Minggu, 20 Februari 2011

Saya kurang sepakat dengan islam anda

“Gimana diskusinya?” Tanya seorang teman. Dia adalah teman sekaligus senior di kampus. Pertanyaan itu dimaksudkan pada saya untuk dijawab. Kebetulan saya terlihat baru keluar dari ruangan tempat diskusi itu berlangsung. Diskusi seputaran isu-isu yang tengah dihadapi oleh negeri kita,Indonesia. Tak luput juga ahmadiyah yang dibahas sampai adanya pendapat perlunya negara yang berideologikan islam.

“Lumayan seru dan panas”, kataku. Sebenarnya
dalam diskusi itu lebih menjelaskan tentang pertarungan ideologi dan bagaimana seharusnya sistem atau ideologi yang digunakan Indonesia. Beberapa alternatif disampaikan dalam forum. Juga tak lepas dari interupsi dengan menanggapi untuk sepaham, melengkapi juga ada yang tidak sepaham. Bahkan sampai ada bahasa-bahasa yang kurang berkenan untuk diucapakan. Namun beginilah kami, mahasiswa. Adu argumen adalah hal yang biasa dan harus meskipun perdebatan itu sangat ekstrim. Dan kami selalu memakluminya.

Ada sebuah argumen yang menjadi perdebatan yang cukup menarik dalam diskusi itu meskipun ada juga hal menarik lainnya. Yaitu perlunya revolusi islam dan Indonesia dijadikan negara Islam. Saya katakan “sebenarnya sepakat pada ideologi apa saja asalkan itu menegakkan kemanusiaan. Tapi jika anda menerapkan islam sebagai sebagai idoelogi negara maka islam yang bagaiman dulu?”. Pernyataan saya demikian tak lepas dari kondisi objektif yang ada di dunia. Banyak organisasi atau kelompok islam yang gerakannya dari yang libeal sampai ekstrimis begitupun juga dengan model pemerintahan islam yang diinginkan.

Islam tetap satu dan tidak akan berubah. Namun penafsiran tak jarang berbeda dan perbedaan itu islam telah mengakuinya. Intinya forum itu sepakat dengan adanya ideologi islam jika itu tidak merugikan pihak manapun. Karna hakekat islam selalu mengajak pada keadilan.

Di luar ruangan tadi, “kapan gabung dalam kelompok kami?” teman melanjutkan kembali pertanyaannya.

Sambil tersenyum dan saling berjabatangan (itulah kebiasan kami jika saling bertemu). Saya menjawab “Nantilah, yang pentingkan kita sama-sama memperjuangkan islam, agama rahmat sekalian alam”. Dan diselingi dengan sedikit tawa sebagai ungkapan persahabatan dan satu misi.

“Ah, perjuangan islam yang bagaimana?” katanya.
“Yang pastinya Islam yang membawa kedamaian” jawabku.

Ekpresi seorang teman tadi seolah dia mengklaim gerakannyalah yang harus diikuti karna mereka paling benar. Saya maklum atas sikap temanku itu. Sebenarnya percakapan dengannya masi ingin dilanjutkan tapi karna waktu shalat magrib telah tiba maka segera kami sudahi percakapan itu.

Dalam perjalan berpisah dengannya dalam hatiku berkata, “saya bukanlah islam demikian yang langsung menyalahkan saudara muslim lain yang berbeda dengan yang saya pahami”. Dan “jika seperti ini perjuangan anda saya kurang sepakat dengan islam yang anda pahami”

Makassar, 19 Februari 2011


Ingin ke Amerika

Negeri yang dikenal sebagai negeri paman sam ini terkenal dengan demokrasinya. Bahkan hampir setiap negara di dunia menjadikannya sebagai contoh model demokrasi. Namun realitas kebijakan luar negerinya tidaklah demikian. Amerika justru terlihat diskriminatif terhadap kelompok atau negara yang merugikan mereka. Dengan ini demokrasi Amerika sering disebut dengan demokrasi berwajah ganda. Demokrasi yang hanya dijalankan jika memihak kepada mereka dan tidak akan dijalankan jika merugikan mereka.

Terlepas itu, ketika mendengar cerita dari dosen yang usai pulang dari studi di Negara tersebut. Paradigma
saya melihat sisi lain. Menurut cerita seorang dosen, dalam negeri Amerika sungguh kebasan mengespresikan hak asasi manusia itu sangat di junjung tinggi. Memang, jika orang islam yang memasuki negara ini sangat diperketat bahkan harus mengalami pemeriksaan yang menunutut berbeli-belitnya prosedur. Tapi ketika kita telah mampu melewati pemeriksaan maka kita akan bebas menjalankan hak-hak kita. Dan mereka katakan ‘kamu sekarang bebas dan kami berkewajiban melindungimu’.

