Selasa, 31 Mei 2016

Ironi Seleksi perguruan tinggi negeri: “Pintar” semakin pintar dan “bodoh” semakin bodoh

Seperti biasa, setiap tahun pemerintah kita mengadakan seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Banyak isitilah atau singkatan yang digunakan untuk menyebut ini misalnya SNMPTN , SBMPTN, ujian mandiri atau jalur non subsidi atau sebutaan-sebutan lainnya. Tapi substansinya adalah sama, yakni mekanisme seleksi bagi calon mahasiswa baru untuk masuk di perguruan tinggi negeri yang diinginkan.

Menurut system seleksi ini, untuk bisa lolos di kampus negeri, calon mahasiswa harus bersaing dengan begitu banyak peserta dari berbagai pelosok negeri bahkan peserta internasional. Mereka berusaha untuk menduduki kuota kursi yang disediakan. Misalnya jika kuota yang disediakan hanya untuk 100 (seratus) orang maka nilai tertinggi dari seratus orang teratas akan dinyatakan lulus.



Disinilah yang cukup menggelitik dalam pikiran. Saya ingin kembali mendefinisikan hakekat pendidikan atau tujuan pendidikan. Setahuku pendidikan dalam perspektif akademik adalah bagaiamana mendidik orang dari tidak tahu menjadi tahu atau dari sedikit tahu menjadi lebih banyak tahu. Mungkin dalam perspetif moral, orang mendefinisikan juga pendidikan adalah bagaiamana mentransfer nilai-nilai moral atau membangun karakter pada peserta didik. Atau ada yang juga yang mendefinisikan dengan menggabungkan keduanya. 

Karena kita sedang membicarakan tentang seleksi masuk perguruan tinggi negeri, maka saya ingin mengerucutkan diskusi kita pada defiinisi yang pertama atau perspektif akademik. Karena nilai akademiklah yang dijadikan tolak ukur untuk menentukan bisa atau tidak bisanya peserta berkuliah di perguruan tinggi impiannya. Disinilah, saya melihat keironisan dalam seleksi ini. Saya tidak melihat pada jumlah kuota yang disediakan. Letak keironisan itu adalah cara pemerintah menentukan mekanisme seleksi berdasarkan nilai akademik.

Maksudnya saya, kenapa harus nilai yang tinggi nilai akademiknya yang harus lulus? Mengapa orang-orang yang di tidak memenuhi kuota karena nilai akademiknya tidak cukup harus tersingkir? Supaya lebih memudahkan, mari ktia gunakan isitilah “pintar” dan “bodoh”. “Pintar” ditujukan untuk mereka yang lulus karena nilai akademiknya mampu memenuhi kuota yang disediakan, sedangkan”bodoh” ditujukan untuk mereka yang tidak lulus karena nilai akademiknya tidak mampu bersaing berebut kuota. Perlu diingat, peristilahan ini (pintar dan bodoh) bukan untuk membuat pengklasifikasian intelektual karna bagi saya semua manusia hebat dalam bidangnya masing-masing. Pengistilahan ini hanya untuk memudahkan diskusi  dalam tulisan ini.

Mari ingat kembali definisi yang pertama, bahwa tujuan pendidikan untuk merubah orang dari tidak tahu menjadi tahu dan menjadi lebih tahu. Jika yang lulus adalah mereka yang sudah “pintar” secara akademik, bagaimana dengan yang “bodoh” tadi? Artinya mereka yang “pintar” inilah akan semakin pintar karena mereka akan belajar di perguruan tinggi yang di cita-citakan dengan faisilitas yang disediakan oleh pemerintah. Bagaiamana dengan mereka yang “bodoh” ? Mereka akan tetap dalam keadaan “bodoh” karena tidak diluluskan oleh mekanisme dan parameter seleksi pemerintah yang ada. Dengan kata lain, nantinya orang “pintar” akan semakin pintar dan orang “bodoh” yang tidak lulus akan semakin bodoh.

Okelah, kan ada kampus swasta? Pertama, saya tidak sedang menyoroti kampus swasta. Saya mengkonsentrasikan pada kiritikan terhadap system yang dibangun pemerintah dalam seleksi calon mahasiswa baru. Kedua, jika ingin berbicara swasta maka perguruan tinggi swasta pun menerapkan system seleski yang sama (baca: sama dengan system seleksi pemerintah). Mungkin ada pengecualian bagi kampus swasta tertentu yang sangat membutuhkan mahasiswa untuk menghidupi kampusnya sehingga ada kesan jika ada yang mendaftar kemungkinan besar akan lulus atau peserta yang mendaftar secara otomatis akan lulus. Karena sudah jadi rahasia umum, kampus swasta bukan hanya tujuan pendidikan melainkan ada tujuan bisnis yang mengikut.

Solusi

Saya membayangkan, suatu ketika calon mahasiswa baru akan mengikuti seleksi berdasarkan potensi atau minat yang dimiliki. Perguruan tinggi akan menerapkan system seleksi bukan hanya berdasarkan nilai akademik, melainkan bagaiamana mendeteksi calon mahasiswa berdasarkan bakat. Misalnya jika ingin masuk di jurusan ekonomi bisnis, system seleksinya  bagaiamana mengetahui minat peserta di jurusan tersebut. Jangan sampai harusnya ingin kuliah di jurusan farmasi namun nyasar ke jurusan bisnis. Ini akan lebih manusiawi karena berkuliah sesuai dengan minat dan bakat membuat mahasiwa lebih bahagia dan akan berefek pada kreativitas dan prestasi. Sayangnya, hari ini pilihan jurusan banyak karena alasan gensi atau prestise sosial. Jika kuliah di kedokteran berarti anda pintar dan “waow”, kuliah di jurusan lain kurang “waow”. 

~Makassar, 31 Mei 2016, hari terakhir seleksi bersama perguruan tinggi negeri.

Jumat, 27 Mei 2016

sedikit tentang Cak Nun dari salah satu pengagumnya

Saat pagi ketika matahari menyingsing di sela-sela jendela kamarku, saya sudah terbangun. Segera saya lakukan ritual atau rutnias pagi. Salah satunya membuka kanal-kanal media untuk mengatahui apa yang sedang terjadi.

Saya membuka facebook. Di urutan awal, muncul fanpage Cak Nun yang menuliskan berkaitan tentang ulang tahunnya. Segera saya mebagikan di tambah dengan sedikit ucapan selamat ulang tahun serta kalimat harapan. 



Meskipun agak terlambat di medsos lain seperti twitter, saya juga melakukan hal yang sama. Biasanya jika ada peristiwa-peristiwa atau kabar yang cukup penting dalam skala nasional, twitter akan menampilkannya dalam daftar “trending topic”. Trending topik tergantung seberapa banyak yang membicarakan “kata kunci” itu dengan sebuah symbol  # (hastag). 

Umum yang sering menjadi trending topik di hari jumat adalah #JumatBerkah. Tapi jumat hari ini (27/05/2016) dalam beberapa waktu, Cak Nun menjadi salah satu topic yang mewarnai jagad per-twitter-an di tanah air. Hastag yang berkicau adalah #63TahunCakNun. Hastag ini membincangkan tentang hari ulang tahun Cak Nun yang ke-63. Ini menandakan Cak Nun cukup di kenal banyak orang meskipun tidak seperti artis yang sering mebuat keheboah atau intelektual lain yang selalu muncul di TV.

Saya yakin masih banyak tidak tahu tentang Cak Nun. Nama lengkapnya adalah Emha Ainun Nadjib. Dalam diri beliau orang-orang menyematkan label Ulama, Intelektual, budayawan, Guru, Seniman dan lain sebagianya. Meskipun berderet predikat-predikat yang dilekatkan orang-orang padanya, tidak lekas membuatnya jumawa. Beliau tetap rendah hati pada orang-orang. Tidak peduli mereka dari kalangan mana. Dari yang kaya sampai misikin, muslim atau non muslim, pejabat atau jelata, sombong atau rendah hati, ulama atau preman, pria atau wanita, dewasa atau anak-anak, tua atau muda, atau semua masyarakat dari golongan manapun. Kepada mereka semua, Cak Nun berusaha semaksimal mungkin untuk menebarkan cinta dan kebaikan.

Dahulu, ketika era sebelum reformasi atau orde baru yang dipimpin oleh Suharto, beliau sering tidak “sunyi” seperti sekarang. Beliau sering menyarakan dan mengkritik tentang kepemimpinan presiden yang memimpin selama 32 tahun ini. Beliau sering sering muncul dalam di media-media mainstream baik dalam wujud tulisan maupun fisiknya langsung. Namun pasca Indonesia melangkahkan pintu ke era reformasi Cak Nun seolah menghilang. Beliau mencoba “menenggelamkan” diri dalam jagad hingar bingar kehidupan sosial politik tanah air. 

Mungkin suami dari Novia Kolopaking seorang artis lawas yang pernah cukup terkenal di masanya ini, ingin mengikuti jejak Rasulullah SAW yang menyepi di Gua Hira. Sebagai mana kita tahu, Rasulullah mencoba sedikit menyepi dari situasi arab Jahiliyah saat itu. Di tempat perenungan dan penyepian inilah Rasulullah mendapatkan Wahyu pertamanya.

Sejak reformasi inilah, Ayah dari Noe vokalis band Letto memutuskan untuk lebih menyepikan diri dan blusukan ke masyarakat bawah. Mungkin beliau ingin lebih jernih membaca situasi rill di lapangan. Beliau lebih suka menjumpai masyarakat bawah yang mungkin lebih jujur dan lugu di banding masyarakat elite, terlebih elite politik yang penuh dengan kepentingan. Melalui tembang-tembang dakwanya, beliau menebar kebaikan sesuai yang diperintahkan Nabi Muhammad SAW utusan Allah. Tentunya Al Quran dan Hadits lah menjadi pedoman utama beliau. Namun, beliau membawakan wajah islam dengan penuh cinta tanpa kebencian. Wajarlah beliau disukai oleh masyarakat kelas bawah dan kelas masyarakat lain diantaranya seperti saya. 

Dalam pengembaraannya dalam sunyi ini, beliau sebisa mungkin menghindari perjumpaan dengan media-media mainstream komersial yang selalu menggoda untuk meraih popularitas. Beliau tidak suka dengan kegaduhan. Beliau tidak punya kepentingan lagi untuk mempopulerkan diri. Dunia telah di “puasai”nya dan berusaha pula di ‘talak’ agar apa yang dilakukan hanya pengabdian kepada-Nya.

