Sabtu, 28 Januari 2012

‘Galau’ dalam Michel Foucault

Kata ini telah menjadi kata yang cukup populer di Indonesia abad sekarang. Sebenarnya kata ini bukanlah kata yang asing, hanya saja sekarang sering digunakan. Apalagi dalam banyak acara dan tulisan di media elektronik maupun media cetak.

Kalau penulis mengartikannya, galau berarti suatu ekspresi kegelisahan dimana ada sesuatu yang kita inginkan tapi tidak dan atau belum terealisasi. Jika kita mengacu pada pendapat Michel Foucault bahwa dalam setiap wacana memiliki relasi dengan kekuasaan (ideologi) tertentu. Berarti galau juga membawa ideologi apa yang menyertainya.

Mungkin untuk lebih memahami pendapat ini, ayo kita menengok kekuasaan orde lama dan orde baru. Kata apa yang familiar terdengar dalam kedua setiap rezim ini?.

Orde lama atau rezim yang dipimpin oleh Sukarno ini selalu memperdengarkan kata ‘revolusi’. Jika kita menggunakan analisis aktor, maka bung Karno adalah seorang yang menganut ideologi ke kiri-kiri an. Ideologi yang selalu berbicara tentang perubahan secara radikal dalam tatanan masyarakat yaitu ‘revolusi’. Bung Karno terinspirasi oleh semangat Karl Marx yang berpaham sosialis-komunis. ‘Revolusi tidak berhenti sampai di sini, proklamasi Indonesia  bukanlah akhir dari revolusi, melainkan revolusi akan terus dan terus’ demikian kurang lebih bung Karno berkata.

Sedangkan orde baru yang dipimpin oleh Suharto, revolusi bukanlah kata yang familiar. Justru orde baru penentang kata ini. Mengapa demikian? Suharto adalah penganut ideologi yang bukan kiri atau ideologi yang bertentangan dengan orde lama. Melainkan ideologi yang menginginkan pertumbuhan atau pembangunan bukan melakukan revolusi.  Sehingga kata ‘pembangunan’ menjadi kata yang populer terdengar di rezim orde baru. Dengan itu Suharto sering dikenal dengan bapak pembangunan. Ideologi yang digunakan orde baru ini mengacu pada seorang ekonom Amerika yang berideologikan kapitalisme yang bernama W.W Rostow dengan teori pembangunan atau pertumbuhannya.

Bagaimana dengan kata ‘galau’ dan apakah bisa menentukan kondisi rezim yang berkuasa?

Mungkin benar bahwa bapak presiden SBY sementara galau. Pasalnya, terlalu banyak kasus yang ada dan bermunculan dan tak kunjung terselesaikan. Ada keinginan untuk menyelesaikannya namun kelihatan stengah-stengah. Presiden SBY seolah dalam posisi dilematis karena banyak kepentingan yang harus diselamatkan. Mungkin kepentingan pribadi atau ‘kepentingan lain’ atau mungkin juga murni kepentingan rakyatnya.

Entah disengaja atau tidak menurut penulis, inilah yang membuatnya galau. Mungkin kita dapat menyebut penguasa hari ini adalah penguasa yang galau. Atau lebih tepatnya rezim orde reformasi galau.


Selasa, 24 Januari 2012

Cinema: Alternatif Gerakan Mahasiswa

Sebenarnya cinema (film) bukanlah hal yang baru dikalangan mahasiswa ataupun masarakat umum. Cinema bisa dibilang adalah fenomena yang melekat dalam dunia globalisasi sekarang. Bahkan perdebatan mengenai cinema kini selalu menjadi topik hangat karena mempunyai efek yang cukup besar bagi kehidupan masyarakat. Tapi yang ingin dibicarakan dalam tulisan ini adalah mencoba memaparkan dan menawarkan gerakan sosial baru dalam media cinema khususnya dikalangan mahasiswa.

Ketika kita membincangkan gerakan mahasiswa, maka pikiran kita tertuju pada aksi demonstrasi jalanan. Mungkin juga tulisan-tulisan penguatan wacana atau propaganda tapi masih tergolong minim. Lagi pula demonstrasi jalanan sudah terstigmatisasi negatif karena ulah para demonstran yang kerap memacetkan jalan dan tindakan anarkisnya. Hasilnya pula kurang membuahkan hasil yang signifikan. Sehingga alang baiknya harus ada formulasi gerakan baru yang lebih kreatif.

Mungkin kita pernah menonton film yang berjudul ‘Alangka Lucunya Negeri Ini’ atau ‘GIE’. Film ‘alangka lucunya negeri ini’ menceritakan tentang keironisan kondisi negeri kita yang penuh dengan masalah. Sedangkan ‘gie’ menceritakan tentang sejarah (kisah nyata) perjuangan seorang aktivis mahasiswa yang hidup di era orde lama dan orde baru. Setelah dia berhasil menumbangkan orde lama dan ikut membangun orde baru ternyata dia kembali harus melawan orde baru karena kepemipinannya yang otoriter. Ketika menonton kedua film ini, pengaruh bagi penonotonya cukup signifikan. Film ini dengan mudah memunculkan inspirasi dan membangkitkan semangat perlawanan kita terhadap tirani negeri ini.

Berangkat dari film ini, maka perlu menggunakan alternatif cinema sebagai langkah baru dalam mengkreatifkan gerakan mahasiswa. Cinema memilki banyak kelebihan dibanding aksi demonstrasi jalanan ataupun melalui tulisan-tulisan. Kalau demonstrasi jalanan, dominan yang ditonjolkan audiotoris dan miskin visual. Sedangkan tulisan hanya memperlihatkan barisan-barisan kata yang bisu dan miskin audiotoris. Jika kita melihat cinema maka dia memiliki kelebihan dibanding kedua model gerakan yang disebutkan sebelumnya. Cinema memiliki kemampuan visualisasi dan audiotoris yang dengan mudah membangkitkan inspirasi dan semangat bagi yang mengonsumsinya.

