Kamis, 31 Januari 2013

Rehat sejenak

Januari kini di ambang batas. Waktu terus berjalan, tak mengenal lelah. Dia adil memberikan kesempatan pada siapa saja, tak terkecuali dia seorang kayak-miskin, pejabat-rakyat kecil, pria-wanita ataupun yang lainnya. Mungkin kita harus belajar pada waktu tentang keadilan. Bukankah Tuhan mengatakan bacalah! Bacalah segala hal yang dapat di baca, baik tulisan maupun hal yang tersirat. Lagi pula tulisan berasal dari hal yang dulunya tidak tertulis (tersirat).

Tepat 31 januari 2013, saya menulis artikel ini. Sengaja saya tulis pada hari dan tanggal sekian karna momentum ini merupakan ambang batas antara januari menuju februari. Waktu dimana saya harus kembali mengavaluasi segala aktivitas sepanjang bulan januari. Sejauh manakah yang saya lakukan sekarang, apakah bermanfaat yang terpenting lagi apakah sudah sesuai target di awal rencana? Mungkin inilah pertanyaan-pertanyaan yang akan menjadi bahan renungan di momentum kali, momentum gerbang menuju waktu berikutnya, bulan februari.

Bukanlah sebuah kemajuan jika apa yang kita lakukan sekarang masih sama dengan yang kita lakukan kemarin. Terlebih bukanlah suatu kemajuan jika  apa yang kita lakukan lebih buruk dari sebelumnya. Ketika anda kalah dalam berperang ataupun gagal dalam melakukan seseatu, bisa jadi anda tidak maksimal menggunakan waktu dengan cara yang baik. Dalam kompetisi, jika kemudian kalah dari orang lain, maka sesungguhnya apa yang kita lakukan masih kalah hebat dibanding apa yang di lakukan oleh lawan kita, bahkan masih sama.

Di awal tahun saya memiliki resolusi untuk tahun ini, tentang apa yang harus dilakukan dan capai. Namun untuk mencapai waktu satu tahun itu, saya membaginya dalam rencana-rencana jangka pendek untuk menunjang rencana jangka panjang itu, misalnya persatu bulan. Juga kadang ada rencana yang baru terpikirkan, tentunya harus punya strategi dan batasan waktu untuk mencapainya. Selain resolusi-resolusi itu, yang terpenting juga adalah bagaimana lebih medewasan diri lagi. Tentang bagaiamana cara kita mengatasi persoalan dalam menjalan hidup, bijaksanakah kita? dan terakhir adalah apakah niat kita hanya kepada pencipta alam semesta ini ataukah kepada selainnya? 

Maka kembali melalui tulisan ini, saya mencoba merefleksi diri.

~Makassar, masih di mabesku saat hujan turun, 31 Januari 2013

Tentang rindu

aku tak tahu setiap momentum ini
sosok itu muncul dalam imajinasiku
tanpa di sadari dan di rencakan
kau hadir
ah, ini bukan kebetulan
ini adalah desain yang mampu medesain
tentang pertemuan
juga perpisahan

meskipun aku tak mampu untuk itu
sebisaku, hanya menabur rindu dalam setiap doa
setiap tangan menegadah kelangit
setiap kepala bersujud
setiap hati bersimpuh

maka hadapkanlah wajah dan hati
hadapkanlah rasa yang tepat
pada dia yang tepat
terlebih pada_Mu sang pemberi rasa
Pada_Mu sang pemberi cinta
engkau sumber segala ke indahan

Mungkin saat ini,
saat di mana ikhtiar sudah terlaksana
doa sudah telafalz
dan kepasrahan sudah tunduk pada_Mu
yakinku, smua akan indah pada waktunya.

~tentang rindu di mabesku 31 Januari 2013

Selasa, 29 Januari 2013

Rumah kesehatan; wisata spritual

Sengaja saya menggantinya dengan istilah rumah kesehatan. Rumah kesehatan dalam tulisan ini identik dengan rumah sakit yang banyak dipahami oleh banyak orang. Rumah sakit selalu di asosiasikan sebagai tempat orang sakit. Memang hal ini benar, namun bukankah alangkah baiknya ketika kita menyebut sebuah istilah langsung terasosiasi dengan hal yang positif? Maka dari itu penulis menggunakan istilah “rumah kesehatan” agar kedengarannya lebih positif dibanding "rumah sakit". Lagi pula istilah ini, selain berstigma positif tidak secara kasar menyebut tempat orang sakit, juga memberikan sugesti postif kepada orang yang sakit bahwa dia telah masuk ke rumah kesehatan dan sebentar lagi akan segera sehat.

Mengunjungi rumah kesehatan bagiku merupakan wisata rohani. Tempat ini merupakan tempat dimana orang sakit yang ingin mencari kesembuhan dari sakitnya. Ketika manusia tidak mampu lagi menahan atau kalah dengan rasa sakit itu maka pada puncaknya adalah kematian. Seperti yang dikatakan oleh Syaidina Ali bin Abi Thalib, hidup adalah perjuangan melawan kematian. Jika kematian tidak mampu lagi dilawan maka kita telah dikuasai oleh kematian atau berada dalam kondisi yang mati.

Inilah yang menjadi bahan renungan ketika berada di rumah sakit. Kita melihat  berbagai macam kondisi manusia yang berada di dalamnya. Cukup memprihatinkan dan kadang menyedihkan jika kita membandingkan dengan kondisi kita yang masih sehat. Bayangkan saja, jika anda yang tengah berada di dalamnya, duduk dan terbaring dengan kondisi yang sakit bahkan tak berdaya. Jangankan untuk jalan, berdiri saja anda harus di gotong. Sungguh memprihatinkan.

Memaknai sakit

Sakit merupakan kondisi alamiah manusia. Inilah bukti bahwa manusia tidaklah sempurnah dan dia membutuhkan sesuatu untuk bisa bertahan hidup. Di kala sehat mungkin kita bisa beraktivitas mengurusi diri sendiri meski tanpa bantuan orang lain. Tak jarang juga kita melupakan orang lain terlebih di kala senang. Bahkan kita juga terlampau sombong dan angkuh atas prestasi yang telah kita raih bahkan Tuhan pun menjadi hal yang terlupakan. Padahal kita tak menyadari keberhasialan kita beraktivitas sampai memperoleh hasil, ada andil orang lain, lingkungan apalagi Tuhan penguasa alam raya, Maha penentu segala sesuatu.

Mungkin inilah bahasa yang tersembunyi ketika kita harus sakit. Selalu ada makna yang tersimpan dan akan tersingkap jika kita mampu membacanya. Sakit juga bisa menumbuhkan rasa silaturahmi bahkan menguji kesetiaan orang-orang yang selama ini bersama kita. Tentang apakah mereka akan selalu berada untuk kita di kala suka ataupun duka? Atau apakah masih ada yang peduli kepada kita di kala sakit? Juga kepada orang-orang yang membesuk, memberikan peringatan bahwa petapa pentingnya nikmat kesehatan, betapa hidup sangat singkat dan kematian adalah keniscayaan. Dengan itu, kita bisa berkontemplasi (merenung), sudahkah kita melakukan evaluasi diri atau sudah sampai dimana ibadah yang kita lakukan atau apakah kita sudah siap menghadapi kematian itu?

Dikala senang kita lupa dengan segalanya termasuk Tuhan. Maka sakit sesungguhnya adalah bagian cara Tuhan untuk membuat kita mengoreksi diri agar tidak melupakannya. Kadang kesehatan akan terasa berharga dan mensyukurinya tatkala kita dalam kondisi sakit. Kita membayangkan, bagaimana kita begitu lincah dalam melakukan sesuatu dan ketika kita sakit kita sangat lemah dan tak mampu lagi melakukannya. Di saat sehat juga kita kadang melupakan Tuhan, setelah sakit kita segera mengingatnya. Ibadah mulai kita lakukan yang sebelumnya tidak dilakukan dan yang jarang kini di tingkatkan. Mungkin ada benarnya,  menurut salah satu studi sosial-keagamaan, manusia menciptakan atau segera mendekati Tuhan ketika mereka tidak mampu menjawab fenomena alam yang misteri dan ketidak mampuan lembaga-lembaga duniawi (sekuler) menjawab persoalan manusia.

Tinjauan Islam

Selain seperti yang dijelaskan seperti di atas juga sakit adalah bentuk cobaan Tuhan terhadap manusia. Bentuk peringatan dan memliki hikmah positif tersendiri. Selain kita di ingatkan tentang kematian dan dosa-dosa yang kadang sebagai sebab munculnya sakit itu, juga sebagai penggugur dosa yang pernah kita lakukan. Tuhan sengaja memperingatkan kita bahwa siksa neraka sungguh sangat jauh lebih dasyat dari siksa dunia yang kita rasakan ketika sakit, maka diberikanlah rasa sakit itu pada manusia agar manusia segera tersadar.

Rasullah Muhammad SAW bersabda:

“Tiada seorang mu’min yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari). 
"Barangsisapa dikehendaki oleh Allah kebaikan baginya, maka dia (diuji) dengan suatu musibah." (HR. Bukhari). 

~Makassar, masih di mabesaku usai pulang dari mengunjungi orang sakit di rumah kesehatan, 29 Januari 2013.

Senin, 28 Januari 2013

Aku, awan hitam dan gadis ‘cantik’

Hujan kali ini terasa berat hati untuk turun. Padahal indikasinya sudah cukup jelas, awan hitam sudah mulai berkumpul dan senyuman mentari sudah mulai terhalangi. Meskipun aku bukanlah orang yang tepat untuk meramalkan bahwa akan jadi turun atau tidak, namun setidaknya awan hitam ini telah mengambrukan bangunan rencana semenjak malam tadi. Menyusun secara perlahan batu-batu bangunan rencana harian yang sebenarnya harus sudah terlaksana beberapa hari yang lalu. Tapi inilah aku, yang selalu lalai. Dan alam pun juga tak mampu aku hadapi, dia kuat dan menaklukanku.

