Jumat, 31 Juli 2015

Sedikit tentang seminar AIPI

Pembicaraan mengenai ilmu pengetahuan tidak akan ada habisnya. Apalagi berapa jumlah ilmu pengetahuan yang ada di semesta sejak waktu yang asali hingga waktu yang tak jelas akhirnya. Coba saja kita menghitung, hingga engkau akan mati atau anak cucu turunan-turunan bahkan sampai kiamat terjadi, ilmu ini tidak akan mampu terhitung. Karenanya bagi pencari ilmu akan mahfum perihal waktu yang sempit dengan ilmu yang banyak dimana kita tidak akan mampu mencerna semua ilmu hingga hayat akan menjemput nanti. Bahwa demi masa dimana manusia dalam kerugian, betapa banyak ilmu sedangkan kita tidak punya waktu yang cukup dan selalu menyia-nyiakannya.

Baru-baru ini saya mengikuti seminar yang diadakan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Universitas Hasanuddin. Seminar ini sebagai bentuk sosialisasi untuk membangkitkan gairah mencari dan mengembangkan ilmu melalui peneltian, berikut tentunya akan diimplementasikan pada pembangunan bangsa Indonesia. Bagiku inisiatif atas kegiatan ini adalah sangat baik. Apalagi selalu ditampilkan data perbandingan antara jumlah karya ilmiah antarnegara atau jumlah tekhnologi (sains), kita Indonesia selalu tertinggal jauh. Padahal ilmu pengetahuan merupakan indikator yang sangat menentukan maju tidaknya sebuah bangsa.

Saya tidak ingin menguraikan mengapa ‘kekhilafan’ dan ‘kekalahan’ ilmu pengetahuan (pendidikan) ini terjadi. Akan terlampau panjang untuk dipaparkan. Jauh lebih penting kita cukup belajar dari kesalahan-kesalahan dan berhenti menyalahkan serta siap mengevaluasi apa yang telah terjadi dalam dunia pendidikan dan segala yang terkait dengannya.

Dalam seminar itu, saya mengagumi beberapa tokoh intelektual yang menjadi narasumber dan juga merekalah sebagai bagian dari anggota oraganisasi di atas (baca: AIPI). Begitu cerdas dan semangat mereka dalam menemukan dan menggali ilmu sangat tinggi – alasan ini sehingga mereka dipercaya untuk menjadi anggota AIPI – menjadi inspirasi tersendiri bagi banyak yang hadir saat itu, tak terkecuali saya. Dari sekian narasumber, ada seorang nama yang menurut saya tidak asing dan cukup dikenal dalam dunia ilmu sosial dan juga birokrasi (pemerintahan) baik di Indonesia bahkan di dunia. Maklum saja, karena saya banyak bersentuhan dengan ilmu-ilmu sosial.

Beliau adalah Bapak Emil Salim. Paling banter, saya hanya mendengar nama dan pemikirannya dalam diskusi-diskusi atau melihatnya di televisi. Atau membaca buku dan artikel yang berkaitan dengan beliau. Tapi kali ini saya baru pertama kali bertemu secara langsung. Saat itu saya menyimpulkan bahwa beliau memang tokoh hebat. Bagi seorang yang paham, akan dapat mengidentifikasi kedalaman intelektual seseorang dari bagaiamana dia berbicara (berargumen), bahwa ‘berisi’ atau tidaknya muatan pembicaraannya.

Alhamdulillah, Allah masih terus memberikan semangat intelektual untuk menggali dan mencintai ilmu pengetahuan. Kehadiran dikegiatan tersebut membuat saya semakin bersemangat untuk “berpetualangan” dalam dunia ilmu pengetahuan. Menemukan, mengumpulkan serta mensintesiskan kembali menjadi ilmu pengetahuan yang baru untuk dimanfaatkan oleh siapapun. Aamin.

