Minggu, 05 Februari 2012

Rehat Sejenak

Sekian waktu beraktivitas, menjalani proses-proses kehidupan kadang membuat kita jenuh. Kadang membuat kita harus berhenti pada suatu  titik dimana kita harus duduk sejenak, berefleksi dan merenung. Yakin saja, dalam keseharianmu dalam beberapa waktu tidaklah sempurnah engkau jalani. Dengan kata lain pasti menemukan banyak kelemahan-kelemahan.

Tentunya manusia diciptakan dalam keadaan yang sebaik-baiknya. Sangat disayangkan jika dilewatkan begitu saja kehidupan ini tanpa ada ikhtiar yang sungguh-sungguh. Karna hidup ini terlampau singkat jika dijalani dengan percuma. Bukankah hidup di dunia hanya sekali? Maka bergeraklah berkali-kali karena hidup hanya sekali.

Refleksi adalah sebuah keniscayaan jika kita menginginkan kesuksesan kehidupan baik di dunia maupun di akhhirat. Pernakah engkau berpikir bahwa perjalanan kehidupanmu selalu mendapatkan ujian atau hambatan? Atau malah ternyata ujian itu telah membiaskan jalanmu sehingga tanpa sadar engkau telah salah arah? Maka dari itu kita harus selalu berefleski dan merenung untuk selalu mengembalikan konsistensi kita pada tujuan awal dan mulia.

Dunia Perang

Marchiaveli seorang pemikir politik mengatakan: dunia dalam keadaan perang. Penulis sepakat dengan pernyataan ini karena dunia adalah pertarungan antara banyak kepentingan. Perjuangan untuk memenangkan kompetisi. Jika kita tidak memiliki senjata untuk berperang maka kalah lah kita dalam perang itu. 

Pernyataan ini juga di pertegas oleh Ali Syariati. Seorang cendekiawan muslim Iran yang sangat berjasa dalam Revolusi Islam Iran, 1979. Beliau mengatakan: dalam diri manusia terjadi perang antara dua sifat. Yakni sifat ilahiyah dan sifat setan. Diri manusialah sebenarnya miniatur kehidupan dimana selalu ada pertentangan. Dan kita berhak untuk menang.

Setidaknya ungkapan Ali Syariati dan Marcihiaveli menjadi batu lonjakan saya untuk semakin dalam memasuki alam renungan. Apa senjata saya nanti untuk berperang? Untuk menjawab pertanyaan ini maka saya kembali melihat ke dalam diri sendiri. Potensi apa yang saya miliki untuk bisa dikembangkan dan menjadi senjata ampuh untuk memenangkan kehidupan ini. 

Oleh karena itu, sekarang saya harus lebih fokus lagi pada potensi dalam diriku. Selain itu, saya juga mencoba memperbaharui dan membenahi diri. Mencoba melengkapi kekurangan untuk lebih bergerak menuju kesempurnaan hidup. Dengan kata lain mencoba berubah menjadi lebih baik lagi karena kemajuan adalah jika perubahan menuju perbaikan bukan terjadi stagnasi apalagi perubahan kebelakang.

Semoga Allah SWT Meridhoi. Amin…


Sedikit Inspirasi: Jejak Nabi Muhammad SAW

Tepatnya 12 Rabiulawal 571 H, Rasul Muhammad SAW dilahirkan di kota Makkah. Seorang anak manusia pilihan Tuhan yang sengaja dihadirkan di muka bumi untuk mengarjakan islam bagi rahmat sekalian alam (rahamatan lilalamin). Terutama rahmat untuk kehidupan makhluk yang paling mulia yaitu Manusia.

Tulisan ini tidak akan berbicara tentang sejarah beliau hingga mendirikan negara madinah. Tidak akan juga menceritakan bagaiama kehidupan di negara madinah. Melainkan tulisan ini akan mencoba mengispirasi islam sebagai ajaran yang dibawa beliau untuk ditransformasikan dalam kehidupan dalam konteks ke Indonesiaan dan kemoderenan.

Pluralis sosial di Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Dalam islam Indonesia sendiri terdiri beberapa Mahzab, golongan bahkan aliran. Apalagi jika dalam Indonesia yang lebih komprehensif dalam berbagai budaya, agama, bahasa maupun golongan tentunya akan menimbulkan perbedaan yang sangat beragam. Dan keragaman ini sangat rentan dengan konflik jika tidak bisa dikelolah dengan baik. Sebaliknya, bisa menjadi kekuatan yang hebat jika mampu di kelolah dengan baik.

Jika islam adalah rahmat bagi seluruh alam termasuk manusia, maka tidak alasan untuk islam tidak menciptakan keharmonisan di Indonesia. Namun yang menjadi hambatan tersendiri adalah dalam islam terjadi perdebatan konsep islam bagaimana yang akan digunakan dalam Indonesia. Ada yang menginginkan agar Indonesia dijadikan negara islam seperti negara madinah yang pernah didirikan Rasulullah SAW. Dan ada juga mencoba mereinterpretasikan islam dalam konteks ke Indonesiaan dan kemoderenan. Selain perbedaan tujuan juga terdapat perbedaan dalam metode gerakan. Tapi berbagai perdebatan itu meruncing pada dua arus utama yaitu menerapkan islam substansi atau islam formal.

Penulis tidak akan menjelaskan mana yang paling ideal bahkan paling benar antara keduanya. Penulis hanya mencoba mengajak pembaca yang terutama yang muslim agar tetap menjadikan islam sebagai ruh bagi pembangunan bangsa ini. Islam bukanlah agama spiritual yang hanya mengajarkan ibadah ritual tapi islam lebih dari itu yakni agama sosial-transformatif. Karena itu, islam tidak bisa mengisolasi diri dengan budaya luar seperti yang dilakukan oleh banyak pengikutnya. Islam harus berani menantang  zaman dan berani melawan budaya dominan (globalisasi). Tanpa menutup dialog antar peradaban karena tidak semua kebudayaan bertentangan dengan islam bahkan banyak yang kompatibel. Justru dialog adalah sifat progresif islam itu sendiri yang mengajak untuk selalu ber-evolusi menuju kebaikan dan kesempurnaan.

Semoga peringatan hari kelahiran Rasulullah Muhammad SAW (Maulid NabiMuahammad SAW)  kali ini, menjadi lebih bermakna. Tidak hanya menjadi ritual dan seremonial belaka. Mudah-mudahan ajarannya menjadi inpirasi perjuangan di Indonesia bahkan di dunia. Amin.