Selasa, 20 Oktober 2015

Berkah ke toko buku

Siang itu, saya sengaja menuju toko buku yang cukup besar di kota tempat saya berdiam. Sengaja ingin membeli buku-buku di luar buku yang selama ini saya baca. Sengaja saya lakukan karena saya ingin membaca hal lain dari rutinitas topik bacaan saya. Maksudnya, saya ingin mendapat informasi (pengetahuan) lain di luar informasi-informasi yang selama ini saya baca. Selama ini saya lebih sering membaca berita tentang permasalahan sosial-politik baik dalam maupun luar negeri. Memang ini bagian dari ‘passion’ saya untuk lebih memahami bila perlu menjadi ahli di hal-hal yang terkait topik tersebut. Tapi kali ini saya coba menjaga jarak dahulu dari topik-topik itu.

Beberapa alasan mengapa kita harus mencoba membaca buku lain di luar bacaan mainstream kita. Pertama ada kaitannya dengan penyeimbangan otak kiri dan kanan. Pemahaman saya (semoga tidak salah)otak kiri lebih memikirkan hal-hal yang ‘serius’. Sesuatu yang matematis atau analisis. Sedangkan otak kanan lebih pada hal-hal yang lebih ‘santai’, seperti seni atau sastra. Berangkat dari teori ini, saya ingin melakukan penyeimbangan otak agar kerja otak lebih ideal karena telah banyak pakar neurologi (otak) menganjurkan hal yang demikian. Pun, jika kita ingin membahas kelebihan mengaktifkan otak kanan lebih intens lagi maka kita akan mendapatkan begitu banyak hal-hal yang menakjubkan diantaranya akan membuat manusia akan lebih kreatif serta banyak lagi.

Kemudian saya ingin keluar dari rutinitas. Rutinitas yang saya maksud adalah bagaimana otak harus di ajak untuk keluar dari alur pemikiran yang biasa dilakukan karena menerima dan mengelolah topik yang terus didapatkannya. Rutinitas bisa membuat pikiran atau otak menjadi tumpul karena kita telah terbiasa memikirkan hal-hal yang umum dilakukan sehingga untuk berpikir dengan cara lain akan jarang dilakukan. Selain itu membaca topik berbeda, akan membuat pikiran lebih terbuka yang membuat perspektif lebih luas sehingga kita tidak sebagaimana “katak dalam tempurung”.

Sebelum saya menjatuhkan pilihan ada buku-buku yang akan saya beli, terlebih dahulu saya membaca garis besar dari isi buku. Sebenarnya, banyak pilihan-pilihan buku yang perlu dimiliki tapi keterbatasan uang dan waktu pula sehingga hanya beberapa saja yang perlu dibeli. Akhirnya saya mengumpulkan buku-buku yang saya akan beli dengan berbagai pertimbangan-pertimbangan. 

Antrilah saya di antrian kasir. Dengan berlagak santai pandanganku menoleh keseblah kiri. Saat itu pula mata kami saling bertatapan. Sosok yang tak asing lagi bagiku. Dia pun begitu. Dengan ekspresi kaget kami saling menyapa satu sama lain. Beliau adalah seorang dosen. Dia dosenku. Kami berdiskusi  singkat tentang topik-topik tertentu. Tentunya dengan di awali dengan sapaan yang hangat tentang kabar dan sejenisnya.

Setelah beliau membayar buku-buku yang dibelinya. Pikirku selesai pula urusannya. Namun, beliau tidak lantas pulang seolah ada keinginan yang belum terpenuhi. Beliau berjalan nyaris kearahku tepatnya di depanku menuju tumpukan beberapa buku yang akan segera saya bayar. Tangannya dijulurkan ke buku, tepatnya diantara buku-buku. Tangannya tidak hampa. Ada genggaman yang coba dipertahankan dan akan dilepas di antara buku-buku itu. Genggaman itu cukup berharga bagiku dan tentunya baginya.

“Ini uang untuk bukumu”
. Beliau melengkapi gerakan tangannya yang menjulur. Aku kaget sekalligus gembira. Ucapatan terimakasi begitu meluap ku alamatkan padanya. Sebenarnya ada perasaan tidak kaget, karena firasat telah merasakan sebelumnya. Adegan baik beliau tadi akan terjadi. 

Tiba-tiba saya teringat kalimat “Kalau rezeki tidak akan kemana”. Saya yakin itu. Terimakasih banyak pak. Semoga kebaikan selalu dilimpahkan kepadamu. Aamin. 

~Makassar, 20 Oktober 2015

Rabu, 14 Oktober 2015

Hasan, zaenab dan buku

Gadis itu. Dia kelihatan polos, tak berdaya dengan keadaan yang menempanya. Secara kasat mata dia sadar, tak ada yang salah. Tapi sesungguhnya ada kegundahan atas jati dirinya. Dia bagai seorang yang lepas dari kawanan kelompoknya yang telah berjalan jauh. Dia ingin berjalan seperti mereka. Jauh dan jauh kedepan menemukan hikmah-hikmah kehidupan. Menemukan bagaimana indahnya kehidupan meski dalam duka, terlebih suka.

Pria itu tahu apa yang sebenarnya yang terjadi. Hasan namanya. Hasan sudah pernah mengalami hal yang sama seperti yang zaenab rasakan. Oh iya, Hasan dan Zaenab. Mereka sudah lama berkenalan. Berkenalan di sebuah desa yang kurang dengan hiruk pikuk perdebatan. Perdebatan apa saja terutama permasalah sosial dan ekonomi yang melilit. Maklum saja, di desa masalah kurang begitu kompleks dibanding di perkotaan. Hasan adalah pria yang tergolong sudah lama berdiam di kota meskipun pada dasarnya dia adalah orang desa. Ke inginannya yang ingin memperluas wawasan dan pengalaman, dia sengaja berhijarah ke kota. Dia kuliah di salah satu universitas ternama di sebuah kota bahkan masuk dalam jajaran universitas papan atas di Indonesia.

Zaenab di ajaknya ke kota. Alahmdulillah di restui oleh ayah dan ibunya. Hasan berharap, zaenab bisa merasakan apa yang dia rasakan. Tentang bagaiamana menantang hal-hal baru untuk menyelami makna terdalam kehidupan. Di kota hasan sering menjelaskan pada zaenab tentang begitu banyak hal yang baru. Hal ini karena kota sebagaia tempat yang memiliki daya tarik tersendiri sehingga berkumpullah orang-orang dari berbagai daerah. Kota bak gula yang diserbu oleh kawanan semut-semut. Yah, kota itu manis dengan segala keindahannya. Kata hasan. Tapi gula yang manis tak selamanya membawa berkah. Manis dapat menimbulkan penyakit. Ini bisa jadi boomerang. Tapi kita tidak akan mencari bumerang itu. Kita hanya ingin merasakan hal-hal baru. Ada tantangan, janga lari. Hadapi. Disitulah banyak wawasan dari situ dirimu yang sesungguhnya akan ditemukan. Hasan melanjutkan. 

Buku. Yah, buku adalah jendela ilmu. Dengan buku, kita dapat mengarungi makna-makna. Makna yang di tangkap kemudian ditulis dan diabadikan dalam buku. Kita kemudian mengenal penulis-penulisnya sebagai golongan intelektual di bidangnya masing-masing. Sebaliknya, banyak orang-orang hebat di masanya namun anak-anak zaman setelahnya tidak pernah lagi mengenal mereka. Kenapa ? karena ketiadaan tulisan yang pernah mereka ukir. Akhirnya hidup tidak menimbulkan kesan yang dikenal. Yah, mungkin ada tapi tidak diketahui atau tidak maksimal. Wajar jika sastrawan besar yang pernah dimiliki Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, berkata: “Orang yang tidak menulis akan dilupakan oleh masyarakat dan sejarah”. 

Hasan kukuh pada keyakinannya bahwa buku adalah bagian dari jalan dalam proses penemuan jati diri. Zaenab bagai berada pada ruang labirin yang belum jelas diamana pintu untuk jalan keluar. Di ajaklah zaenab oleh hasan ke toko buku yang cukup besar. Bagi hasan toko buku akan menawarkan banyak jalan keluar dan petunjung mana yang terbaik bagi zaenab. Di sanalah mereka akan menemukan banyak alternatif-alternatif arah yang ditulis oleh para penulis dengan segala ragam pengetahuan. 

Kepedulian hasan bukan tanpa alasan. Sekali lagi dia pernah merasakan apa yang zaenab rasakan. Hasan orang yang pandai berpetualang. Hidup adalah petualang. Demikian prinsip yang selalu dipegangnya. Dengan berpetualang, hasan selalu menemukan hal-hal yang baru. Hidup menjadi dinamis, tidak monoton. Sehingga kegundahan hati, kebingungan akan dimana jalan keluar dari labirin yang menawarkan jati diri yang sejati atau menemukan makna kehidupan akan dapat terjawab dengan petualangan. Petualang bukan hanya berjelajah ke tempat-temat yang baru atau menantang tapi juga menyelami makna-makna yang pernah di alami oleh orang lain. Beruntunglah mereka menuliskannya dalam buku. Dan Hasan membacanya. Zaenab membacanya. Terimakasih buku. Terimakasih penulis. Cetus hasan dan zaenab. 

