Rabu, 31 Oktober 2012

Pemuda itu harus galau

Hemat saya, galau adalah ada sesuatu yang kita ingin sekali kita wujudkan tapi tidak terwujud. Sehingga orang yang terkena fenomena ini selalu merasa diri seakan tidak tenang dan nyaman. Jika kata ini disandingkan dengan kata pemuda sebagaimana pada judul tulisan ini maka bisa berarti pemuda harus tidak nyaman dan tenang. Trus, kenapa harus saya anjurkan, kalau pemuda itu harus galau? Padahal ketenangan dan kenyamanan itu sangat di butuhkan oleh siapa saja.

Bagiku, tidak selamanya galau menimbulkan dampak negatif atau tidak semua tidak nyaman adalah tidak baik. Ada juga galau yang baik dan malah di anjurkan. Jika kita galau pada sebuah masalah yang terjadi dan berusaha mencari jalan keluarnya. Atau galau tentang keburukan dan kezaliman yang terjadi dimana saja, inilah yang saya maksudkan.

Dalam historitas, jika kita mengacu pada kisah Rasulullah Muhammad SAW sebelum wahyu turun padanya, maka kita akan melihat betapa galaunya beliau. Hingga beliau menghindar dari keramaian masyarakat arab yang jahiliyah dimana terjadi perang antarsuku dimana-mana, perzinahan, riba, perbudakan dan berbagai tindakan amoral atau kejahiliyaan lainnya. Beliau menyepi di dalam gua hira di puncak gunung jabal nur (gunung cahaya) sembari menggalaukan dan memikirkan realitas buruk yang tengah terjadi di masayarakt arab saat itu. Atas kegalauan ini, Allah SWT memberinya petunjuk mengutus malaikant Jibril untuk menurunkan wahyu pertamanya.

Jika di bawa ke konteks ke Indonesiaan kita, ini tidak jauh beda dengan yang terjadi pada peristiwa 28 Oktober 1928. Ketika para pemuda galau terhadap kondisi nusantara pada waktu itu. Mereka melihat bentuk ketidakadilan yang dilakukan oleh para penjajah terhadap masyarakat nusantara. Sementara para pemuda masi terfragmentasi oleh ego sektarianisme yang justru menguntungkan para penjajah. Kondisi ini memberikan stimulus bagi lahirnya ikrar bersama di antara para pemuda di nusantara untuk menyatakan diri sebagai satu bahasa, bangsa dan tanah air Indonesia, yang kita kenal dengan sumpah pemuda.

Semangat kegalauan ini harus terus digulirkan agar menjadi inspirasi bagi pemuda sekrang dan masa depan. Dengan kondisi bangsa yang carut marut yang dilanda krisis multidimensional harusnya kegalaun itu semakin memuncak pada setiap diri pemuda. Pemuda tidak bisa hanya tinggal diam dan pasrah terhadap kondisi seperti ini. Idealnya, pemuda sebagai kekuatan penting dalam masyarakat menjadi ujung tombang aktif dalam menghancurkan setiap tantangan yang mengahalangi setiap kemajuan.

Sejarah telah mencatat, gerakan pemuda dari masa kolonial hingga hari ini sangat di perhitungkan. Meskipun tengah mengalami degradasi karakter dan mental, tapi tidak bisa menjadikan kita pasrah kondisi seperti ini. Pemuda sebagai modal dan kekuatan utama harus dibangkitkan kembali kekittah perannya sebagai ujung tombak dalam masyarakat dalam perubahan yang lebih baik. Jika sebaliknya, pemuda tidak memiliki kualitas yang mumpuni dan daya juang yang tinggi maka realitas buruk akan semakin buruk dan masa depan bangsa akan semakin suram karna merekalah aktor utama dalam memainkan peran kemajuan sebuah masyarakat.

Maka kegalauan pemuda terhadap ketidakadilan dan kezaliman harus terus di genjot. Sehingga dapat menjadi pemuda yang seperti dikatakan Sukarno, akan mengguncangkan dunia.

