Jumat, 30 November 2012

Celoteh di akhir bulan november 2012

Di ujung bulan November 2012, saat saya sedang menulis tulisan ini. Mungkin beberapa menit lagi jika belum kiamat akan terjadi pergantian bulan menuju desember, bulan terakhir di tahun masehi ini. Inilah perputaran waktu yang tak pernah lelah dan berlaku bagi siapa saja. Waktu selalu adil pada siapa saja, tak mengenal identitas, apakah kamu seorang pria-wanita, muda-tua, kecil-besar dan semua perbedaan identitas lainnya. Alangka rugi jika perputaran waktu ini tidak disertai dengan perubahan yang lebih baik. Bukanlah sebuah kemajuan jika kita masih seperti yang kemarin apalagi lebih kurang dari yang kemarin. Karenanya keberuntungalah yang mampu memanfaat waktu sebaik-baiknya.

Dalam perenungan, saya beresolusi tentang apa yang harus dicapai pada bulan ini. Pada saat menulis tulisan ini sesungguhnya adalah momentum untuk mengevaluasi diri. Mengevaluasi seberapa jauh yang saya lakukan untuk merealisasikan resolusi yang saya sudah buat di awal bulan ini (baca: november 2012), temasuk dalam menulis di blog ini. Terus terang saya memiliki target capaian tentang berapa tulisan yang harus saya tulis pada bulan ini. Ini saya lakukan demi lebih meningkatkan kemampuan menulis saya agar perubahan itu lebih berarti (seperti yang saya katakan dalam peragraf sebelumnya).

Resolusi adalah sebuah rencana yang akan dicapai dalam targer waktu tertentu. Kadang begitu indah kita berencana, menyusun konsep, langkah yang harus dilakukan, strategi hingga target waktu. Tapi tak sedikit orang yang memiliki rencana namun tidak tercapai sesuai yang di inginkan karena kadang kita tidak siap mengantisipasi hambatan yang muncul ataupun keteledoran kita dalam menjalankan langkah menuju tujuan itu. Dalam perspektif agama, manusia hanya bisa berenca mengenai hasil yang direncanakan Tuhanlah yang menentukan. Oleh karenanya ada ungkapan bijak: tulislah rencanamu dan biarkan Tuhan menghapus atau menambahkan apa yang telah kamu tulis agar menjadi lebih baik. Memang, kadang kita menganggap sesuatu yang kita pilih adalah terbaik namun yang paling memiliki penilaian yang baik adalah Tuhan yang Maha Tau. Oleh karenanya kita di ajak untuk menyerahkan hasil pada-Nya dan kita dibiarkan hanya berikhtiar dan memohon pada-Nya.

Beberapa hari yang lalu, beberapa orang sahabat bercerita tentang saya perihal perjalanan hidup dan yang sedang terjadi pada mereka. Pada dasarnya inti cerita mereka sama saja bahwa apa yang direncanakan ternyata gugur di tengah jalan atau hanya sebagian saja yang tercapai sebelum mencapai tujuan yang di inginkan karena hambatan-hambatan di luar kuasa mereka. Namun saya salut dan kiranya patut di acungkan jempol tentang kesabaran dan kepasrahan mereka pada Tuhan yang Maha menentukan dan Maha Tau yang terbaik buat hamba-hamba_Nya. Mereka yakin tentang rencana Tuhan yang akan indah pada waktunya bagi mereka yang ikhlas dan sabar.

Hemat saya, inilah hakekat hidup. Setidaknya ada hikmah yang patut kita ambil dalam untaian kalimat yang saya tulis ini. Tentang keikhlasan, kesabaran dan pengabdian kepada_Nya bahwa hidup dan mati hanya untuk Tuhan semesta alam, bukan yang lain. Jika manajemen seperti ini yang kita gunakan maka alangka indahnya hidup. Masalah sebesar apapun yang tak jarang membuat orang stress bahkan depresi hingga mati akan terasa indah bagi orang yang mengetahui hakekat hidup yang sebenarnya sehingga mampu memanajemennya dengan baik sebagaiamana yang dilakukan oleh sahabat-sahabat saya ini.

Untuk menutup celoteh-celoteh saya yang mungkin agak ruwet ini maka saya ingin menitip pesan. Bahwa dalam setiap perubahan waktu sesungguhnya ada tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir. Selalu ada hikmah-hikmah atau hal positif bagi kehidupan ini hingga kita terus bergerak menuju kesempurnaan.

#di tulis di markas besarku, tamalanrea skitar Unhas makassar. menjelang pergantian bulan menuju desember 2012

Kamis, 29 November 2012

Sedikit tentang haji

Beberapa hari yang lalu saya menjemput jamaah haji yang baru saja pulang dari tanah suci, Makkah. Menunaikan haji memang adalah salah satu kewajiban yang ditegaskan dalam rukun silam kelima khusus yang mampu secara lahir dan batin. Karnanya tidak semua umat muslim mampu untuk menunaikan ibadah ini. Meskipun itu, Indonesia terhitung sebagai negera yang paling banyak menyumbangkan jumlah jamaah hajinya dalam tiap tahun. Ini wajar saja, Indonesia merupakan negeri muslim terbesar di dunia.

Membicarakan haji, maka kita bisa sedikit berbicara tentang pengaruhnya terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dahulu di zaman kolonialisme selain adalah kewajiban bagi umat islam, haji juga dijadikan sebagai strategi perjuangan. Namun tujuan yang kedua ini belum diketahui oleh para penjajah. Mereka semata-mata mengira bahwa haji hanya ibadah ritual masyarakat muslim islam untuk mengunjungi bayt Al Haram dengan segala prosesinya. Dengan alasan itulah, mereka para kolonilis memberikan izin bagi masyarakat nusantara kala itu untuk menunaikan ibadah haji.

