Jumat, 25 Maret 2011

Aksi lawan neoliberalisme di wakatobi

(aksi melawan neoliberalisme di wakatobi/ foto: koleksi galaksi makassar)

Pernyataan Sikap
Gerakan Penyelamat Demokrasi (GALAKSI)-Makassar

Sesungguhnya, Indonesia memiliki potensi kekayaan alam yang kaya raya, makanya tak aneh bila Indonesia dijuluki sebagai zamrud khatulistiwa. Potensi kekayaan alam
Indonesia antara lain, kekayaan hutan, perkebunan, kelautan, BBM, emas dan barang-barang tambang lainnya. Menurut data, Indonesia memiliki 60 ladang minyak (basins), 38 di antaranya telah dieksplorasi, dengan cadangan sekitar 77 miliar barel minyak dan 332 triliun kaki kubik (TCF) gas. Kapasitas produksinya hingga tahun 2000 baru sekitar 0,48 miliar barrel minyak dan 2,26 triliun TCF. Ini menunjukkan bahwa volume dan kapasitas BBM sebenarnya cukup besar dan sangat mampu mencukupi kebutuhan rakyat di dalam negeri.

Seperti halnya di kabupaten WAKATOBI-SULAWESI TENGGARA, selain memiliki kekayaan sumber daya alam laut, ia pula memiliki gugusan pulau-pulau indah yang sudah barang tentu menjadi incaran investor dalam dan luar negeri untuk menguasainya. Namun sekali lagi aset daerah yang sudah pasti dapat menjamin kualitas PENDIDIKAN, KESEHATAN dan SARANA PUBLIK yang lainnya sama sekali tidak dimanifestasikan sepenuhnya pada rakyat WAKATOBI. Diberbagai daerah bahkan belahan dunia yang lain, nama WAKATOBI bukanlah sesuatu yang asing ditelinga para pemburu keindahan, karena WAKATOBI melalui Bupati HUGUA dan beberapa mesin Jasa Wisata yang Ia miliki, dipasarkan secara total dan tanpa tanggung tanggung. Tak Heran beberapa pulau dari gugusan kepulauan WAKATOBI telah menjadi daerah privat yang sulit diakses oleh nelayan tradisional dan rakyat yang ingin mencari makan.

Pengambilalihan pengelolaan kawasan konservasi laut oleh lembaga-lembaga internasional The Nature Conservation (TNC), World Wild Foundation (WWF) dan Conservation International (CI) dalam skema CTI sebenarnya bertentangan dengan Pasal 33 ayat 1, 2, dan 3 UUD 1945 yang menempatkan peran negara sebagai pengelola utama kekayaan alam dalam bumi dan air telah bertolak belakang dengan keadaan wakatobi saat ini. Sebagai contoh, telah bercokolnya salah satu perusahaan asing PT Wakatobi Dive Resort yang dikelolah oleh Mr. Lorenz Mader salah-satu kapital asal negara Swis. Disatu sisi pemerintah malah bangga dengan aturan ini dan malah memberikan legitimasi. Ditambah lagi justru ada oknum pemerintah yang terlibat dalam privatisasi sumberdaya alam wakatobi.

Dengan momentum pemilukada wakatobi yang merupakann momentum baru untuk menentukan perubahan nasib wakatobi kedepannya. PILBUP (Pemilu Bupati) dan PILWAPUB (Pemilu Wakil Bupati) di Wakatobi bukanlah sekedar momentum pergantian rezim politik. PilBup dan PilWaBup adalah momentum terjadinya perubahan total atas terpenuhinya kesejahteraan rakyat, berdirinya kedaulatan, dan tegaknya kemandirian nasional sebuah daerah.

Terkait dengan hal tersebut di atas maka kami dari GERAKAN PENYELAMAT DEMOKRASI (GALAKSI)-Makassar menyatakan sikap sbb:

1. lawan neoliberalisme
2. Hilangkan intimidasi hak politik
3. ciptakan pemilu cerdas di wakatobi
4. tinjau ulang kontrak karya dengan pihak asing di wakatobi
5. tolak money politik
6. lindungi dan berikan hak akses bagi nelayan tradisional dalam mengelola wilayah tangkapannya
7. ciptakan lapangan kerja
8. transparansi birokrasi pemda di wakatobi
9. selamatkan kearifan lokal di wakatobi
10. tinjau ulang zonasi perairan laut di wakatobi
11. sediakan transportasi laut lintas wakatobi
12. buka akses komunikasi dan informasi
13. mendesak KPUD WAKATOBI untuk bersikap netral
14. hilangkan kolusi dan nepotisme
15. tolak privatisasi pulau di wakatobi
16. hapuskan rasisme di wakatobi
17. permudah akses pendidikan dan kesehatan

