Senin, 26 September 2011

Demokrasi tanpa masyarakat demokrat

Ironis, jika negeri yang diberi gelar sebagai negeri paling demokrasi ketiga di dunia kemudian dalam ranah impelentatif-subtantif tidak menampakan diri. Itulah yang terjadi di Indonesia kita. Saya yakin penilaian ini tidak melihat secara komprehensif tentang esensi demokrasi itu sendiri. Kadang
kita terjebak dalam euforia demokrasi yang mengajak untuk bebas berekspresi dalam berbagai mekanisme dan prosedural.

Sungguh sebuah prestasi yang luar bisa bagi Indonesia sebagai papan atas negara demokrasi. Lihat saja, penyelenggaraan demokrasi Indonesia baru memakan usia yang cukup muda. Sebagian kalangan mengatakan bahwa keterbuakaan demokrasi atau dimulai ketika tumbangnya rezim orde baru. Sejak Indonesia merdeka pada 1945, tidak serta merta menyelenggarakan kebebasan berpolitik setidaknya sesuai dengan standar demokrasi yaitu kebebasan yang berkeadilan. Sukarnao dikenal sebagai pemimpin memaksakan kekuasaannya melalui mekanisme keterpmpianan (demokrasi terpimpin). Demikian pula suharto yang tak kalah otoriter, selama lebih tiga dekade memimpin negeri ini dengan tangan besi. Barulah rezim reformasi yang jalankan kurang lebih 13 tahun, maka kebebasan mulai digalakkan malah sampai kebablasan.

Tulisan ini tidak akan mendalam membahas tentang sejarah demokrasi di Indonesia. Hanya akan melihat pada studi kasus yang terjadi dalam ranah sosial di era reformasi.

Baru-baru ini, sebuah kasus yang terjadi di sebuah kota sebut saja kota X di Indonesia. Seorang pemuda dari daerah Y yang sedang mabuk oleh alkohol, menikam lima orang di kota X. Tiga diantaranya meninggal dan yang lainnya dirawat di rumah sakit. Hal ini menimbukan emosi dikalangan masyarakat kota X.

Sebagai pelampiasan emosi, mereka melakukan aksi balas dendam. Karna seorang Y yang menjadi tersangka pembuhan sehingga warga Y lainnya menjadi korban pelampiasan kemarahan yang tidak tahu apa-apa. Hati nurani siapa saja akan merasakan ketidakadilan terhadap warga Y yang bukan tersangka. Ketidak terlibataan mereka tapi justru mereka yang harus menjadi korban kemarahan.

Membicarakan demokrasi berarti membicarakan bagaimana menciptakan keadilan secara rasional. Sungguh hal yang mencederai demokrasi jika konflik sosial dilandasi oleh sentimen suku. Demokrasi bukanlah kepentingan pihak manapaun melainkan kepentingan kemanusiaan secara universal. Melihat kasus di atas, perlu kiranya melakukan tinjauan ulang tentang predikat Indonesia sebagai negara demokrasi ketiga. Sangat dini menjadikan prosedural demokrasi sebagai prioritas bahkan satu-satunya indikator kesuksesan demokrasi. Keterjebakan kita melihat parameter demikian menjadikan kita dangkal dalam memaknai demokrasi.

Salah-satu parameter demokrasi adalah adanya kecerdasan sosial masyarakat (civil society). Dalam tataran ideal, konflik sosial seperti ini tak perlu terjadi. Apalagi mengatasnamakan suka, agama, antargolongan dan ras (SARA). Konflik mengindikasikan ketidak mampuan merasionalkan secara adil hubungan sosial kemasyarakatan. Bahkan mungkin tak salah banyak pihak yang mengatakan konflik adalah ciri masyarakat tradisional (primitif) dalam memecahkan permasalahannya. Seandainya masyarakat cerdas secara sosial tidak akan ada reaksi yang berlebihan demikian.

Masyarakat demokrat secara kultural adalah masyarakat yang beradab. Pemikiran akan dijadikan langkah yang rasional dalam melihat kasus seperti ini. Sehingga konflik akan diretas dengan dialog yang akan mempersatukan kesepahaman. Dan masyarakat lainpun tidak akan menjadi imbas kekerasan. Coba bayangkan bagaiamana negeri ini jika dalam menyelesaikan masalahnya selalu dengan kekerasan. Inikah demokrasi yang katanya dalam negeri yang paling demokrasi ke tiga.

Pertanyaan kemudian, layakkah Indonesia mendapat gelar sebagai negeri paling demokrasi ketiga di dunia???