“Berikan aku sepuluh pemuda maka akan kuguncangkan dunia”. -Soekarno-

*sebuah dedikasi untuk peringatan hari sumpah pemuda yang ingin perubahan lebih baik

Senin, 29 Oktober 2012

Baca ke Tulis

Bacalah. Jika kita mendefinisikannya, berarti menanggkap makna dari sesuatu. Mungkin kebanyakan orang menganggap membaca hanya sesempit menangkap makna yang tertuang dalam tulisan. Tapi pertanyaan selanjutnya: dari manakah makna yang tertuang dalam tulisan sebelum ada tulisan? Tentunya dari pemaknaan sebelumnya. Pemaknaan atas hasil-hasil kerja epistemologi terhadap segala yang wujud (yang ada).

Logika sederhananya, sejak manusia lahir tidak ada pengetahuan yang ada pada dirinya. Mungkin yang ada hanyalah insting untuk menangis, buang hajat dan lainnya. Kemudian sejak mampu melakukan aktivitas pengindaraan dan berpikir maka disitulah ditemukan pengetahuan. Dengan kata lain sesungguhnya disitulah proses baca sudah dimulai. Dan terakhir bagi yang ingin mengejewantahkan hasil bacaannya maka di ikatlah melalui tulisan.

Budaya tulis, merupakan budaya yang belakangan lahir sebelum budaya baca. Karena  Tulis adalah manifestasi dari hasil baca. Baca mungkin hanya butuh organ mata, telinga dan pikir sedangkan tulis lebih dari itu. Tulis butuh organ tambahan seperti tangan ataupun kaki untuk mengukir makna-makna dalam literasi.

Ingat ketika Rasul Muhammad SAW menerima wahyu pertama. Beliau tidak disuruh untuk menulis melainkan bacalah!!! Bacalah makna-makna yang ada di sekitarmu. Untuk mengabadikan wahyu yang diterima agar tidak hilang begitu saja maka dibutuhkan tulisan. Seperti halnya dikatakan oleh Syaidina Ali bin Abi Thalib: ikatlah makna (pengetahuan) dengan tulisan. Maka wajar saja sebelum ada kertas disaat itu pelepah kurmah, tanah yang keras, tulang hewan dan lainnya digunakan untuk menuliskan wahyu-wahyu Tuhan kepada Muhammad SAW.

Budaya menulis merupakan bukti kemajuan sebuah kebudayaan bahkan tanda dari kebudayaan modern. Dengan kata lain membaca adalah tahap awal untuk menulis. Jadi untuk menjadi penulis maka membaca merupakan salah satu kewajiban mutlak.

Menulis juga bukti adanya sebuah peradaban yang pernah ada. Banyak sejarah dan kisah yang diketahui melalui banyak tulisan. Banyak intelektual-intelektual zaman dulu dikenal  karna adanya tulisan yang mereka karyakan atas  hasil pembacaan sebelumnya. Seandainya mereka tidak menulis pasti mereka akan tidak begitu dikenal bahkan tidak dikenal sama sekali dalam sejarah manusia. Karenanya ada idiom, Aku ada karena Aku menulis. Menulis yuk !!!

Jumat, 26 Oktober 2012

Aku, Isabella dan gema takbir

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar…Gema takbir menghiasi malamku. Memang malam ini tidak seperti malam-malam sebelumnya meskipun masih ditemani oleh segelas kopi hitam. Gema pujian kepada Tuhan ini, menandakan bahwa esok hari akan di adakan sebuah peristiwa besar bagi umat islam di seluruh dunia yakni hari raya qurban, idul adha.

Bulan tampaknya malu-malu untuk menampakan keindahan tubuhnya secara utuh. Aku mengintip di balik jendala markas besarku (kamar kosku) untuk mengetahui keadaan langit yang ternyata cerah dihiasi oleh bulan dan bintang-bintang.  Dalam benak berkata, seandainya mata ini mampu membuka tabir kegaiban mungkin sekarang aku akan menyaksikan malaikat-malaikat Allah sedang menari-nari di seantero langit sembari berzikir, memuja dan memuji Nya. Namun malam itu aku hanya bisa menyakinkan diriku bahwa itu adalah sebuah kebenaran yang tengah terjadi malam ini meskipun mata yang terbatas ini tak mampu menjamahnya.

“Maha kuasa Allah atas segala sesuatu yang menciptakan malam ini dengan penuh keindahan dan ketenangan”.  Sembari menghembuskan nafas panjang tanda kelegahan.