Sabtu, 19 Maret 2011

Hati-hati, ada rutinitas

Berawal dari rutinitas yang terus menerus. Sebenarnnya rutinitas memiliki dua sisi. Pertama, sisi posistif dimana kita tidak perlu lagi repot untuk mempersiapkan pekerjaan itu. Selain itu tidak lagi membutuhkan pemikiran yang lebih karna pekerjaan itu sudah sering dilakukan. Kedua, sisi negatif dimana daya kereativitas kita akan terbunuh. Kita terjebak pada
aktivitas yang telah biasa kita lakukan sehingga merasa terlena dan tidak ingin lagi untuk berkreasi. Tak lupa pula, rutinitas ini berpotensi menjadikan kita merasa kebosanan.

Oleh karena itu hati-hatilah dengan rutinitas. Jika anda sudah dan tengah dalam rutinitas pekerjaan maka berhentilah sejenak. Kemudian lihatlah apa yang anda lakukan. Sadarilah bahwa anda punya banyak kreativitas. Dan gunakanlah itu untuk mengkreasikan yang selama ini anda lakukan.

Salam

Rabu, 16 Maret 2011

Menerka-nerka kehidupan

Sore ini, matahari yang semakin menjauh dari ingar-bingarnya siang hari. Seperti matahari, mereka pun berjalan kembali dalam rutinitas. Suara kendaraan bermotor terus-menerus membuat suasana menjadi bising. Inilah tanda bahwa dunia sedang dilanda modernitas. Tapi itulah keadaan yang sulit terhindar. Dunia yang sudah dipenuhi dengan sesakan tekhnologi modern yang tak jarang membuat kehidupan menjadi tak nyaman.

Kehidupan yang terus bergulir mengharuskan pikiran juga terus bergulir. Kadang orang tidak
percaya dengan dialektika hegel dan juga marks. Tapi biarlah mereka melakukannya karna itulah dialektika. Aku juga kadang mempercayainya dan juga tidak. Tapi inilah dialektika yang harus aku yakini.

Kadang semua ragu tentang semua hal. Seperti halnya Rene Deskartes yang meragukan semua hal. Namun keraguan itu tidak selamanya menghingapinya. Hingga ia berkata pada dirinya bahwasanya “saya ragu akan segala hal tapi aku tidak ragu kalau aku sedang ragu”.

Tapi tidak bagi para sophie yang meragukan semua keberadaan. Aku yakin ungkapannya adalah sebuah keyakinan. Namun haruskah mereka tidak menyakini ungkapannya sebagai keberadaan? Pertanyaan ini harus mereka jawab dengan objektif. Yah, meskipun kata seorang teoritikus, tak ada yang objektif di dunia ini yang ada hanyalah subjektivitas.

Meskipun para sophie bersikukuh dengan keyakinannya tapi haruslah mereka sadar tentang keyakinan dan keberadaannya sebagai sebuah kebenaran. Dan aku yakin seperti halnya Al-Ghazali yang pernah ragu, demikian pula rene deskartes, kalau mereka tahu akan hal itu yang selama ini mereka nafikan. Hingga kalimat yang terlantun itu: “Tidak ada yang ada yang ada hanyalah ketiadaan” akan ditinjau kembali. Ibarat Murtadha Muthahari (seorang ulama revolusioner Iran) dalam sebuah analogi dia berkata: “Mereka berada di atas sebuah ranting pohon yang kemudian mereka sendiri menggergajinya dan jatulah mereka”. Dengan ini haruskah mereka tetap ragu???

Aku sadar kalau sekarang aku terlalu berwacana tentang keraguan terhadap sebuah epistemology. Meskipun aku berbicara tentang keraguan tapi kadang juga terjebak dalam keraguan itu. Ah, lupakanlah semua keraguan itu. Aku yakin silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir.

Aku terus berkhayal hingga matahari kian meredup dan ingin hilang dalam pandanganku. Kadang aku bertanya, kenapa dia harus meninggalkan siang dan mengejar malam. Begitu pun sebaliknya. Siapakah yang menyuruhnya? Dan apa motivasinya? Mungkinkah dia hanya menjalankan misi khusus di siang hari? Trus, kenapa dia tidak menampakan dirinya pada malam hari?