Jumat, 23 September 2011

Tomiaku, ternyata kau begini

Ternyata apa yang selalu dikhwatirkan oleh mereka terjadi juga. Mungkin ini adalah sebuah kemutlakan dalam dinamika zaman. Banyak para ahli pemikr social telah mengatakan bahwa kita akan sampai pada fase kehidupan industrial. Fase kehidupan yang ditandai dengan penggunaan tekhnologi dalam banyak aktivitas manusia.

Inilah moderenisme kawan. Sebuah keyakinan baru tentang dunia. Dunia yang semua orang akan tak terhindar darinya. Ilmu pengetahuan dan tekhnologi dalam fase ini adalah sebuah hal yang tak terelakan. Manusia serba cepat dan praktis.

Fenomena ini memiliki dua hal yang selalu bertentangn. Yaitu dampak positif maupun negative. Yah, disini akan menyinggung sedikit hal negative yang dikhawatirkan seperti yang disebutkankan sebelumnya.

Beberapa waktu yang lalu aku mendapati seseorang. Dia adalah nara sumberku perihal sesuatu dalam hal ini realitas sosial di kampong halamanku. Lebih khusus lagi terkait dengan moral anak muda. Terus terang akau kaget mendengar ceritanya. Hal yang dulu sangat tabu untuk diperbincangkan apalagi untuk dilakukan sekrang menjadi hal yang lumrah.

Kita langsung saja pada kasus di masyarakat. Bahwa pergaulan bebas yang melahirkan seks bebas (free sex) telah menjadi wacana yang berkembang di masyarakatku (Tomia, red). Pastinya wacana ini lahir karna adanya indikasi yang tampak di masyarkat sehingga orang membicarakannya. Ternyata hal itu benar seperti pengakuan seseorang (nara sumber) yang saya wawancarai. Dia menceritakan banyak hal terkait pergaulan bebas yang terjadi. Kebetulan dia juga adalah salah-satu subjek yang terlibat dalam kasus ini.

Dia (subjek yang bercerita) dengan terang-terangan menceritakan pada saya tentang apa yang telah dilakukan. Sebelumnya perlu di ketahui bahwa tulisan ini akan bercerita tentang narasumber ketika berada di bangku sekolah menengah atas (SMA).

Mungkin bahasa kasarnya”zina”. Itulah yang fenomena yang masih jarang diketahui oleh orang banyak (masyarakat tomia, red) namun sering terjadi dakalangan siswa SMA. Ketika dulu, saat masyarakat masih tradisional kasus seperti ini jarang terjadi dikalangan muda mudi. Dan jika hal itu terjadi maka dianggap sebagai hal yang tabu dan dosa besar. Namun sekarang ini telah menjadi hal yang lumrah terjadi.

Si subjek mengaku telah melakukan seks bebas dengan sepuluh wanita sebayanya dan adik kelasnya. Hal itu dilakukan di sekolah ketika suasana sekolah sunyi terlebih di malam hari. Di luar sekolah yang sunyi dari masyarkat juga sering mereka dilakuakan. Bahkan di dalam kamar, parahnya lagi sementara ada orang tua di dalam rumah. Yang mengherankan dari sepulu wanita (anak SMA) yang merupakan lawan jenisnya ennam diantaranya sudah pernah melakukannya sebelumnya (maaf, tidak perawan lagi) dan empatnya masih perawan. Sungguh hal yang mengagetkan.

Inikah tomia yang saya kenal dulu. Tomia yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman yang tinggi. Kini ternyata hanyalah romantisme yang telah berlalu. Terus terang saya kaget dengan kabar ini. Ternyata budaya seks bebas telah menjadi budaya popular dikalangan pelajar Masyarkatku.

Setelah digalai leibh dalam lagi ternyata salah satu faktor pemicu adalah konsumsi film ‘porno’ melalui ponsel genggam. Tentunya bukan hanya faktor ini namun disini tidak akan dibahas secara komprehensif. Disini hanya menjelaskan permukaan tanpa menggalinya lebih dalam.
Inilah dampak negative dari moderenisasi. Moderenisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi telah menghasilkan nilai-nilai baru yang asing. Seperti pengakuan si subjek bahwa pengaruh tontonannya melalui telepon genggam (HP) sehinggga mereka mempraktekannya. Sungguh memiriskan.

Tuhan Tolong Kami. Sadarkanlah kami bahwa masyarakat kami tidak sedang baik-baik saja. Berikanlah saya kekuatan untuk merubahnya. Amin