Rabu, 17 Desember 2014

Kesiapan dan Peluang

Siang. malam. Matahari terbit-terbenam. Buah yang jatuh dari pohonnya. Manusia berjalan. Ikan berenang. Burung terbang. Rasa senang-sedih. Menyesal-bangga. Demikian perputaran siang dan malam, bahwa selalu ada tanda-tanda bagi yang berpikir.

Banyak tanda (hikmah) dalam proses kehidupan jika kita membacanya. Biasanya terselip dalam kejadian-kejadian yang kadang tidak begitu penting bagi kebanyak orang. Tapi setiap kejadian itu, tergolong penting atau tidak, akan ditemukan hikmah bagi yang memikirkannya.

“Berpetualanglah layaknya seorang backpacker, dalam perjalan engkau akan menemukan tujuan-tujuan”.
Kalimat yang diungkapkan oleh kawan padaku cukup berarti jika dimaknai secara dalam. Dalam kehidupan selalu banyak hal yang membuat hati dan akal tertarik untuk mengikutinya, mungkin inilah bagian dari cita-cita itu.

Namun bagaimana jika kita menginginkannya tapi kita tidak memiliki kesiapan untuk berhasil mendapatkannya? Inilah masalah yang saya hadapi. Ada sebuah kompetisi yang menurut saya cukup menarik. Sayang, syarat-sayat untuk mengikutinya tidak terpenuhi oleh saya. Saya kurang bersiap sedari dulu sehingga ketika peluang ini muncul saya tidak bisa terlibat di dalamnya.

Namun apa jadinya para backpacker hanya memiliki kesiapan untuk menempuh perjalanan, jika hanya duduk diam tak bergerak? Tentunya mereka tidak akan menemukan peluang atau mimpi-mimpi itu. Peluang/terwujudnya mimpi hanya akan menemui orang-orang yang bersedia menempuh perjalanan. Jika hanya duduk mengeluh dan tidak bersedia mencari tangga untuk sampai ke tingkat atas, maka mimpi itu tidak akan terwujud.

Pelajaran yang saya peroleh dari pengalaman beberapa hari ini adalah tentang bagaiamana mewujudkan mimpi. Bahwa di perjalanan selalu ada peluang-peluang untuk mewujudkan mimpi-mimpi. Namun, berjalanlah dengan bekal atau persiapan. Ada peluang  tapi ketiadaan persiapan, absurd. Ada persiapan tapi ketiadaan peluang, sama absurdnya. Hanyalah kepemilikan akan keduanya yakni peluang dan kesiapan kita dapat mewujudkan mimpi itu. Mari menyiapkan segala amunisi yang diperlukan dan mari temukan peluang itu.

~Makassar, 17 Desember 2014

Sabtu, 13 Desember 2014

Kurikulum pendidikan individu

Gayatri. Yah, dia seorang anak yang ajaib. Bayangkan saja, diumurnya yang belum mencapai dua dekade, dia sudah menguasai lebihdari sepuluh bahasa secara otodidak. Dia tidak pernah ikut kursus sebagaimana banyak orang lakukan untuk menguasai bahasa tertentu. Dengan kemampuan, metode serta strategi sendiri, dia mampu membuktikan bahwa belajar itu bisa bisa dilakukan dengan banyak cara, tidak mesti harus mengikuti cara-cara mainstream. Apalagi jika selalu mengikuti sistem atau kurikulum yang ditetapkan oleh lembaga tertentu atau institusi yang bernama negara.
 
Saya tidak ingin membahasa gayatri lebih dalam di sini. Saya hanya ingin mengucapkan turut berbela sungkawa karena gadis ini belum terlalu lama ini (saat menulis tulisan ini) telah dipanggil oleh sang Kuasa untuk menghadap pada_Nya. Semoga amal ibadahnya mendapat tempat yang layak dan dosa-dosa terampuni,  Al Fateha. Smoga kita menginspirasinya.
 
Beberapa hari yang lalu, saya juga bertemu dengan orang yang mirip dengan Gayatri. Dia juga menguasai beberapa bahasa dengan cara belajar sendiri (otodidak). Saya berdikusi banyak dengannya tentang bagaimana bisa menguasai bahasa dengan sistem pendidikan ala dia. Saya terkagum-kagum dengan ceritanya. Lagi-lagi saya terinspirasi.
 
Hemat saya, kedua orang ini sebagai anti thesa dari sistem mainstream yang dianut oleh kebanyakan orang. Kita selalu terpaku dan tergantung pada sistem atau konsep budaya pendidikan kita yang turun temurun. Bahwa jika ingin cerdas harus mengikut pada sistem sekolah formal. Atau jika ingin menguasai bahasa asing harus mengikuti kursus di lembaga bahasa tertentu. Saya pikir ini paradigma yang kurang tepat.
 
Dalam kasus belajar bahasa inggris misalnya, saya ingin mengajukan pertanyaan kepada hadirin pembaca: Sudah berapa lama anda belajar bahasa inggris? Rata-rata kita akan menjawab sejak SD hingga universitas atau bagi yang bersekolah di desa yang tepencil dan tertinggal seperti saya mungkin sejak mulai dari SMP atau bahkan tidak sama sekali karena tidak pernah sekolah. Atau kalaupun sekolah guru-guru pengajarnya masih kurang kompeten. Pertanyaan berikut: Sudakah anda ahli dalam berbahasa inggris? Saya yakin, jika mengandalkan sistem pengajaran seperti di sekolah formal kita, maka sebagian besar dari kita atau bahkan semua akan menjawab: Tidak. 
 
Jika demikian faktanya, berarti ada yang salah dalam sistem pendidikan (pengajaran) kita. Jika kita berbicara sistem, kita akan berbicara seluruh pihak-pihak yang terkait krena sistem adalah kumpulan bagian-bagian yang bersatu. Mungkin karena gurunya, konsep belajarnya, kondisi kelas, siswanya, anggaran pendidikan termasuk gaji pengajar atau yang lainnya. 
 
Namun, dalam kasus kedua orang yang dibicarakan di atas menarik untuk kita ajukan pertanyaan: Kenapa mereka bisa se ahli itu dalam belajar? Okelah, ada faktor kecerdasan (kelebihan) yang dimiliki setiap manusia. Tapi untuk kasus belajar bahasa asing banyak orang cakap dengan belajar secara otodidak. Mereka tidak  menggantungkan diri pada sistem pendidikan kita yang ambu radul ini. 
 
Kurikulum Individu
 
Teori atau konsep atau sistem pendidikan, hemat saya tidak semua bisa digeneralkan atau di universalkan kepada semua peserta didik (siswa). Banyak teori lahir adalah adanya upaya melakukan penyamarataan (generalisasi) terhadap semua objek yang diteliti. Mengambil sampel kemudian mengeneralkan ke smua populasi. Padalah kemungkinan seluruh populasi berbeda dengan keadaan sampel yang diteliti adalah masih terbuka lebar. Untuk lebih sederhananya, saya berikan contoh.
 
Menurut dokter tidur ideal bagi manusia dalam sehari adalah 8 jam. Pertanyaannya: Apakah seluruh manusia pernah di teliti oleh sang dokter? Saya pastikan, jawabannya: Tidak. Bisa saja orang yang tidak diteliti tersebut tidak membutuhkan 8 jam tidur untuk kesehatannya. Bisa saja lebih atau kurang dari 8 jam. 
 