Saya mengapresiasi keberadaan lembaga ilmu pengetahuan ini. Apalagi jika kita menilik sejarah terbentuknya lembaga ini bukanlah selalu berada pada ruang yang “suka” melainkan juga “duka”. Dimana dalam perjalannya cukup sengit berhadapan dengan faktor-faktor politik dan ekonomi. Sehingga sering terjadi situasi ekonomi dan politik menjadi penghambat perkembangannya. Tidak mengherankan, isu pendidikan harus tunduk pada isu ekonomi dan politik hingga dia terbenam menjadi “yang lain”. Padahal pendidikan adalah mesin peradaban. 

Akhirnya saya masih bertekad untuk menjadi intelektual besar di Indonesia bahkan di dunia. Aamin.

~Makassar, 14 Syawal 1436 / 31 Juli 2015

Minggu, 26 Juli 2015

Kos-kosan dan Otokritik Gerakan Mahasiswa Makassar

Kian hari kebutuhan manusia selalu meningkat. Apalagi jumlah penduduk yang semakin meningkat selalu berbanding lurus dengan peningkatan kebutuhan. Terlebih lagi tuntutan zaman yang juga selalu menawarkan kebutuhan-kebutuhan baru yang seolah memaksa kita untuk memiliknya. Karena kebutuhan terlampau banyak, tulisan ini dikerucutkan pada kebutuhan akan tempat tinggal (papan). Untuk lokasinya pun saya batasi hanya pada kasus kos-kosan di sekitar kampus di Makassar, lebih khusus lagi di sekitar kampus Universitas Hasanuddin (Unhas).

Kos-kosan; dulu dan sekarang 

Kurang lebih tujuh tahun yang lalu, harga akomodasi di sini bisa disewa dengan harga sejutaan bahkan ada yang kurang dari itu. Untuk harga sejutaan, standar kualitas bisa terkategori layak dalam parameter mahasiswa saat itu. Tentunya harga selalu bersaing dengan menampilkan kualitas-kualitas, harga yang tiinggi akan menampilkan kualitas yang lebih tinggi dibanding harga dibawahnya. Saat itu harga yang lebih tinggi rata-rata sekitar 3 jutaan, tentunya sepeti yang disinggung sebelumnya bahwa kualitas sudah lebih dari cukup untuk dikatakan telah mumpuni.

Nah, bagaiamana kondisi sekarang??? Fluktuasi ekonomi mengakibatkan fluktuasi harga. Namun, harga kebutuhan ini (baca: kos-kosan)selalu menunjukan kenaikan dari tahun ketahunnya. Sebenarnya, kondisi ini hal yang alami dalam dinamika ekonomi masyarakat. Yang menjadi masalah adalah tidak semua mahasiswa (keluarga mahasiswa) akan mampu mengaksesnya dengan mudah karena tingkat ekonomi masyarakat (mahasiswa) berbeda-beda. Belum lagi beban kebutuhan lain seperti kebutuhan ‘pakan’, ‘sandang’ serta urusan kuliah dan sebagaianya, yang harus dipenuhi.

Setelah saya melakukan survey kecil-kecilan, ada tren yang jelas bahwa rata-rata pemilik kos selalu menaikan biaya kos dengan angka yang cukup signifikan tanpa ada perbaikan kualitas yang memadai. Sehingga tidak mengherankan, umumnya harga berkisar diangka 4 hingga 8 jutaan, terlepas dari harga air dan listrik yang harus dibayarkan tiap bulannya oleh penghuni.

Secara ekonomi, tidak ada yang salah dari realitas ini. Para pemilik kos berhak memainkan harga sesuai keinginannya dalam koridor yang tidak menabarak regulasi. Apalagi hari ini, sisitem ekonomi yang dijalankan oleh pemerintah sangat permisif terhadap para pelaku pasar (ekonomi pasar) untuk memainkan harga sesuai kehendak hati. Pemerintah terkesan tidak kuasa untuk mengintervensi ekonomi (pasar). Pasar dibiarkan bebas bergerak dan pemerintah hanya menjadi penonton karena keyakinan para penganut teori ekonomi ini (baca: kapitalisme), intervensi pemerintah atas ekonomi akan menghambat pertumbuhan ekonomi.