Namun tidak bijak, jika kita membicarakan kelebihannya kemudian tidak membicarakan kelemahannya. Seperti yang dikatakan sebelumnya, cinema dapat dengan mudah membangkitkan semangat juang bagi yang mengonsumsinya. Tapi perlu juga diketahui bahwa tidak semua cinema kecuali cinema yang relevan dengan kebutuhan penontonnya dalam hal ini kebutuhan gerakan mahasiswa. Sedangkan di Indonesia sekarang, cinema yang bernuansa gerakan mahasiswa masih sangat minim.  Justru yang mendominasi dunia cinema kita lebih condong pada budaya populer yang justru mencerabut nilai-nilai kearifan yang kita miliki. Selain itu produksinya pun membutuhkan biaya yang cukup banyak dan energi yang lebih.

Tapi terlepas dari kelemahanya, kiranya menjadi tawaran alternatif baru dalam gerakan mahasiswa. Agar mahasiswa sadar bahwa gerakan butuh kreativitas. Bukankah sejarah telah bercerita tentang gerakan mahasiswa? Tentang bagaimana mahasiswa selalu merubah setiap bentuk, strategi dan taktik gerakannya?.

Senin, 23 Januari 2012

Man Jadda Wajada, Manshabara Zhafira

Berusaha adalah sebuah kemutlakan dalam meraih apa yang kita inginkan. Kemudian berdoa dan setelah itu baru pasrah sama Tuhan. Ini yang diajarkan oleh agama yang saya anut.

Setelah sekian hari saya berusaha sembari doa mengiringi dan akhirnya saya harus pasrah sama kekuasaan Tuhan. Tibalah pada waktu yang diinginkan. Waktu dimana hasil dari usaha akan ditentukan.

Ternyata sebuah masalah. Dalam definisnya, ketidaksesuaian apa yang diinginkan dengan apa yang terjadi. Apa boleh buat ini yang sudah terjadi. Ikhlas saja, ini yang hanya saya bisa lakukan. Menerima dengan lapang dada. Saya yakin, Tuhan punya rencana lain yang lebih baik dari apa yang saya bayangkan sebelumnya.

Sebuah kata bijak, mengingatkan saya. ‘Barang siapa bersungguh-sungguh maka dia akan mendapatkannya’. Ternyata kalimat ini tidak cukup untuk mengantar kepada kesuksesan. Maka muncullah mantra baru: ‘untuk sukses bersungguh-sungguh saja tidak cukup dibutuhkan kesabaran’.

"Man Jadda Wajada, Manshabara Zhafira"

Rabu, 18 Januari 2012

Mencari di Budaya

'Berdikari secara ekonomi, mandiri secara politik dan berkepribadian secara budaya’. Demikian perkataan Bung Karno. Dalam tulisan ini hanya akan menyorot budaya, berkepribadian secara budaya.

Indonesia sangat kaya akan budaya. Dari merauke sampai sabang, memilki beragam suku, golongan dan agama yang memanifestasikan kebudayaan yang berbeda pula. Bahkan Indonesia disebut sebagai sala-satu negara yang masuk dalam daftar negara terbanyak kebudayaan daerahnya.

Keragaman adalah sebuah kekuatan jika mampu dikelolah dengan baik. Jika tidak justru akan menjadi malapetaka yang melahirkan konflik horizontal. Jika kita mengacu pada definisi klasik, budaya adalah hasil cipta, karya dan karsa. Setiap budaya punya latar belakang sejarah yang membentuknya. Tergantung bagaimana kondisi sosial pada waktu terbentuknya budaya itu. Yang pastinya, budaya memilki pesan-pesan kehidupan atau memilki jiwa kehidupan.

Seorang budayawan, pernah mengkritik pemangku kebijakan negeri ini terkait krisis multi dimensi yang tengah melilit. Pakar ekonomi, politik, sosiologi, pendidikan dan sebagainya diterjunkan untuk memberikan solusinya. Tapi diantara banyak para ahli sosial itu, ada yang kurang mendapatkan prioritas yaitu para budayawan.

Padahal umumnya, setiap budaya memilki kacamata yang berbeda dalam menyelesaikan masalah. Artinya dari merauke sampai sabang akan memilki banyak kacamata dalam melihat permasalahan bangsa ini. Logika sederhananya, semakin banyak kacamata maka akan semakin banyak solusi. Jika solusi ini diakomodasi kemudian diformulasikan dalam kebijakan maka akan menjadi senjata yang ampuh untuk menghancurkan dinding krisis multidimensional di negeri yang sedang kita kasihi ini.

Namun sangat disayangkan karena kebudayaan di negeri ini, justru diprioritaskan dalam kepentingan arus pasar bebas. Kebudayaan kemudian tidak lagi menemukan jati diri yang sebenarnnya karena hanya dijadikan komoditas komersial. Padahal, hakikatnya budaya memiliki jiwa dan semangat kehidupan. Oleh karena itu, menjadi agenda dan prirotas utama agar budaya di redefinisi dan di revitalisasi kembali agar menemukan kittah yang sebenarnya. Dan kemudian dijadikan cara dan kepribadian hidup seperti yang dikatakan Bung Karno.


Selasa, 17 Januari 2012

Dunia yang Ironis ; Lapar di bumi yang kaya akan makan

Katanya Indonesia negara yang sedang mengalami pertumbuhan ekonomi. Tapi banyak yang tidak percaya dengan pernyataan itu. Banyak masyarakat yang menyebutnya sebagai kebohongan. Termasuk beberapa ilmuwan ekonomi, tokoh agama dan lebih-lebih orang ‘kecil’ dinegeri ini.

