Minggu, 31 Maret 2013

Hati bersimpuh untuk keyakinan jiwa pada_Mu

dalam pengharapan ada tirai
lorong gelap itu terasa sesak untuk dilalui
namun keyakinan menjadi penyingkap kegelapan prasangka
ada cahaya harapan membuka tabir ke tak berdayaan

tak dapat ternafikan
aku lemah tak berdaya di hadapan_Mu
pun dunia menaklukanku
dia merantaiku dalam ingat bingar kenikmatan sesaat

ku hadapkan jiwa yang ternoda
hati ini gelap oleh dusta atas perintah_Mu
tundukku pada nikmat dunia yang memperdaya
sungguh aku malu dan tak pantas bersanding dengan_Mu

jika memang surga adalah takdirku
aku malu melangkahkan kakiku
jika sisksa neraka juga takdirku
aku sungguh takut

aku bukanlah pemberani seperti rasul_Mu
dan aku munafik
maka berilah aku kekuatan_Mu
karena hamba lemah

sekali lagi bukalah tabir gelapnya prasangka
bangkitkan yakinku pada_Mu
berilah pelita harapan itu
hingga aku dapat menaklukan hidup
dan menuju_Mu. Amin

~Makassar, dalam kilauan bintang malam, 31 Maret 2013

Hikmah dalam petualang

Dalam beberapa minggu ini, saya mungkin kurang menyapa dalam blog ini. Biasanya, kalau dirata-ratakan saya menulis satu artikel dalam dua hari atau bahkan lebih dari itu. Tapi sekarang, seperti yang pembaca lihat bahwa ada kekosongan atau ketidak-konsistenan saya dalam menulis.

Ada asap tentu ada api. Inilah hukum kausalitas, sebab akibat dalam kehidupan sehingga sebenarnya tak ada yang kebetulan di dunia ini karena semua terjadi dengan sebab. Demikian juga jika harus menjawab perihal ketidak-konsistenan saya dalam “mencoret-coret” huruf demi huruf dalam blog ini.

Bisa dikatakan berpetualang. Saya melakukan perjalan ke negeri para wali songo tapi paling lama keberadaannya saya adalah di ‘batavia’, Jakatra. Memang tujuan saya ke kota megapolitan ini. Bagiku petualangan ini cukup memberi kesan dan memberi pelajaran hidup. Banyak kisah yang saya lalui, dari niat petualang, memulai langkah hingga kembali dari petualangan.

“Jadikanlah setiap tempat adalah perpustakaan bagimu dan setiap orang adalah guru bagimu” kata seorang filsuf yunani yang hidup beberapa abad sebelum masehi. Perjalanan saya merupakan sebuah perpindahan melewati bentangan perpustakaan yang disedian Tuhan untuk dibaca. Bentangan itu terdapat pengetahuan dan hikmah yang tak dapat dihitung dan ditangkap oleh epistemology (alat pengetahuan) manusia secara keseluruhan. Selain perpustakaan, saya bertemu dengan banyak guru-guru kehidupan, siapapun dia tak pandang identitasnya. Mereka menghadirkan pengetahuan dan hikmah kehidupan yang membuat jiwa dan pikiran semakin bergejolak.

Saya menemukan banyak hal yang kadang sebelumnya belum pernah saya temui. Ku tampung pengetahuan dan hikmah itu dalam jiwa dengan tekad menjadikannya sebagai penyusun jiwa yang tak sempurnah menuju kesempurnaan. Bukankah inilah tujuan hidup? Kita manusia, di ajak untuk menuju dan mendekatkan diri ke yang Maha sempurnah.

Sebenarnya ada banyak yang saya ingin ceritakan tentang perjalananku mengumpulkan hikmah-hikmah kehdiupan bahkan mungkin sampai sedetail-detailnya. Tapi untuk menuliskan di sini dan sekrang, mungkin tidak efektif. Dalam tulisan ini hanya ingin memberikan prolog (kata pengantar) saja atau garis besarnya saja. Insya Allah akan ada, kisah petulanganku yang akan pembaca ketahui. Tunggulah tulisan berikutnya. Hanya di blog ini.

Sekali lagi, selalu ada hikma dan pengetahuan dalam setiap waktu. Karena Tuhan menciptakan alam semesta bukanlah dengan ke sia-siaan. “Bacalah…!!!”