Mungkin awan hitam ini berbicara padaku tentang kondisinya yang kurang baik. Kurang baik jika  mengagendakan apalagi melaksanakan sesuatu dengan tidak sepenuh hati. Dia bagaikan cermin, dimana aku melihat semangatku ada pada dirinya saat ini. Ketika dia ragu untuk mengeluarkan segala potensi yang dimilikinya maka hasilnya pun tidak seberapa. Bumi tetap basah namun tidak sedasyat jika dia harus kuat untuk bekerja menurunkan potensinya, hujan. Ini tidak jauh beda dengan aku yang sekarang. Aku yang merencanakan sesuatu dari jauh-jauh hari namun sampai sekarang belum terealisasi.

Beberapa malam yang lalu, aku bertemu seorang gadis. Terus terang dia cukup cantik, aku kagum padanya. Bukan karna kecantikan lahiriyahnya, namun kombinasi dengan kecantikan batiniyahnya yang mampu menggetarkan hati yang tengah merindukan sosok seperti ini. Sosok ciptaan Tuhan yang di dalam dirinya aku melihat Tuhan. Tidaklah salah, karena bagiku manusia adalah degradasi wujud yang sangat hina (rendah) namun hal itu bisa suci dan derajatnya tinggi jika dalam potensi jiwanya dibangkitkan untuk bergerak mendekati sang Maha suci. Aku melihat manifestasi Tuhan dalam jiwanya, sifat jamal Tuhanku yakni sifat pengasih, penyayang, lemah lembut dan segala sifat yang oleh saya sangat mengaguminya mungkin juga semua kaum adam. Meskipun sifat-sifat itu tidak setara dengan Tuhanku yang Maha sempurnah.

Mengutip ucapan seorang ulama, Emha Ainun Nadjib atau biasa di kenal juga dengan nama Cak Nun. Kurang lebihnya beliau pernah bertutur, parameter (derajat) manusia adalah bukan siapa dia namun seberapa pengabdiannya kepada sang Khalik, kemudian berimplikasi pada pengabdian kepada hamba_Nya (sesamanya). Potensi manusia yang mulia ada pada kemanusiaannya, ketika dia mampu membangkitkan potensi dalam jiwanya untuk pengabdian kepada yang telah menciptakannya, Tuhan yang Maha Mencintai serta Maha Kuasa atas segalah sesuatu.

Begitupun aku, awan hitam dan gadis cantik itu. Aku akan terasa hebat dan mulia jika rencana yang telah aku susun terealisasi dengan memaksimalkan segala potensi yang kumilliki. Terlepas dari buruknya (dampak negatif), awan hitam akan terasa hebat jika dia mampu menurunkan hujannya dengan sangat kuat. Begitupun juga gadis cantik itu yang ku ceritakan di awal tadi tentangnya, bahwa dia akan terasa cantik dan indah jika potensi lahiriah (kecantikan fisiknya) serta potensi batiniahnya (kecantikan akhlaknya) dapat dipadukan. Dan ketiganya akan mulia serta memiliki derajat yang tinggi jika mereka mengabdikan kepada Tuhan yang menciptakan mereka dan penghayatan terhadap pengabdian kepada_Nya juga akan berimplikasi pada manfaat bagi makhluk lainnya yang akan terasa indah karena kehadiran ketiganya. Semoga. Amin.

~Makassar, masih di mabesku di saat hujan stengah hati untuk turun, 28 Januari 2013.

Minggu, 27 Januari 2013

Ruangan kosong yang indah

Malam itu, beberapa orang mahasiswa entah apa yang mereka lakukan di sebuah ruangan kosong yang semakin dingin. Selain karna cuaca telah masuk pada musim hujan yang cukup ekstrim plus pendingin ruangan yang masih saja terus bekerja meskipun tidak lagi diperlukan. Kira-kira hampir pukul 3 malam, mata mereka belum ada indikasi rasa kantuk. Mereka saling bertanya-tanya tentang perihal sebab kenapa mereka belum ingiin tidur. Tak ada rencana untuk berada di dalam ruangan itu, karena satu persatu-satu masuk tanpa ada agenda pertemuan sebelumnya. Salah satu di antara mereka adalah saya, Marwan.

Bisu seakan ada perasaan bersalah yang menyelumuti ruang yang sedikit kotor itu. Tak ada suara yang mencoba bangkit untuk memcahkan keheningan, semua seolah takut untuk bersuara walaupun hanya sekedara mengucapkan satu huruf. Sibuk, duduk dengan urusan masing-masing tapi tetap tanpa suara. 

Dua orang teman masuk menghampiri kami di dalam ruangan itu. Keduanya bagai bunga indah di taman yang gersang. Terus terang cukup manis dan sekaligus menjadi penyemangat malam, keduanya datang mengucapkan salam. Keheningan pecah berubah menjadi sedikit gaduh karena menjawab salam dari dua mahasiswi yang juga teman kami. “Waalaikum salam wr. wb.” Kami sontak bersamaan menjawab.

Di atas meja sambil tertunduk membaca makna sabda-sabda Tuhan yang tertulis dalam Al-Quran, saya segera berpindah duduk di kursi yang disampingnya.

“Hei kalian,,, apa yang kalian lakukan disini? Kenapa belum tidur?” tanya seorang teman (salah satu mahasiswi yang baru masuk ruangan).

“Tidak,,, tidak ingin tidur saja.” Saya langsung menjawab dan teman yang lain ada yang sibuk mengutak atik telpon genggam, tertunduk di atas meja seolah lagi galau dan ada juga yang sekedar duduk besandar di kursi sambil menatap langit-langit ruangan saat itu, entah apa yang sedang dipikirkan mungkin juga sedang galau. hehehe...

“Trus, kalian berdua kenapa juga belum tidur?” saya melanjutkan.

“Sama, sama seperti kalian juga. Kami juga tidak tahu kenpa belum ngantuk” jawabnya. “Kalau sudah begini, tunggu ya…??? saya buatkan kopi dulu supya kita bisa ngobrol lama dan seru” Lanjutnya.

“Wah, good idea. Lebih cepat lebih baik” Ujar salah seorang teman. Kami pun semua memberikan isyarat tanda persetujuan.

“Tunggu ya, kami berdua buatkan dulu kopinya” Dengan senyuman manisnya mereka meninggalkan kami di ruangan yang semakin dingin.

Suara teman kami tadi, telah membuka babak episode kehidupan kami di malam itu. Diam menjadi riuh seolah menjadi pasar tempat orang melangsungkan jual dan beli. Seorang teman membuka percakapan tentang makanan. Saya segera berasumsi bahwa dia sedang lapar. Dia langsung berceritra tentang makanan-makanan laut kesukaannya.

“Yah, ikan cakalang sirip kuning” Ucapnya dengan penuh semangat. Pikirku, semakin membenarkan asumsi bahwa dia dilanda rasa lapar. Diapun bercerita tentang bagaimana dia pernah mengunjungi kampung ayahnya. Di sana dia menyebut kuliner-kuliner laut khas daerah asal ayahnya. Dia menjelaskan bagaimana mudahnya ikan cakalang ini di dapatkan di kampung ayahnya dibanding di kota kami menuntut ilmu saat itu (baca: Makassar) yang harganya cukup mahal. Dengan ini kami juga menghubung-hubungakan kondisi geografis dan faktor lain termasuk ekonomi yang membuat ada perbedaan harga seperti ini. Semakin banyak bahan pembicaraan kami saat itu. Ruangan semakin gaduh, suara tertawa, teriak, musik serta yang lainnya pun menjadi warna tersendiri malam itu.

Akhirnya salam kembali terdengar. Pembuat kopi akhirnya masuk dengan segala sesuatu yang di perlukan untuk menikmati kopi di malam yang dingin itu. Tak lupa kami membalas dengan salam kembali, gelaspun di isi dengan kopi yang cukup panas.

“Pernah makan bulu babi?”  saya bertanya. Teman si pembuat kopi, sontak menjawab “Marwan, suka makan itu? kalau aku takut”. Maklum saja, orang-orang di Makassar bisa di katakan tidak ada yang memakan hewan laut ini. Kebetulan teman si pembuat kopi ini, orang asli Makassar.

“Kalau di kampung itu makanan favorit orang-orang. Dari dulu makanan ini adalah makanan nenek moyang kami disana. Hewan laut ini banyak proteinnya loh” saya menjelaskan dengan seksama.

“Iya? Betul kah Marwan?” Dia memperjelas dengan pertannyaan retorisnya. “Kalau saya suka kepiting, pasti ada di kampungmu kan?” dia melanjutkan.

Sambil tersenyum, saya menjawab ”Iya ada, enak itu. Saya juga suka makan kepting”

Tiba-tiba teman yang menceritakan tentang ikan cekalang sirip kuning tadi langsung menyahut. Ternyata dari tadi secara seksama dia menyimak pembicaraan tentang bulu babi.

“Saya juga suka kepiting, apalagi kalau di belah isinya. Saya paling suka telurnya”. Dugaanku semakin mendapat titik terang bahwa dia benar-benar lapar. Hehehe…

Selain kami bertiga yang mendominasi persoalan makanan khas daerah masing (kuliner) juga beberapa orang teman yang lain bercerita tentang banyak hal termasuk persoalan cinta dan persoalan pribadinya (yah, berkecenderungan lagi galau. Hehehe). Memang tidak dapat di mungkiri, topik cinta selalu menjadi hangat untuk di bicarakan.Tukar pikiran dan pengalaman pun terjadi. Masing-masing berbicara tentang pengalaman dan kebudayaan masing-masing khususnya seputaran kuliner.