Malam itu, saya berjalan pulang menuju kamar kos. Kurang lebih pukul 2 malam lebih. Ketika itu saya mendengar suara berisik yang cukup
menggangu di jalan yang sunyi itu. Terlihat seorang lelaki kira-kira umurnya 60-an tahun sedang berada di balik gerobak yang posisinya didampingkan dengan sebuah tempat sampah.

Saya yakin, dia sedang berusaha melawan kematian yang terus memburunya. Dia sedang mencari sesuatu yang dapat menjanggal perutnya sampai titik darah penghabisannya. Saya yakin juga, kakek sang pahlawan ini tengah berusaha menunaikan kewajibannya pada istrinya yang juga sama profesi dengannya.

Kebanyakan orang dimalam yang dingin itu, sedang pulas dalam tidurnya. Apalagi mereka yang tidur di atas kasur yang empuk, rumahnya dipagari dengan besi-besi yang menjulang tinggi agar kakek dan orang-orang sepertinya tidak bisa masuk dalam rumahnya dan juga dijaga oleh penjaga keamanan komplek rumah (satpam). Sebagai manusia yang sudah tua, harusnya diumur yang uzur ini si kakek menikmati sisa hidupnya dengan istrahat yang cukup atau kehidupan yang ‘bahagia’. Tapi inilah hidup yang rasanya tidak adil bagi si kakek.

Baginya, negara itu telah lepas tanggung jawab terhadap orang-orang sepertinya. Banyak yang meyakini bahwa demi kehidupan yang lebih baik maka manusia melepaskan hak-haknya untuk diserahkan kepada institusi yang bernama negara agar haknya itu dipenuhi. Ternyata negara hanyalah negara yang tak berfungsi sebagaimana mestinya. Seperti dikatatakan oleh Karl marks, negara hanyalah alat yang digunakan oleh oligarki pemilik uang untuk bertindak semena-mena kepada si miskin seperti si kakek tadi.

Tuhan telah menciptakan manusia dengan makanan yang lebih. Seharusnya tidak ada yang miskin dan mati karena lapar di bumi ini. Tapi karena ada yang ingin menguasai dan kikir untuk didermakan maka tidak heran kalau banyak yang kelaparan dan mati karenanya. Mahatma Gandhi pernah berkata: dunia ini cukup bagi orang yang butuh tapi tidak cukup bagi orang yang serakah.

Padahal kelaparan bisa membuat orang berbuat apa saja demi mendapatkan sesuap nasi. Hampir setiap konflik memilki keterkaitan dengan urusan perut (makan). Karena makan adalah kebutuhan mendasar yang tidak bisa tidak untuk di penuhi. Bahkan banyak manusia harus melanggar norma demi makanan. Seperti yang pernah dikatakan oleh orang bijak: orang akan susah taat pada norma jika perutnya masi lapar.

Inilah negeri yang sudah salah urus. Banyak yang tidak becus mengurusnya. Padahal jika diurus dengan baik maka tidak akan ada yang mati karena ketiadaan makanan. Sangat salah, jika ada yang mengatakan negeri atau bumi ini kekurangan makanan sehingga banyak yang meninggal karena lapar. Inilah sebenarnya negeri yang aneh. Aneh karena banyak makanan tapi banyak juga yang mati karena tidak memperoleh makan. Sungguh dunia yang ironis…!!!

Kamis, 12 Januari 2012

Tentang Politik

Politik. Kata ini yang selalu ramai dibicarakan orang. Bagaimana tidak? Politik selalu berbicara kekuasaan. Kekuasaan akan berbicara bagaimana mengambil kebijakan. Dan ujung-ujungnya rakyat imbasnya. Karena rakyat ada objek dari kebijakan itu.

Ada yang mendefinisikan, politik adalah cara-cara memperoleh kekuasaan dan
ketika kekuasaan itu diperoleh maka bagaimana cara untuk dipertahankan. Dalam konteks negara, politik adalah sesuatu yang paling berharga. Karena melalui politiklah nasib semua rakyat akan ditentukan. Jika sistem politiknya bermasalah maka tentunya rakyatnya juga akan bermasalah dan sebaliknya. Dengan kata lain wajah politik adalah wajah rakyatnya.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, politik identik dengan kekuasaan. Kekuasaan adalah naluri yang ada pada setiap manusia. Seorang filsuf yunani kuno perna berkata: Manusia adalah makhluk politik. Jadi tidak mengherankan jika banyak manusia yang haus kekuasaan. Bahkan cara apapun dilakukan demi terpenuhinya hasrat berkuasa.

Inilah politik yang ditakutkan. Politik yang menghalalkan segala cara yang tidak manusiawi. Politik yang telah mencabut dimensi moral di dalamnya. Ketika dimensi moral sudah diabaikan dalam politik maka tunggulah kehancuran politik itu.

Fenomena politik seperti ini, tengah terjadi di Indonesia. Para pemangku kebijakan telah banyak menyakiti rakyatnya. Mereka lebih mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok dibanding fitrah tujuan politik itu sendiri yakni rakyat. Wajah politik seperti ini tidak lepas dari kesalahan awal ketika mereka terjun dalam dunai ‘politik’ dengan mekanisme yang salah dan melanggar nilai moralitas. Oleh karena itu, biasanya kesalahan (kebohongan) awal akan selalu ditutupi dengan kesalahan-kesalahan (kebohongan-kebohongan) berikutnya demi menutupi kesalahannya (kebohongannya) itu. Inilah sirkulasi mata rantai setan yang tak akan putus jika para politisi tidak mau memutuskannya (menyadarinya).

Hemat saya, inilah hal yang urgen untuk diperbaiki dalam politik. Politik tidaklah bebas nilai, jika kita menginginkan dia baik maka cangkokanlah dia dengan nilai yang bermoral (manusiawi). Tapi jika tidak maka kondisi politik kita akan terus menerus dalam keterpurukan.