Tapi ke ikhlasan beliau dalam berdakwa menebar kebaikan, membuat dicintai oleh banyak kalangan dari berbagai kelompok dan kepentingan seperti yang disebutkan di awal tadi. Beliau dikenal sebagai Ulama dari kalangan Nahdatul Ulama tapi kebijaksanaannya membuatnya di terima oleh banyak muslim dari berbagai aliran tak terkecuali dari non muslim. Bagi beliau, Islam bukan milik organisasi tertentu saja melainkan islam untuk semua umat islam juga islam untuk seluruh manusia. Adapun organisasi hanyalah wadah tumpangan untuk mensiarkan pesan-pesan islam, kemudian tumpangan itu membawa kita pada Tuhan. Inilah salah satu alasan kenapa beliau dihormati dan disegani oleh banyak orang.

Selamat hari ulang tahun ke-63. Semoga selalu dalam kebaikan, menjadi guru yang inspiratif dan menebar kebaikan. Aamin.

*tulisan ini hanya pendapat pribadi untuk memperingati Hari Ulang Tahun Cak Nun, ulama bijakasana yang menginspirasi saya. Jika ada kesalahan tentang Cak Nun dalam tulisan ini, maafkanlah. 

~Makassar, 27 Mei 2016

Rabu, 25 Mei 2016

Supaya tak ada dusta di antara kita

Saat Samuel P Huntington, seorang profesor ilmu politik dari Universitas Harvard Amerika mengemukakan karyanya yang cukup monumental tentang peta politik dunia, sontak menimbulkan pembicaraan di kalangan ilmuwan sosial politik terutama yang fokus pada masalah-masalah dunia. “The Clash of Civilizations”, atau di Indonesia di kenal dengan isitilah “Benturan antar Peradaban”. Setidaknya buku ini menggambarkan akan ada benturan antar peradaban di dunia. 

Bermula ketika berakhirnya perang dingin antara dua peradaban besar dunia, yakni peradaban komunisme dan peradaban liberalism (kapitalisme). Perang dingin itu melahirkan peradaban liberalism (kapitalisme) sebagai pemenang yang di pimpin oleh Amerika dan eropa barat sebagai simbol dari “barat”. Dengan kata lain peraban liberalism selalu diidentik dengan peradaban barat diamana mayoritas warganya beragama kristen. Sehingga ada kesan bahwa peradaban barat dibangun di atas penyerapan terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran kristiani. 

Inilah simbol persaudaran dan perdamaian antar dua tokoh agama dunia

Menurutnya, kekuatan peradaban barat ini ditandai dengan massifnya globalisasi yang mengalir keseluruh dunia. Disinilah peradaban barat semakin berkuasa mencengkram seluruh masyarakat dunia. Namun, menurutnya peradaban barat tidak akan berkuasa dengan tenang karena ada peradaban lain yang akan lahir untuk menyaingi. Disinilah nantinya akan terjadi konflik (benturan) antar peradaban. Salah satu peradaban besar dan paling sengit melawan adalah peradaban Islam.

Salah satu Implementasi dari teori ini adalah penyerangan (invasi) militer AS terhadap Iraq yang saat itu Iraq dipimpin oleh Saddam Husain. Ada frame yang terbangun bahwa AS adalah symbol barat (Kristen) dan Iraq adalah symbol timur (islam). Secara tidak langsung, teori yang dikemukakan oleh Huntington ini ingin mengatakan bahwa konflik keduanya adalah hal yang wajar karena dunia telah masuk dalam fase perang (benturan) peradaban.

Namun, teori ini melahirkan banyak kritik. Oleh para kritikus, terori ini sangat bermakna politis. Teori ini seolah hanya dilahirkan untuk memberikan ke absahan (legitimasi) atas kejahatan perang AS terhadap masyarakat Iraq. Juga menurut mereka, Huntington terlalu menjebak teorinya pada persoalan konflik. Padahal derasnya aliran globalisasi keseluruh dunia akan melahirkan interaksi antar masyarakat dunia. Perbedaan yang menjadi benih-benih konflik justru akan buyar dengan adanya saling pemahaman karena adanya komunikasi (interkasi). Bahkan orang-orang akan saling kerja sama karena saling membutuhkan satu sama lain sehingga konflik pun akan diminimallisir bahkan hilang. Ini yang absen dari Huntington.

Hari ini masyarakat dunia di perhadapkan pada konflik sosial yang berlarut-larut dan belum jelas kapan usai. Agama dijadikan symbol perlawanan atau symbol organisasi teroris bahkan ada yang menyalahkan agama sebagai sumber konflik. Lahirpun istilah konflik antar agama, misalnya Kristen vs Islam atau Sunni vs Syiah. Sebagai contoh, oleh banyak orang yang masih berpikiran sempit dan picik, melihat konflik timur tengah hanya sebagai konflik agama. Padahal konflik tak sesederhana itu. Konflik melibatkan banyak faktor yang cukup kompleks.

Konflik melahirkan banyak kerugian kemanusiaan dibanding keuntungan. Lihatlah jutaan orang yang mengungsi karena ketiadaan harapan hidup di tempat asal mereka. Kematian dimana-mana. Hak-hak pendidikan yang terabaikan. Orang tua, wanita, anak-anak dan masyakat sipil yang tidak berdosa lainnya jadi korban kekejaman konflik. Singkatnya konflik telah banyak melahirkan kepedihan dan kehancuran kemanusiaan.Tidak salah jika banyak elemen-elemen masyarakat dunia mulai berteriak lantang agar konflik ini segera di selesaikan.

Melihat situasi ini, “benturan peradaban” yang diperkenalkan oleh Huntington, kini banyak yang menggantikan dengan “Dialog antar peradaban”. Dialog peradaban adalah salah satu solusi untuk mengatasi konflik ini. Kita diharapkan agar membuka sekat-sekat perbedaan di antara kita. Kita harus saling terbuka untuk mempertemukan titik-titik kesamaan sehingga perbedaan yang dapat melahirkan konflik dapat dieliminasi. Saling komunikasi dan saling memahami harus dilakukan agar tidak terjadi kekakuan dan kecurigaan.

Kita harus melihat silaturahmi dan dialog antar tokoh-tokoh agama sebagi hal yang perlu di hargai (apresiasi). Hal ini harus terus di dorong meskipun telah banyak tokoh-tokoh yang melakukannya. Salah satunya adalah apa yang dilakukan oleh dua tokoh agama baru-baru ini yakni Grand Syekh Al Ahzar Kairo, Syekh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb dan Pimpinan Katolik dunia, Paus Fransiskus. Pertemuan keduanya akan menjadi bagian symbol perdamaian dunia. Terlebih keduanya adalah tokoh yang kharismatik dan dihargai di dunia sehingga banyak masyarkat dunia akan menginspirasinya. Kekakuan yang selama ini menjadi hambatan berkomunikasi dan berinteraksi akan segara mencair menjadi persaudaraan dan saling kepahaman satu sama lainnya.

Mungkin, ada orang yang masih melihat pertemuan atau dialog ini (baca: dua atau lebih agama) sebagai ke-tabu-an. Bagi islam, pertemuan (persaudaraan) dalam perbedaan agama tidak dilarang bahkan diwajibkan. Rasul Muhammad SAW sangat baik kepada orang yang bukan penganut islam. Misalnya dalam sebuah kisah yang pernah ada. Ketika setiap Rasul melewati sebuah jalan, ada seroang Yahudi yang selalu menghinanya bahkan melemparnya dengan batu atau kotoran. Rasul tidak pernah dendam apalagi membalas. Suatu ketika Rasul agak keheranan karena hari itu tidak ada lagi orang yang biasa menghinanya. Ternyata si Yahudi sedang sakit. Rasul segera menjenguknya. Si Yahudi pun kaget dan terharu. Si Yahudi mengatakan, selama ini orang yang selalu saya hina dan sakiti ternyata adalah orang yang pertama membesuk saya bahkan saudaranya pun belum ada yang datang membesuk. Akhirnya si Yahudi memeluk islam.

Inilah pentingnya saling menghargai dan menyambung persaudaraan (silaturahmi) satu sama lain. Kita tak perlu memandang mereka dari golongan mana atau agama apa. Dengan itu, tak akan ada dusta di antara kita.

~Makassar, 25 Mei 2016

Selasa, 24 Mei 2016

Waisak dan Indahnya saling menghargai

Tidak seperti biasa, suatu sore di hari minggu di kota Makassar. Tepatnya dua hari yang lalu, terhitung saat menulis artikel ini. Biasanya kendaraan kurang memenuhi jalan raya, seperti hari-hari kerja yang sering memacetkan jalan raya. Tapi sore itu tiba-tiba jalan macet.

Awalnya saya kurang tahu apa yang sedang terjadi. Kebetulan saat itu, saya sedang mengendarai motor. Terlihat ada kerumunan orang-orang yang sedang berjalan kaki. Ada juga sebuah panggung yang cukup besar yang ikut digerakan oleh orang-orang. Semacam ada demonstrasi, tapi bukan demonstrasi.

Asumsi awal, ini ada demonstrasi karena di Makassar kegiatan seperti ini jamak terjadi. Tapi ketika saya semakin mendekat ternyata asumsi yang terbangun tadi, salah meskipun agak mirip. Pasalnya ada pertunjukan di atas panggung yang di tengah jalan raya. Di depannya ada gerombolan orang-orang yang berpakaian seragam seperti anggota organsasi yang sedang mempertunjukan sesuatu. Yah, memang sepeti mahasiswa yang tengah berdemonstrasi.

festival perayaan waisak di kota makassar

Sampailah motor, yang saya dan adik saya, kendarai di lokasi yang memacetkan jalan itu. Saya bertanya pada orang-orang disekitar situ, “ada apa?” sembari saya membaca baju beberapa orang-orang yang mendorong panggung dari belakang. Terdengar jawaban dan terbaca tulisan tersebut hampir bersamaan. Ada Festifal perayaan Waisak. Perayaan hari besar agama Budha. Saya baru ingat, hari minggu ini, saudara kita dari umat budha sedang merayakan hari besar agamanya.