Ketenangan kini melandaku seakan berada pada aliran sungai yang jernih nan sejuk. Meskipun seperti malam-malam sebelumnya tentang kisah aku dan segelas kopi hitam, bahwa dia telah dikunjungi oleh gerombolan semut hitam. Namun keadaanku semakin tentram karena seorang wanita cantik lagi anggun, putri seorang pastur menemaniku mengarungi malam yang cukup mengasikan ini. Di tambah lagi, malam itu yang telah masuk 10 Dzulhijjah yang pernah terjadi peristiwa sejarah nabi Allah, Ibrahim as.

Peritiwa sejarah itu, merupakan sebuah peristiwa tentang hakikat cinta yang sesungguhnya, ketika kekohan cinta mulai di uji. Kita di ajak menyelami makna cinta yang sebenar-benarnya cinta bukan cinta semu sebagaimana cinta kepada dunia. Ingatkah pada kisah nabi Allah, Ibarahim as dan putranya Ismail as? Ibrahim atas perintah Allah, harus ikhlas mengurbankan anak tercintanya, Ismail as untuk dipersembahkan kepada-Nya. Padahal Ibrahim sangat mencintai Ismail tapi justru dengan tangannya sendiri dia harus membunuhnya dengan cara di sembelih. Tapi karena atas dasar cinta kepada Allah lah yang memberikan dia kekuatan untuk ikhlas mengurbankan anaknya. Inilah sesungguhnya hakikat cinta yang sebenarnya, yakni menempatkan cinta kepada Allah di atas segalanya termasuk kepada keluarga.

Ternyata tak jauh beda dengan kisah seorang anak seorang pastur yang menemaniku malam itu. Meskipun peristiwa berbeda namun ada kemiripan semangat perjuangan cinta yang ada pada dirinya. Demi cintanya kepada Allah dia harus mengurbankan agamanya semula dengan memeluk agama islam.

Adalah Isabella. Wanita inilah yang menemaniku saat itu sambil menikmati segelas kopi dan gemah takbir. Terus terang  selain kecerdasan, kecantikan serta keanggunannya, aku sangat terpesona pada perjalanan hidupnya yang berani mencari kebenaran meskipun rintangan berat harus dihadapinya. Dia berasal dari keluarga terpandang di kotanya namun dia berani meninggalkan jabatan dunia itu demi sebuah ketenangan spiritual. Dia rela “mengurbankan” cintanya kepada dunia demi cintanya kepada Allah termasuk bagaiamana dia harus melawan Ayahnya seorang pastur yang taat.

Gema takbir terus berkumandang. Malam semakin larut dan semut-semut hitam mulai mengepung segelas kopi hitamku yang kelihatan pahit namun manis menurut mereka. Aku belum beranjak dari tempat dudukku. Rasa penasaranku kepada wanita mualaf ini terus memberiku energi untuk bertahan dalam larutan malam dan tidak beranjak dari tempat dudukku. Aku terus menyelami perjalanan kisahnya melalui bentangan sabda-sabda-Nya yang tertuang dalam karya sastra.

Meskipun tidak mengerti apa yang dibicarakan, suara ayam yang saling bersahutan malam itu semakin menambah inspirasi. Bagiku beberapa peristiwa di momentum malam itu mengilhamiku hingga membuatku bertekad untuk lebih mendekatkan diri lagi pada Robb, yang Maha mengatur. Aku yakin tidak ada yang kebetulan di dunia ini, karena semua sudah ada yang mendesainya yakni Allahu Akbar, Allah yang maha besar termasuk kenapa Dia harus mempertemukanku dengan sosok Isabella dan momentum idul qurban. Karenanya sifat duniawi (kebinatangan) yang masih melekat pada diri kita harus segera di”kurban”kan. Pada akhirnya cinta kepada Allah harus di tempatkan di atas segalanya meskipun kita harus mengurbankan alam semesta dan isinya.

Semoga Allah selalu melimpahkan kita petunjuk dan hidayah_Nya. Amin.


Makassar, di saat kumandang takbir di gemakan, pukul 01:55, 10 Dzulhijjah 1433 H / 26 Oktober 2012 M.

