Sabtu, 29 Januari 2011

Kekayaan Alam Melimpah Juga Manusianya Cerdas

Ketika orang bertanya tentang kelebihan yang dimiliki Indonesia maka hampir setiap orang menjawab Indonesia kaya akan sumber daya alam. Tidak dapat dipungkiri Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah. Bahkan pernah ada ungkapan Indonesia harusnya menjadi tempat meminta pertolongan bagi Negara-negara asia.

Namun realitas yang tejadi tidaklah semua relevan dengan apa yang dipikirkan. Sumber daya alam yang kita miliki kini tak sedikit dikelolah oleh asing. Kita hanyalah menjadi penonton dan budak di negeri sendiri. Salah-satunya disebabkan karna ketidak siapan mental dan penegetahuan anak negri yang belum mampu berkompetisi. Artinya tidak hanya cukup sumber daya alam untuk memajukan kehidupan bangsa selain itu
diperlukan manusia yang bermental, karakter dan kecerdasan yang mumpuni.

Oleh karna itu perlu ada penekanan pada pendidikan. Pendidikan adalah roh dari sebuah peradaban. Pendidikan selalu sejalan dengan perdaban yang dihasilkannya. Pendidikan yang bagus akan melahirkan peradaban yang baik pula dan sebaliknya.

Negeri kita tengah mengalami krisis pendidikan. Banyak keluaran-keluaran lembaga pendidikan yang tidak menunjukan sikap seorang yang terdidik misalnya banyak elit politik di negeri ini yang keberadaannya justru merugikan rakyat. Lihat saja, tindak KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme). Padahal mereka para elit politik ini berasal dari kalangan terdidik yang bisa dikatakan merupakan jebolan-jebolah perguruan tinggi.

Disini perlu ada rekonstruksi konsep pendidikan. Pendidikan harusnya menjadikan manusia dari tidak tahu menjadi tahu. Manusia yang tidak bermoral berubah menjadi manusia yang bermoral. Juga harus menciptakan manusia yang berkarakter dan mental yang tahan banting. Pendidikan yang selama ini dipahami dalam paradigma mayoritas masyarkat Indonesia hanyalah transfer pengetahuan akademik. Sementara budaya, mental, krakter dan sebagainya di pinggirkan. Sehingga yang kita rasakan sekarang adalah banyak sarjana-sarjana yang kapasitas ilmu pengetahuannya tidak diragukan lagi malah menyusahkan rakyat.

Belum lagi akses pendidikan yang masih susah didapatkan oleh kaum miskin. Apalagi di daerah suku pedalaman yang masih terisolasi dengan perkembangan IPTEK. Ini akan menjadi beban negri jika mereka dibiarkan dalam kondisi tersebut. Secara geopolitik kita memiliki penduduk yang masuk dalam daftar lima besar di dunia dan ini akan menjadi kekuatan yang besar jika jumlah kurang lebih 230 juta jiwa ini memiliki SDM yang berkualitas.

Saya salut kepada pak Anis Baswedan (Rekto Universitas Paramadina) yang menggagas pendidikan bagi masyarakat pedesaan juga pedalaman. Program yang dicanangkan itu dinamakan Indonesia Mengajar (IM). Program ini mengajak mahasiswa untuk terjun langsung ke masyarakat kalang bawah (gress root) sehingga dapat belajar untuk merasakan penderitaan mereka yang di bawah. Sehingga nantinya ketika mereka menjadi pemimipin maka mereka akan mempimpin dengan kepemimpinan yang pro rakyat karna mereka sendiri telah merasakan penderitaannya.

Inilah contoh kecil dari langkah mencerdaskan anak bangsa meeskipun bagian kecil dari keseluruhan. Namun apresiasi harus kita berikan dan tak lupa kita turut serta mengambil peran dan kreatif dalam memajukan pendidikan negeri ini. Sehingga ketika orang bertanya : apa kelebihan yang dimiliki oleh Indonesia? Maka kita akan mendengar jawaban: selain kekayaan alam yang melimpah juga manusianya cerdas.

Makassar, 27 Januari 2011

Ufo, Dajjal dan segitiga bermuda

Dalam buku yang ditulis oleh seorang ilmuwan muslim Muhammad Isa Dawud, kurang lebih menjelaskan tentang fenomena Unidentified Flying Object yang disingkat dengan UFO yang memiliki keterkaitan dengan Dajjal dan segitiga Bermuda. UFO yang diduga sebagai pesawat milik Dajjal memiliki kecepatan yang tak sebanding dengan pesawat buatan manusia sekarang. Menurutnya UFO memiliki pangkalan di ruang dalam segitiga Bermuda.

gambar : goggle.com
Dalam tulisannya, beliau menggunakan referensi diantaranya pengalaman ketika melihat sendiri UFO, manuskrip-manuskrip kuno, Al-Quran, perenungan (analisis) dan pengalaman orang yang pernah melihat UFO. UFO adalah term yang diartikan untuk bnda-benda angkasa yang tak memiliki identitas sehingga di katakan pesawat luar angkasa. UFO adalah pesawat masa depan yang memiliki tekhnologi tinggi. Artinya pengetahuan yang memproduksi pesawat itu adalah pengetahuan yang telah maju dibanding pengetahuan manusia sekarang.