Ulang tahun

Kata orang-orang ulang tahun itu adalah tanggal dan bulan lahir telah hadir kembali dalam kalender. Artinya umur kita bertambah lagi. Kalau mengacu pada definisi orang-orang tentang ulang tahun, maka menurut kalender masehi, hari ini ketika aku menulis artikel ini (kamis,12 Januari 2012) adalah hari ulang tahunku. Saya lahir taanggal 12 Januari 1990 dan kalau tidak salah jatuh pada hari Jumat. Yah, sekitar 22 Tahun yang lalu. Artinya umur saya sekarang di dunia sudah
22 tahun.

‘Dunia ini adalah tempat kita sementara dan akhiratlah tempat kita kembali dan kita kekal di sana’ kata pak ustadz. Saya percaya dengan kalimat ini. Dengan kata lain meninggalkan dunia atau meninggal adalah kepastian. Saya teringat kembali tentang apa pernah dikatakan pak ustadz bahwa usia kita di dunia ini suda ditentukan. Bahwa kamu akan lahir tahun, bulan, hari, jam, menit, detik dan tanggal sekian. Begitu juga dengan kematian. Semua sudah ditentukan Oleh yang menciptakan dan mematikan kita, Allah SWT.

Hari ini umurku bertambah tapi usiaku di dunia semakin berkurang. Kaget juga sebenarnya, ternyata umurku sudah sekian tahun dan jatah kehidupan di dunia semakin berkurang. Dan tidak tahu meninggalnya kapan tapi apakah saya sudah siap untuk itu? Lagi-lagi saya teringat perkataan ustadz: Dunia ini hanyalah tempat mencari bekal untuk di bawa ke akhirat nanti. Konsekuensinya adalah antara dua yakni surga dan neraka. Itupun kedua tempat ini bertingkat-tingkat, tergantung kadar pahala dan dosa kita. siapa yang pernah kesana ? entahlah. Tapi saya yakin akan keberadaannya.

Tapi bagiku, dunia dan akhirat harus seimbang. Salah juga kalau orang hanya di dalam masjid saja shalat dan berzikir sementara dia, istri, anak dan orang sekitar kelaparan. Sebenarnya kalau kita dalami, mencari dunia sama saja mencari akhirat jika niatnya benar. Misalnya, seorang suami mencari nafka untuk istri dan anaknya serta kalau ada lebih juga menafkahi anak miskin maka ini namanya ibadah dunia dan akhirat. Dengan kata lain niatkan segala apa yang kita lakukan karena ingin mendapatkan ridho dari-Nya. “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk_MU” (Al_Qur’an). Saya kita kalimat ini jelas.

Tapi untuk mendapatkan kehidupan akhirat yang lebih baik maka kualitas di dunia harus di perbaiki pula. Di umur 22 tahun ini saya harus lebih berkualitas lagi dari waktu sebelumnya. Karena kemajuan adalah ketika terjadi perubahan kearah perbaikan. Saya harus punya resolusi dan punya perencanaan kedepan. Harus berpikir dan bertindak lebih bijak lagi. Mau jadi apa? Apakah kamu punya rencana untuk itu? Sudakah kamu siap untuk itu? Inilah pertanyaan yang harus saya jawab.

Untuk mengahiri tulisan ini, saya ingin mengutip ucapan seorang ulama timur tengah, Taqiudin An Nhabani (mudah-mudahn tidak salah penulisan namanya). Beliau mengatakan: Untuk mengetahui hakekat hidup maka ada tiga pertanyaan yang harus kita jawab. Jawaban atas pertanyaan ini akan berimplikasi pada aktivitas dan kehidupanmu di dunia.

Dari mana kamu berasal ? Untuk apa kamu hidup ? dan Akan kemana kamu setelah hidup ?

Selamat menikmati hidup…


Rabu, 11 Januari 2012

Dalam diam...

Diam sambil berevaluasi diri. Saya menyebutnya merenung. Untuk apa hidup? Apa rencana hidupmu? Apakah kamu sudah merencanakan masa depanmu? Inilah pertanyaan di antara banyak pertanyaan untuk diriku dan oleh diriku.

Seorang bijak pernah berkata: jika kamu ingin sukses maka
butuh perencanaan yang matang dan selalu merasa waktu yang tersedia tidaklah cukup. Yah, bagiku kalimat ini cukup inspiratif. Dua hal yang saya garis bawahi ‘perencanaan yang matang dan selalu merasa waktu yang tersedia tidak cukup’.

Baiklah, saya mulai dari kematangan dalam perencanaan. Rencana adalah tahap awal dalam melakukan sesuatu jika menginginkan hasil yang optimal. Dalam tahap ini tujuan dan langkah apa yang harus dilakukan serta kebutuhan-kebutuhan lainnya akan dipersiapkan dengan matang. Sehingga akan mempermudah pelaksanaan dan peluang keberhasilan akan mudah diperoleh.

Berikut, ketidak cukupan waktu yang tersedia. Maksunya kita harus lebih menghargai waktu. Karena waktu selalu berjalan diluar kendali kita. Tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit dan detik yang baru kita lewati tidak akan pernah kembali menemui kita. Oleh karena itu jika kita tidak baik dalam memanajemen waktu maka waktu tidak akan cukup bagi kita.

Sebenarnya banyak resolusi yang lahir dari perenungan dalam diamku. Tapi cukuplah tercatat dalam batin dan Mudah-mudahan Allah SWT selalu mengingatkanku, Amin. Namun secara garis besarnya meruncing pada kesimpulan pada dua hal tadi. Yakni perencanaan yang matang dan merasa waktu tidaklah cukup.

Salam inspirasi…!!! Ayo beresolusi.

Minggu, 08 Januari 2012

Saya benci demokrasi (# 1)

Demokrasi adalah kedaulatan di tangan rakyat. Bahkan kesakralan suara rakyat sehingga disamakan dengan suara Tuhan, vox populi vox dei (suara rakyat adalah suara Tuhan). Dibanyak Negara menganggap demokrasi adalah sistem politik paling ideal dibanding sistem politik lain. Terlepas dari keanekaragama model demokrasi, Indonesia adalah salah satu penganut demokrasi itu.