Jalan-jalan diruas jalan itu macet. Pengendara yang melewati ruas jalan itu, dipastikan terhambat. Mungkin sebagian dari mereka terganggu. Tapi tidak bagi saya. Saya melihat peristiwa ini adalah keunikan tersendiri. Ini sebuah peristiwa seni dan budaya pertama yang saya saksikan secara langsung, dilakukan oleh umat budha. Karenanya, menikmatinya adalah hal pantas untuk dilakukan dibanding cemberut atau protes atas kemacetan jalan. Terlebih jarang hadir hiburan semacam ini di tengah kota besar seperti Makassar. 

Di atas panggung terlihat ada seekor “moyet” yang sedang menari-menari memainkan tongkatnya. Saya sedikit terkejut, dia mirip jagoan dari film yang pernah saya nonton. Kebetulan lagi, film itu adalah salah satu film favorit saya sampai sekarang. Dialah “sungkokong”, jagoan dari film “kera sakti”. Dan orang-orang yang berjalan dengan kostum yang seragam di depan panggung itu, semacam pasukan dari negeri kahyangan. Sungguh, mengasikan !!!

Saya kurang begitu tahu lebih dalam tentang ajaran Budha. Menonton kera sakti dan menyaksikan festifal waisak, menambah pengetahuan saya tentang ajaran agama ini. Mungkin tidak ada salahnya jika ingin sedikit membangun asumsi tentang ajaran budha dari film kera sakti. Film itu menceritrakan tentang perjalanan dan perjuangan sungkokong dan kawan-kawannya serta di temani dengan seorang guru yang suci. Berbagai halangan dan rintangaan yang menentang mereka hadapi, yang hampir semuanya adalah siluman yang mengajak pada keburukan. Mereka harus mengalahkan dan menuntaskan rintangan dari siluman ini. Atas bantuan dari gurunya yang sabar dan selalu mengajarkan tentang kebaikan, mereka akhirnya sukses mendapatkan kitab suci untuk diajarkan ke umat manusia. 

Saya juga tidak akan protes kenapa mereka harus memacetkan jalan raya. Cara yang mereka lakukan bukanlah tanpa alasan. Jika kita berpikir positif, mereka ingin mengingatkan kita tentang nilai-nilai kebaikan yang dibawa oleh agama yang diyakininya. Apalagi hari ini di era modernitas terutama yang paling di rasakan oleh masyarakat urban (kota), secara perlahan telah mengikis bahkan membunuh nilai-nilai moral setiap agama. Kita harus melihat mereka secara bijak.

Terlebih kita sedang hidup di negara yang berlandaskan pancasila. Pancasila mengajarkan tentang kebersamaan dan penghargaan terhadap perberbedaan. Semua perbedaan yang terhampar dari merauke sampai sabang telah diakomodasi oleh pancasila. Karenanya pancasila tidak hanya dimiliki oleh satu golongan atau kelompok saja melainkan miliki kita semua, milik semua warga Indonesia. Kita semua punya hak dan kewajiban untuk  memilikinya.  Sehingga negara wajib melindungi dan menghargai perbedaan-perbedaan itu. Kemudian, pun perbedaan-perbedaan itu harus saling menghargai satu sama lain. 

Menghargai bukan berarti secara otomatis mengikuti ajaran yang mereka bawa. Jika ada yang berpikir demikian, mereka perlu memahami ilmu logika terlebih dahulu. 

Dalam buaian asiknya menyaksikan pertunjukan itu, saya harus meniggalkan lokasi itu. Pak polisi yang mengawal acara tersebut menginstruksikan agar saya yang sedang di atas motor, mencari tempat lain untuk menepi. Maklum saja, di belakang ada banyak kendaraan lain yang ingin melintas. Tentunya sebelum meninggalkan lokasi itu, kamera yang selalu saya bawa, harus membidik dahulu.

Sesaat setelah meninggalkan lokasi, saya tersadarkan bahwa festival yang sempat memacetkan jalan tadi adalah tempat saya dan umat islam lain sering melaksanakan shalat Id, shalat hari raya umat islam. Kami pun menggunakan jalan hingga saat shalat tak ada kendaraan bermotor yang melintas. Jadi jika jalanan macet atau terganggu karena festival ini, saya dan umat islam lain tak perlu protes. Lagian islam pun mengajarkan untuk menghargai dan tidak mengganggu pemeluk agama lain untuk beribadah. Ah, Saling menghargai itu indah 

~Makassar, 24 Mei 2016

Minggu, 22 Mei 2016

Golkar dan “tarian-tariannya”

Suatu pagi ketika sedang asik duduk menikmati pagi sembari sedikit membaca kabar-kabar seputar situasi sosial politik, kembali datang menemuiku seorang bapak paruh bayah. Beliau seorang yang dipercaya untuk mengelolah kos-kosan tempat saya berdiam. Entah kenapa dengan si bapak, akhir-akhir ini sering menghampiriku untuk berdiskusi tentang situasi politik nasional. 

“Kenapa pak Setya Novanto yang terpilih jadi ketua Golkar? Bagaimana dengan kasus “papa minta saham”? Golkar akan kurang disukai masyarakat karena pilih setya novanto”.  Demikian kurang lebih todongan pertanyaan-pertanyaan dengan bahasa Indonesia aksen Makassar yang mengawali diskusi kami pagi itu.

Benar, politik kadang bagai peta yang lusuh dan sulit untuk dimaknai. Oleh banyak ahli, politik dimaknai sebagai seni meraih kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan itu. Jadi jangan heran, jika politik selau memutarbalikan logika demi pencapaian kekuasan tersebut.

Tarian Ical

Banyak yang sudah menduga, Setya Novanto (SN) akan memenangkan pertarungan dalam arena munaslub Partai Golkar. Jika Bang Yusran darmawan menyeut Aburizal bakri (Ical) mulai dan akan tergeser dalam kekuasaan di Golkar, saya agak kurang sependapat. Hemat saya, justru dukungan ical lah yang membuat SN memenangkan kompetisi.


Mari kita lihat dari sedikit kebelakang tentang konflik Golkar. Setelah hampir dua tahun partai berlambang pohon beringin ini dirundung konflik dualisme, akhirnya melalui forum munalub hal itu terselesai. Sebenarnya jika Ical ingin berkeras untuk tidak mengadakan Munaslub, hal ini bisa saja dilakukan. Apalagi Kubu Ical secara hukum sudah di atas angin atas bantuan Prof. Yusril Iza Mahendara sebagai kuasa hukumnya telah memenangkan proses Hukum atas konflik dualism ini. Tapi atas kerelaan Ical akhirnya langkah itu diabaikan bahkan denda ratusan miliar yang harus dibayarkan oleh kubu Golkar munas Jakarta yang dipimpin oleh Agung Laksono dan kemenkumham juga dimaaafkan oleh Ical demi tidak terganggunya upaya rekonsiliasi. 

Namun, Ical bukanlah orang yang baru lahir dalam gelanggang perpolitikan nasional. Ical tidak akan menyerahkan kekuasaannya begitu saja tanpa ada goal yang ingin diambil. Singkatnya, Ical tidak akan membiarkan kekuasaannya hilang begitu saja sebelum memastikan kepentingannya sudah teramankan bahkan meskipun Ical sudah tidak berkuasa sebagai ketua umum partai Golkar tapi masih bisa bekerja dalam “ruang gelap” untuk mengontrol ketua terpilih, si “proxy leader”. Saya yakin langkah antisipatif pun telah dilakukan dengan langkah-langkah terukur untuk memuluskan agendanya tersebut.

Hemat saya, SN adalah pilihan Ical. Lihat saja, Bagaiamana SN mati-matian dipertahankan oleh Ical dalam kasus “papa minta saham” belum terlalu lama ini, meskipun pada akhinya SN harus kalah dan mundur dari jabatan ketua DPR RI, digantikan oleh Ade Komarudin (Akom). Tapi mengapa harus SN yang dipilih Ical? Bukankah Ical bisa memilih Ade Komarudin yang telah didukung oleh gerbong Jusuf Kalla ? atau Aziz Syamsuddin? Atau Air Langga yang merupakan kubu agung laksono yang kemarin didukung oleh pemerintah dalam konflik dualisme golkar? 

Inilah “seksinya” SN. Saya setuju dengan bahasa Bang Yusran Darmawan, “Kekuatan SN itu ada pada kelemahan-kelemahannya”. Kelemahan inilah yang dijadikan senjata untuk alat tawar menawar (bargaining position) Ical untuk pemerintah. Saya setuju bahwa pemerintah (Jokowi) akan mencari pemimpin yang “cacat” secara hukum serta cacat dalam opini dan ingatan publik. Dengan “cacat” itulah menjadi senjata pemerintah untuk menekan dan mengendalikan SN dan Golkar dalam koalisi pemerintahan nanti. Akom yang pada faktanya adalah saingan serius SN terlalu sempurnah untuk memimpin Golkar. Kesempurnaan tanpa kecatataan akan menjadikan Jokowi sulit untuk mengontrol Golkar. Pemimpin sempurnah inilah yang tidak di inginkan Jokowi. Mungkin bahasa lainnya “Kesempurnaan Akom justru menjadi kelemahannya”.

Alasan inilah Ical tidak “menawarkan” Akom pada Jokowi karena “harga” Akom cukup murah di banding “harga” SN. Jokowi lebih suka membeli SN yang mahal tapi “berkualitas” karena akan menguntungkan Jokowi. Nah, kenapa Jokowi “berdagang” dengan Ical? Kenapa bukan gerbong lain, semisal gerbong JK ? atau Gerbong Akbar tanjung? Bahkan Gerbong Cendana yang bisa dikatakan punya jasa besar dalam eksistensi Golkar dalam sejarah Golkar hingga hari ini ? Inilah kekuatan Ical yang tidak dimiliki oleh kekuatan-keuatan (gerbong) lain dalam tubuh Golkar. Sederhanya Ical punya “harga” mahal dibanding faksi-faksi lain dalam tubuh Golkar. 

