Jumat, 31 Desember 2010

Kritik Universitas

Beberapa hari yang lalu saya diundangan seorang kawan untuk menghadiri acara seremonial wisuda. Memang pada bulan Desember, beberapa kampus di Makassar mengadakan wisuda bagi para mahasiswanya. Saat inilah mahasiswa disahkan mendapat gelar sarjana atau diploma ataupun gelar yang sejenisnya. Setelah sekian lama digodok di kampus maka keluarlah mereka ke masyarakat untuk mengabdikan ilmunya. Gelar yang didapatkannya adalah bukti bahwa mereka sebagai agen-agen yang siap melakukan perbaikan dalam kehidupan bermasyarakat.

(gambar : google.com)

Merekalah orang yang diharapkan kehadirannya untuk membangun masyarakat dan Negara. Mereka adalah bagain dari masyarakat dan memiiki tanggung jawab kepada lingkungannya. Dengan ilmu pengetahuannya sehingga mengetahui permasalahan yang ada dalam masyarakat dan dengan itu mereka dapat memberikan solusi.

Satiap tahunnya, semua universitas di Indonesia dapat mencetak puluhan ribu sarjana-sarjana dengan kapasitas ilmu yang cukup. Sebagai lembaga pendidikan universitas harusnya menjadi rahim pencipta manusia-manusia yang berilmu dan tercerahkan. Manusia yang mampu melakukan fungsi pembebasan kepada segala ketimpangan dalam masyarakat.

Dalam realitasnya, banyak keluaran-keluaran universitas yang justru menjadi beban bagi masyarakat. Dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, mereka justru menyusahkan orang-orang disekitarnya. Salah-satu contohnya para koruptor, mereka adalah jebolan-jebolan universitas. Mereka harusnya memiliki tanggung jawab kepada sesamanya dan justru sebaliknya. Sejatinnya keberadaannya sangat diharapkan masyarakat. Justru keberadaan mereka sama dengan ketidak-beradaannya bahkan ketidak beradaannya lebih baik dari keberadaannya. Sungguh memalukan.

Realitas ini adalah bukti bahwa universitas belum menjadi lembaga pendidikan yang mampu mencetak manusia yang peka terhadap lingkungan sekitarnya. Dalam prakteknya universitas hanya melakukan transfer ilmu pengetahuan atau melaksanakan kegiatan-kegiatan akademis. Pendidikan hanya dimaknai sebagai pemberian ilmu pengetahuan tanpa pemberian nilai-nilai dan budaya. Harusnya universitas mampu menjadi sumber segala kebaikan pengetahuan, nilai dan budaya. Sehingga mampu menjadi sumber peradaban suci yang menciptakan kehidupan lebih baik.

Mengisi waktu yang luang, mudah-mudahan menjadi referensi.

Makassar, 31 Desember 2010

Indonesia Kalah karna Mental

Pertandingan final leg ke dua piala AFF telah usai. Meskipun Indonsia menang pada laga terakhir ini namun yang menjadi juara adalah Malaysia. Dalam pertandingan terakhir ini, skor 2-1 untuk Indonesia. Skor ini kemudian diakumulasi dengan hasil pada pertandingan leg pertama saat Malaysia menjadi tuan rumah. Menurut prediksi sebagian pengamat sepak bola mengatakan bahwa Indonesia akan menjadi juara karna melihat kemampuannya saat pertandingan-pertandingan sebelumnya.

Jika kita amati dalam pertandingan sebelumnya maka kemenangan Indonesia hanya terjadi ketika berada di stadion Gelora Bung Karno. Seperti halnya timnas Indonesia mengalahkan timnas Malaysia dalam pertandingan babak penyisihan. Hal ini kemudian terbalik setelah Indonesia berada di stadion Bukit jalil, Malaysia. Hasil pertandingan ini sungguh memalukan bagi timnas Indonesia karna harusnya Indonesia mengalami peningkatan namun justru penurunan prestasi.

Kemenangan bukan hanya dipengaruhi oleh faktor skil atau kemampuan individu maupun kerjasama tim. Lebih dari itu kondisi internal setiap Individu pun tak kalah pentingnya. Lihat saja, ketika timnas Indonesia main di kandang sendiri mereka memiliki performa yang memukau tapi terbalik ketika mereka berada di kandang tim lain yang dalamnya dipenuhi oleh supporter lawan mereka tidak dapat menunjukan performa kemampuan permainannya.

Dari segi skil individu dan permainan kolektifnya Indonesia cukup baik. Namun mentalnya belum memenuhi syarat sebagai mental pemenang. Ternyata mental terjajah Indonesia masih belum ditinggalkan dan masih dipelihara. Untuk kedepannya Indonesia harus membenahi mentalnya agar menjadi mental pemenang.

Terlepas dari kelemahan mentalnya, sebagai supporter sejati saya bangga dengan permainan timnas Indonesia. Meskipun kalah dari Malaysia mereka menunjukan sportivitas sebagai pemain yang profesional. Lagi pula pertandingan leg kedua sangat indah namun hanya keberuntunganlah yang belum memihak. Dan ingatlah kekalahan bukanlah akhir dari segalanya. Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Dengan kekalahan dapat menjadi cambuk agar kita semakin termotivasi untuk membenahi kekurangan-kekurangan untuk menjadi pemenang dalam pertandingan-pertandingan selanjutnya.

Hidup Garudaku, terbanglah tinggi meraih mimpi-mimpimu…!!!

Makassar, 30 Desember 2010

Rabu, 29 Desember 2010

Toko Buku, Inspirasiku

Salah-satu cara untuk menghilangkan kejenuhan adalah mencari suasana baru dari rutinitas. Perlu saya ingatkan bahwa rutinitas memiliki sisi positif dan negatif. Positifnya, membuat kita tidak perlu lagi berfikir tentang bagaimana cara kita untuk melakukan pekerjaan itu sehingga dapat menghemat energi pikiran dan tenaga. Negatifnya, dapat membuat daya kreatifitas menjadi tumpul. Akhirnya sore itu diputuskan untuk mengunjungi toko buku yang bernama Gramedia. Sebenarnya ada beberapa alernatif tempat yang dapat memberikan inspirasi selain toko buku tapi kebetulan ada buku yang ingin dibeli sehingga toko bukulah yang menjadi pilihan.

Dalam toko buku, begitu banyak judul buku yang ada. Produksi pengetahuan terus terjadi yang termanifestasi dalam berbagai judul buku. Membuat saya tertarik untuk memilikinya namun karna tak cukup uang akhirnya untuk memilikinya ditunda sementara. Setidaknya ada beberapa hal (hikmah) yang saya dapatkan ketika saya berada di dalam toko buku ini, yaitu:

Pertama, ternyata untuk menjadi cerdas haruslah memiliki cukup uang. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya bahwa inilah kendala saya untuk memiliki buku karna harga buku yang mahal. Logikanya yang dapat memiliki buku dan menjadi cerdas adalah mereka yang memiliki uang (kaya). Oleh karna itu bagi pihak yang ingin mencerdaskan anak bangsa haruslah mempermudah akses terhadap buku-buku.

Kedua, melihat banyak pengunjung dan berbagai spesifikasi buku saya berpikir, ternyata begitu banyak potensi dan bakat yang dimiliki manusia. Ada yang menulis komik, novel, agama, politik dan berbagai jenis buku yang lainnya. Begitu juga para pengunjung bermacam-macam minat tentang buku untuk dibacanya. Saya bertanya pada diri sendiri: apakah potensi masyarakat Indonesia yang berjumlah 230 juta lebih ini sudah di eksplorasi? Coba bayangkan, seandainya semua potensi ini telah diakomodasi maka betapa mempesonanya khasana pengetahuan masyarakat Indonesia.

Ketiga, membuat saya sadar tentang betapa masih kurang pengetahuan yang saya miliki. Judul buku yang terus mengisi deretan rak-rak buku sedang belum semua saya mengetahui isinya. Pengetahuan yang tercipta tertuang dalam bentuk tulisan yang dirangkum dalam buku-buku itu membuat saya termotivasi untuk mengetahuinya. Minat pengembaraan intelektual saya semakin terstimulus untuk menjelajahi belantara pengetahuan.

Keempat, dengan berkunjung ke toko buku dapat memberikan inspirasi baru. Termasuk inspirasi untuk menulis artikel ini. Jebakan rutinitas dapat terlepas dengan mengunjungi gudang pengetauan ini.

Makassar, 29 Desember 2010

ket: telah diposting di www.kompasiana.com/marwan_antopulo

Hujan yang tak Usai dan Global Warming

Dalam beberapa pekan terkahir, Makassar diguyur hujan yang tak kunjung usai. Hal ini wajar terjadi karna momentumnya sudah tepat yaitu musim hujan. Namun menurut saya cuaca ini tergolong ekstrim. Bagaimana tidak, selama beberapa pekan hujan bisa dikatakan tidak perna berhenti. Kalaupun berhenti hanya dalam waktu yang cukup singkat. Apalagi menurut sebagian orang cuaca tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karna harusnya pada akhir bulan Desember ini, intensitas hujan harus sudah berkurang bahkan harus sudah berakhir.

Menyoal hujan yang tak kunjung usai, ini merupakan salah-satu dari sekian fenomena alam. Dalam hukumnya, alam selalu membenah diri ketika dirinya mengalami ketidakseimbangan yaitu dengan mencari keseimbangan. Hujan yang sangat ekstrim ini adalah dampak dari intensitas panas matahari yang sangat. Bumi semakin panas hal ini karna karbon dioksida (CO2) telah banyak diproduksi. Sebagaimana kita ketahui, manusia dalam melakukan proses pernapasannya (respirasi) selalu menghasilkan karbon dioksida. Selain itu, juga dalam pembakaran dalam industri rumah tangga dan penggunaan bahan kimia yang terdapat pada peralatan elektronik dimana bahan ini dapat merusak lapisan ozon yang menahan sinar matahari yang menuju bumi. Tapi aktifitas ini masih dalam kategori yang wajar dan bahkan mesti dilakukan.

Sebenarnya karbon dioksida (presentase terbanyak penyebab panas bumi) dapat dinetralisir oleh adanya oksigen (O2). Jika produksi oksigen jauh lebih banyak maka intensitas panas tidak terlalu banyak. Tapi akibat ulah manusia yang tak mempertimbangakan ekologi sehingga mereka melakukan pembakaran dan pembalakan hutan yang berlebihan untuk kepentingan tertentu. Belum lagi industrialisasi yang berlebihan dengan mengesploitasi alam yang tak mengenal batas sehingga lebih memperparah panas bumi. Hasil gas buang kendaraan bermotor yang menghasilkan gas karbon dioksida juga turut menyumbang panas bumi. Inilah yang terjadi di zaman modern yang biasa dikenal dengan era pemanasan global (Global Warming).