Inilah indahnya perbedaan. Memang perbedaan tak jarang membuat suasana menjadi runyam. Bahkan konflik pun terjadi karenanya. Bukan berarti perbedaan itu harus di hilangkan agar tidak menimbulkan konflik. Melainkan harus di kelolah dengan baik karena perbedaan adalah keniscayaan. Perbedaan memiliki ke indahan yang akan terungkap ketika kita mampu memaknainya.

Inilah Indonesia yang heterogen. Bangsa yang memiliki banyak perbedaan. Suku, bahasa, budaya, makanan khas, adat istiadat karakter masayarakat, agama dan segala perbedaan lainnya.  Perbedaan ini akan menjadi rahmat jika dapat di rubah menjadi ke indahan. Dan itu akan terwujud jika kita mampu memaknainya dan mengelolahnya dengan baik. Jika tidak perbedaan itu akan menjadi boomerang bagi bangsa kita, keindahan akan menjadi suasana yang keruh dan pada puncaknya terjadi konflik sosial.

~Makassar, masih di mabesku, 27 Januari 2013.
cerita di malam minggu, tadi malam.

Jumat, 25 Januari 2013

Mengenang kelahiran Tokoh paling berpengaruh di dunia

Kurang lebih 7 miliar penduduk yang menempati bumi sekrang. Dari 7 miliar itu, kurang lebih terdapat 1 juta orang yang hebat dan dari 1 juta orang, kurang lebih juga hanya ratusan yang paling hebat dan memiliki pengaruh besar terhadap dunia. Orang-orang ini tidaklah sembarang manusia. Atas hasil sejarah yang pernah digoreskan dalam lembar peradaban manusia sehingga mereka dikenang oleh banyak manusia di bumi.

Namun tak semua goresan sejarah akan menjadi kenangan yang indah. Banyak orang-orang besar bukan karna keadaban yang pernah ia buat melainkan pernah menjadi orang yang justru menyakiti orang lain, meskipun orang demikian cukup familiar. Tapi bukan ini yang bisa dikategorikan sebagai orang luar paling hebat itu. Melainkan bagaimana kehebatannya menjadikan orang mengikutinya karena kreativitasnya, ajaran, ucapan bahkan tingkah lakunya yang memukau dan menginspirasi banyak orang di dunia.

Tepat 24 januari 2013 M atau bertepatan dengan 12 rabiul awal 1434 H, umat islam bahkan dunia mengenang kembali sebuah momentum besar. Momentum tentang kelahiran seorang anak manusia segaligus menjadi nabi-rasul bagi umat manusia di dunia hingga hari kiamat datang. Beliau lahir di jazira arab, di tengah masyarakat jahiliyah yang jauh dari nilai keadaban. Konflik dimana-mana bahkan kelahirannya pun bertepatan dengan penyerangan pasukan bergajah terhadap negeri tanah kelahirannya. Pengabaian rasionalitas dengan penyembahan berhala yang tak bernyawa. Pelecehan terhadap kaum wanita, perjudian, penghlalan ekonomi riba (kapitalisme) serta segala kejahiliaan lainnya mewarnai kondisi sosial masyarakat tempat beliau dilahirkan.

Itu semua secara perlahan sirna dengan kelahiran manusia yang bernama Muhammad bin Abdullah. Kehadirannya menggegerkan masyarakat arab dan dua imperium besar saat itu, Persia dan Romawi. Mula-mula masyarakat arab sangat menyukainya karena segala kebaikan yang ada pada dirinya. Bahkan di tengah ketidak saling percayaan masyarakat arab saat itu, beliau hadir sebagai oase kejujuran sehingga tak salah jika kemudian gelar Al-Amin disematkan kepadanya. Orang yang terpercaya (jujur), demikian makna gelar tersebut dimana beliau di percayai oleh siapa saja bahkan dikemudian hari ada musuhnya pun tetap memercayainya.

Hal yang membuatnya di benci bahkan tak jarang mendapat caci maki, intimidasi bahkan upaya pembunuhan adalah kehadirannya membawa ajaran tauhid. Ajaran tentang keesaan Tuhan untuk mengajak manusia berpikir rasional dan meluruskan kembali ajaran agama Ibrahim (agama tauhid, yang pernah dibawa oleh nabi Ibrahim) yang pernah ada. Namun sudah tercemar oleh sikap sinkretik yang memuncak pada prilaku sirik masyarakat arab saat itu. Maklum saja, sangat manusiawi jika kehadiran ajaran baru apalagi bertendesi menyerang ajaran status-quo mendapat resistensi dari para penganutnya. Terlebih jika dapat menggangu kepentingan elite sosial tertentu (para petinggi bangsa Qurais).

Tak hanya itu, kehadiranya di dunia juga menjadi rival bahkan dapat membangun imperium tandingan hingga terbesar mengalahkan dua imperium yang tengah merebut hegemoni saat itu, Persia dan Romawi. Dua imperium ini sangat terkenal di dunia saat itu, bahkan kebesaran dan kejayaannya sulit diperkirakan akan runtuh. Namun perkiraan di atas kertas ini, akhirnya terbantahkan dengan ketika Muhammad mampu menarik pengikut karena ajarannya kemudian mendirikan imperium islam sehingga dapat mengalahkan dua imperium besar ini.

Demikian sedikit sejarah Muhammad SAW. Ternyata ajaran beliaulah sehingga banyak manusia terinspirasi bahkan menjadi pengikut setia dan rela mati karenanya. Banyak bukti mengenai hal ini, misalnya kita dapat melihat bagaimana ketika banyak orang yang menghujatnya bahkan melecehkannya melalui gambar-gambar imajiner. Semua umat islam tidak menerima dan mengecamnya bahkan banyak yang bersedia menjadi ‘pasukan’ setia untuk menumpahkan darah (membunuh) orang yang telah melecehkan tersebut. Demi Muhammad banyak yang bersedia mengangkat pedang dan senjata jika ajaran yang dibawanya telah di kotori.

Bentuk penghargaan

Waktu terus bergulir. Nabi besar Muhammad SAW telah lama meninggalkan umatnya menghadap sang ilahi. Atas jasa-jasa dan kebenaran ajarannya, beliau memiliki pengaruh yang luar biasa dan selalu dikenang sampai hari ini. Hal ini membuat para pakar sosial melakukan penelitian tentangnnya. Hingga seorang non muslimpun mengaguminya, dia Michael Hart. Dalam karyanya yang cukup fenomenal menyebutkan bahwa di antara banyak tokoh  yang pernah ada dalam sejarah peradaban dunia, ada seorang tokoh yang paling memiliki pengaruh yang luar biasa dan menempatkannya di urutan nomor wahid (satu). Tokoh yang dimaksudkan itu adalah Muhammad SAW.

Wajar saja, jika umat islam pengikut ajarannya begitu mengkultuskannya. Hari kelahirannya menjadi salah satu bentuk pengejewantahan atas pengkultusan itu, dengan memperingatinya. Berbagai macam model peringatan sesuai dengan tradisi masing-masing umat islam dimana mereka berada, tanpa menghilangkan nilai-nilai keislamannya. Ini demi mengenang beliau dan menghidupkan kembali ajaran-ajarannya yang mulai terkuras oleh ideologi dan budaya asing yang mulai diadopsi oleh masyarakat muslim sendri.

Tapi tentunya disayangkan jika perayaan seperti ini hanya sebatas simbol atau ritual semata. Padahal yang terpenting dari perayaan maulid (kelahiran) seperti ni adalah makna substansi yang terkandung. Bagaimana mengambil pelarajan atas segala prilaku serta ajaran beliau yang terkandung dalam kitab suci yang dibawanya Al-Quran dan sunnahnya. Apalagi ditengah hiruk pikuk kehidupan sosial bernegara saat ini, masyarakat telah kehilangan sosok pemimpin yang ideal. Yang mampu menyelaraskan antara ucapan dan perbuatan. Berani tegas terhadap kezaliman dan menggemakan kebenaran. Setidaknya sosok inilah yang dimiliki oleh rasul Muhammad SAW. Sosok manusia ideal yang merupakan personifikasi Tuhan di muka bumi untuk dijadikan tauladan yang baik. Smoga kita menginspirasinya. Amin.

~Makassar, masih di mabesku, 25 Januari 2013. 
Pada 12 rabiul awal 1434 H (24 januari 2013),Tulisan ini dipersembahkan untuk memperingati hari kelahiran Rasulullah Muhammad SAW.

Kamis, 24 Januari 2013

Jenuh dan pasar tradisional

Pernakah anda merasa jenuh? Saya yakin anda pasti pernah menemui feneomena ini. Jenuh merupakan kondisi alamiah manusia. Apalagi ketika manusia terjebak dalam rutinitas aktivitas, tak terkecuali yang beraktivitas secara aktif, pasifpun juga mengalaminya. Itulah yang saya alami dalam hari terakhir ini. Rasa suntuk serta stagnasi pikiran seolah menyerangku membuatku bosan untuk beraktivitas seperti biasanya, termasuk untuk menulispun saya seolah mengalami kebuntuan insipirasi. Inilah jeleknya rutinitas tanpa ada aktivitas lain yang membuat hari-hari menjadi lebih ‘berwarna’.