Demokrasi kini selalu dikampanyekan oleh
negara-negara barat. Dengan dalil demokrasi akan menjamin keadilan yang universal maka sistem ini selalu digemakan. Bahkan invasi militer oleh Negara-negara barat ke Timur Tengah dan Afrika Utara selalu dengan alasan demi tegaknya demokrasi.

Adalah Amerika Serikat (AS) yang mengklaim sebagai negara demokrasi nomor satu di dunia. Negara ini tak henti-hentinya mengajak semua negara untuk menerapkan demokrasi seperti yang dia lakukan. Tapi betulkah AS sebagai Negara yang paling demokratis di dunia sehingga kita harus mengikutinya? Atau betulkan dia menjamin keadilan semua Negara dengan demokrasi yang dimilikinya? Atau pantaskah kita menerapkan demokrasi seperti yang dianjutkannya?

Kita perlu melihat secara jelih terhadap AS. Tulisan ini tidak akan melihat kondisi internal dalam negeri AS melainkan akan melihat aktualisasi demokrasi dalam kebijakan luar negerinya. Mari melihat negeri Timur Tengah dan Afrika yang sejak awal 2011 mengalami pergolakan. Di tengah penentangan rakyat terhadap penguasanya yang otoriter yang kemudian dikenal dengan gerakan prodemokrasi tiba-tiba AS muncul untuk menyatakan dukungannya. AS berdalih penentanganya terhadapa rezim otoriter Timur Tengah dan Afrika Utara semata-mata karena menginginkan demokrasi terwujud di negara itu.

Ironis, kenapa AS baru menyatakan penentangannya terhadap rezim timur tengah dan Afrika ketika rezim tidak lagi memiliki kekuatan menahan protes rakyatnya? Padahal AS selama puluhan tahun melakukan perselingkuhan dengan para penguasa itu karena kepentingannya dilindungi. Sangat jelas, ketika AS tidak mampu lagi mempertahankan rezim yang selama ini melindungi kepentingannya, kemanisan wajahnya pun berubah menjadi sinis pada rezim itu. Hingga akhirnya satu persatu para pemimpin Timur Tengah dan Afrika Utara mulai berguguran atas dukungannya. Bahkan AS dengan keanggotaan di dewan keamanan PBB seenaknya memutuskan agar melakukan invasi militer terhadap rezim yang masi bersi keras mempertahankan kekuasaannya dan masih tidak menginginkan demokrasi.

Jika menilik negara Arab Saudi maka kita akan menemukan keironisan atas perlakuan AS. Negara ini menganut sistem monarki tradisional yang berlandaskan agama (islam). Kebebasan berpolitik sangat di tekan baik secara represif maupun secara hegemonik. Hak-hak perempuan sangat dibatasi meskipun akhir-akhir ini mulai di longgarkan. Singkatnya nilai-nilai demokrasi masih jarang kita temukan di negeri kaya minyak ini. Ironisnya, AS diam saja dan tidak pernah menyuarakan penentangan terhadap rezim yang berkuasa. Hal ini tidak lain karena AS terlindungi kepentingannya terutama dalam percaturan politik dan ekonomi di Timur Tengah.

Iran, inilah Negara yang paling keras terhadap AS. Negara ini tidak percaya dengan kampanye-kampanye demokrasi ala AS. Mereka sudah tahu kepentingan apa dibalik demokrasi yang diagung-agunkan AS. Mereka sangat paham bahwa demokrasi ala AS hanyalah alat untuk menjajah. Meskipun isu nuklir yang menjadi ikon untuk melawan Iran dan juga sebenarnya konsep Vilayat I faqih yang dianggap AS sangat otoriter namun Iran tetap menolak keinginan AS untuk menghentikan program nuklirnya. Berbagai sanksi dengan menggunakan PBB, AS seenaknya memberi hukuman terhadap Iran. Namun Iran tidaklah seperti Indonesia yang sangat tunduk terhadap keinginan AS.

Belum lagi jika kita melihat perlakuan AS terhadap Negara miskin (dunia ketiga. Dengan berkedok menegakkan demokrasi malah menjajah negara-negara tersebut salah satu korbannya adalah Indonesia. Umumnya mereka (baca: Negara dunia ketiga) adalah negeri yang kaya akan sumber daya alam. Namun dengan dana bantuan (modal) dengan dalih untuk menyelamatkan perekonomiannya maka negera-negara ini mengalami ketergantungan. Sehingga sistem ekonomi, politik, budaya, hukum, pendidikan dan semua lini kehidupan lainnya sangat mudah didikte oleh Negara Imprealis ini (AS).

Inilah AS Negara demokrasi yang katanya nomor satu dan terbaik di dunia. Dia berwajah dua dan berubah sesuai kepentingannya. Dia bagai musang berbulu domba yang datang membawa madu ternyata membawa racun. Disaat kepentingannya terlindungi di sebuah rezim maka rezim itu tetap di biiarkan berkuasa. Dan jika terjadi sebaliknya maka tunggulah kejatuhan rezim itu. Demokrasi yang dia maksudkan bukanlah atas nama keadilan melainkan menyimpan maksud untuk menguasai.

Jika begini kondisinya maka saya benci demokrasi.

