Selasa, 31 Desember 2013

Tentang menjelang pergantian tahun 2013 ke 2014

Tahun 2013 akan segera di tinggalkan. Kita akan memasuki tahun yang baru, yakni 2014. Segala proses pergumulan kehidupan telah terjadi. Ada suka dan ada duka. Ada siang dan ada malam. Ada kesedihan dan ada kegembiraan. Ada kesukaran dan ada kemudahan. Keduanya selalu berjalan berdampingan.

***

Menjelang pergantian tahun euforia sudah terjadi dimana-mana. Berbagai cara dilakukan misalnya dengan berbegai selebrasi kembang api, berpesta dengan teman-teman atau ada juga yang biasa saja, tidak begitu peduli dengan respon yang terlalu berlebihan atau ada juga yang hanya melihat kembali kebelakang untuk mengevaluasi segala perjalanan kehidupan sembari menyusun rencana-rencana yang baik dalam tahun berikutnya.

Untuk di kota saya berada sekarang (Makassar) kembang api sudah mulai riuh terdengar. Kilatan-kilatan kembang api mulai menghiasi langit. Entah berapa uang yang melayang lenyap di malam ini. Karna berbagai peralatan terutama kembang api diperoleh dengan uang yang tak sedikit. Setiap kali kembang api di bunyikan dan mengudara, saat itu pula uang serta merta akan lenyap.

Hemat saya tidak ada yang salah untuk merayakan pergantian tahun. Tapi perlu pertimbangan yang matang, pertimbangan baik dan buruk. Jika memang segala perayaan ini lebih cenderung pada banyaknya keburukan dibanding kebaikan, alangka bijaksananya di tinggalkan saja. Apalagi jika sudah terlampau berlebihan.

***

Berbagaia ‘ledakan’ kembang api ini, seolah tengah berada dalam suasan perang. Serta merta pikiranku terbawa pada bagaiamana perang jalur gaza. Dimana pasukan Israel menggempur warga palestina dengan berbagai mesin-mesin senjata. Juga serasa berada para negeri suriah saat ini yang tengah dilanda perang saudara. Suara-suara ‘ledakan’ semacam ini menjadi pemandangan keseharian mereka.

Tapi ledakan itu berbeda dengan kondisi saya sekarang. Jika ‘ledakan’ disini membuat anak-anak dan warga terselimuti dengan kegembiraan. Berbeda dengan di jalur gaza terlebih di surya sekarang. Ledakan mereka jauh lebih keras dan memberi efek perusak yang dasyat. Anak-anak dan warga lain di sana diselimuti ketakutan. Bukan ledakan kembang api yang ada, melainkan ledakan mesin-mesin senjata yang terdengar. Dan ledakan itu dapat sewaktu-waktu mengajak sang izrail datang menjemput.

Dari hasil hitung-hitungan kotor, tentang berapa nominal uang yang lenyap beserta bunyi kembang api dalam perayaan malam tahun baru saat ini, cukup fantastis. Diperkirakan miliaran rupiah, untuk kota Makassar saja. bagaiamanan kota-kota lain? Atau desa-desa lain yang mulai terkontaminasi fenomena-fenomena kebudayaan semacam ini? Jika di jumlahkan secara keseluruhan maka akan sangat luar biasa besar.

Kemanusiaan setiap manusia selalu jujur membisikan kebenaran. Selalu akan memberi pertimbangan baik dan buruk untuk perihal apa yang ingin dilakukan. Jika miliaran rupiah itu digunakan untuk kebajikan sosial kemanusiaan, maka sangatlah bijaksana untuk dibandingkan dengan perayaan kembang api secara berlebihan.

Di saat ketakutan anak-anak dalam wilayah perang, mereka sangat membutuhkan uluran tangan sesamanya. Mereka ingin segra keluar dari cengkraman dentuman mesin senjata yang terjadi di negerinya. Rumah-rumah tempat mereka berlindung dari sengatan panas dan kegigilan dingin banyak yang telah hancur lebur. Begitupun dengan baju-baju yang mereka kenakan dan makan yang sudah mulai paceklik. Mereka membutukan bantuan materi yang besar untuk sedikit meringankan kesedihan mereka.

Itu hanya dalam masyarakat di laur wilayah negara kita. Belum di negara kita yang masih di lilit dengan berbagai permasalah sosial. Tapi sangat disayangkan, kita lebih suka menghambur-hamburkan dengan melenyapkan uang seketika dalam kilatan dan dentuman kembang api dalam pergantian malam tahun baru.

***

Bagi orang yang memiliki manajemen hidup yang baik, biasanya memiliki resolusi dalam batasan-batasan waktu tertentu. Banyak di antara mereka menetapkan akan tercapai resolusinya ketika periode satu tahun akan di tutup. Untuk tahun 2013 makan batasan itu akan segera berakhir dalam hitungan jama lagi (saat menulis artikel ini). Artinya akan ada capaian dan evaluasi terhadap hasil-hasil resolusi yang pernah di ikrarkan.

Hasil survey yang pernah di rilis menyatakan bahwa 1 dari 12 orang dapat menggapai satu dari beberapa poin resolusi yang telah di tuliskan. Jika kita termasuk dalam satu orang tersebut tersebut artinya kita terkategori sebagai kelas terdidik di masayarakat metropolitan.  Mungkin orang-orang yang memiliki tingkat kesuksesan yang cukup baik di banding yang lain. Tentunya setiap orang memiliki resolusi dan cara sendiri untuk menggapainya.

Nah, untuk saya pribadi terus terang dari sekian poin resolusi yang tertulis, biasa dikatan belumlah sesuai dengan harapan dalam pencapaiannya. Ada beberapa yang mungkin termasuk tercapai tapi tidak maksimal. Saat ini dari berbagai proses dan hikmah kehidupan yang pernah ditemukan, saya menggunakannya untuk mengevaluasi kembali resolusi-resolusi yang pernah ada. Sebenarnya evaljuasi ini selalu dilaksanakan setiap saat tapi malam ini tak ada salahnya, malah akan lebih baik karena inilah hasil evaluasi akhir dalam batasan waktu satu tahun.

Karena alasan-alasan inilah sehingga malam ini saya lebih suka duduk berdiam dan merenung. Saya yakin, saya tidak sendiri. Banyak orang yang melakukan hal yang sama dengan yang saya lakukan. Mungkin juga ada yang lebih ekstim lagi dari saya yakni dengan melakukan ‘pertobatan’ total, salah satunya dengan ibadah yang sebanyak-banyaknya. Dalam hal ini evaluasi urusan dunia dan kepentingan akhirat.

“Bukanlah kemajuan jika hari ini sama dengan hari kemarin apalagi lebih buruk dari hari kemarin”

Selamat tahun baru dan mari beresolusi. Smoga dalam segala hal, kita menjadi lebih baik lagi. Amin.

~Makassar, di markas besarku. Saat dentuman kembang api terdengar di seantero langit Makassar. Pukul 22:39. 31 Desember 2013.

*Tulisan terakhir di tahun 2013

Mushollah dan kehancuran peradaban

Masih seperti biasanya. Orang-orang lalu-lalang di dalam salah satu pusat perbelanjaan (mol) di Makassar. Senja di ufuk barat telah menampakan wajahnya. Artinya bagi umat muslim, waktu shalat ashar akan segera usai dan magrib akan segra masuk.

Mekipun sebagian besar orang masih sibuk dengan aktivitasnya tapi cukup banyak juga sudah meninggalkan aktivitasnya sejenak. Kemudian bergerak menjuju arah yang sama. Arah itu adalah mushallah yang masih terdapat di dalam mol, untuk menunaikan ibadah shalat magrib. Dalam ajaran islam, shalat ‘lima waktu’ adalah kewajiban bagi setiap manusia yang mengaku islam.

Saya adalah salah-satu di antara kerumunan orang-orang yang akan melaksanakan shalat itu. Kami berdesak-desakan agar bisa shalat magrib. Bagaimana tidak? Jalan menuju mushollah cukup sempit. Apalagi letaknya pun di sudut-sudut gedung sehingga agak sukar ditemukan.

Maka sampailah di dalam mushollah. Seolah berada di atas pemanggangan. Suhu cukup panas, karena gas karbon dioksida cukup banyak mengudara. Sedang oksigen menjadi rebutan orang-orang yang berda di dalam mushollah. Fasilitas yang di siapkan oleh pihak mol pun sangat tidak layak.

Bagaimana mungkin dalam ruangan yang sempit itu hanya disediakan kipas angin? Itupun dari sedikit kipas angin tersebut, tidak semuanya bisa digunakan (rusak). Padahal sirkulasi udara bisa di katakan tidak ada. Sehingga kipas angin hanya akan memutar-mutar udara dalam ruangan saja. Sangat berbeda dengan ruangan lain terutama ruang-ruang yang digunakan lokasi jual beli. Dimana kita akan mendapatkan suasana yang dingin dan nyaman. Sangat berbeda dengan mushollah.

Entah apa alasan pihak mol terkait suasa ini. Usai shalat beberapa orang menghujat pemilik mol tentang kondisi dalam mushollah. “Masa tempat ibadah seperti ini, tidak di fasilitasi dengan baik? Sudah panas karena tidak ada pendingin ruangan (AC), sempit lagi. Astagfirullah…” Ujar seorang bapak yang baru saja usai melaksakan shalat magrib.

Kapitalistik

Dunia kita telah terjerumus dalam logika yang kapitalistik. Logika yang menjadikan ke untungan dunia (uang) sebagai prioritas utama. Demi uang mereka melakukan apa saja meskipun nilai-nilai kemanusiaan atau ke Tuhanan harus dikesampingkan. Demikian juga pada bagaiamana kosntruksi bangunan pusat perbelanjaan dalam kasus ini.

‘Bangunan sekuler’. Istilah yang pernah di gunakan oleh seorang budayawan. Sekuler merupakan upaya ingin tidak mengesampingkan agama dengan aktivitas ke duniaan. Kalau kegiatan dunia, yah dunia. Agama berdiam diri saja dan cukup terlibat dalam hubungan yang lebih individual-vertikal saja dengan Tuhan. Tidak usah di libatkan dalam urusan perdagangan-perdagangan seperti ini. Dengan kata lain kapitalistik juga senada dengan sekularis atau keudanya bisa saling melengkapi.

Konsep inilah yang tengah tersemat pada pusat perbelanjaan dalam pembicaraan dalam tulisan ini. Padahal umat muslim di kota ini (Makassar) termasuk pengunjung mol mendominasi tapi malah tidak terpedulikan. Pemilik mol lebih mengutamakan keuntungan dunia (uang) tanpa menyeimbangkan dengan kepentingan yang lebih tinggi, yakni ketuhanan yang kemudian terjewantahkan dalam nilai-nilai kemanusiaan.