~Makassar, 31 Maret 2013

dia adalah cinta

aku bilang selalu ada keindahan
waktu dan tempat dia terselip
namun, tak semua orang tahu
padahal dia ada dan memang ada

dalam pergantian detik
dalam setiap perpindahan
dalam sebuah keheningan
dalam setiap kegaduhan

mungkin orang bertanya
bahkan meragukannya
mungkin orang mengelak
padahal dia merasakannya

bahwa dia tidak tiada
dia tersenyum dan menyapa
dia ada dalam kehidupan
bahwa dia adalah cinta

~Makassar, kafe mamiri, 31 Maret 2013

Rabu, 13 Maret 2013

keheningan cinta

dalam larutan malam
di sudut ruang
setia pada keheningan
aku larut dalam imajinasi

bayangannya menarik tanganku
memandu untuk mengurai tentang rasa
aku turuti dia
menggores lembar sejarah

terus dan terus dalam keheningan
aku tak tahu sampai kapan
bisu tak selamanya diam
karna kau tengah berkata dengan bahasa hati

bahasa hati adalah jewantahan jiwa yg suci
jiwa yang selalu merindukan cinta
ini bukan cintaku juga cintamu atau cinta kita
ini adalah sebenar-benarnya cinta

mungkin inilah rasaku
rasa tentang seribu satu makna
mungkin di sana, di hampir penghujung malam
yah, di sepertiga akhir malam

biarlah hati ini merendah
wajah ini bersujud
tangan ini menengadah
dan mata ini menangis

smoga cinta kita semua menyatu bersama cintanya_Nya
Cinta yang abadi nan kekal selamanya

Selasa, 12 Maret 2013

Klik, bukunya sampai

Bagaimana anda melakukan transaksi jual beli? Mungkin anda ke pasar menemui penjual kemudian anda melakukan proses tawar menawar. Setelah semua merasa cocok, barulah anda membeli. Saya yakin sebagian besar dari kita, masih menggunakan proses-proses seperti ini.

Pernakah anda hanya duduk menekan tombol key board atau mengklik mouse komputer anda, kemudian barang yang anda perlukan sampai di rumah anda? Yah, saya melakan hal ini.

Era tekhnologi informasi yang semakin berkembang pesat membuat hampir semua aktivitas termudahkan. Kita tak perlu mengeluarkan energi dan waktu yang lama untuk melakukan sesuatu. Untuk berpindah dalam jarak tempuh yang cukup jauh, kita tak perlu lagi jalan kaki. Cukup dengan menggunakan tekhnologi (transportasi) moderen maka akan sampai dengan mudah dan waktu yang singkat. Demikian juga ketika kita ingin melakukan transaksi jual beli.

Saya kerap menggunakan tekhnologi untuk melakukan transaksi jual beli. Suatu waktu saya ingin membeli buku yang ternyata tidak tersedia di toko-toko buku di tempat yang biasa saya kunjungi. Lagi pula buku ini tergolong langkah. Tiba-tiba saya berpikir untuk menggunakan tekhnologi untuk membantu saya mendapatkan buku ini. Segera saya masuk dan berselancar dalam dunia maya. Dunia yang membuat jarak pemisah menjadi kabur hingga semua tempat melebur menjadi satu.

Mulailah saya beraksi. Menggunakan tekhnologi komputer dan internet untuk mencari buku, di toko-toko buku online. Singkat cerita, saya mendapatkan bukunya di sebuah toko buku yang berada di kota lain dan harganya pun relatif murah. Segera saya melakukan semua yang diperintahkan toko buku tersebut. Memilih (berbelanja) buku apa saja yang ingin dibeli, mengisi nama, alamat dan semua hal yang diperlukan untuk mempermudah proses jual beli. Setelah semua selesai, saya segera membayar melalui transfer uang ke rekening yang sudah dicantumkan. “Oke. bukunya sudah kami kirim” bunyi pesan singkat dari toko buku online. “Trimakasih” balasanku.

