Rabu, 24 November 2010

Hikmah Idul Adha

Sebelumnya saya kembali menyapa membaca dengan ucapan, selamat hari raya Idul adha 1431 H mohon maaf lahir dan batin dan semoga kita selalu dalam lindungan_Nya. Di sini sedikit akan membahas seputar hikmah Idul Adha. Idul adha biasa dikenal dengan hari raya kurban. Dimana hari raya ini ditandai dengan pemotongan hewan qurban untuk dibagikan kepada saudara-saudara yang berhak mendapatkannya.

Inilah keunikan dari hari raya Idul adha yang membedakan dengan hari raya Idul fitri. Selain itu, kalau Idul fitri dikenal dengan pembagian zakat (harta benda) maka Idul adha dengan pembagian daging hewan kurban. Namun selain perbedaan, keduannya memiliki persamaan yaitu sama-sama sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama manusia yang nantinya akan berimplikasi keterjalinan silaturahim.

Perintah berkurban, diceritakan pada sejarah nabi Ibrahim as dan anaknya Sulaiman as. Ketika Allah swt memerintahkan Ibrahim as untuk menyembeli putra kesayangannya maka beliau melaksanakannya dengan ikhlas karna cintanya kepada sang Maha kuasa. Dan Ismail as pun mengikhlaskan dirinya disembeli demi menunaikan cintanya pula kepada Allah swt. Saat penyembelihan dilaksanakan tiba-tiba nabi Ismail as, dengan kekuasaan Allah digantikan dengan seekor hewan kurban. Demikianlah sedikit cerita tentang awal perintah untuk berkurban.

Dari cerita sejarah tersebut telah menjelaskan beberapa pelajaran kepada umat manusia. Ibrahim as mengorbankan cintanya kepada satu-satunya anak kesayangannya, Ismail as. Cinta kepada Maha Kuasa melebihi cintanya kepada dunia (anaknya). Aktualisasi dari cinta tersebut telah melepaskan dan membebaskan diri dari nafsu-nafsu dunia yang menyesatkan. Hewan kurban sebagai simbol bahwa nafsu hewani yang sering mendominasi manusia harus ditinggalkan. Setalah penyembelihan dilakukan kemudian didistribusikan kepada saudara-saudara yang berhak untuk menerimannya. Pendistribusian daging kurban ini mengajarkan kepada manusia agar saling memberi terhadap sesama sehingga silaturrahim selalu terjalin.

Seandainya semua manusia dapat mengambil pelajaran dari perayaan hari raya Idul adha ini, maka saya yakin dunia ini akan hidup dalam keharmonisan. Kemiskinan dan korupsi tidak akan ada. Konflik SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) tidak akan terjadi. Manusia hidup dalam naungan kasih sayang yang tulus. Singkatnya semua bentuk-bentuk eksploitasi manusia maupun terhadap alam tidak akan terjadi.

Salam Pembebasan

Kutulis demi perubahan

Jumat, 19 November 2010

Rabu, 17 November 2010

Perbedaan Hari Idul Adha

Perbedaan memiliki dua sisi. Pertama bisa menjadi sebuah konfrontasi yang menyebabkan konflik. Juga bisa menjadi sharing akomodatif sehingga dapat memperluas cakrawala pengetahuan. Begitu halnya dengan perbedaan pendapat mengenai hari raya idul adha tahun hijria kali ini.

Melalu rapat bersama ulama dan beberapa ormas islam serta pihak-pihak yang berkompentensi untuk penentuan hari idul adha telah diputuskan hari raya idul adha 10 zulhijjah 1431 H, jatuh pada hari rabu, 17 november 2010. Meskipun keputusan pemerintah tidak sejalan dengan beberapa ormas islam lainnya namun pemerintah tetap mengakomodasi kepentingan mereka. Pemerintah tidaklah arogan untuk memaksakan kehendak kepada umat muslim. Karna jika pemerintah tidak akomodatif dalam hal ini maka sesungguhnya pemerintah tidak menjalankan esensi dari ajaran islam.

Hemat penulis, pemerintah cukup bijak dalam mengambil keputusan. Dengan ini kita harus menjadikan sebagai ajang diskusi tentang perbedaan yang kita miliki. Perbedaan berarti memiliki sudut pandang yang tidak sama dalam melihat maslah ini (baca:penetapan idul adha). Sehingga dapat memperluas pengetahuan yang kita miliki.

Perbedaan itu indah. Sebenarnya di zaman Rasulullah saw telah perbedaan pendapat yang terjadi diantara para sahabat. Namun hal itu dibiarkan oleh sang Sang Rasul. Beliau sadar dan sengaja agar manusia dapat berdialog dengan sesamanya dan menjadikan kita lebih bersilaturahmi. Perbedaan pendapat adalah sunnatullah dan itu wajib adanya. Bayangkan saja jika pendapat orang sama maka dunia tak berdinamika. Kehidupan akan stagnan karna manusia hanya berada pada satu warna budaya.

Untungnya pemerintah mengetahui akan hal ini. Karna kadang kita terjebak pada perdebatan pada hal-hal yang kecil sehingga menghilangkan hal yang besar (penting). Tak sedikit kaum muslimin yang terjebak mempermaslahkan persolan yang kecil yang tidak memberikan perubahan yang signifikan. Justru hal ini membut para pesaing islam (peradaban barat) menjadikan sebuah kemenangan bagi mereka.

Jadi perbedaan hari Idul Adha atau 10 zulhijjah janganlah jadikan sebagai penyebab konflik dan perdebatan yang mendalam sehingga melupakan permaslahan umat muslim lainnya. Justru yang menjadi fokus perhatian kita adalah Ketertinggalan intelektual umat muslim dan berbagai permaslahan sosial yang menghinggapinya. Kita tengah mengalami fase imprealisme peradaban barat. Jadikanlah perbedaan ini sebagai kekayaan intelektual. Dengan kekayaan intelektual yang kita miliki akan perdampak pada tatanan peradaban lebih maju dan mengembalikan keemasan islam yang pernah ada.

ku tulis demi perubahan

Tulisan ini telah di posting di ngurunto.blogdetik.com

Kematian Tuhan dan Bencana Alam di Indonesia


Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, beberapa pemikir (cendekiawan) mencoba mengkaji bagaimana manusia menghadirkan agama (tuhan) dalam kehidupannya. Dalam tulisan ini akan sedikit membincangkan tetang pemikiran Friedrich Nietzsche yang merupakan salah satu pemikir dari Jerman. Dalam teorinya tentang kemunculan agama, Ia mengatakan bahwa agama lahir karna kebodohan manusia. Ketika rasional manusia tidak mampu menjawab fenomena-fenomena alam maka disitulah mereka menciptakan agama (Tuhan).