Untuk keluar dari zona yang stagnan ini saya menoba mencari aktivitas lain. Akhirnya saya putuskan untuk menemani seorang teman untuk pergi kesuatu tempat. Sebenarnya ada beberapa alternatif pilihan tujuan namun sengaja saya memilihkan ke tempat yang lebih jauh meskipun saat itu hujan sangat berpotensi turun. Tapi saya tetap menguatkan tekad untuk merealisasikan niatku meskipun risiko hujan plus macet harus saya lalui. Ini tidak lain demi mendapatkan zona baru yang membuat pikiran dan aktvitas saya lebih terdinamis lagi. Terlepas sahabatku tahu atau tidak, yang penting kepentingannya terwujud maka tidak jadi masalah.

Dalam ontologi (objek pengetahuan) semakin banyak alat epistemologi (alat pengetahuan) bekerja maka semakin banyak hal atau pengetahuan yang di dapatkan pula. Karena alasan ini, saya memilih perjalanan yang jauh agar banyak insipirasi (pengetahuan) yang diperoleh, meskipun hujan, macet atau konsekuensi lain harus saya dapatkan. Bahkan dengan konsekuensi seperti yang tersebut tadi justru dapat dijadikan insiprasi (dialektika) baru untuk mendinamiskan pikiran dan keuntungan lainnya bisa dijadikan referensi tulisan. Yah, mungkin seperti yang saya tulis sekarang.

Sosial-budaya, pasar tradisional

Anda pasti kenal dengan frase ini ‘pasar tradisional’. Definisi sederhananya, pasar merupakan tempat orang melakukan transaksi jual beli. Namun dalam perkembangannya aktivitas manusia yang semakin kreatif sehingga melakukan modifikasi-modifikasi. Pasar yang tadinya tradisional sekarang menjadi tempat yang lebih modern yang biasa dikenal dengan pasar modern. Lebih familiar lagi bentuk-bentuknya dapat dilihat di daerah-daerah perkotaan maupun semi perkotaan dengan berdirinya pasar swalayan (mall), minimarket ataupun sejenisnya.
ilustrasi gambar di ambil dari google, maklum penulis tidak punya kamera untuk memotret, membuka ruang penderma memberi kamera kepada saya. hehehe

Dan tempat yang kami kunjungi itu adalah pasar tradisional. Apa yang menarik dari tempat ini? Atau kenapa tidak ke pasar modern saja? Padahal kita semua tahu bahwa pasar tradisional identik dengan hal-hal yang tradisional meskipun dunia sudah modern yang ditandai dengan perkembangn IPTEK yang menawarkan segala bentuk kemudahan.

Memang betul realitas seperti di atas. Pasar tradisional, nuansa tradisionalnya masih terus dibawa tak peduli dunia sudah modern atau belum. Bahkan mungkin karena alasan tradisional, pasar ini kelihatan kumuh, becek serta aroma yang tidak sedap menjadi pemandangan tersendiri yang tidak dirubah. Berbeda dengan pasar modern yang begitu megah dengan infrastruktur dan segala tampakan ‘fisik’ yang indah, sedangkan pasar tradisional jauh berbeda. Para penjual menjajakan jualannya dengan beralaskan papan-papan, Koran, atau segala sesuatu yang bisa dijadikan alas tak peduli bentuknya asalkan substansinya adalah bisa dijadikan alas untuk berjualan. Bahkan tak jarang kita melihat tanah menjadi tempat diletakannya barang-barang jualannya.

Meskipun itu ternyata pasar tradisional memilki fungsi sosial-budaya yang cukup penting, meskipun juga secara perlahan telah terpinggirkan oleh pasar-pasar modern. Kita memang tidak bisa lepas dari perkembangan IPTEK dan segala bentuk manifestasinya, temasuk moderenisasi. Tapi fenomena moderenisasi juga bukanlah proyek peradaban manusia yang serta merta membawa kebaikan. Dalam prakteknya malah banyak ketimpangan yang di hasilkan yang salah satunya tereduksinya nilai kearifan sosial-budaya. Atas nama ‘pembangunan’ (development) semua dilakukan tanpa menghiraukan dampak sosial-budaya yang melekat dalam praktek kehidupan manusia. Atas nama akumulasi modal (uang), kapitalisme membajak moderenisasi melalui berbagai macam tipu muslihat termasuk menggunakan term ‘pembangunan (developmentalisme)’ seperti yang digunakan di era orde baru hingga sekarang pun dilakukan untuk melampiaskan hasrat menguasainya. Tak ayal, banyak yang dikorbankan dalam semua aspek kehidupan masyarakat dan lagi-lagi yang terpenting adalah sosial budaya.

Bagi penulis, pasar tradisional merupakan simbol budaya masyarakat yang cukup arif. Kita tidak boleh melihat pasar tradisional dengan sebelah mata atau dari luar saja tanpa menyelami secara mendalam nilai-nilai sosial apa yang terkandung di di dalamnya. Lihatlah proses yang terjadi didalamnya, proses jual dan beli berlangsung dengan pola komunikasi yang dua arah antara penjual dan pembeli. Penjual menawarkan barang dagangannya dan pembeli meminta dengan harga yang di inginkan. Terjadilah proses tawar menawar antara kedua bela pihak yang membuat proses budaya komunikasi-kebersamaan serta saling kenal mengenal. Ini sangat berbeda dengan proses yang terjadi dalam pasar modern, dimana hanya terjadi hubungan sosial antara penjual dan pembeli sangat kecil bahkan tidak ada sama sekali. Bagaimana kita membeli barang dagangan hanya dengan mengambil di tempat yang tersedia tanpa ada proses tanya jawab atau tawar menawar dengan penjual. Pasca itu, kita tinggal menuju kasir untuk membayar dan setelah itu kita pergi tanpa mengenal lagi siapa orang yang pernah kita temui.

Pasar tradisional juga menjadi ruang sosial ketika manusia semakin menyempitkan diri dalam ruang individual karena tekhnologi yang membuat manusia semakin individualis. Mekanisme seperti ini dapat dirasakan bagaimana jejaring media sosial seperti facebook, twitter, kaskus atau sejenisnya telah mengurangi proses pertemuan ril atau fisik antarmanusia. Padahal interaksi dalam dunia fisik, lebih memiliki nilai sosial yang tinggi salah satunya hubungan emosional antara pelaku interaksi semakin baik jika dibandingkan dengan pertemuan yang hanya di dunia maya dalam jejaring sosial.
ilustrasi gambar di ambil dari google, maklum penulis tidak punya kamera untuk memotret, membuka ruang penderma memberi kamera kepada saya. hehehe
                                           
Selain itu, pasar tradisional juga adalah ruang kebersamaan siapa saja yang jarang menampakan identitas kelas sosial. Orang kaya dan miskin sama saja, mereka akan masuk pada ruang tradisional yang menurut beberapa budayawan bahwa nilai tradisional termasuk kebersamaan adalah fitrawi (naluriah) manusia. Berbeda dengan pasar modern yang dari tampakan fisik serta kenyamanan yang cenderung sebegai simbol keangkuhan (kapitalisme) orang kaya terhadap orang miskin. Di tempat ini kelas sosial sangat jelas, antara kaya dan miskin. Rata-rata yang masuk dalam pasar modern seperti ini adalah mereka yang memiliki ekonomi menengah ke atas, dengan kata lain jarang orang miskin (kelas bawah) masuk dalam pasar ini. Lagi pula banyak barang yang dijual di tempat ini cenderung mahal karna akumulasi berbagai restribusi pajak dan cost lainnya dibanding pasar tradisional yang murah meriah serta merupakan denyut nadi ekonomi masyarakat kelas bawah bahkan negara (ekonomi kerakyatan).

Setidaknya inilah yang menjadi insipirasi ketika kita ingin keluar dari zona stagnasi yang menjenuhkan. Kita harus selalu berhati-hati terhadap rutinitas tanpa di imbangi dengan aktivitas lain yang dapat lebih mendinamiskan pikiran. Mungkin kata kuncinya adalah carilah hal-hal yang baru di luar kebiasaan rutinmu agar pikiranmu lebih berdialektika dan hidupmu lebih dinamis. Berjalanlah di alam semesta ini serta membacalah segala yang dapat dibaca. Semoga inspirasi (hikmah) yang tersembunyi itu di dapatkan.

~Makassar, masih di mabesku, 24 Januari 2013

Senin, 21 Januari 2013

Kematian, pintu keabadian

Beberapa hari yang lalu saya di kejutkan dengan kabar duka. Seorang sahabat baik sekaligus saya menganggapnya sebagai guru, ditinggalkan oleh Ayah tercintanya untuk menghadap Ilahi, Tuhan penggenggam hidup dan mati. Sedih dan tangis, itu wajar sebagai manusia yang lemah apalagi jika ditinggal oleh orang yang disayanginya. Namun tidak bijak jika menjadikan kita larut dan terus meratapi kesedihan seperti yang tidak sedikit dilakukan oleh banyak orang. Karena kehidupan di dunia ini tidak kekal serta hanyalah tempat persinggahan sementara untuk mengumpulkan bekal kehidupan selanjutnya yang kekal abadi, akhirat.

Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan menemui kematian. Perihal kematian, bukanlah hal yang begitu penting untuk dicari karena sebuah keniscaan dalam kehidupan makhluk di dunia, tak terkecuali manusia. Tanpa berdoa serta berkerja keras yang menguras tenaga, perkara ini adalah kepastian akan datang menemui. Meskipun itu, tak sedikit juga manusia tak sabar ingin menemui perihal ini dengan melakukan pengakhiran hidup, bunuh diri.

Berbeda dengan rizki termasuk jodoh yang banyak di upayakan untuk medapatkannya. Mengenai kematian, manusia hanya dituntut untuk mempersiapkan diri menghadapinya, selanjutnya sebagai modal kehidupan sesudah kematian yang akan abadi selamanya. Kematian ibaratnya sebuah sosok yang selalu berjalan mendekati, karena dalam setiap waktu dia selalu mendekat. Kita tak tahu kapan dia memeluk kita hingga jantung tak lagi berdetak, bisa saja satu detik kedepan atau masih lama lagi, entahlah. Karenanya seorang ulama besar, Imam Ghazali mengatakan bahwa yang terdekat dengan manusia adalah kematian.