Kekagumanku juga terletak pada dunia pendidikannya. Dari segi fasilitas negara paman sam ini sangat jauh di depan dibanding negari kita Indonesia. Buku-buku, tekhnologi, manajemen birokrasi pendidikan dan semua hal yang berhubungan dengan pendidikan sangat menggugah untuk dikunjungi. Bahkan buku-buku karya anak Indoensia ada di perpustakaan dalam universitas. Padahal di Indonesia sendiri masih banyak perpustakaan sekolah atau kampus yang tidak memuat buku hasil karya anak negerinya. Sungguh ironis…!!!

Saya kadang bertanya dalam hati, ‘bagaimana Indonesia mau maju? Sementara Negaranya sendiri masih lamban memenuhi kebutuhan pendidikannya’. Namun perlu dimaklumi juga, Indonesai memperoleh kemerdekaan jauh lebih lama di banding Amerika. Apalagi kebebasan berdemokrasi baru ditegakkan belumlah lama yaitu sejak era reformasi sebagai akhir dari rezim orde baru (tahun 1998). Tapi sebagai negara yang ingin maju harusnya menjadi motivasi untuk meraih kemajuan dimasa depan. Jika tidak maka kita akan selalu menjadi negeri pengekor dan akan selau tergantung pada negeri yang lebih maju termasuk Amerika.

Makassar, 19 Februari 2011

Selasa, 15 Februari 2011

Pers masa depan

Pada tanggal 9 Februari beberapa hari yang lalu, pers memperingati hari ulang tahun yang kesekian kalinya. Dalam perayaan itu selain evaluasi kinerja juga agenda pers kedepan juga menjadi bahan pembicaraan. Mengevaluasi keberadaan pers hari ini tidak bisa terlepas kekuatan kuasa modal. Pers tidak bisa dikatakan objektif dalam pemberitaan. Hal ini
telah menjadi rahasia umum dikalangan para penggiat pers sendiri. Proses hadirnya informasi sampai kepenerima tidaklah apa adanya melainkan ada apanya yang tak lepas dari kepentingan atau nilai tertentu.

Kondisi ini memberikan sebuah stigma bahwa pers adalah sebuah media yang sangat erat kaitannya dengan tujuan komersial. Memang itu hal yang wajar, karna dunia globalisasi telah memutlakan uang sebagai alat untuk interaksi. Uang adalah sebagai sebuah kekuatan yang selalu mengarahkan semua hal termasuk pers. Singkatnya pers juga butuh dana sebagai energi penggerak eksistensinya.

Jika hal ini terus dan menjadi agenda prioritas dari pers maka pers yang harusnya menjadi alat penyadaran (pendidikan) akan bias dari tujuannya. Pers harus menjadi kampiun dalam mengontrol gerak gerik ketimpangan yang terjadi. Masyarakat sebagai tujuan pemberitaan dalam pers akan sadar sehingga memungkinkan mempercepat proses demokrasi. Oleh karena itu pemberitaan harus selalu memihak pada misi kemanusiaan.

Misi profetik, layaknya tugas sang nabi utusan Tuhan yang murni menyampaikan kebenaran tanpa ada pemihakan tertentu. Pemihakannya hanyalah kebenaran. Mereka tidak bergerak atas misi komersial melainkan misi kemanusiaan. Sejatinya inilah tugas pers yaitu menjadi media sosial yang dapat membantu transformasi sosial kearah perbaikan. Pers akan menjajikan informasi yang harus selalu sejalan dengan misi kemanusiaan. Sebisa mungkin melepaskan dirinya dari jeratan kekuasaan maupun kuasa modal.

Namun tidak pula dipungkiri, komersialisasi dalam pers tidak dapat dilepas. Pers juga butuh energi penggerak. Meskpun itu, tidaklah menjadi alasan untuk memalingkan dirinya dalam misi kemanusiaan. Semaksimal mungkin pers harus menjadi salah satu pahlawan perubahan. Artinya tujuan kemanusiaan harus diutamakan dibanding tujuan komersial. Dan inilah yang harus menjadi agenda pers kedepan.

Makassar, 14 Februari 2011


Hikmah maulid nabi Muhammad SAW

Tepatnya tanggal 12 rabiul awal tahun 571 Masehi. Seorang anak manusia lahir dari seorang ayah yang bernama Abdullah dan ibu yang bernama Aminah. Anak itu bernama Muahammad bin Abdullah. Kelahirannya diwarnai dengan peristiwa penyerangan salah satu kelompok (suku) dengan menunggangi gajah yang akan menghancurkan ka’abah. Peristiwa itu menandakan pada waktu itu konflik antarmanusia masih sering terjadi.

