Minggu, 26 Mei 2013

Sedikit celoteh; ujian nasional

Lihat itu. Mereka dalam keadaan yang penuh dengan rasa penasaran. Sepertinya ada kabar yang mereka ingin ketahui. Pastinya hanya ada dua: kabar baik dan buruk.

Seperti inilah rasa penasaran yang sama menyerangku dahulu. Hari itu adalah hari yang sangat di tunggu-tunggu terutama oleh siswa dan siswi sekolah (baca: SMA). Kurang lebih sebulan, kami menunggu tentang hasil usaha dan perjuangan cukup melelahkan. Bagaiamana tidak? selama tiga tahun kami berproses dalam lembaga sekolah formal (baca: SMA). Dan hari yang mendebarkan itu akan menjadi hari bersejarah karena akan menentukan kesuksesan kami selama tiga tahun. Sungguh tidak adil.

Yah, sangat tidak adil. Hari itu adalah adalah hari penilaian ujian yang kami lakukan selama beberapa hari saja. Dan lucunya beberapa hari itu mewakili bahkan melupakan proses-proses yang terjadi selama tiga tahun itu. Di hari itulah kami akan ditentukan, tentang berhak atau tidak mendapat secarik kertas yang akan digunakan sebagai syarat menempuh jenjang pendidikan formal berikutnya. Secarik kertas itu bernama ijazah.

Ha? Yah, secarik kertas itulah reprentasi kualitas kami yang ditetapkan oleh Negara. Negara menggunakan kertas itu untuk mengukur kemampuan kami. Menututnya kami yang tidak mendapatkan kertas itu adalah kami yang belum bisa menempuh ke jenjang pendidikan formal selanjutnya. Karena menurutnya kami masih “bodoh” untuk menempuh kejenjang berikutnya. Sungguh memprihatinkan kami.

Pendidikan yang ironis

Sebelum dan sesudah melaksanakan ujian nasional kami masih dihantui oleh “ketakutan”. Kami di kekang oleh rasa itu. Rasa yang muncul karena proses pendidikan (baca: ujian nasional) yang diwajibkan oleh Negara itu (baca: ujian nasional). Padahal pendidikan harusnya menjadi tempat yang sangat indah dan membahagiakan. Tapi yang terjadi justru terbalik. Sungguh ironis.

Waktu menulis artikel ini tepat dengan hari pengumuman ujian nasional siswa SMA. Rasa yang sulit untuk digambarkan menjelang di umumkan hasil itu. Tapi pada akhirnya rasa penasaran itu lenyap seketika dengan di umumkan hasilnya. Bagi yang lulus perasaan sangat bahagia dan sebaliknya yang tidak lulus cukup merasakan kesedihan yang sangat.

Yang tidak lulus, perjuangan bertahun-tahun selama ini harus berakhir dengan kesedihan. Dalam pikiran mereka perjuangan sungguh tidak ada pengharagaan Negara atas proses yang mereka jalani itu. Maka tidak mengherankan, banyak yang dilanda kesedihan hingga depresi bahkan lebih ekstrim lagi mengakhiri kesedihan itu dengan sengaja mengakhiri hidup (bunuh diri). Memprihatinkan. Pendidikan yang harusnya membahagiakan justru berakhir dengan tragedi seperti ini.
Semoga Negara menyadari hal ini.

~Makassar, 25 Mei 2013

Rabu, 22 Mei 2013

Aku menulis harapan di hujan

Siang itu, cuaca berubah mendung. Kecerahan langit berubah menjadi kepekatan awan hitam. Hujanpun turun membasahi tanah yang sebelumnya cukup panas.

Banyak yang ingin melayangkan protes padanya. “Hujan, kenapa engkau harus turun saat ini?” Mungkin ini kalimat yang terjanggal dalam benaku. Pasalnya rencana yang pernah ku munculkan harus pupus oleh siraman hujan deras.

“Ah, kalau begini kondisinya lebih baik akau di sini saja. Aku menunggu hingga hujan berpihak pada rencanaku”. Maka hal yang menurutku bijak saat itu adalah menikmat hujan sembari sesekali menatap langit. “Apakah tanda itu sudah nampak?” tanda dimana awan hitam menyingkir, membiarkan sinar mentari kembali menyingsing tanpa harus ditutupi oleh tubuhnya.

Saat itu, aku tidak dalam kesendirian. Seorang kawan bernasib sama denganku. Menikmati, melihat serta mendengar jatuhnya hujan dari langit. Meskipun itu, aku tetap menyambutnya dengan positif. Bahwa di balik hujan turun ada kabar baik dari Tuhan yang kadang belum kami ketahui.