Kehidupan akhirat atau kehidupan sesuah mati merupakan keniscayaan. Secara teologis maupun rasionalitas pun bisa dikatakan bersepakat tentang adanya kehidupan setelah mati. Tidak hanya para intelektual agamis melainkan juga para intelektual sekuler pun mengakuinya, mungkin pengecualian terhadap kaum ateis meskipun dalam nuraninya mengiyakan adanya Tuhan yang berkonsekuensi pada keyakinan hidup setelah mati. Seorang filsuf rasionalis imanuel kant pernah bertutur perihal kehdiupan setelah mati. Kurang lebih dia bertanya secara retoris: apakah berguna kehidupan di dunia kalau tidak ada kehidupan setelah mati? Atau kenapa tidak berbuat jahat saja, toh tidak ada hari pembalasan? Sedang nurani manusia selalu mengajak kepada kebaikan.

Pernakah kita mendengar kisah ashabul kahfi? Ya, btul. Mereka adalah para pemuda yang melarikan diri dari kejaran raja yang zalim. Raja yang menyuruh untuk menyembah pada selain Allah. Tapi kemudian mereka di matikan (tidur) dalalm sebuah gua dan di bangunkan kembali oleh Allah setalah 309 tahun kemudian. Secara akal sehat ini tidak rasional, bukan? Itulah kekuasaan Allah yang Maha kuasa atas segala sesuatu, dimana hidup dan mati manusia ada dalam genggamannya. Kisah ini bukanlah dongeng atau kisah fiktif belaka melainkan nyata yang terabadikan dalam kitab suci Al Qur'an serta dapat dibuktikan secara ilmiah dengan pembuktian sejarah.

1 hari akhirat = 1000 tahun dunia (waktu manusia di dunia hanya 1,5 jam)

Lantas sudah siapkah kita menghadapi  kematian? Bukankah waktu kita di dunia terlampau singkat? Banyangkan umur manusia sekrang rata-rata bekisar 60 tahunan malah tidak ada yang sampai sebelum usia ini. Sedangkan kehidupan akhirat kekal selamanya dalam waktu yang tak terbatas. Seorang ulama besar Imam Al Ghazali pernah menghitung betapa urgennya untuk menghargai waktu dalam kehidupan kita didunia. Beliau bernah berkata bahwa jika umur manusia 60 tahun dan rata-rata menjadikan tidurnya 8 jam sehari, maka sesungguhnya  tidur manusia selama 60 tahun itu adalah 20 tahun. Belum lagi jika manusia tidur lebih dari 8 jam, apalagi selama 40 tahun itu tidak digunakan sebaik-baiknya. Bagaimana jika digunakan untuk berbuat dosa? Sungguh sia-sia hidup ini.

Perhatikanlah firman Allah berikut,
“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”  (As-Sajdah Ayat 5)

Ayat ini menjelaskan bahwa sehari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia. Masya Allah. Jika 1 hari akhirat = 1000 tahun berarti 24 jam akhirat = 1000 tahun. Atau kalau disederhanakan lagi, 3 jam akhirat = 125 tahun dan pada akhirnya 1,5 jam akhirat = 62,5 tahun.

Usia 60 tahunan inilah rata-rata kehidupan manusia di bumi dan hasil perhitungan di atas menunjukan bahwa manusia hanya hidupa 1,5 jam saja di dunia. Sedangkan di akhirat dengan waktu yang tak terketahui ujungnya, abadi kekal selamanya. Sudakah kita memanfaatkan hidup dunia dengan sebaik-baiknya? Atau sudahkah kita menyiapkan diri semaksimal mungkin untuk hidup di akhirat? Ayo kita siapkan sekarang. Amin.

Minggu, 20 Januari 2013

Tantangan eks dan in Ku

Dalam beberapa hari terakhir agak susah untuk setia pada komitmen yang saya buat. Bukannya saya tidak mau untuk melakukannya, melainkan karena ada faktor lain yang memaksakan saya untuk langgar. Untuk menyebutnya melanggar, mungkin agak kasar dan ekstrim, pasalnya ini bukan karna kemauan saya. Saya sudah berusaha untuk mewujudkannya namun apa daya, proses dan hasil bukanlah kuasa total saya untuk mewujudkannya.

Faktor eksternal termasuk lingkungan dan kondisi alam (cuaca), juga faktor internal yakni kondisi tubuh yang tidak mendukung. Kombinasi keduanya membuatku harus menyerah untuk tetap tidak berada dalam garis kesepakatan dengan diri saya sendiri. Meskipun saya tak henti-hentinya untuk berusaha mewujudkannya, meskipun juga hanya sekedar memberikan sugesti positif (mission statetmant) kepada diri sendiri agar tetap konsisiten dan terus bergerak menghancurkan lawan-lawan menghambat prinsip dan rencana awal.

Hari ini saat menulis artikel ini, bisa dikatakan saya baru mendapatkan titik nyaman untuk melaksanakan satu dari agenda resolusi saya di awal januari yang lalu. Tapi inilah kehidupan selalu mendapat tantangan, bukan hidup kalau tidak demikian. Apalagi itu adalah rencana baik, maka  tantangan itu biasanya semakin besar.

Membincangkan faktor eksternal. Faktor eksternal bukanlah hal yang berada dalam kuasa saya. Bukan berarti saya harus pasrah menerima begitu saja, maksudnya ini hadir bukan karna saya yang menghadirkannya. Bukan berarti juga membuat saya ikut terseret dengan kondisi ini meskipun itu membawa saya pada jurang kesalahan. Saya sebagai manusia yang memiliki pengetahuan dan kehendak untuk melakukan apa saja dalam kapasitas kemampuan. Untuk itu kondisi (faktor) eksternal sebisa mungkin ditepis dan ditaklukan agar jalur kesepakatan dengan prinsip (komitmen) dalam diri dapat terus berada pada jalurnya yang benar.

Lain halnya dengan faktor internal. Kondisi ini berada dalam diri dan bisa dikatakan berada dalam kuasa kita meskipun kadang-kadang kita harus menyerah. Di antaranya rasa malas atau sakit misalnya, ini sebenarnya bisa di atasi. Tapi kadang juga jika kekuatannya besar maka kadang kita juga kalah, apalagi rasa sakit.

Inilah kondisi yang saya alami sekarang dalam menjalankan resolusi. Tapi sekali lagi saya memiliki kemerdekaan untuk bertindak, mengalahkan faktok-faktor penghambat ini. Semoga saja saya bisa. Teriakan bisa. BISA BISA BISA. Amin.

Senin, 14 Januari 2013

Shalat berjamaah dan menulis

Azan adalah panggilan kepada umat islam untuk segera melaksanakan shalat. Malam itu telah masuk waktu isya, masjid seperti biasa memanggil untuk shalat bagi umat islam. Segera saya tinggalkan akitvitas meskipun agak berat untuk ditinggalkan. Tapi hati nuarani selalu membisikan agar segera memenuhi panggilan Tuhan penguasa kehidupan ini.

Bukankah kita dilahirkan hanya untuk menyembah kepadanya? Demikian pertanyaan yang muncul dalam benak. Segera saya tinggalkan aktivitas yang kebetulan dilakukan bersama seorang sahabat. Saya mengajaknya untuk shalat, namun harus dimaklumi. Seorang sahabat ini adalah akhwat (wanita) yang memiliki satu halangan untuk melaksanakan kewajiban shalat, hadats besar.

Seperti biasa, saya selalu bertanya kepada sahabat yang kebetulan mengetahui saya akan shalat. “Apa yang kamu minta pada Allah? Insya Allah saya akan mintakan (doa) pada_Nya usai shalat sebentar”. Setelah mendengar semua keluh kesah dan harapannya, saya segera menuju masjid.

Alhamdulilah akhirnya shalat Isya malam itu selesai juga. Doaku dan sahabat yang meminta untuk di doakan kepada pemilik alam semesta dan isinya pun sudah ditunaikan. Kewajiban sudah terlaksana, setidaknya telah bebas dari pertanggung jawaban nanti meskipun saya tidak tahu berapa kadar ke ikhlasan dalam melaksanakannya. Apakah hanya sebatas mengugurkan kewajiban saja? atau memang benar-benar beribadah karena ingin mendapat pahala dan takut dosa? Atau mungkin juga beribadah karena cinta sebagaimana kisah Rabiatul Adawiyah, tanpa pahala (surga) atau dosa (neraka) pun tetap akan laksanakan kewajibannya? Entahlah, biarlah yang Maha adil yang menimbangnya.

Usai shalat, masih di dalam masijid. Tiba-tiba suara salam terdengar, “Aslamu alaikum” Seorang sahabat ikhwan (pria) menyapa dan mendekat. Sayapun membalas sembari mendekatinya. Tangan kami pun berjabatangan sebagai isyarat persahabatan. Kemudian datang lagi seorang sahabat yang kebetulan datang dengan sahabat saya sebelumnya tadi. Mengucapkan salam dan berjabatangan, saya membalas. Demikian tradisi kami ketika bertemu.

Sahabat kedua saya tadi adalah seorang penulis. Dia kulia satu kampus dengan saya, meskipun beda fakultas tapi kami saling kenal. Dia tergolong senior di kampus dan Alhamdulillah studinya sudah selesai. Sebagai teman lama yang lama tak bertemu, kamipun berbincang-bincang. Saya lebih membincangkan tentang dunia tulis menulis. Singkat cerita, dari hasil perbincangan kami ternyat dia sedang menulis buku ke tiganya dan Insya Allah akan segera diterbitkan. Luar biasa.