Mungkin juga dia takut akan keberadaan bintang malam dan bulan. Takut keduanya mencapnya sebagai makhluk sombong karna silaunya meyinari bumi. Atau mungkin juga mereka ingin merasakan bagaimana rasanya memberikan penerangan pada kehidupan di bumi.

Aku bosan dalam dialektika ini. Biarlah mereka melakukan itu, siang tampak dan selalu berganti dengan malam. Dan lagi-lagi aku harus kembali berkata pada diri sendiri dan kepada semua bahwa:

“Sesungguhnya silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir”

Minggu, 13 Maret 2011

Mendefinisikan cinta dalam cinta

Mungkin jasad ini tak bisa bersamamu
Biarlah ku biarkan jiwa ini brada dalam liarnya alam imajinasi
Bersama jiwamu yg tak dimakan oleh dimensi ruang
Yang tak terbatasi oleh mereka yang tak menginginkan kita

Ini bukan laila majnun yang dibatasi oleh egoisme orang tua
Ini juga bukan kokohnya sebuah tajmahal karna cinta sang raja
Bukan pula romeo and Juliet
Tapi ini adalah karna cinta

Cinta yang tak pernah ditelan oleh segala dimensi
Cinta yang tak takut karna panasnya api neraka
Bukan pula karna nikmatnya surga
Tapi ini adalah cinta yang mendefinisian dirinya sebagai cinta
Cinta pada Sang maha Pemberi Cinta yang tak butuh balas budi
Karna cinta adalah cinta. Titik.

Kamis, 10 Maret 2011

Saatnya musik menggugat

Musik adalah wujud dari sebuah kebudayaan yang menghususkan dirinya pada seni. Perkembangan industri musik di Indonesia saat ini sangat pesat. Terutama grup music pop yang biasanya personilnya didominasi oleh kaum muda. Juga lirik-lirik dalam lagunya lebih banyak membicarakan masalah yang beraroma cinta.

Inilah ekspresi dari kejiwaan manusia. Musik adalah sebuah bagian yang tak terpisahkan dari hidup manusia. Karena dalam musik mendapatkan posisi penting dalam
kebutuhan manusia. Dia tidak dapat
disamakan dengan makanan atau minuman yang memberikan kebutuhan fisik. Karna musik dapat memberikan energi spiritual manusia. Dengan kata lain musik dapat mengisi enegi psikis manusia sehingga dapat menggetarkan jiwa.

Suatu watu kita mengalami kejenuhan dari rutinitas. Kita tidak memiliki semangat untuk melanjutkan rutinitas itu. Pikiranpun mengalami kebuntuan. Keadaan ini membuat kita untuk mencari suasana baru yang dapat mengeluarkan kita dari kejenuhan itu. Disinilah musik dapat memainkan perannya (meskipun ada cara lain yang perlu dilakukan). Ini salah satu contohnya dan masih banyak lagi contoh dari kekuatan musik tapi secara garis besarnya musik dapat menggerakan jiwa manusia.

Perkembangan industri musik sekarang masih didominasi oleh aliran musik pop. Menurut penulis, perkembangan ini tidak lepas dari kebutuhan pasar. Tapi inilah bagian dari kebebasan berekspresi manusia. Kita juga harus memaklumi dan menghargainya karna bagaimanapun juga musisi juga butuh dana dari komersial musiknya.

Wajar kalau musik terjebak dalam prioritas komersial. Toh, dunia sekarang telah terhegemoni oleh kapitalisme. Sebuah jebakan untuk mengajak segala aktifitas manusia harus tunduk pada kekuatan uang. Musik adalah sebuah komoditas yang sangat strategis untuk mengakumulasi uang. Karna musik merupakan kebutuhan siapapun dari muda sampai tua.

Terlepas dari tujuan komersial maka kita harus melihat musik dalam kacama yang berbeda. Ingat, seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa musik adalah sebuah alat atau media yang sangat strategis untuk mengakumulasi uang. Alasan inilah inilah kita harus menggunakannya juga tidak hanya untuk tujuan komersial tapi juga sebagai alat untuk keluat dari hegemoni kapitalisme. Dalam kondisi ideal, musik harus digunakn dalam membantu menciptakan kehidupan yang sejaterah bagi semua manusia. Oleh karna itu harusnya musik jangan hanya terjebak pada tujuan komersial. Apalagi konten dalam lagu yang dilantunkan hanya membuat manusia terjebak dalam romantisme cinta, kesedihan ataupun bentuk-bentuk kepasifan lainnya.