Inilah yang saya ingin tekankan. Setiap orang punya pola sendiri, metode, sistem, cara atau apalah namanya, untuk menguasai pengetahuan tertentu. Kurikulum atau sistem pendidikan hanya upaya menjeneralkan semua siswa atau pendidikan, padahal kondisi semua siswa tidak selamanya mereka ketahui. Atau kadang kurikulum pendidikan terlampau sok tahu dengan kondisi siswa secara umum, karena tidak selamanya siswa cocok dengan sistem pendidikan itu.
 
Sekarang, di tingkat elit tengah diperbincang kurikulum pendidikan untuk diterapkan di negeri kita, Indonesia. Terkesan setiap ganti pemerintah (mentri), kurikulum pendidikan juga ikut diganti. Inilah yang terjadi sekrang. Terjadi bongkar pasang kurikulum pendidikan. Pemerintah sekarang tiba-tiba secara mengejutkan mengganti kurikulum pendidikan yang digunakan oleh pemerintah sebelumnya. Konsekuensinya terjadi kebingungan dan ke’kacauan’ di tingkat pelaksanaan. 
 
Terlepas ideal atau kurang idealnya kurikulum pendidikan yang diberlakukan dan tengah diperbincangkan saat ini, saya masih yakin dengan metode kedua orang yang dibicarakan di atas  (gayatri dan kawan yg kutemui). Bahwa setiap pribadi manusia punya ruang sendiri untuk bermanuver belajar untuk memahami sesuatu tanpa harus tergantung pada sistem/kurikulum pendidikan. Lagi pula kurikulum pendidikan tidak menjamin semua siswa akan merasa cocok dengannya.
 
Sejatinya, kurikulum pendidikan apapun, sebaiknya memberikan ruang kreatif bagi siswa untuk mencipatkan metodenya belajarnya sendiri. Karena setiap individu punya metode, pola, teori, strategi, kurikulum atau sistem belajar (pendidikan) sendiri yang kadang hanya di ketahui oleh pribadinya sendiri. Yang demikian saya menyebutnya “kurikulum individu”. Mari belajar pada gayatri dan kawan saya di atas.

~Kesunyianlah yang membuatku menulis saat ini. Makassar, pukul 11:37, 13 Desember 2014

Selasa, 09 Desember 2014

Memoriku terseret ke masa kanak-kanak

Sore biasanya digunakan oleh sebagian orang untuk segera menyelesaikan tugas-tugas hariannya. Ada juga yang sudah selesai sehingga hanya sekedar mengisinya dengan aktivitas santai atau istrahat. Demikian dengan kami saat itu.

Saya dan beberapa kawan, duduk di pelataran salah satu Masjid di kota Makassar. Seorang kawan tiba-tiba bercerita tentang masa kecilnya. Cerita itu muncul lantaran, ada beberapa anak yang tengah bermain, bergembira ria di sekitar kami. Saya yakin anak-anak inilah yang membuat memori kawanku terseret ke masa lalu, saat dia masih anak-anak.

“Bahagia sekali mereka ya?” kawanku bertanya dengan pertanyaan retoris. Kami mengiayakan. Saya melihat saat itu anak-anak yang sedang bergembira ria di sekitar kami, begitu bahagia. Tak ada beban yang terpancar dalam raut mukanya. Asumsi saya, anak-anak ini tidak seperti anak remaja atau dewasa yang sering diperhadapkan dengan masalah-masalah hidup yang cukup berat membutuhkan penyelesaian. Yah, bagiku itulah dunia anak-anak yang ideal. 

Namun, asumsi saya tersebut bisa seketika terbantahkan, tatkala saya melihat bagaiamana anak lain se usia mereka tidak tertawa riang sebagaimana mereka rasakan. Lihat di belahan dunia lain. Tidak usah belahan tempat yang jauh, tapi lihatlah di belahan tempat di kota ini. Banyak anak-anak seumuran mereka, sore hingga larut malam masih di jalan. Mereka menjual koran, mengais sampah bahkan hanya sekadar meminta-minta belas kasihan orang lain.

Idealnya anak-anak adalah dunia penuh kebagiaan. Tanpa beban masalah. Pagi hari bangun. Belajar dan bermain dengan kawan sebayanya. Beribadah. Bercanda ria dengan keluarga. Di sayangi oleh orang sekitarnya. Tidur nyeyak tanpa beban masalah dan lainnya. Tapi inilah kehidupan. Bahwa pengharapan kadang tidak sesuai dengan kenyataan.

“Dahulu, ketika saya masih anak-anak, saya begitu penasaran dengan dunia orang dewasa. Bahkan saat itu saya menginginkan untuk menjadi dewasa” kawanku kembali bercelatuk. “Persis, saya juga”. Tapi bagiku ini bukan karena kebosanan akan dunia kami saat itu. Melainkan inilah dunia segala keingintahuan. Dunia yang ingin mencoba hal baru dengan kebebasan yang kadang tidak memikirkan resiko.

“Tapi justru sekarang sebaliknya. Aku ingin kembali lagi seperti masa anak-anak dahulu”. Dia melanjutkan lagi. Kami kembali mengamini yang dia katakan. Benar adanya, kadang kita rindu akan masa lalu. Rindu akan masa kanak-kanak. Tidak lain adalah seperti alasan tersebut di atas.

Demikianlah siliha bergantinya siang dan malam. Bahwa selalu memiliki dinamikanya sendiri. Tapi saya yakin setiap zaman, setiap fase dan setiap proses punya kebahagiaan tersendiri. Kita hanya di tugaskan untuk menjalaninya dengan baik dan mengambil segala kebaikan yang ada padanya. Kita akan bijaksana karenanya.

~Makassar, musim penghujan, saat aku masih menanti beberapa jawaban, 9 Desember 2014.

Sabtu, 22 November 2014

Jokowi dan Kejumudah Berfikir

Sengaja saya merangkai kata-kata dalam tulisan ini, hanya sekadar saling mengingatkan. Jauh sebelum pilpres dulu, saya sudah sering mengingatkan pada fenomena penokohan seorang figur yang sudah mencapai titik ekstrim. Titik yang ekstrim yang saya maksudkan adalah menjadikan seorang figur seolah ‘nabi’ yang rela mati-matian di bela meskipun sebenarnya salah. 

Fenomena ini terjadi dua tokoh capres kita dalam kompetisi pemilu belum terlalu lama ini. Ternyata ‘menabikan’ seorang figur tidak berakhir dengan berakhirnya kontetasi pilpres melainkan masih berlanjut hingga sekarang terutama pada sang presiden kita bapak “Jokowi”. 

Jokowi dan kebenaran?

Saya sengaja hanya menuliskan Jokowi karena beliau adalah pemimpin kita hari ini. Terkait fenomena ini saya teringat seorang budayawan Sudjiwo Tedjo berkata: “Pemimpin dengan tangan besi akan matikan nyali, pemimpin yang ‘dinabikan’ akan matikan nalar”. Yah, hemat saya perkataan ini benar-benar terbukti. Para penggemar berat/ ‘fans buta’/ pengikut setia presiden kita Jokowi telah terjadi tragedi yang ditakutkan oleh Sudjiwo Tedjo, yakni “kematian nalar”. 