Dajjal dalam perspektif islam adalah manusia yang akan hadir menjelang kiamat besar.
Dajjal akan membawa dan mengajak manusia berpaling pada Tuhannya. Dalam buku itu Dajjal dijelaskan telah hidup namun keberadaannya belum diketahui secara pasti. Dia adalah manusia yang bisa dikatakan sebagai manusia yang bersekutu dengan raja iblis sehingga dia disebut dengan manusia stengah iblis.

Kecerdasan Dajjal melebihi manusia sekarang. Jika manusia sekarang menemukan tekhnologi pesawat maka dajjal telah menemukannya 100-200 tahun yang lalu. Artinya analisis manusia sekarang belum secara pasti mampu menjelaskan teknologi yang diciptakan oleh dajjal, termasuk UFO.

Terkait dengan penemuan crop circle di ladang sawah, di Daerah Istimewah Yogyakarta ini memiliki keterkaitan dengan UFO. Namun hal itu dibantah oleh tim dari lembaga penerbangan dan antariksa nasional (LAPAN). Dengan bukti-bukti yang didapatkan misalnya crop circle memiliki titik tengah yang merupakan bekas pipa atau benda yang dapat digunakan sebagai pusat dari lingkaran untuk membuat crop circle sehingga mereka memastikan bahwa crop circle bukanlah jejak pendaratan UFO.

Namun ada juga yang meyakini crop circle sebagai jejak UFO. Mereka menyatakan sangat kecil kemungkinan manusia membuat membuat jejak itu dalam waktu semalam. Karna pada sore hari crop circle belum ada dan pada ke esokan harinya jejak itu telah ada. Lagi pula alam semesta ini telah ada sekitar 4,5 miliar tahun yang tak sebanding dengan kehidupan manusia yang diperdiksi baru sekitar satu juta tahun, ditambah lagi bumi hanyalah salah-satu benda angkasa yang ada di galaksi bima sakti (satu dari miliaran galaksi di alam semesta), kompas, 26/01/11]. Dengan ini tentunya akan banyak misteri yang tersembunyi yang belum terungkap oleh pengetahuan manusia yang terus mecari ini. Apa lagi pengetahuan manusia kontemporer banyak terjebak pada logika empiris-positivistik yang cenderung tidak membenarkan hal yang bersifat gaib maka konsekuensinya akan tidak mempercayai keberadaan UFO tersebut. Hal ini juga relevan dengan pendapat Muhammad Isa Dawud dalam bukunya yang membahas tentang hubungan Dajjal, UFO dan segitiga bermuda. Dimana ilmuwan muslim ini menjelaskan bahwa Dajjal adalah manusia cerdas yang mampu membuat tekhnologi yang belum mampu di ciptakan oleh manusia sekarang. Artinya analisis ilmuwan sekarang sedikit kemungkinan akan mampu menjelaskan tentang kemampuan pesawat yang diduga milik Dajjal itu (UFO).

Lihat saja, telah banyak kapal laut dan pesawat udara yang hilang di area segitiga Bermuda. Kapal-kapal dan pesawat itu hilang tanpa meningalka jejak. Ilmuwan sekarang tidak secara pasti menjelaskan dimana keberadaan kapal dan pesawat. Tapi menurut Muahammad Isa Dawud diduga disembunyikan disebuah ruang yang diciptakan oleh Dajjal dengan kecerdasan yang tinggi yang belum dimiliki oleh manusia sekarang. Dan ruang itu adalah segitiga bermuda. Apa lagi crop circle bukan hanya di Indonesia ditemukan namun di Amerika dan Eropa pun telah banyak ditemukan. Ini mengindikasikan bahwa jejak itu adalah berasal dari sumber yang sama.

Makassar, 26 Januari 2011

Seni vs Hukum

Di tengah carut marutnya hukum di negeri kita. Rakyat tak menemukan titik terang mengenai kasus-kasus pelanggaran hukum. Hukum bagaikan komoditas yang diperjual belikan. Kasus century, joki nara pidana (napi), seorang kepala daerah yang dilantik secara bersamaan menjadi terdakwa kasus korupsi dana APBD, kasus gayus dan berbagai kasus lainnya masih meninggalkan segudang misteri.

gambar: google.com
Penyimpangan hukum ini kemudian tidak membembuat masyarakat tidak diam begitu saja. Kondisi masyarakat yang masih diderah oleh berbagai permasalahan tentang ketidakadilan memberikan berbagai protes. Tak terkecuali seorang bona.Melalui lagu yang berjudul “andai aku jadi gayus” dia
melakukan aksi protes. Dia menggambarkan realitas hukum di negeri ini terkait kasus gayus.