Berbeda dengan sekarang yang transportasi lebih cepat dengan tekhnologi yang lebih modern yakni mengendarai pesawat terbang. Dahulu untuk menuju kesana (baca: makkah) hanya transportasi laut yang disediakana atau mungkin yang ada pada saat itu. sehingga bagi yang ingin naik haji, prosesi pelepasannya pun oleh masyarakat pribumi sangat khusu dan sering disertai dengan kesedihan. Bagaimana tidak, perjalanan yang cukup jauh menuju Makkah di Timur tengah bukanlah jarak yang dekat serta waktu yang singkat untuk di tempuh. Belum lagi kepulangannya di tanah air, tidak ada bedanya sehingga terkesan keberangkatannya adalah perpisahan selama-lamanya seperti halnya meninggal dunia karena tak tahu kapan akan bertemu lagi.

Sukarnya menuju kesana, menjadi alasan bagi para cendekiawan muslim (pemuda-pemuda muslim) untuk memanfaat momentum dan timur tengah sebagai “perpustakaan islam” untuk menimbah ilmu sebanyak-banyaknya. Usai melaksanakan ibadah haji mereka (baca: pemuda muslim) tidak langsung pulang ke tanah air. Mereka berjelajah, menyebar daratan timur tengah bahkan hingga kedaratan Afrika untuk memperdalam ilmu islam mereka. Selain menimbah ilmu, mereka juga melakukan konsolidasi membangun dan menggalang kekuatan untuk memerdekakan diri dari para penjajah di tanah air pada saat itu. Sehingga tak mengherankan, kadang keberangkatan mereka ke tanah suci cukup lama, bertahun-tahun bahkan konon ada yang menikah di sana. Setelah mereka merasa sudah cukup maka kembalilah ke tanah air untuk mengaktualisasikan nilai-nilai atau semangat ke hajiannya. Banyak dari mereka terlibat dalam perjuangan kemerdakaan Indonesia, sebut saja KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asyari. Kedua tokoh ini berhasil membangun konsolidasi organisasi islam yang bertahan hingga sekarang dan merupakan organisasi islam terbesar di Indonesia.

Historitas inilah yang membuat begitu haru saat pelepasan dan penjemputan tat kala para jamaah haji sudah pulang dari tanah Arab. Keharuan seperti ini tidak masih mirip dengan yang terjadi sekarang, saat saya menjemput para jamaah haji saat itu. Suasana semakin ramai tatkala tangisan harus mewarnai kepulangan mereka di tanah air serta keberangkatannya. Mungkin yang susana seperti itu masih sama dengan suasana yang terjadi dahulu ketika itu.

Bagaimana dengan terjadi sekarang? Mungkin pertanyaan ini layak untuk di ajukan saat ini. rata tiap tahun Indonesia mengirim penduduknya ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji kurang lebih 200.000 jiwa. Padahal itu yang lolos antrian, sementara yang lain harus antri menunggu beberapa tahun lagi. Naik haji sebenarnya bisa dijadikan indikator pertumbuhan ekonomi. Naik haji tidak membutuhkan uang dalam jumlah yang sedikit sehingga hampir semua orang yang mampu secara ekonomi saja yang bisa menunaikan ibadah ini.

Artinya dengan jamaah haji yang lumayan banyak ini (terbanyak di dunia) mengindikasikan pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup signifikan. Hanya orang yang berekomi cukuplah yang mampu menjalankan ibadah ini. Jika dilihat dalam perspektif gerakan dan spiritual, harus haji juga menjadi indikator perubahan sosial. Dengan penghasilan ekonomi yang cukup, orang haji dapat dikategorikan kelas menengah yang berpotensi melakukan perubahan. Begitu juga dengan semangat spritiual yang terkandung dalam ibadah haji, bahwa haji bukanlah hanya ritual tahunan yang miskin substansi.

Jika digali secara mendalam maka haji merupakan momentum revolusi diri menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lain karna sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Bacalah, bagaimana Rasulullah SAW sepulang dari haji bahkan beliau tidak berulang kali naik haji karena lebih peduli ke kondisi sekitarnya, padahal secara geografis tempatnya cukup dekat dari tempat beliau. Itulah yang menginsipirasi kiai-kiai besar semisal KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asyari yang mampun membangun mesin perubahan sosial yakni Muhammadiah dan Nahdatul Ulama.

Oleh Karena itu, dengan jumlah jamaah haji yang meningkat tiap tahunnya Indonesia harusnya menjadi lebih baik lagi dengan dengan peran para jamaah haji. Bahkan Indonesia menjadi sentral perubahan negara-negara muslim dunia bahkan dunia secara keseluruhan. Tapi sayang, dalam realitasnya kebanyakan jamaah haji Indonesia tidak mampu memaknai hakekat haji yang sebenarnya kemudian di transformasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sabtu, 24 November 2012

Berceloteh tentang cinta dan rindu

sabit rembulan itu
tentang aku dan dia, dalam lembaran kisah
dingin malam menusuk hingga pori-pori kulitku
kita gamang dan diam tanpa kata

yakinku,
semua akan bertanya tentang kita dan bahkan irih
birlah, biarlah anjing itu menggongong krna kafilah pun selalu berlalu
tak perlu hujan yang membuatku harus memayungimu
itu absurd, kata kawanku
karna ini adalah rindu
yang memberi kenikmatan yang menyiksa

Demikian puisi yang ku tuliskan untuk seorang sahabat yang dilanda kerinduan pada kekasihnya. Dia begitu ikhlas mengeluarkan energinya untuk merindukan seseorang, yang katanya : merindukanmu tidak senyaman mencintaimu. Entah, disana yang di rindukan itu melakukan hal yang sama atau tidak, namun dia tetap ikhlas merindukannya. Sungguh mulia yang demikian, rindu tanpa tanda jasa.

Membincangkan rindu maka akan setali tiga uang dengan cinta. Hemat saya, rindu adalah ekspresi kecintaan terhadap suatu yang dicintainya. Mungin dalam kasus ini, sebenarnya seorang sahabat ini tengah mencintai kekasihnya namun ekspresinya di utarakan melalui kerinduannya. Dia ingin merangkai kata demi kata untuk mengejewantahkan isi hati yang ingin di alirkan melalui angin malam. 