Tentang harapan

Perbincanganku dan seorang kawan cukup menggugah. Kami mencoba menyelami masa depan yang tak pasti. Mencoba menciptakan dunia imajinasi tentang kejadian kami masa depan. Mungkin inilah yang disebut oleh semua orang dengan “harapan”. Kami menyebutkan harapan-harapan kami di masa depan.

Lagi pula aku pernah mendengar bahwa salah satu momentum yang baik ketika hujan turun. Bahwa harapan itu akan mudah terkabul tatkala hujan menghampiri permuakaan bumi. Yah, mungkin itulah salah satu kabar baik di balik hujan turun itu. Wallahu alam.

~Makassar, 20 Mei 2013

Kamis, 09 Mei 2013

sepasang kekasih dalam malam

desis malam di sudut ruang
aku melihat sepasang kekasih
mereka merajut kasih
entah sampai kapan. entahlah

malam sudah tampak garang
pekatnya menelan segala ke riuhan
sampai kapan sepasang kekasih itu?
entahlah

aku masih menunggu embun
aku yakin padanya ada jawab
di situlah ke setiaan akan teruji
karena fajar selalu memberikan harapan

~melihat sepasang cicak

Mantap, katanya.

Bermula dari sebuah janji. Di masjid kami membuat janji dan akan bermu kembali di masjid yang sama. Aku tunggu tapi tak kunjung muncul, hingga satu jam kemudian dia tetap belum menampakan dirinya. Padahal saat itu adalah waktu yang telah kami siapkan untuk bertemu.

Tak seperti biasanya. Jika kami membuat janji maka sebisa mungkin akan kami tepati. Tapi tidak untuk malam itu. Yakinku, pasti ada halangan yang sangat sehingga kami tak bertemu di tempat itu, masjid. “Mungkin dia lupa atau ada halangan lain yang tak bisa dihindarinya” pikirku.

Putus asa belum datang menghampiriku. Dia sengaja ku usir sejauh mungkin dalam hidupku. “Esok malam saja aku akan datang ketempat ini” itu komitmenku.

Malam semakin menampakan kegarangannya. Dia gelap dan sunyi hingga senyap. Hanya nyanyian-nyanyian alam serta bintang-bintang yang menghiasinya. Waktu terus berputar, fajarpun menjemput malam. Pekatnya malam menjadi semakin buram hingga hilang tertelan oleh mentari yang menyingsing.
ilustri gambar, dari google

Akupun terjaga dari tidur semalam. Kembali beraktifitas di siang hari. Begitulah sebagian besar manusia yang menjadikan siang sebagai moment menghabiskan porsi waktunya. Biasanya sore akan menjadi lampu kuning bahwa aktvitas siang akan segra harus di tunda. Dan senja menjadi lampu merah sebagai tanda aktivitas untuk di hentikan untuk beberapa waktu.

Akhirnya langit kembali gelap. Segera teringat tentang sebuah janji untuk bertemu di tempat yang menurut kami sakral, masjid. Aku akan berusaha mewujudkan komitmen yang telah saya bangun untuk bertemu diwaktu ini.

Usai shalat magrib, benar saja aku melihatnya. Dia memberiku isyarat, aku pun sebaliknya. Pertemuan tak terelakan lagi. Akhirnya pertemuan kami itu berlanjut ke rumahnya. Dia mengajakku untuk ke rumahnya.

Entah apa yang dia bicarakan dengan orang di dalam rumah di balik pintu itu. Tapi terakhir kalimat yang ku dengar:  “Ada temanku”. Dia menyapa istrinya di dalam rumah. “Waow, dia sudah beristri. Luar biasa”. Jarang-jarang pemuda dan pemudi mengambil keputusan untuk menjalin hubungan cinta yang sah dalam ikatan suci dalam mahligai keluarga. Mereka termasuk orang yang jarang itu.

“Han, Buatkan kopi” dia memanggil dengan nama yang romantis skali aku mendengarnya. “iya…” istrinya menjawab perintah sang suami. Aku melihat cinta dari cara mereka bertutur. Aku jadi irih dan ingin seperti yang mereka lakukan. “Oh, Tuhan kabulkanlah. Amin” ke inginanku dalam hati.