Bebagai gejala alam yang terjadi menjadi misteri dan akan menjadikan manusia tunduk padanya tatkala mereka tidak mampu menjelaskan penyebabnya. Misalnya ketika ada petir yang menyambar dan manusia tak mampu mengatahui sebabnya sehingga mereka takut. Secara naluri mereka akan tunduk pada ketakutan yang menyebabkannya tersebut. Petir itulah yang mereka sebut dengan Tuhan (dewa) petir. Begitu juga dengan gejala alam yang lainnya seperti hujan, gunung meletus, badai dan lainnya. Mereka akan menganggapnya sebagai Tuhan ketika mereka tidak mampu menjelaskan tentang hakekat dan hukum-hukum yang menyebabkannya.

Hal ini kemudian mengalami perubahan ketika manusia mengalami perkembangan intelektual. Manusia telah memasuki kehidupan dimana akal atau rasionalitaslah menjadi senjata ampuh untuk menaklukan kehidupan. Petir yang dulu tidak diketahui penyebab terjadinya sekarang telah di ketahui. Begitu juga dengan badai, hujan, meletusnnya gunung dan berbagai fenomena alam lainnya. Pada saat demikianlah Tuhan yang mereka yakini tersebut satu persatu hilang dari keyakinan mereka seiring dengan di ketahuinya penyebab terjadinya fenomena alam tersebut. Hingga perkembangan IPTEK yang dialami oleh manusia modern saat ini yang telah mampu menjelaskan fenomena alam. Sehingga mereka mengatakan Tuhan telah tiada atau Tuhan telah mati. Singkatnya semakin berkembangnya rasionalitas dan IPTEK manusia maka akan semakin tidak memilki keyakinan agama (Tuhan). Seperti yang dikatakan oleh Nietzsche:
God is dead!!!

Perkembangan IPTEK yang dialami manusia mengantarkannya pada kehidupan modern. Ketika manusia modern merasa bahagia dengan keberadaanya maka dia mematikan Tuhan (agama) dalam keyakinan dirinya. IPTEK dijadikan sebagai penolong dalam segala hal. Manusia merasa Tuhan tidak terlibat dalam kebahagiaannya. Inilah yang dikatakan bahwa Tuhan telah mati. Tuhan telah mati pada manusia modern. Kemajuan IPTEK menyebabkan keangkuhan. IPTEK dijadikan sebagai Tuhan yang mempermudah dan mampu menolong manusia. Manusia menjadi makhluk individu kembali dan melupakan saudaranya. Namun di saat manusia mengalami permaslahan yang pelik dan bencana alam maka Tuhan dihadirkan kembali. Seperti yang dikatakan oleh Nietzsche bahwa Tuhan hanyalah digunakan oleh manusia yang lemah tak berdaya untuk memberinya spirit kehidupan.

Jika kita merefleksikan dengan fenomena alam yang menimpah negri ini. Begitu banyak bencana alam yang menimpah negeri ini. Wasior yang belum usai muncul mentawai dan merapi dan tidak menutup kemungkinan lagi yang lain terjadi. Berbagai kerugian yang ada hingga nyawa telah membuktikan ketidak berdayaan manusia. Di tengah kondisi seperti ini manusia segera mencari sesuatu yang dapat menghapuskan ketidakberdayaannya. Manusia kembali menciptakan agama atau mendekatkan kembali dirinya dengan Maha Penguasa alam. Naluri untuk beragama muncul kembali. Tuhan yang selama ini mati dalam kehidupnnya dihidupkan kembali dalam keyakinannya. Tuhan yang selama ini dicampakan dalam kehidupannya dihadirkan kembali.

Begitu juga berbagai persaan belasungkawa dari manusia lain. Hati mereka tergerak oleh bisikan suci untuk menolong sesamanya. Tat kala bencana menimpah dan semua jerit tangis terdengar maka semua manusia ikut merasakannya. Manusia bergerak untuk menolong dengan apa yang dimilikinya. Manusia disadarkan bahwa mereka satu saudara.

Mungkin Tuhan sengaja menjadikan bencana alam di negeri kita agar manusia sadar tentang keberadaannya sebagai hamba yang selalu ingat pada-Nya. Agar manusia bisa memposiskan dirinya sebagai makhluk sosial yang peduli dengan sesamanya. Manusia selama ini lupa akan kuasa Tuhan yang mengendalikan isi langit dan bumi. Tuhanlah yang menghendaki terjadinya gempa bumi yang menerpa negeri kita. Juga dengan cobaan ini sehingga manusia diajak untuk selalu memposisikan dirinya sebagai makhluk sosial yang peduli dengan sesamanya. Atau dengan kata lain Tuhan sengaja menghendaki bencana alam (wasior, mentawai, merapi) agar manusia tidak mematikan Tuhan dalam kehidupannya. Sehingga pasca bencana alam ini manusia tidak melupakan Tuhannya dan manusia melepas individualismenya untuk digantikan dengan rasa solidaritas terhadap sesama dan lingkungannya.



Minggu, 14 November 2010

Hari Pahlawan

Tanggal 10 nevember yang belum lama terlewati merupakan momen yang bersejarah bagi Indonesia. Pada hari itu, bangsa Indonesia memperingati hari pahlawan nasional. Hari dimana bangsa Indonesia akan mengenang jasa para pahlawannya yang telah berjuang memerdekaan Indonesia seutuhnya.

Mantan presiden Republik Indonesia yang pertama, Bung Karno, pernah mengatakan ‘bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya’. Beliau mengatakan demikian karna berkat jasa para pahlawanlah sehingga kemerdekaan itu terwujud. Sangat naif jika kita membiarkan sejarah yang begitu berharga tentang jasa dan perjuangan mereka. Oleh karna itu sebagai upaya penghargaan kepada mereka sehingga tanggal 10 nevember diperingati sebagai hari pahlawan nasional.