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita memiliki tujuan bersama yakni “terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah SWT”. Bukan tujuan seorang figur atau apalagi penjadi pembebek setia sang figur apapaun kebijakan yang dihasilkannya. Sejak dilantiknya presiden kita, Jokowi, jika hati nurani dan akal sehat kita berfungsi maka kita akan melihat beberapa ke-inkonsistensi sang persiden terhadap janji-janji kampanye yang pernah dijualnya. Misalnya:

Koalisi tanpa syarat. Ini bulsyit. Tidak ada politik tanpa mencari kekuasaan. Hanya orang yang bodoh (untuk tidak menyebutnya tolol) yang tidak mengakui bahwa koalisi yang di bangun jokowi adalah atas perimbangan-pertimbangan kepentingan politik praktis. Sehingga kita dapat melihatnya dalam pembagian mentri, dapat dilihat betapa ‘politik dagang’ sapi itu terjadi. Ada bagi-bagi kekuasaan.

Kabinet ramping. Yang terjadi justru meng copy-paste jumlah kabinet era SBY. Berbeda dengan janji kampanye beliau, bahwa akan ada pengurangan jumlah kementrian agar terjadi penghematan anggaran. Lagi, janjinya dilanggar.

Tidak menaikan BBM. Hal ini yang harusnya menjadi sangat penting untuk tidak di langgar. BBM bisa dikatakan sebagai darah rakyat Indonesia. Jika ini diganggu maka masyarakat Indonesia akan terganggu. Dahulu di era SBY partai asali Jokowi (PDI P) adalah partai yang sangat menolak keras kenaikan BBM bahkan mereka berdalih memiliki 1001 cara untuk tidak menaikan BBM. Namun hal itu hanyalah retorika manis selalu di ucapkan. Giliran mendapat kekuasaan mereka justru tidak berbeda dengan rezim sebelumnya. Tidak ada terobosan yang baru malah ikut-ikutan menaikan harga BBM. Ingat, salah satu ciri negara neoliberal adalah ketika subsidi untuk kepentingan rakyat di kurangi atau di cabut, karena subsidi adalah kewajiban negara. Hal ini banyak diingatkan oleh ekonom agar tidak menaikannya.

Penunjukan jaksa agung. Jokowi melalui salah-satu perwakilannya pernah mengatakan tidak akan menunjuk jaksa agung dari kalangan parpol. Namun yang terjadi lagi-lagi menghianati. Banyak yang kaget terkait keputusan Jokowi menunjuk jaksa agung dari politisi aktif dari partai pendukungnnya, partai Nasdem. Ingat jaksa agung adalah lembaga peradilan yang harus dibebaskan dari segala kepentingan politik. Sangat ditakutkan ketika ada kasus yang ditangani oleh oleh jaksa agung yang berkaitan dengan kepentingan partai politik pengusung atau pihak-pihak pendukung Jokowi, akan sulit untuk objektif. Justru revolusi mental yang harusnya dilakukan oleh Jokowi malah tersandra oleh ucapannya sendiri. 

Oposisi loyal
 
Nur Kholis Madjdi (cak nur) seorang pemikir kebangsaan kita pernah berkata: Setiap warga negara harus menjadi ‘oposisi loyal’. Oposisi loyal yang dimaksudkan adalah menjadi pengkritik dan pemberi saran jika pemerintahan sudah tidak sejalan dengan tujuan bersama. Dan menjadi pendukung jika pemerintahan telah berjalan menuju tujuan bersama. Harusnya inilah yang menjadi prinsip kita dalam mengawal kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan ‘menabikan’ seorang Jokowi hingga tertutup nurani dan akal sehat untuk  melihat kebenaran. Orang-orang yang sudah tertutup nurani dan akal sehat seperti ini biasanya akan terjangkiti virus ‘fanatisme buta’. Sebuah virus yang selalu mengikuti apapun yang dikatakan oleh figur yang dipujannya, meskipun itu salah. Ini sangat berbahaya dan para pengikut yg telah‘fanatik buta’ ini sangat perlu di revolusi mentalnya.

Fakta-fakta ke-Inkonsistenan presiden kita Jokowi di atas harus menjadi evaluasi bagi kita semua. Jika kita tidak menjadi ‘oposisi loyal’ maka kata bapak Wapres kita, Bapak Jusuf Kalla: “bisa hancur negeri ini kalau di pimpin Jokowi”, bisa saja terjadi. 

Marilah menjadi ‘oposisi loyal’. Menjadi masyarakat yang membuka nurani dan akal sehatnya melihat kebenaran. Jika pemerintah kurang tepat atau salah, mari kita luruskan. Namun, Jika pemerintah kita sudah benar mari kita dukung. Jangan sampai ‘fanatisme buta’ pada seorang figur menjangkiti kita hingga nurani dan nalar kita mati dalam melihat kebenaran. Bukan - Jokowi atau JK atau Prabowo atau Hatara Jasa atau siapapun itu - yang kita perjuangkan, melainkan kebenaran.

~Makassar, di awal musim penghujan dan saat aku merindukan sesuatu, 21 November 2014.

Rabu, 29 Januari 2014

Ada saatnya…

ada saatnya…
ada saatnya, kita tidak memiliki kekasih
meskipun kita memiliki kekasih yang menyayangi kita

ada saatnya…
ada saatnya, kita tidak akan memiliki kawan
meskipun kita memiliki banyak kawan

ada saatnya…
ada saatnya, kita tidak memiliki kekuatan
meskipun kita sangat kuat

ada saatnya…
ada saatnya, kita tidak memiliki kekuasaan
meskipun kita sangat berkuasa

ada saatnya…
ada saatnya, kita akan dicaci, di hujat bahkan dilecehkan
meskipun dahulu kita sangat dipuji bahkan dipuja

ada saatnya…
ada saatnya, kita miskin semiskin-miskinnya
meskipun dahulu kita sangat kaya raya

ada saatnya…
ada saatnya, kita tidak mampu tersenyum terlebih terkekeh-kekeh
meskipun dahulu segala kesenangan bergelimpangan

ada saatnya….
bahkan jika selama ini tangan, kaki, organ-organ tubuh dan diri sendiripun selalu menolongmu
akan ada saatnya, mereka bungkam dan malah akan balik menghukummu

ada saatnya…
yah, saat itulah kita tidak memili apa-apa
tidak ada yang menemani
kita tak berdaya lagi

tapi ada saatnya…
ada saatnya, semua tidak bisa menolong
terkecuali kawan sejatimu
yah, dia “amal” yang pernah kita lakukan

~dipenghujung januari hujan mengguyur kotaku, Makassar. 29 Januari 2014

Kamis, 16 Januari 2014

Tidak ada aku dan kamu, melainkan kita

banjir manado (gambar: koleksi asep rahman)
 
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah menjadikan mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Ar-Rum ayat 41
Akhir-akhir ini Makassar dilanda hujan. Di beberapa tempat lain juga begitu. Sebut saja Jakarta sebagai ibukota negeri ini. Juga, di manado yang kini (saat menulis tulisan ini) tengah di landa banjir yang besar. Untuk manado dalam dekade terakhir, banjir ini tergolong banjir yang besar. Bagaiamana mana tidak, ketinggian banjir hingga 2-3 meter.