Pemanasan global inilah menyebabkan penguapan dibumi yang berlebih akibat peningkatan suhu bumi. Penguapan ini akan membentuk titik-titik air dan berubah menjadi awan. Dan setelah mencapai klimaksnya maka air itu akan dijatuhkan kebumi atau terjadilah hujan. Artinya musim hujan yang ekstrim ini adalah dampak dari panas bumi yang ekstrim pula.


Selasa, 21 Desember 2010

Sepak Bola dan Nasionalisme

Setelah mengalahkan lawan-lawannya, akhirnya tim nasional (timnas) Indonesia sampai pada laga final. Begitu euforia dan antusiasnya masyarakat Indonesia dalam mengawal para timnas ini untuk memenangkan pertandingan. Semua perbedaan melebur menjadi satu dan menuju tujuan yang sama untuk mengalahkan lawan-lawan Indonesia.

Semangat ini sama halnya ketika Indonesia ingin merebut kemerdekaan dari para penjajah. Pada momentum itu, konsentrasi masyarakat Indonesia tertuju pada satu yaitu melawan para penjajah. Meskipun, lawan kita sekarang bukanlah ‘penjajah’ namun semangat itu kini lahir kembali. Sekian banyak peristiwa dalam maupun luar negri yang menimbulkan konflik internal, kini hilang sesaat tatkala pemain timnas Indonesia melawan dan memasukkan bola ke gawang timnas lawan. Dari merauke sampai sabang berteriak gembira. Semua ‘ke-akuan’ berubah menjadi ‘ke- kitaan’, kita Indonesia.

Oleh karna itu Sepak bola tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bangsa Indonesia. Olah raga ini dapat menyatukan semua perbedaan dan membangkitkan nasionalisme. Perbedaan yang berpotensi konflik dapat diredamkan dengan adanya olah raga ini. Namun tidak hanya sepak bola, olah raga lain pun memiliki kekuatan membangkitkan jiwa nasionalisme. Semangatlah Garudaku…!!!

Makassar , 21 Desember 2010
ket : telah diposting di ngurunto.blogdetik.com

Senin, 20 Desember 2010

Renungan Tengah Malam

Tepatnya pukul satu lebih 45 menit waktu Tamalanrea-Makassar (Indonesia tengah). Aku menuangkan isi pikiran dalam tulisan ini. Malam sunyi sendiri, begitulah keadaan diriku yang lagi merenung. Hidup yang penuh dengan permaslahan (cobaan) yang tak jarang membuat manusia mengeluh. Kadang yang kita harapkan atau rencanakan tak sesuai dengan yang tejadi, namun lagi-lagi saya harus katakana bahwa itulah hakekat hidup. Sering temanku berkata padaku, ‘bukan hidup kalau tidak punya masalah’. Kalimat ini membuatku semakin larut dalam renungan ...!!!


Memang benar apa yang dikatakan temanku tadi. Masalah adalah bunga dari kehidupan. Ibarat mimpi dalam tidur, ibarat ombak dilautan tatkala kita mengarungi lautan di atas kapal. Masalah adalah sebab terjadinya kehidupan bermasyarakat. Dengan masalah sehingga manusia dapat saling tolong menolong dengan sesamanya karna itu manusia disebut dengan makhluk sosial. Masalah membuat kita sadar tentang kelemahan dan kelebihan yang kita miliki. Dengan kelebihan yang kita miliki dapat digunakan untuk mengisi kelemahan orang lain dan sebaliknya kelemahan yang kita miliki dapat diisi dengan kelebihan orang lain. Sehingga interaksi sosilapun terjadi. Inilah hikmah masalah (cobaan) dalam sisi kehidupan bermasyarakat.

Bagi diri pribadi, masalah juga memiliki hikmah tersendiri. Dengan masalah kita dapat mengetahui kelemahan yang kita miliki sehingga membuat kita termotivasi untuk memperbaikinya. Dengan masalah akan membuat mental, kepribadian dan kebijasanaan kita akan di uji sehingga dapat mendewasakan diri.

Namun aku kadang tidak ikhlas dan mungkin bisa dikatakan tidak mensyukuri nikmat dari sang Pencipta. Ketika aku melihat kehidupan orang lain, sering timbul rasa iri dan muncul perkataan ‘seandainya!!!’. Seandainya aku begitu dan begini dan seperti mereka maka saya akan merasa lebih bahagia dari sekarang. Itulah kalimat yang selalu menghampiriku ketika aku mengeluh tentang masalah yang menghinggapiku saat ini. Ironisnya, sebelum terjadi demikian aku selalu berkata ‘seandainya’ (seperti kalimat sebelumnya) tapi ketika itu terwujud justru yang terjadi kadang tidak sesuai dengan yang kita rencanakan.

Sehingga aku berkesimpulan ternyata apapun pilihan hidup maka masalah itu pasti mutlak ada dan bersiaplah menghadapinya. Mungkin aku harus berkata inilah pilihan hidup dan masalah adalah wajib adanya. Kata seandainya harus dilupakan. Yang harus saya lakukan adalah tegar dan optimis dalam menjalani hidup dan meraih cita-cita.

Makassar, 18 Desember 2010

Kamis, 09 Desember 2010

Identitas Tomia yang Ambigu

Tulisan ini mengkhususkan pengkajiannya pada subuah pulau yang ada dalam gugusan kepulauan wakatobi. Pulau yang terdiri atas dua kecamatan yang berada di kabupaten wakatobi. Pulau ini adalah pulau Tomia. Penulis sengaja mengangkat objek kajian pada dua kecamatan ini karna mengingat daerah asal penulis. Selain itu, sebagai upaya memenuhi permintaan pengunjung blog ini.

Sebagaimana disebutkan disebelumnya Tomia memiliki dua kecamatan dalam hal ini kecamatan Tomia Timur dan Tomia Barat. Namun dua kecamatan itu akan disatukan dalam satu objek kajian yaitu Tomia. Tomia tergolong kecamatan yang semi moderenis. Artinya ada nilai-nilai tradisional belum ditinggalkan sepenuhnya dan nilai moderenitas belum sepenuhnya diadopsi. Atau bisa dikatakan sebagai identitas yang ambigu yaitu berada diantara dua identitas (budaya).

Dalam sejarah perkembangan peradaban manusia, masyarakat pernah mengalami masa hidup bersama yang sangat menjunjung nilai kebersamaan. Nilai inilah yang dimiliki oleh setiap manusia tradisional sebelum beranjak ke fase kehidupan berikutnya. Perkembangan sejarah peradaban tersebut telah membawa manusia pada kehidupan modern. Kehidupan modern ini tertunggangi oleh budaya barat yang akan mengekspasi hingga menghegemoni manusia dalam satu budaya tunggal yaitu budaya barat (westernisasi).

Budaya barat yang cenderung jauh dari kehidupan spiritual dan lebih mementingkan kehidupan dunia telah diadopsi oleh manusia yang hidup di zaman modern ini, tak terkecuali Tomia. Sikap saling tolong-menolong dan menghargai telah tergantikan perilaku individualisme.Pergaulan masyarakat antara pria dan wanita sangat menjunjung tinggi nilai (ajaran) islam, kini telah tergantikan dengan pergaulan ala barat (pergaulan bebas). Permainan tradisional sebagai salah-satu bentuk budaya telah digilas oleh permainan hasil moderenisasi yang berpotensi membunuh kreatifitas anak. Dan semua nilai tradisional yang mengajarkan tentang tatakrama dalam masyarakat baik dari tingkah laku, tutur kata maupun kostum keseharian dan kebersamaan dalam hidup (egaliter) yang teraktualisasi dalam saling tolong-menolong (poasa-asa pohamba-hamba) secara perlahan-lahan telah terkikis menuju kepunahan.


Adalah sebuah keniscayaan bahwa moderenisasi menghampiri kita. Ini adalah sebuah konsekuensi perkembangan IPTEK. Oleh karna itu menghindari terlebih menghilangkan adalah absurd. Sebagai manusia yang tengah dilanda oleh arus modernisasi hanya mampu untuk meminimalisir dampak negatif. Upaya menyeleksi segala nilai-nilai yang masuk harus dilakukan demi menjaga budaya yang telah ada. Selain itu perlu melakukan re-interprestasi terhadap budaya yang tradisonal. Hal ini dilakukan demi mempertahankan kearifan lokal yang kita miliki dan menghadapi tantangan zaman.

Langkah ini terbilang sedikit dilakukan oleh masyarakat Tomia sendiri bahkan bisa dikatakan tidak ada. Masyarakat baik pemerintah maupun masyarakat nonpemerintah jarang menggubris persolan ini. Jika ada sifatnya apatis dan tak mampu diaktualisasikan. Terlebih masyarakat biasa (masyarakat yang diperintah) yang mayoritas kadar intelektualnya masih rendah. Mereka hanya asik dengan arus moderenisasi yang mengalienasikan dan tak mampu untuk mempertanyakannya.

Figur mayarakat yang merupakan tokoh agama dan adat setempat tak mampu membaca fenomena moderenisasi ini. Mereka hanya sibuk dengan kegiatan seremonial agama dan adat belaka di momentum-momentum tertentu. Mungkin karna kurangnya perspektif mengenai ini. Tokoh agama hanya aktif jika perayaan hari besar agama telah tiba begitupun dengan momentum adat. Mereka tak memaknai ajaran agama dan adat memiliki praktek cara hidup. Upaya menghidupakan kembali budaya-budaya tradisional seperti salah-satu contohnya taraian daerah pun jarang dilakukan bahkan tidak sama sekali. Demikian halnya yang terjadi pada pemerintah setempat. Pemerintah yang seharusnya menjadi jawaban dari segala permaslahan masyarat pun bersikap acuh (apatis).

Imbasnya, gerakan zaman yang kian berlanjut telah menemukan hasilnya. Gerak evolusinya telah memastikan arahnya dan berlangsung secara perlahan-lahan namun pasti. Budaya masyarakat setempat telah tercemari oleh budaya yang dibawa oleh moderenisasi yaitu budaya barat. Sedang kita hanya asik menjadi penonton dan menikmatinya tanpa mempertanyakannya. Inilah fase kehidupan imprealisme budaya. *)

Ku tulis demi perubahan

Makassar, 7 desember 2010
Waktu begadang sendiri


Refleksi Tahun Baru Hijriah


Sebelum saya menulis artikel ini. Saya tidak sadar tentang ada momentum besar bagi umat islam. Momentum itu adalah tanggal 1 muharam 1432 H. Periode tahun hijriah telah mencapai ujung putaranya dan akan memulai dengan periode yang baru. Inilah yang dikenal dengan tahun baru baru Hijriah atau tahun baru Islam.

Alasan utama kelupaan kaum muslimin termasuk penulis sendiri terhadap momentum ini adalah dialeniasi (keterasingan) oleh kehidupan moderenisasi yang didalamnya terkandung westernisasi. Westernisasi adalah sebuah term yang diberikan kepada karakter budaya barat yang berbeda dengan budaya yang islami. Westernisme inilah yang tengah diadopsi oleh hamper semua kaum muslimin. Sehingga dampak yang hadir salah-satunya adalah amnesia semu terhadap hari besar islam. Bahkan memungkinkan terjadi amnesia permanen jika kungkungan hegemoni ini tetap dibiarkan.