Realitas abad kapitalisme tidak harus membuat kita terlena dalam permainannya. Termasuk musik yang juga harus terbebas. Sekali lagi bukannya tidak menghargai kebebasan berekspresi sang musisi. Namun tujuan kemanusiaan harus menjadi prioritas utama. Salah satu caranya adalah konten atau lirik dari musik ciptakan. Dengan itu pendengar akan mendapat pesan dari lagu yang didengarnnya. Karna pesan itu adalah refleksi dari segala ketimpangan alam sekitarnya.

Musik dapat dijadikan sebagai alat kritik. Dia bagaikan media massa yang dapat melaksanakan fungsi checks and balances bagi ketimpangan sosial yang ada. Musik seperti ini adalah sebagai musik profetik (kemanusiaan). Jika para musisi takut akan ketidak mampuannya bersaing di pasar maka itu hanyalah ketakutan yang tidak tidak perlu. Karna sudah banyak musisi yang berkarakter profetik seperti ini. Dan justru mereka memiliki penggemar setia karena karakter yang dimilikinya.

Sebagai contohnya lihat Iwan Fals. Beliau pernah dikriminalkan karna lagu yang dilantunkannya. Di zaman orde baru yang penuh dengan penindasan yang terselubung beliau mampu mengungkap hal itu. Meskipun dia harus menanggung akibatnya tapi justru itu beliau memiliki banyak penggemar setia. Dan pasar pun sangat mengakomodasi lagunya.

Oleh karna itu bertepatan dengan hari ini sebagai hari musik maka perlu melakukan rekonstruksi paradigma musik kita. Agar musik menjadi sebuah kebudayaan yang menggugat. Ingatkah kita, saat Bung Karno melarang pemutaran lagu-lagu romantisme. Beliau sengaja melakukan hal itu bukannya untuk membatasi kebebasan manusia. Tapi dia melihat kondisi masyarakat Indonesia saat itu yang masi berada pada transisi revolusi kemerdekaan. Mereka di wajibkan mendengarkan lagu-lagu perjuangan agar semangat revolusi itu tetap terjaga.
Salam pembebasan.

Makassar, 9 maret 2011

Perempuan bangkitlah…!!!

Kelihatannya dia memiliki banyak masalah. Setiap hari dia selalu berada ditempat itu. Tempat dimana mahasiswa selalu melewatinya. Tempat yang dimana para mahasiswa berkunjung untuk mencari referensi pengetahuan.

Hari-harinya dia membersihkan jalan yang dilewati para mahasiswa agar mereka dapat melaluinya dengan perasaan nyaman. Bisa dikatakan dia bekerja demi kenyaman mahasiswa yang lalu lalang di sekitar tempat itu. Tempat itu bernama perpustakaan.

Wajahnya sedikit kotor.
Dan sedikit mengespresikan kekalahan. Kelihatannya dia adalah seorang ibu rumah tangga dan saya yakin akan hal itu. Tidak hanya dia seorang, ada juga beberapa temannya dengan seragam yang sama bekerja seperti yang ibu itu lakukan. Mereka hanyalah sebagai pegawai kecil yang sangat berbeda dengan mereka yang duduk di gedung berlantai itu.

Entah apa yang dipikirkannya. Melihat sepatu-sepatu yang dikenakan oleh mereka yang berjalan melewatinya.

“Mungkin dia lapar” tuturku dalam hati.

Seketika usai merenung. Tiba-tiba tanganya dengan memegang alat pembersih debu itu langsung di arahkan pada bekas jejak kaki yang melintas tadi. Memang itulah yang harus dia lakukan demi melawan kematian. Karna tanpa mereka melakoni pekerjaan itu maka mereka akan mati karna tak makan. Padahal kekayaan alam di negeri ini sungguh banyak. Sungguh ironis.

Yang mengherankan lagi kebanyakan yang bekerja sebagai cleaning service itu adalah perempuan.

“kalau inilah pekerjaan yang cocok bagi mereka” seorang teman berkata.
“Ooo…tidak bisa, pekerjaan ini juga cocok juga buat laki-laki” aku membalas ucapan teman.