Bahwa keberadaan mushollah di sudut-sudut atau lorong-lorong mol seolah Tuhan hanyalah sesuatu yang kecil. Bahwa suhu yang panas karena fasilitas yang tidak memadai sedang di ruang-ruang bisnis lain dalam mol, begitu nyaman juga adalah bukti jika hasrat pemburuan ke untungan menjadi prioritas di banding nilai ke Tuhanan. Kerakusan untuk hanya mencari ke duniaan inilah yang mengarahkan pada pemberlakuan segala cara meskipun kemanusiaan tergadaikan. Kehancuran peradaban akan bermula dari cara seperti ini.

~Makassar, 01:33, 31 Desember 2013

Sabtu, 28 Desember 2013

‘Kata’ untuk Buya Hamka

Entah dari mana aku harus memulainya. Sebuah kisah cinta yang luar biasa agung. Tentang pengorbanan, penghianatan, kesedihan, keharuan, kebudian luhur dan lainnya. Sebuah kisah cinta yang di hadirkan oleh sastrawan besar Indonesia yang begitu mahsyur. Sampai saat ini aku masih tidak habis berpikirnya terntangnya. Tentang Buya Hamka yang begitu memiliki perangai yang roman, yang menghadirkan kesusatraan yang indah untuk di nikmati.

Tidak hanya sebatas di nikmati. Seperti yang dikatan olehnya (baca: Buya Hamka): jangan hanya melihat sesuatu dari luar, melainkan leihatlah lebih dalam. Rumah indah jika di jamah dari luar, tapi akan terlampau lebih indah tatkala kita mengetahui bagaimana rumah itu di hadirkan. Begitu pula dengan karya-karya buya hamka. Lihatlah bagaimana kedalaman intelektual dan estetika yang terkandung di dalamnya. Sederetan khazanah makna-maka yang penuh dengan keuatan jiwa. Kekuatan yang menggetarakan dan menggerakan kepengecutan menjadi keberanian.

Selain sudah pernah membaca novelnya terutama dalam kisah 'tenggelamnya kapal van der wijck', film yang di adaptasi dari novelnya pun sudah di tonton. Aku melihat sisi lain dari seorang Buya Hamka. Seorang ulama besar yang pernah dimiliki oleh Indonesia, ternyata memilki jiwa ‘sastra’ cukup dasyat. Tak banyak ulama yang demikian. Beliau mencoba mengkomunikasikan antara bahasa wahyu dengan realitas sosial budaya di sekitarnya melalui karya sastra yang mengagumkan.

Aku terenyuh ketika membaca serta merasakan rangkaian kata, kalimat hingga paragraph yang di untai olehnya. Semua bergetar ketika untaian kata-kata itu dibaca, didengar atau dirasakan. Betapa kata memiliki roh yang hidup sehingga dapat menyegarkan jiwa gersang. Jiwa yang mati suri oleh penghambaan terhadap materi dunia. Jiwa yang terbunuh oleh penghianatan cinta. Jiwa yang dapat merangkai sayap-sayap pengharapan untuk terbang menjulang tinggi meninggalkan penderitaan. Bahkan jiwa yang yang bersemayan iblis padanya menjadi jiwa yang dipenuhi oleh cinta kasih malaikat. 

Di Yunani kuno pun kekuatan kata mendapat tempat khusus. Saat tradisi intelektual yunani terbangun, kajian kata pun mendapat perhatian. Terbangunlah sekolah-sekolah untuk mengajarkan bagaimana menyusun dan menyampaikan kata dengan baik (retorika). Dan pada momentum-momentum tertentu selalu ada perlombaan retorika (berpidato) di depan khalayak yunani saat itu.

Namun tak sedikit yang menyepelekan tentang kekuatan kata. Jika kita menyaksikan ungkapan-ungkapan yang ditulis oleh Buya Hamka terutama dalam karya legendarisnya “tenggelamnya kapal van der wijck”, kita akan terkagum-kagum. Bahwa kemampuan untuk merangkai kata begitu indah dan menggetarkan. Siapapun yang mendengarnya akan terperangah. 

Terkait kata, Seorang Hitler, pemimpin nazi jerman pun pernah berkata: sesungguhnya yang dapat menggerakan perubahan besar adalah mereka yang mampu mengelolah kata (retorika) dengan baik.

Sekali lagi kekagumanku pada Buya Hamka, ku sematkan melalui tulisan ini.

-Makassar, 28 Desember 2013

Rabu, 25 Desember 2013

Jangan kulitnya, tengoklah dalamnya pula. Smoga kita menjadi lebih bijaksana

Perdebatan selalu ada. Tapi saya tidak ingin membahas itu lebih dalam disini. Bagiku itu adalah hal yang remeh temeh. Silahkan saja anda melakukannya dan kami melakukannya. Silahkan anda mengucapkan selamat dan silahkan juga jika tidak ingin mengucapkan. Semua sah-sah saja, asalkan semua saling menghargai atau jangan ada yang melakukan hal-hal yang diluar kewajaran.  Asalkan pula jangan paksakan untuk mengganti Tuhan dan nabi kami. Demikian juga kami, tidak akan memaksakanmu atau kalian atas kehendak kami untuk mengikuti Tuhan kami. Kita hanya saling mengingatkan saja. Mengingatkan untuk menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Karena untuikmu agamamu dan untuku agamaku.

Paragraph di atas, sebagai respon tentang bagaiamana umat muslim ketika melihat perayaan agama lain oleh umatnya ataupun sebaliknya. Kurang lebih Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) pernah berkata: aku menganggap Tuhanku pemilik segalanya, kamu bilang Tuhanmu pemilik segalanya. Aku juga bilang, surga itu ciptaan Tuhanku untuk kami. Kamu juga bilang surga itu buatan Tuhanmu untuk kalian. Demikian pula neraka, kataku itu di ciptakan Tuhanku untukmu. Tapi katamu, neraka adalah ciptaan Tuhanmu untukku. Akhirnya kita berdebat hingga naik pitam. Aku menggunakan senjata kaupun demikian. Oleh Iblis tertawa terkekeh-kekeh, karna dia yang sudah tahu siapa sebenarnya Tuhan.

Kalimat cak nun di atas sengaja membicarakan pada wilayah yang fundamental, tauhid. Tapi setidaknya inilah fakta yang terjadi di banyak kalangan pemeluk agama. Perbedaan ini selalu menimbulkan gesekan fisik bagi yang tidak bersikapa bijaksana dan toleran.

Kulit dan isi

Hari ini, di saat menulis artikel ini tengah diperingati oleh saudara umat kristiani sebagai hari natal. Hari yang bersejarah bagi mereka sama halnya dengan umat muslim dan umat-umat lainnya dengan hari-hari besarnya. Di harapkan peringatan hari ini menjadi momentum penyadaran, bahwa kedamaian itu hal yang penting untuk di wujudkan. Sebagaiamana keyakinan mereka, Tuhan mereka turun ke muka bumi sebagai pembawa kasih dan damai.

Perayaan hari raya seperti ini sudah sering di lakukan oleh semua agama dan keyakinan. Tapi selalu saja tak meninggalkan bekas yang panjang. Pengahayatan terhadap pesan-pesan kebaikan selalu saja tertanggalkan tatkala momentum itu usai. Semakin waktu berjalan hingga semakin jauh, maka secara perlahan pula ‘warna’ ajaran itu semakin memudar bahkan lenyap.

Inilah tradisi kita. Tradisi yang selalu memaknai dalam tampakan kulit saja. Kita tidak berusaha menengoknya ke bagian-bagian dalam isinya. Kita terlamapu ‘nikmat’ untuk hal-hal yang bersifat luar. Mungkin inilah salah satu indikasi kita telah terkategori dalam kejumudan berfikir. Sehingga wajar saja ketika kedamaian itu dibutuhkan selalu saja tersingkirkan karena perbedaan. Pemaksaan kehendak dengan kekerasan pun sering terjadi. Kita tidak menjadi manusia yang bijaksana, untuk mengetahui lebih hakiki sebuah perbedaan. Kita selalu merasa menjadi manusia yang paling bijaksana. Padahal kebijaksanaan dalam dunia masih sangat terbatas karena dunia ini memang sangat terbatas. Hanya Dia, Tuhan yang maha bijaksanalah yang dapat bijaksana sebijaksana-bijaksananya.

Merah-putih

Tentang kebijaksanaan, mari melihat buku yang berkulit dua warna. Depan warnah merah dan belakang warnah putih. Jika hanya melihat di depan saja dan tidak ingin memikirkan belakang maka kita akan bersikeras bahwa buku itu warnah merah. Demikian pula, jika melihat di belakang saja dan tanpa mau memilikir bahwa ada sisi lain. Maka kita akan bersikeras bahwa buku itu berwarnah putih. Tapi jika kita dengan menengok dan mematrikan dalam hati bahwa di sisi lain ada perbedaan, maka Insya Allah kita akan menjadi bijaksana. 

Bukan berarti kita tidak bisa mengkritik, menyalahkan, mengkritik bahkan menghakimi. Bukan. Melainkan bisa dilakukan tapi dengan batas-batas etika sembari menyadari kita adalah makhluk lemah yang relatif yang tidak mampu menjamah semua kebenaran milik Tuhan. Tapi tetap ada keyakinan yang tidak bisa di tawar-tawar. Keyakinan bahwa Tuhanku itu maha bijaksana, maha dasyat, maha hebat dan maha kuasa atas segala sesuatu yang dapat memberi penilaian yang super paling adil nan bijaksana. Mungkin juga Tuhanmu, Tuhan kalian atau Tuhan yang lainnya.

Terakhir, aku ingin berdoa kepada Tuhanku. Ya Allah damaikan negeri dan duniaku, berilah kami kebijksanaan, serta tunjukan kami kebenara-kebenaran_Mu. 
Jika kamu ingin berdoa, silahkan berdoa. Salam damai.

-Makassar, 25 Desember 2013


Inspirasi dari Affandi; Tidak perlu formal dan keluarlah dari mainstream

Sesungguhnya setiap manusia memiliki sesuatu yang dapat di inspirasi. Sebut saja Affandi. Aku tidak pernah bertemu langsung dengannya. Dia adalah seorang pelukis yang aku hanya kenal dalam sebuah acara televisi. Dia cukup fenomenal untuk di kenang. Pasalnya, dalam acara itu hanyalah sebuah memoar seorang maestro lukis, tentang kisah dan karya-karya besarnya hingga menginternasional.
Affandi (gambar dari google)


Autodidak

Jika melihat perjalanan hidupnya, Affandi merupakan manusia yang tidak sama dengan para pelukis lainnya di zamanya. Dia tidak pernah mengenyam pendidikan formal setingkat universitas sebagaiamana beberapa pelukis hebat di zamannya. Melalui sistem belajar yang autodidak yang bisa dikatakan di mulai pada poster-poster film di bioskop yang sudah tidak di pake lagi, dia memulai mengukir ide-idenya dalam gambar. Karena saat itu dia hanya seorang yang bekerja sebagai penjaga karcis di sebuah bioskop.