Berbeda dengan tahun baru masehi yang begitu mendapat sambutan di negeri ini. Tahun baru hijriah yang merupakan identitas tersendiri bagai kaum muslim telah dilupakan. Sedang kaum muslim di negri ini adalah mayoritas bahkan dikenal dengan negera terbesar yang beragama islam, sungguh ironis…!!!

Berbicara tahun baru berarti bagaimana memulai dengan kehidupan dalam periode yang baru. Sejatinya, dalam setiap perode waktu kehidupan manusia mengalami perkembangan secara kualitatif. Tahun baru hijriah inilah harus dijadikan sebagai momentum kebangkitan dan perubahan. Momentum menumbuhkan kesadaran untuk melihat segala realitas baik di dalam maupun luar diri manusia. Melakukan interupsi kepada realitas yang buruk dan memperbaharui yang telah baik adalah keharusan untuk meraih pencerahan hidup. Jika hal ini tidak dilakukan maka kehidupan akan berjalan mundur.

Secara historis, tahun hijriah dimulai ketiaka Rasulullah saw melakukan pindah (hijrah) ke Madinah dari Kota Mekkah. Hijrah tersebut bertujuan untuk menyebarkan ajaran Tuhan yang yang mengajarkan kebaikan dalam hidup. Oleh karna itu harusnya kita dapat mengambil pelajaran sejarah ini. Hijrah bukan hanya berpindah tempat tapi lebih dari itu berpindah dari hal yang buruk menuju baik, dari kerusakan ke perbaikan atau dari kemaksiatan ke hal yang di ridhoi Tuhan.

Tahun baru Hijriah adalah sebuah tangga yang harus dijadikan sebagai pijakan kaki untuk melompat lebih tinggi lagi. Tahun baru adalah awal aktualisai dari revolsui jiwa yang baru. Jiwa yang selalu mendambakan pencerahan abadi. Jiwa yang haus akan kebenaran. Jiwa yang melahirkan intelektual yang mampu melakukan perbaikan. Jiwa yang mengaktualisasikan energi intelektual dalam mentranformasi kehidupan sosial masyarakat. Sehingga kaum muslimin bangkit dari keterpurukan dan membebaskan dirinya dari alienasi westernisasi.

Salam pencerahan dan pembebasan.

Makassar, 1 Muharam 1432 H (7 Desember 2010 M)

ket: telah diposting di ngurunto.blogdetik.com

Rabu, 24 November 2010

Hikmah Idul Adha

Sebelumnya saya kembali menyapa membaca dengan ucapan, selamat hari raya Idul adha 1431 H mohon maaf lahir dan batin dan semoga kita selalu dalam lindungan_Nya. Di sini sedikit akan membahas seputar hikmah Idul Adha. Idul adha biasa dikenal dengan hari raya kurban. Dimana hari raya ini ditandai dengan pemotongan hewan qurban untuk dibagikan kepada saudara-saudara yang berhak mendapatkannya.

Inilah keunikan dari hari raya Idul adha yang membedakan dengan hari raya Idul fitri. Selain itu, kalau Idul fitri dikenal dengan pembagian zakat (harta benda) maka Idul adha dengan pembagian daging hewan kurban. Namun selain perbedaan, keduannya memiliki persamaan yaitu sama-sama sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama manusia yang nantinya akan berimplikasi keterjalinan silaturahim.

Perintah berkurban, diceritakan pada sejarah nabi Ibrahim as dan anaknya Sulaiman as. Ketika Allah swt memerintahkan Ibrahim as untuk menyembeli putra kesayangannya maka beliau melaksanakannya dengan ikhlas karna cintanya kepada sang Maha kuasa. Dan Ismail as pun mengikhlaskan dirinya disembeli demi menunaikan cintanya pula kepada Allah swt. Saat penyembelihan dilaksanakan tiba-tiba nabi Ismail as, dengan kekuasaan Allah digantikan dengan seekor hewan kurban. Demikianlah sedikit cerita tentang awal perintah untuk berkurban.

Dari cerita sejarah tersebut telah menjelaskan beberapa pelajaran kepada umat manusia. Ibrahim as mengorbankan cintanya kepada satu-satunya anak kesayangannya, Ismail as. Cinta kepada Maha Kuasa melebihi cintanya kepada dunia (anaknya). Aktualisasi dari cinta tersebut telah melepaskan dan membebaskan diri dari nafsu-nafsu dunia yang menyesatkan. Hewan kurban sebagai simbol bahwa nafsu hewani yang sering mendominasi manusia harus ditinggalkan. Setalah penyembelihan dilakukan kemudian didistribusikan kepada saudara-saudara yang berhak untuk menerimannya. Pendistribusian daging kurban ini mengajarkan kepada manusia agar saling memberi terhadap sesama sehingga silaturrahim selalu terjalin.

Seandainya semua manusia dapat mengambil pelajaran dari perayaan hari raya Idul adha ini, maka saya yakin dunia ini akan hidup dalam keharmonisan. Kemiskinan dan korupsi tidak akan ada. Konflik SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) tidak akan terjadi. Manusia hidup dalam naungan kasih sayang yang tulus. Singkatnya semua bentuk-bentuk eksploitasi manusia maupun terhadap alam tidak akan terjadi.

Salam Pembebasan

Kutulis demi perubahan

Jumat, 19 November 2010

Rabu, 17 November 2010

Perbedaan Hari Idul Adha

Perbedaan memiliki dua sisi. Pertama bisa menjadi sebuah konfrontasi yang menyebabkan konflik. Juga bisa menjadi sharing akomodatif sehingga dapat memperluas cakrawala pengetahuan. Begitu halnya dengan perbedaan pendapat mengenai hari raya idul adha tahun hijria kali ini.

Melalu rapat bersama ulama dan beberapa ormas islam serta pihak-pihak yang berkompentensi untuk penentuan hari idul adha telah diputuskan hari raya idul adha 10 zulhijjah 1431 H, jatuh pada hari rabu, 17 november 2010. Meskipun keputusan pemerintah tidak sejalan dengan beberapa ormas islam lainnya namun pemerintah tetap mengakomodasi kepentingan mereka. Pemerintah tidaklah arogan untuk memaksakan kehendak kepada umat muslim. Karna jika pemerintah tidak akomodatif dalam hal ini maka sesungguhnya pemerintah tidak menjalankan esensi dari ajaran islam.

Hemat penulis, pemerintah cukup bijak dalam mengambil keputusan. Dengan ini kita harus menjadikan sebagai ajang diskusi tentang perbedaan yang kita miliki. Perbedaan berarti memiliki sudut pandang yang tidak sama dalam melihat maslah ini (baca:penetapan idul adha). Sehingga dapat memperluas pengetahuan yang kita miliki.

Perbedaan itu indah. Sebenarnya di zaman Rasulullah saw telah perbedaan pendapat yang terjadi diantara para sahabat. Namun hal itu dibiarkan oleh sang Sang Rasul. Beliau sadar dan sengaja agar manusia dapat berdialog dengan sesamanya dan menjadikan kita lebih bersilaturahmi. Perbedaan pendapat adalah sunnatullah dan itu wajib adanya. Bayangkan saja jika pendapat orang sama maka dunia tak berdinamika. Kehidupan akan stagnan karna manusia hanya berada pada satu warna budaya.

Untungnya pemerintah mengetahui akan hal ini. Karna kadang kita terjebak pada perdebatan pada hal-hal yang kecil sehingga menghilangkan hal yang besar (penting). Tak sedikit kaum muslimin yang terjebak mempermaslahkan persolan yang kecil yang tidak memberikan perubahan yang signifikan. Justru hal ini membut para pesaing islam (peradaban barat) menjadikan sebuah kemenangan bagi mereka.

Jadi perbedaan hari Idul Adha atau 10 zulhijjah janganlah jadikan sebagai penyebab konflik dan perdebatan yang mendalam sehingga melupakan permaslahan umat muslim lainnya. Justru yang menjadi fokus perhatian kita adalah Ketertinggalan intelektual umat muslim dan berbagai permaslahan sosial yang menghinggapinya. Kita tengah mengalami fase imprealisme peradaban barat. Jadikanlah perbedaan ini sebagai kekayaan intelektual. Dengan kekayaan intelektual yang kita miliki akan perdampak pada tatanan peradaban lebih maju dan mengembalikan keemasan islam yang pernah ada.

ku tulis demi perubahan

Tulisan ini telah di posting di ngurunto.blogdetik.com

Kematian Tuhan dan Bencana Alam di Indonesia


Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, beberapa pemikir (cendekiawan) mencoba mengkaji bagaimana manusia menghadirkan agama (tuhan) dalam kehidupannya. Dalam tulisan ini akan sedikit membincangkan tetang pemikiran Friedrich Nietzsche yang merupakan salah satu pemikir dari Jerman. Dalam teorinya tentang kemunculan agama, Ia mengatakan bahwa agama lahir karna kebodohan manusia. Ketika rasional manusia tidak mampu menjawab fenomena-fenomena alam maka disitulah mereka menciptakan agama (Tuhan).

Bebagai gejala alam yang terjadi menjadi misteri dan akan menjadikan manusia tunduk padanya tatkala mereka tidak mampu menjelaskan penyebabnya. Misalnya ketika ada petir yang menyambar dan manusia tak mampu mengatahui sebabnya sehingga mereka takut. Secara naluri mereka akan tunduk pada ketakutan yang menyebabkannya tersebut. Petir itulah yang mereka sebut dengan Tuhan (dewa) petir. Begitu juga dengan gejala alam yang lainnya seperti hujan, gunung meletus, badai dan lainnya. Mereka akan menganggapnya sebagai Tuhan ketika mereka tidak mampu menjelaskan tentang hakekat dan hukum-hukum yang menyebabkannya.

Hal ini kemudian mengalami perubahan ketika manusia mengalami perkembangan intelektual. Manusia telah memasuki kehidupan dimana akal atau rasionalitaslah menjadi senjata ampuh untuk menaklukan kehidupan. Petir yang dulu tidak diketahui penyebab terjadinya sekarang telah di ketahui. Begitu juga dengan badai, hujan, meletusnnya gunung dan berbagai fenomena alam lainnya. Pada saat demikianlah Tuhan yang mereka yakini tersebut satu persatu hilang dari keyakinan mereka seiring dengan di ketahuinya penyebab terjadinya fenomena alam tersebut. Hingga perkembangan IPTEK yang dialami oleh manusia modern saat ini yang telah mampu menjelaskan fenomena alam. Sehingga mereka mengatakan Tuhan telah tiada atau Tuhan telah mati. Singkatnya semakin berkembangnya rasionalitas dan IPTEK manusia maka akan semakin tidak memilki keyakinan agama (Tuhan). Seperti yang dikatakan oleh Nietzsche:
God is dead!!!