Makassar, 5 January 2012

Sabtu, 07 Januari 2012

Demokrasi, Aku sang Pelacur

Aku adalah seorang pelacur
Menerima dan melayani siapa saja
Kau seorang tampan atau buruk rupa
Tak ada hak untuk menolakmu


Ini pekerjaanku
Kau, dia, mereka dan kalian semua, ku persilahkan bersetubuh denganku
Karena Kata saudaraku, aku ini seorang pelacur
Menolak bersetubuh adalah dosa bagiku

Aku tidak pernah membenci kalian
Kau seorang agamais, seorang kapitalis, seorang komunis atau siapa saja dirimu
Sialahkan memperebutkanku
Karena aku adalah ladang kalian bersenang-senang

Tapi harap kalian hati-hati dengan saudaraku
Kalian akan dijaga olehnya agar kalian tidak semena-mena padaku
Kalian bisa memiliki diriku tapi harus dengan cara yang baik
Kalian bisa pula bersetubuh denganku asalkan dengan cara yang baik
Dan mudah-mudahan dengan kita bersetubuh, kita dapat menghasilkan anak menyenangkan semua orang
Saudaraku itu adalah moral dan hukum

Kamis, 05 Januari 2012

Anak Manusia Korban Politik

Sejak Indonesia meredeka, pergolakan politik dalam negeri masih sangat rentan. Setiap kelompok memperjuangakan Ideologinya baik melalui partai poltik maupun dalam gerakan organisasi non partai. Jika ditarik gari besarnya, sesungguhnya gerakan itu dapat di bagi dalam tiga tipologi ideology yakni nasionalis, agamais dan komunis. Di bawah rezim presiden Indonesia yang pertama, bung Karno dengan mekanisme demokrasi terpimpinnya muncul partai cukup di anak emaskan yaitu
partai komunis Indonesia atau disingkat dengan PKI.

Partai yang berhaluan kiri ini selalu menggemakan jargon-jargon revolusi. Jika dilihat situasi politik saat itu, sessungguhnya Indonesia masih membutuhkan semangat revolusi kemerdekaan. Selain belum sepenuhnya merdeka juga dalam negeri terjadi pergolakan, dimana setiap golongan ingin memenangakan ideologinya sebagai dasar negara republik Indonesia. Saat itu, PKI cukup memiliki simpati dari masyarakat Indonesia karna perjuangannya yang ingin membebasakan kaum miskin dari ketertindasannya. Namun PKI tidak luput dari oposisi partai-partai islam dan kelompok-kelompok liberal karena landasan ideology yang bersebrangan.

Dinamika percaturan politik pada akhirnya berhasil menumbangkan sukarno yang dikenal dengan rezim orde lama dan digantikan dengan rezim orde baru dibawah pimpinan Suharto. Keduanya sangat berbeda dalam sistem politik yang dijalankannya karena lahir dalam dua ideologi yang berbeda pula, sosialis-komunis dan kapitalis-liberal. Sehingga ditengah kekuasaan orde baru semua anggota PKI yang merupakan partai pendukung orde lama segera disingkirkan. Tragisnya semua anggota PKI termasuk anak cucunya mendapatkan sangsi salah satunya tidak bisa bekerja dalam instansi yang berada di bawah naungan lembaga pemerintahan.

Novel ini sesungguhnya, menceritakan tentang perjalanan anak manusia yang hidup dalam dua rezim ini, Orde baru dan orde lama. Akibat seorang ayah yang tidak tahu menahu dengan seluk beluk PKI sehingga masuk menjadi anggota PKI. Melihat perilaku partai yang tidak sesuai dengan kesehariannya sebagai seorang muslim maka keluarlah dia dari partai. Namun dalam aturan partai tidak mengizinkan anggotanya keluar, sekali masuk harus tetap di dalam dan tidak bisa lagi meninggalkan partai.

‘Menginggalkan partai berarti penghianat dan dicap sebagai kontrarevolusi’. Kalimat itu yang selalu di ucapkan oleh salah satu tokoh PKI kepada seorang ayah. Namun peristiwa gesatapu telah membuat PKI kehilangan simpati dari rakyat Indonesia apalagi prilakunya selama ini yang anti agama. Gestapu atau dikenal dengan gerakan 30 september PKI yang melakukan pengkudetaan terhadap presiden sukarno dan pembunuhan 6 Jendral sehingga mencoreng namanya dalam panggung perpolitikan Indonesia. Suasana perpolitikan pasca peristiwa itu mengalami instabilitas. Singkat cerita akhirnya Suharto menduduki tampuk kekuasan republik Indonesia.

PKI dibubarkan dan kader-kadernya diberikan sangsi ole horde baru. Bahkan anak dan cucu eks PKI mengalami diskriminasi dalam kehidupan di masyarakat. Inilah yang terjadi pada Marwan, seorang anak dari eks PKI yang sebenarnya ayahnya sudah memundurkan diri dari partai terlarang itu. Namun dalam mekanisme partai ini tidak pernah memberikan surat pemberhentian kepada anggotanya yang terlanjur bergabung dalam partai. Akhirnya sekali PKI tetap PKI.

Di masa orde baru inilah PKI mendapatkan cercaan di masyarakat Indonesia. Orang PKI selalu di identikan dengan pengacau, pemberontak, kejam dan ateis. Predikat inilah yang menjadi pemicu konflik dalam rumah tangga Marwan. Istrinya marah padanya karena merasa dibohongi yang selama ini tidak pernah diberitahu tentang latar belakang keluarganya. Istrinya baru tahu belakangan setelah mendengar cerita dari Ibu Marwan. Ibu Marwan menceritakan secara lengkap kepada menantunya yang dikiranya sudah diberi tahu sebelunya oleh Marwan.

Tak bisa menahan emosi, akhirnya istri Marwan memarahi suaminya. Konflik pun terjadi kembali yang sebelumnya juga sering terjadi. Sebenarnya masalah ini hanya pemicu bagi istrinya yang belakangan sangat sensitif karena tak kunjung mendapatkan anak. Namun setelah Marwan menjelaskan secara lengkap tentang alasan ayahnya masuk dalam PKI dan akhirnya keluar maka istrinya pun mulai melunak dan konflik redah kembali.

