Kamis, 21 Juli 2011

Wan, aku merenung sejenak

Wan, hari ini Tuhan memberimu rahmat kembali. Tuhan begitu tidak bosan-bosannya memberikanmu rahmatnya. Ditengah hiruk pikuknya hegemoni kapitalisme yang telah menembus batas-batas peradaban sehingga secara perlahan mengiskis kesadaran yang hampir habis, Tuhan masih peduli denganmu. Padahal
begitu banyak dosa yang kamu perbuat dan begitu banyak juga perintah yang engkau tak indahkan.

Wan, mungkin inilah yang di inginkan oleh seorang pakar pendidikan dari brazil, Paulo Freire yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan sebenarnya adalah membangkitkan kesadaran. Btul, dalam kondisi ini saya spakat. Apalah arti dari pendidikan jika tidak dapat digunakan untuk membebaskan. Karna pendidikan bukanlah barang yang polos yang tidak mampu diwarnai oleh kepentingan. Selain itu pendidikan adalah sebuah alat atau media untuk memindahkan kepentingan dan mempertahankannya.

Wan, poin kedua inilah yang saya takutkan. Jangan sampai arus globalisasi ini yang dimana kesadaran kita telah didominasi oleh kesadaran pasar yang sangat bebas telah menghilangkan jati diri kita yang sesungguhnya. Mungkin inilah yang menimpaku sekarang. Aku hampir tidak mengenal aku sebagaimana aku yang sesungguhnya. Aku yang memiliki kekuatan hasil delegasi dari Tuhan yang Maha hebat, sehebat-hebatnya. Kekuatan itu termanifestasi dalam potensi diri yang seharusnya terus digali dan diasah kemudian digunakan untuk diri dan kemaslahatan umat. Aku hampir lupa tentang itu dan mungkin bisa dikatakan lupa.

Wan, Tuhan semua makhluk, kini menyapamu lebih dekat lagi sebagaimana kau rasakan dan lebih dekat dari urah nadi lehermu. Tuhan yang selalau mencurahkan kasih dan sayangnya dalam setiap waktu dan tempat yang diciptakan-Nya. Wan, saya yakin pergolakan batin dan pikiran yang kau jalani terus menerus kini telah membuahkan hasil meskipun mungkin belum sempurnah tapi syukurilah karna itu kepedulian Tuhan denganmu. Tuhanmu akan menambahkan dan akan terus menambahkan rahmatnya kepada hamba-hambanya yang bersyurkur.

Wan, sedikit aku mengambil lirik lagu bang iwan. Beliau berkata: ambil hikmanya-ambil indahnya. Inilah mungkin yang harus saya lakukan, wan. Maafkan jika aku salah karna aku mendapakan sebuah pengetahuan yang berharga. Wan, sebenarnya pengetahuan ini telah kau dapatkan dalam proses-proses lain tapi mungkin kau lalai untuk menjalankannya. Pengetahuan itu hanya sangat kecil yang tak mampu aku bayangkan jika dibandingkan dari ilmu Tuhan pemilik jagad raya ini.
Wan, dalam perenungan itu saya diajarkan tentang fokus pada tujuan atau cita-cita atau target atau apalah nama yang sejenisnya. Wan, kini aku sadar dan harus menjalankannya. Wan, aku dan kamu harus berdoa terus-menerus kepada Tuhan mudah-mudahan rahmatnya selalu ternaungi dalam kehidupanku.

Wan, aku ingin menangis.

Makassar, 21 Juli 2011

Wan, Aku menyapamu

Wan, mungkin inilah panggilan barumu dalam dunia kita. Dunia yang hanya kita yang tahu dan Tuhan yang Maha tahu. Maaf salama ini kita tidak berkontempelasi dalam dunia virtual ini. Akau tidak mencoretimu dengan ide-ide dalam peikiranku. Wan, aku
ingin berkata padamu bahwa kita telah terkuasai oleh efek globalisasi yang sangat berpihak pada kekuatan modal. Dasyatnya sampai ketubuh kita bahkan kedalam rongga-rongga sel tubuh.

Wan, kita dimalaskan oleh kekautan asing kekuatan lingkungan. Yang saya mau katakan lagi padamu wan, ini kekuatan dasyat di era modern dan banyak yang bilang posmoderen. Wan, saya tidak mau munafik bahwa kita ini mahluk bebas merdeka. Artinya kita berpotensi untuk menang dalam segala pertarungan hidup. Namun kekuatan lingkungan juga sangat perpengaruh sebagai komponen dialektika kehidupanmu. Dan wan, kini kekuatan sekitarmu telah mengalhkanmu. Mungkin saya bisa berkata demikian.

Wan, lihatlah secara terang-benderang kalau media blog ini dalam beberapa bulan tidak kunjung di goresi ole hide-idemu. Mungkin seperti di ataslah alasannya. Wan, kini kau sadar dan tidak lain Tuhan menyadarkanmu tentang hal ini. Wan, apakah kamu berjanji padaku? Berjanjilah untuk konsisten dalam perjuangan ini? Mungan istilah perjuangan terlalu radikal. Hehehe… tapi perjuangan itu banyak jenis dan saya pikir inilah salah-satunya. Wan saya kira engkau sudah mengerti yang saya maksud.

Wan, malam mini tepatnya pukul 01:40 waktu tamalanrea, Makassar atau WITA aku menulisnya dengan perasaan seolah dilimuti oleh rahmat Tuhan yang begitu luar biasa.

Wan, marilah kita bersyukur pada Tuhan semesta alam ini.

Makassar, 21 juli 2011