Perkembangan IPTEK yang dialami manusia mengantarkannya pada kehidupan modern. Ketika manusia modern merasa bahagia dengan keberadaanya maka dia mematikan Tuhan (agama) dalam keyakinan dirinya. IPTEK dijadikan sebagai penolong dalam segala hal. Manusia merasa Tuhan tidak terlibat dalam kebahagiaannya. Inilah yang dikatakan bahwa Tuhan telah mati. Tuhan telah mati pada manusia modern. Kemajuan IPTEK menyebabkan keangkuhan. IPTEK dijadikan sebagai Tuhan yang mempermudah dan mampu menolong manusia. Manusia menjadi makhluk individu kembali dan melupakan saudaranya. Namun di saat manusia mengalami permaslahan yang pelik dan bencana alam maka Tuhan dihadirkan kembali. Seperti yang dikatakan oleh Nietzsche bahwa Tuhan hanyalah digunakan oleh manusia yang lemah tak berdaya untuk memberinya spirit kehidupan.

Jika kita merefleksikan dengan fenomena alam yang menimpah negri ini. Begitu banyak bencana alam yang menimpah negeri ini. Wasior yang belum usai muncul mentawai dan merapi dan tidak menutup kemungkinan lagi yang lain terjadi. Berbagai kerugian yang ada hingga nyawa telah membuktikan ketidak berdayaan manusia. Di tengah kondisi seperti ini manusia segera mencari sesuatu yang dapat menghapuskan ketidakberdayaannya. Manusia kembali menciptakan agama atau mendekatkan kembali dirinya dengan Maha Penguasa alam. Naluri untuk beragama muncul kembali. Tuhan yang selama ini mati dalam kehidupnnya dihidupkan kembali dalam keyakinannya. Tuhan yang selama ini dicampakan dalam kehidupannya dihadirkan kembali.

Begitu juga berbagai persaan belasungkawa dari manusia lain. Hati mereka tergerak oleh bisikan suci untuk menolong sesamanya. Tat kala bencana menimpah dan semua jerit tangis terdengar maka semua manusia ikut merasakannya. Manusia bergerak untuk menolong dengan apa yang dimilikinya. Manusia disadarkan bahwa mereka satu saudara.

Mungkin Tuhan sengaja menjadikan bencana alam di negeri kita agar manusia sadar tentang keberadaannya sebagai hamba yang selalu ingat pada-Nya. Agar manusia bisa memposiskan dirinya sebagai makhluk sosial yang peduli dengan sesamanya. Manusia selama ini lupa akan kuasa Tuhan yang mengendalikan isi langit dan bumi. Tuhanlah yang menghendaki terjadinya gempa bumi yang menerpa negeri kita. Juga dengan cobaan ini sehingga manusia diajak untuk selalu memposisikan dirinya sebagai makhluk sosial yang peduli dengan sesamanya. Atau dengan kata lain Tuhan sengaja menghendaki bencana alam (wasior, mentawai, merapi) agar manusia tidak mematikan Tuhan dalam kehidupannya. Sehingga pasca bencana alam ini manusia tidak melupakan Tuhannya dan manusia melepas individualismenya untuk digantikan dengan rasa solidaritas terhadap sesama dan lingkungannya.



Minggu, 14 November 2010

Hari Pahlawan

Tanggal 10 nevember yang belum lama terlewati merupakan momen yang bersejarah bagi Indonesia. Pada hari itu, bangsa Indonesia memperingati hari pahlawan nasional. Hari dimana bangsa Indonesia akan mengenang jasa para pahlawannya yang telah berjuang memerdekaan Indonesia seutuhnya.

Mantan presiden Republik Indonesia yang pertama, Bung Karno, pernah mengatakan ‘bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya’. Beliau mengatakan demikian karna berkat jasa para pahlawanlah sehingga kemerdekaan itu terwujud. Sangat naif jika kita membiarkan sejarah yang begitu berharga tentang jasa dan perjuangan mereka. Oleh karna itu sebagai upaya penghargaan kepada mereka sehingga tanggal 10 nevember diperingati sebagai hari pahlawan nasional.

Namun, menjelang peringatan hari pahlawan tahun ini masyarkat Indonesia seolah-olah tidak menampakan keseriusan memperingatinya. Indonesia lebih asik terlena dengan urusan individualnya. Namun tak dapat kita pungkiri juga bahwa pada saat itu indonesia sedang dilanda bencana alam. Konsentrasipun terbagi untuk menangaini bencana alam ini.

Namun ada yang lebih disanyangkan menjelang peringatan momentum ini. Indonesia dikagetkan dengan kedatangan presiden Amerika. Bahkan kedatanganya tersebut sangat diharapkan. sehingga Masyarakat Indonesia lebih konsentrasi terhadap presiden Negara lain ketimbang para pahlawannya sendiri. Mereka terbius oleh kedatangan tamu dari Negara lain yang dilihat sebagai tokoh yang sengat kharismatik.

Kita seakan-akan lupa bahkan dilupakan karna kedatangannya. Media massa pun lebih menayangkan kedatangan presiden dibanding momentum hari pahlawan nasional ini. Bukankah kemerdekaan yang di capai adalah hasil perjuangan para pahlawan kita? Bahkan tanpa kita sadari negara presiden tamu itu tengah menjajah kita.)*

Kamis, 11 November 2010

Kedatang obama merugikan Indonesia

Kedatang presiden AmerikaSerikat, Barack Obama, ke Indonesia hari selasa 9 november kemarin, menimbulkan penolakan dari sejulah masyarakat Indonesia. Penolakan tersebut terlebih karna Amerika adalah Negara kapitalis. Negara yang menjajah indonesia lewat ideologinya. Selain itu, mereka melihat Amerika sebagai negara penjajah yang menggunakan demokrasi sebagai kamuflase.

Keterjajahan yang tengah terjadi di Indonesia adalah bukti kekejaman Amerika. Hal itu di tegaskan pada sebuah perjanjian yang di sebut dengan “konsesus washintong”. Konsesus ini memuat hal-hal yang merupakan konsep-konsep gagasan neoliberalisme (neo-kapitalisme) dari Amerika yang akan diberlakukan di Indonesia.

Kita dapat melihat implementasi dari konsesus itu yaitu menjamurnya korporasi asing yang sebagian besar milik amerika di Indonesia. Untuk memuluskan program kerjanya Indonesia di pakasakan untuk melakukan deregulasi sehingga para korporasi leluasa bergerak. Hal ini kemudian berdampak pada sektor-sektor kehidupan lain yang terimbas oleh proyek neolibaralisme ini. Dan masih banyak lagi contoh yang lain misalnya privatisasi BUMN dan lain-lain.

Sebenarnya Indonesia adalah salah-satu negara dari banyak negara di dunia yang terhegemoni oleh gagasan neo-liberalisme Amerika. Kita dapat melihat penjajahan yang ada di timur tengah. Negara yang mayoritas islam. Inilah salah-satu yang menyebabkan penolakan ke datangannya ke Indonesia. Alasannya adalah mayoritas masyarakat Indonesia beragama islam. Dimana mereka penjajahan Amerika di timur tengah adalah upaya untuk menghancurkan kejayaan islam. Dimana islam adalah agama perlawanan terhadapa segala bentuk penindasan termasuk neoliberalisme.

Dari sinilah, kita dapat menyimpulkan kedatangan Amerika tidak ada gunanya. Presiden Barack Obama hanyalah simbol kapitalisme dunia yang ingin menawarkan program ekspansinya ke Indonesia. Tak dapat juga kita nafikan dengan kerja sama yang akan sangat menunjang pembangunan. Namun kerja sama itu akan lebih merugikan Indonesia karna Indonesia tengah tersubordinasi dari Amerika.

nb: tulisan ini telah diposting di ngurunto.blogdetik.com

Kedatangan Obama, bukti Lemahnya Indonesia

Tepatnya hari selasa 9 november kemarin, Indonesia kedatangan tamu besar dari Negara adi daya Amerika serikat. Tamu itu adalah presiden Amerika serikat, Barack Obama. Sebenarnya kedatang tersebut adalah rencana ke tiga yang terealisasi karna rencana sebelumnya juga di batalkan. Kedatangan orang nomor satu Amerika ini menimbulkan respon yang kontroversi di masyarkat Indonesia.

Yang menolak kedaangan Barack Obama di antaranya menggap kedatangannya tidak memberi arti apa-apa bahkan dianggap membahayakan bagi Indonesia karana akan membuat kesepakatan bilateral yang cenderung merugikan Indonesia. Lagi pula janji yang selama ini di gagas untuk tidak terlibat dalam konflik dan menarik pasukannya (mendamaikan) dari timur tengah, tidak terlaksana. Namun di satu sisi kedatangannya banyak di harapkan oleh masyarakat Indonesia. Mereka melihat bahwa orang nomor satu Amerika ini akan membawa kerja sama yang baik di antara kedua Negara. Lagi pula Barack Obama pernah mengenyam pendidikan di Indonesia sehingga kunjungan ini dianggap sebagai ajang untuk lebih mempererat persaudaraan kedua negara.

Terlepas dari itu semua, kita harus melihat bahwa betapa euforinya masyarakat Indonesia dalam menyambut kedatangan presiden Amerika ini. Bahkan pembicaraan dan pemberitaan tentang bencana alam yang tengah menimpah Indonesia pun seakan-akan istrahat sejenak. Ekspresi euforia ini mengatakan kepada kita bahwa begitu pentingnya perwakilan Amerika ini. Juga menjelaskan betapa besar dan kuatnya Negara yang di pimpin oleh Barack obama ini (baca : Amerika ). Hal ini mempertegas keberadaan Indonesia sebagai negara yang masih tersubordinasi dari Amerika. Meskipun tidak bisa dinafikan keharusan saling membutuhkan dalam dinamika kehidupan global namun kita membuktikan kepada Amerika bahwa Negara kita sangat tergantung padanya. Lihat saja, rencana kedatangan presiden Amerika yang dibatalkan dua kali sangat disayangkan oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia.

Lalu, kenapa Amerika begitu di kuat dan Indonesia begitu tergantung padanya? Tentunya mereka memiliki sesuatu yang menjadikan negaranya kuat dan sangat digagumi Indonesia bahkan Negara lainnya di dunia. Sebagaimana kita ketahui, Amerika di kenal dengan Negara super power. Negara memiliki kekuatan ekonomi dan IPTEK yang membuat dunia terkendalikan olehnya. Bahkan tak sedikit Negara di dunia yang berpatron padanya karna hegemoni yang di cengkrangkamkannya pada dunia.

Inilah pelajaran yang penting bagi Indonesia terhadap kedatangan presiden Amerika tersebut. Kita harus lebih keras lagi berusaha untuk menjadi Negara yang sangat di perhitungkan dalam percaturan dunia. Dan seandainya Indonesia memiliki kekuatan yang besar maka tidak akan sangat tergantung pada Amerika bahkan akan terjadi sebaliknya.