Kelahiran Muahammad SAW ini nantinya akan membawa wajah baru di masyarakat arab. Sebelumnya kehidupan masyarakat arab yang sangat timpang. Tindakan tak bermoral
mewarnai kondisi waktu itu. Ketimpangan antara si kaya dan si miskin sangat jauh berbeda. Tindak eksploitasi sesama manusia tak jarang terjadi. Maka dengan hadirnya Muhammad SAW maka semua akan berubah. Meskipun banyak tantangan yang dihadapai dalam mennyebarkan ajaran Tuhan namun beliau tetap istiqamah. Sehingga perubahan itu pun mendapatkan hasilnya. Beliau dapat mendirikan sebuah pemerintahan di madinah yang sangat menjunjung tinggi persamaan antarmanusia.

Banyak faktor ang menyebabkan Muhammad SAW dapat mencetuskan perubahan itu. Selain ajaran yang dibawanya sangat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Juga kharisma individu yang cukup memikat hati masyarkat arab saat itu. Beliau memiliki akhlak mulia yang ketika orang bersamanya akan merasa tentram. Muhammad SAW tidak pernah memposiskan diri sebagai manusia yang lebih. Beliau sangat menghargai dan menyayangi sesamanya.

Melihat sejarah emas yang diciptakan beliau maka umat islam seluruh dunia selalu memperingati hari kelahirannya. Umat muslim menganggap hari itu adalah sebuah bentuk penghargaan kepadanya. Namun peringatan itu akan menjadi sia-sia jika hanya sebatas pelaksanaan seremonial belaka. Jika dimaknai secara subtansial harusnya hari kelahiran ini dijadikan momentum untuk mengenang sekaligus merefleksikan segala akhlakul qarimah (akhlak baik) yang dimilikinya. Sehingga dapat menciptakan kehidupan yang rukun antara manusia meskipun berbeda dalam hal segala hal termasuk dalam beragama.

Apalagi kondisi Indonesia sekarang masih sering terjadi permusuhan. Salah satu cara untuk keluar dari masalah ini adalah menjadikan kehidupan Rasullulah SAW menjadi panutan. Karna beliau perna mengalami masa dimana konflik antara manusia itu sering terjadi. Sang rasul dipertemukan dengan berbagai kelompok yang saling berbeda dalam masyarakat. Namun beliau dapat mengatasinya, terbukti dengan lahirnya negara madinah yang merangkul semua kelompok yang berbeda dan dapat hidup rukun.

Sabtu, 12 Februari 2011

Tionghoa dan demokrasi di Indonesia

Tionghoa atau di kenal sebagai warga cina adalah etnis yang cukup diperhitugnkan di Indonesia. Dari segi ekonomi mereka di kenal sebagai para pekerja keras. Lihat saja ekspansi ekonomi pada hampir seluruh kota di Indonesia. Namun sejarah pernah menggoreskan tentang cerita yang berbeda pada komunitas tionghoa. Yaitu tindak diskriminasi hampir seluruh aspek khidupannya hingga keyakinan beragama yang diyakini oleh banyak orang sebagai ruang pribadi antara manusia dan tuhannya.

Perayaan imlek secara terbuka yang dirayakan oleh etnis tionghoa di Indonesia adalah bukti demokrasi di Indonesia mulai ditegakkan. Sebelumnya pada masa orde baru, Indonesia dikenal sebagai Negara yang sangat otoriter terhadap rakyatnya. Selama 32 tahun di bawah
kepemimipnan Suharto, rakyat Indonesai telah kehilangan hak asasi antara lain adalah hak, ekonomi, politik maupun agama. Tak terkecuali warga tionghoa di Indonesia.

Tionghoa di Indonesai terbilang sebagai komunitas minoritas. Mereka telah ada sejak masa pra kemerdekaan Indonesia bahkan mereka juga dikenal terlibat dalam kemerdekaan Indonesia. Namun sejak kemerdekaan direbut dari tangan penjajah maka makna kemerdekaan kembali diplintirkan oleh penguasa. Lebih tegasnya lagi oleh penguasa orde baru.

Komunitas tionghoa dilihat sebagai ancaman yang serius bagi kekuasaan orde baru. Hal ini tidak bisa dilepas dari trauma perang dingin yang tejadi pasca perang dunia ke dua. Perang dingin kita ketahui sebagai perang ideologi untuk merebut hegemoni dan penguasaan tunggal di dunia. Dimana pada fase perang dunia ini, terjadi dua kekuasaan besar atau dua kekuasaan yang terlibat dalm perang yaitu blok barat dan blok timur. Blok barat terdiri dari negara Amerika dan Negara-negara eropa bara sedangkan blok timur diwakili dengan negara-negara yang tergabung dalam Unisoviet yang diantaranya adalah cina.

