Jumat, 27 Maret 2015

Cerita dengan kawan dari timor leste

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Istilah kebetulan hanya ada dalam konsep kebanyakan manusia tapi bagi Tuhan tak ada kebetulan. Karena Tuhanlah sumber dari segala sebab, yang menyebabkan semua terjadi. Hingga membuat saya bertemu dengan seorang kawan dari luar negeri. Dia kawan yang baru saya mengenalnya meskipun sampai sekarang namanya tidak saya ketahui. Namun, tadi kami banyak berdiskusi tentang negaranya dengan menggunakan bahasa Indonesia. 

Kesan pertama yang muncul ketika bertemu dengannya adalah dia seorang Indonesia. Dari paras dan gaya bahasanya, tidak berbeda jauh dengan masyarakat Indonesia umumnya. Bahasa Indonesia yang digunakan pun sangat fasih. Namun, setelah saya bertanya tentang asal daerahnya, ternyata dia berasalah dari timor leste, yang dahulu adalah bagian dari Indonesia dengan nama timor timur.

Dia seorang yang ramah dan asik diajak ngobrol tentang apa saja, terutama tentang negaranya. Tidak ada kesan bahwa kami berbeda Negara. Pasalnya, Negara yang tergolong Negara termuda di dunia ini adalah bagian dari sejarah Indonesia. Ada suasana kebatinan sebagai anak Indonesia (dia sudah menjadi anak timor leste) sehingga dalam diskusi seolah lupa bahwa kami berbeda Negara.

Dia banyak bercerita tentang negaranya. Saya pun tidak hanya mendengar saja melainkan pro aktif bertanya. Tentang kondisi dinegaranya hingga perbincangan mengenai situasi politik di sana.

Akhirnya perbincangan kami sampai kepada sepak bola. Diskusi tentang ini memang selalu menarik apalagi bagi orang-orang yang hobi baik menonton mapun ikut bermain. Apalagi sepakbola bukan hanya sekadar olahraga atau pertandingan di lapangan hijau. Jika di kaji secara mendalam, sepak bola sulit dipisahkan dengan ekonomi, nasionalisme, sejarah bahakan politik.

Tampaknya kawan saya ini, cukup gemar dengan sepak bola. Dia mengkuti jadwal pertandingan sepakbola yang akan berlaga saat itu. Bahwa akan segra ada kualifikasi pertandingan sepak bola antara Indonesia dan negaranya (timor leste). Sebagai warga Negara yang baik, dia ingin menunjukan rasa nasionalisme terhadap negaranya. Akhirnya, di tengah keasikan kami berdiskusi, tiba-tiba dia minta izin untuk menyaksikan pertandingan kedua Negara ini. Sambil bercanda, serentak saya dan kawan-kawan dari Indonesia berkata: “Kamu hati-hati ya…!!! Jangan terlalu bersorak untuk negaramu, karena kamu berada di ‘kandang’ Indonesia ”.

Tiba-tiba pandanganku berarah pada sebuah meja. Ternyata makanan kami sudah habis :)
 

~Kediri, 27 Maret 2015

Kamis, 26 Maret 2015

Zikir india

Akhirnya menulis juga. Setelah sekitan lama berlarut-larut dalam kemalasan dan mungkin juga kurang waktu yang kondusif untuk menulis.

                                              ***

Malam ini, malam jumat. Malam yang menurut islam adalah malam yang cukup special di antara malam-mala lain. Di sini umat islam di anjuurkan untuk beribadah sebanyak-banyaknya. Beribadah horizontal maupn vertical.

Saat menulis artikel ini, saya sedang berada di Kediri pare provinsi jawa timur. Tidak jauh dari kabupaten ini, terdapat kota Surabaya yang terkenal dengan sebutan kota santri atau semakin dekat lagi dengan kampong asal salah satu presiden republic Indonesia, GUsdur. Cukup berasalan apalagi jika di tarik kebelakang tentang sejarah lahirnya salah satu organisasi islam besar di Indonesia bahkan di dunia, nahdatul ulama. bisa dikatakan daerah inilah atau dalam skop proviinsi maka provinsi jawa timurlah yang merupakan basis Nahdatul ulama ini.

Salah satu cara yang digunakan NU dalam mempertahankan dan menyebarkan agama adalah dengan mendirikan pesantren-pesantren. dalam perkembangan NU, tentunya mengalami pergualantan dengan zaman. Mungkin dahulu terkesan eksklusif namun hari ini hal itu tidak dapat dihindarkan lagi dari arus modernitas yang semakin membesar.

Kembali ke situasi malam ini (baca: jumat). Zikir dilakukan di masjid-masjid. Bukan hanya di masjid melainkan di rumah-rumah pun dilakukan. Namun ada yang menarik untuk di telisik. Malam ini dikumandangkan zikir darimasjid-masjid. Saya melihat kreatifitas dan upaya keluar dari sikap tradisional yang umum disematkan kepada warga nahdiyin (NU).  Jika dahulu zikir dilakukan dengan ‘kaku’, tapi tidak dengan mala mini.

Terdengar zikir yang dilantunkan saat ini ada nuansa music dari Negara lain. Mungkin bagi pencinta film india tidak akan asing mendengar instrument zikirnya. Zikir yang diucapkan di kombinasikan dengan instrument lagu india, yang jika tidak salah judulnya kuchu-kuchu ho tahe (hehe… maaf jika salah tulis judul). 

Hemat saya ini cukup menggelitik. Saya yakin jika hal ini di bawa pada masyarakat tradisional yang lain akan menimbulkan resistensi.  Tapi bagi saya ini kreatifitas yang mencoba memasuki “suasana kebatinan” masyarakt modern yang hari ini secara perlahan terus di tarik dalam pusaran budaya modernitas terlebih hari ini arus budaya india mulai menyerang budaya Indonesia. 

Selama tidak menghilangkan nilai-nilai islam atau substansi dari islam itu sendiri, maka sah-sah saja. Karena islam bukanlah agama yang lahir dalam ruang hampa. Islam lahir dalam pergulatan budaya, ruang dan waktu yang begitu besar dan lama. 

*karena malas membaca kembali dan meng-edit maka jika ada kata, kalimat dan penyusunannya yang kurang tepat, tolong maafkan. Silah masukan saran saja agar diriku memperbaikinya. Hehehe…

*tulisan ini terjadi saat mendengar lantunan zikir di seantero langit Pare, Kediri. 26 Maret 2015.