Saya teringat dengan kisah cinta Laila dan Majnun. Kedua insan manusia ini terlibat dalam asmara cinta yang sangat. Namun mereka harus  menerima kenyataan pahit karena cinta harus berbenturan dengan ego orang tua yang tak merestui hubungan mereka. Tak ayal, mereka pun dipisahkan untuk tidak bertemu agar mereka tidak saling mencintai lagi. Bukannya hilang, melainkan semakin mencintai dan saling merindukan.

Hingga suatu ketika, sang Majnun dengan tidak bisa menyurutkan rasa cintanya kepada gadis puajaannya, Laila. Dia merebahkan badannya di atas padang pasir yang mentari sangat menyengat menusuk ke kulitnya hingga ketulang. Imajinasinya pun dilepaskan dalam sebuah kisah pertemuan antara jiwanya dan jiwa sanga kekasih, Laila. Sang Majnun larut dalam khayalan sebagai ekspresi kerinduannya yang selama ini pertemuannya terhalang oleh kehendak orangtua. Hingga suatu ketika, dalam panasnya bentangan pasir yang seolah tak berujung, hadir Laila sang kekasih Majnun.

“Wahai Majnun aku datang untukmu”. Laila menyapa dengan penuh kerinduan.

Imajinasi yang diciptakan dalam kesendirian tadi terusik oleh suara sang kekasih. Matanya segera terarah pada wujud asli sang kekasih. Namun harapan sang kekasih justru harus sirna oleh sikap Majnun yang berubah.

“Pergi engkau dari sini” Perintah Majnun

Sang Laila tersontak oleh perkataan kekasihnya. Padahal selama ini mereka saling mencintai dan merindukan, tapi mengapa pertemuan yang selama ini mereka inginkan justru harus berakhir dengan sikap Majnun yang seolah tidak merindukannya lagi. Kebingungan dan kekecewaan pun melanda Laila, tubuhnya seolah terkoyak oleh perkataan sang kekasih.

“Saya tidak lagi membutuhkan ragamu berada di hadapanku. Pergi dari sini…!!! Saya hanya membutuhkan jiwa yang abadi yang tak terkekang keterbatasan dunia. Saya tidak mencintai raga yang terkekang oleh zaman, karena jika dia hancur atau mati maka cintaku juga akan mati bersamanya. Cintaku adalah mencintai jiwa yang abadi yang tak mati jika ragamu pergi, maka pergilah dan hilanglah dariku”. Majnun melanjutkan

“Pergilah…!!! Hilanglah…!!! Karena cintaku tidak akan pergi dan hilang bersama ragamu. Karena cintaku adalah abadi” Majnun mengulangi sekali lagi ucapannya

Dari penggalan kisah romantika ini, saya mengatakan bahwa cinta dan rindu adalah dua hal yang tak terpisahkan.  Ketika kita mencintai maka bersiaplah untuk merindukannya dan sebaliknya pula, ketika kita sudah merindu maka secara tidak langsung anda memiliki cinta padanya entah dalam kadar tertentu. Entahlah, saya tidak tahu mana yang duluan lahir, cinta atau rindu. Entahlah, mana yang lebih tinggi derajatnya, cinta atau rindu. 

~Upi, 
Makassar, 17 november 2012

Jumat, 23 November 2012

Mencoba berbijaksana menemui kebenaran

Sudah beberapa hari ini, saya berdiskusi dengan seorang kawan melalu jejaring sosial dunia maya. Setidaknya yang  menjadi topik pembahasan adalah seputar filsafat. Meskipun tidak fokus pada satu pemikir namun diskusi kami mencoba menyelami makna-makna hidup melalui pendapat-pendapat para filsuf.

Kami menyinggung Hegel, Marks, Nietzche dan lainnya tapi untuk lawan diskusi saya tidak pernah menyinggung pemikiran filsafat dari timur atau islam semisal Ibn Rusd, Al Farabi dan lainnya. Bagi saya ini bukan kebijaksanaan dalam menjacari kebenaran. Karna membincangkan filsafaat maka kita akan membincangkan bagaimana menemukan hakekat kebenaran sehingga membuat kita harus cinta terhadap kebijaksanaan.

Saya ingin beranalogi tentang seekor gaja dan tiga orang buta. Ada tiga orang buta yang menemukan seekor gajah. Sebelumnya orang-orang tersebut belum pernah menjumpai gajah, mereka mencoba untuk meraba-raba, memahami dan menggambarkan tentang fenomena baru tersebut. Yang seorang memegang ekor dan menyimpulkan bahwa itu adalah seekor ular atau tali. Yang lain memegang salah satu kaki gajah tersebut dan menyimpulkan bahwa itu adalah sebatang pohon. Dan seorang lagi memegang sisi dari tubuh gajah tersebut dan menyimpulkan bahwa itu adalah sebuah dinding.

Setiap orang buta tadi membuat kesimpulan yang berbeda tentang se ekor gaja. Jika mereka tidak mencoba meraba secara keseluruhan atau minimal dua bagian tubuh pada gaja maka mereka akan fanatik dengan kesimpulannya. Inilah yang saya maksudkan bahwa ketidakbijaksanaan kita dalam menegetahui cara pandang orang lain membuat kita fanatik ekstrim dengan pemikiran yang kita anut. Dan tak segan-segan menyalahkan secara membabi buta bahkan memberikan label sesat atau mengkafirkannya.

Beginilah jika kita sangat fanatik terhadap sebuah pemikiran tanpa pernah menemukan atau mencari referensi (perspektif) lain. Kita akan terjebak dalam kebenaran egoistis dan menganggap orang lain tak memiliki kebenaran sedikitpun. Harusnya kalaupun kita memang benar maka kita akan lebih bijaksana menggapi mereka yang menurut kita salah. Juga, alangka baiknya kebenaranya itu diperolah dari proses pergulatan pemikiran dari pada menerima begitu saja dari sumber yang satu apalagi tanpa mempertanyakannya. Selain akan mudah goyah karena tidak pernah mendapat ujian-ujian dari pemikiran lain, juga tidak akan bijak dalam melihat pemikiran orang lain.