Perang ideologi yang dijalankan secara halus tanpa perang fisik adalah cirri kahs dari fase perang dingin ini. Komunisme yang dimiliki oleh blok timur selalu bertentangan dengan kapitalisme yang dianut oleh blok barat. Pertentangn ini selalu dan akan terus berlanjut karna di latar belakangi oleh cita-cita kehidupan yang berbeda. Pada saat itu Indonesia tidak terlibat dalam perang dingin tersebut dan mengklaim dirinya bersama Negara dunia ketiga lainnya sebagai Negara non blok atau tidak memihak pada salah-satu blok yang berseteru. Namun dalam dinamikanya kemenanganpun dimiliki oleh penguasa blok barat. Sehingga cengkraman kekuasaanpun berimbasa pada Negara dunia ketiga tak terkecuali Indonesia. Artinya Indonesia telah hari ini secara substansial telah terjebak dalam pengaruh kekuatan blok barat yang di pegang oleh Amerika dan sekutunya.

Ketertundukan Indonesia pada blok barat ditandai dan diawali pada jatuhnya rezim orde lama yang dipimpin oleh sukarno dan digantikan oleh Suharto yang kenal dengan rezim orede baru. orde baru menjadi kaki-tangan penguasa blok barat di Indonesia. sejak itu, segala hal yang mengancam kekuasaan orde baru akan mengalami perlakuan yang diskriminatif. Apalagi mereka yang dicurigai sebagai penganut komunisme. Merekalah komunitas tionghoa.

Ketakutan orede baru itu membuat hak-hak ekonomi, politik, budaya maupun agama waraga tionghoa mengalami penyempitan ruang gerak. Dari segi politik, tidak hanya warga tionghoa namun juga warga pribumi Indonesia sendiri harus tetap tunduk pada mesin politik orde baru. orde baru melakukan pembatasan beraspirasi untuk menjaga kekuasaannya tetap eksist. Tidak ada satupun partai tionghoa yang ada di zaman orde baru. Begitu juga dari segi ekonomi, dimana warga tionghoa yang di kenal sebagai komunitas yang mampu bersaing secara ekonomi mengalami keterbatasan langkah ole orde baru. bahkan di zaman reformasi sekarang pun banyak warga tionghoa di temui sebagai korban- korban represi orde baru, misalnya di daerah di Kalimantan barat, tempat basis tionghoa.

Meskipun symbol karna diliahat sebagai ancaman maka harus di batasi, begitupun yang tejadi pada kebebasan berbudaya. Di masa orde baru ini warga tionghoa mengalami pengucilan dari segi budaya. Symbol marga yang terdapat pada nama harus di sesuaikan agar tidak terkesan sebagai orang tionghoa. Selain itu tarian barongsai di zaman orde baru tidak bias di tampilkan di muka umum. Begitu juga dengan kebebasan beragama, perayaan hari raya tionghoa (imlek) tidak pernah dirayakan secara terang-terangan. Bahkan layaknya hari raya agama lain (islam, Kristen, hindu, budha dan hindu), hari raya Imlek tidak di hargai sebagaimana hari raya agama lain yang dijadikan hari liubr nasional.

Inilah contoh begitu kejamnya orde baru terhadap warga tionghoa. Namun pasca reformasi dgulirkan atau di tumbangkannya rezim orde baru, kebebaan itu mulai longgar. Presiden pertama era reformasi telah membuka kerang demokrasi kepada seluruh warga Indonesia. Kegiatan ekonomi, politik maupun budaya telah di bebaskan bagi siapa saja tak terkecuali warga tionghoa. Bahkan tercatat ada partai tionghoa yang sempat berdiri pada pemilihan umum (pemilu) 1999. Di antaranya adalah partai bhineka tunggal ika dan partai Reformasi tionghoa Indonesia. Bahkan dari partai bhineka tunggal ika telah menempatkan satu orang wakilnya di DPR, L Susanto, sebagai perwakilan dari Kalimantan barat.

Sejak saat itulah seluruh warga Indonesia memiliki hak yang sama untuk terlibat dalam upaya membangun tatanan sosial di Indonesia. Dalam perkembangannya kini mereka telah banyak terlibat dalam kegiatan politik Indonesia. Sejak tumbangnya orde baru di Indonesia, banyak warga tionghoa yang menduduki kursi parlemen maupun eksutif. Salah-satu contohnya adalah tokoh nasional Kwik Kian Gie sebagai menteri sebagai Menteri Koordinator Ekonomi (1999 - 2000) dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional & Ketua Bappenas (2001 - 2004).