Namun, menjelang peringatan hari pahlawan tahun ini masyarkat Indonesia seolah-olah tidak menampakan keseriusan memperingatinya. Indonesia lebih asik terlena dengan urusan individualnya. Namun tak dapat kita pungkiri juga bahwa pada saat itu indonesia sedang dilanda bencana alam. Konsentrasipun terbagi untuk menangaini bencana alam ini.

Namun ada yang lebih disanyangkan menjelang peringatan momentum ini. Indonesia dikagetkan dengan kedatangan presiden Amerika. Bahkan kedatanganya tersebut sangat diharapkan. sehingga Masyarakat Indonesia lebih konsentrasi terhadap presiden Negara lain ketimbang para pahlawannya sendiri. Mereka terbius oleh kedatangan tamu dari Negara lain yang dilihat sebagai tokoh yang sengat kharismatik.

Kita seakan-akan lupa bahkan dilupakan karna kedatangannya. Media massa pun lebih menayangkan kedatangan presiden dibanding momentum hari pahlawan nasional ini. Bukankah kemerdekaan yang di capai adalah hasil perjuangan para pahlawan kita? Bahkan tanpa kita sadari negara presiden tamu itu tengah menjajah kita.)*

Kamis, 11 November 2010

Kedatang obama merugikan Indonesia

Kedatang presiden AmerikaSerikat, Barack Obama, ke Indonesia hari selasa 9 november kemarin, menimbulkan penolakan dari sejulah masyarakat Indonesia. Penolakan tersebut terlebih karna Amerika adalah Negara kapitalis. Negara yang menjajah indonesia lewat ideologinya. Selain itu, mereka melihat Amerika sebagai negara penjajah yang menggunakan demokrasi sebagai kamuflase.

Keterjajahan yang tengah terjadi di Indonesia adalah bukti kekejaman Amerika. Hal itu di tegaskan pada sebuah perjanjian yang di sebut dengan “konsesus washintong”. Konsesus ini memuat hal-hal yang merupakan konsep-konsep gagasan neoliberalisme (neo-kapitalisme) dari Amerika yang akan diberlakukan di Indonesia.

Kita dapat melihat implementasi dari konsesus itu yaitu menjamurnya korporasi asing yang sebagian besar milik amerika di Indonesia. Untuk memuluskan program kerjanya Indonesia di pakasakan untuk melakukan deregulasi sehingga para korporasi leluasa bergerak. Hal ini kemudian berdampak pada sektor-sektor kehidupan lain yang terimbas oleh proyek neolibaralisme ini. Dan masih banyak lagi contoh yang lain misalnya privatisasi BUMN dan lain-lain.

Sebenarnya Indonesia adalah salah-satu negara dari banyak negara di dunia yang terhegemoni oleh gagasan neo-liberalisme Amerika. Kita dapat melihat penjajahan yang ada di timur tengah. Negara yang mayoritas islam. Inilah salah-satu yang menyebabkan penolakan ke datangannya ke Indonesia. Alasannya adalah mayoritas masyarakat Indonesia beragama islam. Dimana mereka penjajahan Amerika di timur tengah adalah upaya untuk menghancurkan kejayaan islam. Dimana islam adalah agama perlawanan terhadapa segala bentuk penindasan termasuk neoliberalisme.

Dari sinilah, kita dapat menyimpulkan kedatangan Amerika tidak ada gunanya. Presiden Barack Obama hanyalah simbol kapitalisme dunia yang ingin menawarkan program ekspansinya ke Indonesia. Tak dapat juga kita nafikan dengan kerja sama yang akan sangat menunjang pembangunan. Namun kerja sama itu akan lebih merugikan Indonesia karna Indonesia tengah tersubordinasi dari Amerika.

nb: tulisan ini telah diposting di ngurunto.blogdetik.com

Kedatangan Obama, bukti Lemahnya Indonesia

Tepatnya hari selasa 9 november kemarin, Indonesia kedatangan tamu besar dari Negara adi daya Amerika serikat. Tamu itu adalah presiden Amerika serikat, Barack Obama. Sebenarnya kedatang tersebut adalah rencana ke tiga yang terealisasi karna rencana sebelumnya juga di batalkan. Kedatangan orang nomor satu Amerika ini menimbulkan respon yang kontroversi di masyarkat Indonesia.

Yang menolak kedaangan Barack Obama di antaranya menggap kedatangannya tidak memberi arti apa-apa bahkan dianggap membahayakan bagi Indonesia karana akan membuat kesepakatan bilateral yang cenderung merugikan Indonesia. Lagi pula janji yang selama ini di gagas untuk tidak terlibat dalam konflik dan menarik pasukannya (mendamaikan) dari timur tengah, tidak terlaksana. Namun di satu sisi kedatangannya banyak di harapkan oleh masyarakat Indonesia. Mereka melihat bahwa orang nomor satu Amerika ini akan membawa kerja sama yang baik di antara kedua Negara. Lagi pula Barack Obama pernah mengenyam pendidikan di Indonesia sehingga kunjungan ini dianggap sebagai ajang untuk lebih mempererat persaudaraan kedua negara.

Terlepas dari itu semua, kita harus melihat bahwa betapa euforinya masyarakat Indonesia dalam menyambut kedatangan presiden Amerika ini. Bahkan pembicaraan dan pemberitaan tentang bencana alam yang tengah menimpah Indonesia pun seakan-akan istrahat sejenak. Ekspresi euforia ini mengatakan kepada kita bahwa begitu pentingnya perwakilan Amerika ini. Juga menjelaskan betapa besar dan kuatnya Negara yang di pimpin oleh Barack obama ini (baca : Amerika ). Hal ini mempertegas keberadaan Indonesia sebagai negara yang masih tersubordinasi dari Amerika. Meskipun tidak bisa dinafikan keharusan saling membutuhkan dalam dinamika kehidupan global namun kita membuktikan kepada Amerika bahwa Negara kita sangat tergantung padanya. Lihat saja, rencana kedatangan presiden Amerika yang dibatalkan dua kali sangat disayangkan oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia.