~Sore hari di Makassar, 1 Muharam 1437 H / 14 Oktober 2015

Sabtu, 10 Oktober 2015

Lupakan dahulu berbahasa Indonesia

Tadi saya membaca harian kompas, tepatnya di kolom opini. Kurang lebih salah satu tulisan memahas personal bahasa. Menarik tulisannya karena menjelaskan betapa pentingnya bahasa sebagai identitas nasional yang harus dipertahankan.

Tulisan itu menyinggung bagaiamana masyarakat Indonesia telah memudarkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama para pejabat yang berposisi sebagai public figure. Dalam banyak kesempatan baik dalam seremonial formal maupun nonformal, dalam bertutur sering terdengar ada bahasa-bahasa ‘asing’ yang diselipkan. Di tingkat masyarakat biasa pun, fenomena ini sering ditemui. Bahkan ada bahasa atau istilah baru yang diciptakan yang sebelumnya tidak pernah dikenal.

Seperti kita tahu, bahasa adalah produk kebudayaan sehingga dapat dihasilkan dari interaksi antarmanusia. Apalagi zaman selalu berubah mengikuti arus globalisasi yang menghanyutkan hal-hal baru yang tak dikenal sebelumnya, termasuk bahasa.  Tak pelak, pengadopsian bahasa asing menjadi hal yang tak terelakan. 

Kegelisahan inilah yang mengemukan bagi para pemerhati kebudayaan. Memang kebudayaan bukanlah hal statis yang tak bisa berubah. Kebudayaan harus sering berkomunikasi dengan sesuatu yang berbeda dengan dirinya sehingga ada hal-hal yang perlu dikoreksi selanjutnya diperbaharui, juga ada hal yang perlu dipertahankan. Namun hari ini, mempertahankan selalu menjadi pekerjaan yang cukup sulit. Mempertahankan membutuhkan kesadaran dan usaha yang serius apalagi yang dipertahankan itu adalah persoalan seputar kebudayaan.

Bahasa daerah bahasa 'ndeso' (kampungan)
Saya coba mengangkat sedikit realitas di desa saya. Ada fenomena yang menurut saya cukup menarik. Hari ini, banyak anak-anak selalu diajarkan agar menggunakan bahasa Indonesia. Orang-orang tua disekitar mereka terutama ayah dan ibu selalu menggunakan bahasa Indonesia dalam berinteraksi dengann anaknya. Sepintas ini baik dan patut di apresiasi tapi disatu sisi, justru mengkhawatirkan. Anak-anak di desa saya sudah enggan untuk berhasa daerah bahkan mereka cukup kaku untuk menuturkannya.  Padahal bahasa daerah merupakan bahasa identitas lokal yang dimiliki setia daerah (suku) di Indonesia bahkan bahasa daearahlah yang lebih awal dibanding bahasa Indonesia.

Ada mental ke-tidak-percaya-diri-an orang-orang desa saya terkait bahasa daerah mereka. Cenderung ada rasa minder yang melekat tatkala mereka menggunakan bahasa daerah sebagai alat tutur. Bagi orang-orang di desa saya, bahasa Indonesia bukan hanya bahasa nasional melainkan juga sebagai symbol modernitas atau symbol kemajuan. Sehingga orang-orang menggunakan bahasa Indonesia berarti telah menjadi manusia modern atau supaya tidak ingin disebut ‘kampungan’. Mengadopsi hal-hal yang berasal dari kota seperti bahasa terutama yang diproduksi melalui televisi menjadi gengsi tersendiri sehingga istilah ‘kampungan’ akan disematkan pada mereka yang tidak mengadosi ‘kekota-kotaan’. Atau kampungan identik dengan ketertinggalan.

Tidak perlu ajarkan bahasa Indonesia

“Tidak perlu ajarkan bahasa Indonesia…..”. Kalimat ini merupakan potongan kalimat yang sering saya ucapkan kepada ayah atau ibu ataupun orang-orang tua yang selalu berkomunikasi dengan anak mereka hanya dengan menggunakan bahasa Indonesia, kemudian bahasa daerah mereka lupakan. 

“…Mereka akan dapatkan sendiri di sekolah-sekolah atau televisi atau dibanyak tempat…”
Kalimat ini adalah ekspresi dari kegeraman atas kondisi yang memperihatinkan ini. Pasalnya, jika bahasa anak-anak hanya diperkenlakan dengan bahasa Indonesia, secara tidak langsung salah satu identitas kedaerahan mereka yakni bahasa daerah akan hilang. 

Di desa saya, bahasa daerah yang asli kini hanya menjadi tuturan orang-orang tua. Anak-anak muda apalagi anak-anak yang lahir di era kekinian bahasa daerah sudah menjadi asing telinga dan mulut mereka. Saya khawatir jika orang-orang tua penutur bahasa daerah yang masih otentik ini telah tiada, siapa lagi pengguna bahasa daerah tersebut? Perlu ada langkah serius setidaknya di tingkat keluarga bahasa daerah harus menjadi pelajaran wajib bagi anak-anak. Tentunya tanpa melupakan bahasa Indonesia. Karena bahasa Indonesia penting tapi bahasa daerah juga penting. Keduanya sama penting.

~Makassar, 9 Oktober 2015

Selasa, 15 September 2015

Phenomenon of Asylum seeker

One of the problems which is faced the international society is refugees in which they move from one country to the other comfortable countries to live in there. They are called “asylum seeker”. Many ways are done by them to discover their destination, neither legal nor illegal. The Legal way, the people apply the international procedure law but many people utilize the illegal procedure because it is easy, although they must cross ocean causing death.

Actually, phenomenon of Asylum seeker is occured not only in this era but also since long time ago in which the world had told about how the people must leave from their hometown to look for the others place. For instance, We often listen about history of American in which they came from England because of discrimination problems and then they built the United State Of America. European people migrated to Australia to live in there or Israelian people went to Palestine who finally, they colonized the native people in there. But nowadays the Asylum seekers do not come from European or ‘west’, the people come from other regions like middle east, several African countries, Rohingya people from Myanmar, etc.  

Several time ago, Indonesia was shocked by rohingya community from Myanmar who entered in Indonesian sea or asylum seekers transit in several Indonesian’s cities including Makassar city to find the good countries receiving them. In several middle east countries, there are many refugees who come from the other middle countries else which are waring or there are social instabilities. Also, In Europe, they are troubled by arrival refugees from middle east region.

There is reason why this case (asylum seeker, red) is happened. The main problem is because they do not achieve the proper life in their country. There are many causes why they choose to leave their country to get the other countries such as their country is chaos (battle), problem of economy creates difficult life, there is colonialism and so on. As we know, nowadays in Middle east, several countries are happened social and political instability because their society war each other or ‘outsiders’ intervened this region. Poverty also become the seriously problem so they to be asylum seekers.

This must become responsibility every side or all international communities. Every country has obligation to solve this problem including Indonesia because Indonesian’s constitution explains how Indonesia should maintain human values and is involved to create peaceful world moreover most of refugees are muslim where in islam, the followers of muslim should help one another. In international life, We have United Nation (UN) which avail to keep peace of world but it is not maximal to run its function, even The UN tends to do not care with this problem.

In International relations, not only state perpetrating international interaction but also the non-state actors such as non government organizations (NGO), Society organizations, Companies and else. They can be invited to cooperate together to identify problem and produce solution so that this can be finished soon.

In summary, Phenomenon of Asylum seeker is the international problem needing involvement of all sides in International. All sides must cooperate one another to decrease even reduce this trouble so all world’s citizens can live comfortably in their countries. All sides must waive whatever interest except human interest.

~Makassar, 02:09, September 15, 2015

*This paper will be discussed in Makes
Makassar community

Rabu, 19 Agustus 2015

Bertemu dengan sidik jari

Akhir-akhir ini aku malam menulis. Bukan karena tidak ada bahan untuk diuraikan. Bahkan materi di gudang kepala cukup melimpah. Bahkan suasana yang mendukung untuk menulis pun sangat bersahabat karena saya yakin setiap orang punya kondisi-kondisi yang baik untuk membuatnya lebih lancar dalam menumpahkan ide-idenya dalam sebuah tulisan.

Sebenarnya bukan hanya karena faktor kemalasan. Saya disibukan dengan aktivitas yang prioritas, meskipun menulis jg masuk dalam daftar agenda yang perlu diprioritaskan. Tapi harus saya akui bahwa saya lebih memprioritaskan agenda yang lain dulu (agenda ribadi, tak usah dibocorkan. Hehehe).