Seorang napi ini mengungkapakan isi hatinya terhadap bentuk diskriminasi keadilan dalam Negara yang katanya menjunjung tinggi keadilan ini. Dengan uang seorang pelaku kejahatan bisa meraja lelah. Hukum seperti komoditas yang dapat diperjual belikan. Mereka yang tak memiliki uang akan mudah terjerat hukum sedangkan mereka yang beruang akan mudah keluar dari jeratan hukum.


Pencipta sekaligus pelantun lagu “andai aku jadi gayus” ini sangat kreatif dalam mengungkapkan kegelisahan hatinya. Melihat perkembangan industri musik yang begitu pesat maka seorang bona menggunakan media ini untuk menyalurkan aspirasinya dan sekaligus mewakili semua masyarakat yang merindukan keadilan. Lagu ini akan dan telah mengingatkan kepada para pemangku kebijakan hukum dinegeri ini. Terlebih pimpinan pucuk dari negeri ini yang sangat sangat suka dengan musik. Buktinya, pak presiden kita sudah berapa kali mengeluarkan album rekaman lagu. Ini akan membuat mereka yang tertidur dan pura-pura tidur terhadap ketimpangan hukum dinegeri ini akan tebangun dari tidurnya. Terbangun agar mereka tahu bahwa rakyat sedang dalam ketidakadilan oleh tingkah mereka.


Produk Industri musik kontemporer yang dalam lirik-liriknya didominasi tentang lagu yang beraroma ‘cinta’. Kini melalui seorang bona, lagu menjadi sebuah alat kritik. Seperti halnya kebanyakan lagu yang dilantunkan oleh bang Iwan Fals, Slank dan kini bona telah menjadikan seni (lagu) sebagai alat pembebasan. Dan mudah-mudahan dengan seni yang selalu didindentikan dengan keindahan dapat membawa keindahan di negeri yang haus akan keadilan ini.

Minggu, 23 Januari 2011

Termotivasi menulis

Membaca tulisan-tulisan yang dipost oleh temanku di sebuah blog membuatkau semakin termotivasi untuk menulis. Menulis apa saja yang ide yang menghinggapi pikiran yang terus berkecamuk. Sebenarnya yang menghambat orang untuk menulis salah-satunya adalah ketiadaan ide atau inspirasi untuk menulis. Mungkin sepeti yang saya rasakan sekarang. Hehehe.

Tapi apakah saat ini aku kehilangan ide untuk menulis? Saya tadinya merasa begitu. Namun, kata-perkata kutuangkan dalam bentuk tulisan mejadi bukti bahwa sekarang aku sedang tidak kehilangan ide. Mungkin ini lucu dan mungkin sedikit agak filosofis. Karna tulisan ini adalah tulisan bebas yang lahir dari pikiran yang sedang tidak tersitematis. Mungkin pembaca bingung, mudah-mudahan begitu. Karna kebingungan adalah bukti bahwa anda sedang menginginkan adanya ide. Dan mudah-mudahan dengan ide itu dapat menjadikan membuktikan keberadaan anda dalam tulisan.
Salam ide

Rabu, 12 Januari 2011

Aspal buton, Aspal Dunia

Sungguh banyak karunia Tuhan kepada bangsa Indonesia. Berbagai kekayaan alam yang di berikan, baik di darat maupun di laut. Di laut terdapat pantai yang eksotik dan terumbu karang yang indah. Sedang di darat terdapat hutan banyak kandungan bumi yang dimilikinya. Melihat realitas ini, ada yang mengatakan bahwa Indonesia harusnya menjadi tempat pertolongan negara-negara lain. Namun faktanya sebaliknya.

(gambar: google.com)
Lihat saja, kekayaan alam yang satu ini yaitu aspal di pulau buton. Di dunia ini hanya ada dua aspal alam. Kalau yang biasa di kenal dari pulau Trinidad di laut Karibia. Berikut adalah aspal di pulau buton, provinsi Sulawesi tenggara, lebih tepatnya di kecamatan Pasarwajo.

Fakta tentang aspal buton ini ternyata tak membuat pemerintah tertarik untuk mengelolahnya. Sebenarnya sebelumnya pernah ada perusahaan yang mencoba untuk mengelolahnya namun terhenti di tahun 1970-an. Hal ini disebabkan karna pendapatan tidak sesuai dengan biaya operasi.