Banyak hal yang menarik lain yang patut dicontohi. Saat itu dia adalah pelukis yang keluar dari mainstream para pelukis. Dia menggambar dengan gaya dan tipenya sendiri. Ada yang menarik menganai bagaimana dia melukis. Bahwa sebelum menuangkan imajinasinya dalam sebuah kanvas terlebih dahulu yang dilakukan adalah menyerap (melihat) objek-objek yang akan di gambaranya kurang lebih 30 menit, kemudia dia menggambarnya dengan cepat.

Sebenarnya dia pernah ingin belajar pada seorang pelukis handal saat itu. Pelukis itu adalah lulusan sekolah seni di sebuah sekolah di Eropa. Tapi sayang, sang pelukis tidak ingin menularkan ilmunya pada Affandi. Salah satunya, karna alasan inilah dia terus berusaha mengeksplorasi potensi dalam dirinya dengan caranya sendiri (autodidak) sehingga menjadi pelukis yang hebat. Dia terus melukis hingga gaya (aliran) pelukis itu menmui dirinya. Ke konsistenan ini kemudian membawanya untuk memperoleh berbagai penghargaan internasional bahkan mendapat gelar doktor honoris causa dari University of Singapore tahun 1974.

Ekspresionis. Aliran apa itu?  

Terkait lukisannya tersebut, ada hal yang lucu. Ketika di tanya oleh kritikus dari barat bahwa aliran apa lukisannya? Dia tidak tahu mau jawab apa, karena selain hanyalah ekspresi jiwanya yang bebas juga tidak pernah membaca tentang aliran-aliran dalam lukisan. Yang dia lakukan hanya melukis dan melukis. Dia mengatakan melukis adalah kehidupannya apalagi dia bukanlah orang yang pandai dalam berbicara dan menulis. Mengetahui ketidaktahuannya, sang kritikus akhirnya menamai aliran lukisannya sebagai aliran ekspresionis. Mendengar nama itu, Affandi semakin bingung dan balik bertanya: aliran apa itu?  
lukisan Affandi (gambar dari google)

Non formal

Sebenarnya banyak cerita tentang sang maestro di atas kanvas ini. Setidaknya sekelumit certira tentang sosoknya dalam paragraph-paragraf di atas dapat memberikan kita inspirasi.
Betapa kehebatan tidak harus terfaislitasi dengan cara-cara yang formal dan mainstream. Pendidikan itu wajib tapi sekolah tidak berarti harus dalam kondisi formal. Alam bisa memberikan sejuta makna bagi yang mampu  membaca serta memaknainya. Bahkan cara-cara yang formal terkesan membatasi daya kreatifitas seorang pelajar. Karna kita telah disiapkan peta jalan (blue print) melalui kurikulum, seolah-oleh kurikulum maupun penyusun kurikulumnya mengatahui kondisi dalam diri setiap penuntut ilmu.

Luar mainstream

Demikian juga zaman yang mainstream, tak jarang mengarahkan orang lain agar memiliki karya yang seragam. Banyak orang yang sukar untuk keluar dari kebekuan sehingga sulit untuk  mengahasilkan hal yang lebih baru dan segar. Tapi seorang Affandi dengan kebebasannya, berhasil mendobrak kebekuan itu. Dia menciptakan karya-karya yang tergolong baru di zamanya. Mungkin selera pasar yang mainstream tidak banyak yang menyukai lukisan-lukisannya tapi itulah seniman berjiwa merdeka. Kebebasan dalam berkayra adalah keharusan. Dan kebebasan itu, harus dimillikin oleh siapapun dalam “batasan-batasan tertentu”. Sehingga tak heran banyak kekaguman selalu tersemat padanya meskipun dia telah meninggal.

Sebagai manusia yang harus terus berkarya, hal yang di lakukan Affandi patutlah menjadi saran. Bukan hanya dalam melukis tetapi dalam kekaryaan lain pun temasuk dalam menulis. Kehebatan (sukses) selalu memilki banyak cara bahkan setiap orang memiliki cara sendiri untuk merainya. Inilah yang setidaknya penulis menjadikannya inspriasi sehingga salah satunya, tulisan ini terselesaikan.

~Makassar, pukul 00: 13, 25 Desember 2013

Tidak perlu formal dan keluarlah dari mainstream (inspirasi dari Affandi)


Sesungguhnya setiap manusia memiliki sesuatu yang dapat di inspirasi. Sebut saja Affandi. Aku tidak pernah bertemu langsung dengannya. Dia adalah seorang pelukis yang aku hanya kenal dalam sebuah acara televisi. Dia cukup fenomenal untuk di kenang. Pasalnya, dalam acara itu hanyalah sebuah memoar seorang maestro lukis, tentang kisah dan karya-karya besarnya hingga menginternasional.
Autodidak
Jika melihat perjalanan hidupnya, Affandi merupakan manusia yang tidak sama dengan para pelukis lainnya di zamanya. Dia tidak pernah mengenyam pendidikan formal setingkat universitas sebagaiamana beberapa pelukis hebat di zamannya. Melalui sistem belajar yang autodidak yang bisa dikatakan di mulai pada poster-poster film di bioskop yang sudah tidak di pake lagi, dia memulai mengukir ide-idenya dalam gambar. Karena saat itu dia hanya seorang yang bekerja sebagai penjaga karcis di sebuah bioskop.
Banyak hal yang menarik lain yang patut dicontohi. Saat itu dia adalah pelukis yang keluar dari mainstream para pelukis. Dia menggambar dengan gaya dan tipenya sendiri. Ada yang menarik menganai bagaimana dia melukis. Bahwa sebelum menuangkan imajinasinya dalam sebuah kanvas terlebih dahulu yang dilakukan adalah menyerap (melihat) objek-objek yang akan di gambaranya kurang lebih 30 menit, kemudia dia menggambarnya dengan cepat.
Sebenarnya dia pernah ingin belajar pada seorang pelukis handal saat itu. Pelukis itu adalah lulusan sekolah seni di sebuah sekolah di Eropa. Tapi sayang, sang pelukis tidak ingin menularkan ilmunya pada Affandi. Salah satunya, karna alasan inilah dia terus berusaha mengeksplorasi potensi dalam dirinya dengan caranya sendiri (autodidak) sehingga menjadi pelukis yang hebat. Dia terus melukis hingga gaya (aliran) pelukis itu menmui dirinya. Ke konsistenan ini kemudian membawanya untuk memperoleh berbagai penghargaan internasional bahkan mendapat gelar doktor honoris causa dari University of Singapore tahun 1974.
Ekspresionis. Aliran apa itu?
Terkait lukisannya tersebut, ada hal yang lucu. Ketika di tanya oleh kritikus dari barat bahwa aliran apa lukisannya? Dia tidak tahu mau jawab apa, karena selain hanyalah ekspresi jiwanya yang bebas juga tidak pernah membaca tentang aliran-aliran dalam lukisan. Yang dia lakukan hanya melukis dan melukis. Dia mengatakan melukis adalah kehidupannya apalagi dia bukanlah orang yang pandai dalam berbicara dan menulis. Mengetahui ketidaktahuannya, sang kritikus akhirnya menamai aliran lukisannya sebagai aliran ekspresionis. Mendengar nama itu, Affandi semakin bingung dan balik bertanya: aliran apa itu?
Non formal
Sebenarnya banyak cerita tentang sang maestro di atas kanvas ini. Setidaknya sekelumit certira tentang sosoknya dalam paragraph-paragraf di atas dapat memberikan kita inspirasi.
Betapa kehebatan tidak harus terfaislitasi dengan cara-cara yang formal dan mainstream. Pendidikan itu wajib tapi sekolah tidak berarti harus dalam kondisi formal. Alam bisa memberikan sejuta makna bagi yang mampu  membaca serta memaknainya. Bahkan cara-cara yang formal terkesan membatasi daya kreatifitas seorang pelajar. Karna kita telah disiapkan peta jalan (blue print) melalui kurikulum, seolah-oleh kurikulum maupun penyusun kurikulumnya mengatahui kondisi dalam diri setiap penuntut ilmu.
Luar mainstream
Demikian juga zaman yang mainstream, tak jarang mengarahkan orang lain agar memiliki karya yang seragam. Banyak orang yang sukar untuk keluar dari kebekuan sehingga sulit untuk  mengahasilkan hal yang lebih baru dan segar. Tapi seorang Affandi dengan kebebasannya, berhasil mendobrak kebekuan itu. Dia menciptakan karya-karya yang tergolong baru di zamanya. Mungkin selera pasar yang mainstream tidak banyak yang menyukai lukisan-lukisannya tapi itulah seniman berjiwa merdeka. Kebebasan dalam berkayra adalah keharusan. Dan kebebasan itu, harus dimillikin oleh siapapun dalam “batasan-batasan tertentu”. Sehingga tak heran banyak kekaguman selalu tersemat padanya meskipun dia telah meninggal.
Sebagai manusia yang harus terus berkarya, hal yang di lakukan Affandi patutlah menjadi saran. Bukan hanya dalam melukis tetapi dalam kekaryaan lain pun temasuk dalam menulis. Kehebatan (sukses) selalu memilki banyak cara bahkan setiap orang memiliki cara sendiri untuk merainya. Inilah yang setidaknya penulis menjadikannya inspriasi sehingga salah satunya, tulisan ini terselesaikan.
~Makassar, pukul 00: 13, 25 Desember 2013

Jumat, 20 Desember 2013

Rehat; refleksi diri

Keadilan itu memang selalu ada. Jika kita cermat membaca, sesungguhnya setiap makhluk termasuk manusia selalu memiliki kelebihan dan kekurangan. Mungkin si fulan memiliki ini tapi belum tentu memiliki itu. Juga, si fulan lain tidak memiliki ini tapi memiliki itu. Nah, di sinilah salah-satu cara bagaiaman Tuhan menciptakan keadilan. Meskipun itu, hemat saya keadilan di dunia ini hanyalah bersifat parsial. Kita belum mampu menjamahnya secara sempurnah. Sebenar-benarnya keadilan kita akan mengetahuinya tatkala di akhirat kelak.