Tapi sayangnya kekuatan yang kita miliki yaitu kekayaan alam yang melimpah hanya lebih besar di manfaatkan oleh Amerika (dengan korporasi-korporasinya). Bahkan dengan kekayaan alam, kita semakin di jajah oleh bangas asing. Dan seorang pakar Pembangunan dan Ekonomi Global pada Brookings Institution AS, Lex Rieffel, mengatakan sumber daya alam Indonesia hanya menjadi kutukan bukan menjadi berkah bagi pemiliknya.

nb : tulisan ini telah di posting di
kompasiana.com

Minggu, 07 November 2010

Indonesia Perlu Merenung

Dalam beberapa pekan terakhir, Indonesia dihampiri oleh runtutan bencana alam. Dari banjir bandang wasior, gempa (tsunami) mentawai dan yang terakhir merapi yogyakarta yang waktunya hampir bersamaan dengan gempa mentawai. Ketiga bencana alam ini seolah memberikan peringatan kepada kita tentang kemarahan alam terhadap bangsa kita. Alam mencoba menyeimbangkan dirinya yang menimbulkan efek negatif bagi masyarakat Indonesia.

Belum lagi dengan permasalahan bangsa ini. Perjalanan pemerintah sebagai kepercayaan rakyat untuk menata kehidupan bernegara telah menampakan kelemahannya. Rakyat miskin, tindakan kriminal terjadi di mana-mana, hukum yang cacat, pendidikan yang bobrok dan masih banyak lagi. Hal inilah yang harus kita renungi bersama. Masalah-demi masyalah menghampiri negeri ini. Tentunya ada yang salah dengan apa yang pernah kita lakukan.

Al-Quran menjelaskan kepada kita dalam Q.S al-Ruum (30:41.) "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)". Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa sesungguhnya bencana yang terjadi adalah karna ulah menusia. Gempa wasior, tsunami mentawai dan merapi Yogyakarta tidak lain karna Allah memberikan peringatan kepada hambanya yang telah menyimpang dari perintah dan larangannya. Ketika semua manusia merusak alamnya, sibuk mencarai dunia, tokoh agama hanya sibuk dengan urusan pribadinya, agama telah di salah gunakan, korupsi pemegang amanah rakyat, pemimpin menyalahi amanah rakyat maka Allah menurunkan azabnya sebagai sinyal bahwa ada yang salah dari apa yang telah kita perbuat. sebagaimana analogi yang diberikan Nabi Muhamammad saw dengan sebuah kapal yang berlantai dua. Lantai pertama terdapat orang yang zalim sedangkan lantai kedua terdapat ahli ibadah. Ketika orang zalim membocori lubang kapal maka semuannya akan tenggelam.

nb: telah di posting di http://ngurunto.blogdetik.com

Sebuah Sajak Untuk Negeriku

Bumi hijau nan subur
Laut dan hutan yang luas
Mengandung kehidupan untuk kehidupan anak bangsa
Kegembiraan adalah rasa syukur kami terhadap Mu

Tapi haruskah air mata membasahi negri ini
Air dan ombak yang ada membuat duka
Gunung yang ditinggikan menjadi menjadi paronama alam
Telah membenci

Belum lagi kekayaan alam menjadikan kami terjajah
Mereka para penjajah mendatangi negeri
karna memiliki alam yang indah untuk dinikmati
mungkinkah alam yang indah menjadi kutukan?

Katanya bumi dan air serta kekayaan alam lainnya di peruntukan untuk hajat hidup kami
Namun mereka datang dengan uang
Dan alat-alat penjajahnya untuk memilikinya
Wakil menghianati rakyat yang tengah di banjiri air mata duka
Mereka menghianati kami hingga hati mereka tak mampu mendengar tangisan anak bangsa

Hidup Untuk Menang

Hidup adalah misteri. Apa yang kita rencanakan kadang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Hingga ada ungkapan agama mengatakan bahwa manusia hanya bisa berencana mengenai hasil itu adalah urusan Tuhan. Dari itulah kita disuruh untuk selalu berikhtiar dijalan yang telah di ridhoi-Nya.

Kadang kita mengharapkankan kebahagiaan namun yang hadir adalah kesengsaraan. Tapi itulah dinamika kehidupan sehingga kita di anjurkan untuk tidak menyerah dan sabar dalam menghadapi cobaan tersebut. Hidup dan semua komponen alam semesta diciptakan tidak sia-sia, semua memiliki kegunaan. Dan semua itu diciptakan dengan sebaik-baiknya. Begitu pula manusia diciptakan untuk menjalaninya dengan baik pula. Manusia diberikan predikat khalifah yang memiliki fungsi untuk memimpin semua komponen alam semesta termasuk dirinya sendiri.

Ketika semua makhluk di berikan amanah untuk menjadi kahlifah (Pemimpin) di muka bumi ini namun tidak ada yang mampu mengemban amanah tersebut. Tapi ada perkecualian untuk manusia karna manusialah yang mampu memegang amanah sebagai pemimpin itu. Sehingga sebagai pemimpin, kalah adalah hal yang tak mesti dimiliki dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan ini.

Ingatkah dulu ketika manusia di ciptakan. Manusia melewati beberapa fase alam kehidupan sebelum sampai di alam dunia. Kalau kita mencoba untuk merenungi proses terjadinya manusia ketika berada di alam rahim maka sesungguhnya kita telah diberikan kemampuan untuk berhasil dan menjadi pemenang.

Sebagaimana sebelum embrio manusia berada di rahim Ibu. Terlebih dahulu sperma dari ayah dan ovum dari ibu melakukan pertemuan. Pertemuan itu sebagai peristiwa pembuahan ovum oleh sperma hingga menjadi embrio manusia. Namun dari sekian juta sperma yang pergi membuahi sel telur, hanya satu yang berhasil sedangkan jutaan lainnya gugur (mati) sebelum sampai ditujuannya. Dan satu-satunya sel sperma yang berhasil tersebut adalah kita yang lahir di dunia ini. Artinya sebelum kita menjadi embrio kemudian dilahirkan menjadi manusia, kita terlebih dahulu bertarung dengan manusia-manusia lain (baca: sperma-sperma) yang pergi membuahi ovum. Dan yang menjadi pemenang dari pertarungan itu adalah kita (baca: seorang manusia) yang terlahir di dunia.

Sayangnya masih banyak manusia yang tidak memaknai hakikat proses penciptaanya. Begitu banyak proses yang kita lewati hingga kita menjadi seorang manusia. Harusnya dengan itu kita semakin termotivasi untuk menjalani hidup dengan tidak berputus asa dan untuk selalu menang dalam menggapai tujuan. Sangat naïf kalau manusia selalu mengeluh, menyerah bahkan mengakhiri hidupnya tatkalah ada maslah yang menghampirinya.

Tidakkah kau tahu, hanya manusia yang mampu mengemban tugas sebagai kahlifah di muka bumi ini.
Tidakkah kau tahu, bahwa kita lahir di dunia karna sebuah kemenangan.


Kutulis demi perubahan

Sabtu, 06 November 2010

Menyoal Pendidikan di Indonesia

Pendidikan adalah ruh dari peradaban manusia. Artinya peradaban tergantung dari pendidikan yang diperoleh oleh pelaku peradaban. Pendidikan yang baik menghasilkan out-put yang baik pula dan sebaliknya. Parameter pendidikan bukan hanya dilihat dari hasil akhir namun lebih kepada proses. Bagaimana peserta didik melewati proses-proses dalam pendidikan. Selama ini pendidikan kita terjebak pada hasil yang kadang tidak sesuai dengan proses terdidik yang beretika.

Di Negara kita Indonesia, kesadaran akan pendidkan telah tumbuh. Bahkan selain pemerintah sebagai peanggung jawab penuh atas segala kebutuhan masyarakat, juga banyak masyarakat yang mengkampanyekan pentingnya pendidikan. Meskipun pemerintah telah menyelenggarakan pendidikan namun bukan berarti sudah sesuai dengan tujuan pendidikan. Selain itu perlu kiranya kita mengevaluasi kinerja pemerintah terkait pendidikan yang telah di selenggarakan. Karna selain hasil yang tidak memuaskan juga masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak bisa mengakses pendidikan.

Sebelum Indonesia merdeka founding father pendidikan, Ki Hajar Dewantara, telah mengkampanyekan pentingnya pendidikan. Beliau mendirikan lembaga pendidikan sebagai bentuk kepedulian terhadap generasi muda bangsa yang tengah di jajah oleh Negara asing. Bapak bangsa ini melihat bahwa bangsa Indonesia akan terus dikendalikan dan dijajah oleh bangsa lain jika para pemudanya tidak memilki kemampuan intelektual yang mapan. Singkat cerita Indonesiapun di merdekakan oleh anak-anak bangsa yang terdidik. Dan pasca kemerdekaan pun pendidikan memiliki kedudukan yang istimewa dalam agenda cita-cita bangsa. Hal itu dapat dilhat dengan tingginya porsi pendidikan di APBN yaitu sebanyak 20% dari total APBN.

Sejatinya setelah Indonesia meredeka sekitar 60 tahun lebih, pendidikan harusnya telah mengalami perubahan yang lebih baik lagi. Namun apakah realitas berkata demikian? Hasil pendidikan dapat dilihat dari peradaban yang tercipta. Kalau dulu masyarakat Indonesia dijajah oleh Negara lain karna banyak yang tidak berpendidikan maka harusnya sekarng hal itu telah menjaadi sejarah yang kelam dan tidak boleh ada di zaman kemerdekaan. Jika dulu bayak masyarakat yang tidak bermoral maka harusnya sekarng telah terjadi perubahan menuju manusia yang bermoral.

Fakta berbicara lain mengenai pendidikan Indonesia. Justru dengan menggunakan pendidikan sebagai salah-satu indikasi kemerdekaan maka perlu di pertanyakan tentang kemerdekaan yang sedang dimiliki. Belum lagi masih banyak rakyat yang tidak mengakses pendidikan. Pendidikan yang bermutu hanya dinikmati oleh kalangan elite sedangkan kelas masyarakat bawah hanyalah menjadi penonon dan menikmati pendidikan dengan mutu yang rendah. Apa lagi pendidikan sekarang tidak steril dari ideology dan kepentingan tertentu. Sehingga keluaran pendidikan tidak lagi di peruntukan untuk kepentingan bangsa namun hanya untuk kepentingan ideology tertentu yang menghasilkan kehidupan yang timpang.

Inilah selayng pandang tentang pendidikan Indonesia.

ku tulis demi perubahan








Kamis, 04 November 2010

Ketika PSK menggalang dana peduli bencana alam

Mungkin selama ini dalam mindset kita melihat PSK (pekerja seks komersial) hanyalah orang yang menjajakan seks. Mereka diidentikan dengan orang yang tak bermoral sehingga dipandang sebelah mata oleh masyarakat pada umumnya. Tapi bagaimana kalau para PSK mengekspresikan kepeduliannya terhadap bencana alam yang menimpah negeri ini? Sebagaimna yang terjadi pada PSK kremil di Surabaya. Mereka telah menunjukan rasa kemanusiaannya meskipun di satu sisi ada yang berpandangan negatif pada mereka karna profesi mereka.

