Minggu, 28 April 2013

Tentang kematian ( ustadz uje)

Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan mendapatkan kematian. Tak seorang pun yang dapat menghindar dari takdir ini. Akan ada waktu dimana jantung ini tidak akan berdetak dan nafas akan terhenti. Di situlah terjadi pemisahan jasad dan jiwa menuju alam selain dunia.

Dalam perputaran waktu kita tak tau kapan waktu yang akurat. Kita tau hingga kita mengalaminya. Dia bagaikan sosok yang selalu berjalan mendekat dalam setiap perjalanan waktu. Detik berganti menit kemudian ke jam, hari, minggu, bulan, tahun dan seterusnya maka sesungguhnya dia semakin mendekat. Umur manusia semakin hari semakin bertambah tapi tahukah bahwa pada saat yang sama justru usia kehidupannya semakin berkurang? yah, itulah kehidupan dimana kita memiliki jatah hidup dan pada batasnya adalah kematian.
 
Dalam beberapa hari terakhir ini, Indonesia kehilangan seorang tokoh agama (islam), ustadz Jefry Al buchori (ustadz Uje) yang cukup popular di kalangan masyarakat. Dia dikenal oleh hampir seluruh segmen masyarakat, karena ke piawaiaannya dalam membawakan ceramah agama. Jika selama ini agama banyak dipahami sebagai sesuatu yang sakral sehingga banyak yang mengisolasinya dalam kebudayaan modern. Dia hadir sebagai ‘anak muda’ yang mampu mendobrak itu sehingga kekakuan agama yang ‘monoton’ dapat mengimbangi dinamika modernitas tanpa menghilankan esensi dari agama (islam).
 
Hal inilah yang coba diterobos oleh Uje (Alm). Dia mencoba memosisikan diri dalam dunia modernitas dengan membawa islam kedalamnya. Dia kemudian dikenal dengan ustadz gaul karena selalu menggunakan istilah atau idiom anak gaul. Bahkan dia juga terlibat dalam kehidupan-kehidupan layaknya anak gaul (memiliki gank motor). Sehingga dari kalangan anak muda banyak yang mengenalnya.

Kematiannya cukup fenomenal. Wajar saja, Uje merupakan putra terbaik yang dimiliki bangsa ini. Dia bisa menjadi tokoh muda inspiratif. Dia adalah sosok manusia Indonesia yang mampu bangkit dalam dunia ‘gelap’ menuju kehidupan ‘terang benderang’. Maka patutlah bangsa ini kehilangan tokoh seperti beliau.
 
Di tengah bangsa yang berada dalam suasana degradasi moral yang cukup rumit maka sosok seperti beliau sangat dibutuhkan. Beliau bisa menjadi oase kehidupan yang mulai kering dengan nilai-nilai spirtualitas. Tapi pada akhirnya Tuhan punya rencana lain yang lebih indah yang belum kita ketahui. Beliau akhirnya harus di panggil mengadap-Nya.
 
Semoga semua dosanya terampuni dan mendapatkan tempat yang layak layak di sisi-Nya. Serta semua jasa-jasasnya bisa menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir kepadanya. Dan tak lupa, smoga perjalan kehidupannya dapat mejadi inspiratif serta dakwanya islam (khsususnya) terus berlanjut. Amin. Mungkin akan lebih baik perlu ada penulisan tentang biografi kehidupannya. Seandainya Allah memberi kesempatan maka saya bersedia menulisnya. Amin.
 
~Makassar, 27 April 2013

Sabtu, 27 April 2013

Menulis adalah sidik jari

Di pelataran yang biasa orang-orang lewati. Aku duduk di situ bersama puluhan orang. Subjektivitas saya mengatakan: hampir seratus orang. Kami duduk menikmati mentari yang ingin menanjak lurus di atas kepala, meskipun masih sekitar dua jam lagi. Sembari duduk, melihat, mendengar serta menikmati diskusi yang yang di adakan salah satu lembaga pers nasional yang cukup terkenal di negeri ini.

Forum yang sudah mulai jarang terlihat. Dia bagaikan oase di tengah kelayuan budaya intelektual “kaum intelektual” di kampus. Pembiacaraan saat itu perihal budaya baca dan tulis yang harus perlu dimiliki oleh siapa saja. Apalagi hari itu, tepat tanggal 23 April yang kalau tidak salah sebagai hari buku internasional.

Tulis

Sebenarnya pembicaraannya lebih ke bagaimana membudayakan menulis dan seputaran karya sastra. Salah seorang pembicara bertutur: cara menulis adalah sidik jari. Sidik jari setiap manusia berbeda begitupun dengan gaya tulisan setiap orang. Maksudnya tak perlu mengkuti secara total gaya tulisan orang lain meskipun seorang itu adalah orang yang anda kagumi. Karena setiap manusia punya ke unikan tersendiri dalam berkreasi termasuk mengkreasikan gaya tulisannya.