Mungkin anda masih ragu karena acap kali ada penipuan dalam jual beli di dunia maya (online). Memang ini benar dan sudah banyak kasus seperti ini. Oleh karena itu hal yang pertama anda lakukan adalah teliti website toko buku itu. Biasanya tercantum profil yang menjelasakan semua hal yang diperlukan untuk menyakinkan calon pembeli, misalnya lokasi (alamat) toko buku, kontak yang bisa dihubungi dan segala yang diperlukan. Bagi toko buku yang kredibel, mereka akan mencantumkan semua hal yang menyakinkan para calon pembelinya. Lagi pula sekarang, telah ada UU tekhnologi informasi yang mengatur transaksi jual beli di dunia maya. Setelah anda yakin, barulah anda bertransaksi.

Waktu terus berjalan dan esokpun tiba. “Assalamu alaikum, permisi”. Dengan rasa penasaran, saya membuka pintu sambil menjawab salamnya. Ternyata dia yang saya tunggu. Pak pos pembawa bingkisan yang isinya adalah buku yang saya beli. “Dengan saudara Marwan?, ini ada kiriman”. Saya mengiyakan pertanyaannya dan mengucapkan terimakasih.

Inilah tekhnologi. Semoga kita memanfaatkannya untuk hal yang positif. Karena tak dapat dimungkir, tekhnologi juga memiliki sisi negatif jika salah dimanfaatkan. Jika pertimbangan anda lebih positif, maka silahkan duduk di depan komputer, klik dan Insya Allah bukunya sampai.

~Makassar, 12 Maret 2013

Senin, 11 Maret 2013

Bukankah kita dilahirkan dari rahim wanita?

Tepat tanggal 8 maret, dunia memperingati hari wanita (perempuan; aku lebih suka menggunakan istilah ‘wanita’) se dunia. Membicarakan, menulis bahkan mencintainya tak akan ada habisnya. Sosok ini memang makluk yang penuh misteri yang semakin di kuak akan menyisakan banyak pertanyaan. Ibarat sumur yang semakin di kuras airnya maka airnya tak pernah surut.

Dalam peringatan hari waita se dunia ini, banyak hal yang dilakukan terutama oleh kaum wanita. Mereka meresponnya dengan berbagai macam cara dan prosesi. Umumnya mereka melakukan hal untuk mengingatkan pada masyarakat dunia bahwa keadilan dan kemakmuran terhadap mereka belumlah mereka dapatkan. Malah dalam banyak hal mereka cenderung di eskploitasi bahkan di lecehkan kemanusiaannya.

Juga dalam banyak kasus yang menimpa kaum lelaki, wanita selalu menjadi tertudu dan pihak yang bertanggung jawab. Kita sering mendengar isitlah: harta, tahta dan wanita. Tiga kata ini sering dijadikan sebab rusaknya sebuah reputasi kaum lelaki. Hal ini menimbulkan kesan, wanita adalah makhluk pengganggu sedang lelaki yang terganggu oleh kehadirannya. Padahal antara lelaki dan wanita memiliki relasi yang sejajar sebagai manusia, hamba Tuhan.

Tak dapat di mungkiri sejarah wanita banyak dihiasi dengan diskriminasi terhadap kaum wanita. Dari budak hingga hanya sekedar objek pelampiasan nafsu seks lelaki. Padahal sosok ini adalah adalah satu di antara banyak perhiasan dunia. Bahkan oleh kata bijak yang disabdakan oleh nabi Muhammad SAW: sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita yang baik (soleha). Karena perhiasan maka dia wajib di hargai, dijaga dan disayangi jika tidak, maka perhiasan itu akan tidak indah lagi atau hilang sama sekali. Dan yang terpenting lagi, kita harus berterimakasi padanya karena keberadaannya membuat manusia bisa melangsungkan hidupnya dan berperadaban sampai sekrang.   

Kita patut menginspirasi nabi Muhammad SAW yang mendobrak kekakuan sejarah. Beliau membalikan sejarah dunia yang selama ini merendahkan derajat kaum wanita. Kehadiran beliau sebagai pemimpin umat islam, mewajibkan umatnya untuk mengangkat derajat kaum wanita. Wanita harus disayangi dan di tinggikan derajatnya.

Adalah Karen Amstrong, seorang ilmuwan dunia dan penulis tentang sejarah Tuhan dan masa depan agama mengajak dunia terutama kaum wanita untuk berterimah kasih pada Muhammad SAW. Bagaiaman tidak, lihat saja apa yang lelaki pilihan ini katakan pada manusia. Dalam sejarah, beliau pernah ditanya oleh seorang sahabatnya. Bahwa siapa yang di utamakan untuk aku berbuat baik? Maka beliau menjawab: Ibu. Hingga pertanyaan itu di tanyakan tiga kali dan dijawab juga tiga kali bahwa Ibumu. Dan terakhir, jawaban ke empatnya adalah Ayahmu. Sungguh betapa dihargainya dan ditinggikan derajat wanita oleh Muhammad SAW.

