin, mematikan, cerdik bahkan licik apalagi untuk meloloskan diri. Terlebih lagi jika dia berada dalam air maka ular akan sulit dipegang sehingga tidak bisa dikendalikan.

Terlepas dari benar salahnya, juga penulis bukanlah ahli dalam menafsirkan ini. Tapi patut diketahui juga untuk menghubungkannya dengan berbagai peristiwa dalam tahun ini, 2013. Misalnya dalam dunia politik di dalam negeri tahun ini dikenal dengan tahun politik dimana dinamika politik akan semakin keras. Banyak politisi saling serang, sandra hingga ‘mematikan’ lawannya. Para politisi pun mulai menggembor-gemborkan janji-janji manisnya namun sulit dipegang. Segala tipu muslihat akan dilkukan meskipun terkesan licik demi mencapai ambisi politiknya yang kadang hanya menguntungkan diri sendiri.

Selain itu menurut ahli fengsui, ular adalah symbol  kesehatan. Tahun ini kemungkinan akan ditemukan obat yang selama ini belum ditemukan sebagai penawar penyakit. Begitu juga dengan kondisi sosial lainnya, ular dengan sifatnya yang tidak mudah di pegang akan mencerminkan kondisi masyarakat yang serba ketidakpastian. Ini akan sangat rentan terjadinya konflik sosial dalam masyarakat. Ekonomi juga demikian, bahwa ada ketidakpastian yang terjadi. Apalagi gejolak pasar susah di tebak dan dikendalikan karena pengaruh krisis ekonomi yang melanda negara-negara eropa dan AS.

Kondisi ini layaknya sifat ular yang disebutkan tadi apalagi jika dia berada dalam air. Sekali lagi terlepas benar atau salah, percaya atau tidak percaya kita harus mengantisipasi segala ketidakpastian serta segala kemungkinan buruk yang terjadi kedepannya.

~Makassar, 12 Februari 2013

Sabtu, 09 Februari 2013

Butuh percaya diri

Membaca dan menulis adalah hal yang menjadi rutinitas saya. Akhir-akhir ini, aktivitas ini kurang terlaksana, sebab  saya disibukan oleh aktivitas lain. Bukan berarti saya sengaja untuk meninggalkannya namun karena aktivitas lain ini cukup menguras energi dan waktu sehingga yang lain pun terabaikan. Juga, sebenarnya ada rasa kebosanan yang cukup menghantui perasaan dan kebuntuan yang menghantui pikiran. Tapi saya yakin keadaan seperti ini tidak hanya di alami oleh saya, karena semua manusia juga pernah berada pada titik klimaks dimana ada rasa hambar yang biasanya manis, bosan.

Saya membaca sebuh kolom di sala satu harian nasional. Di situ dijelaskan, penulis sehebat apaun pasti merasakan apa yang seperti saya rasakan. Jika sebelumnya dapat menulis dalam waktu stengah jam untuk satu artikel, sekarang akan menghabiskan berjam-jam. Mungkin si penulis akan hanya bingung di depan layar komputernya atau terbatah-batah atau bahkan tidak tahu apa yang akan ditulisnya. Ini juga berlaku bagi yang para pembaca dimana kebosanan itu akan mendatanginya jika tidak tahu cara mengelolahnya. Yah, inilah manusia yang tidak utuh performannya secara terus menerus.

Mungkin kalau pambaca membaca tulisan-tulisan dalam bolg ini akan terasa ‘stagnan’ alur atau irama menulinya. Atau mungkin juga tema, konten atau tagline tulisan-tulisannya agak mirip dan membosankan. Sebenarnya saya ingin merubah rubrik yang lain misalnya tentang cerpen atau yang lainnya. Tapi sekrang masih sedang di usahakan, lagian saya belum begitu paham dan terbiasa menulis rubrik-rubrik yang lain. Inilah proses belajar tentang bagaimana mengembangkan kemampuan yang sebelumnya tidak diketahui atau mungkin sedikit diketahui menjadi lebih diketahui. Begitulah mungkin cara untuk menghidari kebuntuan berpikir agar kejenuhan dapat segera tercairkan dan aktivitas bisa lebih  berwarnah.