Dilihat dari cadangan aspal yang dimiliki, aspal buton lebih banyak dari aspal Trinidad. Aspal buton diperkirakan memiliki kandungan 450 juta ton. Sehingga diperkirakan dapat digunakan sampai 200 tahun ke depan (kompas, 4/1/11).

Kebetulan saya pernah mengunjungi daerah tembang tersebut. Sekarang tengah ada beberapa perusahaan swasta yang mengelolahnya. Daerah aspal maka infra struktur jalannya harus lebih baik. Harusnya kalimat itu terkatualisasi di daerah aspal ini. Namun faktanya tidak demikian adanya. Lihat saja, jalan yang menghubungkan antara kecamatan Pasarwajo dengan ibu kota kabupaten buton tidak layak untuk digunakan sebagai jalan. Padahal infrastruktur jalan sangat berpengaruh pada mobilitas perekonomikan masyarakat setempat.

Kelihatan pemerintah tidak responsif terhadap potensi ini. Padahal masyarakat butuh kerja untuk melepas status penganggurannya. Butuh dana untuk kebutuhan hidupnya. Juga jika hasil bumi ini dikelolah oleh Negara maka akan menyokong APBN. Pemerintah hanya sibuk untuk menderegulasi sehingga imbasnya memberikan kebebasan sebesar-besarnya kepada investor untuk mengesploitasi sumber daya alam kita. Aspal buton hanya contoh kecil dari sekian sumber daya alam Indonesia yang diekpsloitasi oleh swasta.

Makassar, 11 Januari 2011

di kompasiana.com/marwan_antopulo

Sabtu, 08 Januari 2011

Rekreasi di Pantai Losari yang Memiriskan

(gambar: google.com)
Telpon gengamku berdering. Seorang teman mengajakku kesuatu tempat. Teman yang bisa dikatakan tiap hari denganku sehingga mengetahui apa yang harus kami lakukan. Melihat rutinitas yang monoton, mengajak saya untuk pergi merefresing pikiran sekaligus mencari inspirasi. Bersama dengan beberapa orang teman lainnya, kami mengunjungi sebuah tempat rekreasi di Makassar yaitu Pantai Losari.

Disana saya meghampiri sebuah kendaraan laut yang merupakan salah-satu fasilitas yang disediakan di pantai itu. Namun kami tidak menggunakannya, cukup melihat-lihat saja sudah puas. Dengan gemerlap cahaya lampu membuat malam itu semakin seru. Lampu sorot ‘trans studio’ yang berada didepan pantai losari semakin memperindah pemandangan malam itu. Trans tudio yang katanya salah-satu tempat bermain yang besar di Asia Tenggara. Di dalamnya memiliki banyak hal yang baru, sebagai daya tarik tersendiri yang berbeda dengan pantai losari dan tempat-tempat rekreasi lainya di Makassar. Namun kelebihan yang dimilikinya tak dapat kami kunjungi malam itu.

“Disana mahal, uang masuknya saja Rp 100.000,-“ kata seorang teman.

Aku langsung menjawabnya “Disini saja, disinikan meskipun berbeda dengan trans studio tapi tak kalah menyenangkan” .

Akhirnya semua mengiyakan maksud untuk menikmati saja keindahan pantai losari. Dengan kamera yang dibawa oleh sala satu teman kami segera mendokumentasikan rekreasi malam itu. Bukan hanya kami yang mengunjungi tempat itu. Banyak orang yang mungkin sama dengan kami untuk melepas kerutinan. Mungkin juga hanya sekedar jalan-jalan biasa.

Tapi saya yakin mereka sudah bosan dengan keadaannya. Yah, merekalah yang dalam kesehariannya mencari nafkah di situ. Mereka adalah pedagang asongan, tukang becak, yang ngamen atau seperti yang dikatakan oleh seorang teman, mereka adalah korban dari rezim yang tengah berkuasa. Mereka adalah pemandangan yang biasa di tempat ini. Dan mungkin juga di tempat-tempat keramaian lain di Makassar dan saya yakin di kota besar lainnya juga.

Anak kecil yang seperti yang diilustrasikan oleh penyanyi ‘Iwan Fals’ dalam sebuah lirik lagunya yang berjudul “si budi kecil”. Si Budi kecil adalah seorang anak yang dalam kesehariannya mencari nafkah membantu keluarganya. Umurnya masih seumuran anak taman kanak-kanan atau sekolah dasar. Harusnya malam itu mereka istrahat dirumah sambil belajar dan mungkin juga bermain. Mereka hidup di bawah garis kemiskinan sehingga si budi kecil pun harus merasakan penderitaan yang tidak sepatutnya dirasakan oleh anak seumurnya. Penderitaan yang dialaminya sungguh keras. Bagaimana tidak, Ibu Kota adalah pertarungan melawan kematian yang sangat keras. Dimana-mana orang saling merebut makanan dan uang yang semakin langkah karna diakumulasi oleh segelintir orang saja.