Melihat dan mendengar banjir manado, saya teringat sahabat disana. Saya sebelumnya tidak tahu menahu perihal banjir yang menerjang kota mereka. Biasanya saya mendengar kabar-kabar seputar nusantara melalui televisi. Tapi kabar itu tidak saya mengetahuinya karena akhir-akhir ini lagi jenuh menonton televisi yang isinya terlalu membuat pikiran semakin kalut. Untunglah saya membuka media sosial (FB), di situ sahabat saya meng-upload foto-foto banjir yang sudah menenggelamkan rumah. Dari cara pengambilan fotonya, terketahui bahwa sahabat ini, sedang di atas atap sebuah rumah demi menyelamatkan diri.

Fenomena global

Terkait banjir, tidak dapat dipisahkan dari tingginya curah hujan. Meskipun sebagaia fenomena alam tapi bukanlah berarti terjadi secara alamiah begitu saja, melainkan manusia memiliki andil dalam menerjadikannya. Jika dahulu hujan biasa-biasa saja terjadi, sehingga tidak menyebabkan banjir kini hujan semakin tidak menentu sehingga dampaknya pun tak menentu.

Fenomena alam ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Ini fenomena global yang di alami oleh seluruh masyarakat dunia. Di beberapa negara timur tengah, tiba-tiba saja di guyur salju. Padahal sebelumnya mereka jarang bahkan tidak sama sekali di sambangi oleh salju. Di Australia yang secara geografis terletak dibagian bumi paling selatan yang berdekatan langsung dengan benua antratika yang dingin, tiba-tiba saja kepanasan. Bahkan para peternak domba harus mengalami kerugian akibat banyaknya domba yang mati karena kepanasan bahkan sempat terdengar adanya kebakaran oleh penyimpangan cuaca ini. Juga, di AS bagian utara yang mengalami suhu dingin yang ekstrim hingga beberapa wilayah lautannya membeku. Serta berbagai anomali cuaca lainnya.

Ketika alam sudah tidak seimbang, maka dia akan menyeimbangkan dirinya sendiri. Anomaly cuaca ini sesungguhnya hanyalah cara alam untuk menyeimbangkan tubuhnya.

Aku, kamu dan kita

Dalam kisah percintaan tak jarang terdengar retorika gombal dari seorang kekasih kepada kekasihnya. “sayang, cinta itu bukan aku dan kamu tapi kita” misalnya. Demikian pula yang terjadi pada hubungan antar manusia dan alam/lingkungan sekitarnya. Dahulu hubungan manusia bisa di katakan menyatu dengan alam. Tidak ada indentitas ‘aku dan kamu’, manusia dan alam. Keduanya menyatu menjadi ‘kita’. Itulah cinta.

Penyatuan ini menjadikan manusia selalu merasa bagian yang tak terpisahkan dari alam. Dia tidak tega untuk menyakiti dirinya (baca:alam). Adapun jika dia membutuhkan alam untuk keperluan makan (ekonomi), dia mengambil secukupnya sesuai kebutuhan. Alam pun merasa nyaman-nyaman saja.

Seiring berkembangnya zaman, hubungan cinta keduanya, alam dan manusia mulai renggan. Manusia kini menampakan egonya. Indentitas diri mulai di tunjukan. Kini dia memposisikan sebagai subjek tersendiri dan alam adalah objek tersendiri. Bukan lagi kita sebagaiamana pada awal-awal percintaan melainkan telah menjadi aku dan kamu. Aku adalah manusia dan kamu adalah alam. Manusia secara perlahan dengan tingkahnya menunjukan ke angkuhan terhadap alam. Dia memanfaatkan dan menguras alam sesukannya dengan berbagai cara dan modus. Alam pun merasa sedih dan tersakiti.

Alam tidak tinggal diam. Jika manusia angkuh, alampun ikut angkuh. Memberi bencana alam berupa banjir misalnya, gunung meletus misalnya. Manusia kewalahan menghadapinya. Manusia mulai menyesal tapi ada juga yang biasa-biasa saja, untuk tidak berpikir perihal aktivitas manusia selama ini, yang membuat alam marah.

Saya teringat ucapan cak nun: “identitas kita yang sesungguhnya bukanlah aku dan kamu, melainkan kita”

~Makassar, di saat hujan yang tak bosan-bosannya mengguyur kotaku, 16 Januari 2014

Senin, 13 Januari 2014

Bosan lihat dia

#mungkin cerita lucu. Entahlah...

Suatu hari, menujulah seorang mahasiswa ke sebuah kampus. Dia sebenarnya tidak ingin ke kampus bahkan ingin segera ‘keluar’ dari kampus itu. Dia sudah sedikit jenuh dengan keadaan di dalam. Bukannya dalam hal menuntut ilmu sih, tapi bagaiamana proses belajar yang baginya sudah cukup monoton, bosan dan sekali lagi sudah menjenuhkan.

“Pendidikan itu keharusan tapi sekolah adalah  pilihan”. Tidak dapat di mungkiri, pendikan adalah keharusan bahkan kebutuhan yang tidak bisa di tawar-tawar. Tapi untuk mendapatkannya tidak mesti melalui sekolah-sekolah formal. Bukan berarti menolak sekolah formal, bukan. Hanya ingin menyampaikan pendidikan itu jangan hanya di batasi dalam sekolah-sekolak formal saja. Lapangan ilmu pengetahuan itu terlampau luas, apalagi jika hanya di batasi oleh ruang-ruang kelas dan pagar-pagar universitas. Plato, seorang filsuf yunani kuno pun pernah mengingatkan “Jadikanlah setiap tempat adalah perpustakaan bagimu dan setiap orang yang kau temui adalah guru bagimu”.

Di keramaian kampus, lalu lalang mahasiswa, mahasiswi, dosen, pemulung, anak-anak kecil tak sekolah yang menjajahkan jualannya, ibu-ibu penjual di kantin dan banyak lagi. Dalam keramaian  itu berlajalan seorang mahasiswa yang sudah lama tidak ‘keluar-keluar’ dari kampus itu. Dia tampaknya asik menikmati suasana kampus. Terlebih lagi banyak mahasiswi-mahasiswi yang cantik nan manis dan kadang-kadang satu-dua orang menyapanya. Sesekali juga dia menyapa mahasiswi-mahasiswi yang di kenalnya. Tatapan bertemu dan suara pun saling berbalas. Betapa indahnya siang itu. hehe

Dari jarak yang tidak terlalu jauh, kira-kira 10 meter, yang saat itu keramaian masih terjadi. Tiba-tiba suara itu terdengar. Suara yang mengarah padanya. “Woe,,,, kau belum juga sarjana?”. Seketika mendengar suara itu, mahasiswa ini langsung mengarahkan pandangannya mencari sumber suara. Suara itu berasal dari kantin sebuah fakultas yang biasa dia nongkrong. Setelah di perjelas lagi, terlihat seorang dosen yang duduk di kantin itu sambil sedikit tertawa kepadanya.

“Belum pak" jawabnya sambil sedikit tertawa. Dia dan dosennya pun saling tertawa.
Mungkin dosen ini sudah ‘bosan’ lihat dia di kampus. Ahahaha…

~Makassar, 13 Januari 2014

Senin, 06 Januari 2014

Inilah alasanku, Anastasya

Hujan. Aku teringat ketika kekasihku datang. Dia membawa serantang rendang dibawanya dari rumah. Entah kenapa, setiap kali ada rendang itu di bawa, hati ini sukar untuk menipu lagi. Hati yang meluap-luap bak air yang yang melimpah ruah dalam ember kosong yang penuh. Memerintahlah hati untuk mendekup kencangkan jantung. Tanda bahwa aku memang benar-benar jatuh cinta.