Lalu, kenapa Amerika begitu di kuat dan Indonesia begitu tergantung padanya? Tentunya mereka memiliki sesuatu yang menjadikan negaranya kuat dan sangat digagumi Indonesia bahkan Negara lainnya di dunia. Sebagaimana kita ketahui, Amerika di kenal dengan Negara super power. Negara memiliki kekuatan ekonomi dan IPTEK yang membuat dunia terkendalikan olehnya. Bahkan tak sedikit Negara di dunia yang berpatron padanya karna hegemoni yang di cengkrangkamkannya pada dunia.

Inilah pelajaran yang penting bagi Indonesia terhadap kedatangan presiden Amerika tersebut. Kita harus lebih keras lagi berusaha untuk menjadi Negara yang sangat di perhitungkan dalam percaturan dunia. Dan seandainya Indonesia memiliki kekuatan yang besar maka tidak akan sangat tergantung pada Amerika bahkan akan terjadi sebaliknya.

Tapi sayangnya kekuatan yang kita miliki yaitu kekayaan alam yang melimpah hanya lebih besar di manfaatkan oleh Amerika (dengan korporasi-korporasinya). Bahkan dengan kekayaan alam, kita semakin di jajah oleh bangas asing. Dan seorang pakar Pembangunan dan Ekonomi Global pada Brookings Institution AS, Lex Rieffel, mengatakan sumber daya alam Indonesia hanya menjadi kutukan bukan menjadi berkah bagi pemiliknya.

nb : tulisan ini telah di posting di
kompasiana.com

Minggu, 07 November 2010

Indonesia Perlu Merenung

Dalam beberapa pekan terakhir, Indonesia dihampiri oleh runtutan bencana alam. Dari banjir bandang wasior, gempa (tsunami) mentawai dan yang terakhir merapi yogyakarta yang waktunya hampir bersamaan dengan gempa mentawai. Ketiga bencana alam ini seolah memberikan peringatan kepada kita tentang kemarahan alam terhadap bangsa kita. Alam mencoba menyeimbangkan dirinya yang menimbulkan efek negatif bagi masyarakat Indonesia.

Belum lagi dengan permasalahan bangsa ini. Perjalanan pemerintah sebagai kepercayaan rakyat untuk menata kehidupan bernegara telah menampakan kelemahannya. Rakyat miskin, tindakan kriminal terjadi di mana-mana, hukum yang cacat, pendidikan yang bobrok dan masih banyak lagi. Hal inilah yang harus kita renungi bersama. Masalah-demi masyalah menghampiri negeri ini. Tentunya ada yang salah dengan apa yang pernah kita lakukan.

Al-Quran menjelaskan kepada kita dalam Q.S al-Ruum (30:41.) "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)". Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa sesungguhnya bencana yang terjadi adalah karna ulah menusia. Gempa wasior, tsunami mentawai dan merapi Yogyakarta tidak lain karna Allah memberikan peringatan kepada hambanya yang telah menyimpang dari perintah dan larangannya. Ketika semua manusia merusak alamnya, sibuk mencarai dunia, tokoh agama hanya sibuk dengan urusan pribadinya, agama telah di salah gunakan, korupsi pemegang amanah rakyat, pemimpin menyalahi amanah rakyat maka Allah menurunkan azabnya sebagai sinyal bahwa ada yang salah dari apa yang telah kita perbuat. sebagaimana analogi yang diberikan Nabi Muhamammad saw dengan sebuah kapal yang berlantai dua. Lantai pertama terdapat orang yang zalim sedangkan lantai kedua terdapat ahli ibadah. Ketika orang zalim membocori lubang kapal maka semuannya akan tenggelam.

nb: telah di posting di http://ngurunto.blogdetik.com

Sebuah Sajak Untuk Negeriku

Bumi hijau nan subur
Laut dan hutan yang luas
Mengandung kehidupan untuk kehidupan anak bangsa
Kegembiraan adalah rasa syukur kami terhadap Mu

Tapi haruskah air mata membasahi negri ini
Air dan ombak yang ada membuat duka
Gunung yang ditinggikan menjadi menjadi paronama alam
Telah membenci

Belum lagi kekayaan alam menjadikan kami terjajah
Mereka para penjajah mendatangi negeri
karna memiliki alam yang indah untuk dinikmati
mungkinkah alam yang indah menjadi kutukan?

Katanya bumi dan air serta kekayaan alam lainnya di peruntukan untuk hajat hidup kami
Namun mereka datang dengan uang
Dan alat-alat penjajahnya untuk memilikinya
Wakil menghianati rakyat yang tengah di banjiri air mata duka
Mereka menghianati kami hingga hati mereka tak mampu mendengar tangisan anak bangsa

Hidup Untuk Menang

Hidup adalah misteri. Apa yang kita rencanakan kadang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Hingga ada ungkapan agama mengatakan bahwa manusia hanya bisa berencana mengenai hasil itu adalah urusan Tuhan. Dari itulah kita disuruh untuk selalu berikhtiar dijalan yang telah di ridhoi-Nya.

Kadang kita mengharapkankan kebahagiaan namun yang hadir adalah kesengsaraan. Tapi itulah dinamika kehidupan sehingga kita di anjurkan untuk tidak menyerah dan sabar dalam menghadapi cobaan tersebut. Hidup dan semua komponen alam semesta diciptakan tidak sia-sia, semua memiliki kegunaan. Dan semua itu diciptakan dengan sebaik-baiknya. Begitu pula manusia diciptakan untuk menjalaninya dengan baik pula. Manusia diberikan predikat khalifah yang memiliki fungsi untuk memimpin semua komponen alam semesta termasuk dirinya sendiri.

Ketika semua makhluk di berikan amanah untuk menjadi kahlifah (Pemimpin) di muka bumi ini namun tidak ada yang mampu mengemban amanah tersebut. Tapi ada perkecualian untuk manusia karna manusialah yang mampu memegang amanah sebagai pemimpin itu. Sehingga sebagai pemimpin, kalah adalah hal yang tak mesti dimiliki dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan ini.