Coba bayangkan selama hampir dua tahun, Ical yang merasa “dizalimi” dalam konflik dualisme ini tiba-tiba mau mengendor begitu saja untuk kalah pada “perang dingin” ini, mungkinkah? Ical bukanlah petarung yang mudah kalah apalagi sudah “terlanjur basah” dalam perebutan pengaruh di Golkar. Sekali lagi, Ical bukanlah orang baru atau bodoh dalam memahami peta jalan politik Golkar dan nasional. Lihat saja, dalam masa damai (proses rekonsisliasi) dimana kemenkumham memberikan legitimasi pada Ical untuk mengambilalih Golkar. Momentum ini dimanfaatkan betul olehnya untuk melakukan konsolidasi kekuatan. Selain pengaruh kekuatan yang selama ini telah disemai selama periode kepemimpinannya,  semakin bertambah kuat ketika momentum “masa damai” ini Ical melakukan blusukan ke DPD-DPD tingkat I dan II untuk menanamkan dan menebarkan pengaruhnya kembali, sehingga mereka (baca: DPD I dan II) bisa dalam kendali. Inilah kekuatan dan “harga” Ical yang tidak dimiliki oleh JK, Akbar Tanjung, Cendana dan lainnya, sehingga membuat Jokowi “jatuh cinta” padanya.
sumber foto: dari akun tweeter resmi Aburizal Bakri, saat hari-hari menjelang Munaslub Golkar

Mari kita amati gambar di atas. Gambar ini dipajang oleh Ical dalam akun resmi twitternya saat hari-hari menjelang munaslub. Dari sekian banyak moment, kamera pasti membidik namun Ical memilih foto ini untuk di “tweet”. Karena beliau adalah seorang politisi, maka perlu kiranya kita melihatnya dalam kaca mata komunikasi politik pula. Terlebih momentumnya adalah momentum yang tepat yakni menjelang munaslub. Sikap santai dan senyuman Ical sembari merangkul beberapa kandidat yang diantaranya adalah SN, bukanlah tanpa maksud. Gestur ini mudah dibaca bahwa Ical sedang memegang kendali. Ical sedang mengirim pesan kepada siapapaun termasuk lawan-lawan politiknya juga pemerintah bahwa kekuasaannya sedang kuat-kuatnya. Bahwa “saya sedang berkuasa ” atas kandidat-kandidat ini.

Kekuatan Ical juga bisa terlihat bagaiamana proses yang terjadi dalam Munaslub. Dalam forum Munaslub, respon atas laporan pertanggungjawaban (LPJ) kepengurusan Ical selama memimpin Golkar tidak ada yang menolak. Semua menerima tanpa syarat. Mungkinkah ini terjadi begitu saja secara alami? Tidak. Inilah tarian Ical.

Tarian Luhut

Satu lagi aktor yang selalu disebut-sebut ikut berpengaruh besar dalam kemenagan SN. Dialah Luhut Binsar Panjaitan. Luhut adalah seorang jendral cerdik dan “licin”. Salah satu jendral kopasus ini lihai membaca situasi. Mari kita seret ingatan kita pada masa menjelang pemilihan presiden atau kampanye 2014 yang lalu. Ketika Golkar menyatakan sikap untuk mendukung pasangan Prabowo-Hatta, Luhut mengundurkan diri dalam struktur kepartaian Golkar kemudian menyebrang mendukung pasangan Jokowi-JK. Sebagai jendaral yang matang siasat, Luhut punya kalkulasi matang bahwa mendukung Jokowi-JK adalah mendukung kemenangan. 

Banyak yang kurang tahu apa tujuan tertinggi dari sikap luhut atas dukungan terhadap pasangan Jokowi-JK. Tapi dalam politik yang pasti adalah logika mencari serta mengamankan kepentingan (kekuasaan) termasuk kenapa Luhut harus mendukung Jokowi-JK. Jangan heran dengan kelihaiannya, Luhut kini menjadi salah satu mentri yang cukup berpengaruh dalam cabinet Jokowi-JK. Bahkan sampai berpengaruhnya, PDI P sebagai partai pengusung dan asal Jokowi  sudah banyak kali mengirimkan pesan ketidaksukaan atas Luhut. Namun kecerdasan dan posisi tawar  Luhut yang kuat sehingga dalam reshuffle kabinet, luhut tidak mampu tersingkir.

Luhut juga kembali menunjukan taringnya dalam momentum munaslub Golkar. Bahkan saking hebat dan percaya dirinya, Luhut mencatut nama presiden dalam kunjungannya lokasi munaslub dengan menyatakan bahwa presdien lebih suka pemimpin Golkar yang tidak rangkap Jabatan. Rangkap jabatan itu di tujukan untuk lawan serius SN yakni Akom yang sedang menjabat sebagai ketua DPR.  Jika menganalisa konteks saat itu, Luhut sebenarnya secara tidak langsung menyampaikan dukungan presiden pada SN. 

Saat itu luhut ibarat Jubir presiden karena luhut sebagai kader Golkar punya jaringan kuat ke partai ini. Disinilah posisi Luhut semakin menguat dalam pemerintahan Jokowi-JK. Selain Jokowi, saya juga menduga PDI P meskipun sering mengecam Luhut namun partai asal Jokowi ini masih membutuhkan keberadaan Luhut untuk mereduksi pengaruh JK. Posisi ini sama dengan keberadaan Mentri Kordinator bidang Kemarimian, Rizal Ramli, yang sengaja ditanamkan dalam kabinet Jokowi-Jk. Rizal ramli adalah representasi pengaruh Megawati dan PDI P untuk mengamputasi pengaruh JK. Jangan heran, jika dalam beberapa kasus mentri Rizal Ramli mendebati JK secara terang-terangan di media massa. Tentunya Rizal Ramli tidak akan berani melakukan hal itu jika tidak ada kekuatan besar yang mem back-up dari belakang. Terlebih tersebar isu dan trauma politik yang berkembang tentang gaya politik JK dalam posisinya sebagai Wakil presiden yang cenderung akan mendominasi kekuasaan presiden. Ini ketakutan bagi Jokowi dan pendukungnya termasuk PDIP. Karenanya Luhut semakin kuat dan posisinya semakin di atas angin. Inilah tarian Luhut.

Pemerintahan stabil dan tarian Jokowi?

Tidak hanya menguntungkan Jokowi-JK, sesungguhnya bergabungnnya Golkar juga menguntungkan Golkar sendiri. Kepuasan kinera yang tinggi dari masyarakat terhadap pemerintah seperti hasil survey resmi Saiful Mujani Research dan Consulting (SMRC) belum terlalu lama ini, membuat partai politik yang mendukung pemerintah akan mendapat imbas positif. Dukungan rakyat terhadap pemerintah berarti dukungan rakyat terhadap partai-partai pendukung. Mungkin alasan ini pula PKS mulai sedikit melentur dan menunjukan gelagat untuk lebih ‘soft’ dalam mengawal Jokowi-JK. 

Bergabungnnya Golkar membuat pemerintah semakin kuat karena dapat menjaga stabilitas politik sehingga program-program pemerintahan dapat berjalan secara efektif. Meskipun itu, tidak berarti Golkar akan tunduk begitu saja pada keinginan Jokowi. Sebagai partai yang cukup tua dalam dinamika perpolitikan nasional, Golkar sudah sangat lihai dalam “menari” di atas medan pragmatisme politik di negeri ini. Di masa pemerintahan SBY, Golkar juga cukup merepotkan SBY karena tidak selamanya setiap kebijakan SBY didukungnya. Apalagi hari ini, salah satu fokous utama setiap partai adalah bagaiamana memenangkan pilkada serentak 2017 serta pemilihan legislatif dan presiden 2019. Tentunya setiap partai akan bermanuver sesuai agenda kemenangan dalam momentum-momentum yang semakin hari semakin mendekat tersebut. Agenda-agenda Jokowi-JK sangat mungkin akan terhambat.

Belum lagi jika berbicara isu reshuffle yang selalu dihembuskan. Apalagi dukungan partai-partai yang dahulu tergabung dalam koalisi merah putih (KMP) yang oposisi semisal PAN, PPP atau Golkar, bukanlah tanpa ada tawar-menawar. Dalam politik, pragmatisme selalu menjadi karakter yang selalu melekat dan sulit untuk dilepaskan. Mendukung berarti ada sesuatu yang harus didapatkan. Reshuffle menjadi isu yang cukup panas karena terjadi tarik-menarik antara pihak yang punya banyak kepentingan termasuk partai politik, tidak terkecuali partai yang dahulu tergabung dalam KMP. 

Partai yang selama ini mendukung dari awal kampanye pilpres hingga sekrang tidak akan rela begitu saja melepaskan jatah kursi menterinya. Demikian juga partai yang menyeberang keluar dari koalisi KMP tentunya ingin mendapatkan jatah menteri karena kursi menteri adalah cara setiap partai politik menebarkan pengaruhnya. Belum lagi kelompok lain seperti pebisnis yang ikut andil dalam pemenangan Jokowi-JK, mereka tidak ingin kehilangan pengaruh sehingga kerajaan bisnisnya terus terjaga. Kelompok yang tidak berafiliasi dengan parpol atau pebisnis pun, katakanlah mentri Anis Baswedan, tidak juga mudah disingkirkan karena telah mendapatkan legitimasi dukungan dari rakyat Indonesia. Antara partai pun akan lahir frame “partai berkeringat” yang mendukung sejak kampanye dan “partai tidak berkeringat” yang belakangan bergabung. Jika Jokowi-JK tidak cermat dalam mengelolah berbagai kepentingan ini, kegaduhan dan gesekan kepentingan menjadi hal yang niscaya. Golkar cerdik menari dalam kerumitan ini.

Ini semua tergantung Jokowi-JK bagaiamana merespon tarik menarik perbedaan agar pemerintahan tetap stabil dan seimbang. Jokowi punya modal besar untuk melakukannya. Dukungan rakyat semakin bertambah demikian pula dukungan partai-partai pun semakin kuat. Dalam system multipartai, dukungan banyak partai akan membuat Jokowi akan mudah bermanuver sehingga posisi tawar akan semakin besar, sehingga PDIP yang selama ini menyebut Jokowi petugas partai akan semakin ketakutan dan berhati-hati. Jika Jokowi lihai dalam “menari” diatas banyak momentum ini, pengaruh dan keuatannya akan semakin besar. Jokowi akan sangat mudah menghindar intervensi dari satu partai politik. 

                                                              ***

Setelah cukup lama berdiskusi, akhirnya saya mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan si bapak paruh baya di awal tadi. “Bagiku, dalam logika politik satu ditambah satu tidak selalu sama dengan dua karena politik adalah tentang siapa mendapat apa”. Entahlah……….. 