Bukan persoalan siapa yang pantas bekerja. Tapi apakah layak atau tidak pekerjaan itu dilakukan oleh mereka. Keberadaan mereka di tempat itu dikarenakan ketidakadaan lapangan kerja yang layak. Pemerintah yang seharusnya menjadi elemen terdepan dalam memberikan pekerjaan yang layak justru berpaling. Mereka lebih melindungi pemilik-pemilik modal yang banyak uangnya.

Ini memang zaman edan. Manusia telah terkotak-kotak. Tidak lagi dilihat sebagai manusia yang utuh melainkan sebagai manusia yang memiliki banyak modal. Dia akan dihargai dan terhormat jika memiliki materi yang banyak. Sebaliknya mereka yang berpakaian compang-camping, hidup di pemukiman yang kumuh akan terlupakan.

Seorang wanita tadi harusnya berada di rumah sedang mengurusi anaknya. Harusnya kekayaan alam yang melimpah di negeri ini telah dinikmatinya tanpa harus menjadi penjaga jejak kaki yang di bawa oleh mahasiswa yang lalu lalang itu. Namun yang terjadi itu bukanlah baru satu kali. Melainkan dari sejarah telah bercerita tentang penderitaan mereka. Mereka kadang harus menjadi lahan eksploitasi kaum laki-laki. Tak jarang mereka dipaksakan untuk pelampiasan nafsu kaum lelaki ataupun menjadi komoditas komersial yang diperjual belikan.

Sungguh begitu kerasnya kehidupan mereka. Selain mengurus anak, urusan dapur juga membantu suami dalam mencari nafka.Selain kekerasan dalam pekerjaan juga mereka sering mendapat kekerasan fisik dalam rumah tangga oleh suami. Tak sedikit dari mereka menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri. Mereka bekerja sebagai pahlawan devisa negara tapi ironisnya negara tidak menjaga melindungi mereka dengan maksimal. Dalam bayangan mereka pekerjaan di luar negeri akan lebih baik dibanding negerinya. Tapi dalam realitasnya banyak dari mereka yang mengisahkan tentang penderitaan yang sangat menggugah hati. Bahkan ada yang meninggal dunia di luar negeri karena kejamnya majikan.

Konstruksi budaya juga dapat membunuh kebebasan mereka. Patriarki yang sangat ekstrim mengharuskan mereka tunduk pada segala kekuatan laki-laki. Kreativitas mereka terbunuh oleh dominasi laki-laki dan regulasi yang diciptakan oleh negara. Kadang mereka terstigmakan sebagai kaum lemah yang harus tunduk pada otoritas laki-laki.

Belum lagi pekerjaan yang disediakan negara justru lebih menindas mereka. Lihat saja buruh-buruh di pabrik yang sampai hari ini masi berdemonstrasi menuntut hak-hak sosial mereka. Kebanyakan dari buruh-buruh itu adalah kaum perempuan.

Inilah sedikit permasalah bagi kaum perempuan. Yang sampai hari ini belum pernah tuntas. Mereka tidak mengiginkan itu tapi karna ada kekuatan yang lebih besar yang memaksakan mereka. Itulah sebagian dari kebudayaan dan sistem regulasi pemerintah.

Fenomena ini mengindikasikan tentang perempuan hari ini belum bangkit dari keterpurukannya. Mereka adalah komunitas terbanyak di dunia dibanding kaum laki-laki. Jika kualitas ini sebanding dengan kuantitas dan tak lupa pula sistem sosial yang mendukung kemajuan mereka mendukung mungkin narasi akan berkata lain.

Bukankah generasi bangsa ini lahir di rahim permpuan. Melalui lembaga keluarga, genarasi bangsa di kader untuk kemudian terjun di masyarakat yang lebih luas. Hasil kader ini tergantung bagaimana proses pengkaderan dilakukan dalam keluarga. Maka disinilah peran sumberdaya perempuan yang menyangkut semua bentuk kecerdasan. Karna partisipasi perempuan memberikan kecerdasan kepada anak-anaknya akan sangat memberikan kostribusi pada kehidupan bermasyarakat nanti.