“Pejuangan kos-kosan”; Otokritik gerakan mahasiswa Makassar

Ada hal yang perlu dijadikan evaluasi dari gerakan mahasiswa hari ini. Kadang kala mahasiswa harus berhenti sejenak, lalu melihat apa yang telah dilakukan selama ini. Terlebih mahasiswa Makassar yang oleh banyak media selalu diindentikan dengan mahasiswa yang sering terlibat dalam demonstrasi memperjuangkan nasib rakyat. Sering mereka (baca: mahasiswa) terjun langsung dalam realitas yang dialami oleh mayasrakat kelas bawah, selanjutnya hadir sebagai penggerak memberikan solusi. Ini tidak salah dan sangat baik.

Namun, kadang-kadang kita harus berani melihat kedalam diri. Apakah mereka pernah melihat secara real nasib sendiri? Kembali pada perihal kos-kosan yang merupakan kebutuhan primer (papan) yang tidak bisa tidak, harus dipenuhi. Masalah ini menjadi masalah serius yang harus segera diatasi. Pasalnya, tiap tahun harga tempat mahasiswa berdiam diri ini, semakin meningkat tanpa ada regulasi yang jelas sedang kondisi ekonomi kebanyakan mahasiswa masih memprihatinkan.

Disinilah para mahasiwa harus berani lantang atas nasib mereka yang berhadapan dengan harga pasar (kos-kosan) yang semakin meroket. Tidak bijak jika mahasiswa hanya terus melihat berbicara secara makro, di satu sisi mereka luput atas yang dekat dengan mereka. Memang masalah kos-kosan bukan hanya masalah ‘mikro’ yang tidak memiliki kausalitas dengan system ekonomi politik yang telah terintegrasi dengan system global. Bahwa masalah ini hanyalah masalah ‘percikan’ dari sebuah system yang besar sehingga oleh banyak kalangan meyakini harus ada perubahan sistemik dengan alternatif system yang lain. Tapi hemat saya, tidak salah dan akan lebih bijak jika kita menggunakan analisis mikro untuk mencari jalan keluar atas soal ini.

Jihad Konstitusi; Perda kos-kosan; Sebuah Keharusan

Dalam hal lebih mikro, masalah ini sebenarnya bagaiamana pemerintah kota Makassar seharusnya mengambil andil. Tentunya mahasiswa juga harus sesering mungkin memberikan masukan dan mengingatkan kepada pemegang kebijakan ini. Jika menggunakan analisis ekonomi di atas, tentang bagaiamana konsep ekonomi yang dijalankan hari ini, seharusnya pemerintah segera merubah cara pandang ekonomi yang kapitalistik ini. Bahwa pemerintah harus terlibat langsung dalam perekonomian sebagaimana yang diamanatkan dalam pancasila, tidak hanya sekedar menjadi penonton atas ‘keliaran’ pasar yang sesuka hati.

Pemerintah harus kembali menjalankan amanat pancasila bahwa ekonomi harus diselenggarakan atas asas kekeluargaan (ekonomi kerakyatan) dimana pemerintah harus turun langsung untuk mengontrol pasar (harga kos-kosan). Keliaran pasar ini akan teratasi jika pemerintah menciptakan regulasi / peraturan daerah (perda) yang adil sehingga ada keadilan pemilik dan pengguna jasa kos-kosan. Perda sebagai alat kontrol bagi kebengisan spekulan dan pemain dalam system ekonomi pasar. Agar para pengelolah kos-kosan tidak bebas menaikan biaya yang cenderung berfokus pada akumulasi profit yang begitu besar.