~Makassar, 22 Mei 2016

Sabtu, 21 Mei 2016

Kebangkitan pendidikan, Kebangkitan nasional

Masih ingatkah saat Hirosima dan Nagasaki dilululantahkan oleh bom atom ? kehancuran kedua kota di Jepang ini menandai kekalahan jepang dalam perang pasifik dan bagian dari berakhirnya perang dunia ke dua, termasuk inilah alasan kenapa jepang harus mengangkat kaki dari bumi nusantara serta tidak lama dari peristiwa itu Indonesia berdiri sebagai negara yang berdaulat. Lantas apa yang pertama dikatakan oleh perdana mentri jepang saat itu? Apakah beliau bertanya berapa jumlah tentara yang masih hidup? Berapa jumlah dokter yang bisa merawat korban sakit karena bom? Berapa bangungan infrastruktur yang masih bisa digunakan? Tidak. Tidak ada pertanyaan-pertanyaan itu. Pertanyaan pertamanya adalah berapa jumlah guru yang masih hidup?

Jangan heran dengan Jepang hari ini. Negara dengan segala kecanggihan tekhnologi serta negara dengan kekuatan ekonomi nomor tiga di dunia ini, mampu mencengangkan dunia. Modal utama meraka adalah bagaimana membangun pendidikan yang baik. Saya yakin seandainya perdana mentri jepang saat itu salah mengambil kebijakan terhapad pendidikan atau tidak mempriortiaskan pendidikan dalam membangun bangsanya saat dipora-porandakan bom atom, maka kita tidak akan melihat jepang yang semaju dan disegani hari ini. Inilah bukti betapa pentinganya pendidikan.

Mari kita menengok ke negeri kita, Indonesia. Masih ingatkah tangga 20 mei 108 tahun silam, tepatnya tahun 1908? Saat itu sekelompok pemuda terdidik yang tergabung dalam sekolah STOVIA membulatkan tekad untuk membangun sebuah organisasi gerakan. Tujuan awalnya adalah untuk mengangkat harkat martabat pendidikan kaum pribumi yang selama ini dipinggirkan oleh kaum kolonial belanda. Mereka sadar bahwa pendidikan memegang andil yang cukup besar dalam membangun peradaban suatu masyarakat. Organisasi itu kemudian kita kenal dengan nama “Budi Utomo”.

Meskipun tidak sendirian, Budi Utomo menjadi salah satu momentum dan semangat yang mendorong perjuangan masyarakat nusantara saat itu untuk meraih kemerdekaan 17 Agustus 1945. Jika menilik sedikit sejarah budi utomo, sebenarnya anggota-anggota pendiri organisasi ini adalah hasil didikan belanda. Saat itu belanda mengeluarkan kebijakan untuk menyekolah anak-anak pribumi tertentu atau dikenal dengan istilah politik etic. Tujuan utamanya bukanlah untuk mencerdaskan anak-anak pribumi (Indonesia) apalagi untuk membuat mereka menjadi pemberontak. Melainkan hanya mencetak mereka menjadi pegawai terdidik di kantor atau perusahaan belanda saat itu. Namun, belanda tak menyadari ternyata kebijakan mereka memberikan pendidikan pada anak pribumi justru menjadikan mereka (baca:anak pribumi) memberontak terdahap mereka. Pendidikan itu penting, bukan?
sumber gambar: kompas 19 mei 2016


Mari kita melihat gambar yang terpampang. Pertama melihat gambar ini, saya tercengang sekaligus kekaguman muncul. Di usia senja kakek dan nenek masih semangat mengikuti ujian, salah satu proses pendidikan formal yang ada.

Tapi disatu sisi juga ada yang terbersit dalam pikiran, mungkinkah ada rasa penyesalan oleh mereka? Mungkin saja mereka berpikir ada kesia-siaan diusia muda. Tapi jika ingin bijak, kita kadang tak bisa menyalahkan mereka dalam hal ini. Kadang mereka ingin menuntut ilmu dalam ruang-ruang formal sekolah tapi kondisilah yang memaksakan untuk tidak melakukannya. Kondisi yang tidak diinginkan itu bisa macam-macam. Mungkin kondisi ekonomi keluarga yang lemah. Mungkin kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan. Mungkin juga keinginan itu ada tapi tidak tersedianya fasilitas sekolah. Dan mungkin banyak lagi kemungkinan-kemungkinan lainnya.

Tapi katakanlah semua masyarakat Indonesia sudah dapat mengakses pendidikan yang layak, mungkinkah masalah pendidikan di negeri kita akan ikut selesai ? Lihatlah banyak koruptor di negeri ini. Mereka datang dari kalangan terdidik bahkan dengan berderet-deret gelar, dari sarjana hingga guru besar.

Mari kita berhenti sejenak. Saya teringat gadis manis yang selalu memakai rok panjang berwarna merah ke-hijau-hijau-an, yang selalu tertunduk tersenyum manis malu ketika kami sering berpapasan di persimpangan jalan yang di situ ada nenek tua penjual es manis. Gadis itu berkata: Kak, Pendidikan itu harus memperjuangkan kebenaran sehingga peradaban bangsa ini menjadi lebih baik.


Yah, karena sejarah kebangkitan nasional identik dengan lahirnya "budi Utomo" dan organisasi ini dibidani oleh orang-orang terdidik. Selamat hari kebangkitan nasional.



~Makassar, 20 Mei 2016

Rabu, 18 Mei 2016

Lawanlah dengan membacanya, bukan membakarnya

Entah apa yang menjadi alasan rasional, kenapa buku harus di bakar? Akhir-akhir ini di negeri kita tengah dihantui dengan isu komunisme. Bahwa akan bangkit hantu bernama komunisme. Banyak yang menyebutnya hantu karena sesuai namanya, hantu digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan nan menakutkan.

Persepsi tentang hantu komunisme, tidak hanya berlaku di Indonesia melainkan banyak negara yang menganggap komunisme adalah ideology yang membahayakan. Untuk kasus di Indonesia, ada trauma sejarah bagi sebagian besar masyarakat Indonesia tentang komunisme yang pernah ada dan sempat berjaya dalam jelmaan partai komunis Indonesia (PKI). Sejarah tentang peristiwa yang melibat PKI dengan cerita-cerita pembantaian dan pertumpahan darah. Meskipun sejarah ini masih menimbulkan kontroversi dan perdebatan yang belum usai.

Trauma itulah yang kini mulai dikorek-korek kembali. Ada upaya pengungkapan sejarah yang pernah terjadi di Indonesia, khususnya berkaitan dengan peristiwa gerakan 30 september (gestapu) PKI atau biasa juga dikenal dengan istilah G30SPKI. Perlawanan yang tidak setuju pun bangkit. Mereka ada di birokrasi, parpol dan eleman masyarakat lain. Salah satu caranya adalah dengan melarang gambar-gambar yang merupakan simbol PKI (palu arit) dan parahnya adalah disetujuinya pembakaran terhadap buku-buku yang memuat ajaran komunisme.

Komunisme yang usang

Saya pikir ketakutan ini terlalu berlebihan dan tidak proporsional. PKI bukanlah hantu yang bisa hidup lagi dengan wajah yang sama. Situasi dan kondisi sudah berubah. Komunisme sebagai ideologinya harus mulai menyesuaikan diri dengan ideology kapitalisme yang tengah mendominasi hari ini. Sedangkan kita tahu, kapitalisme adalah musuh bubuyutan dari komunisme. Tidak mengherankan, jika negara penganut komunisme tidak murni lagi menjalankan prinsip-prinsip ideologinya.

Lihat China yang katanya negara komunis. Bagaiamana dengan system ekonominya? Mereka telah merubah wajah menjadi negara kapitalis. Venezuela pun demikian, yang tengah mati-matian mempertahankan negaranya dari keruntuhan. Padahal mereka dikenal sebagai negara penganut marxis yang merupakan roh dari ajaran komunisme. Tapi kenyataannya, system ekonominya telah tergabung dalam system ekonomi pasar dan politiknya pun mulai terbuka. Mungkin tinggal Korea utara yang mati-matian mempertahankan statusnya sebagai negara pelaksana ideology komunis yang masih murni. Apa yang terjadi di sana? Justru di sana terjadi pemerasan, pembantaian bahkan pembunuhan atas masyarakatnya serta banyak cerita-cerita pilu lainnya. Padahal cita-cita dari ideology ini adalah menciptkan keadilan yang sama rata sama rasa.

Membaca bukan membakar


Kembali ke pembakaran buku yang memuat ajaran komunisme, “buku kiri”. Hemat saya, ini adalah tindakan yang lucu. Ketika orang-orang di dunia sedang berambisi untuk berlomba-lomba memperbanyak ilmu pengetahuan, negara kita justru mengizinkan pembakaran buku. Sebenarnya mengenai materi buku tersebut tidaklah sulit didapatkan, jika alasannya mempersulit kita mengakses ilmu pengetahuan. Apalagi hari ini tekhnologi internet atau buku elektronik membuat siapa saja untuk mudah mendapatkan ilmu. Tapi bagiku, tiindakan membakar buku adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Okelah, mungkin ini hanya symbol perlawanan terhadap PKI. Tapi sekali lagi, caranya tidak bisa diterima dalam era reformasi dan keterbukaan hari ini.

Belum lagi jika kita bahas kebangkitan PKI, apakah itu mungkin? Sangat sulit. Kita telah masuk di era keterbukaan informasi yang sulit dibendung. Kita juga memasuki era sosial-ekonomi-politik yang berbeda. Singkatnya kita telah banyak berbeda dengan situaasi yang lalu. Belum lagi kita bicara tentang system ekonomi global yang telah menyatukan semua negara-negara dalam system pasar yang liberal. Kita semua saling tergantung (interdependensi). Mau tidak mau kita harus menyesuaikan diri dengan keadaan ini. Lihatlah contoh-contoh kegagalan negara yang katanya pelaksana komunisme di atas.

Jadi tidak perlu ada ketakutan yang berlebihan terhadap komunisme atau kebangkitan PKI di Indonesia. Apalagi sampai main bakar-bakar buku. Ini tindakan bodoh. Saya orang yang tidak setuju dengan komunisme dan wajah baru dari komunisme (neo-komunisme) tapi cara saya melawan bukan takut atau menghidari apalagi membakar buku-buku yang memuat ajaran komunisme itu. Justru, cara melawannya adalah dengan membacanya. Membacalah dengan tidak pasif yakni dengan ‘menelan mentah-mentah’ isi buku. Membacalah sambil berdialog dengan isi buku, bahkan kritiklah jika memang itu perlu. Bukankah dengan membacanya, kita dapat mempelajari bagaiamana spirit dan metode gerakan bahkan cara untuk membunuhnya? Bukankah dengan membacanya kita akan tahu kelemahannya? Sehingga dengan mengetahui kelemahannya kita dapat menghancurkannya? Bukankah di pengadilan terakhir nanti, Tuhan tidak akan bertanya: dari mana kau dapatkan ilmu? Tuhan hanya akan bertanya: Untuk apa kau gunakan ilmu yang kau dapatkan? Iqra…!!! Bacalah…!!!

