Rabu, 19 Agustus 2015

Bertemu dengan sidik jari

Akhir-akhir ini aku malam menulis. Bukan karena tidak ada bahan untuk diuraikan. Bahkan materi di gudang kepala cukup melimpah. Bahkan suasana yang mendukung untuk menulis pun sangat bersahabat karena saya yakin setiap orang punya kondisi-kondisi yang baik untuk membuatnya lebih lancar dalam menumpahkan ide-idenya dalam sebuah tulisan.

Sebenarnya bukan hanya karena faktor kemalasan. Saya disibukan dengan aktivitas yang prioritas, meskipun menulis jg masuk dalam daftar agenda yang perlu diprioritaskan. Tapi harus saya akui bahwa saya lebih memprioritaskan agenda yang lain dulu (agenda ribadi, tak usah dibocorkan. Hehehe).

Soal dunia tulis menulis, setiap orang memiliki gaya menulis tersendiri. Kita tidak harus mengikuti gaya tulisan orang lain meskipun itu tidak dilarang. Kita punya “sidik jari” sendiri dalam menulis. Maka menulislah dan biarkan tulisan (gaya tulisan) itu menemukanmu. Demikian kata seorang penulis hebat yang kami pernah berdiskusi dengannya.

Disela-sela waktu kosong, tanpa sadar saya membuka file-file tulisan yang pernah saya tulis. Ada banyak keunikan bahkan keanehan hingga saya harus tertawa. Pun selalu ada inspirasi (hikmah) yang saya selipkan dari setiap tulisan bagi yang teliti memaknainya. Karena bagiku tulisan bukan hanya sekadar melimpahkan isi ke atas kertas putih kemudian selesai tapi tulisan adalah media penyebar hikmah.

Atas pembacaan itu, pada akhirnya tulisan telah menemukan saya. Kami saling bertemu dan saling memaknai. Saya memaknai bahwa saya memiliki beberapa gaya menulis. Itulah sidik jari menulis itu. Akan ada saat saya akan mengasah lagi hingga sidik jari itu, mungkin akan lebih mefokuskan lagi. Kami saling menemukan karana saya selalu menemuinya dalam tulisan. Menulis adalah proses yang terus menerus sehingga kita dan sidik jari akan saling bertemu. Semoga.

~Makassar, saat kebosanan menyerangku. 17 Agustus 2015.  Selamat HUT RI Ke-70

Senin, 17 Agustus 2015

Has Indonesia gotten the real Independence?

Every year since Indonesia get a independence, Indonesia always commemorate the independent day. Independent day is the important day for Indonesian citizen because this is a great moment in which Indonesia has been freedom from the practice of colonialism who is done by the colonialist nations. Exactly, August 17 1945, Sukarno and Moh. Hatta, both our founding fathers, proclaimed Indonesian Independence that Indonesia had been freed itself and must achieve freedom perfectly from the other countries (colonialist).

Independence is always gotten with struggle. Our heroes fight colonialist with sacrificing all of their life hope Indonesian people can enjoy how become the free country without intervention from colonialist. But nowadays, many people do not still enjoy and always protest to government about discrimination so that they are given prosperity and justice by the government because according to them, Independence is about liberty, egality and justice. 

Sukarno ever gave message to young Indonesian’s generation. He said: “ Our struggle is easier than your struggle. Our enemies are very easy to identify that they are foreigners who generally they have the white skin, their body is tall or their hair is colored. Meanwhile your era will be difficult because your enemies from your community or Indonesian people such as your government”. This statement explain that Independence is not statical but every generation have challenges and must be always overcome it.  

Sukarno has aim to Indonensia in which he want to create the really fair society. He calls: “Trisakti”. This term (trisakti, red) describes that Indonesia must achieve the political independence, the strong economy without intervention from the orther sides  and having the habit/characteristic depend on culture (local wisdom). Futher, Moh. Hatta said: “It is not democracy if we have gotten democracy of economy, We do not get democracy of politics yet. Contrary, It is not democracy if we have gotten democracy of politics but we have not gotten democracy of economy”.

Statements above define that independence is condition where Indonesian people should be free from all of the injustices and colonialism, either physically or ideology. In life of nation state, many anomalies which are not accordance with our Indonesian’s purpose. We adopt liberal political system so Indonesia to be extremely freedom even lot of people violate morality rules. Our government apply the capitalism economy making the big gap between poor and rich people. Utilizing the foreign culture without selecting so unconsciously we have forgotten our local wisdoms.

The last, I still want to give us question: Have we gotten the really independence? 

*belajar nulis pake bahasa inggris. hehehe.... mohon koreksi jika ada yg salah terutama dalam grammar.

~Makassar, August 16, 2015


Senin, 03 Agustus 2015

Dia; antara bakat dan gengsi sosial

“Dia” tampak kebingungan. Bukan hanya dia, temannya pun sama seperti dia, kebingungan. Sudah sering dia mendengar pertanyaan: kamu kuliah di jurusan apa?. Bingung. Sindrom ini biasanya menyerang siswa-siswa sekolah yang baru selesai menamatkan pendidikannya di tingkat sekolah menengah atas kemudian ingin melanjutkan ke tahap universitas. 