Marilah kita meninggikan derajat wanita. Bukankah kita dilahirkan dari rahim wanita?

Jumat, 08 Maret 2013

Seragam yang ternodai

Rintikan hujan tidak menghalangi aktivitas pria itu. Kelihatannya sangat bertanggung jawab. Melayani setiap orang yang lewat di depannya. Tak ada keluh kesah yang terucap dari bibirnya. Begitu juga dengan hatinya, dia sangat tulus tanpa ada besitan keluh dan kesah sedikitpun. Senyum kepada semua orang yang mendekatinya adalah bagian dari tugasnya sembari bertanya ihwal kebutuhan orang-orang itu.

Titik air tampaknya masih menempel di jeket yang ku kenakan. Musim penghujan belumlah sampai di ujungnnya. Terus mengguyur kotaku yang semakin panas dikala hujan tak mengguyur. Seperti kebanyakan orang lain, Aku pun melewati pria paruh baya itu. Dia memberi senyum sambil bertanya apa yang bisa dia bantu. Ku utarakan keinginanku siang itu. Dengan penuh semangat, dia menjelaskan dan terakhir dia menunjukan sebuah pojok ruangan.

Di pojok ruangan itu, terdapat orang-orang yang berseragam seperti dia. “Terimakasih” kata itu terucap sebelum akhirnya aku beranjak darinya. Kakipun terayunkan mengarah pada orang-orang yang berseragam sama seperti lelaki yang baik hati itu. Sampailah di pojok ruang itu.

Seperti yang dilakukan oleh pria tadi. Mereka bertanya tentang apa yang Aku inginkan. Setelah mereka mendengar beberapa kalimat yang terlontar, mereka segera paham. Segeralah mereka melaksanakannya. Saat itu, aku seperti seorang raja yang di layani oleh para pengawal.

“Memang sudah tugas dan kewajibannya maka mereka akan segera melaksanakannya. Tapi asalkan kita juga menghargai mereka” gumamku dalam hati.

                                                                              ***
Tampaknya bercak-bercak hujan belumlah beranjak dari jeketku. Maklum saja, mentari tidak garang saat itu. Dia tampak malu untuk menampakan keindahan tubuhnya. Atau bisa jadi awan hitam terlalu egois  untuk menahan senyum mentari dengan tubuhnya yang pekat. Mungkin, sang awan ingin mengimbangi kekuatan mentari untuk menguasai bumi.

Lompatan-lompatan air dipermukaan aspal mulai enggan menari-nari dan sudah mulai ada tanda untuk berakhir. Namun, Aku belum mau meninggalkan teras ruangan yang di dalamnya ada pria yang baik itu. Tak ada aral melintang tiba-tiba seorang lelaki menghampiriku dengan pertanyaan. Dalam memoriku, tidak pernah ada sosok itu dalam sejarah hidupku. Aku tidak mengenalnya.

Tidak jelas apa yang ditanyakannya. Karena itulah,  Aku balas dengan pertanyaan “apa pak?”. Ternyata lelaki yang baru Aku kenal ini sedang melakukan apa yang aku lakukan juga. Dia mengeluh, karena ada kejanggalan kejadian yang di dalam ruangan tadi. Pikirku, mungkin lelaki ini salah. Tapi setelah dia menjelaskan secara terperinci perihal yang di alaminya, otakku mulai berputar hingga 180 derajat.

Persepsiku tiba-tiba berubah terhadap beberapa orang bapak yang berseragam sama dalam ruangan tadi. Tapi tidak untuk pria yang memberiku senyum pertama. Ku putuskan, untuk kembali kedalam ruangan. Di pojok ruangan lain, terdapat beberapa pria yang berseragam sama seperti pria-pria di pojok sebelah. Segerah saya menuju pojok baru itu.

Kecurigaanku mulain menjadi-jadi apalagi setelah mendengar cerita sahabat baruku di teras tadi. Aku memberanikan diri untuk melakukan investigasi rahasian pada pria-pria yang berseragam ini. Dari informasi yang ku dapatkan, ternyata lelaki di teras ruangan tadi benar. Segera Aku amini.