Ingatkah dulu ketika manusia di ciptakan. Manusia melewati beberapa fase alam kehidupan sebelum sampai di alam dunia. Kalau kita mencoba untuk merenungi proses terjadinya manusia ketika berada di alam rahim maka sesungguhnya kita telah diberikan kemampuan untuk berhasil dan menjadi pemenang.

Sebagaimana sebelum embrio manusia berada di rahim Ibu. Terlebih dahulu sperma dari ayah dan ovum dari ibu melakukan pertemuan. Pertemuan itu sebagai peristiwa pembuahan ovum oleh sperma hingga menjadi embrio manusia. Namun dari sekian juta sperma yang pergi membuahi sel telur, hanya satu yang berhasil sedangkan jutaan lainnya gugur (mati) sebelum sampai ditujuannya. Dan satu-satunya sel sperma yang berhasil tersebut adalah kita yang lahir di dunia ini. Artinya sebelum kita menjadi embrio kemudian dilahirkan menjadi manusia, kita terlebih dahulu bertarung dengan manusia-manusia lain (baca: sperma-sperma) yang pergi membuahi ovum. Dan yang menjadi pemenang dari pertarungan itu adalah kita (baca: seorang manusia) yang terlahir di dunia.

Sayangnya masih banyak manusia yang tidak memaknai hakikat proses penciptaanya. Begitu banyak proses yang kita lewati hingga kita menjadi seorang manusia. Harusnya dengan itu kita semakin termotivasi untuk menjalani hidup dengan tidak berputus asa dan untuk selalu menang dalam menggapai tujuan. Sangat naïf kalau manusia selalu mengeluh, menyerah bahkan mengakhiri hidupnya tatkalah ada maslah yang menghampirinya.

Tidakkah kau tahu, hanya manusia yang mampu mengemban tugas sebagai kahlifah di muka bumi ini.
Tidakkah kau tahu, bahwa kita lahir di dunia karna sebuah kemenangan.


Kutulis demi perubahan

Sabtu, 06 November 2010

Menyoal Pendidikan di Indonesia

Pendidikan adalah ruh dari peradaban manusia. Artinya peradaban tergantung dari pendidikan yang diperoleh oleh pelaku peradaban. Pendidikan yang baik menghasilkan out-put yang baik pula dan sebaliknya. Parameter pendidikan bukan hanya dilihat dari hasil akhir namun lebih kepada proses. Bagaimana peserta didik melewati proses-proses dalam pendidikan. Selama ini pendidikan kita terjebak pada hasil yang kadang tidak sesuai dengan proses terdidik yang beretika.

Di Negara kita Indonesia, kesadaran akan pendidkan telah tumbuh. Bahkan selain pemerintah sebagai peanggung jawab penuh atas segala kebutuhan masyarakat, juga banyak masyarakat yang mengkampanyekan pentingnya pendidikan. Meskipun pemerintah telah menyelenggarakan pendidikan namun bukan berarti sudah sesuai dengan tujuan pendidikan. Selain itu perlu kiranya kita mengevaluasi kinerja pemerintah terkait pendidikan yang telah di selenggarakan. Karna selain hasil yang tidak memuaskan juga masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak bisa mengakses pendidikan.

Sebelum Indonesia merdeka founding father pendidikan, Ki Hajar Dewantara, telah mengkampanyekan pentingnya pendidikan. Beliau mendirikan lembaga pendidikan sebagai bentuk kepedulian terhadap generasi muda bangsa yang tengah di jajah oleh Negara asing. Bapak bangsa ini melihat bahwa bangsa Indonesia akan terus dikendalikan dan dijajah oleh bangsa lain jika para pemudanya tidak memilki kemampuan intelektual yang mapan. Singkat cerita Indonesiapun di merdekakan oleh anak-anak bangsa yang terdidik. Dan pasca kemerdekaan pun pendidikan memiliki kedudukan yang istimewa dalam agenda cita-cita bangsa. Hal itu dapat dilhat dengan tingginya porsi pendidikan di APBN yaitu sebanyak 20% dari total APBN.

Sejatinya setelah Indonesia meredeka sekitar 60 tahun lebih, pendidikan harusnya telah mengalami perubahan yang lebih baik lagi. Namun apakah realitas berkata demikian? Hasil pendidikan dapat dilihat dari peradaban yang tercipta. Kalau dulu masyarakat Indonesia dijajah oleh Negara lain karna banyak yang tidak berpendidikan maka harusnya sekarng hal itu telah menjaadi sejarah yang kelam dan tidak boleh ada di zaman kemerdekaan. Jika dulu bayak masyarakat yang tidak bermoral maka harusnya sekarng telah terjadi perubahan menuju manusia yang bermoral.

Fakta berbicara lain mengenai pendidikan Indonesia. Justru dengan menggunakan pendidikan sebagai salah-satu indikasi kemerdekaan maka perlu di pertanyakan tentang kemerdekaan yang sedang dimiliki. Belum lagi masih banyak rakyat yang tidak mengakses pendidikan. Pendidikan yang bermutu hanya dinikmati oleh kalangan elite sedangkan kelas masyarakat bawah hanyalah menjadi penonon dan menikmati pendidikan dengan mutu yang rendah. Apa lagi pendidikan sekarang tidak steril dari ideology dan kepentingan tertentu. Sehingga keluaran pendidikan tidak lagi di peruntukan untuk kepentingan bangsa namun hanya untuk kepentingan ideology tertentu yang menghasilkan kehidupan yang timpang.

Inilah selayng pandang tentang pendidikan Indonesia.

ku tulis demi perubahan








Kamis, 04 November 2010

Ketika PSK menggalang dana peduli bencana alam

Mungkin selama ini dalam mindset kita melihat PSK (pekerja seks komersial) hanyalah orang yang menjajakan seks. Mereka diidentikan dengan orang yang tak bermoral sehingga dipandang sebelah mata oleh masyarakat pada umumnya. Tapi bagaimana kalau para PSK mengekspresikan kepeduliannya terhadap bencana alam yang menimpah negeri ini? Sebagaimna yang terjadi pada PSK kremil di Surabaya. Mereka telah menunjukan rasa kemanusiaannya meskipun di satu sisi ada yang berpandangan negatif pada mereka karna profesi mereka.