Terus terang, menulis apalagi menulis buku bukan perkara mudah bagi siapa saja tak terkecuali mahasiswa. Berbicara di depan umum, itu hal yang lumrah dan kebanyakan orang tahu. Namun untuk menuangkan isi kepala dalam tulisan, tidak semua orang yang bisa. Mungkin hanya sepersekian orang saja bukti sederhananya kita dapat melihat perbandingan jumlah sarjana Indonesia (masyarakat terdidik) dengan jumlah buku yang terbit. Itupun dari banyak buku yang diterbitkan, kadang penulisnya adalah orang yang sama.

3 M. Menulis Menulis Menulis. Demikian sarannya. Tips ini juga sebenarnya, yang saya jalankan. Dan Alhamdulillah banyak yang mengapresiasi tulisan-tulisan saya. Suatu ketika saya diminta tips agar bisa menulis oleh seorang sahabat, pun saya memotivasi dengan kalimat seperti itu. Tapi saya sedikit menambahkan: Jika ingin tahu menulis, jangan belajar naik sepeda tapi belajarlah menulis maka menulis, menulis dan menulislah.

Bagiku pertemuan ini sangat berharga. Karenanya saya bisa bertukar pikiran (share) tentang segala hal. Ini berkat shalat berjamaah di masjid. Masjid merupakan tempat berkumpulnya umat muslim terutama untuk beribadah (shalat). Silaturahmi dapat terjalin erat di tempat ini. Kadang persahabatan yang telah lama tidak bertemu dapat bertemu ditempat ini, seperti yang saya alami.

Semoga shalat berjamaah selalu memunculkan hikmah-hikmahnya. Dan saya dapat menulis buku seperti yang dilakukan oleh seorang sahabat tadi. Semoga tahun ini bisa terwujud. Amin.

~masih di markas besarku.

Sabtu, 12 Januari 2013

Cinta dan perahu kecil

Malam kembali menyapa
Senja kembali keperaduan
Hening menyelemuti hati

Suara ombak tak seperti biasanya
Di bibir pantai perahu kecil berlabuh
Dia tak seperti biasanya
Muatannya kosong namun berisi

Ah, mungkin kah ini imajinasiku?
Pasti tak ada yg kosong, pasti ada
Kulihat bongkahan rindu yang terbawa
Mungkin itu darinya untukku

Tapi, siapa dia?
Sekarang aku percaya
Bahwa cinta dalam diam itu ada
Cinta mengalirkan derasnya kerinduan

Cinta yang terpendam dalam hening
Tak mampu berkata karena sebuah alasan yang tepat
Bahwa tak selamanya cinta itu gaduh
Justru ini adalah cinta yang ikhtiar
menghadap pada yang maha pemilik cinta

Wahai perahu kecil
Takdir cinta itu ada
bawalah rindu ini
Ku tuliskan dalam sepucuk surat

Wahai perahu kecil
Aku yakin arahmu sudah jelas
Bawalah surat itu pada orang yang tepat
Aku yakin surat itu akan sampai pada tujuannya

Wahai perahu kecil
Jujur, aku belum tau pasti
Kemana kamu akan berlayar membawa surat kerinduan itu
Tapi aku yakin surat itu akan sampai pada orang yang tepat

Wahai perahu kecil
Didepan sana badai menantimu
Jagan surut, perahu kecil
Bawalah surat cintaku pada dia
Dia yang sudah di takdirkan oleh sang Maha mencitai itu
Dia yang sudah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuz

Wahai perahu kecil
Aku menunggunya dalam penyempurnaan ikhtiar cinta
Aku menunggunya dalam muhasabah cintaku
Aku yakin dia orang yang tepat menurut_Nya

Wahai perahu kecil
Tetaplah kembangkan layarmu
Sampaikan pada dia
yang ku tak tahu dia dimana
Pada dia yang ku tak tahu siapa dia

Wahai perahu kecil
Katakan padanya
Jagalah hatinya untukku
Di sini akan ku jaga untuknya

Wahai perahu kecil
Katakan padanya, waktu yg indah itu akan datang
Jangan nodai waktu dengan kebencian
Dan cinta yang salah

Wahai perahu kecil
Katakan padanya
Sabar dan ikhlaslah menunggu

Wahai perahu kecil
Katakan padanya
Sempurnahkan niat dan ikhtiar cintanya
Karena semua akan indah pada waktunya

Sekali lagi, Wahai perahu kecil
Aku menunggunya
Sampaikan salamku
Pada dia yang sudah tertuliskan untukku dalam kitab_nya.

~makassar, mabesku dimalam minggu, 12 Januari 2013

Umurku bertambah, Usiaku berkurang

Satu hal yang tidak bisa kembali, dia adalah waktu. Waktu yang berjalan sepersekian detik barusan tidak akan bisa terulang lagi. Dia hanya akan mengikuti pola geraknya hingga waktu yang tak ditentukan. Semua peristwa alam semesta terkandung di dalamnya. Bahkan karena alasan ini, waktu bisa saja tak akan musnah seperti halnya manusia dan alam semesta. Karena ketika kiamat besar nanti datang, juga akan terjadi dalam pergulatan waktu.

Ketika menulis artikel ini, perenungan semakin dalam tentang proses kehidupan yang saya alami selama ini. Tepat 12 januari 1990 atau 23 tahun yang lalu, seorang manusia dilahirkan di alam dunia setelah melewati kehidupan di alam rahim. Alam yang penuh dengan keajaiban dan kekuasaan Allah yang mampu menghidupkan manusia dalam ruang yang sangat sempit. Ruang yang manusia tak mampu bergerak bebas, hanya bisa menghentak-hentakan kaki dan tangan atau anggota tubuh yang lain. Seorang manusia itu adalah laki-laki pilihan Allah dari sekian miliar calon-calon manusia yang berusaha untuk lahir ke dunia ini. Dari jumlah sel sperma yang bergerak membuahi sel telur (inilah proses kejadian manusia) atau kandidiat manusia yang akan lahir itu ternyata hanya satu yang berhasil menang mengalahkan yang lain dan dia adalah saya. Dia yang memiliki nama Marwan atau kampung kecilnya di Tomia-wakatobi dia memiliki nama ‘kearifan lokal’ lain yang biasa dikenal dengan sebutan La Upi.

Renungkanlah !

Jika kita melihat hakekat proses penciptaan manusia seperti di atas, tak mesti kita mengeluh dengan segala kehidupan di dunia ini. Meskipun mungkin terasa berat, penuh dengan tantangan, cobaan dan rintangan yang kadang membuat manusia harus menyerah. Namun kembali lagi kita harus mengingat dan merenungi hakekat proses penciptaan manusia. Kita ada di alam rahim hingga ke dunia bukanlah sesuatu tanpa proses pergulatan atau sesutau yang ada terberi begitu saja (given). Melainkan sebuah pertarungan menang-kalah untuk memenangkan siapa yang berhak hidup. Tahukah kita tentang proses bagaimana Allah mempertemukan dua jenis makhluk_Nya, pria dan wanita hingga dipersatukan dan dari persatuan itu akhirnya menjadi manusia lain yang memiliki bentuk fisik dan bernyawa? Kita adalah manusia yang dilahirkan untuk menang, bukan untuk kalah. Kita berhasil menyingkirkan rival (miliaran sel sperma) kita untuk berenang menuju sel telur mencari kehidupan. Maka terbentuklah kita melalui setetes mani itu dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian menjadi segumpal darah dan berubah menjadi daging. Dari situlah kemudian menjadi tulang-belulang dan tulang-belulang itu dibungkus dengan daging hingga dijadikan bentuk tubuh.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk (lain). Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. ” (Al Mukminun : 12-14)

Renungkanlah! Tahukah dari mana kamu berasal? Tahukah untuk apa kamu hidup di dunia? taukah akan kemana nanti setalh hidup di dunia?

Dalam beberapa artikel, saya selalu mengingatkan tentang tiga pertanyaan ini. Tiga pertanyaan ini adalah pertanyaan yang saya kenal dari seorang ulama timur tengah. Menurut beliau, jika kita mampu menjawab tiga pertanyaan ini dengan benar maka sesungguhnya kita telah mengetahui hakekat hidup yang sesungguhnya. Konsekuensinya, kita manusia akan mampu menjalani hidup dengan tujuan yang sebenar-benarnya, yakni kepada sang Maha penguasa atas segala sesuatu dan raja dari segala raja.

Jika kita semua merasa berasalah dari Allah yang satu, maka kita pun akan mengabdi kepada_Nya karena kita akan kembali pada_Nya pula. Meskipun hal ini menjadi pengetahun yang lumrah namun baru sebatas lahiriah saja. Pengetahuan tanpa ada internalisasi dalam proses  kontempelasi (perenungan) atau belum menjadi pengetahuan ‘batiniah’, tak ada gunanya. Sekarang banyak orang yang berpengatahuan tinggi dengan berbagai gelar pendidikannya. Namun, banyak pula dari mereka bersikap tak menggambarkan seperti tingkat pendidikannya. Pengetahuan yang tinggi tak berarti memiliki sikap dan prilaku yang bermartabat tinggi pula.

Inilah yang menjadi provakator dalam batin saya. Dengan umur sekain bertambah namun usia di dunia semakin berkurang, saya harus menjadi lebih baik lagi dengan kualitas jiwa yang semakin baik. Memang dalam hidup tantangan dalam mencapai tujuan itu sebuah keniscayaan. Apalagi jika tujuan kita adalah baik maka tantanganpun juga kadang lebih banyak. Banyak yang mengeluh bahkan akhirnya putus asa dan tak mau melanjutkan misinya (tujuannya). Bahkan lebih parah dan ekstrim lagi, ketika tidak mampu mengatasi tantangan hidup tak sedikit yang sengaja mengkhiri hidupnya, bunuh diri.