Tak berhenti di rumah tangga. Di perusahaan tempat Marwan bekerja, dia mendapatkan imbasnya pula karena anak dari anggota PKI. Seorang teman kerjanya mengetahui identitas keluarganya dan melaporkannya kepada atasannya. Sebenarnya Marwan sudah mencoba menjelaskan secara rasional tentang status ayahnya di PKI. Namun atasannya yang simpati tidak memiliki otoritas untuk mempertahankannya di perusahaan. Pada akhirnya dia dipecat dan bahkan diancam untuk diadili karna melakukan kebohongan administrasi.

Kejadian ini kemudian membuat istrinya menangis. Istrinya merasa bersalah sebagai istri karena selama menikah dengan Marwan kesialan selalu menghampiri. Mereka tidak memiliki anak dan Marwan dipecat dari tempat kerjanya. Atas alas an inilah istrinya meminta agar di ceraikan. Dan rentetan-rentetan sebab tadi akhirnya mereka bercerai.

Nb: cerita ini terlepas dari kebohongan sejarah PKI


Senin, 02 Januari 2012

99 Cahaya di Langit Eropa, Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa

Prolog

Di Eropa pernah mengalami kehidupan abad pertengahan atau dikenal dengan abad kegelapan. Fase kehidupan ini, kekuasan agama (gereja) sangat kuat. Kebebasan berpikir dan perkembangan ilmu pengetahuan sangat dibatasi. Jika terjadi perbedaan apalagi bertentangan dengan otoritas gereja maka akan segera dilenyapkan. Hal itu terjadi pada seorang Galileo Galilei. Ilmuwan ini dibunuh karena melahirkan teori yang bertentangan dengan pihak gereja. Yaitu teori Heliosentrisnya bahwa matahari adalah pusat tata surya sedangkan pihak geraja pada saat itu menyakini konsep geosentris, dimana bumi adalah pusat tata surya. Padahal waktu itu, Copernicus menemukan
teleskop sebagai alat untuk meneropong pergerakan benda-benda angkasa sehingga memperkuat kebenaran teori heliosentris Galileo Galilei.

(gambar: google.com)

Pada saat yang sama, Islam mengalami abad keemasan. Abad dimana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan pesat. Mulai dari pemikir filsafat sampai penemu tekhnologi islam lebih dulu dibanding eropa (barat). Bahkan sebagian dataran eropa adalah bekas dan pusat kekuasaan islam. Cordoba adalah ibukota Andalusia atau sekarang dikenal dengan Spanyol sebagai pusat islam di eropa. Di kota ini terdapat masjid yang sangat besar yang sekarang telah dirubah menjadi gereja. Ketika islam masih Berjaya dikota ini juga dibangun perpustakaan yang memuat banyak buku-buku karangan pemikir-pemikir muslim. Namun sangat disayangkan ketika dinasti islam runtuh dan kerajaan eropa (gereja) berkuasa maka perpustakaan ini di bakar. Bahkan yang memperkenalkan filsuf yunani kuno seperti sokrates, plato dan aristoteles yang merupakan filsuf yang membangun peradaban barat hari ini adalah islam.

Abad keemasan ini tidaklah selamanya bertahan. Konflik internal dalam dinasti islam serta mulai ditinggalkannya ‘syariat islam’ menjadi sebab utama kemunduran islam. Melihat kemajuan peradaban islam yang begitu maju, eropa (barat) menginspirasinya untuk bangkit dari abad kegelapan menuju abad pencerahan (renaisance). Maka dihancurkanlah doktrin-doktrin gereja dan kampanye kebebasan berpikirpun mulai digalakkan. Pada akhirnya barat mengalami kemajuan yang luar biasa seperti sekarang ini. Dan pada saat yang sama pula islam mengalami kemunduran berpikir dan ilmu pengetahuan. Di saat inilah barat merebut kembali beberapa kekuasaan islam yang pernah ada di eropa serta melakukan kristenisasi. Pada akhirnya sejara berbalik yaitu barat mengalami abad emasan dan islam mengalami kemunduran.

Kemajuan yang dicapai barat tidaklah berbanding lurus dengan moralitas. Di eropa tepatnya di spanyol terdapat patung seorang filsuf yang sengaja diabadikan oleh barat karena kecerdasannya. Dia adalah Averroes yang sebenarnya seorang cendekiawan muslim yaitu Ibnu Rushd. Dia memperkenalakan konsep the double truth doctrine, dua kebenaran yang tak terpisahkan yaitu akal (ilmu pengetahuan/sains) dan wahyu. Sayangnnya barat hanya meyakini kebenaran akal dan menafikan kebenaran wahyu yang sangat menjunjung tinggi nilai moral (kemanusiaan). Salah satu alasannya adalah trauma abad kegelapan yang menyalahgunakan wahyu (agama) untuk mengekang perkembangan ilmu pengetahuan. Maka tidak mengherankan di eropa banyak masyarakatnya sekuler dan ateis.

Resensi

Novel dengan judul 99 CAHAYA DI LANGIT EROPA, PERJALANAN MENAPAK JEJAK ISLAM DI EROPA ini ditulis oleh dua orang muslim Indonesia. Mereka adalah Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra. Perjalanan sepasang suami istri ini kemudian diabadikan dalam cerita nonfiksi (novel islami). Perjalananya kedua dimulai dari kota Wina, ibu kota dari Negara Austria sampai akhirnya kembali pada sebuah tempat yang disebutnya sebagai titik nol kehidupan. Atau titik (tempat) dimana Al-Quran diturunkan dan Islam dihadirkan yaitu di Makkah.