Tentang menulis, saya kadang kurang percaya diri. Apakah saya telah menjadi penulis dengan kualitas tulisn yang bagus? Saya kadang merasa bahwa capaian itu belum saya capai. Ketidakpercayaan ini menyebabkan kurang begitu mudah saya menulis. Rasa pesismis sudah menyerang, mengurangi totalitas performa dalam menulis. Padahal jika di baca tulisan-tulisan sebelumnya bisa dikatakan cukup bagus, pembaca lainpun mengatakan demikian.

Teringat dengan sebuah kisah nyata tentang seseorang yang akan ikut dalam sebuah pertandingan olahraga. Dia kurang percaya diri untuk menang ketika melihat lawan mainnya begitu hebat dalam latihan sebelum bertanding. Dia sudah merasa pesimis dan inferior serta menggap dirinya akan kalah nantinya. Kondisi dirinya kemudian disampaiakan pada sahabatnya. Sang sahabat pun memberinya saran agar dia tetap optimis dan percaya diri. Caranya adalah dia harus membayangkan bermain seperti pemain hebat yang dia kagumi. Singkat cerita dia menang dalam pertandingan itu dan kemampuannya justru lebih hebat.

Mungkin inilah cara yang saya lakukan sekarang. Percaya diri yang berkonsekuensi pada sikap optimisme adalah awal baik untuk melaksanakan sesuatu, apaupun itu jika ingin meraih hal yang maksimal. Bagi yang memiliki sikap percaya diri dan optimisme bisa dikatakan keberhasilan yang akan di lakukannya sesungguhnya sudah lima puluh persen. Karena sal satu faktor kekalahn orang dalam mencapai tujuannya adalah ketidak percayaan diri dan rasa pesimisme. Maka mungkin ini yang harus saya lakukan sekarang dan terbukti saya begitu dengan mudahnya menulis tulisan ini. Pembaca juga bisa mencobanya. Silahkan.

~Makassar, masih di mabesku, 9 Februari 2013    

Butuh percaya diri

Membaca dan menulis adalah hal yang menjadi rutinitas saya. Akhir-akhir ini, aktivitas ini kurang terlaksana, sebab  saya disibukan oleh aktivitas lain. Bukan berarti saya sengaja untuk meninggalkannya namun karena aktivitas lain ini cukup menguras energi dan waktu sehingga yang lain pun terabaikan. Juga, sebenarnya ada rasa kebosanan yang cukup menghantui perasaan dan kebuntuan yang menghantui pikiran. Tapi saya yakin keadaan seperti ini tidak hanya di alami oleh saya, karena semua manusia juga pernah berada pada titik klimaks dimana ada rasa hambar yang biasanya manis, bosan.

Saya membaca sebuh kolom di sala satu harian nasional. Di situ dijelaskan, penulis sehebat apaun pasti merasakan apa yang seperti saya rasakan. Jika sebelumnya dapat menulis dalam waktu stengah jam untuk satu artikel, sekarang akan menghabiskan berjam-jam. Mungkin si penulis akan hanya bingung di depan layar komputernya atau terbatah-batah atau bahkan tidak tahu apa yang akan ditulisnya. Ini juga berlaku bagi yang para pembaca dimana kebosanan itu akan mendatanginya jika tidak tahu cara mengelolahnya. Yah, inilah manusia yang tidak utuh performannya secara terus menerus.

Mungkin kalau pambaca membaca tulisan-tulisan dalam bolg ini akan terasa ‘stagnan’ alur atau irama menulinya. Atau mungkin juga tema, konten atau tagline tulisan-tulisannya agak mirip dan membosankan. Sebenarnya saya ingin merubah rubrik yang lain misalnya tentang cerpen atau yang lainnya. Tapi sekrang masih sedang di usahakan, lagian saya belum begitu paham dan terbiasa menulis rubrik-rubrik yang lain. Inilah proses belajar tentang bagaimana mengembangkan kemampuan yang sebelumnya tidak diketahui atau mungkin sedikit diketahui menjadi lebih diketahui. Begitulah mungkin cara untuk menghidari kebuntuan berpikir agar kejenuhan dapat segera tercairkan dan aktivitas bisa lebih  berwarnah.