Jika ketiadaan perda yang mengatur, saya yakin harga akan semakin tak terkontrol dan akan membebani mahasiswa. Karenanya campur tangan pemerintah dalam pasar dengan menciptakan perda yang memihak pada kepentingan mahasiswa adalah sangat mendesak dilakukan dan bagian dari amanat konstitusi. Karena perda adalah cara lain me-moralitas-kan para pelaku bisnis agar tidak hanya fokus pada pemburuan modal (uang) dengan mengurangi pertimbangan-pertimbangan kemanusiaan. Ketiadaan campur tangan pemerintah, pasar akan semakin kejam dan melibas siapa yang tak berdaya.

Masalah kos-kosan adalah masalah primer yang harus segra diselesaikan. Malasah kos-kosan adalah persoalan hajat hidup mahasiswa dan tentunya juga adalah persoalan hajat hidup rakyat secara umum. Sudah seharusnya mahasiswa melihat kebutuhan yang melekat padanya serta memperjuangkannya dalam segala perspektif.

*Tulisan ini tercipta setelah berjuang mencari kos-kosan yang murah, tapi tak kunjung dapat :D 

~Makassar, 9 Syawal 1436 / 25 Juli 2015

Jumat, 24 Juli 2015

Mudik dan Ketidakadilan

Sangat jarang kita melihat ruas-ruas jalan kota besar dengan  jumlah kendaraan yang padat, akan lenggang pada hari-hari normal. Artinya ada saat dimana ruas-ruas jalan ini akan lenggang atau para pengendara akan lancar berkendara tanpa banyak hambatan untuk sampai ditujuannya. Demikianlah realita yang terjadi dimoment idul fitri (mudik) dimana banyak tempat di Indonesia akan ditinggalkan oleh penghuninya, terkhusus lagi di kota-kota besar di Indonesia.

Adalah Makassar, salah satu kota besar yang ada di Indonesia. Kota ini sama halnya dengan kota besar lain di Indonesia, masyarakatnya bermudik secara massif. Wajar jika beberapa hari sebelum dan setelah momentum puncak (idul fitri), ruas-ruas jalan di Makassar secara perlahan mulai jarang terlihat kendaraan berlalu lalang. Karena kali ini saya tidak bermudik, ada perasaan legah tatkala berkendara bahwa dengan lancaranya melewati jalan demi jalan, tanpa macet.

Mudik secara massif ini menandakan bahwa kota selalu menjadi hal yang menarik untuk dikunjungi orang-orang dari berbagai pelosok. Sebenarnya, tinggal di desa jauh lebih nyaman dibanding tinggal di Kota. Di desa pola kehiduan masyarakat begitu menjunjung tinggi kebersamaan sedang kota cenderung individualis. Dari aspek lingkungan (alam) desa masih jauh lebih tentram. Kita akan langkah menemukan polusi udara, suara deru kendaraan bermotor atau “hutan-hutan beton” layaknya kita jumpai di perkotaan. 

Pembangunan yang tidak adil

Tapi ketertarikan manusia menjadikan kota sebagai tempat yang selalu di kunjungi, adalah adanya ketertarikan ekonomi, pendidikan, faislitas kesehatan atau segala fasilitas “keduniaan” lainnya yang lebih baik. Di desa hal-hal yang disebutkan ini sukar ditemukan. Apalagi ada paradigma berpikir yang terbangun bahwa kota adalah sesuatu yang “wah” dengan “kemajuan” yang dimiliknya dan selalu di anggap sebagai tempat lebih tinggi derajatnya (superior) sedangkan desa adalah tempat yang di bawah kota (subordinat).  Sehingga tidak heran jika banyak masyarakat desa atau tempat yang tidak memiliki fasilitas-fasilitas di atas, akan berbondong-bondong untuk mencari “kehidupan” dan ingin “menikmati” kota.