Mereka menuturkan bahwa mereka juga punya hati nurani sebagaimana yang dimiliki oleh manusia lain. Dalam menggalang dana yang mereka lakukan adalah dengan cara meminta pada pada pengguna kendaraan dan melakukan aksi teaterikal. Selain itu juga mereka meminta dari rumah ke rumah.




(Foto: Daniel Lukas Rorong) lagi meminta sumbangan

Lagi pula perlu juga di ketahui, sesungguhnya mereka berprofesi sebagai PSK bukanlah disebabkan oleh mayoritas karna ketidak bermoralan mereka. Namun lebih karna alasan ekonomi. Bagi manusia, dimanapun dia berada ketika diperhadapkan dengan masalah ekonomi kadang mereka rela melakukan apapun demi bisa bertahan hidup. Salah satu contohnya adalah mereka yang terjun dalam dunia PSK tesebut.

Di Negara Thailand para PSK terdiri dari 60% dari total golongan orang yang miskin. Merekapun melakukan hal tersebut karna ketidak tersediaan lapangan kerja yang layak. Seperti halnya di Indonesia. Sala satu daerah di Indonesia tepatnya di Indramayu, Jawa barat, pernah di adakan penelitian tentang profesi kaum perempuan di daerah tersebut. Ternyata profesi PSK adalah mayoritas profesi yang mereka lakoni bahkan bukan lagi menjadi hal yang tabuh bagi daerah tersebut. Setelah di telusuri alasan tentang pekerjaan mereka maka lagi-lagi karna alasan ekonomi.

Oleh karna itu tidak mesti kita meyalahkan secara totalitas kepada mereka yang berprofesi sebagai PSK. Kita harus melihat secara komprehensif masalah ini, bahkan lebih bijaksana lagi kalu kita melihat sebab yang menjadikan mereka demikian. Maka negara atau pemerintah dalam hal ini harus menyediakan lapangan pekerjaan yang layak bagi kaum perempuan. Pemerintah harus merekonstruksi konsep ekonomi supaya tidak terus mengeksploitasi perempuan yang salah-satunya terwujud dalam lokalisasi tempat prostitusi (para PSK). Bahkan pemerintah mengambil manfaat dengan di lokalisasikannya tempat prostitusi karna dengan itu pemerintah dapat menarik pajak untuk melengkapi APBN-nya. Jadi stereotype pada mereka yang berprofesi sebagai PSK juga disebabkan karna ketidak becusan pemerintah negri ini.

oleh karna itu marilah kita lebih bijak lagi dalam menilai mereka( baca: PSK). Mereka juga manusia, sama halnya dengan kita. Merka punya hati nurani sebagaimana terwujud dalam kepedulian mereka terhadap korban bencana alam (mentawai dan merapi). Dan harusnya juga pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan yang layak bagi mereka.

kutulis demi perubahan

nb: telah menjadi head line di kompasiana.com

Rabu, 03 November 2010

Jangan Lupa!!!

Bencana alam yang menimpah negeri telah menyedot perhatian masyarakat Indonesia. Bencana telah menggerakan moral kemanusiaan sehingga rasa duka pun di berikan kepada korban bencana alam tersebut. Tragedi alam ini telah meramaikan media massa sehingga ruang-ruang pikiran masyarakat Indonesia didominasi oleh pemberitaan tersebut. Sebelum media ramai memberitakan fenomena alam ini, masyarakat Indonesia disuguhkan oleh berbagai permasalahan negeri terkait dengan kinerja pemerintah. Sehingga permasalahan yang sebelumnya menjadi tereduksi oleh fenomena alam ini.

Bukannya tidak bersimpati terhadap bencana yang di alami oleh saudara-saudara kita. Namun disini penulis hanya mengingatkan kepada pembaca bahwa jangan kita lupa dengan ketimpangan yang telah dibuat oleh pemerintah kita karna akhir-akhir ini media jarang mempublikasikannya. Selain kita memberikan apa yang kita miliki terhadapa korban bencana juga kita harus terus mengawal dinamika sosial politik negeri ini.

Terdapat relasi antara media massa dan kekuasaan. Dan tak jarang media digunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingannya tak terkecuali pemerintah. Media massa memilki peran yang sangat besar dalam perubahan sosial. Media massa bisa menggerakan rasa kemanusiaan dan emosi masyarakat. Oleh karna itu sebagai agen perubahan kita harus lebih jelih melihat realitas yang terjadi di negri ini. Jangan sampai media meracuni dan menghegemoni mobilitas informasi yang disuguhkannya kepada masyarakat. Sehingga kita lupa dan mudah di gerakan oleh pemberitaan media massa.
nb:pernah di posting di ngurunto.blogdetik.com

Reshuffle, apakah solusi?

Sudah satu tahun berlalu, presiden sby dan budiono memimpin negeri ini. Berbagai persoalan yang muncul karena kinerja mereka. Rakyat telah melihat dan merasakan tentang kegagalan pada mereka dalam menahkodai negri tercinta ini. Namun mereka tak sendiri, karna setiap sector kehidupan telah ada yang mereka tunjuk sebagai asisten, itulah yang di sebut dengan mentri.

Meskipun ada dua versi yang pro dan kontra melihat perjuangan mereka dalam membangun negeri ini. Namun dominan melihat bahwa mereka tak memberikan perubahan yang lebih baik dan justru keburukan yang di timbulkan. Permasalahan ini kemudian menimbulkan reaksi dari berbagai elemen masyarakat untuk mendesak mentri-mentri yang tergabung dalam kabinet Indonesia bersatu (KIB) jilid II agar segera mundur dari jabatannya. Atau mendesak bapak presiden agar seegra merehuffle mentri-mentri yang dianggap tidak mampu menjalankan tugasnya.