Oleh karena itu, Wahai perempuan bangkitlah…!!!
Makassar, 9 maret 2011


Rabu, 09 Maret 2011

Akulturasi budaya (Tinjauan kritis kebudayaan wakatobi)

Tapi secara garis besarnya dapat didefinisikan sebagai semua hasil cipta manusia (karya, rasa dan karsa) yang diantaranya adalah sebagai tradisi, kebiasaan, karya, seni dan sejenisnya. tak terkecuali juga wakatobi memiliki tarian daerah, makanan khas,bahasa daerah, nyanyian, upcara adat. Tarian daerah yang ada di wakatobi diantaranya seperti balumpa, fakenta dan eja-eja. Tarian daerah ini biasanya di iringi dengan musik dan nyainyian-nyanyian daerah. Makanan khas juga seperti kasoami dan kukure. Selain itu wakatobi juga memiliki bahasa daerah dan upacara adaat layaknya daerah lain di Indonesia misalnya upacara adat perkawinan.

Dalam perkembangannya dimana kehidupan memasuki era perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi, kebudayaan-kebudayaan ini pun mulai terkikis. Dan akan mengalami kepunahan jika kita masyarakat wakatobi tidak memiliki usaha-usaha untuk menyelamatkan dan melestarikannya. Namun sebelum ada usaha penyelamatan itu terlebih dahulu kita harus melihat sebab yang menimbulkannya.

Berbagi sudut pandang yang melahirkan pendapat pun muncul mengenai sebab ini. Ada yang melihat karna ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Teknologi yang digunakan oleh masyarakat akan menggambarkan pola kehidupnnya, misalnya ‘tumbua’. Teknologi ini biasanya digunakan oleh masyarakat untuk menghancurkan makanan yang akan dimasak contohnya jagung. Dalam proses pengerjaannya, jagung di tumbuk dalam alat yang disebut tumbua ini secara bersama-sama (2- 3 orang). Proses ini menggambarkan adanya kerja sama antara masyarakat dalam sebuah teknologi yang bernama ‘tumbua’ sehingga rasa kebersamaan itu akan tercipta. Namun hal ini kemudia tergeser ketika manusia menemukan teknologi penghancur makanan seperti ‘blender’. Karateristik blender bisa dioperasikan oleh satu orang dan dalam rumah sehingga akan menciptakan karakter individualistis. Dan hal ini akan menjadi kebiasaan baru yang nantinya akan menggantikan pola kehidupan yang bergotong-royong (poasa-asa pohamba-hamba) seperti yang melekat pada alat ‘tumbua’.

Selain itu, ekonomi juga menjadi sebab yang cukup memberikan andil. Misalnya jika tetangga pergi menangkap ikan di laut, biasanya hasil tangkapannya tidak dimakan sendiri. Tetangga yang lain pun selalu mendapatkan hasil tangkapan itu. Namun hal ini mulai hilang ketika masyarakat mulai kekurangan dana untuk membiayai kehidupannya. Sehingga hasil tangkapan tadi tidak lagi dibagikan kepada tetangga sekitarnya. Dan malah dijual demi melengkapi kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya.

Mahasiswa (perantau) juga turut memberikan konstribusi terhadap perubahan budaya ini. Perantau yang pulang ke kampung halamannya akan membawa budaya lain yang ada didaerah perantauannya. Apalagi jika tempat perantauan tersebut berada didaerah perkotaan yang rentan dengan budaya-budaya asing (barat). Ketika berada di kampung mereka tanpa sadar memakai pola kehidupan dari tempat rantauannya sehingga mencemari budaya kampung halamannya dan secara perlahan-lahan akan akan mendominasi dan nantinya akan musnah.

Budaya lokal dan perubahannya bukanlah menjadi hal yang penting jika kita hanya melaksanakan tanpa ada penggalian secara mendalam terhadap budaya itu. Artinya yang terpenting dari budaya adalah bagaimana kita memaknainya dan mengambil hikmah dibaliknya. Dengan itu kita dapat menjadikannya sebagai prakter cara hidup.

tulisan ini adalah hasil Diskusi HIPPMAT Poassa*
BTN Hamzi, 19 Januari 2011

*lingkar diskusi pemuda wakatobi di makassar

Indahnya persahabatan

Bayangkan jika semua interaksi manusia mengikuti mekanisme jual beli. Barang yang kita terima harus ditukar dengan uang. Begitu juga dengan jasa harus tunduk pada uang. Bagaimana kalau yang tidak memiliki uang. Dengan kata lain dia sulit berinteraksi dengan yang lain dalam hal pertukaran barang dan jasa. Inilah konsekuensi yang lahir dari abad kapitalisme karna semua bagaikan komoditas yang tunduk pada kekuatan uang.

