Selasa, 20 Oktober 2015

Berkah ke toko buku

Siang itu, saya sengaja menuju toko buku yang cukup besar di kota tempat saya berdiam. Sengaja ingin membeli buku-buku di luar buku yang selama ini saya baca. Sengaja saya lakukan karena saya ingin membaca hal lain dari rutinitas topik bacaan saya. Maksudnya, saya ingin mendapat informasi (pengetahuan) lain di luar informasi-informasi yang selama ini saya baca. Selama ini saya lebih sering membaca berita tentang permasalahan sosial-politik baik dalam maupun luar negeri. Memang ini bagian dari ‘passion’ saya untuk lebih memahami bila perlu menjadi ahli di hal-hal yang terkait topik tersebut. Tapi kali ini saya coba menjaga jarak dahulu dari topik-topik itu.

Beberapa alasan mengapa kita harus mencoba membaca buku lain di luar bacaan mainstream kita. Pertama ada kaitannya dengan penyeimbangan otak kiri dan kanan. Pemahaman saya (semoga tidak salah)otak kiri lebih memikirkan hal-hal yang ‘serius’. Sesuatu yang matematis atau analisis. Sedangkan otak kanan lebih pada hal-hal yang lebih ‘santai’, seperti seni atau sastra. Berangkat dari teori ini, saya ingin melakukan penyeimbangan otak agar kerja otak lebih ideal karena telah banyak pakar neurologi (otak) menganjurkan hal yang demikian. Pun, jika kita ingin membahas kelebihan mengaktifkan otak kanan lebih intens lagi maka kita akan mendapatkan begitu banyak hal-hal yang menakjubkan diantaranya akan membuat manusia akan lebih kreatif serta banyak lagi.

Kemudian saya ingin keluar dari rutinitas. Rutinitas yang saya maksud adalah bagaimana otak harus di ajak untuk keluar dari alur pemikiran yang biasa dilakukan karena menerima dan mengelolah topik yang terus didapatkannya. Rutinitas bisa membuat pikiran atau otak menjadi tumpul karena kita telah terbiasa memikirkan hal-hal yang umum dilakukan sehingga untuk berpikir dengan cara lain akan jarang dilakukan. Selain itu membaca topik berbeda, akan membuat pikiran lebih terbuka yang membuat perspektif lebih luas sehingga kita tidak sebagaimana “katak dalam tempurung”.

Sebelum saya menjatuhkan pilihan ada buku-buku yang akan saya beli, terlebih dahulu saya membaca garis besar dari isi buku. Sebenarnya, banyak pilihan-pilihan buku yang perlu dimiliki tapi keterbatasan uang dan waktu pula sehingga hanya beberapa saja yang perlu dibeli. Akhirnya saya mengumpulkan buku-buku yang saya akan beli dengan berbagai pertimbangan-pertimbangan. 

Antrilah saya di antrian kasir. Dengan berlagak santai pandanganku menoleh keseblah kiri. Saat itu pula mata kami saling bertatapan. Sosok yang tak asing lagi bagiku. Dia pun begitu. Dengan ekspresi kaget kami saling menyapa satu sama lain. Beliau adalah seorang dosen. Dia dosenku. Kami berdiskusi  singkat tentang topik-topik tertentu. Tentunya dengan di awali dengan sapaan yang hangat tentang kabar dan sejenisnya.

Setelah beliau membayar buku-buku yang dibelinya. Pikirku selesai pula urusannya. Namun, beliau tidak lantas pulang seolah ada keinginan yang belum terpenuhi. Beliau berjalan nyaris kearahku tepatnya di depanku menuju tumpukan beberapa buku yang akan segera saya bayar. Tangannya dijulurkan ke buku, tepatnya diantara buku-buku. Tangannya tidak hampa. Ada genggaman yang coba dipertahankan dan akan dilepas di antara buku-buku itu. Genggaman itu cukup berharga bagiku dan tentunya baginya.

“Ini uang untuk bukumu”
. Beliau melengkapi gerakan tangannya yang menjulur. Aku kaget sekalligus gembira. Ucapatan terimakasi begitu meluap ku alamatkan padanya. Sebenarnya ada perasaan tidak kaget, karena firasat telah merasakan sebelumnya. Adegan baik beliau tadi akan terjadi. 

Tiba-tiba saya teringat kalimat “Kalau rezeki tidak akan kemana”. Saya yakin itu. Terimakasih banyak pak. Semoga kebaikan selalu dilimpahkan kepadamu. Aamin. 

~Makassar, 20 Oktober 2015

Rabu, 14 Oktober 2015

Hasan, zaenab dan buku

Gadis itu. Dia kelihatan polos, tak berdaya dengan keadaan yang menempanya. Secara kasat mata dia sadar, tak ada yang salah. Tapi sesungguhnya ada kegundahan atas jati dirinya. Dia bagai seorang yang lepas dari kawanan kelompoknya yang telah berjalan jauh. Dia ingin berjalan seperti mereka. Jauh dan jauh kedepan menemukan hikmah-hikmah kehidupan. Menemukan bagaimana indahnya kehidupan meski dalam duka, terlebih suka.