Salah seorang nara sumber juga menjelaskan hal yang senada. Bahwa gaya tulisan adalah ke khasan yang dimiliki oleh setiap orang. Mungkin seorang sastrawan besar Indonesia Goenawan Muahammad, penulis yang hebat dan kita ‘fans’ pada tulisan-tulisannya. Tapi tidak berarti segala segala gaya dan karakter tulisannya harus di ikuti.

Kita cukup menggali apa yang ada dalam diri kita. “Menulislah sebanyak-banyaknya dan biarkan gaya menulis itu menampakan dirinya” demikian salah seorang pembicara. Memang salah satu kendala orang dalam menulis adalah takut untuk memulai atau berpersepsi gaya tulisannya tidak bagus. Sehingga tak jarang memaksakan diri untuk mengikuti gaya tulisan orang-orang yang sudah lihai dalam menulis. Padahal tidak harus seperti itu.

Karenanya menulislah apa yang bisa ditulis. Objek apa aja yang pernah singgah dalam indera, pikiran atau hatimu maka keluarkan dia dalam bentuk coretan dalam kertas. Tentang peristiwa yang telah terjadi entah dulu maupun yang barusan terjadi, tentang peristiwa sekarang maupun tentang peristiwa yang akan terjadi yang kau ciptakan dalam imajinasimu. Banyak hal yang kecil yang melintas dalam kehidupan yang jarang diperhatikan oleh orang namun sesungguhnya sangat bermakna, penting untuk digali dan di hadirkan dalam tulisan.

Dan tak lupa salah satu penunjangnya adalah membaca. Membaca jangan hanya di artikan secara sempit. Bukan hanya memindahkan makna dalam teks-teks ke pikiran. Lebih dari itu, membaca adalah proses memaknai segala sesuatu yang bisa di maknai. Bacalah segala persitiwa yang terjadi dalamkehdiupan. Toh, tulisan-tulisan yang ada sesungguhnya dari makna-makna yang tersirat dalam proses kehidupan.

Maka Menulis, menulis dan menulislah hingga gaya tulisan itu menemukanmu, karena gayamu adalah sidik jarimu.

~Makassar, 27 April 2013

Rabu, 24 April 2013

Renunganku dalam kesunyian malam

Malam yang sunyi. Kicauan burung yang indah. Kusebut sebagai nyanyian didua pertiga malam. Aku tak tahu arti nyanyian itu. Mungkinkah itu adalah ekspresi kebahagiaan? Ataukah ketidakbahagiaan? Entahlah.

Aku bersyukur dalam kegelapan malam, aku masih dihidupkan kembali dari “mati” sesaat. Aku masih bisa melihat sekelilingku yang tak ada seorang pun yang menemani. Aku putuskan untuk menghadirkan ‘aku’ dalam imajinasiku.

Kemudian aku, berdialog dengannya. Aku berbincang padanya tentang kehidupan. Tentang makna-makna kehidupan. Bagaiamana makna harus ditelan oleh jiwa yang nantinya akan memeberikan warna dalam setiap gerak-gerik kehidupanku.

“Oh Tuhan, aku mencintaimu” teriakku dalam imajinasiku. Aku teriak sekeras-kerasnya. Dalam imajinasiku aku sangat bebas. Bernyanyi sekeras-kerasnya, menangis sejadi-jadinya, menari sebebas-besanya hingga terbang setinggi-tingginya. Itu kulakukan karena hanya aku dan Tuhanku atau mungkin ada makhluk lain yang di izinkan oleh Tuhanku untuk menyaksikanku.

Oh Tuhan, mungkin aku terlampau angkuh. Aku tak sadar selama ini aku mencampakanmu. Aku tak sadar dan mungkin telah sengaja tak membawamu dalam setiap gerak-gerikku. Aku terlampau merasa hebat yang sesungguhnya kehebatan itu adalah pinjaman darimu.

Oh Tuhan, aku harus jujur. Bahwa aku kadang melayangkan protes padamu. Tapi lagi-lagi kau membisikan kalimat indah nan sejuk dalam jiwa yang kotor ini. Aku segera terjaga dari ketaksadaranku, maka segeralah aku menemuimu. Aku segera sadar bahwa segala pemberianmu terselib kebaikan yang belum aku tahu. Karena cintamu sungguh misterius dan itulah yang membuatku tergugah untuk selalu belajar mencintaimu.

Oh Tuhan, aku ini lemah maka berilah aku kekuatanmu. Oh Tuhan, aku ini miskin maka berilah aku kekayaanmu. Oh Tuhan, aku ini tak berarti apa-apa di hadapanmu maka hujani aku dengan rizkimu yang luas, petunjuk serta hidayahmu. Tuhan,  engkau maha kuasa atas segala sesuatu maka sangat mudah bagimu un untuk menjadikan aku mulia di hadapanmu. Aku ingin menyatu hingga bercinta dengamu. Amin ya Allah, ya Robb.