Jika ditelisik lebih dalam, kita akan mafhum tentang ketimpangan atau ketidakadilan pembangunan di Indonesia. Tidak usah kita berbicara jauh, kenapa hal ini bisa terjadi. Apalagi untuk membahasnya disini, terlampau rumit dan butuh berhalaman-halaman. Hal yang perlu kita tahu adalah pemerintah punya andil besar dalam mengkonsep model pembangunan kita hari ini. Bahwa pemerintah selama ini tidak adil dalam memberikan pelayanan kepada masyrakat. 

Baru-baru ini saya membaca sebuah berita, seorang mentri terkaget-kaget dengan harga barang yang ada di kawasan timur Indonesia yang begitu melambung tinggi bahkan berkali-kali lipat dibandingkan dengan harga barang yang ada di pulau jawa. Bagi saya, ini bukanlah informasi yang baru dan saya yakin telah banyak yang berpikir demikian, terlebih bagi kami (masyarakat) yang tinggal di kawasan timur atau selama ini jauh disentuh oleh pembangunan.

Ah, aku harus berhenti dari perenungan ini. Kemarin atau sehari sebelum aku menulis tulisan ini, saya mengendarai sepeda motor dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. Kebetulan secara geografis bandara ini berlokasi jauh di pusat kota Makassar atau berbatasan langsung dengan kabupaten lainnya. Harapanku masih sama: kelenggangan ruas jalan akan mudah dinikmati sehingga saya akan dengan lancar berkendaraan. 

Ternyata manusia-manusia luar kota (desa) sudah “menyerbu” masuk salah satu kota terpadat ini. Ah, ternyata macet lagi. Semoga pemerintah kita segera siuman dan berlaku adil.

~Makassar, 8 Syawal 1436 / 24 Juli 2015

Selasa, 21 Juli 2015

Pernikahan; Perjalan menuju titik 0,0

Pembicaraan seputar topik ini adalah hal yang umum terjadi terutama di kalangan muda mudi, terutama lagi bagi mereka yang sedang ‘galau’ atau sedang mencari “pasangan jiwa” untuk melengkapi jiwa yang belum sempurnah. Atau mungkin yang sedang “menderita” atas pertanyaan: kapan menikah? Apalagi di momentum suasa idul fitri, wacana ini (baca: pernikahan atau acara kawinan atau walimah  atau apalah istilahnya)semakin ribut diperbincangkan bagai tawar menawar di pasar tradisional.

Di banyak tempat di Indonesia termasuk kampung halaman saya, menjadikan momentum idul fitri sebagai saat yang baik untuk melangsungkan pernikahan. Hemat saya, banyak alasan kenapa fenomena ini umum terjadi. Diantaranya karena idul fitri adalah saat berkumpulnya orang-orang yang melakukan mudik ke kampung halamannya, sehingga menggelar pernikahan akan berpeluang dihadiri banyak orang dan inilah keinginan kebanyak orang yang ingin menikah. Selain itu, dalam kacamata religius bahwa idul fitrih adalah momentum suci atau kita “lahir kembali” setelah terlepas dari dosa-dosa yang diproses selama ramadhan dan disempurnakan dengan merayakan kemenangan (idul fitri), sehingga memulai hidup baru dengan kekasih yang sah melalui pintu pernikahan adalah pilihan yang tepat.

Nikah; gejala muda mudi

Baru-baru ini seorang kawan menulis sebuah artikel yang berhubungan dengan topik ini. Tulisannya pun memaparkan betapa dia mencurahkan “penderitaan” yang selama ini merundungnya terkait pertanyaan: kapan nikah? Atau sindiran dari orangtuannya: itu sepupumu sudah menikah atau temanmu sudah punya anak (dan berbagai pertanyaan yang mirip.hehehe).