Soal dunia tulis menulis, setiap orang memiliki gaya menulis tersendiri. Kita tidak harus mengikuti gaya tulisan orang lain meskipun itu tidak dilarang. Kita punya “sidik jari” sendiri dalam menulis. Maka menulislah dan biarkan tulisan (gaya tulisan) itu menemukanmu. Demikian kata seorang penulis hebat yang kami pernah berdiskusi dengannya.

Disela-sela waktu kosong, tanpa sadar saya membuka file-file tulisan yang pernah saya tulis. Ada banyak keunikan bahkan keanehan hingga saya harus tertawa. Pun selalu ada inspirasi (hikmah) yang saya selipkan dari setiap tulisan bagi yang teliti memaknainya. Karena bagiku tulisan bukan hanya sekadar melimpahkan isi ke atas kertas putih kemudian selesai tapi tulisan adalah media penyebar hikmah.

Atas pembacaan itu, pada akhirnya tulisan telah menemukan saya. Kami saling bertemu dan saling memaknai. Saya memaknai bahwa saya memiliki beberapa gaya menulis. Itulah sidik jari menulis itu. Akan ada saat saya akan mengasah lagi hingga sidik jari itu, mungkin akan lebih mefokuskan lagi. Kami saling menemukan karana saya selalu menemuinya dalam tulisan. Menulis adalah proses yang terus menerus sehingga kita dan sidik jari akan saling bertemu. Semoga.

~Makassar, saat kebosanan menyerangku. 17 Agustus 2015.  Selamat HUT RI Ke-70

Senin, 17 Agustus 2015

Has Indonesia gotten the real Independence?

Every year since Indonesia get a independence, Indonesia always commemorate the independent day. Independent day is the important day for Indonesian citizen because this is a great moment in which Indonesia has been freedom from the practice of colonialism who is done by the colonialist nations. Exactly, August 17 1945, Sukarno and Moh. Hatta, both our founding fathers, proclaimed Indonesian Independence that Indonesia had been freed itself and must achieve freedom perfectly from the other countries (colonialist).

Independence is always gotten with struggle. Our heroes fight colonialist with sacrificing all of their life hope Indonesian people can enjoy how become the free country without intervention from colonialist. But nowadays, many people do not still enjoy and always protest to government about discrimination so that they are given prosperity and justice by the government because according to them, Independence is about liberty, egality and justice. 

Sukarno ever gave message to young Indonesian’s generation. He said: “ Our struggle is easier than your struggle. Our enemies are very easy to identify that they are foreigners who generally they have the white skin, their body is tall or their hair is colored. Meanwhile your era will be difficult because your enemies from your community or Indonesian people such as your government”. This statement explain that Independence is not statical but every generation have challenges and must be always overcome it.  

Sukarno has aim to Indonensia in which he want to create the really fair society. He calls: “Trisakti”. This term (trisakti, red) describes that Indonesia must achieve the political independence, the strong economy without intervention from the orther sides  and having the habit/characteristic depend on culture (local wisdom). Futher, Moh. Hatta said: “It is not democracy if we have gotten democracy of economy, We do not get democracy of politics yet. Contrary, It is not democracy if we have gotten democracy of politics but we have not gotten democracy of economy”.

Statements above define that independence is condition where Indonesian people should be free from all of the injustices and colonialism, either physically or ideology. In life of nation state, many anomalies which are not accordance with our Indonesian’s purpose. We adopt liberal political system so Indonesia to be extremely freedom even lot of people violate morality rules. Our government apply the capitalism economy making the big gap between poor and rich people. Utilizing the foreign culture without selecting so unconsciously we have forgotten our local wisdoms.

The last, I still want to give us question: Have we gotten the really independence? 

*belajar nulis pake bahasa inggris. hehehe.... mohon koreksi jika ada yg salah terutama dalam grammar.

~Makassar, August 16, 2015


Senin, 03 Agustus 2015

Dia; antara bakat dan gengsi sosial

“Dia” tampak kebingungan. Bukan hanya dia, temannya pun sama seperti dia, kebingungan. Sudah sering dia mendengar pertanyaan: kamu kuliah di jurusan apa?. Bingung. Sindrom ini biasanya menyerang siswa-siswa sekolah yang baru selesai menamatkan pendidikannya di tingkat sekolah menengah atas kemudian ingin melanjutkan ke tahap universitas. 

Sebenarnya tidak semua siswa kebingungan seperti ini karena telah ada yang selesai dalam persoalan ini. Mereka sudah tahu apa yang harus mereka pilih bahkan apa yang harus mereka lakukan nanti untuk mengembangkan ilmu mereka. Jika ditanya soal seluk beluk pilihannya, meraka sudah memiliki peluru argumen untuk menyerang siapun yang mengajak berdikusi. Beruntunglah orang-orang yang demikian.

Jurusan kuliah dalam komunitas masyarakat tertentu, menjadi prestise tersendiri. Ada jurusan-jurusan yang dianggap bergengsi. Secara otomatis ada yang dianggap sebagai jurusan yang levelnya di bawah. Konstruksi pemikiran ini telah membudaya dalam memori masyarakat tersebut dan mungkin hampir seluruh atau bahkan seluruh masyarakat dimanapun. 

Level jurusan
 
Tentunya ada pertimbangan-pertimbangan mengenai system hirarki jurusan kuliah. Umumnya, masyrakat akan melihat derajat jurusan beradasarkan prospek masa depannya, apakah cepat mengasilkan uang atau tidak. Sedang yang masa depan yang peluang untuk menghasilkan uangnya kecil akan dipandang sebelah mata. Contohnya kuliah dikedokteran, bagi komunitas masyarakat tertentu jurusan ini adalah jurusan yang memiliki lderajat cukup tinggi. Apalagi di masyarakat tersebut yang kuliah di bidang ini sangatlah jarang.

Dia bingung bukannya dia belum memilliki pilihan kuliah, dia sudah memiliki itu. Tapi keraguan atasnya adalah dia belum yakin tentang pilihannya. Saya menyimpulkan demikian, setelah saya mengajukan pertanyaan kembali: Kenapa kamu pilih jurusan itu? Saya disuruh orang keluarga. Demikian katanya. Kamu sudah tahu tentang jurusan itu? Misalnya, bagaiamana proses kuliahnya, apa yang dipelajari nanti? Masa depan kerjanya bagaiamana? Tatapannya kosong, dia diam. 

Dia bingung tentang dirinya. Dia seolah tidak punya kemerdekaan untuk menentukan pilihan-pilihan dalam hidupnya khususnya persoalan dimana dia harus kuliah. Dia sama dengan saya atau juga sama dengan yang lainnya ketika berada pada ruang waktu yang dia berada sekarang. Ini fenomena umum yang banyak terjadi. Cara berpikir masyarakat kemudian diterima oleh setiap keluarga, kemudian keluarga mentransformasikan kepada anak-anaknya yang akan memiliki jurusan kuliah. 

Dia hanyalah menerima cara berpikir masyarakat, berikut keluarga. Bahwa jurusan yang bagus adalah hasil konstruksi berpikir masyarakat. Bidang kuliah yang bagus adalah yang memiliki peluang terserap dalam dunia kerja sangat cepat dan yang kurang baik untuk dipilih adalah yang peluangnya sedikit. Tidak ada yang salah dari cara berpikir demikian, justru perlu menjadi poin penting dalam pertimbangan-pertimbangan sebelum menjatuhkan pilihan. Namun, akan menjadi keliru jika point itu hanya menjadi satu-satunya faktor kemudian faktor yang lain disingkirkan. 

Dia adalah manusia, bukan robot yang bisa dikendalikan dengan remot. Dia memiliki sisi kemanusiaan yang punya rasa untuk dihargai, dimana pada dirinya telah dilengkapi potensi (bakat) yang harus dikembangkan. Potensi itu setiap manusia berebeda-beda sehingga bidang keahlian yang akan dikuasai nanti pun akan berbeda pula. Inilah bagian yang sangat penting untuk dihargai dalam pertimbangan-pertimbangan itu.

Banyangkan jika kita mengikuti paradigma berpikir masyarakat di atas bahwa jurusan kuliah yang ideal adalah yang hanya memiliki pontesi terserap dalam lapangan kerja kedepannya, sedangkan pertimbangan minat bakat menjadi terabaikan. Jika dia dan semua dia yang lain belajar kedokteran, lantas, siapa yang akan ahli dibidang ekonomi dan mengurusi urusan-urusan ekonomi? Siapa yang akan menjadi ahli hukum?  Ilmuwan politik? Ilmuwan fisika? Dan lainnya? Atau pertanyaan lainnya adalah apakah semua dia yang berkuliah dikedokteran akan bahagia dan ahli dibidang itu? 

Tahukah, bahwa banyak dia yang kuliah dijurusan tersebut (baca: kedokteran) masih belum sadar bahwa seungguhnya mereka tidak cocok untuk kuliah di bidang tersebut dan sebenarnya hanya cocok di bidang lain. Tidak dapat dipungkiri banyak juga yang sudah sadar, tapi mereka sudah terlanjur masuk. Dan untuk keluar dari pillihan tersebut (meninggalkannya) adalah pilihan yang sangat sulit, diantaranya karena dia sudah mendapat gelar sosial yang baik di masyarakat dan sayang jika harus dilepas.

