Sabtu, 30 November 2013

Jangan melihat melihat pintu itu !!!

Pintu itu kembali dibuka. Daun-daun di halaman rumah berserakah. Angin belum terlalu lama meniupnya hingga berpisah dengan ranting-ranting yang menggenggamnya. Suasana yang cukup damai membuatku terbangun dalam kesejukan udara pagi. Mentari begitu redup terhalang senyumnya oleh kabut awan samar. Meskipun itu dia tetap indah untuk menyinari pagiku.

Tapi aku selalu menghindari pintu rumah mereka ketika pagi sudah mulai menyapa. Dalam ronsokan koran-koran aku duduk melihat baris-baris kalimat yang berjejer memenuhi lembar demi lembar. Lagi-lagi tentang berbagai kegalaluan negeri ini. Jarang terpampang di hadapanku tentang kabar baik untuk negeriku. Belum lagi, akhir-akhir ini yang semakin membludak. Kasus spionase oleh negara tetangga yang merong-rong kedaulatan. Korupsi tidak sudah menjadi pemandangan yang sehari-hari di saksikan. Belum lagi pro kontra masalah kesehatan, yang melibatkan dokter harus turun meninggalkan pasien-pasiennya karena demonstrasi. Juga rakyat miskin masih banyak berkelimpangan di sudut-sudut di negeri ini yang sangat membutuhkan uluran tangan sang dermawan.

Terasa sumpek  negeri ini. Kegangaman menyelimutiku. Ingin ku saksikan pagi itu dengan melihat lalu lalang manusia-manusia di sekitar rumah kosku. Tapi aku masih saja takut dan terus menjaga mata ini untuk tidak melihat ke pintu itu. Aku mencoba selalu berusaha agar mata ini masih saja tetap membulatkan tekad untuk tidak melihat kepintu yang bagiku membuatku lebih sumpek lagi. Meskipun sesekali aku harus melanggarnya untuk melihatnya.

Rupanya aku sudah cukup lama di sini. Detik demi detik berlalu begitu saja. Mentari pun demikian, dia terus menyingsing hingga merasuki jendela yang biasa aku bersembunyi dibaliknya. Jendela yang merupakan benteng persembunyianku dari pintu yang ku hindari itu. Sinarnya mulai menyengat menampar tubuhku. Segelas teh yang menemaniku sudah hampir habis.

Akhirnya ku beranjak dari tempat dudukku. Berharap apa yang terhawartikan akan segera usai. “smoga pintu itu kemballi di tutup” gumamku dalam hati. Segera ku usir semut-semut yang ternyata dari tadi datang menempel pada gelas kacaku. Maka terpampanglah aku di depan jendela untuk tidak menyembunyikan lagi tubuhku. Tidak ragu lagi untuk melemparkan pandangan ke pintu mereka. Oh, tidak. Pintu itu belum tertutup. Keluarlah seorang lelaki dengan berkameja kotak-kotak di temani seorang wanita cantik nan manis. Tak sadar aku melihatnya. “Dik jaga rumah ya. Kakak mencari nafka dulu untuk adik. Insya Allah sebentar sore kakak akan pulang” Laki-laki itu berkata sembari mengecup kening istrinya. “Iya, adik akan tetap menunggu kakak di sini. Hati-hati di jalan. Adik akan selalu berdoa untuk kakak.” Balas sang istri sambil mencium punggung tangan laki-laki itu.

Oh, aku kembali gamang di balik jendela. Pintu yang ku berusaha hindari ternyata belum tertutup. Mata ini sebisa mungkin ku jaga dari pintu ternyata kecolongan untuk melihat ke pintu mereka. “Pagi ini Kalian membuatku irih kembali. Aku cemburu pada cara kalian saling mencintai” di balik jendela aku berdesis.

~makassar, di pagi hari, 30 november 2013.

Senin, 18 November 2013

baca baca bacalah...!!!

iqra. bacalah. demikian ayat yang pertama turun dalam kita agama islam. membaca memiliki makna yang luas. bukan hanya sebatas membaca teks-teks (literal). lebih dari itu, membaca juga dapat dilakukan dengan melihat fenomena-fenomena lingkungan sekitar dan alam semesta. bahkan jika di renungi lebih dalam sesungguhnya tradisi tulisan yang kita baca berawal dari pembacaan terhadap fenomena-fenomena sekitar secara tersirat (tidak tertulis).

lihatlah, bagaiamana newton menemukan gaya gravitas bumi dengan hanya duduk di bawah pohon kemudian mempertanyaakan kenapa buah atau setiap benda harus jatuh kebawah. akhirnya dia berkesimpulan ternyata ada gaya tarik bumi (gravitasi bumi). kemudian dalam ilmu fisika di tuliskan dengan g=9,8 m/s2. atau mari belajar pada ibnu khaldun. beliau seorang sosiolog muslim dan juga merupakan peletak dasar-dasar ilmu sosial di dunia. sebelum beliau menuliskannya dalam kitab yang berjudul 'muqqadimah', terlebih dahulu melakukan pengamatan kehidupan sosial politik disekitarnya serta pengembaraan yang dilakukannya.