~Makassar, dalam 2/3 malam, 24 April 2013

Selasa, 23 April 2013

Selamat hari bumi

Puluhan tahun lalu, seorang senator Gaylord Nelson dari Wilson, Amerika Serikat gelisah dengan keberadaan bumi yang sudah menunjukan tanda-tanda ketidaklayakan untuk dihuni. Bumi sudah berubah seiring dengan perkembangan peradaban manusia. llmu pengetahun dan tekhnologi serta keserakan manusia merupaan kombinasi yang memegang andil dalam kerusakan bumi.

Tepatnya tanggal 22 April 1970 resmi ditetapkan sebagai peringatan hari bumi. Jutaan masyarakat mengikutinya dengan berbagai kegiatan salah satunya menggencarkan sosialisasi tentang perlunya menjaga lingkungan (bumi). Hal ini disambut positif oleh masyarakat dunia sehingga beberapa tahun kemudian di ikuti oleh ratusan juta masyarakat dunia dari berbagai negara.

Dalam globalisasi, telah mencipatakn bumi yang semrawut. Dari segi lingkungan hingga kepermasalahan sosial dimasyarakat dunia. Aktifitas manusia cenderung dilandasi pemenuhan hasrat keserakahan, meskipun harus mengorbankan yang lain. Manusia serta lingkungan tak jarang menjadi korban keserakahan itu.

Dalam kacamata yang makro, globalisasi telah ditunggangi oleh kapitalisme global. Mereka hanya segelintir orang saja dari miliaran manusia di muka bumi. Keserakan mereka, telah menghalalkan segala cara untuk menguras (eksploitasi) segala hal yang bisa di eksploitasi terlebih bumi sebagai sumber utama pengumpulan kekayaannya. Inilah ideologi rezim global hari ini.

Dalam skala mikro (individu) manusia masih minim kesadaran. Manusia masih asik dengan kehidupan sekarang tanpa memikirkan keberlangsungan populasi kehidupan manusia kedepannya. Mungkin dalam kehidupan hari ini manusia masih bisa bertahan. Namun bagaiamana dengan anak cucunya kedepan? Mungkin hari ini manusia masih bisa menghirup udara segar karena oksigen yang di hasilkan oleh pohon-pohon yang rindang. Bagaiamana dengan besok atau lusa? Fakta telah menunjukan pesimisme itu, bahwa bumi mulai tidak layak untuk dihuni.

Sikap konsumtif telah memacu ekploitasi terhadap alam sebagai bahan baku barang yang dikonsumsi itu. Lingkungan yang masih bersih sengaja dikotori. Hutan yang rindang sengaja dibabat habis hanya karena memenuhi hasrat ekonomi yang berlebihan. Jangan heran kemudian jika iklim menjadi berubah. Musim sudah menunjukan ke anehan. Daerah dingin berubah menjadi panas. Sebalikanya, daerah panas berubah menjadi dingin.

Sangat tepat, jika harus ada momentum mengingatkan kita tentang hal ini. Bahwa ternyata bumi sudah tidak sedang baik-baik saja. Bumi mulai sakit-sakitan. Jika dahulu, bumi bagaiakan satu dan menyatu dengan manusia. Kini penyatuan itu mulai terpisah dan dipisahkan oleh mansuia. Bumi dan manusia kini adalah aku dan kamu. Sehingga tak sedikit manusia yang merusak bumi untuk egoisme individunya. Karena bumi dirusaki, maka dia kembali memberikan kerusakan kepada manusia berupa bencana alam.

Semoga meomentum hari bumi menjadikan manusia sadar. Sadar untuk menjadikan bumi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupnnya. Menutup tulisan ini, seseorang pernah berkata: “jika sapi musnah selama 50 tahun maka manusia akan ikut musnah, namun jika manusia musnah selama 50 tahun maka spesies lain termasuk sapi akan tetap bertahan dan malah akan sejaterah”

Selamat hari bumi

~Makassar, 23 April 2013 (tulisan ini untuk memperingati hari bumi 22 April 2013)

Selasa, 16 April 2013

Ke indahan dalam seni

Kesukaan saya pada seni tradisional akhirnya terlampiaskan. Terik mentari tak menyurutkanku dan banyak orang untuk bergerak menuju gedung, tempat pertunjukan seni akan berlangsung. Mulanya, aku tidak tau akan ada pertunjukan seni tradisional di gedung itu. Namun rasa penasaran terhadap arus pergerakan orang-orang ke gedung yang mampu menampung ribuan orang itu, akhirnya menyeretku untuk berjalan menuju tujuan yang sama.