Mereka menuturkan bahwa mereka juga punya hati nurani sebagaimana yang dimiliki oleh manusia lain. Dalam menggalang dana yang mereka lakukan adalah dengan cara meminta pada pada pengguna kendaraan dan melakukan aksi teaterikal. Selain itu juga mereka meminta dari rumah ke rumah.




(Foto: Daniel Lukas Rorong) lagi meminta sumbangan

Lagi pula perlu juga di ketahui, sesungguhnya mereka berprofesi sebagai PSK bukanlah disebabkan oleh mayoritas karna ketidak bermoralan mereka. Namun lebih karna alasan ekonomi. Bagi manusia, dimanapun dia berada ketika diperhadapkan dengan masalah ekonomi kadang mereka rela melakukan apapun demi bisa bertahan hidup. Salah satu contohnya adalah mereka yang terjun dalam dunia PSK tesebut.

Di Negara Thailand para PSK terdiri dari 60% dari total golongan orang yang miskin. Merekapun melakukan hal tersebut karna ketidak tersediaan lapangan kerja yang layak. Seperti halnya di Indonesia. Sala satu daerah di Indonesia tepatnya di Indramayu, Jawa barat, pernah di adakan penelitian tentang profesi kaum perempuan di daerah tersebut. Ternyata profesi PSK adalah mayoritas profesi yang mereka lakoni bahkan bukan lagi menjadi hal yang tabuh bagi daerah tersebut. Setelah di telusuri alasan tentang pekerjaan mereka maka lagi-lagi karna alasan ekonomi.

Oleh karna itu tidak mesti kita meyalahkan secara totalitas kepada mereka yang berprofesi sebagai PSK. Kita harus melihat secara komprehensif masalah ini, bahkan lebih bijaksana lagi kalu kita melihat sebab yang menjadikan mereka demikian. Maka negara atau pemerintah dalam hal ini harus menyediakan lapangan pekerjaan yang layak bagi kaum perempuan. Pemerintah harus merekonstruksi konsep ekonomi supaya tidak terus mengeksploitasi perempuan yang salah-satunya terwujud dalam lokalisasi tempat prostitusi (para PSK). Bahkan pemerintah mengambil manfaat dengan di lokalisasikannya tempat prostitusi karna dengan itu pemerintah dapat menarik pajak untuk melengkapi APBN-nya. Jadi stereotype pada mereka yang berprofesi sebagai PSK juga disebabkan karna ketidak becusan pemerintah negri ini.

oleh karna itu marilah kita lebih bijak lagi dalam menilai mereka( baca: PSK). Mereka juga manusia, sama halnya dengan kita. Merka punya hati nurani sebagaimana terwujud dalam kepedulian mereka terhadap korban bencana alam (mentawai dan merapi). Dan harusnya juga pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan yang layak bagi mereka.

kutulis demi perubahan

nb: telah menjadi head line di kompasiana.com

Rabu, 03 November 2010

Jangan Lupa!!!

Bencana alam yang menimpah negeri telah menyedot perhatian masyarakat Indonesia. Bencana telah menggerakan moral kemanusiaan sehingga rasa duka pun di berikan kepada korban bencana alam tersebut. Tragedi alam ini telah meramaikan media massa sehingga ruang-ruang pikiran masyarakat Indonesia didominasi oleh pemberitaan tersebut. Sebelum media ramai memberitakan fenomena alam ini, masyarakat Indonesia disuguhkan oleh berbagai permasalahan negeri terkait dengan kinerja pemerintah. Sehingga permasalahan yang sebelumnya menjadi tereduksi oleh fenomena alam ini.

Bukannya tidak bersimpati terhadap bencana yang di alami oleh saudara-saudara kita. Namun disini penulis hanya mengingatkan kepada pembaca bahwa jangan kita lupa dengan ketimpangan yang telah dibuat oleh pemerintah kita karna akhir-akhir ini media jarang mempublikasikannya. Selain kita memberikan apa yang kita miliki terhadapa korban bencana juga kita harus terus mengawal dinamika sosial politik negeri ini.

Terdapat relasi antara media massa dan kekuasaan. Dan tak jarang media digunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingannya tak terkecuali pemerintah. Media massa memilki peran yang sangat besar dalam perubahan sosial. Media massa bisa menggerakan rasa kemanusiaan dan emosi masyarakat. Oleh karna itu sebagai agen perubahan kita harus lebih jelih melihat realitas yang terjadi di negri ini. Jangan sampai media meracuni dan menghegemoni mobilitas informasi yang disuguhkannya kepada masyarakat. Sehingga kita lupa dan mudah di gerakan oleh pemberitaan media massa.
nb:pernah di posting di ngurunto.blogdetik.com

Reshuffle, apakah solusi?

Sudah satu tahun berlalu, presiden sby dan budiono memimpin negeri ini. Berbagai persoalan yang muncul karena kinerja mereka. Rakyat telah melihat dan merasakan tentang kegagalan pada mereka dalam menahkodai negri tercinta ini. Namun mereka tak sendiri, karna setiap sector kehidupan telah ada yang mereka tunjuk sebagai asisten, itulah yang di sebut dengan mentri.

Meskipun ada dua versi yang pro dan kontra melihat perjuangan mereka dalam membangun negeri ini. Namun dominan melihat bahwa mereka tak memberikan perubahan yang lebih baik dan justru keburukan yang di timbulkan. Permasalahan ini kemudian menimbulkan reaksi dari berbagai elemen masyarakat untuk mendesak mentri-mentri yang tergabung dalam kabinet Indonesia bersatu (KIB) jilid II agar segera mundur dari jabatannya. Atau mendesak bapak presiden agar seegra merehuffle mentri-mentri yang dianggap tidak mampu menjalankan tugasnya.

Pertanyaan yang muncul, apakah setelah melakukan reshuffle kondisi akan menjadi lebih baik? Melakukan reshuffle berarti mengganti jabatan mentri dengan orang yang baru. Namun apakah akan menghasilkan perubahan yang lebih baik? sementara sistem yang kita anut adalah demokrasi liberal. Belum lagi jika pergantian itu tidak menempatkan orang-orang yang professional atau hanya karena alas an politis. Sby tidaklah satu tahun memimpin negeri ini dan mentri-mentrinyapun telah berganti namun kondisi negeri ini bisa dikatakan dalam keadaan yang sama. Oleh karna itu, bagi penulis reshuffle bukan solusi yang komprehensif namun hanya bersifat parsial dan sementara.

nb : telah di terbitkan di http://detiknews.com/ dan telah menjadi pilihan di blok politik. atau untuk lebih jelasnya di http://ngurunto.blogdetik.com/reshuffle-apakah-solusi.html/comment-page-1/#comment-4


Amerika; Di balik Bantuan Bencana Alam?

Ketika terjadi bencana alam di Indonesia dalam waktu terakhir ini banyak kalangan tergerakan kemanusiaannya. Salah-satunya terwujud dalam memberikan bantuan. Bantuan datang baik dari dalam negri maupun luar negri. Amerika adalah salah-satu donatur bantuan dana kemanusiaan yang di berikan kepada Indonesia untuk dialokasikan ke korban bencana alam. Disini penulis hanya menspesifikasikan pembicaraan pada bantuan luar negri yaitu dari Amerika.

Sebelum lebih jauh membincangkan tentang bantuan tersebut, alangka baiknya terlebih dahulu melihat selayang pandang tentang Amerika. Amerika dikenal sebagai pelakasana demokrasi yang sejati. Karnanya di era modern sekarang ini selalu menjadikan Amerika sebagai patron parameter kesuksesan penyelenggaraan demokrasi, salah satu wujudnya adalah menghargai hak hidup manusia dan menciptakan kehidupan yang manusiawi. Namun wujud dari demokrasi yang selalu di serukan oleh Negara super power ini sangat kontras terhadap perlakuannya kepada insan mansuia yang ada di timur tengah (Irak, Afganistan, Palestina dan lainnya). Tapi tak bisa juga kita nafikan atas bantuan yang di beriakan kepada korban bencana alam Indonesia.

Inilah sekilas tentang Amerika. Nah, ada permasalahan yang timbul oleh diskriminasi Amerika terhadap korban bencana alam di Indonesia dan saudar-saudara kita yang ada timur tengah. Jika demokrasi ditegakkan untuk menghargai setiap manusia dan nilai-nilai kemanusiaan, tentunya dapat simpulkan bahwa Amerika tidak konsisten. Tentunya setiap kegiatan termasuk pemberian bantuan bencana alam memilkik tujuan (kepentingan).

Dunia globalisasi (moderenisasi) dengan proyek westernisasinya terlah gagal memberikan kehidupan yang tanpa diskriminatif. Globalisasi adalah wadah yang digunakan oleh kapitalisme untuk lebih melebarkan sayapnya. Ekspansinya ke berbagai Negara di dunia terlebih Negara dunia ketiga telah menimbulkan ketidak puasan, protes bahkan pemberontakan. Hal inilah yang dilakukan oleh jaringan ‘terorisme’ (tanda kutip ini menandakan bahwa terorisme yang sering di publikasikan adalah hasil definisi dari Amerika yaitu pihak yang melawan Amerika). Bukan hanya ‘teroris’ berbagai gerakan juga lahir sebagai anti-thesis dari hegemoni Amerika dengan kapitalismenya misalnya gerakan kaum tradisional untuk menghidupakan kembali nilai tradisianalisnya, bagi sebagian kaum agamawan melakukan revitalisasi ajaran keagamaannya, berbagai propaganda perlawanan oleh masyarakat dunia yang merasakan imbas dari kolonialisme amerika dan masih banyak lagi. Inlah wajah proyek westernisasi Amerika (dan sekutunya yaitu negera eropa lainnya) yang tengah mengalami citra buruk di mata masyarakat dunia.

Karna citra buruk ini telah menghinggapi Amerika maka dia mencoba mensterilkan realitas tersebut. Mereka mencoba membangkitkan kembali keyakinan masyarakat dunia tentang Negara demokrasi yang meneggakan nilai-nilai kemanusiaan. Salah-satunya adalah memberikan bantuan kemanusiaan kepada korban-korban bencana alam. Ini sangatlah jelas, diskriminasi yang dilakukannya terhadap saudara-saudara kita di timur tengah. Kenapa tidak segra di hentikan agresi militernya ke timur tengah? Kenapa tidak segra menghentikan kebiadaban Israel terhadap masyarakat palestina (hamas)? Tentunya karna mereka memiliki kepentingan politis. Begitu juga kenapa mereka memberikan bantuan korban bencana alam, juga tidak murni karna alasan kemanusiaan.