Tentang menulis, saya kadang kurang percaya diri. Apakah saya telah menjadi penulis dengan kualitas tulisn yang bagus? Saya kadang merasa bahwa capaian itu belum saya capai. Ketidakpercayaan ini menyebabkan kurang begitu mudah saya menulis. Rasa pesismis sudah menyerang, mengurangi totalitas performa dalam menulis. Padahal jika di baca tulisan-tulisan sebelumnya bisa di katakan cukup bagus, pembaca lainpun mengatakan demikian.

Teringat dengan sebuah kisah nyata tentang seseorang yang akan ikut dalam sebuah pertandingan olahraga. Dia kurang percaya diri untuk menang ketika melihat lawan mainnya begitu hebat dalam latihan sebelum bertanding. Dia sudah merasa pesimis dan inferior serta menggap dirinya akan kalah nantinya. Kondisi dirinya kemudian disampaiakan pada sahabatnya. Sang sahabat pun memberinya saran agar dia tetap optimis dan percaya diri. Caranya adalah dia harus membayangkan bermain seperti pemain hebat yang dia kagumi. Singkat cerita dia menang dalam pertandingan itu dan kemampuannya justru lebih hebat.

Mungkin inilah cara yang saya lakukan sekarang. Percaya diri yang berkonsekuensi pada sikap optimisme adalah awal baik untuk melaksanakan sesuatu, apaupun itu jika ingin meraih hal yang maksimal. Bagi yang memiliki sikap percaya diri dan optimisme bisa dikatakan keberhasilan yang akan di lakukannya sesungguhnya sudah lima puluh persen. Karena sal satu faktor kekalahn orang dalam mencapai tujuannya adalah ketidak percayaan diri dan rasa pesimisme. Maka mungkin ini yang harus saya lakukan sekarang dan terbukti saya begitu dengan mudahnya menulis tulisan ini. Pembaca juga bisa mencobanya. Silahkan.

~Makassar, masih di mabesku, 9 Februari 2013    

Kamis, 07 Februari 2013

Wanita pencari Tuhan itu

Tiba-tiba saja ada yang berubah dari sikapnya. Saya melihatnya lebih dewasa lagi dari sebelumnya. Dahulu dia sangat ke kanak-kanakan, namun sekrang telah berubah tidak seperti biasa lagi. Dia ingn menjadi wanita yang soleha. Wanita yang taat pada agamanya dengan menjaga tingkah lagunya menjadi lebih islami. Dia malu dengan prilakuknya yang selama ini, sangat jauh dari nilai-nilai islami yang di ajarkan Rasulullah SAW.

Ketika saya bertanya, apa yang memotivasi sehingga ingin berubah menjadi wanita yang soleha? ternyata filmlah yang telah mengispirasinya. Dia melihat sosok wanita yang di tampilkan dalam film itu sebagai wanita yang sangat indah akhlaknya apalagi dikombinasikan dengan kecantikan parasnya. Sosok itu menurutnya adalah luar biasa yang jarang dimiliki oleh banyak wanita. Di akhir film yang di tontonnya, segera dia mendeklarasikan diri untuk bisa menjadi sosok wanita seperti yang ditontonnya.

Seperti halnya proses kehidupan lain apalagi ini menyangkut kebaikan. Untuk menjadi seperti sosok wanita yang soleha itu, dia menemukan hambatan. Di tempat keberadaannya sekarang masih kurang sesuatu yang menunjang dia untuk menjalankan misinya yakni menjadi sosok wanita yang di inginkannya. Dia ingin mendalami islam, tapi tidak ada guru yang dapat membimbingnya. Begitupun juga dengan fasilitas penunjang lain mislanya buku ataupun media lainnya, dia sangat susah mendapatkannya. Demikian keadaanya sekrang yang bercerita kepada penulis.

Hidayah

Ini adalah hidayah dari Allah. Hidayah yang di turunkan kepada hamba-hamba yang di kehendakiNya. Bukannya tanpa usaha, karena manusia hanya akan dapat merubah nasibnya sendiri bukan orang lain. Tapi yang pasti untuk diketahui adalah Tuhan selalu terlibat dalam perubahan nasib itu. Jika wanita yang ingin soleha ini tiba-tiba atau kebetulan mendapat hidayah, itu bukanlah tanpa sebab. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, semua pasti berada pada hukum kausalitas, sebab-akibat. Dengan kata lain ada sebab yang membuatnya demikian.