Pertanyaan yang muncul, apakah setelah melakukan reshuffle kondisi akan menjadi lebih baik? Melakukan reshuffle berarti mengganti jabatan mentri dengan orang yang baru. Namun apakah akan menghasilkan perubahan yang lebih baik? sementara sistem yang kita anut adalah demokrasi liberal. Belum lagi jika pergantian itu tidak menempatkan orang-orang yang professional atau hanya karena alas an politis. Sby tidaklah satu tahun memimpin negeri ini dan mentri-mentrinyapun telah berganti namun kondisi negeri ini bisa dikatakan dalam keadaan yang sama. Oleh karna itu, bagi penulis reshuffle bukan solusi yang komprehensif namun hanya bersifat parsial dan sementara.

nb : telah di terbitkan di http://detiknews.com/ dan telah menjadi pilihan di blok politik. atau untuk lebih jelasnya di http://ngurunto.blogdetik.com/reshuffle-apakah-solusi.html/comment-page-1/#comment-4


Amerika; Di balik Bantuan Bencana Alam?

Ketika terjadi bencana alam di Indonesia dalam waktu terakhir ini banyak kalangan tergerakan kemanusiaannya. Salah-satunya terwujud dalam memberikan bantuan. Bantuan datang baik dari dalam negri maupun luar negri. Amerika adalah salah-satu donatur bantuan dana kemanusiaan yang di berikan kepada Indonesia untuk dialokasikan ke korban bencana alam. Disini penulis hanya menspesifikasikan pembicaraan pada bantuan luar negri yaitu dari Amerika.

Sebelum lebih jauh membincangkan tentang bantuan tersebut, alangka baiknya terlebih dahulu melihat selayang pandang tentang Amerika. Amerika dikenal sebagai pelakasana demokrasi yang sejati. Karnanya di era modern sekarang ini selalu menjadikan Amerika sebagai patron parameter kesuksesan penyelenggaraan demokrasi, salah satu wujudnya adalah menghargai hak hidup manusia dan menciptakan kehidupan yang manusiawi. Namun wujud dari demokrasi yang selalu di serukan oleh Negara super power ini sangat kontras terhadap perlakuannya kepada insan mansuia yang ada di timur tengah (Irak, Afganistan, Palestina dan lainnya). Tapi tak bisa juga kita nafikan atas bantuan yang di beriakan kepada korban bencana alam Indonesia.

Inilah sekilas tentang Amerika. Nah, ada permasalahan yang timbul oleh diskriminasi Amerika terhadap korban bencana alam di Indonesia dan saudar-saudara kita yang ada timur tengah. Jika demokrasi ditegakkan untuk menghargai setiap manusia dan nilai-nilai kemanusiaan, tentunya dapat simpulkan bahwa Amerika tidak konsisten. Tentunya setiap kegiatan termasuk pemberian bantuan bencana alam memilkik tujuan (kepentingan).

Dunia globalisasi (moderenisasi) dengan proyek westernisasinya terlah gagal memberikan kehidupan yang tanpa diskriminatif. Globalisasi adalah wadah yang digunakan oleh kapitalisme untuk lebih melebarkan sayapnya. Ekspansinya ke berbagai Negara di dunia terlebih Negara dunia ketiga telah menimbulkan ketidak puasan, protes bahkan pemberontakan. Hal inilah yang dilakukan oleh jaringan ‘terorisme’ (tanda kutip ini menandakan bahwa terorisme yang sering di publikasikan adalah hasil definisi dari Amerika yaitu pihak yang melawan Amerika). Bukan hanya ‘teroris’ berbagai gerakan juga lahir sebagai anti-thesis dari hegemoni Amerika dengan kapitalismenya misalnya gerakan kaum tradisional untuk menghidupakan kembali nilai tradisianalisnya, bagi sebagian kaum agamawan melakukan revitalisasi ajaran keagamaannya, berbagai propaganda perlawanan oleh masyarakat dunia yang merasakan imbas dari kolonialisme amerika dan masih banyak lagi. Inlah wajah proyek westernisasi Amerika (dan sekutunya yaitu negera eropa lainnya) yang tengah mengalami citra buruk di mata masyarakat dunia.

Karna citra buruk ini telah menghinggapi Amerika maka dia mencoba mensterilkan realitas tersebut. Mereka mencoba membangkitkan kembali keyakinan masyarakat dunia tentang Negara demokrasi yang meneggakan nilai-nilai kemanusiaan. Salah-satunya adalah memberikan bantuan kemanusiaan kepada korban-korban bencana alam. Ini sangatlah jelas, diskriminasi yang dilakukannya terhadap saudara-saudara kita di timur tengah. Kenapa tidak segra di hentikan agresi militernya ke timur tengah? Kenapa tidak segra menghentikan kebiadaban Israel terhadap masyarakat palestina (hamas)? Tentunya karna mereka memiliki kepentingan politis. Begitu juga kenapa mereka memberikan bantuan korban bencana alam, juga tidak murni karna alasan kemanusiaan.

Indahnya kearifan lokal wakatobi ( membangun politik berbasis kearifan lokal)

Dunia bagai daun kelor adalah istilah untuk menggambarkan kehdidupan gobalisasi. Globalisasi telah menjadikan letak geografis dan waktu bukanlah penghambat dalam berinteraksi sesama masyarakat dunia. Globalisasi telah banyak merubah pola kehdipan manusia di berbagai bidang seperti ekonomi, politik, budaya dan lainnya. Globalisasi ditandai dengan kemajuan IPTEK telah membawa nilai-nilai kehidupan yang baru dan kebanyakan berbeda dengan nilai kearifan lokal wakatobi.

Gobalisasi yang selalu di identikan dengan moderenisasi atau bahkan term lain adalah westernisasi (pembaratan). Hal ini di akibatkan karna yang menguasasi dan mendominasi globalisasi ini adalah kebudayaan barat yang individualistis. Ideology liberalisme telah memanfaatkan globalisasi sebagai kuda tunggangan menuju tujuan yang diinginkan. Sehingga kehidupan masyarakat yang memiliki kearifan lokal yang begitu indah telah terkikis dan tergantikan oleh kehidupan liberalisme yang dimiliki barat.

Inilah realitas yang terjadi di wakatobi. Berangkat dari keadaan ini maka sebagai masayarakat wakatobi patut meraih kembali kearifan local kita milki tersebut. Tugas ini harus dilakukan oleh segenap elemen masyarakat wakatobi. Tapi yang harusnya sangat perperan disini adalah pemerintah yang memiliki kekuasaan dan otoritas yang tinggi bagi keberlangsungan kehidupan wakatobi.