Indahnya kearifan lokal wakatobi ( membangun politik berbasis kearifan lokal)

Dunia bagai daun kelor adalah istilah untuk menggambarkan kehdidupan gobalisasi. Globalisasi telah menjadikan letak geografis dan waktu bukanlah penghambat dalam berinteraksi sesama masyarakat dunia. Globalisasi telah banyak merubah pola kehdipan manusia di berbagai bidang seperti ekonomi, politik, budaya dan lainnya. Globalisasi ditandai dengan kemajuan IPTEK telah membawa nilai-nilai kehidupan yang baru dan kebanyakan berbeda dengan nilai kearifan lokal wakatobi.

Gobalisasi yang selalu di identikan dengan moderenisasi atau bahkan term lain adalah westernisasi (pembaratan). Hal ini di akibatkan karna yang menguasasi dan mendominasi globalisasi ini adalah kebudayaan barat yang individualistis. Ideology liberalisme telah memanfaatkan globalisasi sebagai kuda tunggangan menuju tujuan yang diinginkan. Sehingga kehidupan masyarakat yang memiliki kearifan lokal yang begitu indah telah terkikis dan tergantikan oleh kehidupan liberalisme yang dimiliki barat.

Inilah realitas yang terjadi di wakatobi. Berangkat dari keadaan ini maka sebagai masayarakat wakatobi patut meraih kembali kearifan local kita milki tersebut. Tugas ini harus dilakukan oleh segenap elemen masyarakat wakatobi. Tapi yang harusnya sangat perperan disini adalah pemerintah yang memiliki kekuasaan dan otoritas yang tinggi bagi keberlangsungan kehidupan wakatobi.

Tulisan ini hanya menspesifikasikan pengkajian pada kondisi politik wakatobi. Dan mengingkan menciptakn kehidupan politik yang berbasis pada kekeluargaan (salah-satu kearifan lokal yang kita miliki). Hal ini dilakukan karna menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada) wakatobi yang nantinya akan menentukan siapa nakhkoda wakatobi kedepan.

Menyoal kehidupan politik maka kita tidak bisa lepaskan dengan mesin politik demokrasi. Demokrasi yang ada hari ini digunakan baik Indonesia dalam skala yang luas maupun wakatobi dalam skala yang khusus telah mengadopsi demokrasi ala barat yang sekali lagi saya tegaskan bahwa nilai yang di bawanya adalah individualistis. Sehingga kita dapat melihat menjelang suasana pilkada 2011 kehidupan masyarakat wakatobi sangat rentan dengan konflik. Iniah disebabkan karna ada sekat yang coba di tampilkan sehingga menimbulkan sikap ke-akuan bukan ke-kitaan. Sikap masyarakat seperti ini disebabkan salah satunya karna segenap elemen masyarakat terlebih pemerintah tidak menyadari dan tidak memberikan pendidikan politik yang berbasis pada kearifan lokal yang kita miliki.

Kearifan lokal wakatobi sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan (egaliter). Misalnya ada falasafah hidup yang ada di Tomia yaitu “poasa-asa pohamba-hamba” (ini adalah sala satu contoh dan saya yakin masih banyak contoh lain baik di tomia sendiri maupun di kecamatan lain yg ada di wakatobi tapi pasti semua menggambarkan kebersamaan dalam hidup). Sungguh sangat berbeda dengan budaya poltik wakatobi yang mengdopsi nilai individdualistis globalisasi. Namun masyarakat tak banyak menyadari hal ini dan pemerintahpun hanya asik terkonsentrasi pada hal-hal lain (misalnya sibuk mempromosikan wakatobi).

Di tengah iklim politik wakatobi yang mulai memanas, masyarakat mulai terpisah-pisah menurut sikap politik yang dimilikinya. Namun akibat ketidak pahaman masyarakat terhadap kearifan lokal atau kekeluargaan yang kita miliki sehingga berujung pada terputusnya tali silaturahmi antarsesama. Masyarakat yang sebelumnya menampakan kehidupan yang layaknya keluarga telah tergantikan oleh sikap individualistis yang terpolakan oleh system politik yang ada. Karna sikap fanatik mendukung salah-satu kandidat, mereka rela saling membenci.

Salah-satu yang menyebabkan ini adalah adanya money politic (politik uang) yang sangat jauh dari karakter masyarakat. Bukankah kearifan lokal telah mengajarkan kita saling kerja sama yang baik? Kerja sama yang tak mengharapkan imbalan. Tapi justru hal ini telah diciderai oleh para kandidat yang tidak bersih dalam berpolitik. Sifat ini merupakan tampakan atau indikasi-indikasi KKN yang nantinya berpotensi terjadi jika mereka terpilih.

Inilah contah kecil yang terjadi. Tentunya para pembaca labih tau lagi dan memiliki hati nurani untuk membimbing kita melakukan hal-hal yang benar dan terbaik. Tidak menjadi sebab dan mengkompori terjadinya konflik akibat pilkada. Oleh karna itu yang kita lakukan bagaimana menyadarkan kepada masyarakat agar lebih memahami politik dengan baik. Politik yang disandarkan pada nilai kearifan lokal yang kita miliki yaitu politik kekeluargaan. Atau istilah lainnya adalah demokrasi kekeluargaan bukan demokrasi liberal ala barat yang tidak sesuai dengan karakter masyarkat wakatobi. sehingga wakatobi akan terbangun budaya politik yang indah dan dinamis yang tetap menjaga hubungan kekeluargaannya.
ku tulis demi perubahan


nb : di tampilkan di forum diskusi: HUGUA UNTUK BUPATI WAKATOBI 2011-2016


Pray For Indonesia

Air yang menghampiri tak dapat menghapus dahaga
Hujan yang tak menyejukkan
Laut yang tak mnghidupkan
Awan yang tak meneduhkan

Semua kaki tersentak
Tangan merangkul
Hati menjerit
Air mata membanjiri negeri tercinta

Bertahan namun menyakitkan
Harapan uluran tangan mewarnai keseharian
Tangis anak yang tak lama menjajaki dunia
Dia dan mereka pergi meninggalakan kita
Hanyalah air mata menenemani dalam kesendirian dan kesunyian

Tuhan aku hadapkan jiwa dan raga ini untukmu
Apakah ini ujian bagi kami?
Haruskah ini yang terjadi dan Kami kembali ?
Jangan biarkan kami selalu dalam kesediahan
Biarkanlah hati dan air mata ini mengalir karna mengigatmu di kala kami senang
Ampunkanlah diri yang melupakanmu.

Senin, 01 November 2010

Senangnya berada di dunia maya

Saat membaca berbagai tulisan di dunia maya (internet) pikiran saya berdialektik menuju pengetahuan dan kesadaran baru. Aku yang melihat dunia dalam ruang yang sempit menjadi ruang yang luas dan bahkan amat luas. Aku yang sedikit dan hampir kehilangan inspirasi menjadi tersentak dan kagum terhadap juataan produk pikiran yang tercipta. Aku yang merasakan dalam sedikit perspektif menjadi lebih banyak lagi.

Dunia luas tanpa pembatasan ruang tiga dimensi. Melalui jendela kecil kita dapat melihat berbagai informasi. Jendela dunia maya bagaikan mata yang mempu menembus segala penjuru. Tapi memang fakatanya demikian. Kita dapat brinteraksi dengan sesama pengguna dunia maya tanpa dibatasi ruang dan waktu. Saya di sana dan dia di sini yang secara geografi tak dapat bersama dalam dunia materi namun melalui dunia maya kita menyatu.

'Dunia bagai daun kelor'. Begitulah kata pepatah. Bagiku kalimat itu tidak salah tempat untuk dunia maya. Interaksi akan semakin intens. Sehingga perbedaan yang dulunya menjadi penyebab konflik menjadi redah karna dialog informasi.

Senin, 04 Oktober 2010

Cerpen Revolusi

Mungkin ini hanya aku, jawabku pada kegelisahanku.
Eh…coy apa hanya saya? Sebelumnya aku telah menjelaskannya pada dirinya yang ku harapkan jawabnya. Menanti sebuah jawaban karna dirinya masih berpikir sambil ku teriakan sajakku:

Sajak kegelisahan
Kau,,,
Tidakkah kau tau
Jangan Tanya kenapa? Jangan pula kau jauhi diriku
Cukup dengarlah pintaku. Dan tak lebih dari itu selain kau ucapkan kata yang indah.
Kata yang mampu mengobati pikiran yang terus berdialektika (demikian kata friderich engel)
Jiwa yang bergejolak dan hati yang selalu menginginkan dihinggapi rasa bahagia.
Akh…
Mengapa Kau memberiku pilihan???
Jangan tanyakan padaku lagi tentang kebohongan itu
Jangan memberiku kedamaian,
Jangan kau berikan aku kedamaian sementara keadilan masih mahal harganya
Jangan suruh aku ke pasar swalayan, carefour, ataupun yang itu untuk menemukan keadilan
Aku bisa mendapatkannya di pasar nenek moyangku yang kumuh itu.
Tapi biarkanlah kami memilih keadilan kami sendiri
Jangan jadikan gedung-gedung yang tinggi itu sebagai kamuflase keadilan
Jangan berikan aku keamaian sementara hak-hak kami hilang entah kemana
Aku muak dengan ucapmu
Aku lebih memilih keadilan karna kedamaian hanyalah bagimu.

Kusudahi sajakku denga kalimat itu. Secara spontan dia berucap ‘aku cinta pertanyaanmu karna membuatku sadar akan sekelilingku. Bagiku itu masalah kita. Maka dari itu, revolusi harus tetap terjadi.’

Ku gapai tangan kanannya dan ku genggam erat sebagai konsensus yang tak terputus dan abadi tentang kesatuan tekad untuk REVOLUSI…. !!!

Kutulis demi perubahan [mrn]
Makassar, 3 0ktober 2010

Minggu, 03 Oktober 2010

Keong racun

'Fenomenal'. Itulah kata yang pas diberikan kepada judul lagu keong racun. Sebuah lagu yang beraliran dangdut yang populer karna ulah dua cewek cantik “shinta dan jojo”. Keduanya membebaskan dirinya berekpresi di depan kamera untuk membuat video klip versi mereka dari lagu tersebut.

Itu hanya sebuah pengantar. Namun, Saya mencoba menggunakan analisi gender untuk melihat, meneliti dan juga mungkin merenungi setiap lirik yang ada. Sekedar pengetahuan umum tentang gender, bahwa gender adalah perbedaan perlakuan antara pria dan wanita yang dikonstruksi oleh budaya masyarakat dan bukan karna perbedaan jenis kelamin. Berangkat dari pengetahuan ini dan implikasi yang ada dalam masyarakat, maka gender adalah sebuah budaya yang diskriminatif. Gender telah mensubordinasi dan memarginalkan kaum perempuan. Oleh karna itu lahirah gerakan kaum perempuan yang dipelopori dan lahir di inggris sebagai perlawanan terhadap konsep gender. Gerakan ini disebut dengan gerakan feminisme.