Hidayah merupakan ilham yang datang dalam hati manusia yang membuat manusia tersadar untuk berbuat lebih baik lagi. Orang yang mendapat hidayah biasanya akan bertekad merubah apa yang selama ini di anggapnya tidak baik atau kurang baik menjadi lebih baik lagi. Sehingga akan ada perubahan yang cukup radikal pada dirinya, khusunya sikap dan tingkah lakunya.

Seperti yang penulis sebutkan tadi, hukum kausalitas yakni sebab akibat akan selalu terjadi pada kehidupan manusia. Dalam kehidupan kita sering menemui kejadian semacam ini. Seseorang yang dulunya adalah manusia pendosa tiba-tiba berubah menjadi manusia yang sangat taat beribadah. Muncul pertanyaan, kapan dia berusaha untuk merubah diri sehingga dia mendapat hidayah? padahal dalam kesehariannya dipenuhi dengan maksiat sedang sekarang banyak sekali manusia yang ingin berubah tapi hidayah tak kunjung datang sehingga memberinya kesadaran penuh untuk menjadi lebih baik.

Tuhan itu maha Tahu. Mana hambanya yang pernah beribada dan berusaha sungguh-sungguh. Secara kasat mata dalam aktivitas kesehariannya mungkin kita tidak mendapatinya dalam keadaan yang berusah, malah penuh dengan maksiat. Tapi kita sebenarnya tidak tahu apa yang sebelumnya pernah dia lakukan. Mungkin sebelumnya dia pernah berbuat baik dengan penuh ke ikhlasan, yang dengan perbuatanya menjadi pertimbangan Tuhan untuk memberinya hidayah. Atau mungkin juga dia pernah berdoa atau mendapat doa dari orang tuanya yang dengan ke ikhlasan mendoakan anak-anaknya menjadi anak yang taat kepada Tuhannya.

Akumulasi (kumpulan) dari berbagai sebab masa lalu yang menjadi ‘pertimbangan’ Tuhan untuk menurunkan hidayah itu. Bukan berarti tidak ada usaha dari yang mendapat hidayah itu, melainkan ada usaha sebelumnya. Mungkin kita yang ada di sekitarnya tidak melihat secara keseluruhan apa yang sedang dan pernah dia lakukan. Padahal Tuhan maha melihat terhadap apa yang dilakukan oleh manusia sampai hal yang tersembunyi sekalipun tidak di ketahui oleh manusia.

Saya yakin, di antara kita  yang masih memliki hati nurani bahwa ke inginan untuk menjadi baik masih ada. Maka bersyukurlah jika kita masih menjadi manusia yang seperti ini, manusia yang mengingnkan kebaikan dari hati kecil kita yang paling dalam. Namun, banyak juga yang belum mampu berubah secara total karena belum ada sesuatu yang mengilhami hatinya (hidayah). Ada juga yang sudah mendapat kesadaran itu tapi tidak ditindak lanjuti dengan perubahan ke arah yang lebih baik termasuk penulis sendiri. Maka marilah kita berusaha untuk berbuat apa saja yang di ridhoi oleh-Nya termasuk berdoa karena segala sesuatu dari-Nya. Dengan itu Insya Allah akan menjadi ’pertimbangan’ atau sebab sehingga kita mendapat hidayah untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Hanya Allah yang tahu. Amin.

~Makassar, masih di mabesku, 7 Februari 2013

Rabu, 06 Februari 2013

Perihal mimpi

Saya yakin setiap orang pernah bermimpi dalam tidurnya. Mimpi merupakan kehidupan yang terjadi di alam tidur tanpa kita merencanakannya. Kita tidak bisa merencanakan untuk berada dalam mimpi dengan peristiwa, lokasi dan aktor yang kita inginkan. Kalaupun itu terjadi, hanyalah kebetulan karena di saat tidur kita dalam keadaan ‘mati’ yang tak sadarkan diri. Dan pada saatnya nanti kita di hidupkan kembali (bangun), di saat inilah kita mulai mengontrol diri sendiri.