Dia masih saja kebingungan. Tatapannya masih kosong sambil sesekali tersenyum meskipun wajahnya mengekspresikan ada keluguan menyelimutinya. Dia gagap atas pertanyaan yang saya ajukan. Dia adalah korban atas ketidaktahuannya. Dia adalah korban dari cara berpikir yang dominan di masyarakat. Arus telah menghanyutkannya dan dia belum menyadari itu. Saya berharap dia segera menyadarinya. Semoga pilihannya tepat.

Makassar, 18 syawal 1436 / 3 Agustus 2015

Jumat, 31 Juli 2015

Sedikit tentang seminar AIPI

Pembicaraan mengenai ilmu pengetahuan tidak akan ada habisnya. Apalagi berapa jumlah ilmu pengetahuan yang ada di semesta sejak waktu yang asali hingga waktu yang tak jelas akhirnya. Coba saja kita menghitung, hingga engkau akan mati atau anak cucu turunan-turunan bahkan sampai kiamat terjadi, ilmu ini tidak akan mampu terhitung. Karenanya bagi pencari ilmu akan mahfum perihal waktu yang sempit dengan ilmu yang banyak dimana kita tidak akan mampu mencerna semua ilmu hingga hayat akan menjemput nanti. Bahwa demi masa dimana manusia dalam kerugian, betapa banyak ilmu sedangkan kita tidak punya waktu yang cukup dan selalu menyia-nyiakannya.

Baru-baru ini saya mengikuti seminar yang diadakan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Universitas Hasanuddin. Seminar ini sebagai bentuk sosialisasi untuk membangkitkan gairah mencari dan mengembangkan ilmu melalui peneltian, berikut tentunya akan diimplementasikan pada pembangunan bangsa Indonesia. Bagiku inisiatif atas kegiatan ini adalah sangat baik. Apalagi selalu ditampilkan data perbandingan antara jumlah karya ilmiah antarnegara atau jumlah tekhnologi (sains), kita Indonesia selalu tertinggal jauh. Padahal ilmu pengetahuan merupakan indikator yang sangat menentukan maju tidaknya sebuah bangsa.

Saya tidak ingin menguraikan mengapa ‘kekhilafan’ dan ‘kekalahan’ ilmu pengetahuan (pendidikan) ini terjadi. Akan terlampau panjang untuk dipaparkan. Jauh lebih penting kita cukup belajar dari kesalahan-kesalahan dan berhenti menyalahkan serta siap mengevaluasi apa yang telah terjadi dalam dunia pendidikan dan segala yang terkait dengannya.

Dalam seminar itu, saya mengagumi beberapa tokoh intelektual yang menjadi narasumber dan juga merekalah sebagai bagian dari anggota oraganisasi di atas (baca: AIPI). Begitu cerdas dan semangat mereka dalam menemukan dan menggali ilmu sangat tinggi – alasan ini sehingga mereka dipercaya untuk menjadi anggota AIPI – menjadi inspirasi tersendiri bagi banyak yang hadir saat itu, tak terkecuali saya. Dari sekian narasumber, ada seorang nama yang menurut saya tidak asing dan cukup dikenal dalam dunia ilmu sosial dan juga birokrasi (pemerintahan) baik di Indonesia bahkan di dunia. Maklum saja, karena saya banyak bersentuhan dengan ilmu-ilmu sosial.

Beliau adalah Bapak Emil Salim. Paling banter, saya hanya mendengar nama dan pemikirannya dalam diskusi-diskusi atau melihatnya di televisi. Atau membaca buku dan artikel yang berkaitan dengan beliau. Tapi kali ini saya baru pertama kali bertemu secara langsung. Saat itu saya menyimpulkan bahwa beliau memang tokoh hebat. Bagi seorang yang paham, akan dapat mengidentifikasi kedalaman intelektual seseorang dari bagaiamana dia berbicara (berargumen), bahwa ‘berisi’ atau tidaknya muatan pembicaraannya.

Alhamdulillah, Allah masih terus memberikan semangat intelektual untuk menggali dan mencintai ilmu pengetahuan. Kehadiran dikegiatan tersebut membuat saya semakin bersemangat untuk “berpetualangan” dalam dunia ilmu pengetahuan. Menemukan, mengumpulkan serta mensintesiskan kembali menjadi ilmu pengetahuan yang baru untuk dimanfaatkan oleh siapapun. Aamin.

Saya mengapresiasi keberadaan lembaga ilmu pengetahuan ini. Apalagi jika kita menilik sejarah terbentuknya lembaga ini bukanlah selalu berada pada ruang yang “suka” melainkan juga “duka”. Dimana dalam perjalannya cukup sengit berhadapan dengan faktor-faktor politik dan ekonomi. Sehingga sering terjadi situasi ekonomi dan politik menjadi penghambat perkembangannya. Tidak mengherankan, isu pendidikan harus tunduk pada isu ekonomi dan politik hingga dia terbenam menjadi “yang lain”. Padahal pendidikan adalah mesin peradaban. 

Akhirnya saya masih bertekad untuk menjadi intelektual besar di Indonesia bahkan di dunia. Aamin.

~Makassar, 14 Syawal 1436 / 31 Juli 2015

Minggu, 26 Juli 2015

Kos-kosan dan Otokritik Gerakan Mahasiswa Makassar

Kian hari kebutuhan manusia selalu meningkat. Apalagi jumlah penduduk yang semakin meningkat selalu berbanding lurus dengan peningkatan kebutuhan. Terlebih lagi tuntutan zaman yang juga selalu menawarkan kebutuhan-kebutuhan baru yang seolah memaksa kita untuk memiliknya. Karena kebutuhan terlampau banyak, tulisan ini dikerucutkan pada kebutuhan akan tempat tinggal (papan). Untuk lokasinya pun saya batasi hanya pada kasus kos-kosan di sekitar kampus di Makassar, lebih khusus lagi di sekitar kampus Universitas Hasanuddin (Unhas).

Kos-kosan; dulu dan sekarang 

Kurang lebih tujuh tahun yang lalu, harga akomodasi di sini bisa disewa dengan harga sejutaan bahkan ada yang kurang dari itu. Untuk harga sejutaan, standar kualitas bisa terkategori layak dalam parameter mahasiswa saat itu. Tentunya harga selalu bersaing dengan menampilkan kualitas-kualitas, harga yang tiinggi akan menampilkan kualitas yang lebih tinggi dibanding harga dibawahnya. Saat itu harga yang lebih tinggi rata-rata sekitar 3 jutaan, tentunya sepeti yang disinggung sebelumnya bahwa kualitas sudah lebih dari cukup untuk dikatakan telah mumpuni.

Nah, bagaiamana kondisi sekarang??? Fluktuasi ekonomi mengakibatkan fluktuasi harga. Namun, harga kebutuhan ini (baca: kos-kosan)selalu menunjukan kenaikan dari tahun ketahunnya. Sebenarnya, kondisi ini hal yang alami dalam dinamika ekonomi masyarakat. Yang menjadi masalah adalah tidak semua mahasiswa (keluarga mahasiswa) akan mampu mengaksesnya dengan mudah karena tingkat ekonomi masyarakat (mahasiswa) berbeda-beda. Belum lagi beban kebutuhan lain seperti kebutuhan ‘pakan’, ‘sandang’ serta urusan kuliah dan sebagaianya, yang harus dipenuhi.

Setelah saya melakukan survey kecil-kecilan, ada tren yang jelas bahwa rata-rata pemilik kos selalu menaikan biaya kos dengan angka yang cukup signifikan tanpa ada perbaikan kualitas yang memadai. Sehingga tidak mengherankan, umumnya harga berkisar diangka 4 hingga 8 jutaan, terlepas dari harga air dan listrik yang harus dibayarkan tiap bulannya oleh penghuni.

Secara ekonomi, tidak ada yang salah dari realitas ini. Para pemilik kos berhak memainkan harga sesuai keinginannya dalam koridor yang tidak menabarak regulasi. Apalagi hari ini, sisitem ekonomi yang dijalankan oleh pemerintah sangat permisif terhadap para pelaku pasar (ekonomi pasar) untuk memainkan harga sesuai kehendak hati. Pemerintah terkesan tidak kuasa untuk mengintervensi ekonomi (pasar). Pasar dibiarkan bebas bergerak dan pemerintah hanya menjadi penonton karena keyakinan para penganut teori ekonomi ini (baca: kapitalisme), intervensi pemerintah atas ekonomi akan menghambat pertumbuhan ekonomi.