~Makassar, 18 mei 2016



Entah apa yang menjadi alasan rasional, kenapa buku harus di bakar? Akhir-akhir ini di negeri kita tengah dihantui dengan isu komunisme. Bahwa akan bangkit hantu bernama komunisme. Banyak yang menyebutnya hantu karena sesuai namanya, hantu digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan nan menakutkan. Persepsi tentang hantu komunisme, tidak hanya berlaku di Indonesia melainkan banyak negara yang menganggap komunisme adalah ideology yang membahayakan. Untuk kasus di Indonesia, ada trauma sejarah bagi sebagian besar masyarakat Indonesia tentang komunisme yang pernah ada dan sempat berjaya dalam jelmaan partai komunis Indonesia (PKI). Sejarah tentang peristiwa yang melibat PKI dengan cerita-cerita pembantaian dan pertumpahan darah. Meskipun sejarah ini masih menimbulkan kontroversi dan perdebatan yang belum usai. Trauma itulah yang kini mulai dikorek-korek kembali. Ada upaya pengungkapan sejarah yang pernah terjadi di Indonesia, khususnya berkaitan dengan peristiwa gerakan 30 september (gestapu) PKI atau biasa juga dikenal dengan istilah G30SPKI. Perlawanan yang tidak setuju pun bangkit. Mereka ada di birokrasi, parpol dan eleman masyarakat lain. Salah satu caranya adalah dengan melarang gambar-gambar yang merupakan simbol PKI (palu arit) dan parahnya adalah disetujuinya pembakaran terhadap buku-buku yang memuat ajaran komunisme. Komunisme yang usang Saya pikir ketakutan ini terlalu berlebihan dan tidak proporsional. PKI bukanlah hantu yang bisa hidup lagi dengan wajah yang sama. Situasi dan kondisi sudah berubah. Komunisme sebagai ideologinya harus mulai menyesuaikan diri dengan ideology kapitalisme yang tengah mendominasi hari ini. Sedangkan kita tahu, kapitalisme adalah musuh bubuyutan dari komunisme. Tidak mengherankan, jika negara penganut komunisme tidak murni lagi menjalankan prinsip-prinsip ideologinya. Lihat China yang katanya negara komunis. Bagaiamana dengan system ekonominya? Mereka telah merubah wajah menjadi negara kapitalis. Venezuela pun demikian, yang tengah mati-matian mempertahankan negaranya dari keruntuhan. Padahal mereka dikenal sebagai negara penganut marxis yang merupakan roh dari ajaran komunisme. Tapi kenyataannya, system ekonominya telah tergabung dalam system ekonomi pasar dan politiknya pun mulai terbuka. Mungkin tinggal Korea utara yang mati-matian mempertahankan statusnya sebagai negara pelaksana ideology komunis yang masih murni. Apa yang terjadi di sana? Justru di sana terjadi pemerasan, pembantaian bahkan pembunuhan atas masyarakatnya serta banyak cerita-cerita pilu lainnya. Padahal cita-cita dari ideology ini adalah menciptkan keadilan yang sama rata sama rasa. Membaca bukan membakar Kembali ke pembakaran buku yang memuat ajaran komunisme, “buku kiri”. Hemat saya, ini adalah tindakan yang lucu. Ketika orang-orang di dunia sedang berambisi untuk berlomba-lomba memperbanyak ilmu pengetahuan, negara kita justru mengizinkan pembakaran buku. Sebenarnya mengenai materi buku tersebut tidaklah sulit didapatkan, jika alasannya mempersulit kita mengakses ilmu pengetahuan. Apalagi hari ini tekhnologi internet atau buku elektronik membuat siapa saja untuk mudah mendapatkan ilmu. Tapi bagiku, tiindakan membakar buku adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Okelah, mungkin ini hanya symbol perlawanan terhadap PKI. Tapi sekali lagi, caranya tidak bisa diterima dalam era reformasi dan keterbukaan hari ini. Belum lagi jika kita bahas kebangkitan PKI, apakah itu mungkin? Sangat sulit. Kita telah masuk di era keterbukaan informasi yang sulit dibendung. Kita juga memasuki era sosial-ekonomi-politik yang berbeda. Singkatnya kita telah banyak berbeda dengan situaasi yang lalu. Belum lagi kita bicara tentang system ekonomi global yang telah menyatukan semua negara-negara dalam system pasar yang liberal. Kita semua saling tergantung (interdependensi). Mau tidak mau kita harus menyesuaikan diri dengan keadaan ini. Lihatlah contoh-contoh kegagalan negara yang katanya pelaksana komunisme di atas. Jadi tidak perlu ada ketakutan yang berlebihan terhadap komunisme atau kebangkitan PKI di Indonesia. Apalagi sampai main bakar-bakar buku. Ini tindakan bodoh. Saya orang yang tidak setuju dengan komunisme dan wajah baru dari komunisme (neo-komunisme) tapi cara saya melawan bukan takut atau menghidari apalagi membakar buku-buku yang memuat ajaran komunisme itu. Justru, cara melawannya adalah dengan membacanya. Membacalah dengan tidak pasif yakni dengan ‘menelan mentah-mentah’ isi buku. Membacalah sambil berdialog dengan isi buku, bahkan kritiklah jika memang itu perlu. Bukankah dengan membacanya, kita dapat mempelajari bagaiamana spirit dan metode gerakan bahkan cara untuk membunuhnya? Bukankah dengan membacanya kita akan tahu kelemahannya? Sehingga dengan mengetahui kelemahannya kita dapat menghancurkannya? Bukankah di pengadilan terakhir nanti, Tuhan tidak akan bertanya: dari mana kau dapatkan ilmu? Tuhan hanya akan bertanya: Untuk apa kau gunakan ilmu yang kau dapatkan? Iqra…!!! Bacalah…!!! ~Makassar, 18 mei 2016

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/marwan_antopulo/lawanlah-dengan-membaca-bukan-membakarnya_573c71d23497734b0709f898

Selasa, 10 Mei 2016

Wahai HMI, berterimakasihlah pada Pak Saut

Diskursus mengenai kasus yang melibatkan HMI dengan Pak Thony Saut Situmorang (kedepannya saya menyebutnya: pak saut), wakil ketua kpk cukup mengemuka akhir-akhir ini. Sekali lagi, ini bukan antara HMI dan KPK, melainkan antara HMI dan pak saut sebagai pribadi meskipun pada diri beliau melekat posisi wakil ketua kpk. Jadi jangan artikan atau terjebak pada frame HMI vs KPK. Tapi HMI vs Pak Saut.

Saya tidak mau fokus pada perdebatan siapa yang salah atau respon dari anggota (kader) HMI atas pernyataan pak saut. Apalagi setelah pak saut menyampaikan permohonan maafnya secara terbuka dan tegas atas pernyataan yang dikeluarkannya. Ini sudah final, bahwa pak saut memang benar-benar salah dan mengakui kesalahannya. Tak perlu ada spekulasi lagi. Meskipun keterlambatan pak saut dalam penyampaian maaf terkesan kurang elok, baiknya sedari awal beliau sudah melayangkan permohonan maafnya. Apalagi ada kesan “terpaksa” memohon maaf, karena setelah ada desakan dari berbagai elemen terutama dari HMI dan alumni-alumni HMI yang tergabung dalam KAHMI. Bagaiamana jika tidak ada desakan? Entahlah. Tapi HMI, maafkanlah pak saut.

Baiklah, kita tidak perlu lagi terjebak pada diskusi itu. Terlepas dari kesalahan dan efek negatif atas pernyataan pak saut, Ada beberapa hal yang menurut saya, kenapa HMI harus berterimakasih pada pak saut. Berikut penjelasan saya:

Pertama, pak saut kembali memperkenalkan HMI secara nasional. Figure pak saut sebagai salah satu unsur pimpinan kpk sebagai lembaga yang selalu di wanti-wanti sebagai pahlawan dalam pemberantasan korupsi, merupakan sebuah “berkah” yang baik untuk HMI. Pernyataan pak saut dengan menyebut organisasi HMI semakin membuat nama organisasi mahasiswa tertua dan terbesar pasca kemerdekaan Indonesia ini semakin melambung tinggi. Apalagi dalam pernyataan yang kurang lebih “…….. mereka cerdas ketika kulia, kalau di HMI minimal yang ikut jejang pengkaderan LK 1…”. Dari pernyataan ini pak saut memperkenalkan bahwa anggota-anggota HMI itu cerdas-cerdas meskipun baru mengikuti LK 1. Jika sudah LK 1 saja sudah sedemikian cerdasnya, apalagi jika sudah mengikuti tingkatan pengkaderan berikutnya LK 2 atau LK 3. Maka kecerdasannya akan lebih “gila” lagi. Karenanya berterimakasihlah pada pak saut.

Kedua
, pak saut kembali memberitahukan kepada Publik (masyarakat) Indonesia bahwa jangan pernah menganggap remeh HMI atau hati-hatilah pada HMI. Jika HMI marah, Indonesia bisa bergejolak. Lihat saja, reaksi atas pernyataan pak saut yang menuduh secara over general bahwa anggota HMI ketika menjadi pejabat maka menjadi koruptor kelas kakap. Atas pernyataan itu tidak hanya anggota HMI yang masih aktif dalam kepengurusan di ratusan cabang di Indonesia yang marah, melainkan alumni-alumni HMI (KAHMI) yang jejaraingnya sudah tersebar di seluruh lapisan masyarakat se Indonesia juga tidak kalah “marahnya”, terutama oleh mereka yang tengah berada dalam jaringan elite pemerintahan atau partai politik. Kita dapat melihat bagaiamana Prof. Mahfud md sebagai ketua majelis nasional KAHMI mengkritik itu. KH Din Syamsuddin mantan ketua Muhammdiyah juga melakukan hal yang sama. Serta banyak alumni-alumni lain yang kini menjadi tokoh politik maupun guru bangsa yang merawat NKRI yang tak mungkin disebut satu persatu namanya di sini. Jangan heran kemudian kasus “HMI vs Saut”, menjadi isu nasional yang cukup menyita perhatian banyak orang, tidak hanya di kalangan masyarkat, pemerintahan, media sosial, melainkan juga di media mainstream. Sehingga secara tidak langsung pak saut ingin menyampaikan kepada Indonesia: Berhati-hatilah kepada HMI, jika anda “menggoyang” HMI sama saja anda “menggoyang” Indonesia karena kader-kadernya sudah tersebar diseluruh lapisan masyarakat dan pemerintah di seluruh Indonesia.

