Senin, 27 September 2010

Sajak dari teras Kos

Duduk menemani sebuah leptop
Melihat mereka yang diam dan bergerak
Aku tak tau apa yang mereka sebenarnya
Aku hanya duduk mengikat makna

Ah…
Ini pasti sandiwara
Tapi mungkin juga tidak
Dia diam membisu tapi diam seribu bahasa
Diam berkoar dan mondar-mandir tanpa tujuan yang jelas menurutku
Kata dan perbuatannya mengilhamiku dalam kesendirian

Aku tersetak,,,
Dia yang berjalan kesana
Dia yang bergerak kesini
Aku yakin,,,,
Meski tak jelas menurutku
Tapi ada yang sesungguhnya jelas
Dia bertujuan menurut kehendaknya.

(Makassar, 27 september 2010)

Hati-hati dengan hati…!!!

Perhatian…!!! Kata inilah yang sering digunakan oleh pembicara jika ingin para pendengarnya melihat dan mendengarkannya.

Kata ‘perhatian’ berasal dari kata dasar ‘hati’. Namun, untuk mengajak orang mendengar, kita harus meminta hatinya untuk ‘mendengar’ kan kita. Kenapa bukan ‘telinga’ yang diminta? Kenapa bukan kata ‘pertelingaan!!!,’ Untuk mengajak orang mendengarkan kita?

Begitu pula jika kita ingin mengajak orang untuk melihat kita. Kita selalu mengatakan perhatian!!! bukan ‘permataan!!!’ Sementara yang kita minta adalah matanya untuk melihat kita. Lagi-lagi selalu hati yang diminta.

Ada apa dengan hati?

Hati adalah salah-satu organ tubuh manusia yang sangat vital. Dalam islam hati adalah salah-satu alat untuk menangkap ilmu pengetahuan (epistemology) yaitu mata hati (mata batin). Selain berfungsi sebagai oragan yang membantu proses metabolisme tubuh, hati juga memilki fungsi yang sifatnya abstrak. Sebagaimana hadis nabi Muhammad saw yang kurang lebihnya : ‘dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika daging itu kotor maka kotor pula pemiliknya dan jika daging itu baik maka baik juga pemiliknya’. Dalam hati manusia dapat mengukur keikhlasan dalam berbuat.

Dalam hati terdapat perangkat yang sangat membantu manusia dalam melihat kebenaran. Perangkat itu adalah hati nurani. Hati nurani atau biasa dikenal dengan fitrah. Hati nurani (fitrah) merupakan kelebihan yang dimiliki oleh manusia yang membedakannya dengan hewan dan tumbuhan. Hati nurani selalu mengalami kecenderungan ke hal yang baik dan benar. Dengan hati nurani manusia dapat menemukan dan mengaktualisasikan dirinya sebagai manusia yang berkemanusiaan. Ketika manusia berbuat tanpa mengikuti bimbingan hati nurani maka sesungguhnya dia telah mulai bergerak meninggalkan identitasnya sebagai manusia.

Manusia berbuat kejahatan maka hati nurani secara otmatis memberikan larangan. Kejahatan adalah tindakan yang cenderung mengikuti nafsu duniawi sesaat. Bagaikan hewan karna manusia yang berbuat kejahatan tidak mempertimbangakan dampak buruk yang terjadi, baik untuk diri maupun lingkungannya. Dia selalu bertindak untuk kepentingan diri sendiri meskipun hak orang lain terampas olehnya.

Misalnya saja, seorang koruptor yang memakan uang rakyat. Dia tak lebih seperti hewan yang selalu tunduk pada nafsu sesaat yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa melihat dampak buruk yang terjadi. Bimbingan hati nurani yang mengajaknya untuk tidak korupsi telah diabaikan. Sementara banyak rakyat yang menangis karna kelaparan.

Jadi tak ada salahnya kalau seorang ustadz, Aa Gim, pernah berkata dalam lirik lagunya yang berbunyi: ‘jagalah hati, jangan kau nodai, jagalah hati lentera hidup ini’. Oleh karna itu tak salah bagi siapa pun yang ingin mengajak orang, selalu mengajak hatinya. Untuk mengajak orang untuk mendengar, memerhatikan ataupun mengajak pemerintah untuk memperjuangkan keinginan rakyatnya maka hatilah yang di perintahkan karna hati tak pernah bohong. Karna hati selalu mengajak kepada kebaikan.

Jadi, menjadi hal yang wajar ketika kita mengatakan kepada siapa saja dengan kata “Perhatian…!!!” karna hatilah yang mampu merasakan kemanusiaan manusia. Pemerintah yang tak menggunakan hati nuraninya dalam memimpin, maka rakyatlah yang menjadi korban ketidakadilannya. Ilmuwan yang menemukan teknologi baru maka teknologi tersebut akan menghancurkan manusia jika penggunaanya tak memperhatikan arahan hati nurani. Bom atom jika digukan berdasarkan bimbingan hati nurani maka tragedi hiro sima dan naga saki tak akan menjadi sejarah kelam yang menyedihkan.

PERHATIAN!!! Selalulah menjaga hati.

(Makassar, 1 september 2010)

Ku Tingkalkan Engkau

Hari-hari kau temani aku dalam suka maupun duka
Menjadikan hidup lebih bermakna
Karnamu aku berproses mencari kesempurnaan hidup
Menyadarkanku tentang aku yang relatif bukan aku yang seterusnya
Sehingga aku sadar tentang aku
Memberikanku ruang untuk aku yang mencari dan aku yang sebenarnya

Aku marah karnamu aku juga tertawa karnamu
Aku bukanlah aku yang dulu
Aku adalah aku yang hari ini
Aku yang kau rasakan
Dan semua itu karna engkau

Tapi sekarang dengan ikhlas ku tinggalkan engkau
Aku tinggalkan untuk kembali
Karna itu alasanku kutinggalkan engkau dalam berapa waktu
Aku tetap mengenangmu
Aku tetap mendengar, melihat dan merasakan apa yang pernah engkau berikan
Jangan tangisi kepergianku

Selamat tinggal kota Makassar
Aku kan pergi untuk sementara
Aku mau pulang kampoeng dulu ya…!!!
Wakatobi islands, in Tomia I’m coming

(Makassar, 2 september 2010)

Mencari

imajinasi hadir dalam kesunyianku
aku tersentak dalam kesunyian
gelap berubah mejadi terang
bagaikan pelita dikala malam tertutup awan
termenung mengharapkan yang telah pergi
mencari yang lebih baik
membenci yang ada
mencari keberadaan dalam dunia kenangan
kembalilah…
hadirmu menghapus luka
menyirami jiwa yang rindu
mencairkan akal yang membeku