Mentari baru saja condong ke sebelah barat dari posisinya yang tepat lurus vertikal di atas kepala. Dengan perasaan sedikti ragu, aku coba memberanikan diri untuk masuk ke gedung itu. Ragu tidak memiliki bukti pembayaran untuk bisa menikmati ke indahan seni di dalam ruangan itu. Karena biasanya, tiket menjadi syarat untuk memasuki ruangan yang cukup mewah itu. Untunglah tidak, saat itu lokasi pertunjukan terbuka untuk siapa saja yang ingin masuk. Secara otomatis segera semua bisa masuk menikmati pertunjukan seni tradisional di dalam gedung itu.

Di dalam ruangan yang gelap karena sebagian penerangannya sengaja di padamkan, muncul ke anehan. Ada hal asing tepatnya bahasa asing yang terdengar dari para seniman-seniman di panggung. Pengarah acaranya (master ceremonial/MC) pun demikian. Seksama menangkap suara yang terlontar, akhirnya aku berkesimpulan bahwa bahasa yang di gunakan adalah mandarin (china).

Wah, ternyata mereka datang dari negara tirai bambu, China. Para seniman-seniman itu adalah mahasiswa dari salah satu universitas di negeri yang kemampuan ekonomi dan milliternya mulai di waspadai oleh dunia. Mereka datang dalam misi pertukaran seni-budaya dengan kampus tempatku menuntut ilmu. Mereka memperkenalkan seni tradisionalnya agar terjadi komunikasi seni-budaya demi menciptakan kaharmonisan dalam mengelolah perbedaaan.

Memang banyak perbedaan apalagi dalam skala global. Perbedaan melahirnya banyak kecurigaan yang sangat berpotensi konflik. Dalam politik global persaingan merebut hegemoni dunia berlangusng cukup sengit. Apalagi China yang kini berusaha menjadi negara adi daya dunia menggeser AS telah mengalami kemajuan yang luar biasa. Namun melalui kegiatan seperti ini (baca: pertukaran seni-budaya) dapat mencairkan perbedaan menuju kesepahaman yang sejajar satu sama lain. Sehingga potensi konflik pun dapat diminimalisir.

Satu persatu mereka menunjukan kepiawaiannya dalam berkesenian tradisional China. Mulai dari tarian, nyanyian, alat musik, kaligrafi, permaianan tradisional seperti catur hingga seni dalam meracik teh. Untuk lebih maksimal perfomanya, MC menjelaskan dengan bahasa china (kemudian di Indonesiakan oleh MC lainnya) tentang sedikit sejarah dan nilai-nilai kearifan yang terkandung dalam setiap pertunjukan. Sungguh luar biasa, mengispirasi dan memberikan kepuasan intelektual-jiwa. Di tambah lagi dengan ke anggunan para mahasiswi yang menari (hehe...). Sebagai bentuk kesepahaman,  juga mahasiswa dari kampusku memperagakan beberapa seni-budaya dari negeri tirai bambu itu.

Pertunjukan itu semakin mempertegas keyakinanku tentang kekuatan sebuah seni-budaya. Seni-budaya memiliki nilai kearifan yang indah untuk digunakan dalam kehidupan individu, bermasyarakat hingga berbangsa dan bernegara. Nilai itu dapat memberikan roh bagi kehidupan yang dapat mengarahkan kehidupan yang lebih baik dan bermartabat. Dengan dijelaskannya nilai-nilai kearifan lokal dalam setiap pertunjukan seni-budaya yang ditampilkan oleh para mahasiswa china, semakin menjelaskan bahwa salah-satu kemajuan china hari ini juga didukung oleh nilai-nilai kebudayaan di negeri itu.

Indonesia harus menginspirasi hal ini. Indonesia tak kalah dengan china yang memiliki banyak seni-budaya. Apalagi Indonesia secara geografis adalah negara kepualaun yang memiliki banyak budaya, bahasa serta seni-budaya lainnya. Dari keragaman ini memiliki kekayaan nilai-nilai kearifan lokal yang khas. Kemudian, jika di terus digali akan menjadi pemberi warna bagi kehidupan ke indonesiaan kita. Sehingga dapat menjadi solusi alternatif terhadap permasalahan sosial yang ada. Banyangkan saja, apabila setiap seni-budaya memiliki kacamata yang berbeda dengan kearifan yang dimilikinya maka akan sangat banyak solusi yang dihadirkan dalam menyelesaikan krisis multidimensi bangsa ini.

Namun sayang, banyak di antara kita terutama para pemangku kepentingan di negeri ini dari pusat hingga ke daerah masih mencampakan nilai-nilai yang terkandung dalam seni-budaya. Kita masih lebih asik mengadopsi nilai-nilai asing yang terbawa dalam arus globalisasi untuk diterapkan di masyarakat kita. Padahal kita memiliki sikap mental dan budaya yang berbeda dengan nilai-nilai asing tersebut. Sehingga wajar saja, banyak ketimpangan yang terjadi di masyarakat kita dan masalah semakin banyak yang muncul.