Selain itu, ada kawan yang tak kalah lincahnya. Beberapa kawan menelponku untuk menghadiri pernikahannya. Atau saat saya berselancar di facebook, tiba-tiba ada catatan pemberitahuan tentang undangan walimah (pernikahan). Bahwa lagi-lagi saya di undang untuk menghadiri pernikahan dan “parahnya”, ada yang mendoakan agar pernikahanku dimudahkan sampai di hari H nanti (siapa yg mau nikah dalam waktu dekat ini? Hehehe). Tidak kalah hebohnya, saya mendengar jika saudara sepupu akan segra menikah. Terlintas di pikiran saya: apakah semua kawan-kawan saya akan segra menikah? Atau apakah menikah adalah agenda yang memang harus segra dilaksanakan? Setidaknya ada hal yang saya tangkap dari beberapa kejadian ini yakni ternyata pernikahan telah menjadi bagian dari agenda prioritas kebanyakan pemuda (muda mudi).  Itu hal yang wajar.

Bu Guru: Mana calon istrimu?

“Mana calon istrimu?” Sebenarnya pertanyaan ini sejenis dengan pertanyaan: kapan menikah? Atau komentar: “kawanmu sudah nikah” atau “hei,,,kawanmu minggu depan akan nikah”. Atau kamu menghadiri pernikahan bersama kawan-kawanmu dan saat itu kamu hadir tanpa ada yang menemani (pasangan) sementara kawanmu yang lain datang dengan pasangannya (baca: istri/suami). Kira-kira demikianlah analoginya, hehehe.

Suatu hari saat saya di kampung halaman, ada kejadian yang entah dapat diartikan sebagai sindiriankah? Tegurankah?  Paksaankah? Intimidasikah? Motivasikah? Atau apalah, apalah, apalah. Jadi ceritanya, begini. Hehe.

Berjalanlah saya dikeramaian orang-orang. Momennya adalah kurang lebih sehari setelah lebaran. Saat itu adalah sebuah acara sunnatan anak tetangga. Di kampungku, acara semacam ini selain acara keagamaan juga merupakan bagian dari acara adat yang memiliki prosesi tersendiri. Saat sedang keasikan berjalan sendiri, tiba-tiba seroang ibu paruh baya memanggil namaku. Suara itu membuatku penasaran, seketika aku menoleh ke arah sumber suara. Ternyata beliau adalah guru agamaku waktu SD dulu. Saya cukup senang ternyata beliau masih mengenaliku karena selama ini saya jarang bertemu dengan beliau. Tapi perasaan senang itu, tiba-tiba sedikit berubah dengan entah perasaan apa. Karena beliau berteriak (bertanya) lagi dalam keramaian. “Mana calon istrimu?”. Seketika pandangan orang-orang disekitar situ tertuju pada saya. Alisku berkerut dan bertanya dalam hati: “Kapan saya bertunangan atau kabar dari mana saya telah memiliki calon istri?”. Wah, pertanyaan di luar dugaan.

Saat itu saya berharap diberikan pertanyaan tentang kabar karena sudah lama beliau tidak bertemu dengan saya. Tapi saya tidak marah, justru tersenyum dan sedikit tertawa dan berkata: “Dengar dari mana bu? Saya belum pernah bertunangan ataupun punya calon istri”. Beliau melanjutkan komentarnya “Soalnya lama tak bertemu, ternyata kamu sudah besar ya. Sudah pantas untuk menikah. Tadi saja hampir aku tidak mengenalmu”. Ujarnya dengan suara yang masih cukup keras. Tapi saya tidak pernah memandang komentarnya sebagai sesuatu yang negatif. Saya mengggapnya sebagai kelakar pembuka untuk masuk ke sesi ngobrol atau beliau memotivasi saya.

Menuju kordinat 0,0 (nol koma nol)

Tidak dapat dimungkiri, menikah adalah bagian dari kebutuhan manusia. Selain persoalan bagaiamana hasrat alami (biologis) yang harus dipenuhi oleh manusia, juga agama (islam) dimana menikah merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh penganutnya.