Jika pembaca pernah membaca catatan harian Ahmad Wahib maka anda akan mellihat bagaimana terjadinya pergolakan pemikirannya padanya karna pencarian sebuah kebenaran. Catatan-catatan harian seorang aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini, yang kemudian di bukukan dengan judul “pergolakan pemikiran islam ahmad wahib” sungguh mencengangkan. Kita akan rasakan bagaiamana dia harus meragukan kebenaran yang selama ini orang yakini karena dogma turunan demi sebuah pencapaian sebuah kebenaran.  Untuk menyakini Tuhan, dia tidak hanya bereferensi pada pemikir-pemikir islam melainkan juga pemikir-pemikir barat yang kadang menolak agama (ateis). Sehingga keyakinannya adalah keyakinan yang benar-benar kokoh dan merespon pemikiran lain dengan cara yang bijaksana.

Mengakhiri sedikit celoteh saya pada kesempatan ini, saya ingin mengutip ungkapan Emha Aiunun Nadjib atau biasa di kenal dengan nama panggilan “cak Nun”. Beliau berucap:

“lihatlah cahaya-cahaya kebenaran yang muncul di setiap hati manusia”
 
Semoga kita selalu bijaksana sebagaimana Allah yang Maha bijaksana. Amin.

Rabu, 21 November 2012

malam begitu indah, bertaburan bintang. udara dingin seolah menyapu segala kegalauan hingga hati menjadi tentram. mungkin saat ini para malaikat Allah tengah berzikir, bertasbih, memuji dan memujaNya. mungkin juga sang Izrail pencabut nyawa itu mulai melebarkan sayap-sayapnya serta para pasukannya untuk membawa jiwa-jiwa syuhada di gaza palestina menghadap sang Ilahi.

pikirku, tak sedikitpun terbesit rasa heran. bahkan gumamku, itu wajar saja. lihatlah hujan-hujan rudal yang beterbangan itu? dia menghancurkan beton-beton tempat bermain anak kecil itu, dia menghancurkan orang-orang yang mereka sayangi, ibu dan ayah mereka bahkan dia juga mengoyak-koyak tubuh anak-anak itu.

harusnya malam seperti ini malam terindah bagi anak-anak kecil, ketika harus tidur pulas sembari bermimpin indah krna siang tadi kelucuannya belum kunjung usai. justru malam ini paradoks dan mustahil bagi mereka karna langit diperdengarkan "petasan-petasan serta kembang api" oleh senjata zionis iblis itu. begitupun dengan siang tadi yang mentari tak memberikan senyumnya sebab kepulan awan hitam pekat oleh bom-bom zionis keji yang tak manusiawi membuat  senyumnya hilang.

mungkin kita saat ini akan segera tidur pulas. esok akan memegang pena untuk menulis huruf demi huruf atas suruhan bapak dan ibu guru. tapi... sekali lagi tapi...malam ini saudaraku dan saudaramu pula di gaza terkhusus anak-anak kecil itu hanya semakin histeris merangkai okta demi okta nada yang mengharukan. dan tahukah apa yang dilakukan esok harinya? mereka tidak akan memegang pena seperti halnya kita. mereka akan di ajari bagaiamana memegang senjata untuk membela diri dan melawan para zionis yang tak manusiawi itu.

~Upi, disaat malam dan gaza yang tengah membara
doaku tak terhingga masih tetap untuk saudara-saudaraku di palestina

Selasa, 20 November 2012

Tak selamanya pagi selalu teruntuk bagi jiwa yang cerah. Lihatlah sekelilingmu, apakah mereka yang ketakutan itu sedang mengidap kecerahan jiwa seperti yang kau katakan? Apakah anak-anak, wanita-wanita serta para lansia yang tak berdosa harus menjadi sasaran senjata-senjata para zionis itu? Sangsi. Mungkin itu jawaban yang ingin saya ajukan pada kalian semua.

Itupun kalau paginya cerah. Buka mata dan telingamu serta rasakanlah. Di langit gaza itu belum menunjukan tanda-tanda redahnya hujan-hujan rudal serta bom-bom yang diterbangkan dari negeri para zionis itu. Mereka saudara muslimmu yang kini sedang mencari titik-titik cahaya dilangit keadilan yang sudah di dominasi pekatnya awan hitam kebatilan. Para zionis itu telah menggeserkan nurani mereka menjadi setan-setan liar yang hanya melampiaskan hasrat keserakahan dan penjajahan mereka.

Kecaman tak mampu meruntuhkan bangunan-bangunan setan yang telah membentengi nurani para zionis itu. lebih-lebih kau diam seribu bahasa bahkan tanpa sepatah katapun. Itu paling pengecut di antara banyak pecundang. Jika tangan sudah tak mampu mengulurkan tanganmu maka persilahkanlah lidah untuk berkata. Namun jika kata sudah tak mampu lagi, persilahkan hati (doa) sebagai senjatamu satu-satunya meskipun bagiku itu adalah selemah-lemahnya iman. Setidaknya itu bukanlah pengecut.

DOA KAMI UNTUKMU PALESTINA

~Marwan.upi. Ku kirim doa tak terhingga untukmu saudara muslimku di Palestina.

Makassar, di pagi hari. Saat gaza di gempur oleh pasukan zionis Israel.