Sebelumnya, Aku tak percaya meskipun kejadian seperti ini bukan kali ini saja terjadi. Bahkan banyak kejadian lebih besar yang dilakukan oleh oknum-oknum yang kedudukannya lebih tinggi dari beberapa pria berseragam ini sehingga membuat nama mereka tercoreng. Padahal mereka sungguh baik dan memang tugasnya untuk kebaikan. Tapi akhirnya aku dan sahabat baruku terpaksa menyetir pirikiran ke arah sikap ketidak percayaan.

“Pak kira-kira harga biaya semuanya berapa?” Kataku pada salah satu dari mereka . Saya menunggunya dengan sabar saat melakukan kalkulasi di depan komputer kerjanya. “Sekitar mendekati Rp. 900.000,- siapkan saja uang sejumlah ini“.

“Oh, gitu ya pak? soalnya kemarin ketika saya bertanya pada teman bapak yang lain di pojok sana, biayanya berbeda pak. Ini sudah lumayan turun yang sebelumnya berselisih hampir Rp. 200.000-an” Aku memperjelas. Kini Aku tidak lagi ragu dan telah menjadi yakin. Kejanggalan yang saya sangkakan ternyata benar adanya. Ada ketidakberesan yang telah menjadi lumrah dilakukan.

“Itu calo dek’ atau ada juga oknum yang mencari untung dari proses seperti ini, makanya kamu harus hati-hati. Kalau mau urus yang begini nanti hubungi saja nomorku. Ini nomorku” Pria baik ini membubuhkan nomornya di atas kertas peganganku.

Sungguh ironis. Sebuah tempat mencari dan memperjuangkan kebenaran justru begini kondisinya. Ketidakwajaran menjadi biasa dan terbiasa hingga menjadi sebuah kewajaran. Hal yang tidak benar, telah menjadi kebiasaan sehingga dibenarkan. Inilah hukum alam yang terjadi.

Aku mengenal mereka begitu berwibawa dengan baju kebesarannya. Baju yang melambangkan tugas suci mereka memperjuangkan kebenaran dan keadilan serta memberantas ketidak adilan dan ketidak benaran. Meskipun berhari-hari baju itu dikenakan tapi bagiku baju mereka tetap suci dan bersih.Tapi apa yang terjadi dirungan itu, telah meruntuhkan bangunan keyakinanku. Ada oknum di antara mereka yang tak mampu menjaga kesucian seragam yang dikenakan. Sehingga tak jarang orang-orang berpersepsi buruk terhadap mereka semua, secara keseluruhan.  Jadilah seragam suci itu ternodai.

~Makassar, 8 Maret 2013

Senin, 04 Maret 2013

Kampung halaman; banyak ide lebih baik

Bagaimana perasaan anda jika anda bertemu dengan sahbat yang jarang anda temui? Minimal melalui telpon, anda berbincang apalagi bertemu langsung secara fisik. Saya yakin bahwa anda dan kita semua akan cukup bahagia, apalagi dia adalah sahabat akrab kita.

Suatu waktu saya menelpon seorang sahabat yang jarang saya temui. Kebetulan saya baru mendapatkan nomor yang bisa dihubungi. Maka terjadilah pembicaraan di antara kami berdua. Kami berbicara tentang segala hal tanpa topik yang jelas. Maklum saja, pertemuan kami sesuatu yang jarang terjadi sehingga tidak ada perencanaan yang jelas mengenai hal yang dibicarakan.

Berkelok-keloknya pembicaraan tiba-tiba kami sampai pada pembicaraan untuk membangun kampung halaman. Tempat tinggal asal tumpah darah kami yang telah menjadi saksi awal sejarah kehidupan kami. Kami merasa bertanggung jawab terhadap tempat yang indah dengan segala keaarifan lokal yang dimilikinya itu. Namun, hari ini cita rasa kearifan itu secara perlahan sudah mulai terkikis dan berjalan menuju kepunahan. Digantikanlah dengan sesuatu yang bertolak belakang dengannya (baca: kearifan lokal) sehingga rusaklah system sosial yang ada dan kampung halaman kami mejadi tidak seperti yang dulu lagi, masyarakatnya indah nan damai.