Kebebasan itu di pertegas kembali sejak KH Abdurrahman Wahid menjadi presiden republik Indonesia. Presiden yang dikenal dengan bapak pluralisme semakin mmeberikan kebebasan pada siapa saja untuk bersuara. Hari raya imlek kemudian di jadikan sebagai hari libur nasional. Juga, tari barongsai yang pada masa orde baru tidak pernah ditampilkan di public kini telah banyak di kenal oleh masyarakat umum. Begitu juga dengan kebabasan layaknya etnis lain di Indonesia.


Selasa, 08 Februari 2011

Melukis dalam kata (sebuah sajak untuk dia)

Sosok itu membuat semua terhenti
gaduh menjadi senyap
Lari menjadi jalan
Dan mereka yg berjalan pun menjadi duduk
Dan akhirnya, kata seorang sahabat: kamu ngelamun ya…?

Pengandaian menggambarkan realitas
Tuhan tidaklah sia-sia menciptakan mahluknya termasuk manusia
Mungkin sukarno benar
Dia perna berkumandang
Tak ada salahnya aku memuji dan mencintai seorang wanita
Karna dalam dirinya termanifestasi sifat Tuhanku
Sifat pengasih, lembut, perhatian dan semua sifat yang oleh kaum adam menyukainya

Dan aku berharap dia tak hanya di luarnya saja
Namun saya yakin bahwa dalam hatinya tak beda dengan sosok luarnya
Dia manis kataku dan demikian pula hatinya
Amin… katanya

Makassar, 6 Februari 2011

Investasi Paling Berharga, Yuk!!!

Ketika kita mendengar kata inventasi maka sebagian orang akan tertuju pikirannya pada bagaimana melakukan penanaman modal (uang) untuk masa depan ekonomi. Mungkin karna pada saat sekarang kebanyakan orang terlalu berpikir ekonomis. Terlepas dari itu, berivenstasi yang dimaksudkan disini memberikan perhatian pada diri kita untuk menginvestisikan waktu kita untuk ilmu pengetahuan.

Sebulan sudah kita meninggalkan tahun 2010. Harusnya bulan pertama kemarin (januari) kita menunjukan perubahan yang lebih positif dibanding bulan-bulan sebelumnya. Tapi seandainya itu tidak maka justru akan menjadi penyesalan. Dan bagi yang berkeinginan
untuk berivenstasi ilmu pengetahuan maka harus menjadikannya sebagai alat koreksi.

Bulan ini harusnya sebagai bulan kebangkitan. Apalagi tahun ini diyakini oleh saudara-saudara kita etnik tionghoa sebagai tahun kelinci yang merupakan tahun keberuntungan. Dan tepatnya lagi diawali ada bulan Februari pada tahun ini. Oleh karna itu baiknya kita jadikan sebagai waktu yang berharga untuk berivenstasi pengetahuan untuk di petik buahnya pada waktu-waktu berikutnya. Namun jika kita hanya melewatkan begitu saja maka akan menjadi awal yang merugikan.

Ingat, hidup ini semakin hari semakin mendapat tantangan. Jika kita tidak siap menghadapinya maka kita akan digilas oleh segala tantangan itu. Namun jika kita menyiapkan diri kita dengan bermodalkan ilmu maka hari demi hari akan dilalui tanpa beban yang berat. Karna ilmu ibarat pedang yang akan memotong-motong kerasnya batu kehidupan. sekeras apapun baru itu jika kita memiliki pedang yang tajam dan kuat maka kita akan bisa mengahancurkannya. Sebaliknya, selunak apapun batu itu jika kita memiliki pedang yang tidak tajam dan rapuh maka tak akan bisa dihancurkan.

“Yang kita takutkan hari ini bukan karna tidak mendapatkan harta tapi jangan sampai kita tidak mendapatkan ilmu”. Demikian kata orang bijak. Betapa pentingnya ilmu hingga hartapun harus menjadi hal yang di nomor duakan. Memang, harta tanpa ilmu maka akan cepat lenyap tapi jika kita berilmu maka harta dengan sendirinya akan datang. Lihat saja para koruptor mereka adalah golongan manusia-manusia yang yang berilmu. Meskipun caranya tidak etis tapi inilah keunggulan mereka yang berilmu.

Kemiskinan di negeri ini salah-satunya disebabkan karna kurangnya sumber daya manusia (SDM). Sumberdaya manusia yang rendah akan berproduktivitas yang rendah pula. Dengan tantang zaman yang semakin keras maka mereka akan terkalahkan dan mereka akan jatuh dalam kubangan kemiskinan. Kembali lagi pada kemiskinan. Kemiskinan akan mengahasilkan SDM rendah dan dari SDM yang rendah akan berproduktivitas yang rendah pula. Dan akhirnya akan kembali pada kemiskinan. Hal ini akan terus menerus berputar dan akan terjebak pada lingkaran setan yang tak putus.