Kami berdiskusi satu sama lain. Akhirnya segelas kopi datang ditemani sepiring pisang goreng yang masih panas. Istrinya membawakan dengan sikap yang sangat islami. Namun aku harus sendiri menikmati segelas kopinya. Istrinya ternyata tau bahwa suaminya saat itu harus menikmati segelas air putih saja. Mereka sudah saling mengerti, sungguh syahdu. Oh, Tuhan aku ingin seperti itu.

Waktulah yang harus membatasi pertemuan dan perbincangan kami malam itu. Waktu shalat isya sudah tiba, suara azanlah yang membuat kami harus mengakhirinya. Segeralah kami menuju masjid. Dalam perjalan, aku bertanya padanya perihal pernikahan yang dilakukan lebih cepat dibanding kebanyakan orang. Tak banyak berkomentar dengan banyak penjelasan. Karena dia paham bahwa saya sudah mengerti: nikah adalah perintah Tuhan sehingga akan mendapat ganjaran pahala. Dia hanya bertutur  “nikah cepat itu mantap”.

~Makassar, 9 Mei 2013

Rabu, 08 Mei 2013

Perihal tujuan hidup

Setelah menjalani malam yang hening, aku terbangun oleh nyanyian hewan yang pagi yang baru saja bangun. Begitupun dengan fajar yang menyingsing hingga masuk melalui celah-celah jendelaku. Mereka menampar telinga dan kulitku sehingga aku memutuskan untuk bangkit dari peraduanku dari semalam.

Pagi itu, segera menyiapkan segala halnya untuk mewujudkan sebuah janji. Aku akan menemani seorang sahabat yang akan bepergian ke suatu tempat. Segra ku keluarkan kendaraan roda dua yang semakin kotor saja dari garasi. Meskipun itu,dengan tanpa rasa risih sedikitpun aku tetap menungganginya walaupun selalu mendapatkan kritik dan saran dari banyak sahabat agar segera membukan kotoran-koran yang menempel.

Segerah aku menyalakan mesinnya dan sesegera mungkin kami berjalan meninggalkan garasi. Semakin jauh dan jauh hingga pintu garasi menghilang dari pandangan punggung kami. Pada akhirnya jalan raya menyambut kami dengan segala deru kendaraan bermotor yang sudah mulai memperdengarkan suaranya. Malam berganti pagi dan riuhpun semakin memecahkan hening.

 Sungguh pagi yang indah. Udara nan sejuk menghiasi aroma siang yang jarang di dapatkan di kota ini. Lalu lalang aktivitas manusia baru saja akan dimulai namun pagi ini belum sepenuhnya terjadi. Dan pada saat itulah kesejukan udara akan tergantikan oleh ke keruhan udara dan teriknya mentari yang kadang sudah tak wajar.

Tujuan mereka?

Aku di tanya oleh seorang sahabat perihal ini. begitu banyak aktivitas orang di jalan terlbih di muka bumi ini, apa sebenarnya tujuan kehdiupan ini? tanya sahabatku yang tengah bersamaku di atas kendaraan roda dua yang semakin kotor saja.

Aku yakin mereka memiliki tujuan masing-masing. Maka tak heran jika menciptakan banyak perbedaaan. Dan tak jarang perbedaan itu berujung pada konflik. Atau mungkin juga perbedaan mampu di diamkan dan dikelolah dengan baik hingga berbuah indah pada waktunya.

Tapi bukan itu maksud sahabat saya ini. Baginya pada hakekatnya tujuan hidup itu hanyalah dua, yakni tujuan kepada Allah atau kepada selainnya. Dan tujuan kepada Allah adalah tujuan yang sebenar-benarnya tujuan manusia, apapun yang dilakukannya.

Keyakinan sahabatku ini bahwa yang tengah beraktivitas dan lalu lalang di jalan raya sebagian besar, dalam dirinya belum tertanam dengan baik hakekat tujuan itu. Mereka baru hanya sebatas menjalani kehidupannya untuk kebutuhan dunia toh. Jarang yang berniat untuk mengabdian kepada Allah. Padahal, pengabdian kepada Allah lah yang harus menjadi tujuan satu-satunya.

Maka wajar saja, jika dalam banyak kesempatan kita selalu mendengar terjadi ketimpangan. Masyarakat kita mulai dan bahkan telah membudaya kehidupan yang tidak di warnai dengan nilai-nilai moral. Karena nilai-nilai itu bersumber dari Allah, tujuan yang sebenar-benarnya tujuan (hakekat tujuan). Ketika hakekat tujuan ini sudah dikesampingkan maka nilai itu pun akan ikut hilang.

~Makassar, 8 Mei 2013