“Pejuangan kos-kosan”; Otokritik gerakan mahasiswa Makassar

Ada hal yang perlu dijadikan evaluasi dari gerakan mahasiswa hari ini. Kadang kala mahasiswa harus berhenti sejenak, lalu melihat apa yang telah dilakukan selama ini. Terlebih mahasiswa Makassar yang oleh banyak media selalu diindentikan dengan mahasiswa yang sering terlibat dalam demonstrasi memperjuangkan nasib rakyat. Sering mereka (baca: mahasiswa) terjun langsung dalam realitas yang dialami oleh mayasrakat kelas bawah, selanjutnya hadir sebagai penggerak memberikan solusi. Ini tidak salah dan sangat baik.

Namun, kadang-kadang kita harus berani melihat kedalam diri. Apakah mereka pernah melihat secara real nasib sendiri? Kembali pada perihal kos-kosan yang merupakan kebutuhan primer (papan) yang tidak bisa tidak, harus dipenuhi. Masalah ini menjadi masalah serius yang harus segera diatasi. Pasalnya, tiap tahun harga tempat mahasiswa berdiam diri ini, semakin meningkat tanpa ada regulasi yang jelas sedang kondisi ekonomi kebanyakan mahasiswa masih memprihatinkan.

Disinilah para mahasiwa harus berani lantang atas nasib mereka yang berhadapan dengan harga pasar (kos-kosan) yang semakin meroket. Tidak bijak jika mahasiswa hanya terus melihat berbicara secara makro, di satu sisi mereka luput atas yang dekat dengan mereka. Memang masalah kos-kosan bukan hanya masalah ‘mikro’ yang tidak memiliki kausalitas dengan system ekonomi politik yang telah terintegrasi dengan system global. Bahwa masalah ini hanyalah masalah ‘percikan’ dari sebuah system yang besar sehingga oleh banyak kalangan meyakini harus ada perubahan sistemik dengan alternatif system yang lain. Tapi hemat saya, tidak salah dan akan lebih bijak jika kita menggunakan analisis mikro untuk mencari jalan keluar atas soal ini.

Jihad Konstitusi; Perda kos-kosan; Sebuah Keharusan

Dalam hal lebih mikro, masalah ini sebenarnya bagaiamana pemerintah kota Makassar seharusnya mengambil andil. Tentunya mahasiswa juga harus sesering mungkin memberikan masukan dan mengingatkan kepada pemegang kebijakan ini. Jika menggunakan analisis ekonomi di atas, tentang bagaiamana konsep ekonomi yang dijalankan hari ini, seharusnya pemerintah segera merubah cara pandang ekonomi yang kapitalistik ini. Bahwa pemerintah harus terlibat langsung dalam perekonomian sebagaimana yang diamanatkan dalam pancasila, tidak hanya sekedar menjadi penonton atas ‘keliaran’ pasar yang sesuka hati.

Pemerintah harus kembali menjalankan amanat pancasila bahwa ekonomi harus diselenggarakan atas asas kekeluargaan (ekonomi kerakyatan) dimana pemerintah harus turun langsung untuk mengontrol pasar (harga kos-kosan). Keliaran pasar ini akan teratasi jika pemerintah menciptakan regulasi / peraturan daerah (perda) yang adil sehingga ada keadilan pemilik dan pengguna jasa kos-kosan. Perda sebagai alat kontrol bagi kebengisan spekulan dan pemain dalam system ekonomi pasar. Agar para pengelolah kos-kosan tidak bebas menaikan biaya yang cenderung berfokus pada akumulasi profit yang begitu besar.

Jika ketiadaan perda yang mengatur, saya yakin harga akan semakin tak terkontrol dan akan membebani mahasiswa. Karenanya campur tangan pemerintah dalam pasar dengan menciptakan perda yang memihak pada kepentingan mahasiswa adalah sangat mendesak dilakukan dan bagian dari amanat konstitusi. Karena perda adalah cara lain me-moralitas-kan para pelaku bisnis agar tidak hanya fokus pada pemburuan modal (uang) dengan mengurangi pertimbangan-pertimbangan kemanusiaan. Ketiadaan campur tangan pemerintah, pasar akan semakin kejam dan melibas siapa yang tak berdaya.

Masalah kos-kosan adalah masalah primer yang harus segra diselesaikan. Malasah kos-kosan adalah persoalan hajat hidup mahasiswa dan tentunya juga adalah persoalan hajat hidup rakyat secara umum. Sudah seharusnya mahasiswa melihat kebutuhan yang melekat padanya serta memperjuangkannya dalam segala perspektif.

*Tulisan ini tercipta setelah berjuang mencari kos-kosan yang murah, tapi tak kunjung dapat :D 

~Makassar, 9 Syawal 1436 / 25 Juli 2015

Jumat, 24 Juli 2015

Mudik dan Ketidakadilan

Sangat jarang kita melihat ruas-ruas jalan kota besar dengan  jumlah kendaraan yang padat, akan lenggang pada hari-hari normal. Artinya ada saat dimana ruas-ruas jalan ini akan lenggang atau para pengendara akan lancar berkendara tanpa banyak hambatan untuk sampai ditujuannya. Demikianlah realita yang terjadi dimoment idul fitri (mudik) dimana banyak tempat di Indonesia akan ditinggalkan oleh penghuninya, terkhusus lagi di kota-kota besar di Indonesia.

Adalah Makassar, salah satu kota besar yang ada di Indonesia. Kota ini sama halnya dengan kota besar lain di Indonesia, masyarakatnya bermudik secara massif. Wajar jika beberapa hari sebelum dan setelah momentum puncak (idul fitri), ruas-ruas jalan di Makassar secara perlahan mulai jarang terlihat kendaraan berlalu lalang. Karena kali ini saya tidak bermudik, ada perasaan legah tatkala berkendara bahwa dengan lancaranya melewati jalan demi jalan, tanpa macet.

Mudik secara massif ini menandakan bahwa kota selalu menjadi hal yang menarik untuk dikunjungi orang-orang dari berbagai pelosok. Sebenarnya, tinggal di desa jauh lebih nyaman dibanding tinggal di Kota. Di desa pola kehiduan masyarakat begitu menjunjung tinggi kebersamaan sedang kota cenderung individualis. Dari aspek lingkungan (alam) desa masih jauh lebih tentram. Kita akan langkah menemukan polusi udara, suara deru kendaraan bermotor atau “hutan-hutan beton” layaknya kita jumpai di perkotaan. 

Pembangunan yang tidak adil

Tapi ketertarikan manusia menjadikan kota sebagai tempat yang selalu di kunjungi, adalah adanya ketertarikan ekonomi, pendidikan, faislitas kesehatan atau segala fasilitas “keduniaan” lainnya yang lebih baik. Di desa hal-hal yang disebutkan ini sukar ditemukan. Apalagi ada paradigma berpikir yang terbangun bahwa kota adalah sesuatu yang “wah” dengan “kemajuan” yang dimiliknya dan selalu di anggap sebagai tempat lebih tinggi derajatnya (superior) sedangkan desa adalah tempat yang di bawah kota (subordinat).  Sehingga tidak heran jika banyak masyarakat desa atau tempat yang tidak memiliki fasilitas-fasilitas di atas, akan berbondong-bondong untuk mencari “kehidupan” dan ingin “menikmati” kota.

Jika ditelisik lebih dalam, kita akan mafhum tentang ketimpangan atau ketidakadilan pembangunan di Indonesia. Tidak usah kita berbicara jauh, kenapa hal ini bisa terjadi. Apalagi untuk membahasnya disini, terlampau rumit dan butuh berhalaman-halaman. Hal yang perlu kita tahu adalah pemerintah punya andil besar dalam mengkonsep model pembangunan kita hari ini. Bahwa pemerintah selama ini tidak adil dalam memberikan pelayanan kepada masyrakat. 

Baru-baru ini saya membaca sebuah berita, seorang mentri terkaget-kaget dengan harga barang yang ada di kawasan timur Indonesia yang begitu melambung tinggi bahkan berkali-kali lipat dibandingkan dengan harga barang yang ada di pulau jawa. Bagi saya, ini bukanlah informasi yang baru dan saya yakin telah banyak yang berpikir demikian, terlebih bagi kami (masyarakat) yang tinggal di kawasan timur atau selama ini jauh disentuh oleh pembangunan.

Ah, aku harus berhenti dari perenungan ini. Kemarin atau sehari sebelum aku menulis tulisan ini, saya mengendarai sepeda motor dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. Kebetulan secara geografis bandara ini berlokasi jauh di pusat kota Makassar atau berbatasan langsung dengan kabupaten lainnya. Harapanku masih sama: kelenggangan ruas jalan akan mudah dinikmati sehingga saya akan dengan lancar berkendaraan. 

Ternyata manusia-manusia luar kota (desa) sudah “menyerbu” masuk salah satu kota terpadat ini. Ah, ternyata macet lagi. Semoga pemerintah kita segera siuman dan berlaku adil.