Beberapa hari yang lalu saya di tanya soal mimpi. Seseorang bertanya mengenai mimpi yang pernah di alaminya. Ketika itu dia terbangun dari tidurnya karena ada perasaan kaget tiba-tiba saja ada keanehan sewaktu tidur. Dia bermimpi didatangi oleh manusia yang berpakaian merah dengan mengaku sebagai anak dari seorang raja dari sebuah negara yang penduduknya mayoritas muslim. Sosok itu datang untuk menyampaikan tiga pesan, yakni shalat, sedekah dan soleh. Meskipun baju merahnya berkesan menakutkan tapi dia memiliki pesan yang mulia, tentang kebaikan.

Mekipun bukan penifsir mimpi tapi setidaknya menurut informasi yang pernah saya dapatkan bahwa mimpi dapat di golongkan menjadi tiga. Pertama, mimpi sebagai bunga tidur. Mimpi ini adalah sebuah fenomena kehidupan yang ada dalam alam tidur tentang peristiwa biasa yang lazim terjadi sehari-hari. Biasanya terjadi karena kejadian tersebut terlalu dipikirkan bahkan hingga menjelang tidur atau juga karena sudah terekam dalam otak bawah sadar kita.

Kedua, mimpi buruk. Mimpi ini adalah kejadian yang tidak kita senangi dalam alam tidur kita. Kita merasa ketakutan, terancam, sakit atau singkatnya peristiwa yang buruk. Biasanya mimpi ini berasal dari jin atau iblis yang sengaja mengganggu kita. Dan yang ketiga, mimpi baik. Mimpi semacam ini adalah mimpi yang datang dari Tuhan. Mimpi tentang kebaikan bagi hambanya-hambanya berupa petunjuk tentang kebaikan maupun peringatan.

Sebenarnya banyak teori tentang kenapa manusia bermimpi. Tapi terlepas dari teori-teori itu, saya cukup percaya bahwa mimpi bisa juga menjadi sarana Tuhan untuk menyampaikan sesuatu kepada hambanya. Bagi saya mimpi yang di ceritakan di atas adalah mimpi yang cukup baik. Meskipun sosok yang menemui berkesan ‘seram’ tapi ada kebaikan yang dibawanya. Dia tidak mengancam atau menakuti si pemimpi, malah memerintahkan agar tetap menjaga shalat, sedekah dan tetap menjadi manusia bertaqwa atau soleh.

~Makassar, 6 Januari 2013

Selasa, 05 Februari 2013

Kuliah yang membosankan

Kuliah. Kata yang cukup membosankan untuk saya saat ini. Inilah aktivtas mahasiswa yang sedang berusaha mencari pendidikat pendidikan yang cukup bergengsi dari negara. Predikat seperti ini juga bisa menjadi pencipta kasta dalam masyarakat karena perbedaan strata sosial, antara yang bergelar dan tidak. Diploma, sarjana, master hingga guru besar menjadi pembeda antarmanusia dan tak jarang menimbulkan rasa ke angkuhan bagi pemiliknya.

Ketika penulis menulis artikel ini, bisa dikatakan telah dimulai perkuliahan semester baru. Suasana kampus tidak seperti biasa di saat mahasiswa sedang libur kuliah. Kini sudah mulai ramai oleh mahasiwa yang sedang terlibat dalam prosedur yang cukup berbelit-belit. Urusan adminitrasi sebelum mengikuti kuliah harus mengikuti mekanisme yang ada yakni prosedur birokrasi kampus yang cukup rumit tapi kolot. Mereka terlihat sangat antusias melakukan semua mekanisme itu, demi meraih sebuh gelar yang disematkan pada sebuah kertas kosong dengan tambahan huruf tertertentu di belakang namanya.