Selasa, 23 Oktober 2012

Media sosial dan prilaku manusia

Di era sekarang, media sosial telah menjadi trend. Para pengguna internet, umumnya memiliki akun di beberapa media sosial terutama facebook dan twitter. Dengan media sosial seperti ini, komunikasi dapat terhubung dengan cepat tanpa mengenal batas geografis. Ibaratnya, dunia terasa seperti daun kelor yang sangat sempit karena manusia di berbagai belahan dunia tidak lagi butuh ruang dan waktu yang luas untuk bertatap muka. Bahkan ada seorang ahli posmoderenisme, Yasraf Amir Piliang menyebutkan bahwa fenomena seperti ini telah merubah dunia menjadi dunia yang dilipat, saking semakin sempitnya dunia yang tak mengenal batas-batas teritorial lagi.

Dahulu sebelum manusia mengenal tekhnologi komunikasi lebih-lebih internet, mobilitas informasi sangat sulit terjadi. Penyebaran informasi sangat sempit dan kabar di berbagai tempat sangat sulit di dapatkan bahkan tidak ada sama sekalli. Merebaknya industry IT (informasi dan tekhnologi) dan didukung kemajuan IPTEK telah merubah itu semua, manusia kini seakan hidup dalam dunia maya yang tidak nyata (virtual). Bahkan ada yang mengatakan bahwa negara dengan batas teritorinya sudah tidak ada, yang ada adalah dunia yang satu.

Tulisan ini tidak akan terlalu mengupas jauh tentang media sosial. Melainkan hanya akan menyinggung pada perubahan budaya dan efek psikologinya pada manusia. Sebagaimana dikatakatan sebelumnya, dunia semakin sempir dan ibaratnya dunia yang dilipat. Manusia tidak perlu lagi ruang khusus dan waktu yang banyak untuk bertemu langsung sembari bersosialisasi satu sama lain. Cukup berselancar di dunia maya (internet), maka terjadilah pertemuan itu.

Meskipun tidak dapat di pungkiri, tidak perlu membutuhkan waktu yang lama dan cukup efisien namun justru dari sinilah muncul efek negatifnya. Terlepas dari efek positif lainnya, kurangnya intensitas pertemuan secara langsung membuat hubungan emosional antarmanusia tidak akan terjalin dengan erat. Manusia akan cenderung individualis karena ruang yang nyata untuk besosialisasi langsung tidak lagi digunakan. Manusia kini seolah merasa kesepian dan hanya mencari keramaian di dunia maya. Padahal secara psikologi, pertemuan langsung akan lebih bermakna dibanding hanya dilakukan di media sosial. Bahkan mungkin dalam media sosial mereka saling mengenal namun di dunia nyata mereka tidak saling mengenal.

Selain itu, ternyata intensitas penggunaan media sosial (terutama facebook dan twitter) yang semakin tinggi akan mudah menimbulkan depresi. Ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan ilmuwan Amerika di Academy of Pediatrics, yang menyebutkan penggunaan facebook yang sering dalam sehari dengan intensitas tinggi akan mudah terserang depresi dibanding pengguan yang hanya beberapa menit saja dalam sehari. Juga ternyata media sosial dapat  menimbulkan irih pada orang lain. Aktualisasi yang terjadi di media sosial dengan menampilkan pengalaman tertentu seseorang akan membuat cemburu orang yang sebelumnya tidak pernah melakukannya. Inilah yang semakin membuat orang lain semakin depresi bahkan melakukan hal yang lebih ekstrim, bunuh diri.

Minggu, 21 Oktober 2012

Akhir pekan, rutinitas dan rehat

Pagi yang cerah untuk jiwa yang tenang. Tangga nada naik turun yg mengekspresikan lanunan music membuat jiwa semakin tenang. Dalam kebingungan usai hidup sejak di “matikan sejenak” oleh Tuhanku, pikirankku ibarat gelas bening yang tak berisi.

Segera ku ambil telpon genggamku sembari mengetik pesan ke beberapa teman. Hanya sekedar meramaikan suasana pagi di akhir pekan, saya mengirim pesan : “jika kamu masih bisa berpikir maka berpikirlah menjadi orang besar. Slamat berakhir pekan….” Selain itu, tak lupa ku sapa teman2 di dunia maya melalui jejaring sosial facebook dan twitter, tidak lain untuk lebih menguatkan lagi tali silaturahmi.

Meskipun saya tidak pernah melihat kaki yang membantunya untuk berjalan tapi sang surya ini tidak lagi pada posisi semula. Dia semakin menamparkan sinarnya yang menyengat pada bumi dan semakin meninggalkan ufuk timur. Tapi tidak untuk saya yang masih menikmati segelas susu dan lantunan musik dan tetap tidak beranjak dari markas besarku, kosku.  Memang di akhir pekan ini, saya tidak mengagendakan kegiatan tertentu di luar rumah. Saya hanya ingin menikmati akhir pekan tanpa ada gangguan apapun dari orang lain dan rutinitas yang lain.