Manusia yang melakukan langkah ini sangat di sayangkan karena harus dipahami bahwa bukan hidup jika tak memiliki masalah. Bahkan masalah akan berakhir ketika manusia telah sampai ke terminal kehidupan sealanjutnya yakni ketika manusia meninggal dunia. Seperti halnya dikatakan oleh seorang ulama besar, Imam Ahmad (maaf kalau nama ulamnya salah, harap diperbaiki jika salah) ketika di tanya oleh orang yang berguru padanya. Kurang lebihnya sebagai berikut, “wahai syeh!!! Kapan kita beristirahat dari masalah hidup ini?” tanya seorang murid. Imam Ahmad berkata “kita akan berhenti dari masalah hidup ketika ajal telah menjemput dan disaat itulah semua proses kehidupan kita di dunia akan dimintai pertanggung jawabannya”. Sebenarnya jika kita merenungi lagi lebih dalam, masalah memiliki fungsi yang sangat penting bagi kematangan jiwa dalam menjalani kehidupan manusia.

Sejenak saya mengajak pembaca,ayo tarik napas yang dalam dan lepaskan sambil ucapkan hamdalah, Alhamdulillah. Di umur yang sudah lumayan panjang ini, syukur tak terhingga saya ucapkan kepada sang pemberi hidup. Meskipun syukur tak hanya sebatas lafal lisan namun saya akan menyakini dengan sepenuh hati dan berusaha untuk membuktikan dalam perbuatan. Karena kehidupan tak akan bermakna jika tidak di abdikan kepada pemilik kehidupan ini. Sebagaimana pertanyaan kedua dari tiga pertanyaan tadi, Tahukah untuk apa kamu hidup di dunia? sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan sekalian alam.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. Az-Zariyat)

Waktu terus bergulir. Semua terus berubah. Bayi menuju balita menuju anak-anak menuju remaja menuju dewasa menuju tua dan akhirnya mati, bahkan ada pula yang tak sampai tua. Demikianlah proses kehidupan manusia yang berjalan dalam waktu termasuk saya. Sekali lagi kita tidak bisa mereplay untuk mengulang masa-masa sebelumnya. Yang kita lakukan hanya merefleksi sembari membenahi apa yang masih kurang dan membaikan lagi yang telah baik. Sekali lagi semua dalam waktu.

Seorang ulama besar Imam Al Ghazali pernah menghitung betapa urgennya untuk menghargai waktu dalam kehidupan kita didunia. Beliau bernah berkata bahwa jika umur manusia 60 tahun dan rata-rata menjadikan tidurnya 8 jam sehari, maka sesungguhnya  tidur manusia selama 60 tahun itu adalah 20 tahun. Belum lagi jika manusia tidur lebih dari 8 jam, apalagi selama 40 tahun itu tidak digunakan sebaik-baiknya. Bagaimana jika digunakan untuk berbuat dosa? Sungguh sia-sia hidup ini.

Semoga saja kita semua terutama saya sendiri dapat mengambil hikmah dari setiap proses perubahan waktu. Dengannya kita dapat menyempurnakan ibadah, menjadikan kualitas hidup yang diwarnai iman dan taqwa menjadi lebih baik lagi. Semoga dalam umur yang bertambah dan jatah hidup atau usia di dunia semakin berkurang, kita mampu menjawab dengan baik dari mana kita berasaral, untuk apa kita hidup dan akan kemana serta peristiwa apa yang akan terjadi dalam kehidupan setelah mati itu? Bukan hanya mengetahui secara lahiriah melainkan juga batiniah sehingga dapat mengakar dan berimplikasi dalam kehidupan kita. Amin.

#Makassar, sore hari masih di mabesku, persembahan untuk pertambahan setahun umurku, 12 Januari 2013.

Penyakit kronisku

Penyakit kronisku mulai kambuh lagi. Mungkin ketika membicarakan penyakit maka terasosiasikan sebagai sesuatu  yang buruk. Atau mungkin didefinisikan sebagai sesuatu yang menggangu kesehatan tubuh. Tapi definisi seperti ini tidak berlaku untuk penyakit yang mengidap pada diriku.

Siang menjelang sore. Saya di ajak seorang sahabat untuk mengunjungi sebuah toko buku besar yang ada di kota tempat perantauan saya, Makassar. Di sana banyak koleksi buku-buku dengan berbagai jenis dan judul. Sejarah, agama, motivasi, biografi, berbagai majalah, novel, politik, budaya dan berbagai jenis serta banyak judul lainnya. Selain “demografi” buku yang lumayan banyak, juga tak kalah dengan suasana yang kondusif untuk membaca. Untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung, alunan musik indah sengaja dihadirkan serta dekorasi interior yang cukup proporsional membuat pengunjung betah untuk lama di dalam ruangan (toko buku).

Karena banyaknnya jenis buku dengan berbagai judul, inilah yang membut penyakit kronis saya kambuh kembali. Penyakit ini bukanlah sesuatu yang negatif, menurut saya. Melainkan sesuatu yang positif bagi tubuh saya terutama pikiran untuk memotivasi dalam melakukan pengembaraan intektual. Bahkan penyakit ini harus disukuri keberadaannya.

Pusing lihat banyak buku yang ingin di miliki (beli) sedang kondisi uang tidak mencukupi. Beginilah kondisi mahasiswa yang pas-pasan dengan sudah mencoba untuk lebih sederhana. Seperti yang sebutkan tadi bahwa berbagai jenis dan judul buku, ingin sekali saya miliki. Rasa penasaran saya tak bisa terbayar hanya dengan melihat judulnya dan membaca sepintas atau resensinya tanpa memilikinya. Inilah penyakit kronis yang selalu menghampiri saya ketika mengunjungi toko buku apalagi dengan koleksi buku yang lumayan banyak apalagi kalau sudah luar biasa banyak.

Biarlah. Ini adalah penyakit yang menyerang jaringan saraf pusat, otak. Membuat bagian tubuh lain terjangkiti meskipun hanya menimbulkan efek yang tak terlalu hebat dan kadang juga hebat, sebagaiamana dialektika intelektualku yang semakin distimulus akan semakin bekerja mencari sintesis baru.

Biralah. Aku bersukur dengan penyakit kronis ini. Setidaknya ini merupakan modal utama melakukan penjelajahan intektual. Melakukan pengembaraan rimbunan hutan pengetahuan yang bermandikan cahaya inspirasi dalam setiap proses perubahan waktu.

Biarlah. Aku rawat penyakit kronis ini. Harapanku akan menjadi mesin penggerak dalam penyempurnaan jiwa dalam menyelami kedalaman ilmu-ilmu sang Maha mengetahui. Amin  

#Makassar, markas besarku (tamalanrea, sekitar unhas) dalam perenungan agar tidak menggalaukan kaum hawa, pukul 02:43, 12 Januari 2013

Selasa, 08 Januari 2013

Tentang sebuah komitmen

Agak susah. Kadang mempertahankan lebih susah dari pada meraihnya. Mungkin benar kalimat yang sering di ucapkan oleh seorang bijak ini.

Dipermulaan awal tahun 2013 masehi, saya membuat sebuah agenda resolusi. Berkomitemen dengan kebulatan tekad, tentang apa yang harus saya lakukan dan capai dalam tahun ini termasuk langkah-langkah spesifik dalam kurun waktu yang tertentu. Namun lagi-lagi saya tidak konsiten dengan komitmen saya. Saya melanggar lagi dan lagi pasalnya ini bukan baru kali ini saja terjadi.

Saya sadar bahkan rasionalitasku memberikan penilaian dan nuranipun mengingatkan. Tapi hasrat untuk melanggarpun tak kalah hebatnya. Terjadi pergolakan batin yang hebat dalam diriku. Pertentangan antara sifat Ilahiyah dan syaitan untuk memenangkan jiwa manusia, kemana harus di arahkan. Seperti inilah yang dimaksudkan oleh Ali Syariati, intelektual muslim berkebangsaan Iran bahwa dalam diri manusia perang itu selalu terjadi antara dua sifat tersebut.

Kemenangan sifat ilahiyah maupun syaitan, sayalah (manusia) yang paling berandil dalam mengendalikan. Nurani manusia selalu mengajak agar memenangkan sifat Ilahiyah ini. Tapi godaan manusia melalui nafsu setan juga tidak diam untuk selalu mengajak manusia memenangkan sifat syaitan. Untuk urusan dan pertentangan seperti ini, saya akui memang kadang saya lemah untuk melawan sifat syaitan, yang sebenarnya petunjuk untuk memenangkannya sifat Ilahiyah itu sudah ada.

Dan perang antara dua sifat ini kapanpun dan dimanapun serta hingga manusia tiada di dunia ini selalu akan ada. Maka wajar saja jika Rasulullah SAW mengingatkan perihal ini, betapa pentinganya kita memperhatikan perang ini. Karena hemat saya, kedamaian diri dan dunia, tergantung sifat apa yang kita akan menangkan, tentunya sifat Ilahiyah lah yang harus menang itu. Hingga beliau mengatakan bahwa jihad terbesar manusia sesungguhnya adalah dua perang ini yakni perang melawan diri sendiri-hawa nafsu (sifat syaitan). Demikian ini sabda beliau:

“Kalian datang dari jihad kecil menuju jihad besar. (Mereka) berkata : “Apakah jihad besar itu ?”. beliau menjawab : “Jihadnya seorang hamba melawan hawa nafsunya”.