Di Austria sebagai tempat ekspansi terakhir kerajaan islam di Eropa, terdapat beberapa museum yang isinya terdapat hal-hal yang menggambarkan tentang adanya jejak islam. Lukisan Kara Mustafa Pasha misalanya, lukisan ini adalah seorang panglima perang Turki (dinasti Utsmania/Ottoman) yang ingin menaklukan kota Austria dalam misi penyebaran islamnya. Selain itu terdapat pula juba seorang raja Eropa yang dibordir dengan kalmiat Tauhid. Muncul keanehan, kenapa sang raja Eropa (Kristen) memakai juba kebesaran dengan bordiran kalimat tauhid? Apakah sang raja sesungguhnya seorang muslim? Di novel ini akan di bahas secara jelas. Tapi yang pasti, inilah bukti kemajuan peradaban islam.

Perjalanan selanjutnya adalah ke kota Paris. Seorang imam masjid di Austria memberikan mereka sebuah kartu nama. Dalam kartu nama tersebut tercantum nama Marion seorang peneliti sejarah islam disebuah lembaga penelitian. Dia juga pernah menjadi mahasiswa disebuah universitas ternama di dunia, Sorbone Univesity. Alhamdulillah pengembaraan ilmunya menyebabkan ia memeluk islam.

Mereka menuju sebuah museum yang sangat monumental. Museum yang setiap tahunnya lebih sepuluh juta manusia datang mengunjunginya. Di dalam terdapat tempat khusus peninggalan-peninggalan sejarah islam. Dengan bantuan Marion yang telah piawai menguasai tempat itu, dia memperlihatkan berbagai ornamen-ornamen yang bertuliskan kaligrafi islam yang memiliki pesan-pesan dakwa. Misalnya sebuah piring yang di bagian bawah tertulis kaligrafi yang melingkat ‘Al-ilmu murrun syadidun fil bidayah, wa ahla minal asali fin-nihayah’. Namun muncul keanehan di piring ini, di tengah kaligrafi, terdapat lambang keseimbangan yin dan yang. Selain berbagai macam ornament, kramik dan peninggalan lainnya terdapat lukisan yang menggelitik untuk dipikirkan. Yah, itu adalah lukisan Bunda Maria yang sedang menggendong Jesus Putranya. Dalam lukisan bunda Maria, beliau memakai kerudung. Anehnya, kerudung yang dipakainya banyak tulisan-tulisan kaligrafi (kufic) yang ternyata bertuliskan kalimat ‘
Apa maksudnya? Novel ini akan menjawabnya.

Perjalanan selanjutnya ke Negara bekas pusat islam di eropa. Negara ini adalah terdapat klub sepakbola raksasa dunia, Barcelona berada yaitu Spanyol (Andalusia). Di spanyol (dulu namanya Andalusia)dengan Ibu kota Cordoba terdapat masjid besar (kini namanya mezquita) yang membuktikan bahwa islam pernah Berjaya di sini. Sayangnnya, masjid ini telah berubah menjadi sebuah gereja setelah ditaklukan raja Ferdinand dan Isabella. Dan yang paling menyakitkan adalah penduduk muslim dan yahudi dipaksa untuk dibaptis memeluk Kristen.

Tidak jauh dari Cordoba terdapat kota Grana. Kota ini terdapat istana Al-Hambara, dimana istana terakhir ditaklukan sebelum kerajaan islam di Andalusia runtuh. Disinilah Sultan Boabdil menyerah akibat serangan Ferdinand dan Isabella dengan perjanjian agar umat muslim dihormati dalam menjalankan ibadahnya. Namun Ferdinand dan Isabella tidaklah menepati janjinya, karena umat islam harus dipaksa untuk memeluk Kristen.

Selanjutnya adalah ke Turki. Sebelumnya turki tepatnya di Istambul adalah pusat kristen byzantium Romawi Timur (konstatinopel). Karena kemenangan kaum muslim yang dipimpin oleh Muhammad Al-Fatih maka ditaklukanlah dan dijadikan sebagai pusat dinasti Utsmania atau Ottoman. Sebenarnya di Turki terdapat tiga bangunan bersejarah yaitu Hagia Sophia, Blue Mosque (Masjid Biru) dan Topkapi Museum.

Hagia Sophia adalah sebuah Museum. Ketika Byzantium Romawi berkuasa museum ini adalah sebuah gereja megah. Setelah dinasti utamania berkuasa gereja ini kemudian dirubah menjadi Masjid besar. Namun berbeda dengan Mezquita di spanyol yang berusaha membuka ikon-ikon masjid peninggalan kerajaan islam waktu itu, sedangkan Hagia Sophia ikon Kristen tetap dibiarkan (bergantungan) di dalam masjid oleh dinasti Utsmania. Setelah dinasti Ustmania runtuh maka Masjid ini berubah menjadi Museum sampai sekarang.

Blue Mosque adalah peninggalan dinasti Utsmania. Masjid ini lebih besar dari Hagia Sophia. Sultan Ahmed sengaja membangunnya sebagai bukti peradaban islam tidak kalah di banding Hagia Sophia yang dibangun oleh Byzantium Romawi. Kemudian bangunan penting lainnya di Turki adalah musem Topkapi. Musem ini adalah istana raja (sultan) islam dulu. Bentuknya sangat sederhana berbeda istana-istana raja di eropa yang mewah. Museum Topkapi memberikan pelajaran bahwa para sultan islam dulu sangat suka dengan kesederhanaan.

Dan terakhir adalah Makkah. Ketika penulis melaksanakan rukun Islam ke lima yaitu menunaikan Ibadah haji. Disinilah puncak keharuan terjadi. Disnilah tempat Rasulullah Muhammad SAW menerima Al-Quran kitab umat manusia. Disinilah kiblat dan tempat berkumpulnya umat muslim dunia dari berbagai ras, suku serta golongan untuk lebih mendekatkan diri kepad Sang Khalik.

Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra : Putri dan menantu bapak Amin Rais (mantan ketua MPR-RI)
Fatma Pasha : Keturunan (cucu) Kara Mustafa Pasha (panglima perang dinasti utsmania/Ottoman)
Marion: Mualaf paris (peneliti sejarah islam)