Hati-hati dengan rutinitas. Meskipun dia memiliki sisi baik, tapi di juga memiliki sisi buruk.  Mungkin kita akan mudah melakukan rutinitas tersebut karena tidak lagi menguras pikiran dalam melakukannya. Di satu sisi, dia dapat menumpulkan kreativitas, menjenuhkan dan bahkan bisa mengalienasi kita. Atas latar belakang inilah, saya merubah kebiasaan mingguan saya. Sekarang telah ku sediakan porsi untuk rehat, terutama ketika di akhir pekan yang sebelumnya jarang saya lakukan.
 
Selain itu untuk rehat, alangka baiknya juga kita gunakan untuk mengevaluasi diri dan semua aktivitas selama satu pekan bahkan di waktu-waktu sebelumnya. Semoga lebih baik dan lebih baik lagi.

Jumat, 19 Oktober 2012

Aku dan segelas kopi hitam

Malam semakin menunjukan karakternya yang dingin hingga menusuk tulang bahkan sampai kehati yang selalu menginginkan ke tenangan. Mungkin mentari bosan dengan makhluk yang bernama manusia hingga dia tak muncul secara langsung dimalam hari untuk memberikan hawa panasnya. Kalaupun dia hadir, itu atas kemauan bulan yang bersedia menerima mandat untuk memantulkan sinarnya ke bumi.

Mungkin kebanyakan manusia sudah lelap dalam tidurnya. Wajar saja, karena ketika mentari menerangi bumi di siang hari manusia selalu bergegas malaksanakan aktivitas hingga mentari bersembunyi di ufuk barat. Disaat itulah manusia mulai jenuh dan lelah tapi tidak untuk saya pada malam yang dingin itu sambil menikmati segelas kopi hitam.

Ah, ini seperti biasa yang tejadi pada malam-malam sebelumnya. Semut-semut itu mulai datang menghampiri gelas bening yang kelihatan pahit namun sebenarnya manis bagi mereka. Saya tersenyum melihat kerja sama dan cara mereka mengorganisir satu sama lain. Padahal mereka bagian dari banyak hewan yang tidak diberikan akal aktif seperti halnya manusia yang dapat berpikir kreatif. Namun malam itu, saya semakin sadar bahwa inilah kekuasaan Tuhan  yang Maha bijaksana lagi Maha Kuasa.

Mungkin buku dalam genggamanku akan marah padaku karena saya mencampakannya saat itu. Teriakannya padaku akan menggelegar seandainya dia memiliki mulut untuk berbicara seperti halnya manusia. Pasalnya, aku sangat terpesona oleh semut-semut yang bergerak menuju gelas kopiku. Mereka telah menunjukan padaku tentang arti sebuah kebersamaan di tengah dunia yang semakin individualis.

Tiba-tiba aku berpikir seandainya aku seperti nabi Sulaiman. Bahwa saya ingin berbicara dengan semut-semut itu dengan mengucapkan terimakasih atas pembelajarannya. Dan tak lupa kepada sang Maha kuasa atas segala sesuatu yang telah memperlihatkan sabda-sabda  tersiratnya.

Inilah yang dimaksudkan oleh Tuhan dalam perintah awalnya. Dia sengaja menyuruh manusia agar memahami terlebih dahulu sesuatu agar kita lebih bijaksana dalam mengarungi samudra kehidupan. Maka berkali-kali Tuhan selalu mengingatkan melalui sabda-sabdanya, agar kita selalu memaksimalkan akal dengan Iqra, bacalah…!!! 

Maka, aku dan segelas kopi  adalah aku yang membaca.

Minggu, 14 Oktober 2012

Seputar agama dan akal

Apakah agama dan akal bertentangan? Mungkin pertanyaan ini yang tepat untuk mengawali tulisan ini. Siang itu, diperpustakaan pusat Unhas, keheningan saya membaca buku tiba-tiba terpecah oleh debat beberapa mahasiswa. Mereka kelihatannya adalah warga baru di Unhas alias mahasiswa baru datang duduk di sekitar saya yang sedang membaca buku.