Inilah yang mulai banyak diresahkan. Bahwa budaya masih jarang dilibatkan dalam mengurus negeri ini. Padahal kita memiliki kekayaan nilai kearifan seni-budaya yang cukup banyak, yang dapat mewarnai paraktek kehidupan kita. Yang banyak terjadi, justru seni-budaya hanya dijadikan komoditas yang di perjual belikan dan lagi-lagi tanpa mengeksplorasi nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya. Maka sangat perlu, seni-budaya segera dilibatkan secara serius dalam praktek kehidupan kita.

~Makassar, 16 April 2013

Sabtu, 13 April 2013

Malam dan kisah pencuri

Malam yang cukup sunyi. Kendaraan yang biasa lalu lalang kini hampir tak ada lagi. Wajar saja, saat itu hampir semua orang beristirahat dari kelelahannya disiang hari. Mungkin saja tidur atau sekedar menikmati hiburan di media-media massa atau media sosial. Saat itu, malam hanya diahiasi sahutan-sahutan hewan malam yang semakin memperindah taburan bintang.

Sendiri dalam kesunyian. Duduk menikmati segelas kopi yang baru ku seduh. Di teras rumah kos, markas besarku dan rutinitas malamku baru saja dimulai.

Hembusan angin malam, membuat kesejukan hati semakin nikmat. Memang malam selalu dijadikan banyak manusia sebagai momentum perenungan. Memosisikan diri dalam titik balik kehidupan, merefleksi segala perjalan sejarah kehidupan. Inilah salah satu yang aku lakukan malam itu.

Di jalan setapak itu biasa ramai di siang hari tapi berubah menjadi sunyi di malam yang sejuk itu. Tapi tiba-tiba saja, ada yang lain malam itu. Sekitar berapa menit sebelum jarum jam menunjuk pukul 02:00 dini hari, terjadi perkumpulan massa yang tak biasanya. Mataku tertuju pada mereka. Entah apa yang mereka lakukan, rasa penasaranku semakin terhentak.

Ku hentikan aktivitasku saat itu dan beralih untuk mencari tau yang sedang terjadi dengan orang-orang itu. “Ada apa pak?” tanyaku dengan keheranan sesaat sampai di jalan setapak itu. Suara semakin gaduh dan orang-orang dengan liar memandangi sebuah rumah dan sekitar jalan itu. Sebagian besar dari mereka, memegang pentungan berupa balok kayu maupun dari besi.

“Ada pencuri de’, tadi ada yang melihatnya berusaha masuk ke dalam rumah ini” Bapak itu menjelaskan sembari menunjukaan rumah yang cat hijaunya sudah mulai memudar. Kegaduhan semakin menjadi-jadi, warga lainpun keluar dan berkumpul di sekitar jalan itu. Mereka rela mengorbankan waktu-waktu istrahatnya untuk membantu mencari pencuri itu. Mungkin juga hanya memenuhi rasa pernasaran mereka atas kegaduhan di jalan setapak itu.

Bermenit-menit hingga durasi penantian sampai satu jam kemudian. Tidak ada yang berubah walaupun kebosanan sudah mulai nampak. Orang-orang sudah tidak percaya lagi atas keberadaan pencuri itu. “Mungkin dia sudah kabur” ujar seorang di antara mereka. Pasalnya semua tempat-tempat yang dicurigai bisa dijadikan termpat persembunyian sudah diperiksa namun hasilnya nihil, tak ada orang yang dicari itu.

Orang-orang yang bersama saya malam itu, sangat mewanti-wanti untuk menemukan pencuri itu. “Dia bertopi dan berbaju hitam. Tadi aku melihatnya secara bertahap membuka kacar jendela rumah ini” salah seorang menjelaskan. Dalam penantiannya, pencuri itu akan dibuat kapok bahkan ada kalimat ekstrim yang terdengar bahwa si pencuri akan dibakar nantinya. Karena pada malam-malam sebelumnya, juga terjadi pencurian di sekitar rumah itu. Sungguh pelampiasan emosi yang menakutkan.

Pada akhinya, jalan setapak itu kembali sunyi. Orang-orang kembali masuk dalam peraduannya, menikmati malam yang indah bertaburan bintang dan senyum rembulan bersama keluarga bagi yang berkeluarga. Namun aktivitas rutinitasku malam itu, tidak serta merta berkahir seiring usainya pencarian pencuri itu. Aku melanjutkan lagi meskipun tidak terlalu berdurasi panjang. Dan sampailah saya memutuskan untuk merebahkan badan, menutup mata dan tidur pulas.