Sesungguhnya saya bosan dengan keadaan seperti ini. Mengikuti prosedur birokrasi kampus yang cukup menguras energi dengan segala ini dan itunya. Saya tidak begitu tahu, kenapa demikian. Tapi kecenderungan berpikirku, ini adalah sebuah cara yang sangat kuno dan semrawut. Selain itu, para pegawai birokrasi juga yang acuh tak acuk melayani mahasiswa yang merupakan bagian rakyat Indonesia yang berhak atas pendidikan yang layak. Padahal mereka sudah di gaji oleh negara dengan uang rakyat, terutama dari pajak yang selama ini dibayarkan. Apalagi kewajiban yang diharuskan sudah saya dan mahasiwa lain tunaikan. Mungkin tepat kalau kami (baca: mahasiswa) yang merasakan kondisi seperti ini mengatakan sedang ‘terzalimi’.

Belum lagi jika kita menyoal kurikulum pendidikan yang diberlakukan. Kurikulum merupakan saluran yang digunakan oleh penguasa untuk menebar ideologi tertentu. Fakta di banyak negara di dunia tak terkecuali di Indonesia menjadikan pendidikan dengan kurikulumnya sebagai alat untuk mencipatakan dukungan ideologi untuk tujuan tertentu, terlebih untuk kepentingan rezim. Keluaran lembaga pendidikan sengaja di lakukan kontrol intelektual (cara berpikirnya) melalui segala mekanisme yang ada mislanya buku bacaan, tenaga pengajar hingga kurikulum agar mengikuti kemauan negara.

Fakta ini yang cukup memusingkan. Terus terang hati kecil ingin melawan realitas ini dengan meninggalkan dunia pendidikan formal. Tapi apa daya banyak hal yang menjadi pertimbangan dan cukup kuat menyeretku untuk tetap dalam kondisi yang mengekang ini. karena kita masih hidup dalam sebuah negara yang memiliki system yang cukup kompleks maka sangat sulit untuk mengambil jarak untuk keluar dalam sistem. Kita di paksakan untuk selalu mengikuti mekanisme yang telah di tetapkan negara yang bersifat memaksa dan jika kita melanggar maka sanksi akan berlaku.

Saya mahasiwa ilmu sosial di salah satu universitas di Makassar. Terus terang kurikulum yang tertera dalam perkulihan sudah sangat usang. Sudah ketinggalan zaman dan terlalu membicarakan teori-teori yang konvensional yang susah untuk berkomunikasi dengan realitas kekinian. Sementara realitas sosial yang muncul memberikan fakta baru yang banyak bertentangan dengan teori-teori yang di pelajari. Tapi anehnya, realitas ini jarang di gubris mala di biarkan lewat begitu saja tanpa ada penyesuaian demi mengimbangi perkembangan zaman yang semakin kompleks. Hal ini dapat di jelaskan dari begitu mencokolnya paradigma positvistik dalam ilmu sosial kita dari era kolonial bahkan hingga sekrang di era reformasi yang katanya sudah menjujung nilai-nilai ‘demokratis’. Paradigma yang melakukan universialisasi terhadap ilmu pengetahuan bahwa semuanya berlaku sama, padahal tidak untuk ilmu sosial yang meniscayakan perubahan sosial yang terus menerus.

Hal ini juga didukung oleh banyak tenaga pengajar (dosen) yang masih terkoptasi dengan cara berpikir yang lama. Para tenaga pengajar seperti ini umumnya adalah didikan orde baru yang telah lama mengkoptasi cara berpikir mereka. Mereka di arahkan agar mengikuti pola pembangunan orde baru yang otoriter, yang jarang membuaka ruang dialogis. Daya kritis pun di perlemah dan tidak mampu keluar medobrak kekauan paradigma yang selama ini bercokol dalam dunia pendidikan di Indonesia. Mereka melihat ilmu sosial adalah sesuatu yang objektif dan universal layaknya ilmu eksat padahal mengharuskan subjetifitas sesuai dengan perubahan sosial yang ada.

Sekali lagi ingin keluar dari kondisi ini tapi ibarat memeluk gunung tapi tangan tak sampai. Banyak alasan yang menjadi pertimbangan, bukannya kalah atau tidak konsisten untuk mengaktualkan ke kritisan dalam ranah implementasi. Namun sebenarnya melawan tidak mesti keluar dari kondisi (system), melawan juga bisa menebarkan virus kebaikan dalam sistem yang rusak.