Tulisan ini hanya menspesifikasikan pengkajian pada kondisi politik wakatobi. Dan mengingkan menciptakn kehidupan politik yang berbasis pada kekeluargaan (salah-satu kearifan lokal yang kita miliki). Hal ini dilakukan karna menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada) wakatobi yang nantinya akan menentukan siapa nakhkoda wakatobi kedepan.

Menyoal kehidupan politik maka kita tidak bisa lepaskan dengan mesin politik demokrasi. Demokrasi yang ada hari ini digunakan baik Indonesia dalam skala yang luas maupun wakatobi dalam skala yang khusus telah mengadopsi demokrasi ala barat yang sekali lagi saya tegaskan bahwa nilai yang di bawanya adalah individualistis. Sehingga kita dapat melihat menjelang suasana pilkada 2011 kehidupan masyarakat wakatobi sangat rentan dengan konflik. Iniah disebabkan karna ada sekat yang coba di tampilkan sehingga menimbulkan sikap ke-akuan bukan ke-kitaan. Sikap masyarakat seperti ini disebabkan salah satunya karna segenap elemen masyarakat terlebih pemerintah tidak menyadari dan tidak memberikan pendidikan politik yang berbasis pada kearifan lokal yang kita miliki.

Kearifan lokal wakatobi sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan (egaliter). Misalnya ada falasafah hidup yang ada di Tomia yaitu “poasa-asa pohamba-hamba” (ini adalah sala satu contoh dan saya yakin masih banyak contoh lain baik di tomia sendiri maupun di kecamatan lain yg ada di wakatobi tapi pasti semua menggambarkan kebersamaan dalam hidup). Sungguh sangat berbeda dengan budaya poltik wakatobi yang mengdopsi nilai individdualistis globalisasi. Namun masyarakat tak banyak menyadari hal ini dan pemerintahpun hanya asik terkonsentrasi pada hal-hal lain (misalnya sibuk mempromosikan wakatobi).

Di tengah iklim politik wakatobi yang mulai memanas, masyarakat mulai terpisah-pisah menurut sikap politik yang dimilikinya. Namun akibat ketidak pahaman masyarakat terhadap kearifan lokal atau kekeluargaan yang kita miliki sehingga berujung pada terputusnya tali silaturahmi antarsesama. Masyarakat yang sebelumnya menampakan kehidupan yang layaknya keluarga telah tergantikan oleh sikap individualistis yang terpolakan oleh system politik yang ada. Karna sikap fanatik mendukung salah-satu kandidat, mereka rela saling membenci.

Salah-satu yang menyebabkan ini adalah adanya money politic (politik uang) yang sangat jauh dari karakter masyarakat. Bukankah kearifan lokal telah mengajarkan kita saling kerja sama yang baik? Kerja sama yang tak mengharapkan imbalan. Tapi justru hal ini telah diciderai oleh para kandidat yang tidak bersih dalam berpolitik. Sifat ini merupakan tampakan atau indikasi-indikasi KKN yang nantinya berpotensi terjadi jika mereka terpilih.

Inilah contah kecil yang terjadi. Tentunya para pembaca labih tau lagi dan memiliki hati nurani untuk membimbing kita melakukan hal-hal yang benar dan terbaik. Tidak menjadi sebab dan mengkompori terjadinya konflik akibat pilkada. Oleh karna itu yang kita lakukan bagaimana menyadarkan kepada masyarakat agar lebih memahami politik dengan baik. Politik yang disandarkan pada nilai kearifan lokal yang kita miliki yaitu politik kekeluargaan. Atau istilah lainnya adalah demokrasi kekeluargaan bukan demokrasi liberal ala barat yang tidak sesuai dengan karakter masyarkat wakatobi. sehingga wakatobi akan terbangun budaya politik yang indah dan dinamis yang tetap menjaga hubungan kekeluargaannya.
ku tulis demi perubahan


nb : di tampilkan di forum diskusi: HUGUA UNTUK BUPATI WAKATOBI 2011-2016


Pray For Indonesia

Air yang menghampiri tak dapat menghapus dahaga
Hujan yang tak menyejukkan
Laut yang tak mnghidupkan
Awan yang tak meneduhkan

Semua kaki tersentak
Tangan merangkul
Hati menjerit
Air mata membanjiri negeri tercinta

Bertahan namun menyakitkan
Harapan uluran tangan mewarnai keseharian
Tangis anak yang tak lama menjajaki dunia
Dia dan mereka pergi meninggalakan kita
Hanyalah air mata menenemani dalam kesendirian dan kesunyian

Tuhan aku hadapkan jiwa dan raga ini untukmu
Apakah ini ujian bagi kami?
Haruskah ini yang terjadi dan Kami kembali ?
Jangan biarkan kami selalu dalam kesediahan
Biarkanlah hati dan air mata ini mengalir karna mengigatmu di kala kami senang
Ampunkanlah diri yang melupakanmu.

Senin, 01 November 2010

Senangnya berada di dunia maya

Saat membaca berbagai tulisan di dunia maya (internet) pikiran saya berdialektik menuju pengetahuan dan kesadaran baru. Aku yang melihat dunia dalam ruang yang sempit menjadi ruang yang luas dan bahkan amat luas. Aku yang sedikit dan hampir kehilangan inspirasi menjadi tersentak dan kagum terhadap juataan produk pikiran yang tercipta. Aku yang merasakan dalam sedikit perspektif menjadi lebih banyak lagi.

Dunia luas tanpa pembatasan ruang tiga dimensi. Melalui jendela kecil kita dapat melihat berbagai informasi. Jendela dunia maya bagaikan mata yang mempu menembus segala penjuru. Tapi memang fakatanya demikian. Kita dapat brinteraksi dengan sesama pengguna dunia maya tanpa dibatasi ruang dan waktu. Saya di sana dan dia di sini yang secara geografi tak dapat bersama dalam dunia materi namun melalui dunia maya kita menyatu.

'Dunia bagai daun kelor'. Begitulah kata pepatah. Bagiku kalimat itu tidak salah tempat untuk dunia maya. Interaksi akan semakin intens. Sehingga perbedaan yang dulunya menjadi penyebab konflik menjadi redah karna dialog informasi.