Memang selain sudah tabiatnya, bahwa kota merupakan sebuah tempat pertaruang “kehidupan”. Thomas hobbes pernah mengatakan bahwa manusia itu mahluk anarkis yang berjuang memenuhi hak-haknya meskipun hak orang lain harus di korbankan. “Manusia adalah srigala bagi manusia lain”. Dalam masyarakat urban (kota) persaingan untuk hidup dalam memenuhi kebutuhan-kebutahn ekonomi berlangsung cukup sengit. Apalagi sistem sosial yang berlaku umumnya adalah memberikan peluang yang besar bagi orang yang sudah terlanjur kaya sehingga mereka semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.

Mendengar kalimat dari salah satu dari kumpulan massa tadi, untuk membakar pencuri yang mereka cari merupakan tindakan anarkis yang tidak bijaksana. Jika melihat secara bijak, persolaan mencuri harus didudukan dengan seksama agar salah dalam memberikan keputusan.

Hemat saya, tindakan mencuri seperti kasus ini sebagian besar dilandasi oleh motif ekonomi meskipun sikap a moral juga memiliki andil. Bagaimana mereka yang merasa kalah dan benar-benar kalah dalam perebutan ekonomi akan melakukan hal yang menurut mereka bisa memperoleh sumber daya ekonomi itu. Meskipun dengan cara yang tidak dibenarkan oleh norma-norma yang beralaku. Seandainya sistem sosial yang berlaku memberikan keadilan maka pencurian semacam ini akan kurang terjadi.

~Makassar usai malam itu, 13 April 2013

Jumat, 12 April 2013

Bahasa Tuhan dalam hujan

Rintikan hujan selalu membawa kenangan. Selalu ada cerita dalam setiap hujan yang turun. Seorang gadis perpayung, belum juga berhenti. Dia mencari alamat yang mungkin saja saya tau. Tapi niatku sengaja belum ku lakukan untuk menyapanya dan membantunya.

Akhirnya dia berhenti di dekatku dalam perlindungan sebuat atap teras rumah. Mungkin alamat yang dicarinya sudah ditemui. Tapi tidak, justru arahnya semakin mendekatiku. Seketika dia melempar senyum manisnya yang membuatku sedikit tergoda. “Maaf ganggu, tau alamat ini ngga’?” ucapnya sambil menyodorkan secarik kertas.

Bingung dan shok sesaat. Ibarat tak ada angin kencang dan awan hitam, tiba-tiba hujan turun. Begitulah kondisiku ketika dihampiri oleh gadis berpayung dengan senyumnya yang manis. Apalagi seingatku, dalam memoriku tidak pernah tergambar parasnya sebelumnya. Aku hanya mengingat ada seorang gadis yang berkerudung merah jambu yang sebelumnya pernah ku temui.

Gadis berpayung ini memang tengah mengenakan kerudung merah jambu yang semakin menambah kekagumanku pada indahnya ciptaan Tuhan pada seorang hawa. “Maaf, aku tidak tau alamatnya” sembari membalas senyuman manisnya yang sedikit membuatku gerogi.

Hujan selalu tersirat banyak kisah. Tuhan sengaja tidak hanya menciptakan kering karena banyak alasan yang kadang belum kita mengetahuinya. Malah, rasa keluh kesah tersemat pada hujan ketika menghalangi rencana untuk melakukan sesuatu. Namun, jika didalami dengan kesabaran dan pembacaan yang cermat selalu ada rahasia ke indahan. Mungkin aku tidak akan berkenalan dengan gadis berpayung tadi, jika hujan tidak ada. Karena hujanlah yang mempertemukan kami.

Aku tak tau bagaimana kelanjutan episode kehidupanku pasca berkenalan dengan gadis berpayung yang cantik jelita itu. Siapa tau melalui hujan ada renca terbaik Tuhan yang jauh kedepan yang belum aku ketahui. Mungkin saja pertemuan itu adalah langkah awal menuju rencana-rencana yang telah didesain Tuhan yang maha hebat. Kita tidak tau hanya Tuhanlah yang Maha tau atas segala rahasia.

Sebuah kisah juga tentang hujan. Lebih tepatnya tentang hikmah di balik hujan turun. Seorang pedagang yang bisa dikatakan sebagai tulang punggung keluarga akhirnya terurung niatnya. Hujanlah yang membuatnya tidak menjajakan barang jualanya. Karena hujan, membuat aktivitasnya menjadi lambat hingga akhirnya angkot satu-satunya yang dia tumpangi harus meninggalkannya. Dia mengeluh dan menyalahkan keadaan (baca: hujan) dan sedikit melayangkan ‘protes’ kepada Tuhan. “Ya Allah kenapa engkau menurunkan hujan sehingga saya tidak bisa menjajakan barang jualanku? Padahal ini yang akan menghidupi keluargaku?” kalimat yang menyesaki dadanya.