Anastasya. Nama indah yang sengaja ku sematkan padanya. Dalam kancah hubungan 'romantisme', setiap pasangan kerap memiliki nama-nama khusus untuk pasangannya. Nama itu adalah nama kesayangan. Seperti halnya nama anastasya, kekasihku. Dialah tempat pergantungan hatiku.

“Kekasihku, nih kubawakan serantang rendang ke sukaanmu” selalu dalam jarak yang cukup jauh kalimat itu selalu di ucapkan oleh bibir manisnya.

Dalam sejarah ke indonesiaan kita, rendang berasal dari negeri minangkabau. Serta merta orang-orang yang mengetahui kekasihku anastasya selalu membawa rendang, akan berkata dia benar-benar gadis minangkabau. Inilah yang menjadi persandungan pikiranku saat itu. Perihal asal muasalnya, anastasya tidak ingin menceritakannya padaku. Entah kenapa. Padahal akukan kekasihnya. Kekasih yang di sayanginya.

“kekasihku, cinta kita adalah satu. Cinta itu bukan aku atau kamu apalagi perihal negeriku. Kekasihku, cinta kita adalah kita. Satu tak terbagi” kalimat ini selalu di ungkapkan ketika akau bertanya tentang asal muasalnya. Aku sadar sesadar-sadarnya, jika cinta adalah unsur lain yang mampu menerobos dimensi ruang.

Cinta terlampau sempit dan terbatas jika hanya dibatasi oleh ruang. Bahkan dalam mitologi nenek moyang kita, tak jarang terdengar kisah cinta antara dua insan beda alam, jin dan manusia misalnya. Bukankah ini perbedaaan ruang itu? mungkin saja. Karena cintaku pada anastasya bukanlah pertimbangan asal muasalnya.
***

Aku tidak pernah melihat gadis lain sehingga membuatku terlalu jatuh cinta kecuali anastasya. Anastasya memang berparas indah, taat pada Tuhan, berbakti kepada orang tua. Tapi aku sadar gadis berparas cantik di luar sana bahkan lebih berparas indah darinya tak terhitung jumlahnya dan sudah sering aku temui. Yang taat pada Tuhan dan berbakti kepada orang tua juga ada, meskipun sudah berkurang. Dan semuanya aku telah banyak berjumpa dengan mereka, lantas tidak membuat hatiku memilih mereka.

“kekasihku, apa gerangan yang membuatmu menjatuhkan cintamu padaku?”. Mendengar pertanyaan anastasya, aku hanya membalasnya dengan senyuman. Mungkin dia berpikir, jika aku kekasihnya pengikut adagium ‘mencintai tidak butuh alasan’.

Ah, siapa bilang? Mana mungkin aku mencintai anastasya jika aku tidak memiliki perihal alasan untuk mencintainya. Kalau memang tidak ada alasan, kenapa tidak jatuh cinta saja sama kucing misalnya, kuda misalnya, atau babi misalnya.

“Anastasya kekasihku, maukah engkau tahu kenapa aku begitu terlampau mencintaimu?” ucapku untuk menyirnakan rasa penasaran dipikirannya.

“Jawablah kekasihku”  tukas anastasya.

“Bukalah tutup rantang itu”

“Memangnya kenapa dengan rantang ini kekasihku? Bukankah rantang ini hanya berisikan rendang hasil racikanku, yang telah aku meraciknya dengan cinta?”

“Bukalah jika engkau ingin tahu jawabku, kekasihku.”

Untuk segera menghilangkan rasa penasaranya, dibukalah rantang itu. Aroma harum dan nikmat menguap berputar-putar merasuki indra perasa. Secara perlahan anastasya, menghirup merasakan aroma itu, dengan mata yang terpejam serta senyum yang manis di arahkan kepadaku.

Selain hal-hal kebaikan di atas yang aku sebutkan, sebagaimana gadis lain bahwa anastasya juga taat sama Tuhan, berbakti sama orangtua, indah parasnya. Tapi ada perihal lain yang membuatku menjatuhkan cinta pada anastasya. Bahwa ketika dia menghirup menikmati aroma serantang rendang dengan memejamkan mata sembari tersenyum padaku. Hati ini semakin terhanyut untuk mencintainya.

Inilah alasanku, Anastasya.

~Makassar, 6 Januari 2014

Minggu, 05 Januari 2014

Kenapa harus menolak YKS, Pesbuker dan sejenisnya

Penolakan terhadap acara-acara televisi yang tidak berkualitas terus di layangkan. Belakangan bergemuruh adalah acara yuk keep smile (YKS) dan pesbuker. Di antara artis-artis yang terlibat dalam program acara yang tidak berkualitas ini adalah olga syaputra, jesika iskandar, deni cagur, rafi ahmad, cesar dan kawan-kawannya. Bahkan mungkin tidak salah jika banyak yang mengatakan termasuk penulis sendiri: dimana ada artis-artis ini maka di situlah acaranya tidak berkualitas.

Benar adanya, jika acara ini memang sangat tidak berkualitas. Bayangkan saja, untuk melucu terkesan di paksakan. Itupun caranya sangat tidak elegan, minus intelek dan sering melanggar moral, misalnya dengan menghujat, menghina, memukul, melecehkan dan lainnya. 

Tapi sayangnya banyak masyarakat Indonesia tidak sadar akan hal ini, itu terbukti dengan rating acara yang cukup tinggi. Kebanyakan masyarakat Indonesia terlena dengan guyonan lelucuan buatan Olga dan kawan-kawan yang tidak berkualitas ini. Ironisnya, tidak hanya menyerang masyarakat biasa yang ‘tak berpendidikan’ sehingga tidak mampu menganalisis lebih jauh manfaat dan mudaratnya, melainkan juga pada kaum intelektual semisal mahasiswa yang juga terhanyut dalam lelucuan yang ‘membodohkan-bodohkan’ ini.
Pelanggaran hukum/moral

Sejatinya dalam melihat sesuatu harusnya lebih dalam. Banyak yang beralasan menoton acara YKS, Pesbuker dan sejenisnya untuk mencari hiburan. Untuk alasan ini, dapat dimaklumi. Tapi banyak yang enggan untuk menganalisisnya lebih dalam. Bahwa di balik hiburan itu tersimpan keburukan yang bisa menghancurkan moralitas, agama dan budaya kita. Jika anda pernah menonton kedua acara di atas, maka tak jarang akan ditemukan kasus moral maupun hukum yang pernah terjadi pada program acara Pesbuker, sebagaimana pernah di rilis, di antaranya:

1. Pada 18 April 2012, Pesbukers menayangkan adegan Julia Perez alias Jupe menutupi kepala Raffi Ahmad dengan rok yang dipakainya. Penayangan tindakan tersebut telah melanggar P3 Pasal 7 dan Pasal 9, serta SPS Pasal 6 ayat (2) huruf a dan Pasal 9.
2. Pada 24 Mei 2012, Jupe menyanyikan lagu Belah Duren yang berisi muatan dewasa di hadapan para pelajar SMK.

3. Pada 15 Juli 2013, KPI mengirimkan surat teguran tertulis untuk acara Sahurnya Pesbukers tayangan 10 Juli 2013 pukul 01:56 wib.