Bukan hanya si budi kecil, Ibu-ibu yang telah lanjut usia maupun yang belum turut meraimakan pemandangan di pantai losari malam itu. Selain itu bapak tukang parkir yang tidak bosan-bosannya menjaga kendaraan pengunjung dan semua teman-temannya yang menjadi korban dari rezim berkuasa. Jika dilihat sepintas hidup ini rasanya tidak adil. Pemandangan yang sangat kontras telah membuatku semaki miris merasakanya. Pembangunan kota yang begitu megah dari segi infra struktur. Tempat rekreasi yang cukup banyak dan jika di hitung dana untuk untuk membangunnya maka sungguh tidak sedikit. Sementara di samping pemandangan bangunan yang tersusun rapi itu terdapat mereka yang berpakaian compang-camping , kusut dan kotor sendang mencari sesuap nasi. Mereka yang melalui mereka dengan mobil berplat hitam pun jarang menghiraukan mereka.

“Beli jualanku kak” kata si budi kecil. Ingin membeli, namun uang yang ku bawa tak cukup. Namun disela-sela pertemuan dengannya aku melemparkan pertanyaan padanya.

“Dek’ kelas brapa sekarang dan dimana sekolah?” tanyaku.

“Tidak sekolah kak’”

“Kenapa”?

“Pace sama maceku tidak punya uang kak” (pace, mace = ayah, ibu dalam bahasa Makassar)

Demikian potongan ceritaku dengan si budi kecil. Dan jika realitas ini tetap dibiarkan. Mereka dan si budi kecil tetap susah atau tidak bisa mengakses pendidikan. Maka mereka tidak mampu mengatasi tuntunan zaman yang memutlakan pengetahuan yang memadai. Sehingga mereka hanya akan memproduksi kembali kehidupan yang sama yaitu kemiskinan karna kemisikinan selalu sejalan dengan kadar pengetahuan yang dimilikinya.

Demikianlah sedikit potret kehidupan masyarakat perkotaan.

Makassar, 7 Januari 2011

Kamis, 06 Januari 2011

Gairah Anak Kos

Menjadikan seseorang mandiri. Namun sisi negatif dari rumah kos adalah kurangnya bahkan tidak adanya pengontrolan dari keluarga. Tulisan ini akan sedikit mengulas, suatu acara di salah-satu stasiun televisi yang menulusuri pergaulan bebas (transaksi seks) dikalangan pelajar dan mahasiswa yang terjadi di kos-kosan.

Mungkin ketika berbicara tentang tempat kegiatan prostitusi maka pikiran kita akan tertuju pada tempat-tempat yang telah dilokalisasi atau yang sejenisnya. Namun kini fenomena yang terjadi pada masyarakan urban telah terjadi di rumah kos. Tempat ini dipandang sangat strategis agar tidak tercium oleh masyarakat sekitar bagi yang berprofesi sebagai penjajah seks.

Jika ditanya perihal yang dilakukannya, para pelajar ataupun mahasiswa beralasan karna himpitan ekonomi. Dimana mereka (baca:para penjajah seks) tidak mampu membiayai kebutuhan hidupnya terutama pendidikan. Dan sebagian dari mereka tergolong dalam keluarga yang tidak berkecukupan.

Tidak dapat dipungkiri tekanan ekonomi dapat memaksa orang untuk melakukan sesuatu. Namun itu bukanlah satu-satunya alasan untuk menjajahkan seks. Selain itu, moralitas pun memegang andil terjadinya transaksi seks ini. Menurut seorang pengamat perkotaan, ‘kehidupan di kota-kota besar sangatlah rentan dengan gaya kehidupan ala barat‘. Kita ketahui, banyak perbedaan antara gaya kehidupan ala barat dengan karakter timur (Indonesia). Karakter masyarakat barat ditandai dengan materialisme dan sedikit menekankan niliai spiritualitas dalam hidup kesehariannya sehingga hedonisme mutlak terjadi. Sedangkan timur (Indonesia) sangat kental dengan kehidupan spiritual yang mengajarkan keseimbangan antara materi dan nilai trasendent.

Ulasan dalam tulisan ini terkonsentrasi pada salah-satu kota metropolis yang ada di Indonesia. Bandung namanya. Dalam sebuah penelusuran, seorang pengelolah rumak kos membebaskan penghuni melakukan transaksi seks di dalam kamar kos. Dari pengakuannya, agar tidak kehilangan penghuni dan pengejaran materi sehingga memperbolehkan transaksi seks itu dilakukan. Bahkan ada sebuah rumah kos yang telah menyiapkan ‘wanita’ yang siap menjajakan seks sebagai daya tari tersendiri dari rumah kos tersebut.