Ketiga, pak saut telah mengkonsolidasikan dan mengeratkan kekuatan para anggota dan alumni HMI. Ketika pak saut melakukan generalisasi keterkaitan koruptor dengan HMI, sontak membuat mereka (anggota dan alumni) solid untuk melawan pak saut. Mungkin sebelumnya kurang solid atau sedikit solid, kini semakin solid dan kekuatan semakin menguat. Ini menjadi modal yang besar bagi HMI untuk menjalankan dan meraih cita-citanya dalam bertanggung jawab atas terwujudnya masyarkat yang adil makmur.

Keempat, pak saut telah menghentakan anggota dan alumni HMI bahwa masalah bangsa yang kompleks ini perlu keterlibatan HMI dalam mencari jalan keluarnya. Masalah kewibawaan organisasi yang dituduhkan oleh pak saut terhadap HMI hanyalah kepingan kecil dari masalah bangsa yang multidimensional. Atas ulah pak Saut, selain semakin mengkonsolidasikan kekuatan HMI untuk melawan pak saut sebagai “musuh”, juga telah memberikan pesan pada HMI bahwa kekuatan HMI tidak boleh hanya di arahkan untuk melawannya melainkan perlu di arahkan dalam membrantas permasalahan bangsa lainnya. Lihat saja, otokritik dan kritik dari masyarakat pada HMI juga terbangun. HMI diharapkan tidak hanya berhenti pada kasus “HMI vs saut”, karena sejarah HMI adalah sejarah perjuangan, sejarah mempertahankan NKRI, serajah merawat kebhinekaan, sejarah penciptaan pemikiran dan ide serta banyak lagi. Musuh HMI adalah bukan hanya mengembalikan marwah dan martabat organisasi melainkan lebih dari itu. HMI harus turut aktif dalam melawan musuh-musuh lain yang lebih besar seperti ketidak-adilan, kemiskinan, korupsi, kebodohan, ektrimisme, intoleransi, moralitas dan lainnya. Dengan itu martabat HMI akan semakin indah melebihi ketika hanya mengkritik pak Saut.

Kelima, pak saut telah membangkitkan pikiran HMI agar perlu melakukan otokritik. Atas konsolidasi yang terbentuk karena ulah pak saut, HMI perlu kembali melihat lebih dalam dirinya. Inilah momentum yang baik untuk berkontemplasi dan bermuhasabah (evaluasi) apalagi hari ini HMI telah menjadi kekuatan yang besar yang mampu merubah dan membangun wacana nasional bahkan internasional. Akar hijau hitam HMI telah menghujam dalam dan kuat dalam peradaban Indonesia. Zaman dan tantanganpun sudah berubah, metode dan strategi gerakan pun harus berubah. Apakah jalan yang ditempuh ini masih dalam rel gerakan atau sudah bias ? Apakah cara yang dilakukan masih relevan atau tidak? Apakah potensi anggota dan alumni sudah dimaksimalkan atau tidak? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya. ini menjadi tantangan tersendiri bagi HMI.

HMI tidak boleh hanya bernostalgia atas kebesaran tokoh-tokoh HMI yang ada. Prof. Lafran Pane sebagai pendiri organisasi ini, Prof. Nur Cholis Madjid (Cak Nur) dengan islam ke indonesiannya yang toleran, KH Hasyim Muzadi sebagai mantan ketua PBNU, Prof. Syafii Maarif (buya Hamkah) dan Prof. Din Syamsuddin sebagai mantan ketua Muhammadiyah, Prof. Azyumardi Azra sebagai intelektual besar yang menawarkan konsep-konsep islam yang damai, Prof. Komaruddin Hidyat juga sebagai pemikir besar islam, Pak JK sebagai Wakil Presiden, Pak Ade Komaruddin sebagai ketua DPR RI, Pak Anies Baswedan sebagai mentri, Prof. Mahfud md sebagai mantan ketua MK, Pak Harry Azhar Asis sebagai ketua BPK RI serta sangat banyak lagi tokoh politik, tokoh intelektual, tokoh bangsa yang ikut merawat dan membangun negara yang bernama Indonesia.

Setiap proses kejadian selalu ada hikmah yang perlu kita ambil. Pak saut memang salah dan beliau telah mengakuinya. Ini menjadi pembelajaran bagi siapa saja terutama pejabat publik agar lebih hati-hati dalam mengeluaran pernyataan. Demikian pula pelajaran yang bisa diambil oleh HMI atas kasus ini. Pak saut telah mengajarkan itu. karena “Sesungguhnya, dalam perputaran siang dan malam selalu ada tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir” (Al-Quran)

Mungkin ada baiknya, anggota-anggota HMI sejenak berhenti berdemonstrasi menuntut pak saut dan berkatalah: Terimakasih pak saut.

~Makassar, 10 Mei 2016

Sabtu, 07 Mei 2016

Sedikit pelajaran saat berlibur ke Malino

“Beda ya, dengan Makassar?” Saya melontarkan kalimat itu kepada kawan-kawan saat kami sedang duduk ngobrol. Malam itu suara jangkring meringkik bersahutan, malam semakin larut seakan akan menelan kami dalam kegelapan dan dinginnya udara sudah mulai memasuki pori-pori kulit. Meskipun kadang rasa kantuk datang menodong, tapi kami masih asik saja untuk mengobrol. Karena suasana saat itu berbeda dengan suasana seperti malam-malam pada umumnya ketika kami berada di kota. Juga, momen ini jarang kami dapatkan.
menikmat hutan pinus di desa malino yang sangat alami dan menenangkan.

Di kota bisa dikatakan suara-suara tak tampak alami. Suara dari produk-produk tekhnologi selalu terdengar. Suara kendaraan bermotor, pabrik-pabrik, televisi dan lainnya menjadi hal yang akrab di telinga. Malam itu kami tidak mendengar itu. Agak beda rasanya tapi justru lebih menenangkan dan menyenangkan.

Saat itu, dua malam yang lalu saat menulis artikel ini, kami berada di salah satu desa yang jauh dari hiruk pikuk aktivitas perkotaan. Di salah satu desa kabupaten Gowa-Sulsel, tepatnya desa Malino. Desa ini berada di dataran yg cukup tinggi dari permukaan laut. Seperti halnya puncak bogor atau bandung yang dijadikan warga Jakarta berlibur di akhir pekan, desa Malino juga demikian. Banyak warga luar terutama warga Makassar termasuk kami yang berkunjung ke tempat ini tatkala waktu libur meskipun jaraknya tempuhnya cukup jauh yakni kurang lebih 4 jam dari kota Makassar menggunakan sepeda motor dengan kecepatan sedang.

Menurut saya inilah bedanya desa dengan kota jika dilihat dari sisi suasana. Tidak ramai dibanding kota tapi justru disini ke unikannya. Selain kealamian tadi, orang-orang juga tidak terlalu disibukkan dengan persaingan ekonomi yang sangat bengis. Desa adalah tempat banyak ditemukannya solidaritas di antara warganya sehingga dampak negatif dari kompetisi ekonomi dapat terminimalisir dibanding karakter kota yang banyak ditemukan individualistik. Jangan heran jika disini warganya cukup ramah ditambah lagi dengan suasana yang dingin, berbeda dengan kota Makassar yang cukup panas.

Saya selalu berpikir, apakah tidak bisa menciptakan kehidupan modern tapi lokalitas kedesaaan tetap di pertahankan? Karena hari ini ketika melihat konsep pembangunan yang mendorong menuju modernitas, mungkin bisa dikatakan semua konsep kedesaaan selalu di tinggalkan. Kita kadang silau bahwa modernitas dengan banyaknya gedung-gedung bertingkat, banyaknya kendaraan bermotor di jalan raya dan ketika kita adopsi nilai-nilai “kota” atau yang dibawa oleh modernitas, selalu menjadi hal yang baik dan perlu dicontoh atau kita diidentikan sebagai masyarakat yang  yang baik dan berkemajuan.

Saya tidak sepakat jika pertimbangan-pertimbangan ini dijadikan rujukan. Banyak hal yang perlu kita terlebih orang-orang kota belajar dari desa. Di desa nilai-nilai kearifan masih sangat kental. Suasana ketenangan masih sangat terasa, baik dari kondisi lingkungan yang masih bersih dan alami maupun interaksi sosoial dengan sesama warga. Jangan heran warga-warga kota selalu menjadikan desa menjadi tempat mereka sedikit menyepi dari hiruk pikuk kota. 

Mungkin ini pelajaran yang harus kita maknai bersama. Tidak selamanya yang berada di kota itu adalah hal yang baik. Pembangunan harusnya mampu mengombinasikan modernitas dan unsur lokal agar kita tidak kehilangan identitas. Sederhananya pembangunan harus dapat menyatukan hal yang baik yang dimiliki tradisionalitas dan hal yang baik yang dimiliki modernitas. Atau salah satunya implementasi sederhananya adalah orang-orang menggunakan sepeda motor tapi bersedia membonceng orang dengan gratis tatkala melihatnya berjalan kaki di pinggir jalan.

Rasa kantuk adalah hal yang alami. Seolah tidak sadar, satu-persatu kami meninggalkan forum obrolan untuk tidur. Dingin semakin menjadi-jadi. Segera saya kenakan kaus kaki, kaus tangan serta sarung yang saya telah siapkan dari Makassar, tentu jeket juga yang sedari tadi telah saya kenakan. Juga alas tidur yang diberikan oleh seorang kawan. Saya tidur di luar, tepatnya teras rumah lantai dua dengan konsep rumah gantung ciri khas masyarakat tradisional, tempat kami bertukar pikiran tadi. Sengaja saya lakukan itu karena ingin lebih dekat dengan kealamian (alam) tanpa dibatasi dinding-dinding rumah. Meskipun di teras rumah, saya tidak takut ada pencuri yang menyambangi seperti halnya kota.