Di episode ini, Pesbukers menayangkan adegan yang melecehkan orang dan/ atau masyarakat dengan kondisi fisik tertentu, serta pelanggaran terhadap norma kesopanan. Adegan-adegan tersebut antara lain:

• Sapri berkata kepada Andika yang menggendong Daus Mini, “Tadi gue lihat lu bawa monyet tiga, sekarang tinggal satu….”
• Eko berkata tentang Daus Mini, “Ganteng-ganteng dibilang monyet…itu bukan monyet… (tapi) nying-nying..”
• Eko menyebut Daus Mini, “Ini bukan catur. Ini biji congklak”. Dan masih banyak lagi.

Mari mengingatkan dan menolak

Pelanggaran-pelanggaran norma ini juga sering di temukan di acara YKS. Apalagi sering di temukan konten acara dengan gerakan atau goyang-goyang yang erotis yg mengumbar aurat. Terlebih lagi, dengan durasi yang cukup panjang juga di tayangkan pada saat-saat kebanyaan orang berada di depan televisi (prime time) terutama anak-anak.  

Sehingga wajar saja, jika muncul gerakan atau ajakan untuk menolak acara-acara tidak berkualitas ini, terus di suarakan. Melalui tulisan ini saya hanya mengajak kepada para pembaca untuk saling mengingatkan, mari mengawal, menyaring dan mengkritisi program-progam acara televisi yang tidak berkualitas.

Karena media terutama televisi adalah sarana pendidikan yang punya efek yang besar. Televisi punya kemampuan mendidik yang mudah di terima oleh masyarakat penontonya, apalagi anak-anak. Terlebih lagi televisi telah menjadi guru baru yang banyak menyita waktu dan bersama anak-anak. Sehingga cukup beralasan jika penjajahan gaya baru selalu menjadikan media sebagai alat yang strategis untuk meruntuhkan pertahanan moral dan budaya sebuah bangsa. Itulah yang terjadi pada acara YKS, pesbuker dan lainnya, yang tidak di sadari oleh kebanyak orang.

Ingat, hari ini adalah apa yang menjadi keputusan masa lalu. Masa depan adalah apa yang menjadi keputusan kita hari ini. Jika kita memutuskan untuk di didik dengan acara yang tidak berkualitas dan sering melanggar norma, maka masa depan masyarakat dan bangsa kita juga akan tidak berkualitas dan sering melanggar norma. 
Mari saling mengingatkan…!!!
*tulisan ini tidak untuk mendiskreditkan orang atau pihak-pihak tertentu. Tulisan ini juga hanya di lihat pada kacamata kenapa harus menolak acara ini.
 ~Makassar, 5 Januari 2014

PNS vs PS

Hal ini sudah menjadi perdebatan dalam pemikiranku. Bagaiamana harus melayani dengan baik atau sepatutnya? Pertanyaan ini bisa terjawab oleh hati nurani setiap manusia. Tak peduli apakah anda bekerja sebagaia pegawai negeri sipil (PNS) ataupun pegawai swasta (PS).

Sengaja saya munculkan dua frase terakhir di atas, pegawai swasta dan pegawai negeri. Dalam pengalaman yang saya jumpai, kedua tempat profesi ini memiliki perbedaan. Yah, tentunya selain menjadi abdi institusi yang bernama negara bagi pegawai negri dan institusi milik swasta (pribadi/kelompok) bagi pegawai swasta. Juga, saya menemukan ada perbedaan proses maupun prosedur pelayananan yang umum di jumpai.

PNS

Pernakah anda mengurus KTP? Surat tanah? Akta kelahiran? SIM ? Bagi anda yang sudah pernah terlibat dalam aktivitas-aktivitas seperti ini, anda pasti sudah tahu bagaimana kendala-kendala yang dihadapi. Banyak ditemukan kesukaran baik karena prosedur birokrasi yang yang liku-liku juga tak jarang ditemukan oknum birokrat yang ‘sok jual mahal’ untuk memberi pelayanan. Oknum birokrat itu akan memudahkan keperluan anda jika anda telah ‘membelinya’ dengan sejumlah uang pelicin. Urusan anda pun akan menjadi licin.

Sudah menjadi rahasia umum, prosedur birokrasi di negeri kita cukup berbelit-belit. Sehingga terkesan mempersulit warga yang memiliki keperluan-keperluan. Padahal birokrasi adalah cara negara untuk menjangkau rakyatnya dalam memberi pelayanan. Kemudian para pelaksanan birokrasi (birokrat) di berikan gaji oleh negara. Dengan demikian birokrasi harus melayani rakyat bukan dilayani.

Paradigma melayani inilah yang harus terpatri dalam birokrat di negeri kita. Tapi konsep ini hanyalah indah di atas kerta, karena dalam kenyataan di lapangan tak demikian. Paradigma melayani terbalik menjadi dilayani. Para birokrat tak jarang ditemukan belaga ‘sok’ untuk berhubungan dengan masyarakat yang membutuhkan tugas-tugas (pelayanan) mereka. Selain tata kelolah birokrasi yang semrawut juga unsur kesengajaan untuk meliku-likukan segala prosedur sehingga masyarakat terutama masyarakat ‘kecil’ sulit untuk menyelesaikan urusan-urusan mereka.

‘Birokrasi PNS’ penyebab Korupsi

Kondisi inilah yang menjadi salah satu pemicu korupsi di negeri kira. Prosedur yang berbelit-belit oleh birokrasi kita, menyebabkan banyak masyarakat mengambil jalan pintas. Mereka memberikan uang pelican agar segala urusannya menjadi licin dan cepat selesai. Banyak para oknum birokrat – untuk tidak menyatakan semuanya – yang senang dengan perilaku (baca: uang pelican) ini. Bahkan mereka (baca: oknum birokrat) sengaja membuka peluang untuk itu. Karena mereka di untungkan dengan menerima uang dari masyarakat meskipun secara tidak sah.

Keberadaan perlaku di atas, telah menjadi budaya yang lumrah. Sesuatu yang salah jika terus di biasakan maka akan menjadi dibenarkan secara budaya karena telah dilumrahkan. Padahal itu memang salah. Inilah bagian dari korupsi itu, bahwa memberikan uang pelicin agar mempermudah urusan-urusan administrasi merupakan bagian dari praktek korupsi sesuai dengan hukum di negara kita. Jika sudah demikian, bagaiamana dengan masyarakat yang tidak memiliki uang (miskin)?

Jangan heran jika kemudian hasil survei yang pernah di rilis menyebutkan korupsi dapat mempermudah urusan-urusan administrasi dalam birokrasi. Jangan heran juga hal ini berkonsekuensi pada maraknya budaya korupsi hingga tingkat yang paling bawah yakni masyarakat kecil biasa, tak hanya di tingkat wakil rakyat  (elite) kita. Budaya korpusi menjadi massif, terstruktur dan sistemik.

Pegawai swasta (PS)

Bagaimana dengan pegawai swasta dalam memberi pelayanan? Dalam kenyataannya kita dapat melihat bahwa perbedaan itu begitu tajam. Misalnya ketika anda berkunjung ke suatu kantor swasta, anda akan di anggap sebagai raja. Raja yang dilayani sebaik mungkin tanpa ada embel-embel yang lain. Tidak perlu prosedur yang berbeli-belit. Kalaupun ada, maka anda akan di permudah oleh pegawai-pegawainya.