Memang benar uang adalah alat tukar barang ataupun jasa. Kita dapat memperoleh
barang dan jasa orang lain ketika kita menukarnya dengan uang. Tapi semua akan berakhir usai pertukaran itu dilakukan. Kita tak lagi mempedulikan siapa yang memberikan kita jasa dan barang itu. Kita hanya mengingat uang yang kita berikan dan barang (jasa) yang kita terima. Ini menandakan kalau interaksi itu akan menimbulkan bekas yang semu dan tidak bertahan lama.

Ikatan uang bukanlah satu-satunya cara yang digunakan. Ada ikatan yang lebih kuat dibanding kekuatan uang. Ikatan ini tidak tidak dapat dikuantitatifkan dengan angka-angka. Karna dia bersifat abstrak yang tak dapat dinominalkan. Ikatan itu bernama persahabatan. Uang tidaklah menjadi syarat terjadinya pertukaran barang dan jasa. Prinsip utama dari persahabatan adalah asalkan kebahagiaan sahabatnya.

Ikatan yang terjalin dalam persahabat bertahan tidak seperti ikatan uang. Sehingga mereka yang terlibat dalam persahabatan akan terikat untuk saling membalas jasa atas apa yang dilakukan oleh sahabatnya. Dan biasanya akan berlanjut terus menerus.

Seorang teman mengirim saya pesan singkat seperti ini:

“Walau akau punya emas tapi sahabat paling terindah, walau akau punya pacar tapi sahabat paling setia, walau akau punya harta tetapi sahabat paling berharga, walau akau punya berlian tapi sahabat paling berkilau dan terimakasih atas segalanya”

Sungguh luar biasa. Kalimat ini sungguh memberikan kita makna yang tentang indahnya sebuah persahabatan. Sahabat yang posisinya tidak bisa diganti dengan emas, pacar, harta ataupun berlian.

Suatu saat anda membantu orang lain dengan meminta balas jasa dengan harta. Orang lain akan memberikan anda harta itu. Namun saya yakin dalam hati orang tersebut akan terbesit rasa dongkol atas sikap yang anda lakukan. Dan dia akan langsung melupakan pertolongan yang anda berikan dan melupakan anda. Kalaupun anda dikenang maka hanya kenangan yang buruk. Tapi coba seandainya yang anda lakukan sebaliknya, maka saya yakin keadaan akan membalik. Orang yang anda tolong akan mengingat jasa anda dan yakin saja pada suatu kesempatan dia akan datang membalas jasa. Selain itu apa yang anda lakukan akan tetap dikenang dan tak akan anda lupakan. Sebaliknya juga anda.

Seorang filsuf yunani, Aristoteles membagi kebahagian menjadi tiga tingkatan yaitu:

Pertama, kesenangan dimana kebahagiaan ini tingkatannya sangat rendah. Dia menyangkut kesenangan seksual, keserakahan atau singkatnya pada kebutuhan badaniyah (materi).

Kedua, kemuliaan. Kemuliaan telah berbicara nilai. Misalnya tentang kepahlawanan, pengabdian, pengorbanan dan lainya.

Dan ketiga yang merupakan tingkatan ketiga sekaligus titik puncak dari kebahagian menurut Aristoteles adalah kebajikan. Kebajikan ini merupakan implementasi dari nilai-nilai itu. Manusia akan memikirkan sesamanya sehingga akan tercipta rasa kemanusiaan.

Pada tingkatan ketiga inilah persahabatan berada. Disinilah implemntasi dari nilai-nilai itu terjewantahkan. Persahabatan memiliki spirit mereduksi konflik karna manusia akan saling menghargai demi kemaslahatan bersama.

Jumat, 04 Maret 2011

Bersyukurlah ketika dapat cobaan?

Mungkin aneh judul tulisan ini. Yah, memang aneh. Setiap saat orang selalu berpikir bagaimana dapat menjalani hidup dengan tenang tanpa ada cobaan. Cobaan selalu menjadi masalah yang menghambat orang untuk meraih yang diinginkan. Tak jarang orang yang sering mengeluh dan akhirnya putus asa. Malah yang lebih ekstrim lagi dengan menghilangkan masalah dengan mengakhiri hidupnya.