~Makassar, 8 Syawal 1436 / 24 Juli 2015

Selasa, 21 Juli 2015

Pernikahan; Perjalan menuju titik 0,0

Pembicaraan seputar topik ini adalah hal yang umum terjadi terutama di kalangan muda mudi, terutama lagi bagi mereka yang sedang ‘galau’ atau sedang mencari “pasangan jiwa” untuk melengkapi jiwa yang belum sempurnah. Atau mungkin yang sedang “menderita” atas pertanyaan: kapan menikah? Apalagi di momentum suasa idul fitri, wacana ini (baca: pernikahan atau acara kawinan atau walimah  atau apalah istilahnya)semakin ribut diperbincangkan bagai tawar menawar di pasar tradisional.

Di banyak tempat di Indonesia termasuk kampung halaman saya, menjadikan momentum idul fitri sebagai saat yang baik untuk melangsungkan pernikahan. Hemat saya, banyak alasan kenapa fenomena ini umum terjadi. Diantaranya karena idul fitri adalah saat berkumpulnya orang-orang yang melakukan mudik ke kampung halamannya, sehingga menggelar pernikahan akan berpeluang dihadiri banyak orang dan inilah keinginan kebanyak orang yang ingin menikah. Selain itu, dalam kacamata religius bahwa idul fitrih adalah momentum suci atau kita “lahir kembali” setelah terlepas dari dosa-dosa yang diproses selama ramadhan dan disempurnakan dengan merayakan kemenangan (idul fitri), sehingga memulai hidup baru dengan kekasih yang sah melalui pintu pernikahan adalah pilihan yang tepat.

Nikah; gejala muda mudi

Baru-baru ini seorang kawan menulis sebuah artikel yang berhubungan dengan topik ini. Tulisannya pun memaparkan betapa dia mencurahkan “penderitaan” yang selama ini merundungnya terkait pertanyaan: kapan nikah? Atau sindiran dari orangtuannya: itu sepupumu sudah menikah atau temanmu sudah punya anak (dan berbagai pertanyaan yang mirip.hehehe).

Selain itu, ada kawan yang tak kalah lincahnya. Beberapa kawan menelponku untuk menghadiri pernikahannya. Atau saat saya berselancar di facebook, tiba-tiba ada catatan pemberitahuan tentang undangan walimah (pernikahan). Bahwa lagi-lagi saya di undang untuk menghadiri pernikahan dan “parahnya”, ada yang mendoakan agar pernikahanku dimudahkan sampai di hari H nanti (siapa yg mau nikah dalam waktu dekat ini? Hehehe). Tidak kalah hebohnya, saya mendengar jika saudara sepupu akan segra menikah. Terlintas di pikiran saya: apakah semua kawan-kawan saya akan segra menikah? Atau apakah menikah adalah agenda yang memang harus segra dilaksanakan? Setidaknya ada hal yang saya tangkap dari beberapa kejadian ini yakni ternyata pernikahan telah menjadi bagian dari agenda prioritas kebanyakan pemuda (muda mudi).  Itu hal yang wajar.

Bu Guru: Mana calon istrimu?

“Mana calon istrimu?” Sebenarnya pertanyaan ini sejenis dengan pertanyaan: kapan menikah? Atau komentar: “kawanmu sudah nikah” atau “hei,,,kawanmu minggu depan akan nikah”. Atau kamu menghadiri pernikahan bersama kawan-kawanmu dan saat itu kamu hadir tanpa ada yang menemani (pasangan) sementara kawanmu yang lain datang dengan pasangannya (baca: istri/suami). Kira-kira demikianlah analoginya, hehehe.

Suatu hari saat saya di kampung halaman, ada kejadian yang entah dapat diartikan sebagai sindiriankah? Tegurankah?  Paksaankah? Intimidasikah? Motivasikah? Atau apalah, apalah, apalah. Jadi ceritanya, begini. Hehe.

Berjalanlah saya dikeramaian orang-orang. Momennya adalah kurang lebih sehari setelah lebaran. Saat itu adalah sebuah acara sunnatan anak tetangga. Di kampungku, acara semacam ini selain acara keagamaan juga merupakan bagian dari acara adat yang memiliki prosesi tersendiri. Saat sedang keasikan berjalan sendiri, tiba-tiba seroang ibu paruh baya memanggil namaku. Suara itu membuatku penasaran, seketika aku menoleh ke arah sumber suara. Ternyata beliau adalah guru agamaku waktu SD dulu. Saya cukup senang ternyata beliau masih mengenaliku karena selama ini saya jarang bertemu dengan beliau. Tapi perasaan senang itu, tiba-tiba sedikit berubah dengan entah perasaan apa. Karena beliau berteriak (bertanya) lagi dalam keramaian. “Mana calon istrimu?”. Seketika pandangan orang-orang disekitar situ tertuju pada saya. Alisku berkerut dan bertanya dalam hati: “Kapan saya bertunangan atau kabar dari mana saya telah memiliki calon istri?”. Wah, pertanyaan di luar dugaan.

Saat itu saya berharap diberikan pertanyaan tentang kabar karena sudah lama beliau tidak bertemu dengan saya. Tapi saya tidak marah, justru tersenyum dan sedikit tertawa dan berkata: “Dengar dari mana bu? Saya belum pernah bertunangan ataupun punya calon istri”. Beliau melanjutkan komentarnya “Soalnya lama tak bertemu, ternyata kamu sudah besar ya. Sudah pantas untuk menikah. Tadi saja hampir aku tidak mengenalmu”. Ujarnya dengan suara yang masih cukup keras. Tapi saya tidak pernah memandang komentarnya sebagai sesuatu yang negatif. Saya mengggapnya sebagai kelakar pembuka untuk masuk ke sesi ngobrol atau beliau memotivasi saya.

Menuju kordinat 0,0 (nol koma nol)

Tidak dapat dimungkiri, menikah adalah bagian dari kebutuhan manusia. Selain persoalan bagaiamana hasrat alami (biologis) yang harus dipenuhi oleh manusia, juga agama (islam) dimana menikah merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh penganutnya.

Menikah adalah perjalan menuju titik 0,0 (non koma nol). Mungkin sering mendengar istilah sepasang hati atau separuh jiwa. Isitilah ini biasanya dilekatkan ada dunia ‘per-asmara-an’. Dimana muda mudi selalu mencari pasangan hati atau separuh jiwa pada lawan jenisnya.

Tuhan telah mencitakan alam semesta dengan keseimbangan. Ada siang-malam, terang-gelap, kaya-miskin, besar-kecil termasuuk ada hati yang harus di pasangkan atau jiwa yang harus menyatu menjadi satu hingga mencapai titik keseimbangan. Jiwa yang seimbang inilah yang akan dicapai melalui pencarian dan kemudian disahkan dengan pernikahan. Keadaan yang seimbang akan membuat manusia menjadi tenang. Mungkin inilah salah satu alasan Tuhan memerintahkan agar manusia menikah karena menikah akan menyempurnakan sebagian agama. Dan juga mungkin inilah alasan kenapa banyak orang yang telah menikah berkata: nikah itu membuat tenang!.  Menuju 0,0-menuju keseimbangan. Dari seimbang menjadi tenang, dengan pernikahan.

Tentunya setiap orang punya rencana dan pilihan masing-masing. Semua akan indah pada waktunya.


~Makassar, 4 Syawal 1436 / 20 Juli 2015

Rabu, 15 Juli 2015

Mudik; berkah ramadhan

Sebuah feonomena yang unik yang dimiliki Indonesia. Ada yang bilang mudik adalah bagian dari fitra atau keniscayaan manusia, bukan hanya persoalan fenomena kebudayaan. Kita akan kembali ke asal, setelah kita melalang buana keberbagai tempat. Konsep ini sama halnya dengan konsep hidup dan mati, bahwa setelah kita hidup di dunia yang fana dan pada akhirnya kita akan kembali pada sang pencipta. Demikian pula dengan mudik.

Tahun ini, untuk pertama kali saya tidak ikut mudik bersama kawan-kawan. Saya memilih untuk tetap tinggal di tanah rantauan. Sebenarnya lebaran dikampung halaman adalah hal yang lebih menyenang disbanding harus merayakan hari lebaran di kampung orang yang jauh dari keluarga. Tapi inilah keputusan saya dengan pertimbangan-pertimbangan pribadi.

Saya yakin bukan hanya saya yang tidak memutuskan untuk mudik. Banyak orang di Indonesia yang tidak bertemu dengan keluarga di kampungnya. Tentunya bukan hanya persoalan tidak ada kesempatan atau pertimbangan-pertimbangan lainnya tapi kadang tidak adanya dana untuk pulang kampung. Umumnya para pemudik adalah mereka yang telah tinggal lama dan menetap atau mencari kerja di tempat lain. Namun ada juga yang dalam proses mudik tapi tidak sempat bertemu dengan sanak keluarga karena kecelakaan sehingga harus dirawat dirumah sakit bahkan meninggal. Atau malah ada yang tidak mudik karena sanak keluarga di kampung sudah tidak ada.