“Kita akan segera menjumpai hutan-hutan beton”. Kalimat yang kembali saya lontarkan pada kawan-kawan ketika kami akan meninggalkan desa Malino menuju Kota Makassar. Mungkin suatu saat saya akan merindukannya.  

~Makassar, 7 mei 2016

Senin, 02 Mei 2016

Sebuh refleksi hari pendidikan; Anak kecil penjajah nasi kuning dan hari pendidikan

Hampir setiap pagi, di tempat saya tinggal terdengar suara anak kecil yang menjajakan barang dagangannya, lebih tepatnya menjual nasi kuning. Usianya sekitar kelas 4-5, usia anak SD. Saya tidak begitu tahu banyak tentang dia. Tapi yang menarik saya untuk lebih mengetahuinya adalah tentang apakah dia sekolah ? berhenti sekolah ? atau memang tidak pernah sekolah sama sekali? Pasalnya, dia selalu menjajakan barang dagangannya di saat anak-anak sekolah lain sedang berada di sekolah. Untuk mengentaskan rasa penasaran itu, akhirnya saya menemuinya. Setelah berdiskusi saya mendapatkan jawaban bahwa dia sebenarnya sekolah. Meskipun saya ragu jika jawabannya itu benar.

Bagiku permasalah bukan hanya berhenti bahwa dia ternyata sekolah atau tidak. Hal lain yang perlu disoroti adalah anak seumurannya sudah harus “turun gunung” memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Dalam jiwanya mungkin dia memberontak karena anak seumurannya harus belajar atau bermain-main di sekolah dengan kawan-kawannya, tapi dia harus tunduk pada situasi. Sampai disini dia kalah.

Saya membayangkan anak-anak lain yang keluarganya berpunya. Mereka tidak perlu lagi seperti anak penjajah makanan ini. Mereka belajar dengan tenang di sekolah tanpa terbebani masalah uang lagi. Terlebih dengan anak-anak lain yang bersekolah di sekolah yang berstandar standar internasional. Mereka akan lebih asik lagi, apalagi disertai dengan fasilitas sekolah yang lengkap, guru yang berkualifikasi, makanan dengan gizi yang terjamin serta pulang pergi sekolah dijemput.
 
Kami sedang membaca dongeng sebagai kampanye "Gerakan Membaca". Mari Membaca...!!!
 

Ini hanya satu sisi. Terlampau pelik masalah pendidikan ini. Dari hulu ke hilir, semua mudah ditemukan. Dari sistem yang diberlakukan, penganggaran dan implementasinya, korupsi, pemerataan, kurikulum, infrastruktur dan sebagainya. Huff,,, terlampau kompleks.

Merespon masalah ini, banyak kalangan yang memperingati hari pendidikan yang jatuh pada 2 mei dengan melakukan kampanye dan tuntutan kepada pemerintah. Bisa dikatakan semua tuntuntan itu mengerucut pada bagaiamana terciptanya keadilan yang paripurnah dalam dunia pendidikan. Keadilan salah satu wujudnya adalah kesetaraan dalam mengakses pendidikan.

Apakah masalah pendidikan akan selesai ketika si anak kecil penjajah nasi kuning tadi, berhenti menjajakan jualannya kemudian pergi kesekolah menuntut ilmu dengan segala fasilitas yang mumpuni dan setara? Sederhananya, apakah masalah pendidikan berhenti pada kemudahan mengakses pendidikan yang berkualitas? Apakah setelah mereka pintar, saat itulah orang-orang akan berhenti berdemonstrasi ?

                                                              ***
Mungkin ada baiknya kita beranalogi dengan peristiwa gerakan buruh. Mari tengok diperingatan may day (hari buruh), 1 mei kemarin. Jika kita menelisik sejarah, setidaknya salah satu pemicu gerakan buruh buruh bermula dari AS tepatnya kota Chicago. Mereka menuntut penurunan jam kerja menjadi 8 jam dalam 24 jam yang berujung pula pada upah yang layak (tuntutan ekonomi). Di lain tempat, di eropa, tuntutan mereka buka hanya pada persoalan ekonomi. Mereka menuntut lebih dari itu. Sebagaimana diinginkan oleh Karl marx, buruh juga harus terlibat dalam aktivitas politik merebut kekuasaan. Setelah kekuasaan direbut, harus kemudian di dialektikakan lagi menuju masyarakat tanpa kelas. Sama rata, sama rasa. Lantas apakah masalah selesai? ini tanda masih perlu didiskusikan lagi.

Harus di akui, Marx adalah pemikir besar dalam bidang ekonomi-politik. Tapi imajinya tentang masyarakat tanpa kelas masih menimbulkan tanya. Hemat saya, Marx belum menuntaskan itu. Lihat saja, setelah revolusi bolsevik yang membentuk unisoviet, yang dikenal revolusi kelas pekerja (proletariat) merebut kekuasaan. Setelah kekuasaan mereka miliki, justru kemudian yang terjadi adalah mereka layaknya kaum kapitalis yang selama ini mereka kritik habis-habisan, mereka kembali menindas lawan-lawan politik dengan dalih untuk melanjutkan revolusi sehingga pihak yang kontra revolusi harus di singkirkan. Hahh,,, bulsyit.

Atau lihat Tiongkok (China) yang sempat bersitegang dengan unisoviet tentang implementasi ajaran Marx. Tiongkok mengklaim yang benar dan layak menjalankan ajaran Marx. Lantas apa yang terjadi? Mereka harus menyingkirkan orang-orang yang tidak sepaham dengan sikap yang otoriternya. Peristiwa di lapangan tiannamen telah menjadi saksi sejarah pembantaian berdarah itu. Sekarang pun negeri dengan partai tunggal ini masih belum usai dan terus menjalankan cara-cara itu. Atau lihat korea utara dengan presiden ‘gilanya’ Kim Jong Un. Mereka pun berdalih tengah menjalankan ajaran Marx demi menciptakan kesejatraan kaum miskin. Namun yang terjadi di negeri serba tertutup ini, kaum miskin malah bertambah karena system politik yang dijalankan sangat tidak manusiawi.

Disinilah kelemahan Marx. Dia tidak memiliki konsep yang jelas bagaiamana masyrakat tanpa kelas yang di inginkan. Justru yang terjadi adalah banyak pengikut marx (marxis) justru mencitapkan imaji-imaji berbeda sehingga masyarakat tanpa kelas tidak meliki arah yang jelas. Justru mandek pada fase ketika gerakan proletar merebut kekuasaan dan menjadikan kekuasaan itu untuk menindas. Apa bedanya watak ini dengan kapitalisme yang selama ini ingin mereka bunuh ?

                                                                ***
Mari kita kembali berdiskusi perihal anak penjual nasi kuning tadi. Selama ini tuntutan kita lebih banyak pada bagaiamana kesetaraan dalam dunia pendidikan itu tercipta. Kita kadang absen mendiskusikan bagaiamana konsep pendidikan yang ideal nan manusiawi. Jangan lagi kita terjebak pada kasus para pengikut marx yang berkoar-koar menetang kapitalisme yang katanya menindas, namun ternyata setelah berkuasa mereka tidak kalah bedanya sebagai penindas yang keji. Atau jangan pula kita jatuh pada lubang yang sama, setelah kita menentang orde baru dengan system yang sentralistik dengan otoriter terselubungnya dan setelah kita gulingkan, ternyata kita tidak memiliki alternatif sistem ekonomi politik sebagai anti tesis yang berbeda. Kita belum mencitapkan alternative ideology yang berbeda.

Inilah kita perlu takutkan dalam dunia pendidikan. Kita tidak tahu, apakah kita sedang memperjuang untuk membesarkan anak macan? Apakah si anak kecil penjual nasi kuning ini, setelah terdidik nanti akan menjadi bagian dari solusi atas carut marut dunia pendidikan kita? Ataukan dia hanya menjadi bagian dari masalah yang lebih memperkeruh situasi ini? Lihatlah para koruptor yang merusak peradaban bangsa ini. Mereka berasal dari kalangan terdidik dengan berderet-deret gelar, dari sarjana hingga guru besar (professor).

Ini yang perlu kita semua pikirkan. Masalah kita bukan hanya pada jumlah kaum miskin yang semakin bertambah. Masalah kita juga ada pada kelas menengan-atas yang terdidik. Pertumbuhan kelas mengah ini cukup signifikan tapi minus kesadaran (kepedulian) sosial. Kita cenderung hanya berjuang menyelamatkan diri sendiri tanpa memikirkan orang sekitar. Setiap hari kita makan dengan serba lebih tapi kita membiarkan tentangga kita kelaparan.

Padahal negeri ini tengah masuk dalam fase bonus demografi dimana kita diberkahi usia muda produktif yang terdidik. Bonus demografi ini diharapkan akan menjadi solusi-solusi yang menyelesaikan masalah dalam setiap lini. Namun, jika momentum ini tidak dimanfaatkan dengan baik, maka bonus demokrafi ini bisa berbalik menjadi kutukan demografi.

Mungkin ada baiknya kita mengambil pendapat Paulo Freire, pakar pendidikan dari Brazil. Beliau menginginkan agar peserta didik harus di bebaskan dari kesadaran magis dan naïf menuju kesadaran yang kritis. Kesadaran yang terakhir ini adalah kesadaran agar dengan pengetahuan, kita mampu melihat masalah secara struktural/system selanjutnya mentransformasikannya menjadi sebuah system ideal yang manusiawi.

Sebelum anak macan menjadi besar yang akan menerkam induknya, ada baiknya kita segra menciptakan formulasi cara mendidik yang baik. Sehingga anak macan tak akan menerkam induknya melainkan hidup dengan harmonis dengan induknya. Sembari berjuang menciptakan kesetaraan dalam dunia pendidikan, ada baiknya kita pula meformulasikan dengan baik system pendidikan bagaimana yang baik manusiawi. Sehingga anak-anak Indonesia tidak hanya cerdas melainkan memiliki moralitas yang tinggi.

Akhirnya, Buya Hamka pernah bertutur: “Keindahan seseorang tidak dilihat dari tampakan luar tapi seberapa besar kedalaman ilmu dan keelokan budi”.
 
Ini renungan buat kita semua. Terlebih saya. :)

Selamat Hari Buruh dan Hari Pendidikan.

~Makassar, 2 mei 2016