betapa pentingnya, akal atau membaca. sehingga harus menempati urutan pertama dalam perintah Tuhan. bukan shalat, bukan puasa, bukan melarang zina atau khamar (miras) dan perintah lainnya melainkan bacalah. kita di anjurkan untuk memahami dulu sebelum melakukannya agar tidak mengikuti setiap perkara/perintah dengan tidak mengetahui ilmu pengetahuan tentangnya (taqlid buta).

bacalah. tanpa membaca engkau tidak akan mengetahui tentang arti kehidupan. apalagi untuk menjawab permasalah-permasalah yang muncul dalam kehidupanmu. karna membaca adalah cara menemukan ilmu serta kebijaksanaan. ilmu adalah alat untuk menaklukan kehidupan. bahkan francisco bacon, seorang tokoh reformis yang membawa peradaban barat ke abad pencerahan pernah berakata: jika ingin menguasai dunia, maka bacalah atau kuasailah ilmu.

maka jadikanlah setiap tempat adalah perpustakaan dan orang yang kau temui adalah guru bagimu. bacalah dalam setiap kesempatan. bacalah...!!!

 ~coret-coret malam,  di kafe pintu nol unhas, 17 november 2013

Jumat, 01 November 2013

Trimakasih bapak tua pemulung

Seringkah anda bangun di shubu hari? saya yakin kita smua jarang melakukannya. Hanya orang-orang yang memiliki kepentingan khususlah yang bisa melakukannya. Semisal, yang ingin melaksanakan ibadah shalat (tahajut dan shubu) bagi orang muslim, bagi yang menyiapkan aktivitas pagi atau yang mencari nafkah. Terus terang saya jarang terbangun pada waktu-waktu demikian, sehingga untuk melaksanakan shalat shubu maka di lakukan ketika sudah kesiangan.

Bagi sebagian orang di waktu demikian masih menghabiskan untuk tidur lelap. Bahkan jika tersadar pun akan melanjutkan kembali tidurnya. Tapi tidak untuk seorang bapak tua yang saya termui karena kebetulan, entah kenapa aku terbangun di shubu hari. Aku keluar ruangan, aku mendengar suara desas-desis di samping rumah. Ternyata dia seorang bapak tua yang sedang memulung sampah-sampah plastik untuk di tukarkan pada agen pengelolahan sampah.

Saya tertegun melihat bapak tua ini. Ditengah malam yang sunyi dan dingin beliau sudah terjaga dari tidurnya kemudian berkativitas demi mempertahankan hidup. Atau malah beliau tidak tidur semalaman demi mengais-ais rezeki di tempat kotor yang sering dihindari oleh kebanyakan (tempat sampah). Inilah hidup, dalam setiap proses selalu ada hikmah yang terselip bahkan dalam sehelai daun yang jatuh pun akan ada makna yang hendak di sampaikan oleh Tuhan, pencipta kehidupan ini. Apalagi jika kita mampu membaca aktivitas si bapak tua ini.

Jika dimaknai lebih dalam, bapak tua ini sangat memberikan pelajaran. Setidaknya dia mengajarkan kepada saya tentang kedisplinan dan perjuangan melawan kemalasan serta keputus asaan. Di tengah peliknya hidup yang penuh kompetisi yang tak berimbang, dia terus saja bekerja meskipun rezki yang diperolehnya sangat sedikit. Untunglah Tuhan tidak menilai manusia dari hasil yang dijalankan melainkan dari proses yang di jalaninya. Apakah dalam prosesnya dapat meraup nilai pahala atau malah sebaliknya, dosa. Kita memang hanyalah lakon dari kehidupan ini. Tugas kita hanyalah menjadi pemain dalam sebaik-baiknya peran yang diberikan Tuhan. Jika kita menjalaninya sesuai dengan aturan main Tuhan maka kita akan diberikan reward, jika berada diluar aturan mainnya maka ada punishment.

Inilah salah-satu letak keadilan Tuhan. Kemiskinan, penderitaan serta masalah lainnya adalah suatu ujian untuk lebih meningkatkan derajat kita disisinya. Bukan prestasi dunia kita untuk menjadi seorang yang menempati posisi yang tinggi di mata Tuhan. Bukan ketika kita menjadi seorang pemimpin organisasi, perusahaan, presiden atau hirarki sosial lainnya berarti derajat kita akan tinggi pula. Sekali lagi bukan itu. Orang yang menjadi pembantu rumah tangga, buruh pabrik atau seorang pemulung bisa menempati derajat di sisinya Tuhan yang tinggi. Semua akan memperoleh derajat itu jika memainkan peran kehidupan sesuai aturan_Nya.

Memang benar kata orang bijak, “rahmat Tuhan kadang di letakan pada tempat yang jarang disukai kebanyakan orang”. Inilah pelajaran saya di suatu waktu, di shubu hari itu. Bapak tua pemulung mengajarkan saya tentang arti, nilai dan kearifan hidup yang sangat luar biasa. Trimakasih bapak tua pemulung.

~Makassar, 28 Oktober 2013