Pria itu tahu apa yang sebenarnya yang terjadi. Hasan namanya. Hasan sudah pernah mengalami hal yang sama seperti yang zaenab rasakan. Oh iya, Hasan dan Zaenab. Mereka sudah lama berkenalan. Berkenalan di sebuah desa yang kurang dengan hiruk pikuk perdebatan. Perdebatan apa saja terutama permasalah sosial dan ekonomi yang melilit. Maklum saja, di desa masalah kurang begitu kompleks dibanding di perkotaan. Hasan adalah pria yang tergolong sudah lama berdiam di kota meskipun pada dasarnya dia adalah orang desa. Ke inginannya yang ingin memperluas wawasan dan pengalaman, dia sengaja berhijarah ke kota. Dia kuliah di salah satu universitas ternama di sebuah kota bahkan masuk dalam jajaran universitas papan atas di Indonesia.

Zaenab di ajaknya ke kota. Alahmdulillah di restui oleh ayah dan ibunya. Hasan berharap, zaenab bisa merasakan apa yang dia rasakan. Tentang bagaiamana menantang hal-hal baru untuk menyelami makna terdalam kehidupan. Di kota hasan sering menjelaskan pada zaenab tentang begitu banyak hal yang baru. Hal ini karena kota sebagaia tempat yang memiliki daya tarik tersendiri sehingga berkumpullah orang-orang dari berbagai daerah. Kota bak gula yang diserbu oleh kawanan semut-semut. Yah, kota itu manis dengan segala keindahannya. Kata hasan. Tapi gula yang manis tak selamanya membawa berkah. Manis dapat menimbulkan penyakit. Ini bisa jadi boomerang. Tapi kita tidak akan mencari bumerang itu. Kita hanya ingin merasakan hal-hal baru. Ada tantangan, janga lari. Hadapi. Disitulah banyak wawasan dari situ dirimu yang sesungguhnya akan ditemukan. Hasan melanjutkan. 

Buku. Yah, buku adalah jendela ilmu. Dengan buku, kita dapat mengarungi makna-makna. Makna yang di tangkap kemudian ditulis dan diabadikan dalam buku. Kita kemudian mengenal penulis-penulisnya sebagai golongan intelektual di bidangnya masing-masing. Sebaliknya, banyak orang-orang hebat di masanya namun anak-anak zaman setelahnya tidak pernah lagi mengenal mereka. Kenapa ? karena ketiadaan tulisan yang pernah mereka ukir. Akhirnya hidup tidak menimbulkan kesan yang dikenal. Yah, mungkin ada tapi tidak diketahui atau tidak maksimal. Wajar jika sastrawan besar yang pernah dimiliki Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, berkata: “Orang yang tidak menulis akan dilupakan oleh masyarakat dan sejarah”. 

Hasan kukuh pada keyakinannya bahwa buku adalah bagian dari jalan dalam proses penemuan jati diri. Zaenab bagai berada pada ruang labirin yang belum jelas diamana pintu untuk jalan keluar. Di ajaklah zaenab oleh hasan ke toko buku yang cukup besar. Bagi hasan toko buku akan menawarkan banyak jalan keluar dan petunjung mana yang terbaik bagi zaenab. Di sanalah mereka akan menemukan banyak alternatif-alternatif arah yang ditulis oleh para penulis dengan segala ragam pengetahuan. 

Kepedulian hasan bukan tanpa alasan. Sekali lagi dia pernah merasakan apa yang zaenab rasakan. Hasan orang yang pandai berpetualang. Hidup adalah petualang. Demikian prinsip yang selalu dipegangnya. Dengan berpetualang, hasan selalu menemukan hal-hal yang baru. Hidup menjadi dinamis, tidak monoton. Sehingga kegundahan hati, kebingungan akan dimana jalan keluar dari labirin yang menawarkan jati diri yang sejati atau menemukan makna kehidupan akan dapat terjawab dengan petualangan. Petualang bukan hanya berjelajah ke tempat-temat yang baru atau menantang tapi juga menyelami makna-makna yang pernah di alami oleh orang lain. Beruntunglah mereka menuliskannya dalam buku. Dan Hasan membacanya. Zaenab membacanya. Terimakasih buku. Terimakasih penulis. Cetus hasan dan zaenab. 

~Sore hari di Makassar, 1 Muharam 1437 H / 14 Oktober 2015

Sabtu, 10 Oktober 2015

Lupakan dahulu berbahasa Indonesia

Tadi saya membaca harian kompas, tepatnya di kolom opini. Kurang lebih salah satu tulisan memahas personal bahasa. Menarik tulisannya karena menjelaskan betapa pentingnya bahasa sebagai identitas nasional yang harus dipertahankan.