Ketidakpahaman terhadap bagaiamna melihat keadilan, akan berdampak secara psikologis terhadap lahirnya keluhan atau ketidakterimaan (ikhlas). Bagi saya, bagi setiap orang yang mengeluh merupakan salah-satu indikasi bahwa mereka tidak melihat secara penuh apa yang ada pada dirinya. Setiap orang memiliki bakat (passion) satu sama lain. Seperti saya katakana di atas, mungkin anda tidak memiiliki ini tapi pasti memiliki itu. tinggal bagaiamana kita mengasah “ini” yang kita miliki menjadi sesuatu yang luar biasa. sehingga kita menjadi ahli di bidang “ini”.

Baiklah. Saya tidak akan terlalu berkutat pada persoalan konsep. Pernah suatu saat saya menyakiskan realitas kehidupan. Di ceritakan tentang kisah para saudara-saudara kita yang difabel (untuk tidak menggunakan term disabilitas). Mereka sangat berprestasi di bidang yang mereka minati. Mungkin (maaf)secara fisik dan kadang juga mental, mereka berbeda dengan orang pada umumnya, tapi bukan berarti tidak memiliki kemampuan lain. Mereka tersemat sebuah bakat yang kemudian terus di asah menjadi luar biasa.

Syukur

Salah satu bentuk rasa syukur kita kepada pencipta adalah dengan memaksimalkan serta menggunakan dengan baik pemberian_Nya. Setiap manusia sudah di lengkapi dengan kelebihan masing-masing. Salah, jika ada yang mengatakan: saya tidak memiliki kemampuan apa-apa. Sangatlah tidak adil jika Tuhan tidak menciptakan modal kemampuan kepada manusia untuk menelusuri lorong-lorong kehidupan yang berliku-liku ini.

Kita beruntung terlahir normal secara fisik, tapi akan sangat tidak beruntung jika keadaan ini tidak di manfaatkan sebaik-baiknya. Kita akan terkategori sebagai orang yang tidak bersyukur dengan membiarkan kelebihan kita tependam dalam diri. Kita akan menjadi manusia mubazir yang tidak melejitkan potensi dalam diri dengan hanya tidak penuh dalam mengasahnya. Dan yang terpenting lagi adalah mengabdikannya untuk kebaikan.

Dalam realita itu, salah satunya adalah seorang yang sejak kecil cacat secara mental dan fisik. Mungkin kebanyak orang akan berpikir, dengan keadalan seperti mana mungkin dia bisa berprestaasi. Malah yang ada hanya akan merepotkan orang-orang disekitarnya. Tapi anggapan seperti itu sangalah salah. Sekali lagi, Tuhan menciptakan manusia dengan kelebihan masing-masing. Ternyata di balik fisiknya yang cacat bahkan mentalnya, ternyata dia memiliki kemampuan bermusik yang sangat hebat. Saya yakin masih banyak orang-orang yang seperti ini (baca: difabel) dan mereka memilliki kemampuan hebat di bidangnya masing-masing.

Hidup tidak sekedar  hidup

Nah, bagaimana dengan kita? Sama halnya dengan mereka yang difabel. Kita juga memiliki kemampuan masing-masing. Tapi alangkah meruginya, jika kemampuan itu tidak dilejitkan. Kita memiliki faktor pendukung lain yakni kenormalan fisik dan juga mental bahkan kelebihan lainnya terutama mereka yang memiliki kemampuan ekonomi atau lingkungan yang mendukung. Trus alasan apalagi?

Dan setelah kehebatan itu tercapai, bukan berarti misi selesai. Ulama besar Buya Hamka pernah berkata: kalau hidup hanya sekedar hidup babi di hutan jika bisa hidup. Kalau kerja hanya sekedar kerja, kera juga bisa bekerja. Sebaik-baiknya manusia adalah paling bermanfantaan bagi sesamanya, sebagai bentuk pengejewantahan cinta dan pengabdian kepada Tuhan.

Mari saling memotivasi dan mengingatkan.

*Difabel= bisa di artikan orang yang memiliki kemampuan di bidang lain dan tidak terkesan negatif.
Disabel= kata yang terkesan streotipe negatif. Biasa diartikan dengan orang yang cacat.

~Makassar, 20 Desember 2013

Kamis, 19 Desember 2013

Kisah Aku dan Pekerja rumah tangga itu

Dalam hidup selalu di ciptakan ke seimbangan. Ada orang kaya, ada orang miskin. Ada siang dan ada malam. Ada langit dan ada bumi. Ada pembantu dan ada majikan. Ada hal menarik dengan yang keseimbangan yang saya sebutkan terakhir. Lebih khusus lagi adalah pelajaran berharga dari seorang pekerja rumah tangga/pembantu rumah tangga (aku menyebutnya sang ibu).

Tiap pagi setiap kali aku bangun, mentari biasanya sudah duluan menyapa mendahului. Tapi untuk ibu pembantu itu, selalu lebih duluan dari mentari yang menyingsing. Seperti biasa, pintu langsung aku membukanya. Udara sejuk pagi ku persilahkan masuk menyingsing jendela dan pintu kamarku. Cahaya mentaripun menerobos masuk tanpa permisi. Jariku menyentuh embun di ujung dedaunan. Sejuk seperti air yang membasahi kerongkongan di kala dahaga. Tapi aku ingin menciptakan keseimbangan, biasanya dengan menyeduh segelas teh panas.

Sang ibu sudah mulai dengan rutinitasnya. Mengumpulkan pakian-pakaian yang sudah kotor majikannya. Dimasukan dalam air dan di rendam dengan sabun cuci. Tak lupa sapa selalu di lemparkan kepada orang-orang yang melewati jalan di sampingnnya. Karena kebetulan aktivitas paginya selalu di lakukan di teras rumah majikannya.

Teh sudah terhidang di hadapanku. Duduk termenung, merasakan indahnya pagi. Aku mungkin orang yang paling enggan pagi itu. Orang-orang sudah lalu lalang. Sang Ibu sudah mulai mencuci. Penjual-penjual selalu meneriakan yel-yelnya di sekitar kosku. Tapi aku masih saja duduk dan baru akan bersiap-siap menyelesaikan agenda siang.

Akhirnya Koran datang juga. “Dek korannya sudah datang” sang ibu itu memanggilku sembari menyerahkan Koran yang di ambilnya dari pagar rumah. Kebetulan saya tinggal di kos di lantai 2 rumah majikannya. Tapi kamar kos dan rumah majikanya bisa di katakan terpisah meskipun masih satu atap. Pasalnya saya memiliki pintu sendiri yang langsung bisa naik ke kamar kos tanpa harus melalui rumah majikan sang ibu ini.

“Oh, iya. Trimakasih banyak bu” jawabku sambil menerima Koran dari sang ibu.

Jika sebelumnya aku hanya berhadapan dengan segelas teh panas kini bertambah lagi, dengan berlembar-lembar surat kabar. Aku kembali hening dan larut dalam baris-baris kalimat. Suara kendaraan yang semborono kadang-kadang memecah keheninganku. Tapi aku tetap mengacuhkannya. Padahal baris-baris kalimat itu memuat banyak kabar keruwetan sosial kemasyrakatan bangsa ini, namun aku tetap terhening dalam ritme cerita.

Di antara keruwetan itu adalah adanya kabar tentang protes para buruh tentang tuntunan nasib mereka yang tak kunjung terselesaikan. Umumnya mereka berasalah dari berbagai pabrik-pabrik menengah ke atas. Mungkin aku kurang informasi tapi aku belum pernah mendengar ada demonstrasi para pembatu rumah tangga menuntut kenaikan upah. Tapi sudah mulai santer terdengar bahwa nasib mereka juga tengah diperjuangkan.

Aku yakin sang ibu tidak pernah mendengar tentang demonstrasi para buruh. Kalaupun tahu, hanya sepintas saja dan tidak terlalu memedulikan. Mungkin inilah yang dikatakan belum adanya kesadaran politik oleh sang ibu ini. Sang ibu hanya masih berkutat dalam kesadaran ekonominya. . Belum terlalu memikirkan kesadaran strutur yang lebih luas. Kalau sudah bisa makan, yah sudah.  Meskipun kebutuhan lainnya cukup susah untuk di penuhi bahkan belum terpenuhi semua.

Dengan kegemarannya memberi senyum dan menyapa, sang Ibu sangat akrab dengan banyak orang. Selain itu, ketekunannya dalam bekerja keras juga sangat menginspirasi banyak orang yang mengenalnya. Mataku masih saja mengikuti baris demi baris surat kabar. Tiba-tiba terhenti oleh suara sang ibu.

“Tidak,,, tidak usah”. Sontak kaget, karena penasaran dengan apa yang terjadi pada si Ibu, akhirnya aku beranjak untuk melihat apa yang terjadi.

Orang yang berada di hadapannya selalu memaksa. Sang Ibu terus mengulangi yang di ucapkannya. “Tidak,,, tidak,,, tidak usah”.

 “Tapi bu?”

“Tidak dek. Kebahagiaan itu bukan hanya pada uang. Saya ikhlas membantumu”  sang ibu menegaskan kembali pada seorang.

“Sungguh pelajaran hidup yang sungguh indah.  Trimakasih atas pelajaran berharga pagi ini”. Gumamku dalam hati.

~Makassar, 18 Desember 2013

Kisah Aku dan tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Lelaki Makassar itu bernama Zainuddin. Dia benar-benar malang. Sejak dalam kandungan rantai kemalangan sudah melilitnya. Ketika dia lahir dan belum mendapatkan kasih sayang yang penuh, ayah dan ibunya sudah harus meninggalkannya menghadap sang pencipta. Dia berkunjung ke negeri asal ayahnya, negeri minangkabau. Dengan harapan akan diterimanya dengan suka cita oleh keluarga ayahnya di sana, tapi harapan itu harus di kubur dalam-dalam. Karna ke egoisan tradisi, Zainuddin tidak mendapatkan perlakuan sebagaiamana seorang keluarga. Dia dipandang sebelah mata.

Tapi dalam kemalangan itu, dia mengenal Nurhayati. Seorang gadis desa yang cantik jelita dan begitu anggun. Sejak mereka saling mengenal, benih-benih kekaguman itu hadir. Tak lama kemudian berubah menjadi cinta. Zainuddin dan Nurhayati, sama-sama saling melabuhkan cintanya. Mereka berjanji sehidup semati untuk tetap bersama. Apapun hambatan yang mereka hadapi, akan di lewati bersama. Tapi waktu terus bejalan. Hadir penghianatan.