Dalam kelelahan menyalahkan hujan akhirnya dia menyerah dan pasrah. Duduk di kursi yang di hadapannya terdapat televisi. Lalu di putarlah televisi itu untuk menghilangkan kejenuhan atas hujan yang belum juga usai. Sontak setelah melihat berita di sebuah statsiun televisi. Ternyata mobil yang biasa ditumpanginya tadi mengalami kecelakaan dan hampir semua penumpangnya meninggal dalam kecelakaan tersebut. Akhirnya rasa kesal berubah menjadi rasya syukur. Ternyata Tuhan punya rencana yang jauh lebih baik dan indah yang kadang belum kita ketahui. Kita mengetahuinya, setelah kejadian itu terjadi.

Dia akhirnya sadar bahwa Tuhan sangat sayang kepadanya. Melalui hujan Tuhan ingin berbicara kepadanya agar selalu bersyukur dan ikhlas atas ketetapan_Nya. Melalui hujan juga Tuhan mempertemukan aku dengan gadis berpayung itu. Mungkin masih banyak rahasia hikmah yang belum tersingkap dan mungkin suatu saat akan ditampakan oleh_Nya. Karena kadang baik menurut kita belum tentu baik menurut Tuhan dan sebaliknya. Hanya ke ikhlasan dan kesabaran serta keyakinan maka semua selalu akan indah pada waktunya. Bahwa rencana Tuhan selalu indah.

~Makassar disaat hujan turun, 03:00, 12 April 2013

Kamis, 11 April 2013

Belajar cinta pada mentari

Hari yang indah. Tatkala senyum mentari menembus jendela kamar kosku. Tidak seperti biasa, aku terlampau tersadar dari tidur singkat lebih cepat di banding malam-malam biasa. Tapi sungguh indah pagi ini, meskipun semalam harus ku korbankan energy untuk menahan bibir kelopak mata agar tidak saling bertemu hingga aku harus tertidur.

Kecerianku bagai seorang kekasih yang tengah menanti kedatangan kekasih yang dicintainya. Tapi sekarang, aku bukanlah kekasih khusus untuk seorang hawa. Melainkan mencoba adil memberi cinta dan kasih sayang kepada siapa saja. Tugasku hanya menebarkan cinta dan setelah itu selesai. Menerima cinta kembali dari siapa saja yang telah ku tebarkan cinta pada mereka, itu bukan tujuan. Ini adalah sebenar-benarnya cinta, memberi tanpa harus berharap untuk menerima.

Inilah alasan kenapa hariku saat ini begitu indah. Ketenangan hati usai menghadap sang ilahi dalam seper lima akhir malam, dengan merendahkan diri sembari mengakui ketakberdayaan di hadapan_Nya. Terkombinasi dengan kekuatan cinta sang surya yang menyapa dan mencerahkan suasana pagi. Cintaku benar-benar terinspirasi padanya. Bagai kasih ibu kepada anak-anaknya. Memberi dengan setulus hati tanpa mengharap balasan. “biarlah Tuhan membalas dengan cintanya, surga” fitrah semua ibu berkata.

Ingatkah, ketika sang pencipta saya, kamu, mentari dan kita semua dalam alam semesta memerintahkan kita untuk iqra (baca)? Dia begitu hebat dan cermat dalam segala pertimbangan dan Maha tau atas segala sesuatu. Yang pertama dia menyuruh manusia (umat Muahammad SAW) untuk memahami hakekat Tuhan melalui pembacaan bentangan sabda kauniyah_Nya. Bentangan sabadanya begitu luas yang tak mampu ditangkap oleh alat pengatahuan manusia secara keseluruhan.  Mungkin aku sekarang tengah melakukan dan memahami ayat-ayat kauniah itu. Membaca alam dan isinya serta segala yang terjadi di dalamnya.

Suatu kisah yang menakjubkan dari seorang Newton, penemu gaya gravitasi bumi. Dia membaca sabda kauniyah Tuhan tentang sebuah benda yang jatuh. “kenapa benda harus bergerak alamiah ke bawa? Kenapa tidak ke atas?” pertanyaan-pertanyaan ini terus menghujani pikirannya. Setelah melakukan pembacaan yang teliti, sampailah dia pada kesimpulan bahwa ada gaya tarik bumi yang selalu menarik benda ke perut bumi (gravitasi).
Pagi ini, aku pun melakukan apa yang dilakukan oleh Newton. Membaca senyum mentari yang menembus pori-pori kulitku hingga menghapus kesejukan embun pagi. Aku membaca betapa tulus ikhlasnya cinta yang diberikan pada semesta bumi. Dia tak pernah mengaharap sinarnya itu kembali. Dia  hanya memberi dan memberi hingga Tuhan tidak mengizinkannya lagi.