Menikah adalah perjalan menuju titik 0,0 (non koma nol). Mungkin sering mendengar istilah sepasang hati atau separuh jiwa. Isitilah ini biasanya dilekatkan ada dunia ‘per-asmara-an’. Dimana muda mudi selalu mencari pasangan hati atau separuh jiwa pada lawan jenisnya.

Tuhan telah mencitakan alam semesta dengan keseimbangan. Ada siang-malam, terang-gelap, kaya-miskin, besar-kecil termasuuk ada hati yang harus di pasangkan atau jiwa yang harus menyatu menjadi satu hingga mencapai titik keseimbangan. Jiwa yang seimbang inilah yang akan dicapai melalui pencarian dan kemudian disahkan dengan pernikahan. Keadaan yang seimbang akan membuat manusia menjadi tenang. Mungkin inilah salah satu alasan Tuhan memerintahkan agar manusia menikah karena menikah akan menyempurnakan sebagian agama. Dan juga mungkin inilah alasan kenapa banyak orang yang telah menikah berkata: nikah itu membuat tenang!.  Menuju 0,0-menuju keseimbangan. Dari seimbang menjadi tenang, dengan pernikahan.

Tentunya setiap orang punya rencana dan pilihan masing-masing. Semua akan indah pada waktunya.


~Makassar, 4 Syawal 1436 / 20 Juli 2015

Rabu, 15 Juli 2015

Mudik; berkah ramadhan

Sebuah feonomena yang unik yang dimiliki Indonesia. Ada yang bilang mudik adalah bagian dari fitra atau keniscayaan manusia, bukan hanya persoalan fenomena kebudayaan. Kita akan kembali ke asal, setelah kita melalang buana keberbagai tempat. Konsep ini sama halnya dengan konsep hidup dan mati, bahwa setelah kita hidup di dunia yang fana dan pada akhirnya kita akan kembali pada sang pencipta. Demikian pula dengan mudik.

Tahun ini, untuk pertama kali saya tidak ikut mudik bersama kawan-kawan. Saya memilih untuk tetap tinggal di tanah rantauan. Sebenarnya lebaran dikampung halaman adalah hal yang lebih menyenang disbanding harus merayakan hari lebaran di kampung orang yang jauh dari keluarga. Tapi inilah keputusan saya dengan pertimbangan-pertimbangan pribadi.

Saya yakin bukan hanya saya yang tidak memutuskan untuk mudik. Banyak orang di Indonesia yang tidak bertemu dengan keluarga di kampungnya. Tentunya bukan hanya persoalan tidak ada kesempatan atau pertimbangan-pertimbangan lainnya tapi kadang tidak adanya dana untuk pulang kampung. Umumnya para pemudik adalah mereka yang telah tinggal lama dan menetap atau mencari kerja di tempat lain. Namun ada juga yang dalam proses mudik tapi tidak sempat bertemu dengan sanak keluarga karena kecelakaan sehingga harus dirawat dirumah sakit bahkan meninggal. Atau malah ada yang tidak mudik karena sanak keluarga di kampung sudah tidak ada.

Mudik juga menjadi persoalan ekonomi. Maksudnya mudik akan mendatangkan efek ekonomi bagi kampung halaman para pemudik. Pemudik bukan hanya membawa diri mereka tapi juga uang yang digunakan untuk membeli kebutuhan-kebutuhan dikampung halaman sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pemudik juga dapat menjadi penyumbang pemikiran baru. Pemudik akan membawa pemikiran dan kebudayaan baru yang mungkin tidak dikenal oleh masyarakat kampung. Disinilah terjadi silang dan kawin budaya sehingga tidak menutup kemungkinan akan menjadi inspirasi membangun kampung. 

Selalu ada berkah dalam ramadhan. Bersyukurlah bagi kita yang sempat mudik dan bertemu keluarga di kampung halaman. Smoga yang mudik diberikan kemudahan dan berbahagia dengan keluarga di kampung.

~Makassar, 28 Ramadhan 1436 H / 15 Juli 2015