Mungkin ini sekelumit keluh kesah saya terhadap dunia pendidikan di Indonesia terutama di tingkat universitas. Sebenarnya banyak hal yang perlu dibahas dalam menyoal pendidikan. Yang penting untuk dilakukan adalah bagaimana melawan hegemoni ilmu pengetahun itu. Maka bukalah diri untuk segala perspektif ilmu pengetahuan agar tidak terkoptasi dalam satu paradigma yang membuat kita melakukan taqlid (fanatik) buta. Mungkin mengakhiri tulisan ini, sebuah kata bijak yang patut di jadikan inspirasi bagi kita semua bahwa jadikanlah orang yang kau temui adalah guru dan tempat yang kau temui adalah perpustakaan bagimu.
~Makassar, 5 Februari 2013

Sabtu, 02 Februari 2013

Garis kesepakatan

Ada perasaan bahwa aku seolah ingin keluar dari garis yang saya sudah gariskan. Garis di mana saya sebelumnya bertekad untuk tetap berdiri di atasnya meskipun kuatnya arang melintang. Mungkin inilah yang disebut dengan komitmen. Tentang sebuah janji yang telah dibangun dengan diri saya sendiri.

Dalam mencapai sukses butuh perjuangan. Ada sebuah nasihat yang cukup penting dalam menuju keberhasilan. Bahwa ada empat hal yang membuat seseroang dapat meraih kesuksesan. Pertama, niat dan keyakinan. Seseorang harus meluruskan niatnya untuk kebaikan karena kesuksesan bukan hanya andil dari manusia namun yang paling berandil adalah Dia yang Maha menentukan. Begitu pula dengan keyakinan yang bisa menjadi amunisi bagi sikap optimisme seseorang. Bisa dikatakan, seseorang sudah meraih sebagian kesuksesan jika telah berhasil menyakinkan dirinya bahwa dirinya akan sukses, inilah optimisme.

Kedua,
siapkan strategi-strategi yang baik dan jitu untuk menuju target yang di inginkan. Tujuan tak dapat di capai secara mudah jika tidak memiliki langkah yang tepat untuk menemuinya. Banyak orang yang bekerja keras namun tidak berbanding lurus dengan hasil yang didapatkan. Ada juga yang kelihatannya kurang bekerja namun keberhasilan mudah didapatkan. Nah, inilah yang disebut dengan bekerja cerdas. Bekerja dengan memiliki langkah yang strategis meskipun kadang seseorang tidak perlu menguras sumber dayanya untuk memperoleh kesuksesan itu.

Ketiga, laksanakan atau gerak (action). Tidak ada gunanya niat dan keyakinan serta langkah strategis tanpa ada action (gerak). Gerak adalah bentuk implementasi dari konsep kesuksesan yang akan kita capai. Sangat mustahil jika rencana hingga ke langkah yang tehnisnya sudah disusun kemudian capaian itu akan terwujud tanpa ada gerak melaksankannya.

Keempat, konsisiten (istiqomah). Dan terakhir yang terpenting adalah jika sudah dilaksanakan semua tahap-tahap sebelumnya maka keniscayaan konsistensi dalam garis niat, keyakinan, strategi pencapaian tujuan hingga pada pelaksanaan. Dalam perjalanannya nanti tantangan selalu ada, entah besar maupun kecil. Seperti perahu yang mengarungi lautan, entah besar atau kecil namun yang pasti akan menemui angin atau ombak serta rintangan lain. Jika kapal itu mundur dan berbalik arah ke dermaga asalnya maka dia tidak akan sampai pada tujuannya. Inilah pentingnya konsitensi, dimana untuk mencapai tujuan seseorang harus berkomitmen dengan rencana awalnya dengan berbagai hal yang mendukungnya.

Tulisan ini sengaja saya tulis untuk memperingatkan diri sendiri agar taat pada garis rencana yang telah saya buat. Garis yang di mana di dalamnya terdapat niat, keyakinan, langkah strategis, target waktu capaian dan segala sesuatu yang dianggap penting lainnya. Semoga saja saya tepat berada pada garis itu. Amin.

~Makassar, masih di mabesku pukul 03:13, 2 Februari 2013