Sebenarnya tidak semua siswa kebingungan seperti ini karena telah ada yang selesai dalam persoalan ini. Mereka sudah tahu apa yang harus mereka pilih bahkan apa yang harus mereka lakukan nanti untuk mengembangkan ilmu mereka. Jika ditanya soal seluk beluk pilihannya, meraka sudah memiliki peluru argumen untuk menyerang siapun yang mengajak berdikusi. Beruntunglah orang-orang yang demikian.

Jurusan kuliah dalam komunitas masyarakat tertentu, menjadi prestise tersendiri. Ada jurusan-jurusan yang dianggap bergengsi. Secara otomatis ada yang dianggap sebagai jurusan yang levelnya di bawah. Konstruksi pemikiran ini telah membudaya dalam memori masyarakat tersebut dan mungkin hampir seluruh atau bahkan seluruh masyarakat dimanapun. 

Level jurusan
 
Tentunya ada pertimbangan-pertimbangan mengenai system hirarki jurusan kuliah. Umumnya, masyrakat akan melihat derajat jurusan beradasarkan prospek masa depannya, apakah cepat mengasilkan uang atau tidak. Sedang yang masa depan yang peluang untuk menghasilkan uangnya kecil akan dipandang sebelah mata. Contohnya kuliah dikedokteran, bagi komunitas masyarakat tertentu jurusan ini adalah jurusan yang memiliki lderajat cukup tinggi. Apalagi di masyarakat tersebut yang kuliah di bidang ini sangatlah jarang.

Dia bingung bukannya dia belum memilliki pilihan kuliah, dia sudah memiliki itu. Tapi keraguan atasnya adalah dia belum yakin tentang pilihannya. Saya menyimpulkan demikian, setelah saya mengajukan pertanyaan kembali: Kenapa kamu pilih jurusan itu? Saya disuruh orang keluarga. Demikian katanya. Kamu sudah tahu tentang jurusan itu? Misalnya, bagaiamana proses kuliahnya, apa yang dipelajari nanti? Masa depan kerjanya bagaiamana? Tatapannya kosong, dia diam. 

Dia bingung tentang dirinya. Dia seolah tidak punya kemerdekaan untuk menentukan pilihan-pilihan dalam hidupnya khususnya persoalan dimana dia harus kuliah. Dia sama dengan saya atau juga sama dengan yang lainnya ketika berada pada ruang waktu yang dia berada sekarang. Ini fenomena umum yang banyak terjadi. Cara berpikir masyarakat kemudian diterima oleh setiap keluarga, kemudian keluarga mentransformasikan kepada anak-anaknya yang akan memiliki jurusan kuliah. 

Dia hanyalah menerima cara berpikir masyarakat, berikut keluarga. Bahwa jurusan yang bagus adalah hasil konstruksi berpikir masyarakat. Bidang kuliah yang bagus adalah yang memiliki peluang terserap dalam dunia kerja sangat cepat dan yang kurang baik untuk dipilih adalah yang peluangnya sedikit. Tidak ada yang salah dari cara berpikir demikian, justru perlu menjadi poin penting dalam pertimbangan-pertimbangan sebelum menjatuhkan pilihan. Namun, akan menjadi keliru jika point itu hanya menjadi satu-satunya faktor kemudian faktor yang lain disingkirkan. 

Dia adalah manusia, bukan robot yang bisa dikendalikan dengan remot. Dia memiliki sisi kemanusiaan yang punya rasa untuk dihargai, dimana pada dirinya telah dilengkapi potensi (bakat) yang harus dikembangkan. Potensi itu setiap manusia berebeda-beda sehingga bidang keahlian yang akan dikuasai nanti pun akan berbeda pula. Inilah bagian yang sangat penting untuk dihargai dalam pertimbangan-pertimbangan itu.

Banyangkan jika kita mengikuti paradigma berpikir masyarakat di atas bahwa jurusan kuliah yang ideal adalah yang hanya memiliki pontesi terserap dalam lapangan kerja kedepannya, sedangkan pertimbangan minat bakat menjadi terabaikan. Jika dia dan semua dia yang lain belajar kedokteran, lantas, siapa yang akan ahli dibidang ekonomi dan mengurusi urusan-urusan ekonomi? Siapa yang akan menjadi ahli hukum?  Ilmuwan politik? Ilmuwan fisika? Dan lainnya? Atau pertanyaan lainnya adalah apakah semua dia yang berkuliah dikedokteran akan bahagia dan ahli dibidang itu? 

Tahukah, bahwa banyak dia yang kuliah dijurusan tersebut (baca: kedokteran) masih belum sadar bahwa seungguhnya mereka tidak cocok untuk kuliah di bidang tersebut dan sebenarnya hanya cocok di bidang lain. Tidak dapat dipungkiri banyak juga yang sudah sadar, tapi mereka sudah terlanjur masuk. Dan untuk keluar dari pillihan tersebut (meninggalkannya) adalah pilihan yang sangat sulit, diantaranya karena dia sudah mendapat gelar sosial yang baik di masyarakat dan sayang jika harus dilepas.

Dia masih saja kebingungan. Tatapannya masih kosong sambil sesekali tersenyum meskipun wajahnya mengekspresikan ada keluguan menyelimutinya. Dia gagap atas pertanyaan yang saya ajukan. Dia adalah korban atas ketidaktahuannya. Dia adalah korban dari cara berpikir yang dominan di masyarakat. Arus telah menghanyutkannya dan dia belum menyadari itu. Saya berharap dia segera menyadarinya. Semoga pilihannya tepat.

Makassar, 18 syawal 1436 / 3 Agustus 2015