Senin, 19 November 2012

Cinta dan bulan

Di kotaku saat ini, mentari tak memberikan senyum sebelum dia membenamkan diri. Mungkin awan hitam sedang marah hingga menghalangi sinarnya sampai ke bumi. Ah, aku sekarang tak mau menjadi mentari yang terhalang sinarnya oleh awan hitam. Lagi pula dia tidak pernah muncul dimalam hari menemani makhluk-makhluk bumi. Aku lebih suka pada bulan yang mengikhlaskan tubuhnya untuk memantulkan sinar mentari di malam hari. Padahal dia tidak menerima imbalan apapun. Di siang haripun juga sebenarnya dia kadang muncul menemani manusia di bumi meskipun tak begitu menampakan tubuhnya karena dominasi sang mentari. Baginya hanya cintanya pada bumi yang membuatnya harus rela menemani malam hingga mentari bangun dari tempat peristirahatanya di siang hari.

Dalam hatiku berujar. Hey manusia, tidakkah kau belajar pada bulan yang ikhlas itu? karena mencintaimu, dia rela menemani malammu meskipun engkau lelap hingga pagi hari. Hey, kenapa engkau buat senjata untuk membunuh manusia yang lain? Hey, dimana otak dan nuranimu? Tidak kah engkau mendengar tangisan anak dan wanita yang tak bersalah itu? Hey, kenpa tidak belajar mencintai sebagaiamana bulan ?

Masih terbesit di palung hatiku ketika seorang wanita berpayung itu berkata padaku: yang ditakuti di dunia ini bukanlah senjata-senjata yang menghancurkan itu, namun yang harus ditakuti adalah bergesernya hati nurani manusia. Karena cinta itu adalah padanya. Mencintai tak terbatas melafalkan syair-syair puisi pada yang kita cintai. Melainkan lebih dari itu, perbuatanlah yang membuktikan. 

Bulan memang mengajarkan kita tentang banyak hal. Dia mengajarkan tentang cinta meskipun kadang dia tampak malu-malu untuk menampakan tubuhnya yang indah itu. Tak pernah terdengar perkataannya cintanya pada manusia-manusia di bumi melainkan hanya dibuktikan dengan perbuatannya bahwa dia mencintai manusia meskipun nurani manusia sudah mulai bergeser. Itulah bulan dengan cahayanya, menjadi mandataris mentari di kala malam. Karena cinta kadang tak mesti melalui lafal lisan melainkan biarlah perbuatanmu yang membuktikan.

~marwan.upi, di sore yang mendung

Sabtu, 17 November 2012

Ha,,, keadilan ?

Ha,,, keadilan ?
Sudahlah, itu hanyalah wajah ganda oleh ujung-ujung senapan mereka
Mereka tak akan membawa senyuman karena tangisanmu
Anak bayi pun tau
Bahwa retorika mereka tak mampu memberi senyuman

Ha,,,keadilah ?
Itu omong kosong
Bagaikan se sosok bidadari cantik yang tak ada duanya
Dia amat mahal harganya
Bahkan oleh darah, air mata dan nyawa pun tak mampu menebusnya

Ha,,, keadilan ?
Aku melihat banyak selongsong bayonet yang mengudara
Aku mendengar dentuman yg menghancurkan kemanusiaan
Aku merasakan kesedihan karna darah dan air mata itu telah bercucuran
Aku melihat jalan-jalan itu terdengar isak tangis mengusik nurani

Ha,,, keadilan?
Usaplah tangismu
Semua bisa menangis bahkan memaksa untuk menangis
Setan pun, juga bisa menangis karna tangisanmu
Jika tangan dan ucap tak mampu
Biarlah doa (hati) meskipun itu iman yang paling lemah

SAVE PALESTINA, SAVE GAZA
 

Jumat, 16 November 2012

Sudah kah kamu hijrah?

Kemarin (1 Muharram) adalah permulaan tahun hijriyah atau biasa juga disebut dengan tahun baru islam, 1434 H. Hari ini sudah memasuki hari ke dua bulan muharram. Tentunya setiap persitiwa memilliki latar belakang sehingga peristiwa itu terjadi, begitu pula dengan tahun hijriyah. Dia memiliki alasan sehingga disebut dengan tahun hijriyah, apa peristiwa yang terjadi pada saat itu atau sejak kapan dimulai dan semua peristiwa yang menyertainya.

Sedikit menyinggung sejarah lahirnya, hijriyah berasal dari kata hijrah yang artinya pindah. Ketika itu Rasulullah Muhammad SAW dalam berdakwa melakukan hijrah dari makah ke Madinah. Kondisi makkah pada saat itu sudah tidak kondusif lagi untuk berdakwah sehingga sang rasul memutuskan untuk hijrah ke madinah. Dari sinilah awal perhitungan tahun hijriyah dan alasan kenapa disebut tahun hijriyah.

Untuk mengenang peristiwa ini, maka banyak umat beliau memperingati awal tahun hijriyah ini dengan berbagai ekspresi dan perayaan. Alasannya adalah untuk mengenang peristiwa hijrah ini agar menjadi inspirasi dalam kehidupan sehari-hari, meskipun masih ada juga yang belum menghayatinya hingga menginternalisasi dalam dirinya dan teraktual dalam kehidupannya. Mereka umumnya hanya memaknainya sebagai perayaan (ritual) semata tanpa melihat secara mendalam esensi dalam peristiwa itu. Disatu sisi, perayaan tahun baru hiriyah seperti ini mendapat penentangan dari kalangan yang menganggap bid’ah. Bagi kubu ini, perayaan tahun baru hijriah tidak pernah di ajarkan dan dicontohkan oleh Rasul dan sahabat-sahabatnya.

Perdebatan dua kubu di atas, sampai sekrang belum mencapai titik final. Namun terlepas dari itu, penulis tidak akan membahas siapa yang paling benar di antara keduanya. Penulis cukup memaknainya sebagai peristiwa sejarah yang sarat akan banyak makna. Hijrah bukanlah sekedar aktivitas berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Lebih dari itu, hijrah harus dimaknai dalam arti yang esensial yakni bagaiamana kita berpindah (hijrah) dari hal yang tidak baik menjadi baik atau yang baik menjadi lebih baik lagi atau dengan kata lain hijrah menuju kualitas yang lebih baik lagi.