“Sebenarnya aku ingin terbang mencari cinta yang lain. Tapi engkau nurhayati, telah mematahkan sayap-sayap cinta ini”
keluh Zainuddin dalam kesedihannya.

Demikian kurang lebih sepenggal kisah dari tenggelamnya kapal van der wijck, karya ulama terkenal Buya Hamka (alm).

istana pagaruyung/rumah gadang. saya bersama pak pegawai nagari (desa) dan teman2 univ. andalas-padang

Film ini memang di adaptasi dari novel “tenggelamnya kapal van der wijck”. Kini film ini tengah santer menjadi bahan pembicaraan di media maupun di kalangan pecinta film. Menurut rencana pada kamis (19/12/2013) akan segera di rilis di bioskop-bioskop seluruh Indonesia bahkan konon tersiar kabar akan di putar juga di beberapa negara seperti malasya, singapura dan brunai.

Mengikuti peribincangan ini, tiba-tiba aku teringat ke negri mingkabau (minang). Beberapa bulan yang lalu aku berada di sana dan tinggal kurang lebih selama satu bulan lebih. Di kecamatan batipulah, kabupaten tanah datar-Sumatra barat, saya menetap. Tempat ini (baca: kec. Batipuh) adalah tempat di mana kisah cinta Zainuddin seorang Pria makassar dan Nurhayati gadis minangkabau (minang) memulai kisah cintanya. Kebetulan juga saat itu, di tempat yang sama, film ini tengah di garap bahkan saya sempat menyaksikan bagaimana adegan-adegan dalam film itu terjadi.

Negeri bersejarah

Negeri minangkabau memang negeri yang bersejarah terutama dalam sejarah kepahlawanan, kesastraan dan perpolitikan Indonesia baik sebelum maupun setelah kemerdekaan. Para pejuang kemerdekaan Indonesia banyak berasalah dari negeri ini. Siapa yang tidak mengenal bung hatta? Muhammad Natsir? Tan malaka? buya Hamka? Dan banyak tokoh lain lagi.

Juga, siapa yang tidak mengenal pemberontakan PRRI yang di bidani oleh beberapa tokoh masyumi asal minangkabau? Atau tahukah bahwa Ibu kota Indonesia pernah di Pindahkan ke bukit tinggi? Yah, di bukit tinggilah ketika Syafrudin Prawira negara di serahkan tahta oleh sukarno untuk memimpin Republik Indonesia sementara.

Meskipun aku berdiam di batipuh tapi aku berpetualang ke banyak tempat-tempah berjesarah di minangkabau, termasuk ketempat-tempat asal daerah para tokoh di atas seperti kota bukit tinggi, kediaman bung hatta pendiri bangsa kita dan Tan malaka seorang tokoh gerakan kiri yang juga terlibat dalam kemerdekaan. Sedikit untuk di ketahui minangkabau adalah nama suku bangsa yang bisa dikatakan mendiami hampir seluruh provinsi Sumatra barat. 
padang panjang. ke tempat inilah zainuddin pergi meninggalkan nurhayati

Dialog budaya

Dalam cerita tenggelamnya kapal van der wijch, ada kisah pertautan budaya bugis makssar dan budaya minagkabau, meskipun dalam cerita lebih kental mengangkat budaya minangkabau. Perbedaan budaya kadang kala menimbulkan konflik cinta. Kisah cinta yang sebelumnya sangat terjalin kuat bisa saja hancur karena perbedaan budaya.

Membincangkan perbedaan budaya, saya juga pernah mengalaminya ketika aku berada di negeri minangkabau ini. Selama kurang lebih satu bulan aku tinggal berbaur dengan masyarakat setempat. Saya pun tinggal di rumah warga tapi dengan beberapa mahasiswa dari universitas andalas-padang. Dengan kondisi lingkungan seperti ini secara otomatis saya dikondisikan untuk melakukan pertautan budaya/dialog budaya.

Tradisi pernikahan; Marwan (saya) di bayar 15 juta

Berbeda dengan Sulawesi, di sana ketika sedang berbicara dengan lawan bicara, menggunakan kata “saya” untuk menunjuk diri sendiri terkesan kurang sopan. Sama halnya juga dengan kata “kamu” untuk menunjuk lawan bicara, harusnya sebutlah nama sendiri atau nama orang yang di ajak bicara. Itulah alasan kenapa saya menulis sub judul seperti di atas “Marwan (saya) di bayar 15 juta”.

Baiklah. Suatu ketika saya berdiskusi dengan seorang bapak paruh baya. Kami berdiskusi perihal budaya perkawinan masyakat di sana. Saya sengaja bertanya tentang ini, karena informasi  selama ini minangkabau memiliki tradisi yang cukup unik dalam proses perkawinanan. Apalagi kebetulan tidak jauh dari tempat tinggal saya, tengah berlangsung pembuatan film tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang menceritakan tentang kisah cinta pria Sulawesi dan gadis minangkabau (minang). Kisah cintanya pun bermula dari tempat saya tinggal yakni kecamatan batipu. Pas kan? :)

Jika sering mendengat bahwa lelaki di lamat atau dibayar oleh wanita, itu tidak salah. Tapi seiring perkembangan zaman budaya itumulai terkikis. Seperti halnya di daerah-daerah lain di Indonesia, modernitas bisa menghancurkan nilai-nilai tradisional jika tidak mampu di filter dengan baik. oleh karenanya tradisi semacam ini hanya kental berlaku di beberapa daerah di Sumatra barat misalnya yang masih sangat kental adalah di padang pariaman dan pariaman.

Terkait budaya ini lebih jelasnya, jika anda seorang pria ingin menikah dengan gadis minang maka pihak perempuan yang terlebih dahulu membayar anda. Nominal uangnya tergantung dari strata sosial anda. Jika anda seorang dosen pasti akan berbeda dengan pria yang pengangguran. Ini berbeda dengan tradisi yang berlaku di Sulawesi apalagi di dalam masayarakat bugis yang dimana pihak pria yang akan memberikan sejumlah uang kepada wanita. Dan itu juga tidak ada jumlah yang patten dan kadang dipengaruhi oleh strata sosial.

Saat itu akan bertanya pada seorang gadis minangkabau dari universitas andalas padang, yang juga sebagai teman selama tinggal disana. “kira-kira kalau skarang marwan menikah dengan gadis minang, terutama yang dari padang pariamana atau pariaman, saya di bayar brapa?” tanyaku padanya.
“Mungkin uda Marwan baru 15 juta. Soalnya blum ada gelar sarajana”. Kami semua tertawa.

Tradisi pernikahan; Zainuddin merana

Selain itu, silsila keluarga dalam tradisi minangkabau di hitung dari garis keturunan ibu. Tradisi inilah yang salah satunya sebab hancurnya cinta zainuddin dan nur hayati dalam cerita tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Zainuddin memang memiliki ayah dari minangkabau tapi ibu asal Makassar. Dalam tradisi minangkabau zainuddin bukanlah keturuanan minangkabau meskipun ayahnya berasal dari suku ini. Zainuddin di anggap pria asal suku bugis Makassar, sehingga Nur hayati yang merupakan gadis desa jelita keturunan bangsawan, tidak rela di nikahkan dengan zainuddin yang yatim piatu apalagi bukan dalam silsila keluarga minangkabau.

Di tengah masyarakat saat itu yang masih sangat memegang nilai-nilai tradisi, sehingga ruang cinta untuk zainuddin tertutup untuk nur hayati oleh ke egoisan budaya. Meskipun mereka telah di rundung cinta yang sangat. Surat-surat cinta mereka sangat indah. Tapi akhinya harus ada penghianatan cinta. Pada saatnya Nur hayati menerima lamaran pria kaya lain oleh restu keluarga besarnya. Zainuddin tercampakan dan meranalah dia.

Tradisi pernikahan; “Dek ada rencana berkeluarga dengan orang minangkabau?”

Ada hal yang merik juga dari diskusi saya bersama bapak paruh baya tadi. Minangkabau adalah nama suku bangsa yang cukup besar. Tapi dalam miangkabau sendiri terdapat banyak suku-suku kecil. Ada tradisi cukup unik yang berlaku di suku-suku dalam mingkabau ini. bahwa di larang terjadi pernikahan se suku. Jika itu dilanggar maka salah satu sanksinya adalah mereka yang melanggar harus tinggal di wilayah luar suku itu.

Salah satu alasannya adalah bagi mereka yang menganut silsila kaluarga dari turunan ibu (matrimonial) itu satu keluarga. Artinya karena dari keturuanan Ibu berarti dalam suku itu memiliki ibu yang sama sehingga tidak boleh menikah dan harus saling menjaga dan menyayangi. Tapi lagi-lagi modernitas jika tidak di waspadai slalu menggeser tradisi yang sudah lama terbangun. Di beberapa kabupaten atau tempat di minangkabau sudah banyak melanggar tradisi pelarangan pernikahan se suku ini. Tapi untuk kecamatan tempat saya tinggal (kec. batipuh) selama satu bulan ini masih cukup kuat menganut tradisi demikian. Dengan kata lain peluang orang di luar suku mereka cukup besar jika menikah dengan warga di sini. Termasuk saya.

Bapak paruh baya ini sungguh baik. Apalagi senang di ajak diskusi terkait budaya yang berlaku di daerahnya, saya pun demikian. Dalam perjalanan diskusi kami, si bapak sedikit menjelaskan tentang keluarganya. Beliau memiliki anak perempuan yang sedang kulia di bandung. Tiba-tiba si bapak bertanya pada saya: “Dek ada rencana berkeluarga dengan orang minangkabau?”.  

Sontak kaget dan tersenyum. Demikian juga si bapak. “blum tau pak. Tapi tidak menutup kemungkinan karena biarlah perjalanan waktu yang menentukan” aku menjawab. Aku kembali melanjutakan “tidak menutup kemungkinan nostalgia pak Jusuf Kalla dan istrinya yang orang minangkabau akan terjadi”. Kamipun tertawa.

Pertanyaan yang mirip, penah juga di tanyakan oleh gadis minang teman selama tinggal sebulan disana. Saya pun menjawab “Tidak menutup kemungkinan nostalgia pak Jusuf Kalla dan istrinya Ibu Mufidah yang orang minangkabau akan terjadi. Dan mungkin saja istri saya nanti adalah kamu. Entahlah. Karna smua sudah tertulis di kitab Lauhul Mahfuz oleh Allah” kami tersenyum dan semua teman-teman lain terutama dari kampus andalas tertawa.