Mudik juga menjadi persoalan ekonomi. Maksudnya mudik akan mendatangkan efek ekonomi bagi kampung halaman para pemudik. Pemudik bukan hanya membawa diri mereka tapi juga uang yang digunakan untuk membeli kebutuhan-kebutuhan dikampung halaman sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pemudik juga dapat menjadi penyumbang pemikiran baru. Pemudik akan membawa pemikiran dan kebudayaan baru yang mungkin tidak dikenal oleh masyarakat kampung. Disinilah terjadi silang dan kawin budaya sehingga tidak menutup kemungkinan akan menjadi inspirasi membangun kampung. 

Selalu ada berkah dalam ramadhan. Bersyukurlah bagi kita yang sempat mudik dan bertemu keluarga di kampung halaman. Smoga yang mudik diberikan kemudahan dan berbahagia dengan keluarga di kampung.

~Makassar, 28 Ramadhan 1436 H / 15 Juli 2015

Senin, 04 Mei 2015

Jangan biarkan mereka seenaknya memasuki pikiranmu

Mulut berbicara dimana-mana. Telinga mendengar dimana-mana. Mata melihat dimana-mana. Semua sudah berubah. Kejadian di belahan bumi lain, seketika dapat ketahui oleh manusia dibelahan bumi lainnya. Dunia telah berubah dan segalanya bisa akan berubah.

Terus terang saya sudah bosan dengan acara-acara televisi kita hari ini. Selain malas untuk menonton, juga karena dihiasi oleh program acara yang kurang menarik untuk di tonton. Melalui televisinya, para pebisnis media terkesan hanya berpikir bisnis demi mendapat bagaimana menaikan ratting (laba) yang sebesar-besarnya tanpa mengoreski konten acara.

Orang bijak berkata: masa depanmu di tentukan oleh tiga hal. Pertama, dengan siapa kamu bergaul. Kedua, buku apa yang kamu baca. Ketiga, acara apa yang kamu tonton. Sesungguhnya ketiga poin di atas sangat penting. Hemat saya ketiganya adalah hasil pengerucutan dari berbagai hal faktor yang menentukan arah kita ke depan. Namun, Saya hanya ingin menuliskan tentang poin ketiga: program acara yang seriing kita tonton.

Tentang program acara yang kita nonton adalah hal telah menjadi aktivitas rutinitas manusia. Dunia kita telah masuk dalam dunia tekhnologi informasi. Mungkin dahulu, sangat sulit bagi orang-orang untuk mengakses informasi melalui media elektronik seperti televisi atau radio terlebih di daerah-daerah pedesaan dan pelosok. Televisi hanya akrab bagi mereka yang berada di daerah perkotaan yang tergolong maju dan modern serta mungkin juga yang terkategori dalam kelas menengah ke atas.

Sebelum kita berbicara lebih lanjut, saya ingin sedikit bernostalgia dengan masa kecil saya di desa terkait bagaimana kegagapan kami terhadap keberadaan televisi. Jangankan televisi, listrik pun merupakan barang langkah. Bayangkan saja, ketika saya dan kawan-kawan sedang asik bermain di penghujung senja, seketika kami akan bersorak tatkala lampu (listrik) tiba-tiba menyalah. Sorak gembira bak melihat saudara yang baru pulang dari rantauan. Sedang di kota-kota anak sudah biasa dengan listrik dan mungkin akan tertawa kegirangan jika melihat tingkah kami ini ketika lampu (listrik) menyalah. Mengingat hal ini jadi senyum-senyum sendiri, meskipun di desa kami sampai hari ini listrik belum sepenuhnya bisa dirasakan. Maklum namanya juga desa, terkesan selalu ‘teranak-tirikan’.

Kembali ke topik. Yah, hidup kita dihiasi oleh media, elektronik maupun cetak. Dahulu televise hanya menjadi barang langkah milik orang yang berpunya. Namun sekarang, benda ajaib berbentuk kubus ini sudah menjadi kebutuhan primer manusia dan tentunya cukup mudah didapatkan. Realitas ini membuat para industri pertelevisian memproduksi acara sebanyak-banyaknya yang salah satu tujuannya adalah meraup untuk sebesar-besarnya. 

Tidak mengherankan jika program acara diproduksi dengan berbagai jenis. Mulai hiburan yang berkualitas rendahan hingga informasi yang memuat informasi ‘sampah’, provokatf dan sarat kepentingan tertentu kemudian disebarkan bebas dan serampangan. Tidak peduli dampak sosial (negatif) yang ditimbulkan. Konten acaranya terkandung nilai moral dan sosial atau tidak urusan belakangan, asalkan laku di pasar maka selesai. Wajar saja, jika dalam banyak hal program acara di televisi kita, kurang bahkan sangat tidak berkualitas atau justru melahirkan kehancuran moralitas masyarakat. 

Inilah yang terjadi di dunia arus informasi dan tekhnologi yang besar ini. Kita harus pandai-pandai mengonsumsi program acara baik berbentuk hiburan maupun pemberitaan. Jangan biarkan informasi-informasi ‘jahat’ seenaknya memasuki pikiran kita.
 
Akhirnya saya kadang berpikir, betapa bersukurnya kami yang tinggal di desa. Karena listrik sehingga kami kurang intens mengkonsumi acara pertelevisian. Meskipun ini masih butuh diskusi yang panjang. hehehe... 

~Kediri, 4 Mei 2015

Minggu, 03 Mei 2015

Bahasa kita sama, Kita Indonesia

Perbedaan itu indah. Peberdaan itu juga adalah konflik. Perbedaan ibarat dua mata uang yang selalu berada berdampingan. Keduanya dapat mewujud tergantung bagaiamana perbedan itu di manajemen.

Sesungguhnya perbedaan itu adalah keniscayaan. Tak ada manusia yang sama dicitakan di dunia ini. Manusia yang dilahirkan dalam keadaan kembar pun, tidak persis sama misalnya sidik jari yang setiap manusia berbeda satu sama lain. Apalagi jika kita melihat perbedaan dalam konteks sosial kebudayaan
.
Sudah banyak hal-hal yang unik dalam perbedaan-perbedaan kebudayaan di Indonesia. Kebetulan saya suka berpetualang. Sudah banyak daerah di Indonesia yang aku jumpai yang memiliki perbedaan terutama bahasa. Inilah yang membuat Indonesia unik dan sangat indah jika mampu dijaga serta dikelolah dengan baik.

Suatu ketika saya berjumpa dengan beberapa kawan. Saya menyebutnya para ‘si fulan’ namanya. Dia berasal dari salah satu tempat di pulau besar Indonesia yang sebagian besar penduduk Indonesia berdiam di sana. Di sinilah perbedaan kami berdialog bahkan mungkin berdebat.

Perjumpaan menghasilkan interaksi. Ketika kami berbincang-bincang dengan menggunakan bahasa Indonesia, mereka selalu menganggap bahasa yang saya utarakan agak lucu. Lebih spesifiknya lagi adalah dialek (logat). Maklum saja, Indonesia adalah negeri yang unik dengan berbagai budaya serta banyak dipisahkan oleh pulau-pulau. Sehingga setiap kali orang bertutur dengan bahasa Indonesia hampir semua membawa dialek kebudayaan masing-masing. Meskipun sebenarnya, bisa saja saya atau siapapun menggunakan bahasa Indonesia formal atau bahkan ilmiah dalam obrolan itu. Tapi saya melihat peruntukan dengan pertimbangan situasi, kurang tepat karena saat itu bukanlah forum yang ilmiah, formal atau serius.

Saya ingin mengajukan pertanyaan. Bagaiamana seandainya ketika anda sedang berbicara tiba-tiba orang-orang akan menertawakanmu karena dialek yang anda guanakan? Apalagi tidak hanya sekali atau berulang kali? Saya yakin sisi manusia kita akan tersinggung, entah berapa kadar ketersinggungan itu. Itulah yang saya alami dan mungkin juga anda.

Akhirnya saya berinisiatif untuk mengingatkan para sifulan ini. Saya ingin memahamkan mereka tentang arti kebudayaan Indonesia atau bahkan substansi dari pancasila itu. Bahwa sesungguhnya tidak boleh ada yang merasa sebagai budaya superior atau disuperiorkan dalam kehidupan keIndonesiaan kita. Berikutnya, budaya lain disubordinatkan. Jika demikian yang terjadi, sesungguhnya ini bukanlah Indonesia dengan lima sila dalam pancasilanya. 

Daerah dan kebudayaan termasuk si fulan ini sebenarnya sering di angkat dalam media-media mainstream Indonesia. Baik dalam pemberitaan politik, ekonomi atau kebudayaan serta yang lainnya maupun dalam banyak program acara hiburan pertelevisian kita. Sehingga tidak mengherankan banyak orang terutama kalangan muda selalu menstandarkan kebudayaan mereka pada kebudayaan para si fulan ini. Mereka merasa tersubordinat oleh kebuayaan orang lain. Anak-anak muda ini secara tidak sadar menganggap kebudayaan dan bahasa mereka adalah hal yang lebih ‘rendah’ di banding kebudayaan para si fulan ini. Mental seperti inilah yang disebut dengan mental ‘terjajah’ yang kadang mereka tak menyadarinya. Fenomena ini, dalam istilah akademik ada yang menyebutnya dengan fenomena ‘hegemoni’ yakni penjajahan yang terjadi dimana para korban tidak menyadarinya jika sedang dijajah.