Atau lihatlah yang paling esensi dari manusia dan kehidupannya. Yakni bagaiamana manusia harus menggerakan jiwa dalam kualitas kesempurnaan dan kemuliaan. Kemuliaan manusia bukanlah berparameter pada bagaimana keindahan fisiknya atau prestasinya di dunia yang bersifat semu. Kemulian manusia, sebagaiamana di tegaskan dalam kitab suci agama Ibrahim (samawi) adalah bagaimana tingkat ibadah dan pengabdiannya kepada yang mengadakan alam semesta ini, Allah, Tuhan sekalian alam. Inilah hijrah yang sebenarnya, hijrah yang demi meningkatkan kualitas pengabdian kepada Tuhan yang maha pengasih dan penyayang. Bukankah dulu, Rasul Muhammad SAW hijrah karena alasan taqwa? Karena di Makkah tidak efektif lagi untuk menyebarkan syariat islam.

Hijrah diri

Bagaiamana menghayati makna hijrah untuk diri sendiri? Jika kita memaknai hakikat hidup manusia, hanyalah satu yakni mengabdi kepada Allah SWT. Artinya setiap gerak gerik kita, bahkan nafas yang kita hembuskan pun harus bernilai pengabdian.

Hijrah dalam peristiwa yang terjadi pada Rasulullah SAW, harus dimaknai bukan hanya sebagai peristiwa sejarah namun lebih dari itu harus menjadi konsep hidup. Hidup adalah proses pematangan dan penyempurnaan jiwa dengan bergerak menuju-Nya. Cara penyempurnaan itu sudah di ajarkan dan contohkan oleh Rasul-Nya ketika beliau di utus menjadi pengemban amanah di muka bumi. Bagaiamana menjalin hubungan dengan Allah (hablum minallah), hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas) maupun hubungan dengan alam sehingga kita nanti menjadi insan kamil, manusia paripurna.

Setiap perubahan waktu, harus menambah kualitas jiwa kita. Tahun kemarin adalah sejarah yang telah kita goreskan tinta-tinta kehidupan yang pernah dijalani. Banyak hikmah-hikmah yang harus menjadi pembelajaran hingga menjadi modal untuk meningkat kualitas jiwa di waktu-waktu selanjutnya. Alangka sia-sianya kehidupan Jika hari kemarin (tahun kemarin) masih sama atau bahkan justru lebih buruk dari tahun ini.

Karenanya wajib kiranya bagi kita untuk beresolusi untuk rencana-rencana hidup kedepan. Sejatinya di pergantian tahun ini kita memberikan waktu kepada masing-masing diri kita untuk merenung, apa yang pernah kita lakukan sebelumnya sembari memperbaiki kesalah dan meningkatkan yang sudah baik menjadi lebih baik lagi.

Kadang sangsi, bahwa pergantian tahun menjadi titik refleksi kehidupan kita (baca: umat islam). Malah pemandangan ironis adalah justru banyak umat islam yang tidak tau bahwa akan segera datang pergantian tahun hijriyah dan bahkan mungkin tidak tau jika sekarang sudah memasuki tahun baru hijriyah yang merupakan tahun identitas agamanya. Ini berbeda dengan bagaiamana umat islam merespon tahun baru masehi dengan sangat euforinya.*

Semoga kita selalu hijrah menuju kesempurnaan dalam setiap perubahan waktu.

Makassar, 2 Muharram 1434 Hijriyah

Selasa, 13 November 2012

Celoteh tentang inspirasi

Sebelum saya menulis tulisan ini, tak tahu apa topik apa yang ingin ditulis. Seolah kehilangan inspirasi, inilah sebenarnya hambatan dalam menulis di blog. Meskipun blog pribadi seperti blog ini, dikatakan oleh banyak orang untuk memuat tulisan-tulisan pribadi yang santai tapi bagiku harus lebih dari itu. Dalam diriku, terbangun komitmen bahwa harus ada pesan-pesan (inspirasi) yang termuat dalam setiap tulisan di blog ini.

Kalau hanya untuk menulis pengalaman pribadi yang “remeh temeh”, misalnya tentang aktivitas sehari-hari atau aktivitas yang barusan dikerjakan, itu tidak terlalu penting untuk dimuat dalam blog ini. Mungkin tepat, jika di tulis dalam buku binder ekslusif yang hanya Tuhan dan saya yang tahu atau orang yang lain yang kebetulan atau sengaja membaca tanpa izin.

Yah, sala satu hambatan adalah kekurangan inspirasi. Inilah batu sandungan yang menghalangi tanganku untuk menekan tombol-tombol keyboard untuk mengejewantahkan ide di atas kertas elektronik ini.

Dalam suatu kesempatan saya membaca artikel di sala satu harian surat kabar nasional.  Ada artikel yang gaya tulisannya, menurut subjektifitas saya, itu mirip dengan gaya tulisan saya saat ini (ketika menulis artikel ini). Gaya tulisan yang santai oleh penulisnya, dengan menceritrakan sedikit pengalamannya namun meniscayakan pesan inspiratif. Karenanya dalam artikel ini, saya mencoba mengikuti pola yang dibuatnya.

Dalam tulisan ini, saya ingin sedikit berceloteh tentang bagaiamana menemukan inspirasi. Dalam paragraf di atas saya sebutkan, bahwa hambatan saya untuk menulis adalah kurang inspirasi. Lihat saja, saya memosting tulisan dalam blog ini tidak rutin tiap hari. Meskipun ingin dirutinkan tiap hari tapi seperti itulah alasan saya. Mungkin juga ada faktor malas tapi untuk itu sebenarnya bisa diatasi.

Jika anda mengikuti dengan sedikit cermat tulisan ini dari awal, mungkin akan muncul pernyataan dibenak anda: berarti penulisnya sudah memiliki inspirasi pada saat menulis ini. Yah, kurang lebihnya begitu.