Ketika anda masuk, senyuman serta sapaan yang sopan akan anda dapatkan. Anda akan dipersilahkan duduk untuk ditanya perihal keperluan anda. Para pegawai swasta dengan setulus hati akan melayani anda hingga semua urusan kelar. Tidak perlu uang adminisitrasi kecuali untuk profesi-profesi tertentu semisal dokter praktek. Belum lagi dengan suasana ruangan kantor (lembaga) swasta yang begitu nyaman.

Paradigma yang di bangun dalam birokrasi swasta adalah benar-benar melayani. Terlepas dari motif demi ke ‘untungan’ maka birokrasi negara patut meneladaninya. Sehingga bukan lagi di layani melainkan kembali ke kittoh untuk “melayani”. Yah sekali lagi, pegawai negeri sipil harus “melayani”, bukan dilayani.

~Makassar, 5 Januari 2014

Jumat, 03 Januari 2014

Penggerebekan terduga ‘teroris’ ?

Lagi-lagi teroris menjadi headline topik dalam pemberiataan media massa kita. Masalah ini memang cukup serius untuk bangsa kita yang sangat plural. Di tengah ke pluralan itu, terdapat kelompok-kelompok yang ingin memaksakan kehendaknya dengan cara kekerasan yang kadang tak manusiawi. Seperti di ungkapkan di media, untuk menjalankan misinya biasanya dengan melakukan perampokan uang (bank), pembunuhan terhadap polisi serta aksi-aksi kekerasan lain seperti pemboman. Meskipun fakta-fakta yang di ungkapkan media ini, masih layak untuk di kritisi dan di pertanyakan.

Di malam pergantian tahun yang barusan terlewati, kita kejutkan kembali dengan penggrebekan rumah terduga teroris. Tepat malam peralihan tahun yakni 31 desember menuju 1 januari 2014 peristiwa itu terjadi. Penggerebekan tersebut serta merta menimbulkan perlawanan sehingga terjadilah tembak menembak antara kedua bela pihak (terduga-polisi).

Motif apa?

Ada yang menarik dari proses penangkapan ini. Saya yakin polisi sudah tahu keberadaan mereka sejak beberapa hari sebelumnya bahkan jauh sebelum insiden tembak-menembak itu terjadi. Tapi demi pengumpulan informasi/data yang lebih dalam, para terduga teroris tetap dibiarkan berkeliaran. Hingga akhrinya pihak kepolisian memilih momentum tahun baru sebagai saat yang tepat untuk melakukan penangkapan. Sayang, bukan di tangkap malah hampir semua di tembak mati. Padahal mereka (terduga teroris) belumlah pasti bersalah.

Tapi kenapa harus di malam tahun baru? Dan kenapa harus di grebek terlebih lagi dengan adegan tembak menembak?

Entah agenda apalagi yang ingin di mainkan. Hemat saya momentum tahun baru memiliki nilai jual yang cukup tinggi dalam momentum-momentum akhir-akhir ini. Sebelum tahun baru juga, saudara-saudara kita umat kristiani tengah merayakan hari besarnya, natal. Sehingga ada kesan yang ingin di kontraskan atau di negasikan antara dua kelompok agama ini. Karena ketika mendengar term ‘teroris’, kebanyakan masyarakat kita akan terasosiasi pada kelompok-kelompok gerakan ‘islam ekstrimis’ atau malah seluruh umat islam. Maka umat islamlah yang menjadi kambing hitam, nama islam kemudian akan tercoreng.

Ini sangat berbahaya ditengah kehidupan perpolitikan kita yang kian memanas. Sebentar lagi kita akan melaksanakan sebuah hajatan demokrasi secara nasional, pemilu. Sebuah sejarah baru yang akan di catat oleh bangsa  kita. Oleh karena itu, momentum-meontum seperti ini sangat tidak akan dibiarkan begitu saja oleh pihak-pihak tertentu yang ingin mengambil ikan di air yang keruh tak terkecuali pihak asing. Apalagi percaturan politk internasional yang setiap negara berambisi mengambil ke untungan bahkan menguasai negara lain.

Untuk pertanyaan kedua juga sangat penuh teka teki. Seperti keyaikan awal tadi, bahwa para terduga telah diketahui keberadaannya sebelumnya tapi kenapa cara menangkapannya seperti di atas hingga pembunuhan. Padahal bagi detasemen khusus (densus) 88, cara-cara penangkapan yang lebih elegan pasti sudah mereka kuasai. Misalnya mereka bisa saja melaukan penculikan terhadap para terduga teroris tatkala mereka keluar rumah. Tapi kenapa itu tidak di lakukan? Mungkin karena tidak heboh dan sensasional.

Sehingga penggerbakan hingga tembak-tembakan yang mematikan itu di jadikan komoditas pemberitaan yang ‘wah’. Karena pasar media lebih menyukai hal-hal yang bernuansa kekerasan atau teroris. Tidak menutup kemungkinan ada kerja sama dengan media untuk kepentingan bisnis.

Selain itu kenapa haru di tembak mati? Padahal bisa saja banyak informasi penting yang patut di ketahui oleh masayarakat Indonesia. Atau bisa jadi juga, informasi penting dari para terduga yang mati itu sangat penting yang dapat menggoyahkan pihak tertentu sehingga mereka harus ditembak mati. Terlepas dari itu semua, menembak mati tanpa ada proses peradilan adalah pelanggaran HAM yang berat.

Ada juga analis yang mengatakan, keberadaan densus 88 merupakan proyek yang memiliki agenda tertentu. Sehingga membuat isu teroris lebih boming menjadikan mereka semakin eksis dan medapatkan kesan simpati yang semakin dalam dari masayarakat Indonesia. Bahwa keberadaan mereka benar-benar di butuhkan.

Atas nama demokrasi

Densus 88 adalah satuan kepolisian khusus yang ditugaskan untuk membasmi teroris. Arahnya pada bagaiamana masyakarat menjadi lebih aman sehingga terciptalah kehidupan yang lebih demokratis. Tapi bagaimana jika densus 88 sendiri melakukan cara-cara yang melanggar demokrasi dan HAM? Atas nama kewenangan pembasmi terorisme, densus 88 cenderung ‘sewenang-wenang’ dalam menjalankan tugasnya. Karena mandat tersebut, seolah-oleh mereka bisa melakukan apa saja.

Sehingga kritik yang di arahkan kepada densus 88 selalu di lakukan. Pasalnya penembakan atau kegiatan-kegiatan lainnya telah banyak meresahkan warga sipil termasuk indikasi-indiskasi pelanggaran HAM. Tapi sampai sekarang kritik hanyah retorika tanpa inplementasi yang nyata lagi signifikan. Toh, pelanggaran-pelanggaran itu masih saja terjadi. Apalagi pihak kepolisian selalu memiliki dalih pembenaran terkait apa yang mereka lakukan.

Padahal sesalah apapun ideologi yang digunakan oleh warga negara, negara kita tetaplah negara hukum yang bisa memutuskan benar salah di depan hukum. Kita menganut asas hukum ‘praduga tak bersalah’ bagi siapa saja, tak memandang bulu. Selama masih dalam status terduga, tidak bisa di adili dengan se enak hati apalagi di bunuh. Karena bisa saja mereka yang di anggap ‘teroris’ oleh polisi atau pihak tertentu sebenarnya bukanlah teroris. Sehingga meskipun atas nama demokrasi, maka caranya pun harus dalam kerangka hukum yang demokratis.