Seorang pengamat perkotaan melanjutkan, ‘di kota besar Indonesia termasuk Bandung segala hal dapat dijadikan komoditas yang dapat diperjual belikan termasuk seks’. Diperkotaan persaingan ekonomi sangat keras dan arus moderenisasi sangat cepat. Demi ’survival’ maka sekspun harus dikorbankan. Ditambah arus moderenisasi telah membawa budaya barat (westernisasi) semakin meraja lelah. Diperparah lagi, masyarakat kurang mengantisipasi dan menyeleksi secara ketat arus moderenisasi ini. Ujung-ujungnya masyarakat terjebak dalam ‘westernisasi’.

Selain tekanan ekonomi dan moralitas, manajemen kos juga memegang peran yang cukup besar dalam realitas ini. Sebagai mahasiswa kos-kosan, saya melihat bahwa kebanyakan manajemen rumah kos sekarang mengikuti prinsp jual -beli. Ketika pembeli sudah menyerahkan uang dan penjual menyerahkan barang yang dijualnya maka semua transaksi selesai. Penjual tidak peduli lagi dengan barang yang dijualnya dan diserahkan sepenuhnya kepada pembeli. Begitu juga dengan rumah kos. Ketika pihak pengelolah menerima uang dan penyewa kamar kos sudah menerima kunci kamar kosnya maka transaksipun selesai. Pengelolah kos tidak melakukan pengontrolan kepada para pengguna kamar kos. Mereka dibiarkan begitu saja meskipun moralitas tergadaikan.

***
Ada beberapa catatan penting dalam yang dapat kita ambil, yaitu kehidupan moderenisasi telah membawa manusia pada jebakan gaya kehidupan barat yang hedon salah-satunya transaksi seks. Hal itu terjadi ketika penyeleksian secara ketat tidak digalakan. Tidak dapat dipungkiri tekanan ekonomi dapat memicu terjadinya transaksi seks namun bukanlah menjadi satu-satunya alasan bahkan pengaruh hedonismelah yang menjebak manusia pada untuk melakukan transaksi seks ini. Dan terakhir adalah manajemen rumah kos yang kurang memperhatikan pembatasan pergaulan bebas dan kepedulian moral.

Makassar, 5 Januari 2011
ket: telah diposting di kompasiana.com/marwan_antopulo

Rabu, 05 Januari 2011

Kuburan tak Bermayat (sebuah cerpen)

Pak Tarno namanya. Bapak yang di biasa di sapa dengan pak guru itu hidup dalam kesendirian. Bukannya dia tidak memiliki anak layaknya orang tua lain. Dua orang anaknya telah lama meninggalkan dirinya dari kampung ini. Bukannya meninggal atau telah menghadap pada sang Ilahi. Kedua anaknya, satu pria dan satunya lagi wanita telah menempuh jalannya masing-masing karna telah mendapat pekerjaan di kota. Pria yang berbadan agak membungkuk ini mengandalkan gaji hasil mengajarnya di sebuah sekolah sebagai penopang hidup ditengah kesemrawutan ekonomi masyarakat. Anaknya sesekali mengirimnya uang untuk membiayai kehidupan dimasa-masa tuanya itu. Namun uangnya hanya digunakan untuk keperluan-keperluan sosial termasuk menyediakan fasilitas belajar disekolah tempat Ia mengajar. Anaknya juga pernah mengajaknya untuk tinggal di kota meninggalkan kampung namun lagi-lagi pak tarno terpaksa menolaknya.

(gambar: google.com)
Dia seorang guru dalam sebuah sekolah non formal di kampungnya. Bisa dikatakan dia sendiri yang mengelolah sekolah itu, bagaikan cerita lascar pelangi. Dia bagaikan oase di padang pasir tatkala manusia-manusia dahaga mencari air. Karna jasa pak Tarno, banyak anak-anak dikampung tempat pak Tarno tinggal menjadi anak-anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya.

Tak jarang juga kita mendengar perkelaihan, perjudian dan berbagai kemaksiatan dan kerusakan moral yang ada dikampung yang sedikit-demi sedikit telah mengadopsi kehidupan modern ala perkotaan itu. Mungkin inilah alasan pak guru ini untuk menolak ajakan anak-anaknya untuk hidup bahagia serba kecukupan di kota. Di tengah kegersangan moral, pak Tarno hadir sebagai penyejuk batin bagi para pemuda di kampung itu. Jasa-jasa guru kampung ini sangat tidak terhitung jumlahnya sehingga dia dianggap sebagai tokoh masyarakat dan sangat dihargai. Pria yang selalu berpenampilan sederhana ini selalu mengajak masyarakat untuk mendekatkan diri kepada sang Khalik. Dia selalu mengingatkan tentang datangnya kematian yang tidak bisa ditentukan waktunya oleh manusia. Dia selalu mengingatkan tentang siksa di akhirat nanti ketika perintah dan larangan tuhan diabaikan. Inilah motivasi ayah dua anak ini untuk memperbaiki moral kampung itu.