Kalau di sederhanakan akan menjadi demikian : miskin - pendidikan rendah - SDM rendah - prduktivitas rendah - ekonomi rendah (miskin). Dan dari miskin akan berputar kembali. Oleh karna itu perlu ada pemangkasan di salah satu rantai dari siklus tersebut. Kiranya yang cocok sekarang adalah memberikan pendidikan atau inilah yang disebut dengan berinvestasi dengan ilmu.

Mungkin kita akan berpikir bahwa tidak mungkin menjalankan pendidikan yang baik sementara ekonomi si miskin masi memprihatikan. Btul !!!, tapi menurut penulis harus ada upaya menggalakan pendidikan kepada si miskin sebagai sindiran kepada pemerintah yang tak mampu bertanggung jawab mencerdaskan si miskin. Sebagai contoh misalnya gerakan Indonesia mengajar (GIM) yang di gagas oleh Anis Baswedan (Rektor Universitas Paramadina). Tapi itu hanyalah salah-satu contoh dari kreativitas anak bangsa untuk pendidikan. Dan tentunya kita masih punya sejuta kreativitas.

Lagi pula kadang paradigma pendidikan kita selalu terkungkung pada sekolah formal saja. Seolah pendidikan formalah yang dimaksudkan sebagai pendidikan. Sementara alam semesta yang terdapat di luar ruangan sekolah formal masih menyediakan pengetahuan yang luas dan justru kadang lebih baik. Sudah banyak kisah yang menceritakan kesuksesan manusia dan ilmuwan yang belajar dari alam sehingga menemukan karya-karya besarnya. Dan banyak yang tidak tersedia di ruang-ruang kelas sekolah formal.

Bukankah, seorang filsuf yunani kuni, Plato, pernah berkata: Jadikanlah setiap tempat yang kau temui adalah perpustakaan bagimu dan setiap orang yang kau temui adalah guru bagimu. Maka marilah kita menginvestasikan waktu untuk memperoleh pengetahuan baik untuk kita maupun pada orang lain.

Salam

Sabtu, 05 Februari 2011

Mohamed Bouazizi, tokoh dunia

Mungkin sedikit orang yang mengenalnya. Tapi inilah seorang pedagang kaki lima Tunisia yang membakar dirinya. Aksi itu bukanlah tanpa alasan. Dia hanyalah sosok dari sekian rakyat Tunisia yang menjadi korban rezim Zine al- Abidine Ben Ali. Karna gerobak dangangannya digusur oleh petugas keamanan Tunisia, dia nekat bunuh diri dengan membakar dirinya.






(gambar: google.com / M bouazizi sebelum dan setelah membakar diri)

Mungkin sebagian orang akan menyebutnya orang gila. Tapi itu adalah ekspresi rasa frustasi yang dialaminya. Dia bukan hanya kecewa karna kehilangan gerobak dagangannya tapi dalam dirinya telah terakumulasi kekecewaan yang sangat terhadap
kesewenang-wenangan rezim penguasa. Sebenarnya yang merasakan kekecewaan itu bukan hanya dia seorang tapi jutaan warga Tunisia pun merasakannya.

Setelah mendegarkan peritiwa itu, rakyat Tunisa pun bergejolak. Mereka melakukan aksi demostrasi menuntut penurunan pemerintahan yang dipimpin Dialah Zine al- Abidine Ben Ali itu. Dan singkat cerita keinginan mereka terkabulkan dengan digulingkannya rezim Zine al- Abidine Ben Ali.

Krisis politik ini kemudian mengilhami rakyat Mesir. Rakyat Mesir sama halnya dengan Tunisia yang dipimpin oleh rezim yang otoriter. Aksi besarpun terjadi di mesir untuk menurunkan presiden Hosni Mubarak sebagai dari jabatannya. Meskipun sampai sekarang (artikel ini ditulis) presiden Hosni Mubarak belum turun namun banyak yang memprediksi pasti akan turun, cepat atau lambat.

Dalam beberapa sejarah perubahan sosial, mengharuskan adanya tokoh penggerak sehingga terjadinya perubahan. Namun dalam gerakan di Mesir maupun di Tunisia tak adapun satu tokoh yang memimpin dan memobilisasi rakyat untuk bergerak. Yang mempersatukan mereka hanyalah media massa terutama media elektronik seperti facebook, twitter, hp dan lainnya. Dan dengan media itu mereka dapa saling berkordinasi tanpa ada tokoh perubahan.