Tulisan itu menyinggung bagaiamana masyarakat Indonesia telah memudarkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama para pejabat yang berposisi sebagai public figure. Dalam banyak kesempatan baik dalam seremonial formal maupun nonformal, dalam bertutur sering terdengar ada bahasa-bahasa ‘asing’ yang diselipkan. Di tingkat masyarakat biasa pun, fenomena ini sering ditemui. Bahkan ada bahasa atau istilah baru yang diciptakan yang sebelumnya tidak pernah dikenal.

Seperti kita tahu, bahasa adalah produk kebudayaan sehingga dapat dihasilkan dari interaksi antarmanusia. Apalagi zaman selalu berubah mengikuti arus globalisasi yang menghanyutkan hal-hal baru yang tak dikenal sebelumnya, termasuk bahasa.  Tak pelak, pengadopsian bahasa asing menjadi hal yang tak terelakan. 

Kegelisahan inilah yang mengemukan bagi para pemerhati kebudayaan. Memang kebudayaan bukanlah hal statis yang tak bisa berubah. Kebudayaan harus sering berkomunikasi dengan sesuatu yang berbeda dengan dirinya sehingga ada hal-hal yang perlu dikoreksi selanjutnya diperbaharui, juga ada hal yang perlu dipertahankan. Namun hari ini, mempertahankan selalu menjadi pekerjaan yang cukup sulit. Mempertahankan membutuhkan kesadaran dan usaha yang serius apalagi yang dipertahankan itu adalah persoalan seputar kebudayaan.

Bahasa daerah bahasa 'ndeso' (kampungan)
Saya coba mengangkat sedikit realitas di desa saya. Ada fenomena yang menurut saya cukup menarik. Hari ini, banyak anak-anak selalu diajarkan agar menggunakan bahasa Indonesia. Orang-orang tua disekitar mereka terutama ayah dan ibu selalu menggunakan bahasa Indonesia dalam berinteraksi dengann anaknya. Sepintas ini baik dan patut di apresiasi tapi disatu sisi, justru mengkhawatirkan. Anak-anak di desa saya sudah enggan untuk berhasa daerah bahkan mereka cukup kaku untuk menuturkannya.  Padahal bahasa daerah merupakan bahasa identitas lokal yang dimiliki setia daerah (suku) di Indonesia bahkan bahasa daearahlah yang lebih awal dibanding bahasa Indonesia.

Ada mental ke-tidak-percaya-diri-an orang-orang desa saya terkait bahasa daerah mereka. Cenderung ada rasa minder yang melekat tatkala mereka menggunakan bahasa daerah sebagai alat tutur. Bagi orang-orang di desa saya, bahasa Indonesia bukan hanya bahasa nasional melainkan juga sebagai symbol modernitas atau symbol kemajuan. Sehingga orang-orang menggunakan bahasa Indonesia berarti telah menjadi manusia modern atau supaya tidak ingin disebut ‘kampungan’. Mengadopsi hal-hal yang berasal dari kota seperti bahasa terutama yang diproduksi melalui televisi menjadi gengsi tersendiri sehingga istilah ‘kampungan’ akan disematkan pada mereka yang tidak mengadosi ‘kekota-kotaan’. Atau kampungan identik dengan ketertinggalan.

Tidak perlu ajarkan bahasa Indonesia

“Tidak perlu ajarkan bahasa Indonesia…..”. Kalimat ini merupakan potongan kalimat yang sering saya ucapkan kepada ayah atau ibu ataupun orang-orang tua yang selalu berkomunikasi dengan anak mereka hanya dengan menggunakan bahasa Indonesia, kemudian bahasa daerah mereka lupakan. 

“…Mereka akan dapatkan sendiri di sekolah-sekolah atau televisi atau dibanyak tempat…”
Kalimat ini adalah ekspresi dari kegeraman atas kondisi yang memperihatinkan ini. Pasalnya, jika bahasa anak-anak hanya diperkenlakan dengan bahasa Indonesia, secara tidak langsung salah satu identitas kedaerahan mereka yakni bahasa daerah akan hilang. 

Di desa saya, bahasa daerah yang asli kini hanya menjadi tuturan orang-orang tua. Anak-anak muda apalagi anak-anak yang lahir di era kekinian bahasa daerah sudah menjadi asing telinga dan mulut mereka. Saya khawatir jika orang-orang tua penutur bahasa daerah yang masih otentik ini telah tiada, siapa lagi pengguna bahasa daerah tersebut? Perlu ada langkah serius setidaknya di tingkat keluarga bahasa daerah harus menjadi pelajaran wajib bagi anak-anak. Tentunya tanpa melupakan bahasa Indonesia. Karena bahasa Indonesia penting tapi bahasa daerah juga penting. Keduanya sama penting.

~Makassar, 9 Oktober 2015