Miris

Membaca novel “tenggelamnya Kapal Van der Wijck” karya ulama Buya Hamka ini membuat saya miris. Karya sastra yang begitu indah justru banyak pelajar maupun pemuda Indonesia yang kurang mengetahuinya. Kita hanya terjebak untuk mengadopsi budaya-budaya asing dan melupakan identitas budaya yang kita miliki. Kita lebih memilih budaya populer terutama sekarang yang tengah menyapu adalah budaya korea sehingga banyak anak muda yang mulai menampakan fenomena “ke koreea-korea an”. Padahal kita memiliki budaya kearifan lokal yang sangat dasyat. Kita memiliki sastrawan-sastrawan yang jika kita membaca karyanya maka kita akan terkagum-kagum. Karya buya hamka salah satunya. Bahkan menurut referensi yang saya pernah baca, di malasya karya Buya Hamka menjadi bacaan wajib siswa sekolah menengahnya disana.
Lalu, bagaimana dengan kita?

~Makassar, 18 Desember 2013

Lelaki Makassar itu bernama Zainuddin. Dia benar-benar malang. Sejak dalam kandungan rantai kemalangan sudah melilitnya. Ketika dia lahir dan belum mendapatkan kasih sayang yang penuh, ayah dan ibunya sudah harus meninggalkannya menghadap sang pencipta. Dia berkunjung ke negeri asal ayahnya, negeri minangkabau. Tepatnya di kecamatan batipuh, kab. Tanah Datar-Sumbar. Dengan harapan akan diterimanya dengan suka cita oleh keluarga ayahnya di sana, tapi harapan itu harus di kubur dalam-dalam. Karna ke egoisan tradisi, Zainuddin tidak mendapatkan perlakuan sebagaiamana seorang keluarga. Dia dipandang sebelah mata.
Tapi dalam kemalangan itu, dia mengenal Nurhayati. Seorang gadis desa yang cantik jelita dan begitu anggun. Sejak mereka saling mengenal, benih-benih kekaguman itu hadir. Tak lama kemudian berubah menjadi cinta. Zainuddin dan Nurhayati, sama-sama saling melabuhkan cintanya. Mereka berjanji sehidup semati untuk tetap bersama. Apapun hambatan yang mereka hadapi, akan di lewati bersama. Tapi waktu terus bejalan. Hadir penghianatan.
“Sebenarnya aku ingin terbang mencari cinta yang lain. Tapi engkau nurhayati, telah mematahkan sayap-sayap cinta ini” keluh Zainuddin dalam kesedihannya.
Demikian kurang lebih sepenggal kisah dari tenggelamnya kapal van der wijck, karya ulama terkenal Buya Hamka (alm).
Film ini memang di adaptasi dari novel “tenggelamnya kapal van der wijck”. Kini film ini tengah santer menjadi bahan pembicaraan di media maupun di kalangan pecinta film. Menurut rencana pada kamis (19/12/2013) akan segera di rilis di bioskop-bioskop seluruh Indonesia bahkan konon tersiar kabar akan di putar juga di beberapa negara seperti malasya, singapura dan brunai.
Mengikuti peribincangan ini, tiba-tiba aku teringat ke negri mingkabau (minang). Beberapa bulan yang lalu aku berada di sana dan tinggal kurang lebih selama satu bulan lebih. Di kecamatan batipulah, kabupaten tanah datar-Sumatra barat, saya menetap. Tempat ini (baca: kec. Batipuh) adalah tempat di mana kisah cinta Zainuddin seorang Pria makassar dan Nurhayati gadis minangkabau (minang) memulai kisah cintanya. Kebetulan juga saat itu, di tempat yang sama, film ini tengah di garap bahkan saya sempat menyaksikan bagaimana adegan-adegan dalam film itu terjadi.
Negeri bersejarah
Negeri minangkabau memang negeri yang bersejarah terutama dalam sejarah kepahlawanan, kesastraan dan perpolitikan Indonesia baik sebelum maupun setelah kemerdekaan. Para pejuang kemerdekaan Indonesia banyak berasalah dari negeri ini. Siapa yang tidak mengenal bung hatta? Muhammad Natsir? Tan malaka? buya Hamka? Dan banyak tokoh lain lagi.
Juga, siapa yang tidak mengenal pemberontakan PRRI yang di bidani oleh beberapa tokoh masyumi asal minangkabau? Atau tahukah bahwa Ibu kota Indonesia pernah di Pindahkan ke bukit tinggi? Yah, di bukit tinggilah ketika Syafrudin Prawira negara di serahkan tahta oleh sukarno untuk memimpin Republik Indonesia sementara.
Meskipun aku berdiam di batipuh tapi aku berpetualang ke banyak tempat-tempah berjesarah di minangkabau, termasuk ketempat-tempat asal daerah para tokoh di atas seperti kota bukit tinggi, kediaman bung hatta pendiri bangsa kita dan Tan malaka seorang tokoh gerakan kiri yang juga terlibat dalam kemerdekaan. Sedikit untuk di ketahui minangkabau adalah nama suku bangsa yang bisa dikatakan mendiami hampir seluruh provinsi Sumatra barat.
Dialog budaya
Dalam cerita tenggelamnya kapal van der wijch, ada kisah pertautan budaya bugis makssar dan budaya minagkabau, meskipun dalam cerita lebih kental mengangkat budaya minangkabau. Perbedaan budaya kadang kala menimbulkan konflik cinta. Kisah cinta yang sebelumnya sangat terjalin kuat bisa saja hancur karena perbedaan budaya.
Membincangkan perbedaan budaya, saya juga pernah mengalaminya ketika aku berada di negeri minangkabau ini. Selama kurang lebih satu bulan aku tinggal berbaur dengan masyarakat setempat. Saya pun tinggal di rumah warga tapi dengan beberapa mahasiswa dari universitas andalas-padang. Dengan kondisi lingkungan seperti ini secara otomatis saya dikondisikan untuk melakukan pertautan budaya/dialog budaya.
Tradisi pernikahan; Marwan (saya) di bayar 15 juta
Berbeda dengan Sulawesi, di sana ketika sedang berbicara dengan lawan bicara, menggunakan kata “saya” untuk menunjuk diri sendiri terkesan kurang sopan. Sama halnya juga dengan kata “kamu” untuk menunjuk lawan bicara, harusnya sebutlah nama sendiri atau nama orang yang di ajak bicara. Itulah alasan kenapa saya menulis sub judul seperti di atas “Marwan (saya) di bayar 15 juta”.
Baiklah. Suatu ketika saya berdiskusi dengan seorang bapak paruh baya. Kami berdiskusi perihal budaya perkawinan masyakat di sana. Saya sengaja bertanya tentang ini, karena informasi  selama ini minangkabau memiliki tradisi yang cukup unik dalam proses perkawinanan. Apalagi kebetulan tidak jauh dari tempat tinggal saya, tengah berlangsung pembuatan film tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang menceritakan tentang kisah cinta pria Sulawesi dan gadis minangkabau (minang). Kisah cintanya pun bermula dari tempat saya tinggal yakni kecamatan batipu. Pas kan? 
Jika sering mendengat bahwa lelaki di lamat atau dibayar oleh wanita, itu tidak salah. Tapi seiring perkembangan zaman budaya itumulai terkikis. Seperti halnya di daerah-daerah lain di Indonesia, modernitas bisa menghancurkan nilai-nilai tradisional jika tidak mampu di filter dengan baik. oleh karenanya tradisi semacam ini hanya kental berlaku di beberapa daerah di Sumatra barat misalnya yang masih sangat kental adalah di padang pariaman dan pariaman.
Terkait budaya ini lebih jelasnya, jika anda seorang pria ingin menikah dengan gadis minang maka pihak perempuan yang terlebih dahulu membayar anda. Nominal uangnya tergantung dari strata sosial anda. Jika anda seorang dosen pasti akan berbeda dengan pria yang pengangguran. Ini berbeda dengan tradisi yang berlaku di Sulawesi apalagi di dalam masayarakat bugis yang dimana pihak pria yang akan memberikan sejumlah uang kepada wanita. Dan itu juga tidak ada jumlah yang patten dan kadang dipengaruhi oleh strata sosial.
Saat itu akan bertanya pada seorang gadis minangkabau dari universitas andalas padang, yang juga sebagai teman selama tinggal disana. “kira-kira kalau skarang marwan menikah dengan gadis minang, terutama yang dari padang pariamana atau pariaman, saya di bayar brapa?” tanyaku padanya.
“Mungkin uda Marwan baru 15 juta. Soalnya blum ada gelar sarajana”. Kami semua tertawa.
Tradisi pernikahan; Zainuddin tercampakan
Selain itu, silsila keluarga dalam tradisi minangkabau di hitung dari garis keturunan ibu. Tradisi inilah yang salah satunya sebab hancurnya cinta zainuddin dan nur hayati dalam cerita tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Zainuddin memang memiliki ayah dari minangkabau tapi ibu asal Makassar. Dalam tradisi minangkabau zainuddin bukanlah keturuanan minangkabau meskipun ayahnya berasal dari suku ini. Zainuddin di anggap pria asal suku bugis Makassar, sehingga Nur hayati yang merupakan gadis desa jelita keturunan bangsawan, tidak rela di nikahkan dengan zainuddin yang yatim piatu apalagi bukan dalam silsila keluarga minangkabau.
Di tengah masyarakat saat itu yang masih sangat memegang nilai-nilai tradisi, sehingga ruang cinta untuk zainuddin tertutup untuk nur hayati oleh ke egoisan budaya. Meskipun mereka telah di rundung cinta yang sangat. Surat-surat cinta mereka sangat indah. Tapi akhinya harus ada penghianatan cinta. Pada saatnya Nur hayati menerima lamaran pria kaya lain oleh restu keluarga besarnya. Zainuddin tercampakan dan meranalah dia.
Tradisi pernikahan; “Dek ada rencana berkeluarga dengan orang minangkabau?”
Ada hal yang merik juga dari diskusi saya bersama bapak paruh baya tadi. Minangkabau adalah nama suku bangsa yang cukup besar. Tapi dalam miangkabau sendiri terdapat banyak suku-suku kecil. Ada tradisi cukup unik yang berlaku di suku-suku dalam mingkabau ini. bahwa di larang terjadi pernikahan se suku. Jika itu dilanggar maka salah satu sanksinya adalah mereka yang melanggar harus tinggal di wilayah luar suku itu.
Salah satu alasannya adalah bagi mereka yang menganut silsila kaluarga dari turunan ibu (matrimonial) itu satu keluarga. Artinya karena dari keturuanan Ibu berarti dalam suku itu memiliki ibu yang sama sehingga tidak boleh menikah dan harus saling menjaga dan menyayangi. Tapi lagi-lagi modernitas jika tidak di waspadai slalu menggeser tradisi yang sudah lama terbangun. Di beberapa kabupaten atau tempat di minangkabau sudah banyak melanggar tradisi pelarangan pernikahan se suku ini. Tapi untuk kecamatan tempat saya tinggal (kec. batipuh) selama satu bulan ini masih cukup kuat menganut tradisi demikian. Dengan kata lain peluang orang di luar suku mereka cukup besar jika menikah dengan warga di sini. Termasuk saya.
Bapak paruh baya ini sungguh baik. Apalagi senang di ajak diskusi terkait budaya yang berlaku di daerahnya, saya pun demikian. Dalam perjalanan diskusi kami, si bapak sedikit menjelaskan tentang keluarganya. Beliau memiliki anak perempuan yang sedang kulia di bandung. Tiba-tiba si bapak bertanya pada saya: “dek ada rencana berkeluarga dengan orang minangkabau?”.
Sontak kaget dan tersenyum. Demikian juga si bapak. “blum tau pak. Tapi tidak menutup kemungkinan karena biarlah perjalanan waktu yang menentukan” aku menjawab. Aku kembali melanjutakan “tidak menutup kemungkinan nostalgia pak Jusuf Kalla dan istrinya yang orang minangkabau akan terjadi”. Kamipun tertawa.
Pertanyaan yang mirip, penah juga di tanyakan oleh gadis minang teman selama tinggal sebulan disana. Saya pun menjawab “Tidak menutup kemungkinan nostalgia pak Jusuf Kalla dan istrinya Ibu Mufidah yang orang minangkabau akan terjadi. Dan mungkin saja istri saya nanti adalah kamu. Entahlah. Karna smua sudah tertulis di kitab Lauhul Mahfuz oleh Allah” kami tersenyum dan semua teman-teman lain terutama dari kampus andalas tertawa.
Miris
Membaca novel “tenggelamnya Kapal Van der Wijck” karya ulama Buya Hamka ini membuat saya miris. Karya sastra yang begitu indah justru banyak pelajar maupun pemuda Indonesia yang kurang mengetahuinya. Kita hanya terjebak untuk mengadopsi budaya-budaya asing dan melupakan identitas budaya yang kita miliki. Kita lebih memilih budaya populer terutama sekarang yang tengah menyapu adalah budaya korea sehingga banyak anak muda yang mulai menampakan fenomena “ke koreea-korea an”. Padahal kita memiliki budaya kearifan lokal yang sangat dasyat. Kita memiliki sastrawan-sastrawan yang jika kita membaca karyanya maka kita akan terkagum-kagum. Karya buya hamka salah satunya. Bahkan menurut refensi yang saya pernah baca, di malasya karya Buya Hamka menjadi bacaan wajib siswa sekolah menengahnya disana.
Lalu, bagaimana dengan kita?
~Makassar, 18 Desember 2013