Dan di hadits lain beliau bersabda:

”Berjihadlah menghadapi hawa nafsumu seperti berjihad menghadapi musuhmu.” (HR. Abu Daud).

Wallahu alam.

*jika haditsnya salah tolong di benarkan.

Senin, 07 Januari 2013

Hujan Januari dan Aksi Balasan

Sudah menimpang (anomali). Begitulah kondisi cuaca di kota Makassar sekarang. Rasanya hujan belum bosan untuk mengalirkan airnya kepenjuru kota. Terhitung sejak permulaan awal tahun, siang harinya usai kebanyakan orang merayakan pergantian tahun baru masehi, hujan mulai mengguyur kota yang dijuluki kota daeng ini. Dan sekrang tanda untuk berhenti bisa dikatakan belumlah nampak malah menurut badan metereologi geofisika dan klimatologi Makassar, hujan ini akan masih akan berlangsung hingga dua bulan kedepan atau terhitung tiga bulan dari permulaan bulan ini.

Selama saya di kota ini, hujan seperti ini barusan saya dapatkan. Hujan, merupakan fenomena lumrah karena bagian dari sirkulasi alam dalam dinamika kehidupan bumi. Namun untuk kota tempat saya menuntut ilmu ini, kelihatannya telah terjadi keanehan dalam fenomena seperti ini. Hujan tak seperti biasa lagi, awan yang merupakan tempat berkumpulnya titik-titik air kini meluapkan isinya yang tak habis-habisnya. Lihat saja, bisa dikatakan sudah satu minggu hujan belumlah usai dan mulai meresahkan masyarakat kota Makassar.

Kumpulan titik-titik air yang menggumpal menjadi awan hitam kini tumpah di bumi hingga banyak tempat di Makassar tergenang dengan banjir. Sala satunya terjadi di kawasan (kompleks) saya tinggal. Menurut pengalaman selama beberapa tahun tinggal di kota ini, banjir seperti ini tergolong baru. Tentunya kita harus bersepakat bahwa tidak ada yang kebetulan, semua terjadi karena adanya sebab yang menyertainya. Jika sebelumnya banjir seperti ini sulit ditemukan dan sekarang telah melanda, maka sekali lagi ada yang membuatnya demikian.

Dalam mitologi bangsa china, tahun yang barusan kita masuki yakni 2013 M adalah tahun “naga air”. Saya kurang dapat memahami tafsiran secara komprehensif mengenai istilah ini, namun konon dan menurut informasi yang beredar bahwa salah satu mengejewantahannya adalah terjadinya hujan dan luapan air yang tak seperti biasanya. Mungkin benar, mungkin juga salah tapi saya tidak ingin membawa pikiran kita dalam alam mitos seperti ini.

Dalam Nietzche, seorang filsuf berkebangsaan Jerman mencoba membawa kita pada alam berpikir yang rasional untuk membunuh mistifikasi alam berpikir manusia. Kita di ajak berpikir ilmiah dengan mengedepankan rasionalitas untuk mengetahui sebab-sebab fenomena alam. Termasuk bagaiamana kita harus melihat sebab ilmiah dalam rantai sebab akibat hingga anomali hujan hingga bumi harus menyeimbangkan dirinya dengan melakukan pengggenangan diri (banjir) secara ilmiah pula.

Anomali hujan berarti anomali iklim. Para ilmuwan telah bersepakat tentang bagaimana manusia memiliki andil dalam pencipta anomali ini. Historitas telah berkisah bagaimana manusia pernah hidup dalam keseimbangan alam semesta. Manusia dan alam adalah dua komponen yang saling menghargai satu sama lain dan “berderajat” sama. Manusia melihat alam sebagai subjek (kawan) dalam kehidupannya bahkan kadang takut untuk menyakitinya. Alam dipelihara dan digunakan tak berlebihan atas dasar kerakusan.

Sekarang dunia telah berubah. Alam dan manusia seolah vis a vis ingin memenangkan persaingan. Kerakusan manusia telah menghilangkan tradisi kasih sayang terhadap alam. Alam kini telah menjadi objek hasrat menguasai oleh manusia, dieksploitasi secara membabi buta tanpa mempertimbangkan kehidupan alam maupun manusia kedepannya. Perkawanan manusia dan alam telah berubah menjadi permusuhan. 
Keseimbangan

Hukum kehidupan alam semesta (sunnatullah) selalu terjadi keseimbangan. Ada siang-malam, muda-tua, panjang-pendek, baik-buruk dan segala bentuk keseimbangan lain yang saling menutupi. Begitu juga dengan alam dengan fenomena hujan hingga membuat air meluap (banjir). Sebelumnya mereka kurang mengenal bahkan tidak sama sekali mengenal tradisi alam seperti ini. Namun semua itu berubah dengan kreatifitas manusia yang salah digunakan demi memenuhi hasrat “menguasai”nya. Akhirnya, alampun melakukan peneyimbangan diri karena dirinya tak seimbang lagi.

Jika dia menumpahkan hujan yang banyak berarti bumi telah terlalu panas untuk di huni oleh makhluk hidup. Kumpulan titik air di awan kemudian menjadi hujan ini, dikarenakan menguapnya panas bumi. Semakin panas bumi maka semakin banyak pula titik air tersebut berkumpul. Juga tak terkecuali dengan banjir yang menggenangi bumi, yang merugikan makhluk hidup yang mendiaminya. Ini tak lain merupakan bentuk balasan atas dirinya yang tidak seimbang lagi dengan tujuan menyeimbangkan dirinya.

Bumi merasa tidak seimbang lagi, hingga dia harus berusah menyeimbangkan diri. Pohon sudah banyak dibabat habis, sampah telah mengotori bumi, pencemaran dimana-mana oleh tekhnologi-tekhnologi modern dan berbagaia bentuk pengrusakan lainnya. Kondisi bumi yang tidak seimbang ini mengharuskan dirinya untuk melakukan adaptasi-adaptasi agar dia bisa tetap hidup. Maka wajar saja jika bumi melakukan longsoran tanah, tsunami, banjir, hujan yang tak kunjung usai dan berbagai cara lain. Semua penyebab-penyebab yang membuat bumi melakukan upaya penyeimbangan tidak lain adalah andil manusia yang cukup besar bahkan dialah pelaku utamanya.

Aksi balasan alam (termasuk bumi) terhadap manusia yang membuatnya tidak seimbang, tidak terjadi begitu saja tanpa ada sebab yang menyertainya. Jika manusia merusak bumi maka untuk menyeimbangkan bumi yang rusak maka dia menganggu ketentraman manusia dengan bencana yang di timbulkannya. Bukankah Allah telah berfirman dalam kitab sucinya Al-Quran Surat Ar-Ruum ayat 41 :

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).”

Makassar, markas besarku (kos, red), saat lapar, hujan dan banjir telah mengepung, 6 Januari 2013

Selamat tahun baru 2013

Selamat tahun baru 2013 Masehi. Mungkin saya terlambat menguncapkannya. Idealnya, kalimat ini di ucapkan menejelang detik-detik pergantian tahun menuju 2013 atau beberapa saat atau jam setelah pergantian tahun. Tapi tak apalah, asalkan saya ikhlas mensedekahkan kalimat yang sarat makna ini.

Bagaimana tahun barumu, bagaimana kamu merayakannya? Terus terang saya, mungkin berbeda dengan kebanyakan orang. Saya kurang begitu tertarik merayakan pergantian tahun dengan berbagai seremonialnya. Yang penting bagiku adalah bagaiamana memaknai momentum perubahan dari setiap waktu. Dan tidak mesti dengan perayaan-perayaan tertentu yang kadang terkesan hura-hura.

Banyak yang hanya merayakan namun tanpa mengerti substansi yang terkandung di dalamnya. Hura-hura, pesta kembang api, makan-makan ataupun segala prosesi dan seremonial lainnya, adalah pendangan yang lumrah di lihat. Namun saya pribadi sangsi, apakah mereka tahu makna pergantian tahun itu? apakah mereka melewatkan begitu saja seperti halnya waktu-waktu yang lain? entahlah.

Saya pernah mengirim pesan kepada seorang teman menjelang pergantian tahun ke 2013. kurang lebih potongan pesannya seperti ini: “slamat memperingati setiap perubahan waktu menuju waktu berikutnya”. Saya sengaja tidak mengatakan selamt tahun baru 2013 seperti yang lazim di ucapkan oleh banyak orang. Hal ini saya maksudkan bahwa setiap waktu selalu memiliki makna yang sama. Kita berada dalam perputaran waktu, suka atau tidak, tidak ada yang bisa menghindar darinya.

Yang saya mau tekankan dalam pesan saya itu adalah tentang begitu berharganya setiap waktu. Tak terkecuali dalam perubahan tahun, semua waktu itu sama. Dengan demikian tak perlu menunggu momentum akhir tahun untuk memaknai pentingnya waktu. Sekarang pun bisa dilakukan.

Inilah alasan kenapa menyambut awal tahun biasa saja bagi saya. Namun, bukan berarti saya tidak menjadikannya sebagai momen yang bisa dikatakan “spesial”. Saya hanya menggunakannya untuk merefleksi tentang segala peristiwa yang pernah terjadi baik yang berkenaan dengan diri maupun disekitar saya untuk dijadikan inspirasi bagi diwaktu-waktu selanjutnya. Meskipun hal seperti ini bisa saya lakukan kapanpun dan juga tanpa harus dirayakan seperti kebanyakan orang.

Dengan kata lain yang terpenting adalah bagaiamana memaknai apa maksud dalam setiap perubahan waktu. Carilah hikmah yang terkandung dalam waktu untuk kematangan kehidupan ke depannya. Smoga.

Selamat tahun baru 2013 Masehi.

Makassar, 6 Januari 2013