Dengan memperbaiki kursi yang ingin di duduki oleh mereka, seorang diantara mereka mengeluarkan pernyataan: agama tidak perlu banyak ditanyakan cukup di laksanakan saja. lantas membuat temannya membalas pernyataannya dengan mengatakan: kalau gitu apa gunannya akal yang diberikan Tuhan ? bukankah akal adalah alat untuk berpikir atau menemukan kebenaran?.

“iya, tapi jangan terlalu gunakan akal karena bisa menyesatkan” kata seorang temannya.

Silang pendapat di antara mereka membuatku tidak lagi berkonstrasi pada buku yang ada di depanku. Lagi pula, saya tidak bisa berkonsentrasi penuh untuk membaca jika suasana disekitarku ramai. Akhirnya, terpaksa aku memutuskan untuk mendengar saja perdebatan mereka.

Mendengar pernyataan yang terakhir di atas, tiba-tiba saya teringat pada catatan harian Ahmad Wahib. Catatan harian seorang aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) itu, dikumpul dan dicetak dalam bentuk buku yang berjudul: Pergolakan Pemikiran Islam Ahmad Wahib. Dari judulnya sudah bisa ditebak, isinya akan bercerita seputar pencarian akal (pikiran) terhadap islam.

Perdebatan beberapa mahasiswa baru di atas, setidaknya pernah di alami oleh seorang Ahmad Wahib dalam pencarian dan menguji kebenaran agamanya, Islam. Dari tulisan-tulisan ahmad wahib, dia mengatakan bahwa akal dan agama sebenarnya tidak bertentangan. Bahkan dia tidak ragu untuk menggunakan akalnya semaksimal mungkin bahkan untuk memikirkan dan menggugat Tuhan.

Kurang lebih maksud dalam potongan kalimat dalam bukunya, seperti ini :

“Ya Tuhanku, saya yakin engkau akan bangga padaku jika aku memaksimalkan akal pemberianmu ini untuk memikirkanmu. Bukankah memaksimalkan penggunaan akal yang Engkau berikan adalah bentuk rasa syukurku ?  Maafkan aku jika dengan akal pemberianmu ini aku meragukanmu, tapi aku melakukannya demi benar-benar menyakinimu. Dan aku yakin Engkau akan bangga padaku karena aku tidak secara membabi buta, seperti banyak orang menyakinimu tanpa memaksimalkan akal pemberianmu ”

Buku yang kontroversial ini, dikecam oleh banyak tokoh islam bahkan pernah diharamkan oleh beberapa ulama. Sehingga buku ini ditarik dari peredaran karena ditakutkan jika dibaca oleh mayoritas umat islam bisa menggoyahkan keimanan mereka. Ketakutan itu cukup beralasan tapi disatu sisi jika umat islam tidak dibiasakan dengan benturan-benturan pemikiran maka tidak akan mampu mengimbangi dinamika zaman. Bahkan untuk menyakini kebenaran sebuah keyakinan maka harus berani menerima tantangan pemikiran atau berani dibenturkan dengan berbagai diskursus.

Hemat saya, akal tidaklah bertentangan dengan agama jika kita berani adil dalam berpikir mengikuti kaidah berpikir yang benar. Namun tidak semua realitas keagamaan dapat ditangkap oleh akal. Akal tersubordinasi dibawah wahyu yang mutlak kebenarannya yang kadang rasionalitas manusia tidak mampu menjamahnya.

Jika keyakinan kita benar maka seharusnya kita berani melawan segala pemikiran, wancana atau benturan pemikiran apapun dan menghindar adalah langkah tidak bijak. Sudah Siapkah kita?


Kamis, 11 Oktober 2012

Pengkaderan mahasiswa dan kekerasan.

Seperti biasa, momentum-momentum seperti itu telah menjadi rutinitas. Bagi kalangan mahasiswa terlebih pengurus-pengurus lembaga kemahasiswaan internal kampus ini sebuah keharusan untuk melanjutkan kontiunitas organisasi. Pasti alasannya ingin merubah mindset (pemikiran) atau paradigma berpikir mahasiswa baru sekaligus sebagai penggerak roda organisasi kedepan.
 
Adalah pengkaderan atau penerimaan anggota baru yang menjadi kegiatan itu. Dari tahun ke tahun tepatnya di awal tahun ajaran baru, hal ini merupakan pendangan yang lumrah terjadi.