Kisah Aku dan Pekerja rumah tangga itu

Dalam hidup selalu di ciptakan ke seimbangan. Ada orang kaya, ada orang miskin. Ada siang dan ada malam. Ada langit dan ada bumi. Ada pembantu dan ada majikan. Ada hal menarik dengan yang keseimbangan yang saya sebutkan terakhir. Lebih khusus lagi adalah pelajaran berharga dari seorang pekerja rumah tangga/pembantu rumah tangga (aku menyebutnya sang ibu).

Tiap pagi setiap kali aku bangun, mentari biasanya sudah duluan menyapa mendahului. Tapi untuk ibu pembantu itu, selalu lebih duluan dari mentari yang menyingsing. Seperti biasa, pintu langsung aku membukanya. Udara sejuk pagi ku persilahkan masuk menyingsing jendela dan pintu kamarku. Cahaya mentaripun menerobos masuk tanpa permisi. Jariku menyentuh embun di ujung dedaunan. Sejuk seperti air yang membasahi kerongkongan di kala dahaga. Tapi aku ingin menciptakan keseimbangan, biasanya dengan menyeduh segelas teh panas.

Sang ibu sudah mulai dengan rutinitasnya. Mengumpulkan pakian-pakaian yang sudah kotor majikannya. Dimasukan dalam air dan di rendam dengan sabun cuci. Tak lupa sapa selalu di lemparkan kepada orang-orang yang melewati jalan di sampingnnya. Karena kebetulan aktivitas paginya selalu di lakukan di teras rumah majikannya.

Teh sudah terhidang di hadapanku. Duduk termenung, merasakan indahnya pagi. Aku mungkin orang yang paling enggan pagi itu. Orang-orang sudah lalu lalang. Sang Ibu sudah mulai mencuci. Penjual-penjual selalu meneriakan yel-yelnya di sekitar kosku. Tapi aku masih saja duduk dan baru akan bersiap-siap menyelesaikan agenda siang.

Akhirnya Koran datang juga. “Dek korannya sudah datang” sang ibu itu memanggilku sembari menyerahkan Koran yang di ambilnya dari pagar rumah. Kebetulan saya tinggal di kos di lantai dua rumah majikannya. Tapi kamar kos dan rumah majikanya bisa di katakan terpisah meskipun masih satu atap. Pasalnya saya memiliki pintu sendiri yang langsung bisa naik ke kamar kos tanpa harus melalui rumah majikan sang ibu ini.

“Oh, iya. Trimakasih banyak bu” jawabku sambil menerima Koran dari sang ibu.

Jika sebelumnya aku hanya berhadapan dengan segelas teh panas kini bertambah lagi, dengan berlembar-lembar surat kabar. Aku kembali hening dan larut dalam baris-baris kalimat. Suara kendaraan yang semborono kadang-kadang memecah keheninganku. Tapi aku tetap mengacuhkannya. Padahal baris-baris kalimat itu memuat banyak kabar keruwetan sosial kemasyrakatan bangsa ini, namun aku tetap terhening dalam ritme cerita.

Di antara keruwetan itu adalah adanya kabar tentang protes para buruh tentang tuntunan nasib mereka yang tak kunjung terselesaikan. Umumnya mereka berasalah dari berbagai pabrik-pabrik menengah ke atas. Mungkin aku kurang informasi tapi aku belum pernah mendengar ada demonstrasi para pembatu rumah tangga menuntut kenaikan upah. Tapi sudah mulai santer terdengar bahwa nasib mereka juga tengah diperjuangkan.

Aku yakin sang ibu tidak pernah mendengar tentang demonstrasi para buruh. Kalaupun tahu, hanya sepintas saja dan tidak terlalu memedulikan. Mungkin inilah yang dikatakan belum adanya kesadaran politik oleh sang ibu ini. Sang ibu hanya masih berkutat dalam kesadaran ekonominya. . Belum terlalu memikirkan kesadaran strutur yang lebih luas. Kalau sudah bisa makan, yah sudah.  Meskipun kebutuhan lainnya cukup susah untuk di penuhi bahkan belum terpenuhi semua.

Dengan kegemarannya memberi senyum dan menyapa, sang Ibu sangat akrab dengan banyak orang. Selain itu, ketekunannya dalam bekerja keras juga sangat menginspirasi banyak orang yang mengenalnya. Mataku masih saja mengikuti baris demi baris surat kabar. Tiba-tiba terhenti oleh suara sang ibu.

“Tidak,,, tidak usah”. Sontak kaget, karena penasaran dengan apa yang terjadi pada si Ibu, akhirnya aku beranjak untuk melihat apa yang terjadi.

Orang yang berada di hadapannya selalu memaksa. Sang Ibu terus mengulangi yang di ucapkannya. “Tidak,,, tidak,,, tidak usah”.

 “Tapi bu?”

“Tidak dek. Kebahagiaan itu bukan hanya pada uang. Saya ikhlas membantumu”  sang ibu menegaskan kembali pada seorang.

“Sungguh pelajaran hidup yang sungguh indah.  Trimakasih atas pelajaran berharga pagi ini”. Gumamku dalam hati.

~Makassar, 18 Desember 2013

Selasa, 17 Desember 2013

Tekhnologi tembus pandang. Siapkah kita?

Tiba-tiba aku terperangah ketika membaca sebuah artikel. Artikel itu menuliskan tentang sebuah penemuan tekhnologi baru. Tekhnologi ‘tembus pandang’ yang dengan sensor gambarnya sehingga dapat menangkap gambar, di balik dinding sekalipun. Meskipun masih dalam tahap penyempurnaan karena hasil gambarnya masih hitam putih tapi penemuan ini sangat mencengangkan bagi dunia tekhnologi kita.

Tekhnologi ini masih sementara terus di teliti oleh salah satu kampus di Austria dan perusahaan tekhnologi di Taiwan. Dan nantinya kemungkinan akan di sematkan pada tekhnologi telpon pintar (smartphone). Entah bagaiamana mekanisme kerjanya. Entahlah.
 
Tapi itulah loncatan berpikir manusia, yang kadang banyak manusia lain tidak meyakini bahkan mustahil akan ada, tetapi akhirnya sebagian manusia lain membuktikan bahwa benar-benar ada. Salah satu contohnya, dahulu banyak yang menganggap mustahil akan ada logam yang bisa terbang dengan membawa manusia ke suatu tempat, tapi akhirnya terbukti dengan di temukannya pesawat terbang.

Bermula dari Revolusi industri

Bermula dari revolusi industry di inggris yang di tandai dengan penemuan mesin uap. Secara cepat perubahan pola kehdiupan manusia berubah. Dari agraris bergerak ke industrialisasi. Tekhnologi kemudian menjadi tren baru masyarakat eropa saat itu. Selain dapat membantu aktivitas manusia tapi ibarat dua mata uang koin yang selalu punya dua sisi. Karena di satu sisi tekhnologi juga ternyata bisa di gunakan justru dapat merugikan orang lain.

Karna revolusi industri, negara-negara eropa mencari bahan baku untuk industrinya. Eropa saat itu kekurangan bahan baku yang berasal dari kekayaan alamnya. Maka bermigrasilah (berlayar) ke negara-negara yang kaya akan sumber daya alam dan salah satunya sampai ke Indonesia. Setelah diketahui Indonesia memiliki kekayaan alam yang berlimpah ruah, maka pencariannya berubah menjadi hasrat menjajah.

Tekhnologi itu semakin lama semakin berkembang. Hasrat manusia semakin bertambah untuk mengetahui hal-hal yang baru. Apalagi ketika sejarah manusia memasuki era tekhnologi informasi. Manusia mengenal dunia syber (maya). Ditemukan pula sistem jejaring sosial dunia maya dengan hadirnya media sosial. Di antaranya yang sering digunakan adalah FB, twitter termasuk kompasiana sendiri. Bahkan untuk FB dan Twitter Indonesia salah satu pengguna terbanyak di dunia.