Menurut penulis, tidaklah demikian. Justru tokoh yang berhasil menggerkan rakyat Tunisia adalah seorang pedagan kaki lima. Dialah Mohamed Bouazizi yang membakar dirinya. Karna itulah rakyat Mesir maupun Tunisia bergerak secara terbuka. Dia adalah simbol perlawanan kepada rezim berkuasa.

Mohamed Bouazizi tidak sama dengan tokoh revolusi lain di dunia. Dia tidak sama dengan Che Guevara dari Argentina. Dia juga tidak sama dengan Imam khomeini di Iran. Che Guevara dan Imam Khomeini terlibat dan berjuang bersama secara langsung dalam gerakan. Namun Mohamed Bouazizi tidak demikian. Sehingga dia dianggap bukan sebagai tokoh dunia.

Tapi bagiku dialah tokoh dunia sekarang. Karnanya, dunia terutama di timur tengah terilhami oleh aksinya untuk melawan pemerintahnya. Oleh karna itu tidak menutup kemungkinan gerakan rakyat Tunisia dan Mesir akan menjangkiti negara lain di dunia. Dialah ibarat bendungan yang menahan air pemberotakan. Ketika dia menghancurkan dirinya maka bendungan itu akan jebol dan pemberontakanpun terjadi.

Salam

Jumat, 04 Februari 2011

Kampungan???

Judul artikel ini, selalu di artikan oleh sebagian besar bahkan semua orang sebagai orang yang ketinggalan zaman. Biasanya term ini digunakan oleh masyarakat perkotaan (urban) untuk diberikan kepada orang yang tidak mengikuti perkembangan zaman. Umumnya diperuntukan untuk orang-orang yang tinggal di pedesaan. Hal ini disebabkan karna perkembangan zaman selalu berpatron pada kehidupan masyarakat urban.

Masyarakat kota adalah masyarakat yang sangat rentan dengan kebudayaan barat. Karna di sanalah arus informasi berkembang dengan cepat. Sedangkan di desa (kampung) mobilitas informasi kurang berkembang. Konsekuensinya masyarakat pedesaan akan
sedikit terkontaminasi dengan kebudayaan barat. Sehingga inilah sebab, kenapa kebanyakan orang desa disebut dengan orang kampungan.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang selalu membawa karakter dan nilai yang baru (asing). Di mana arus perkembangan IPTEK ini tanpa di sadari telah digunakan beserta nilai (kebudayaan) yang dibawanya. Perkembangan IPTEK di era globalisasi ini, pada umumnya berasal dari barat. Artinya nilai yang dibawa IPTEK adalah nilai atau keudayaan barat. Sehingga yang menjadi standar masyarakat perkotaan untuk menjustifikasi orang lain sebagai manusia yang kampungan adalah standar barat atau kehidupan model barat.

Kehidupan masyarakat perkotaan yang cenderung bebas. Bebas yang tak jarang melampaui norma yang berlaku di masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia yang berkarakter spiritual berbeda dengan barat yang tidak terlalu memperhatikan spiritual (sekuler). Sehingga nilai kehidupan (kebudayaan) barat akan tidak sesuai dengan masyarakat Indonesia (timur).

Namun, tidak semua kata kampungan yang diberikan kepada masyarakat pedesaan selalu bernilai negatif. Tidak semua kebudayaan barat selalu bertentangan dengan norma yang berlaku di Indonesia. Justru kita harus terbuka dengan berbagai informasi agar dapat mengimbangi kehidupan dengan dinamika yang semakin tak menentu.
Memang, kebudayaan adalah identitas. Oleh karna itu kita harus melakukan upaya kritis dalam menerima bentuk kebudayaan lain. Sehingga identitas yang kita miliki tidak memudar dan kita dapat mengambil nilai-nilai postif dari kebudayaan lain.

Terkait dengan label kampungan yang selalu diberikan kepada masyarakat yang tidak mengikuti perkembangan zaman. Maka perlu kiranya melakukan redefinisi terhadap term ‘kampungan’ ini. Yang terjadi sekarang adalah kampungan sebagai pembeda bagi orang yang tidak mengadopsi kebudayaan barat negaitif. Kebudayaan barat yang hedon, individualis, pergaulan bebas dan lainnya tidaklah pantas untuk dijadikan sebagai standar kampungan bagi masyarakat pedesaan. Justru masyarakat pedesaanlah harus diberikan apresiasi karna kurang terlibat dalam kebudayaan ala barat seperti yang disebutkan sebelumnya. Karna kampungan yang didefinisikan oleh kebanyakan masyarakat uban adalah hal yang salah dan justru mereka terjebak dalam keadaan yang salah. Atau bisa dikatakan sebagai orang yang meras benar di jalan yang salah.