Cara berikir seperti, hemat saya adalah keliru. Kita dalam posisi yang sama baik dalam pandangan pancasila terlebih dalam pandangan agama islam yang merupakan agama mayoritas penduduk Indonesia. Bahasa dan kebudayaan para sifulan ini hanya ‘aji mumpung’. Hanya kebetulan didukung oleh kekuatan media besar yang berada di sekitar mereka. Media membantu mendistribusikan ke seluruh penjuru Indonesia melalui program acara hiburan, program berita ataupun program-program acara media lainnya.

Kembali pada diskusi saya dengan para si fulan. Karena tak suka dan cukup ‘alergi’ dengan cara berpikir seperti mereka. Saya melihat para si fulan ini dalam posisi merasa bahwa kebudayaan mereka adalah superior sehingga selalu medefinisikan kebudayaan yang lain dengan cara pandang mereka sendiri. Mereka merasa bahwa budaya (bahasa) mereka lebih baik di banding bahasa lain di Indonesia. Atau para si fulan merasa bahwa budaya dan bahasa merekalah yang perlu di jadikan contoh. Sehingga saya sedikit menjelaskan agar mereka paham. Saya jelaskan bahwa dalam cara pandang bahasa daerah lain di Indonesia, bahasa si fulan juga aneh dan mungkin juga lucu. 

Inilah fenomea kebudayaan kita. Kita harus mempertahankan lokalitas kebuyaan daerah kita. Karena kebudayaan Indonesia adalah kumpulan (akumulasi) kebudayaan-kebudyaan nusantara, merauke sampai sabang. Tidak ada yang merasa sebagai budaya atau bahasa daerah yang berderajat tinggi di antara suku-suku di Indonesia. Semoga kita menyadarinya.

~Pare, 6 April 2015

Jumat, 27 Maret 2015

Cerita dengan kawan dari timor leste

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Istilah kebetulan hanya ada dalam konsep kebanyakan manusia tapi bagi Tuhan tak ada kebetulan. Karena Tuhanlah sumber dari segala sebab, yang menyebabkan semua terjadi. Hingga membuat saya bertemu dengan seorang kawan dari luar negeri. Dia kawan yang baru saya mengenalnya meskipun sampai sekarang namanya tidak saya ketahui. Namun, tadi kami banyak berdiskusi tentang negaranya dengan menggunakan bahasa Indonesia. 

Kesan pertama yang muncul ketika bertemu dengannya adalah dia seorang Indonesia. Dari paras dan gaya bahasanya, tidak berbeda jauh dengan masyarakat Indonesia umumnya. Bahasa Indonesia yang digunakan pun sangat fasih. Namun, setelah saya bertanya tentang asal daerahnya, ternyata dia berasalah dari timor leste, yang dahulu adalah bagian dari Indonesia dengan nama timor timur.

Dia seorang yang ramah dan asik diajak ngobrol tentang apa saja, terutama tentang negaranya. Tidak ada kesan bahwa kami berbeda Negara. Pasalnya, Negara yang tergolong Negara termuda di dunia ini adalah bagian dari sejarah Indonesia. Ada suasana kebatinan sebagai anak Indonesia (dia sudah menjadi anak timor leste) sehingga dalam diskusi seolah lupa bahwa kami berbeda Negara.

Dia banyak bercerita tentang negaranya. Saya pun tidak hanya mendengar saja melainkan pro aktif bertanya. Tentang kondisi dinegaranya hingga perbincangan mengenai situasi politik di sana.

Akhirnya perbincangan kami sampai kepada sepak bola. Diskusi tentang ini memang selalu menarik apalagi bagi orang-orang yang hobi baik menonton mapun ikut bermain. Apalagi sepakbola bukan hanya sekadar olahraga atau pertandingan di lapangan hijau. Jika di kaji secara mendalam, sepak bola sulit dipisahkan dengan ekonomi, nasionalisme, sejarah bahakan politik.

Tampaknya kawan saya ini, cukup gemar dengan sepak bola. Dia mengkuti jadwal pertandingan sepakbola yang akan berlaga saat itu. Bahwa akan segra ada kualifikasi pertandingan sepak bola antara Indonesia dan negaranya (timor leste). Sebagai warga Negara yang baik, dia ingin menunjukan rasa nasionalisme terhadap negaranya. Akhirnya, di tengah keasikan kami berdiskusi, tiba-tiba dia minta izin untuk menyaksikan pertandingan kedua Negara ini. Sambil bercanda, serentak saya dan kawan-kawan dari Indonesia berkata: “Kamu hati-hati ya…!!! Jangan terlalu bersorak untuk negaramu, karena kamu berada di ‘kandang’ Indonesia ”.

Tiba-tiba pandanganku berarah pada sebuah meja. Ternyata makanan kami sudah habis :)
 

~Kediri, 27 Maret 2015

Kamis, 26 Maret 2015

Zikir india

Akhirnya menulis juga. Setelah sekitan lama berlarut-larut dalam kemalasan dan mungkin juga kurang waktu yang kondusif untuk menulis.

                                              ***

Malam ini, malam jumat. Malam yang menurut islam adalah malam yang cukup special di antara malam-mala lain. Di sini umat islam di anjuurkan untuk beribadah sebanyak-banyaknya. Beribadah horizontal maupn vertical.

Saat menulis artikel ini, saya sedang berada di Kediri pare provinsi jawa timur. Tidak jauh dari kabupaten ini, terdapat kota Surabaya yang terkenal dengan sebutan kota santri atau semakin dekat lagi dengan kampong asal salah satu presiden republic Indonesia, GUsdur. Cukup berasalan apalagi jika di tarik kebelakang tentang sejarah lahirnya salah satu organisasi islam besar di Indonesia bahkan di dunia, nahdatul ulama. bisa dikatakan daerah inilah atau dalam skop proviinsi maka provinsi jawa timurlah yang merupakan basis Nahdatul ulama ini.

Salah satu cara yang digunakan NU dalam mempertahankan dan menyebarkan agama adalah dengan mendirikan pesantren-pesantren. dalam perkembangan NU, tentunya mengalami pergualantan dengan zaman. Mungkin dahulu terkesan eksklusif namun hari ini hal itu tidak dapat dihindarkan lagi dari arus modernitas yang semakin membesar.

Kembali ke situasi malam ini (baca: jumat). Zikir dilakukan di masjid-masjid. Bukan hanya di masjid melainkan di rumah-rumah pun dilakukan. Namun ada yang menarik untuk di telisik. Malam ini dikumandangkan zikir darimasjid-masjid. Saya melihat kreatifitas dan upaya keluar dari sikap tradisional yang umum disematkan kepada warga nahdiyin (NU).  Jika dahulu zikir dilakukan dengan ‘kaku’, tapi tidak dengan mala mini.

Terdengar zikir yang dilantunkan saat ini ada nuansa music dari Negara lain. Mungkin bagi pencinta film india tidak akan asing mendengar instrument zikirnya. Zikir yang diucapkan di kombinasikan dengan instrument lagu india, yang jika tidak salah judulnya kuchu-kuchu ho tahe (hehe… maaf jika salah tulis judul). 

Hemat saya ini cukup menggelitik. Saya yakin jika hal ini di bawa pada masyarakat tradisional yang lain akan menimbulkan resistensi.  Tapi bagi saya ini kreatifitas yang mencoba memasuki “suasana kebatinan” masyarakt modern yang hari ini secara perlahan terus di tarik dalam pusaran budaya modernitas terlebih hari ini arus budaya india mulai menyerang budaya Indonesia. 

Selama tidak menghilangkan nilai-nilai islam atau substansi dari islam itu sendiri, maka sah-sah saja. Karena islam bukanlah agama yang lahir dalam ruang hampa. Islam lahir dalam pergulatan budaya, ruang dan waktu yang begitu besar dan lama. 

*karena malas membaca kembali dan meng-edit maka jika ada kata, kalimat dan penyusunannya yang kurang tepat, tolong maafkan. Silah masukan saran saja agar diriku memperbaikinya. Hehehe…

*tulisan ini terjadi saat mendengar lantunan zikir di seantero langit Pare, Kediri. 26 Maret 2015.

Kamis, 01 Januari 2015

Dipenghujung tahun 2014 dan dipermualaan awal 2015, aku mencoba menangkap, mengikat dan mengabadikan makna (hikmah) dalam tulisan.

Bahwa pada suatu titik kita harus berhenti sejenak. Lihatlah kebelakang, lihat pula sekarang dan kedepan. Berefleksi untuk memproyeksi kedepan. Berevaluasi untuk merancang masa depan yang lebih baik. Smoga resolusi kita Tahun ini dapat terwujud. Aamin.

~Slamat Tahun 2015
 
 
Catatanku dipenghujung 2014 dan dipermulaan 2015