Mentari hanya mengabdikan cintanya pada sang pemilik cinta, Tuhan yang menciptakannya. Manusia atau benda apapun yang terkena hangatan senyumnya dikala fajar, bukan menjadi tujuaannya. Dia hanya mengabdi kepada Tuhannya. Karena cintanya pada kekasihnya itu.

Bagiku inilah hakikat cinta dan mencintai. Berikanlah cinta pada siapa saja bagai mentari menyinari bumi. Bagi seroang ibu dan ayah menyayangi anaknya. Tidak mengaharap pamrih dari mereka yang telah diberi cinta. Cukup mengabdikan cinta pada sang pemilik cinta. Maka tungguhlah balasan dari_Nya dengan cinta yang memuatmu damai dan indah.

~Makassar dikala fajar menyingsing, 11 April 2013

Selasa, 09 April 2013

Aku, Fatimah Az Zahra dan Ali bin Abi Thalib

Malam ini agak berbeda dengan malam dalam beberapa malam terakhir. Meskipun malam cukup teduh dan dinginnya sangat halus. Tapi bulan tak menampakan tubuhnya yang selalu dipuja oleh banyak orang. Sahabatnya bintang pun juga tak mau memperlihatkan tubuhnya. “Mungkin saja mereka bersepakat untuk malam ini” tukasku dalam hati.

Memikirkan seorang hawa memang wajar. Mencari dan memandangi bulan adalah alasan itu. Semoga gadis itu tengah melakukan hal yang sama dengan yang saya lakukan, mencari dan memandangi bulan. Gadis yang tak tahu siapa dan di mana keberadaannya. Dia masih misteri. “Mungkinkah dia seperti sosok Fatimah Az Zahra?” Sekali lagi aku menukas dalam batinku.
 
                                       

Mungkin Fatimah Az Zahra tidak akan diciptakan kedua kalinya di muka bumi ini. Putri Rasulullah Muhammad SAW ini, sangat indah akhlaknya serta sangat taat ibadahnya. Beliau semakin indahlah lagi ketika Tuhan menganugerahkan paras yang cantik padanya. Sehingga kombinasi itu semua serta ketertutupan auratnya membuat ke anggunan dan keteduhan parasnya membuat banyak kaum adam tergila-gila padanya. Tidak hanya sampai disitu, orang-orang terpandang dimasanya pun tak jarang yang datang melamarnya untuk dijadikan istri.

Kenalkah dengan Abu Bakar Ash Shidiq dan Umar bin Khatab? Yah, dua sahabat rasulullah ini pernah datang untuk menjadikan Fatimah sebagai ibu untuk anak-anaknya kelak. Tapi sayang, takdir berkat lain. Ternyata hanya lelaki pilihan dan khusus sajalah yang mampu mempersunting, duduk di pelaminan hingga usailah ijab dan Kabul terucap. Akhirnya halal lah lelaki khusus dan Fatimah Az Zahra menjadi sepasang insan manusia yang memaduh kasih dalam ikatan suci rumah tangga. Lelaki itu adalah Ali bin Abi Thalib.

Merindukan sosok Fatimah Az Zahra, meneduhkanku malam ini. Bulan mungkin mendengar bisikan batinku meskipun aku tak melihatnya. Tapi aku merasakan keberadaannya. Seperti halnya aku merasakan sosok seperti Fatimah bahwa 'dia' masih ada dikehidupan ini.

Bulan mungkin malu untuk menampakan kemolekan tubuhnya. Dia sembunyi di balik awan sembari sesekali mengintipku. Seoalah ada yang ingin dibisikan kepadaku. Mungkin saja ada kabar dari gadis yang kepalanya dibaluti oleh kain untuk menyembunyikan rambut indahnya. Rambut serta auratnya lainnya sengaja disembunyikan dan akan di buka kelak hanya untuk suami yang dicintainya.

Aku. Yah, aku adalah lelaki yang baik itu. Kini hanya bisa mencari di mana bulan. Aku yakin pada tatapannya yang biasa indah. Mungkin saja, itu adalah pantulan tatapan gadis yang kurindukan itu. Kedua bola matanya malu untuk menatapku. Satu-satu caranya dia menatap bulan. Harapnya bulan memantulkan tatapannya pada kedua bola mataku. Di saat itulah kami saling memandang.

Tapi yakinku jika akan ada yang merindukanku. Dirindukan oleh sosok seperti Fatimah Az Zahra, jika aku berubah menjadi sosok seperti Ali bin Abi thalib. Bahwa Tuhan akan membaikan orang yang akan bersamaku jika aku membaikan kepribadianku karena_Nya. Dan saat itu aku sangat dirindukan oleh sosok Fatimah Az Zahra dan aku merindukannya pula. Dan aku dan dia akan bertemua pada waktu yang indah itu. Karena kesabaran dan keikhlasan selalu akan indah pada waktunya.

~Makassar, dihampir sepertiga akhir malam, 9 April 2013