Seperti banyak masyarakat lain di kampung, kami adalah bagian masyarakat yang tengah merantau. Pergi meninggalkan kampung halaman ke banyak penjuru demi sebuh cita-cita. Memperoleh pendidikan yang layak sehingga menjadi penunjang kebaikan hidupan di masa depan baik untuk diri pribadi maupun untuk maysarakat secara umum. Dengan disiplin ilmu yang berbeda, secara otomatis tak jarang menimbulkan silang pendapat dan bermunculan ide-ide baru yang saling berbeda.

Sungguh indah perbedaan seperti ini. Ke indahannya akan terasa jika mampu dikelolah dengan baik. Bukanlah dosa melainkan keharusan adanya perbedaan.

Perbedaan pendapat dan munculnya ide baru menjadi referensi untuk membangaun kampung halaman. Ibarat air, pasir, batu serta segala unsur yang dibutuhkan untuk membangun sebuah bangunan yang indah. Dan itu semua karena kelihaian sang tukang dan arsitek dalam mengelolah banyak unsur pembangun itu.

Demikian juga terjadi antara saya dan seorang sahabat tadi. Semoga masih banyak ide yang akan muncul dari sahabat-sahabat lain. Dan nantinya akan menjdi unsur pembangun peradaban yang indah terutama dikampung halaman, tanah tumpah darrah. Semoga kita bisa menjadi arsitek dan tukang yang lihai itu.

~Makassar, 4 Maret 2013

Sabtu, 02 Maret 2013

Goyang yuk…!!!

Setelah gangnam style, kini harlem shake yang mulai populer. Kedua yang saya sebutkan adalah tari modern yang kini sedang tren-tren. Saya tidak tau secara mendetail seluk beluk tari ini, tapi yang pasti adalah mereka dibesarkan serta dipopulerkan melalui revolusi tekhnologi media.

Meskipun memiliki manfaat tari (goyang) seperti ini tapi sesungguhnya tidak terlalu berbeda dengan tari yang lain. Tari atau goyang memilikii perbedaaan satu sama lain. Dengan perbedaan itu membuatnya khas sehingga memiliki keunggulan tersendiri yang kadang tidak dimiliki oleh tari lain.

Di era perkembangan media di abad 21 ini, segala sesuatu yang sebelumnya tidak dikenal bisa menjadi heboh bahkan wah. Di sinilah peran media terutama media sosial dan media massa (komersial) yang menggembor-gemborkannya. Sehingga masyarakat media menjadi tergerak untuk menggunakannya serta menghebohkannya pula hingga menjadikannya gaya hidup meskipun mereka tidak tahu efek sosial yang dihasilkan.

Kurang lebih seseorang pernah bertanya pada saya: apakah ada tari tradisional yang bisa berkaliber global seperti gangnam style dan harlem shake?. Tergantung bagaimana kita menguasai media. Demkian jawabanku.

Dalam peradaban kapitalisme lanjut seperti hari ini, media merupakan hal yang sangat urgen untuk mendukung misinya. Dengan media mereka mengalirkan segala kepentingannya untuk mempengaruhi masyarakat media. Dalam logika perang, siapa yang memiliki kekuatan besar dan strategi hebat maka akan menang. Sedangkan yang lemah dan kurang bersiasat akan kalah dan hanya akan menjadi korban pengaruh dari pemenang.

Sama halnya dengan tari harlam shake dan gangnam shake seperti pertanyaan seseorang tadi. Siapa yang memiliki kekuatan dan strategi akan berhasil mempopulerkannya sehingga menjadi “wah”. Dengan kata lain tari tradisional bisa saja menjadi “booming” dan “wah “ jika kita menguasai media sosial dan media massa (komersial). Memang media sosial terutuma di Indonesia bisa digunakan siapa saja tapi peran media massa (komersia) juga memiliki andil yang cukup besar dalam mempopulerkan sesuatu.

Fenomena budaya seperti ini memiliki efek sosial yang cukup luas terutama ekonomi dan budaya. Terlepas dari itu semua, gangnam style dan harlem shake memiliki ke khasan tersendri. Setidaknya dapat membuat penarinya senang. Ayo menari tapi jangan lupa dengan tari tradisional kita, karena di sana ada kearifan lokal yang sangat indah.

~Makassar, 2 Maret 2013