Keluhan-keluhan terhadap satuan polisi khusus ini (baca: densus 88) telah banyak di ungkapkan oleh masyakarat. Banyak yang mengingatkan agar adanya evaluasi kembali terhadap kinerja densus 88 selama ini. Bahkan kampanye pembubaran pun selalu sering di wacanakan. Apalagi jika kita lebih menelisik lebih dalam tentang ke independensi satuan polisi khusus ini. Bahwa ada pihak-pihak asing yang memiliki andil dalam eksistensinya di Indonesia. Di antaranya adalah AS dan Australia yang berperan dalam pendanaan dan pelatihan. Hubungan ini sangat rentan dengan kepentingan, karena sangat mungkin densus 88 menjadi saluran baru untuk lebih mengetahui liku-liku Indonesia. Ketika liku-liku itu sudah terketahui maka dengan  mudah demokrasi kita akan lebih mudah lagi di bajak oleh pihak asing.

Dan pada akhirnya, kita kembali bertanya: apa definisi teroris? Dan siapa sebenarnya teroris?

~Makassar, pukul: 00: 11. Tanggal 3 januari 2014

Rabu, 01 Januari 2014

Surat tahun baru, untuk kekasihku

Untukmu tempat pergantungan hatiku

Sayang,,, malam ini adalah awal malam di tahun 2014. Langitku penuh asap, dentuman dan kilatan. Ini perang sayang. Tapi jika engkau berpikir ini perang seperti jalur gaza oleh serangan tentara isreel, bukan sayang. Pun jika engkau menganggap ini perang pasukan bassar al assad sang pemimpin rezim surya dengan kelompok-kelompok yang ‘pro demokrasi’, bukan juga sayang. Ini perang yang abstrak. Mungkin begitu aku membahasakan padamu sayang.

Sayang,,, saya tidak tahu pasti berapa miliar uang yang lenyap malam ini. Jika engkau berpikir habis karena memberi maka fakir miskin, tidak sayang. Jika pula engkau berpikir untuk membantu sekolah-sekolah anak-anak jalanan itu, bukan sayang. Pun jika engkau berpikir uang itu habis karena membantu bersedekah terhadap sesama, bukan juga sayang. Aku katakan padamu ini sebuah pesta. Pesta yang berhura-hura, memberi kesenangan sesaat tapi setelahnya lenyap. Atau saya biasa menyebutnya pesta yang miskin substansi, sayang.

Sayang,,, di tengah dentuman yang terdengar di seantero langit kota ini oleh kembang api yang begitu gegap gempita, tiba-tiba aku merindukanmu. Apakah engkau merindukanku juga? Entahlah. Karna itu hakmu sayang. Aku tidak akan memaksamu untuk merindukanku.

Tapi sayang,,, aku ingin berceritra padamu malam ini. Di saat aku menulis tulisan ini, entah perasaan apa yang menyelimutiku. Mungkin aku galau, gelisah, resah atau entahlah… tapi bukan karenamu sayang. Aku melihat ada kejanggalan dari peradaban hari ini, terutama para pelaku peradaban. Kita terlampau berlagak, tapi tidak tahu apa manfaatnya. Kita terlampau berperangai, pun tak tahu apa efek positifnya bagi kebaikan peradaban.

Sayang,,, saat aku menuliskan ini, dentuman belum saja berhenti. Uang banyak terhambur sia-sia. Kata salah seorang sahabatku, jumlahnya puluhan miliaran. Ini baru untuk kotaku sayang.  Belum kota-kota lain bahkan di desa-desa yang mulai terkontaminasi oleh budaya yang ‘aneh’ ini. Ini tanda bahwa kita benar-benar tidak merdeka secara budaya, sayang. Padahal bung Karno bapak pendiri bangsa ini pernah berkumandang: kita harus berkarakter secara budaya. Budaya yang di maksud adalah budaya kearifan lokal yang kita milliki, sayang. Budaya kebaikan dari identitas yang kita miliki. Bukan budaya-budaya hedonisme yang kapilitalistik itu, sayang.

Sayang,,, negeriku Indonesia terlampau terlilit oleh pelbagai masalah. Masalah yang masih membutuhkan banyak uluran tangan dari para pelaku peradaban di dalamnya. Jika kebanyakan pelaku peradaban sudah begini adanya, bagaiamana nanti nasib bangsa ini sayang. Aku juga melihat fenomena ini bukan hanya menjangkiti rakyat kecil nan biasa-biasa saja seperti saya, melainkan sejumlah elit-elit negeri ini pun merayakan perayaan-peryaan yang miskin makna ini, secara berlebih-lebihan.

Sayang,,, bukankah alangkah bagusnya uang itu di gunakan kepada kegiatan kemanusiaan bukan? Tuh, di banyak tempat di kota maupun di desa masih membutuhkan makanan yang layak. Tempat tinggal yang layak. Pakaian yang layak. Pendidikan yang layak. Kesehatan yang layak. Dan banyak lagi kebutuhan yang layak-layak lainnya, sayang.

Itu baru di negeriku sayang. Atau mungkin negeri ini juga negerimu, sayang. Entahlah. Tapi di sana, jauh dari di luar negeri ini, banyak pula yang membutuhkan uluran tangan para penderma. Sebagai contoh aku ingin mengajakmu melihat ke negeri syam, Surya. Di sana dentuman di seantero langitnya, sering terdengar. Sama dengan yang saya dengar malam ini. Tapi di seantero langit negeri syam itu, dentumannya hampir tiap saat. Tidak siang, tidak malam. Dentumannya pun jauh lebih dasyat, dan mematikan.

Bukan. Bukan kembang api seperti yang ada dinegeriku malam ini, sayang. Dentuman itu karena mesin-mesin senjata yang selalu saja ‘memanggil-manggil’ sang izrail untuk mencabut nyawa anak-anak kecil dan rakyat biasa yang tak berdosa di sana, sayang. Mereka membutuhkan rumah yang layak karena sudah terkoyak, makanan yang layak, pakaian yang bersih dan menutup aurat disebabkan oleh kekejaman mesin senjata.

Sayang,,, sampaikan surat ini kepada siapa saja yang engkau temui. Agar uang-uang yang terhambur hanya pada satu malam itu, setelahnya tidak seperti ini lagi. Smoga di gunakan untuk kebaikan kemanusiaan. Sayang,,, jika suratku ini kurang begitu baik menuturmu, abaikanlah. Tapi jika bermanfaat ambillah dan penuhilah amanahku.

Sayang,,, meskipun aku tidak tahu siapa engkau dan dimana engkau. Tapi aku yakin bahwa aku dan engkau sama-sama saling merindu.

Sayang,,, jika surat ini terlampau panjang, maafkanlah. Karena ini adalah kegelisahanku yang selain kepada Tuhan, aku tidak tahu lagi harus aku sampaikan pada siapa selain kepadamu, sayang.

Sayang,,, Setelah engkau membaca surat ini, saya tidak berharap engkau membalasnya. Tapi aku yakin engkau akan mengerti dan menerima hati ini yang tengah merindukan kebenaran dan kebaikan.

~Makassar, masih di markas besarku. Pukul 00: 51. 1 januari 2014