Inspirasi atau pesan yang ingin disampaikan dalam tulisan ini adalah bagaiamana menemukan inspirasi. Salah satu jawabannya adalah sudah termuat dalam paragraf diatas yakni membaca (seperti: harian surat kabar). Dengan membaca kita dapat menemukan hal yang baru kemudian dalam istilah Hegel: menjadi komponen dialektika pemikiran yakni tesa maupun anti tesa agar menghasilkan ide baru atau yang disebutnya sebagai sintesa.

Juga membaca, dalam beberapa artikel dalam blog ini didefinisikan sebagai proses memaknai semua fenomena yang bisa di tangkap oleh alat pengetahuan (epistemology). Entah, itu yang terbaca dalam tulisan yang tersurat maupun yang sifatnya tersirat dalam berbagai fenomena disekitar kita. Hasil-hasil pembacaan itulah sebagai hal baru sehingga menjadi inspirasi baru.

Juga, mungkin jika diri anda sekarang jenuh dan merasa terjebak dalam rutinitas,  saya bisa katakan anda berada dalam zona stagnasi. Dalam beberapa artikel saya di blog ini, saya berapa kali mengirim pesan kepada pembaca agar hati-hati dengan rutinitas, meskipun memiliki efek positif namun juga memiliki efek negatif yakni membuat kita jenuh dan menumpulkan kreatifitas. Oleh karena itu, luangkan waktu anda untuk mencari zona baru diluar rutinitas dan stagnasi kehidupan anda sehingga hidup anda menjadi lebih terdinamisasi lagi. Mungkin itulah alasan kenapa harus ada liburan di akhir pekan.

Libur di akhir pekan hanyalah salah satu metode. “Hijrah”lah ketempat yang menurut anda baru sehingga anda dapat berdiskusi dengan kawan-kawan, melihat apa yang mereka lakukan ataupun menceburkan diri dalam aktivitas yang selama ini anda jarang atau tidak pernah sama sekali anda lakukan atau bahkan anda lakukan hal yang aneh menurut orang lain. Tahukah cara berpikir yang aneh adalah bentuk kreativitas yang pada akhirnya kadang orang berkata “wow” pada kita? Meskipun saya tidak butuh anda untuk mengatakan “wow” pada saya.

Setidaknya, inilah bagian yang saya lakukan sebelum saya menulis tulisan ini. Semoga celoteh saya dalam tulisan ini terdapat inspirasi di dalamnya. Semoga anda selalu mendapat inspirasi. Selamat berinspirasi.


Kamis, 08 November 2012

Kuasai dunia, maka kuasailah ilmu pengetahuan

Francis Bacon seorang tokoh renesaince di eropa, pernah berkata ‘Jika ingin menguasai dunia maka kuasailah ilmu’. Tokoh ini, berani mengeluarkan pernyataan ini, tidak bisa dilepaskan dari latar belkang sejarah pada saat itu. Eropa sebelum itu, adalah eropa yang berada dalam lilitan kegelapan dimana kebebasan berpikir untuk menemukan pengetahuan sangat dikekang. Bahkan ketika pengetahuan baru ditemukan maka tidak akan di akui bahkan penemunya (pemikirnya) akan di bunuh oleh otoritas geraja jika bertentangan dengan kepentingan mereka.

Pasca itu, gerakan renasaince (pencerahan) pun digulirkan. Kebebasan berpikir mulai digalakan dan perkembangan ilmu pengetahuan pun semakin pesat. Tekhnologi mulai ditemukan sehingga aktivitas manusia terbantukan olehnya disemua bidang terutama dibidang ekonomi dan militer.

Mungkinkah luar angkasa dapat dijangkau, jika tidak tahu cara untuk sampai kesana? Termasuk bagaiamana bisa bertahan hidup di sana dalam jangka waktu tertentu? Tentunya ini tidak bisa dilepaskan dari peran ilmu pengetahuan. Bahkan untuk mengeksploitasi dan menjajah sesama manusiapun memerlukan ilmu pengetahuan.

Sejarah mencatat, Indonesia secara bergantian dijajah oleh bangsa-bangsa eropa. Dengan kekuatan milter mereka, sehingga dengan mudah menaklukan Indonesia. Tidak hanya kekutan militer yang menjadi modal mereka, karena sebelum mereka datang menjajah terlebih dahulu mereka telah mempelajari kondisi masyarakat Indonesia agar penjajahan itu mudah dilakukan.

Tahukah kita, bahwa sebelum belanda datang ke Indonesia mereka sudah memiliki data-data hasil kajian tentang Indonesia? Di belanda saat itu, telah muncul beberapa lembaga-lembaga kajian tentang ke Indonesiaan, sala satu contonya adalah Royal institute of linguistic yang mengkaji tentang bahasa Indonesia. Belum lagi bagaimana pakar kemasyarakatan belanda, Snouck Hurgronje yang dibiayai oleh belanda untuk meneliti tentang kondisi sosialogis masyarakat Indonesia atau Boeke yang mengkaji tentang system ekonomi Indonesia. Sehingga wajar saja, belanda selama lebih dari tiga abad menjajah Indonesia dengan berbagai macam strategi dan siasat. Politik pecah belah (devide et impera), politik etis atau mendukung gerakan islam kultural dan membasmi geraka islam politik adalah bagian dari cara mereka untuk melanggengkan kekuasaaan di Indonesia. Semua itu terjadi karna kelebihan pengetahuan mereka dibanding masyarakat Indonesia saat itu.

Hal ini pun tidak jauh beda dengan kondisi sekrang. Ilmu pengetahuan telah menjadi raja sehigga dengan mudah menaklukan sebuah negara. Lihatlah, negara-negara maju menguasai dunia dengan menghegemoni system kehidupan masyarakat dunia terutama di negara-negara berkembang. Tak terkecuali system ekonomi yang mereka kendalikan, politik, budaya, pendidikan dan bahkan agama pun mereka kontrol.