Dua sisi koin

Tapi seperi yang saya sebutkan sebelumnya (paragraf di atas) selalu seperti sisi koin. Media sosial memang mempermudah manusia dalam berinteraksi satu sama lain. Tidak membutuhkan lagi pertemuan fisik jika ingin membicarakan sesuatu. Tinggal buka komputer (leptop), smartphone atau yang sejenisnya kemudian saling sapa, ngobrol/ceting dan selesai. Sehingga tidak perlu lagi bertemu secara fisik. Fenomena ini sudah mewabah ke para pengguna media sosial.

Tapi jika di telisik lebih dalam, media sosial dapat merubah pola interaksi manusia. Pertemuan secara fisik yang sudah berkurang atau tidak sesering lagi berkonsekuensi mengurangi hubungan emosional di antara kedua belah pihak. Setiap orang akan lebih suka mengurung diri dan berada di depan komputer/leptop/smartphone sambil berselancar dan saling menyapa. Secara perlahan akan menjadi manusia yang individualistis di tengah masyarakat yang juga semakin tidak peduli satu sama lainnya. Semakin mengepullah individualis dan nantinya akan semakin berkurang kepekaan sosial dan berbagai dampak negatif yang menyertai lainnya.

Kata Einstein

Nah bagaimana dengan tekhnolgi ‘tembus pandang’? Dua mata koin itu akan berlaku tanpa terkecuali. Mungkin akan dapat digunakan dalam misi spionase atau yang sejenisnya. Tapi bagiamana dengan privasi yang kita miliki? Siapkah kita segala sesuatu pada tubuh kita mampu ditangkap oleh tekhnologi itu?

Dunia meniscayakan adanya etika. Meniscayakan adanya aturan yang di landasi kemanusiaan dalam hal apapun. Akhirnya seorang fisikawan yang teori-teorinya banyak mendasari penemuan-penemuan tekhnologi, Albert Einstein pernah berkata: “Ilmu tanpa agama adalah pincang dan agama tanpa ilmu adalah buta”. Mari kita renungkan dan implementasikan.

~Makassar, saat hujan turun, 17 Desember 2013

Karena penulis itu sudah mati

Saya pernah berdiskusi tentang dunia tulis menulis. Diskusinya akhirnya sampai pada seputran hobi menulis. Sebenarnya lawan bicara saya tidak terlalu berminat dalam dunia tulis menulis tapi kadang-kadang dia juga suka menulis. Ketika saya bertanya, apakah sudah pernah di publikasikan tertuama di blok? Minder untuk memublikasikannya. Ketakutannya jangan sampai tulisannya kurang bagus. Apalagi menurutnya tulisanya seputar pengalaman dan perjalanan hidup yang pernah dia alami. Kurang lebih demikian jawabanya.

Alasan ini memang manusiawi. Saya juga ketika awal-awal menulis, pernah mengalami fenomena seperti ini. Sulit merangkai kata demi kata. Kemudian takut jangan sampai menurut orang lain kurang bagus. Sehingga niat untuk memublikasikannya pun selalu di urungkan.

Penulis telah mati

Ada teori yang mengatakan: penulis sesungguhnya sudah mati. Artinya ketika tulisan itu sudah sampai kepada pembaca, maka pembacalah yang memiliki hak penuh untuk menafsirkannya. Bisa jadi maksud penulisnya akan berbeda dengan maksud hasil tafsiran pembacanya. Nah hal inilah yang harus di pahami oleh calon penulis atau yang masih minder untuk memublikasikan tulisannya. Bisa saja menurutnya tulisannya kurang bagus tapi belum tentu pembacanya mengartikan demikian. Bisa saja pembaca menafsirkan sebaliknya. Karna sekali lagi ‘penulis telah mati’. Pembacalah yang berhak menilai tentang tulisan kita.

Lagi pula kenapa harus malu untuk mengabarkan kepada orang lain? Toh, inikan tujuan mulia. Asalkan tetap menjaga etika. Jangan menulis hal yang menyinggung orang lain terutama berkaitan dengan sara (suku, agama, ras dan antargolongan).

Tulisan perjalan hidup. Knapa tidak?

Alasan lain juga kenapa tidak ingin di publikasikan, karena tulisannya memuat perjalanan hidupnya. Memangnya salah jika memublikasikan perjalanan hidup pribadi? Asalkan tetap menjaga etika dan sebisa mungkin tidak memublikasikan yang bersifa sangat pribadi jika memang tidak ingin di ketahui oleh orang lain. Lagi pula banyak penulis hebat di Indonesia yang terkenal dengan novel-novel pengalaman atau perjalanan hidupnya.

Kita dapat mencontohi seorang Andrea Hirata yang dengan novel-novelnya terutama laskar pelangi bisa membawanya keliling dunia. Novel ini juga yang membuat perekonomian Bangka Belitung semakin berkembang karena disinilah setting yang diceritakan dalam novelnya. Sehingga orang-orang terutama pembaca novelnya penasaran dan tertarik untuk berkujung. Di sinilah transaksi ekonomi akan terjadi. Dengan novel ini pula sempat terdengar kabar, Andrea Hirata satu-satunya orang indonesia memiliki peluang menerima penghargaan nobel sastra dunia.

Juga penulis Ahmad Fuadi. Novel triloginya membuat memiliki kemiripan nasib dengan Andre Hirata. Dia juga sudah berkeliling dunia karna tulisan-tulisannya. Novel-novel tersebut di tulis juga karna pengalaman atau perjalanan hidupnya.Bahkan menurut cerita yang pernah di tuturkan olehnya, bahwa dia pernah mendapat pesan email dari salah satu guru besar (professor) di salah satu kampus di AS. Dalam email itu di sampaikan, jika novelnya menjadi salah-satu bahan kajian di salah-satu fakultas di kampus tersebut.

Demikian juga catatan harian seorang mahasiswa UI yang bernama Soe Hok Gie. Setiap kali menulis peritiwa yang disaksikannya, dia selalu mencantumkan tanggal , bulan serta tahunnya. Tulisan-tulisan tersebut membantu menjelaskan bagian dari sejarah politik Indonesia terutama di zaman orde lama dan orde baru, karena dia hidup di dua zaman ini dan menyaksikan langsung peristiwa-peristiwa politik yang terjadi. Dan banyal lagi penulis lainnya.

Munir (alm) seorang aktivis HAM yang terbunuh karna di racun pernah mengatakan: “Sesungguhnya yang paling harus ditakuti itu adalah rasa takut itu sendiri”. Menulislah dan biarkan orang lain membacanya. Karena penulis itu telah mati.

~Makassar, 16 Desember 2013

Penulis hebat karna membaca (mari belajar pada JK Rowling)

“Ketika melihat kesuksesan orang lain, maka janganlah lihat apa yang sekarang di capai melainkan lihatlah bagaimana proses yang pernah dia lalui” Demikian kata orang bijak.
 
Saya sedang membaca dongeng dengan siswa-siswa SDN 24 Ampia Rayo, Kec. Batipuh. Kab. Tanah Datar - Sumbar

Ketika kita melihat karya-karya penulis hebat terkadang membuat kita terkagum-kagum. Bahkan kita ingin seperti mereka. Tapi sesungguhnya para penulis itu adalah mereka yang pernah seperti kita. Mereka yang pernah tertatih-tatih dalam menulis. Mereka yang pernah salah dalam menulis atau mungkin yang pernah minder dalam memublikasikan tulisannya.
Para penulis hebat itu bukanlah lahir begitu saja, langsung menjadi penulis hebat. Tapi mereka pernah melalui proses dan terpaan tantangan. Dengan tantang itu mereka terus belajar, terus berlatih, terus mencoba hingga karyanya bisa di hebat dan nikmati.

Ibarat pekerjaan lain, menulis juga memiliki syarat-syarat untuk menjadi penulis yang baik. Selain yang disebutkan di atas tentang perlunya melewati tantangan dalam menulis, juga tak kalah pentingnya adalah perlunya kekayaan kosa kata. Karena kosa katalah yang akan merangkai ide-ide dalam pikiran dan nantinya dijewantahkan dalam tulisan.

Membaca syarat menulis

Pertanyaannya: dari  mana di dapatkan kosa kata itu? Sumber utama untuk mendapatkan kekayaan kosa kata adalah membaca. Hemat saya, penulis adalah orang yang mampu merangkai isi pikirannya dengan kata-kata kemudian di ukirkan dalam tulisan. Kadang banyak yang memiliki ide dalam pikirannya tapi kadang sulita menemukan atau tidak memiliki kosa kata yang pas untuk mengungkapkannya.

Siapa yang tidak mengenal JK Rowling? Penulis cerita Harry Potter yang legendaris ini, bukanlah orang yang tidak biasa membaca buku. Kata-kata yang ada di atas kertas dalam setiap tulisannya tidak mungkin hadir begitu saja. Sejak kecil dia telah terbiasa membaca buku-buku cerita. Di antaranya adalah buku karangan Paul Gallico yang berjudul Manxmouse. Dalam buku ini diceritakan tentang makhluk aneh dalam tubuh tikus. Makhluk ini juga memiliki telinga seperti kelinci dan kaki layaknya monyet. Dengan ketekunan membacanya inilah JK Rowling menjadi penulis hebat bahkan di sinyalir menjadi penulis terkaya di dunia.

Selain itu juga, membaca dapat memperluas wawasan sehingga dalam menulis kita memiliki banyak cara pandang untuk menguraikan sesuatu.

Membaca juga tidak bisa di maknai secara sempit. Bukan sekadar di maknai dengan hanya membaca tulisan (teks) saja. Membaca adalah sebuah proses penangkapan terhadap realitas apa saja. Ketika mendengar sebuah kabar, itu juga dapat di kategorikan membaca. Terlebih lagi jika di analisis lebih dalam tentang kabar tersebut, sehingga menghasilkan pengetahuan-pengetahuan baru. Singkatnya membaca adalah proses penangkapan segala makna.

Apalagi jika di telusuri ke belakang, tulisan atau teks adalah belakangan hadir. Budaya menulis didahului oleh budaya membaca karena manusia lebih awal mengenal ucapan verbal sebelum tulisan. Sehingga tidak salah jika tulisan merupakan tanda majunya sebuah peradaban.

Mengakhiri sedikit celoteh ini, saya teringat ucapan seorang sahabat. Beliau berkata: “Mungkin semua burung beo bisa bicara tapi tidak semua bisa menulis”. Silahkan pembaca memaknai sendiri.

Slamat menulis. Mari saling menyebarkan kebaikan.

*tulisan ini hasil pengalaman dan perenungan. Serta tidak bermaksud menggurui, hanya saling mengingatkan. Salam damai..

~Makassar, 16 Desember 2013