Tapi masalah adalah suatu keniscayaan dalam hidup manusia. Manusia tidak dapat
menghindarinya. Oleh karna itu manusia tidak selayaknya terlalu mengeluh? Keberadaan masalah memberikan pengertian pada kita bahwa manusia memiliki kelemahan. Ketika memiliki kelemahan maka tentunya dia membutuhkan sesuatu untuk membenahi kelemahan tersebut. Oleh karna itu maka lahirlah interaksi yang saling membutuhkan (simbiosis mutual).

Saya memiliki ini dan saya juga tidak memiliki itu. Sedangkan orang lain memiliki itu dan tidak memiliki ini. Kekuarangan dan kelebihan masing-masing maka akan melahirkan interaksi yang saling membutuhkan. Maka disitulah tercipta kehidupan sosial.

Dari kelemahan itulah manusia sesungguhnya membutuhkan sebuah kesempurnaan. Ketika manusia mendapat cobaan menandakan alarm ketidak mampuannya sedang berbunyi. Bagi manusia yang tidak ingin dalam keadaan itu maka dia akan selalu mengevaluasi setiap perjalanan kehidupannya. Dia akan selalu mempelajari setiap masalah yang dihadapinya kemudian dijadikan modal menjalani hidup berikutnya. Sehingga terhindar untuk jatuh pada lubang yang sama. Semakin dia belajar dari masalah maka semakin matang cara berpikirnya dan nantinya akan teraktualisasi dalam kebijaksanaannya dalam menjalani hidup.

Sangat hambar hidup tanpa masalah. Bayangkan jika kehidupan di bumi ini hanya siang tanpa malam dan mataharinya selalu terik dan tidak perna tertutup oleh awan gelap. Tentunya keadaan ini akan membuat manusia jenuh dan bosan. Begitu pula pada manusia jika dia tidak pernah mendapat cobaan dalam hidup. Manusia tidak akan membutuhkan yang lain. Tidak lagi membutuhkan manusia lain dalam masyarakat. Padahal betapa bahagianya ketika persaudaraan itu tercipta. Begitu juga dengan kehidupannya. Kehidupan manusia tidak akan monoton tidak ada dinamika. Karna masalahlah yang menciptakan dinamika sehingga manusia dapat belajar.


Kamis, 03 Maret 2011

Menyapa Pemakna

Dalam beberapa hari ini, waktu untuk menulis agak terhambat bahkan tidak ada. Tapi untuk pembaca sekalian dan mungkin penggemar dan bisa jadi memang penggemar blog ini dan ini (hehehe…) akan mendapat berita yang menggembirakan. Jika selama ini anda kurang ter up to date tulisan di blok ini maka jangan khawatir lagi karna aku akan datang untuk kalian.

Melalui tulisan dalam blog ini kita akan saling berjumpa. Meskipun dalam dunia materi (nyata) kita
tidak saling bertemu namun rangkaiang huruf akan mempertemukan kita. Huruf demi huruf terangkai menjadi kata dan kata terangkai menjadi kalimat. Dan tak lupa pula kalimat akan saling menyatu dalam membentuk paragraf. Dan dari itu semua kita saling memberikan makna.

Tak ilmiah atau mungkin rangkaian dan makna kalimatnya buruk. Silahkan pembaca menilainya, itu hak anda. Penulis bukanlah pemegang otoritas tertinggi dalam penetapan interprestasi. Penulis hanyalah pembawa berita sebagai wujud pengejewantahan ide dalam setiap diaklektika. Penulis juga sebagaimana dikatakan oleh widji thukul “aku bukanlah artis pembuat kabar tapi aku adalah kabar buruk bagi penguasa”. Kabar buruk yang dimaksudkan adalah kabar tentang kebuntunan dan kekosongan pemikiran. Melalui blog ini kekosongan itu akan terisi oleh ide yang akan selalu diperbaharui.

Mungkin juga benar. Kematian tengah berlangsung. Dan kematian itu terjadi pada semua penulis. Penulis bukanlah penentu makna dalam setiap bacaan. Kita semua memiliki hak untuk itu. Oleh karna itu silahkan kita saling memaknai selama kebebasan itu masih ada.

Bacalah!!!. Demikian perintah Tuhan. Tanpa membaca kita tak dapat memaknai hidup. Lebih-lebih akan menjalani hidup yang terus menantang. Maka hasil pemaknaan bacaanlah yang akan menjadi jawabannya.

Bebaskan pikiranmu. Tuhan akan bangga ketika melihat akalmu digunakan semaksimal mungkin. Dan terserah anda, silahkan perlakukan tulisan ini sesukamu.

salam pencerahan.