Apalagi ekonomi, merupakan hal yang vital dalam kelanjutan hidup di dunia bahkan aturan seketat apapun jika kebutuhan ‘perut’ belum terpenuhi maka mungkin bisa dikatakan semua manusia akan melanggarnya. Sehingga dapat dilihat, kita meronta-ronta untuk tunduk pada kekuatan negara-negara maju karena ketidak mampuan atau kebodohan kita mengikuti cengkraman ekonomi mereka. Jika kita memang cerdas (menguasai ilmu pengetahuan) dari dulu, seharusnya kita yang mencengkram mereka dengan system ekonomi kita ataupun menghegomoni seluruh system kehidupan mereka.

Inilah contoh bagaimana dunia dikuasai oleh ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, Ilmu pengetahuan harus menjadi amunisi strategis untuk menaklukan dunia. Ilmu pengetahuan dapat menciptakan amunisi senjara militer, senjata sampai ke luar angakasa, senjata ekonomi, senjata politik, senjata budaya dan semuanya. Sehingga tantangan apapun akan mudah dilawan jika ilmu pengetahuan kita kuasai maka kebahagiaanpun akan didapatkan.

Ungkapan bijak “Jika ingin bahagia di dunia maka tuntutlah ilmu, jika ingin bahagia di akhirat maka tuntutlah ilmu dan jika ingin bahagia dunia akhirat maka tuntutlah ilmu”

Selamat belajar…

Minggu, 04 November 2012

Toko buku yang memusingkan

Alunan musik yang lembut seolah mengayun-ayun jiwa menjadi ke khasan tersendiri saat itu. Langkah demi langkah ku ayunkan kakiku sembari melihat deretan buku-buku di etalase. Perlahan ku angkat lalu membaca satu persatu sambil sesekali ku lemparkan pandangan pada orang-orang di sekitarku. Mereka tak beda dengan diriku saat itu yang sedang mencari buku untuk dibeli bahkan hanya untuk sekedar membaca tanpa harus memilikinya. Atau mungkin juga, hanya sekedar jalan-jalan menikmati pemandangan di dalam ruangan itu.

Sedikit ku baca sampel buku yang telah di buka sampul plastik beningnya (segelnya). Ku tutup lagi dan letakan pada tempat semula. Demikian yang aku lakukan jika tak tertarik pada isi sebuah buku. Meskipun selalu memusingkan kepala, tapi perasaan yang menyenangkan selalu menghampiriku setiap berada dalam di tempat ini. Bahkan selalu menjadi rencana sebagai salah-satu destinasi pribadi tatkala tubuh ini merasa jenuh.

Toko buku, inilah nama tempat itu. Tempat ini sangat menginpirasiku meski memusingkan. Memusingkan karena sungguh banyak buku yang membuatku tertarik untuk membacanya tapi tak memiliki uang yang cukup untuk memilikinya. Inilah mungkin yang di katakan, cinta tak harus memiliki (sedikit lebai, hehehe).

Suara batuk itupun terdengar. Ternyata bersumber dari seorang kakek yang menggandeng seorang cucunya berjalan di sampingku. Mereka ibaratnya sahabat sejati layaknya aku dan temanku yang di dalam toko buku itu. Ada kekaguman yang telihat pada sosok seorang kakek, meskipun usianya telah senja namun semangat belajarnya tak pernah surut malah semakin meningkat. Dengan membawa keranjang buku, si kakek memasukan satu persatu buku yang disukainya dan tak lupa menyuruh agar si cucu mengikuti apa yang dilakukannya. Si cucu pun tak kalah cekat, tangannya segera mengambil buku-buku yang disukainya dan dimasukan dalam keranjang buku yang mereka bawa.

Semangat belajar si kakek dan cucunya hanyalah oase dari dari sekian banyak orang Indonesia yang kurang minat terhadap budaya baca. Selain telah banyak penelitian terhadap masalah ini, mungkin saya bisa gunakan indikator yang lain pula. Kebetulan toko buku yang saya kunjungi, tergolong toko buku yang terbesar di kota tempat saya menuntut ilmu bahkan di Indonesia. Apalagi toko buku ini cukup strategis yakni sengaja ditempatkan di pusat perbelanjaan agar banyak yang berkunjung ke tempat ini. Namun yang tampak, dari ratusan bahkan ribuan yang datang ke pusat perbelanjaan itu sedikit dari mereka yang menyempatkan diri untuk sekedar masuk apalagi untuk membaca bahkan untuk membeli.

Meskipun itu, kekaguman kembali mencuat tatkala membaca deretan buku-buku yang begitu banyak. Sungguh hebat dan luar biasa para penulis-penulis yang berhasil mengukir ide-idenya dalam sebuah buku. Mereka mampu melahirkan ide kemudian mengikatnya dan mengabadikannya melalui tulisan-tulisan. Inilah seni yang tak semua orang mampu melakukannya dan hanya orang-orang yang mampu melincahkan kemudian menyelaraskan antara tangan dan pikirannya untuk mengukir kata demi kata kemudian menjadi kalimat, dari kalimat menjadi paragraf hingga akhirnya bermetamorfosis menjadi buku.

Masih berat hati untuk meninggalkannya, namun harus meninggalkannya juga. Usai pusing memilih mana buku yang ingin ku miliki, ku putuskan untuk memilih cukup satu saja untuk membawanya ke kasir. Sebenarnya hasrat untuk membeli sebanyak mungkin buku tidak bisa aku nafikan namun hasrat itu harus dipuasakan karena tak memiliki cukup uang untuk membayarnya.

Segera, langkah kaki terus terayun sembari sesekali kepala masih menoleh pada toko buku yang semakin lama semakin bersembunyi hingga hilang sama sekali bagai api yang padam seketika. Meskipun masih menyisakan rasa penasaran dan gejolak pemikiran usai membaca beberapa buku, namun lagi-lagi aku hanya bisa berharap. Harapanku, ingin kembali ke toko buku ini untuk membeli semua buku yang menarik bagiku. Mudah-mudahan semua akan indah pada waktunya.