Sejatinya, kata kampungan dilabelkan kepada masyarakat yang tidak mengadopsi kebudayaan asing yang posoitif. Misalnya disiplin, bersaing saing dalam perkembangan tekhnologi atau pengetauan, rasional, ulet, simpati kepada orang lain dan berbagai hal positif lainnya yang mulai hilang dalam budaya masyarakat Indonesia. Inilah yang harus dijadikan definisi bagi kampungan. Bagi masyarakat yang tidak menggunakan hal-hal positif tersebut maka patut diberikan label bahwa dia adalah masyarakat yang kampungan.

Makassar, 3 Februari 2011

Keadilan Nurani Vs Keadilan Hukum

Peliknya penegakan hukum di negeri ini telah menuai banyak protes. Kasus century yang sampai hari ini belum mendapatkan penyelesaian yang jelas. Begitu juga dengan kasus gayus. Belum selesai kedua kasus itu kini muncul permasalahan baru tentang seorang nara pidana Artalyta atau yang dipopuler disebut Ayin. Dalam kasusnya, Ayin telah melakukan tindakak kejahatan terkait korupsi, penyuapan dan penyalah gunaan wewenang. Dengan terbuktinya kasus tersebut sehingga dia akhirnya masuk dalam bui. Seperti halnya nara pidana yang lain, sepengetahuan masyarakat umum dia mendapat perlakuan yang tak berbeda. Namun, ternyata apa yang disangka oleh masyarakat tidaklah demikian adanya. Ketika satgas pemberantasan mafia hukum melakukan inspeksi mendadak ternyata Ayin
dengan kekuatan uangnya telah menyulap rumah tahanan menjadi hotel dengan fasilitas yang begitu mewah.

Inlah wajah hukum di negeri yang katanya negeri yang menjunjung tinggi keadilan ini. Melihat beberapa realitas hukum ini, negara seolah tak berdaya untuk menghadapi mereka yang terlibat dalam konspirasi perusak hukum ini. Dengan uang mereka bisa melakukan apa saja. Bisa keluar masuk penjara, bisa mendapatkan fasilitas hotel dalam penjara dan semua adalah karna uang. Uanglah yang berkuasa di negeri ini. Keadilan bisa terkalahkan dengan uang. Mesekipun sudah jelas bersalah namun bagi yang memiliki uang akan menjadi benar. Bahkan parahnya, hukum dijadikan oleh
pihak-pihak tertentu sebagai alat untuk mengadili lawan-lawan politik. Sebaliknya, bagi mereka yang tak memilik uang merekalah yang akan mudah terjerat oleh hukum. Makanya ada ungkapan yang cocok buat negeri ini negeri ini : Orang miskin dilarang mencuri.

Sudah banyak kasus hukum yang menjerat saudara-saudara kita yang miskin. Salah satu contohnya seorang nenek yang mencuri tiga buah biji coklat karna urusan lapar maka dengan tanpa kompromi dia langsung di hukum. Bandingkan dengan gayus atau kasus penyupan yang di lakukan oleh Ayin. Bagi mereka yang bernurani akan berkata: sungguh miris keadilan di negeri ini. Artinya mereka yang terlibat dalam penyandaraan hukum ini adalah tidak memiliki hati nurani.

Namun ternyata hukum di negeri belumlah puas membuat hati nurani ini bersedih terlebih bagi mereka yang miskin. Kabar si Ayin untuk keluar dari tahanan semakin menegaskan bahwa hukum telah memihak bagi para koruptor ataupun penyuap. Selain itu, sebelumnya juga Aulia Pohan juga mengalami pembebasan bersarat. Dia adalah terdakwa korupsi aliran dana Bank Indonesia yang juga sebagai mbesan dari Presiden SBY. Padahal, imbas dari apa yang mereka lakukan sangat besar. Bahkan bisa mengalahkan para ‘teroris’.

Memang menurut hukum yang berlaku di negeri ini, hal itu sudah sesuai dengan prosedur. Tapi haruskah sistem hukum ini berlaku demikian? Yang kita ketahui bersama telah menciderai keadilan di negeri ini. Hukum di negeri ini telah menjadikan uang sebagai parameter keadilan. Sementara lubuk hati nurani manusia yang suci tidaklah bisa dikompromikan dengan uang atau apapun. Yang namanya tidak adil maka tetap tidak adil. Meskipun prosedur hukum telah mengatakan keadilan namun keadilan yang dirasakan oleh hati nurani belumlah di dapatkan di negeri ini.

Mungkinkah hukum ini di buat oleh mereka yang memiliki kepentingan politis? Ataukah mereka yang tidak memiliki hati nurani? Sehingga keadilan hanyalah bersifat empirisme dan tidak menyentuh kemanusiaan yang dirasakan oleh hati nurani? Yah, bisa jadi demikian.


Makassar, 30 Januari 2011