Ditengah kegersangan tanah yang telah sediki demi sedikit memperoleh air. Dan air itu telah membasahi jiwa-jiwa pemuda yang gersang ini maka guru kampung ini pun terlihat aneh di mata masyarakat. Di halaman rumah pak Tarno dikelilingi oleh kebun untuk bercocok tanam sebagai kegiatan sampingan pak Tarno. Selain mengurusi pohon-pohon yang di tanaminya, ada hal aneh yang dilakukannya yang tidak wajar bagi masyarakat kampung. Ada dua kuburan yang yang tiap hari dirawatnya. Yaitu di halaman belakang dan depan rumahnya. Masyarakat kampung menganggapnya sebagai orang yang munafik. Karna selama ini dia yang mengajarkan orang agar lebih mendekatkan kepada sang pencipta, agar masyarakat memfokuskan dirinya pada Tuhan yang Esa. Kini dia dianggap sebagai pembawa ajaran sesat.

Tidak ada yang pernah meninggal sepengetahuan masyarakat. Tiba-tiba mereka melihat ada kuburan yang hampir setiap hari dirawat oleh pak Tarno. Kekesalan masyarakat terhadap guru kampung itu mencapai puncaknya ketika mereka melaporkan kejadian itu kepada kepada kepala kelurahan. Dan mereka mendatangi kediaman pak Tarno untuk dimintai pertanggung-jawaban. Dengan kepala dingin pak Lurah mencegah pembakaran rumah pak tarno ketika masyarakat berusaha membakarnya. “Tenang…tenang…jangan terbawa emosi, masalahnya belum jelas kita tanyakan dulu pada pak tarno” ujar pak Lurah. Salah seorang yang ingin membakar rumah pak Tarno berkata “tapikan ini sudah jelas, dia membawa ajaran sesat di kampung kita”. “Kalau tidak segera diusir dari kampung ini maka akan membawa bencana bagi kita semua”, seorang lagi berkata. Beginilah pemikiran orang kampung.

Desas-desus masyarakat kian memanas akhirnya pak Tarno bicara juga.”Begini saudara-saudara, persepsi kalian tentang saya itu tidak benar”, berkata pak Tarno sambil berjalan medekati warga. Beliau melanjutkan, “jika kalian melihat kuburan ini tiap hari bukan berarti saya membawa ajaran sesat di kampung kita ini”. Belum selasai pak Tarno bicara seorang warga langsung menjawab dengan nada keras “kalau begitu untuk apa kuburan itu ada?”. Pak Tarno terdiam sejenak dan kecurigaan warga pun semakin memuncak. “Kuburan itu hanyalah simbol tentang kematian yang tidak ada penghuni di dalamnya, dia saya buat agar saya terus mengingat kematian dan dengan itu saya selalu mendekatkan diri kepada sang pencipta” pak Tarno menjawabnya dengan nada suara yang tenang.

Mendengar jawaban pak Tarno, emosi masyarakatpun mulai meredah. Masyarakat mulai sadar tentang keseharian mereka. Mereka lupa dengan kematian sehingga belum mempersiapkan diri untuk mengahadapinya. Pak Tarno memang guru kampung. Apa yang dilakukannya adalah nasehat agar selalu mendekatkan diri kepada sang Pencipta. Selama ini yang mereka lihat di halaman rumahnya bukanlah karna pak Tarno membawa ajaran baru. Namun hanyalah simbol agar manusia selalu mengingat kematian. Inilah maksud dari KUBURAN TAK BERMAYAT itu.

Makassar, 5 Januari 2011
Lagi belajar menulis cerpen
ket: telah diposting di kompasiana.com/marwan_antopulo

Minggu, 02 Januari 2011

Tahun baru, Sudahkah kita baru?

Waktu terus berjalan tanpa berhenti sedikitpun. Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun terus berganti. Kita memiliki jatah waktu yang sama dan tidak ada yang dikurangi sedikitpun. Entah orang baik ataupun jahat. Setiap orang meiliki 365 hari dalam waktu satu tahun.

(gambar: google.com)
Karna waktu kita berproses berubah dan menjadi . Waktu adalah kesempatan untuk beraktifitas. Waktu terus bergulir untuk memfasilitasi kita agar dapat beraktifitas mencari sesuatu yang lebih baik. Tahun 2010 dan tahun-tahun sebelumnya telah kita lalui. Entah sejarah apa yang telah kita torehkan. Sukur, kalau itu bermanfaat bagi diri sendiri terlebih bagi lingkungan sekitar kita. Tapi seandainya sejarah menimbulkan kerugian, alangka sia-sianya waktu.