Sore itu, saya berjalan melewati sebuah koridor gedung yang yang mampu menampung hingga 6000 manusia. Terlihat beberapa mahasiswa yang menikmati duduk sambil menikmati cemilan, berdiskusi, bagi para senior (pengurus lembaga) kemahasiswaan mereka sedang ‘mengkader’ para mahasiswa baru  hingga ada juga yang hanya sekedar duduk santai melepas kepenatan rutinitas perkuliahan yang sumpek. Namun yang membuat saya sempat berhenti sejenak, ketika saya mendengar seorang mahasiswa baru meneriakan sebuah kalimat atas suruhan seniornya.

“…kami manusia merdeka…”

Kalimat ini cukup menggelitik dan sedikit lucu menurut saya. Pasalnya system pengkaderan yang diberlakukan oleh para senoirnya tidak banyak berubah. Adapun ada perubahan tapi substansinya tetap sama. Caranyapun cenderung kolot dan tak mau menyerap dinamika kezamanan agar pengkaderannya memiliki kontekstualitas.  Tindakan kontak fisik menjadi pemandangan yang lumrah ditemui dalam momentum pengkaderan.  

Ucapan seorang mahasiswa baru tersebut justru kontraproduktif dengan perlakukan oleh senior-seniornya. Bahkan beberapa kali para mahasiwa baru mengumandangkan sumpah sakral mahasiswa Indonesia. Salah satu poinnyai : “kami mahasiwa Indonesia bersumpah, bertanah air satu tanah air tanpa penindasan”. Justru kontak fisik yang terjadi adalah bentuk penindasan senior-seniornya.  Lagi-lagi kontradiksi dengan perlakuan yang diterima dengan yang dikumandangkan.

Hemat saya, cara-cara kekerasan fisik sangat tidak relevan dengan kekinian. Jika menginginkan perubahan paradigma yang harus dirubah ada paradigmanya pula yaitu dengan sentuhan-sentuhan pemikiran. Sehingga panggang tidak jauh dari api.

Makassar, 9 Oktober 2012

Rabu, 03 Oktober 2012

Intinya bergerak; kalau menjadi penulis maka menulislah

Teringat ucapan seorang kawan. Dia berkata: se ons tindakan lebih baik dari se kilo konsep (teori). Saya yakin setiap manusia memiliki konsep dalam dirinya terkait apa yang harus dilakukan bahkan rencana kedepan dalam hidupnya (cita-cita). Namun itu semua tidak akan terwujud jika kita tidak melakukan  gerak (action).

Hal ini juga terjadi pada diri saya. Untuk menulis, saya sangat bercita-cita untuk menjadi penulis yang handal. Banyak konsep yang saya miliki untuk mewujudkannya. Lagi-lagi saya terkendala untuk memulai, padahal tidak begitu susah. Bahkan menurut pengalaman, hal yang paling berat dilakukan untuk sebuah rencana adalah di awal-awal atau pada saat memulai dan setelah berjalan maka akan lebih mudah.

Janganlah bercita-cita jika tidak berusaha, jangalah berusaha jika tidak berilmu. Kalimat ini memberikan pemahaman bahwa Untuk menjadi penulis yang professional maka kita harus berusaha. Dan untuk berusaha maka dibutuhkan ilmu sebagai modal untuk bergerak. Sebenarnya, menulis bagi saya bukanlah hal yang baru. Bahkan tulisan saya pernah diterbitkan disebuah media massa. Namun dalam beberapa bulan ini, aktivitas ini tidak pernal lagi dilakukan. Alhamdulillah pada hari ini (memulai menulis artikel) saya baru akan memulainya lagi.

Sebelum menulis artikel ini, saya sangat termotivasi menulis ketika saya membaca buku “kekuatan pena” karya penulis Eko Prasetyo. Dia begitu memberikan motivasi agar selalu menulis, apapun itu. Dalam banyak tulisan di bukunya tersebut, benang merah yang dapat saya tarik adalah untuk menjadi penulis maka yang harus dilakukan adalah menulis. Dan itu semua harus dilakukan dengan segera memulai, bergerak, action.
Saya berrharap dan berdoa semoga Allah SWT selalu membimbing, memotivasi dan memberi kekuatan untuk selalu menulis. Amin. Ayo menulis…!!!