Tahun baru adalah awal yang baru. Awal yang baru bagi mereka yang ingin baru. Baru untuk berbeda dengan sebelumnya. Jika sebelumnya kita berbuat salah atau tidak bermanfaat maka tahun baru, haruslah ditinggalkan untuk diganti dengan yang benar dan bermanfaat. Jika sebelumnya juga kita berbuat bermanfaat maka perbuatan itu harus ditingkatkan lagi. Perbuatan harus terus diperbaharui untuk menjawab tuntutan zaman yang terus berubah.

Bukanlah kemajuan jika hari ini masih sama dengan kemarin. Terlebih jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin. ketika hal ini terjadi, suatu waktu ungkapan ‘menyesal’ tak dapat kita hindarkan. Oleh karna itu waktu yang ada harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Teruslah memperbaharui kehidupan dengan hal yang baru dan lebih baik. Jangan sampai keberadaanmu sama dengan ketidak-beradaanmu. Bahkan lebih parah lagi jika ketidak-beradaanmu lebih baik dari keberadaanmu.

Jadi, sejatinya tahun baru adalah awal yang baru. Dan sudakah kita baru?

Makassar, 1 Januari 2011

Sabtu, 01 Januari 2011

Perayaan Tahun Baru dan Hedonisme

Begitu meriahnya perayaan tahun baru Masehi. Dimana-mana, diseluruh nusantara membincangkan hal ini terlebih merayakannya. Di media massa pun ramai membicarakannya. Permaslahan di negeri ini seolah-olah mengalami rehat sejenak akibat perayaan tahun baru ini.

Seremonial ini bagaikan kewajiban semua masyarakat Indonesia. Sedangkan nenek moyang kita dahulu jarang bahkan tak pernah merayakan hal ini. Artinya budaya ini bukanlah karakter yang kita miliki. Kita hanya mengadopsi apa yang dilakukan oleh barat sehingga menjadi kebudayaan yang akan menjadi karakter masyarakat yang akan mengarahkan pada sifat hodonisme.

Perayaan ini hanya merepresentasikan tentang budaya hura-hura (hedonisme) yang tidak pernah ada dalam budaya timur. Jika kita menelisik lebih dalam sesungguhnya kebanyakan perayaan tahun baru hanyalah seremonial formal yang tak bersubstansi. Kita hanya asik dengan kegiatan tanpa merenungi makna perputaran waktu.

Pernakah kita renungkan, berapa biaya yang dihabiskan untuk merayakan tahun baru ini? Sementara masih banyak saudara-saudara kita yang masih memerlukan dana untuk biaya hidup sehari-hari. Kita mengahabiskan dana untuk membeli alat, pernak-pernik dan sejenisnya hanya untuk dihabiskan dalam waktu bebetapa jam saja. Coba bayangkan uang yang hilang untuk membiayai seremonial pergantian tahun. Seandainya dananya kita gunakan untuk menolong ekonomi saudara-saudara kita maka setidaknya akan mengurangi beban hidupnya.

Tidak kita sadar setiap tahun bertambah dan umur kitapun bertambah namun usia kita semakin menuyusut. Sejatinya, tahun baru harus dijadikan sebagai momentum renungan dan perubahan. Tahun baru harus menjadi awal aktifitas positif yang baru. Bukan dengan diawali dengan aktifitas negatif atau perayaan tahun baru dengan hura-hura.

Makassar, 1 Januari 2011

ket: tulisan ini telah diikutkan pd lomba yg diadakan oleh kompasiana.com

*#$>%$^#**#&**%(*6*#&&^%

Mungkin pembaca bingung apa maksud dari judul tulisan ini. Saya sendiri sebagai penulis, juga bingung. Bingung tentang keadaanku saat ini. Saya ingin menulis tapi tidak tau apa yang harus ku tulis. Namun aku bingung, apakah tulisanku ini adalah ekspresi kebingungan atau jawaban atas kebingungan. Mungkin butuh waktu yang cukup untuk memikirkannya.

Muda-mudahan anda (pembaca) tidak bingung dengan tulisan ini. Dan ketidak bingungan anda akan menjawan kebingunganku. Sebenarnya saya membingungkan semua yang ada disekitarku namun ada yang satu yang tidak membuatku bingung yaitu saya tidak membiungungkan bahwa aku sedang bingung.

Inilah ekspresi yang tidak jelas.
Bingung…!!! Wajar karana saya juga bingung.
Lucu…!!! Tertawa saja, selama tidak di larang.
Saya juga bingung apa maksud dari tulisan ini. Hahaha…

Makassar, 1 Januari 2011
ket: tulisan ini telah diikutkan dilomba yang diadakan oleh kompasiana.com