Hampir semua bahkan bisa dikatakan semua bahwa realitas masyarakat selalu membuat kaum hawa didiskrimnasi oleh kaum pria dalam kehiudpannya, contohnya budaya patriarki. Namun saya melihat bahwa ada yang berbeda dengan lagu yang populer karna dua orang cantik “shinta dan jojo”. Dimana lirik-liriknya cenderung menganggap laki-laki adalah ‘keong racun’ yang digambarkan sebagai pria yang tak bermoral (laki-laki hidung belang). Untuk lebih jelasnya :

Reff:
Dasar kau keong racun
Baru kenal eh ngajak tidur
Ngomong nggak sopan santun
Kau anggap aku ayam kampung
Kau rayu diriku
Kau goda diriku
Kau colek diriku
Eh ku takut sekali
tanpa basa basi kau ngajak happy happy
Eh kau tak tahu malu
Tanpa basa basi kau ngajak happy happy

Mulut kumat kemot
Matanya melotot
Lihat body semok
Pikiranmu jorok
Mentang-mentang kokai
Aku dianggap jablay
Dasar koboy kucai
Ngajak check-in dan santai
Sorry sorry sorry jack
Jangan remehkan aku
Sorry sorry sorry bang
Ku bukan cewek murahan

Saya melihat bahwa dalam kehidupan di dunia malam (‘gelap’) laki-laki bukanlah unsur tunggal terjadinya ‘ijab-kabul (transaksi)’. Namun ada wanita yang menjadi factor yang menstimulan terjadinya realitas demikian. Dalam lagu tersebut menjelaskan tentang laki-laki yang jahat, tak bermoral, lihat bodi semok pikiranmu jorok.

Inilah yang harus kita pahami bersama bahwa gerakan feminisme harus hati-hati memperhatikan tentang kesetaraan gender. Jangan melihat dengan mata seblah bahwa hanya perempuan yang mengalami subordinasi, ternyata realitas mengatakan laki-laki juga kadang di marginlkan oleh kaum hawa. Kalau ku tak salah dan mudah-mudahan demikian seperti di minangkabau, dimana kaum perempuan yang lebih dominan dalam hal partisipasinya dalam berbudaya dibanding kaum pria. Eh kalau aku yang salah tolong dimaafkan.

Sekedar menigngatkan untuk kawan yang tergabung dalam gerakan feminisme, untuk melihat secara universal tentang kesetaraan gender. Kesetaraan gender bukan hanya memperjuangkan kaum perempuan melainkan juga memperjuangkan kaum pria. Atau dengan kata lain kesetraan gender adalah kesetaraan bagi semua tak terkecuali kaum pria.

Kutulis untuk perubahan [mrn]

Makassar, 3 oktober 2010

Senin, 27 September 2010

Sajak dari teras Kos

Duduk menemani sebuah leptop
Melihat mereka yang diam dan bergerak
Aku tak tau apa yang mereka sebenarnya
Aku hanya duduk mengikat makna

Ah…
Ini pasti sandiwara
Tapi mungkin juga tidak
Dia diam membisu tapi diam seribu bahasa
Diam berkoar dan mondar-mandir tanpa tujuan yang jelas menurutku
Kata dan perbuatannya mengilhamiku dalam kesendirian

Aku tersetak,,,
Dia yang berjalan kesana
Dia yang bergerak kesini
Aku yakin,,,,
Meski tak jelas menurutku
Tapi ada yang sesungguhnya jelas
Dia bertujuan menurut kehendaknya.

(Makassar, 27 september 2010)

Hati-hati dengan hati…!!!

Perhatian…!!! Kata inilah yang sering digunakan oleh pembicara jika ingin para pendengarnya melihat dan mendengarkannya.

Kata ‘perhatian’ berasal dari kata dasar ‘hati’. Namun, untuk mengajak orang mendengar, kita harus meminta hatinya untuk ‘mendengar’ kan kita. Kenapa bukan ‘telinga’ yang diminta? Kenapa bukan kata ‘pertelingaan!!!,’ Untuk mengajak orang mendengarkan kita?

Begitu pula jika kita ingin mengajak orang untuk melihat kita. Kita selalu mengatakan perhatian!!! bukan ‘permataan!!!’ Sementara yang kita minta adalah matanya untuk melihat kita. Lagi-lagi selalu hati yang diminta.

Ada apa dengan hati?

Hati adalah salah-satu organ tubuh manusia yang sangat vital. Dalam islam hati adalah salah-satu alat untuk menangkap ilmu pengetahuan (epistemology) yaitu mata hati (mata batin). Selain berfungsi sebagai oragan yang membantu proses metabolisme tubuh, hati juga memilki fungsi yang sifatnya abstrak. Sebagaimana hadis nabi Muhammad saw yang kurang lebihnya : ‘dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, jika daging itu kotor maka kotor pula pemiliknya dan jika daging itu baik maka baik juga pemiliknya’. Dalam hati manusia dapat mengukur keikhlasan dalam berbuat.

Dalam hati terdapat perangkat yang sangat membantu manusia dalam melihat kebenaran. Perangkat itu adalah hati nurani. Hati nurani atau biasa dikenal dengan fitrah. Hati nurani (fitrah) merupakan kelebihan yang dimiliki oleh manusia yang membedakannya dengan hewan dan tumbuhan. Hati nurani selalu mengalami kecenderungan ke hal yang baik dan benar. Dengan hati nurani manusia dapat menemukan dan mengaktualisasikan dirinya sebagai manusia yang berkemanusiaan. Ketika manusia berbuat tanpa mengikuti bimbingan hati nurani maka sesungguhnya dia telah mulai bergerak meninggalkan identitasnya sebagai manusia.

Manusia berbuat kejahatan maka hati nurani secara otmatis memberikan larangan. Kejahatan adalah tindakan yang cenderung mengikuti nafsu duniawi sesaat. Bagaikan hewan karna manusia yang berbuat kejahatan tidak mempertimbangakan dampak buruk yang terjadi, baik untuk diri maupun lingkungannya. Dia selalu bertindak untuk kepentingan diri sendiri meskipun hak orang lain terampas olehnya.

Misalnya saja, seorang koruptor yang memakan uang rakyat. Dia tak lebih seperti hewan yang selalu tunduk pada nafsu sesaat yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa melihat dampak buruk yang terjadi. Bimbingan hati nurani yang mengajaknya untuk tidak korupsi telah diabaikan. Sementara banyak rakyat yang menangis karna kelaparan.

Jadi tak ada salahnya kalau seorang ustadz, Aa Gim, pernah berkata dalam lirik lagunya yang berbunyi: ‘jagalah hati, jangan kau nodai, jagalah hati lentera hidup ini’. Oleh karna itu tak salah bagi siapa pun yang ingin mengajak orang, selalu mengajak hatinya. Untuk mengajak orang untuk mendengar, memerhatikan ataupun mengajak pemerintah untuk memperjuangkan keinginan rakyatnya maka hatilah yang di perintahkan karna hati tak pernah bohong. Karna hati selalu mengajak kepada kebaikan.

Jadi, menjadi hal yang wajar ketika kita mengatakan kepada siapa saja dengan kata “Perhatian…!!!” karna hatilah yang mampu merasakan kemanusiaan manusia. Pemerintah yang tak menggunakan hati nuraninya dalam memimpin, maka rakyatlah yang menjadi korban ketidakadilannya. Ilmuwan yang menemukan teknologi baru maka teknologi tersebut akan menghancurkan manusia jika penggunaanya tak memperhatikan arahan hati nurani. Bom atom jika digukan berdasarkan bimbingan hati nurani maka tragedi hiro sima dan naga saki tak akan menjadi sejarah kelam yang menyedihkan.

PERHATIAN!!! Selalulah menjaga hati.

(Makassar, 1 september 2010)

Ku Tingkalkan Engkau

Hari-hari kau temani aku dalam suka maupun duka
Menjadikan hidup lebih bermakna
Karnamu aku berproses mencari kesempurnaan hidup
Menyadarkanku tentang aku yang relatif bukan aku yang seterusnya
Sehingga aku sadar tentang aku
Memberikanku ruang untuk aku yang mencari dan aku yang sebenarnya

Aku marah karnamu aku juga tertawa karnamu
Aku bukanlah aku yang dulu
Aku adalah aku yang hari ini
Aku yang kau rasakan
Dan semua itu karna engkau

Tapi sekarang dengan ikhlas ku tinggalkan engkau
Aku tinggalkan untuk kembali
Karna itu alasanku kutinggalkan engkau dalam berapa waktu
Aku tetap mengenangmu
Aku tetap mendengar, melihat dan merasakan apa yang pernah engkau berikan
Jangan tangisi kepergianku

Selamat tinggal kota Makassar
Aku kan pergi untuk sementara
Aku mau pulang kampoeng dulu ya…!!!
Wakatobi islands, in Tomia I’m coming

(Makassar, 2 september 2010)

Mencari

imajinasi hadir dalam kesunyianku
aku tersentak dalam kesunyian
gelap berubah mejadi terang
bagaikan pelita dikala malam tertutup awan
termenung mengharapkan yang telah pergi
mencari yang lebih baik
membenci yang ada
mencari keberadaan dalam dunia kenangan
kembalilah…
hadirmu menghapus luka
menyirami jiwa yang rindu
mencairkan akal yang membeku

Kamis, 26 Agustus 2010

SuratKu Untuk Pak Presiden

Kepada Pak Presiden di Istana yang megah,
Dari kami di gubuk yang pernah kau gusur.

Waktu kutulis surat ini, saya hampir kehabisan kata untuk menulis karna begitu banyak keluhan-keluhan kami yang tak engkau hiraukan. Kami jadi bingung harus cara bagaimana lagi untuk menyampaikannya. Tapi kami tidak akan putus asa untuk menyadarkanmu tentang nasib kami pak presiden. Dan saya yakin juga bapak dalam keadaan kenyang, sehat dan mungkin lagi tidur di kasur yang empuk.

Pak kami lapar, kami tidak tau mau makan apa, harga makanan dipasar sangat mahal pak, kami tak punya uang untuk membelinya. Padi yang kami tanam gagal panen pak karna pupuk yang engkau jual pada kami sangar mahal. Kenapa bapak sengaja menaikan harga makanan pak? Bagi kami itu adalah malapetaka tapi mungkin bagi bapak bukan hal yang membebankan karna bapak tinggal menuruh juru koki istana untuk membuatkan makanan untuk bapak. Pak tolong suruh juru koki istana membuatkan makanan untuk kami. Bukankah kami sudah membayarkan pajak untuk membayar gaji juru masakmu? Tapi kenapa hanya bapak saja yang dilayani.

Pak tolong berikan kami lapangan kerja yang layak. Kami jadi penjual asongan dan pedagang kaki lima justru kami di usir oleh algojo-algojo (satpol PP) yang kamu perintahkan. Kami juga jadi buruh, engkau belum memenuhi hak-hak kami sebagai buruh. Jangan terlalu salahkan kami pak, kalau ada di antara kami yang merampok untuk memenuhi kebutuhan ekonominya karna itu juga gara-gara bapak.

Pak kami sakit. Kami tak punya uang buat beli obat, harga rumah sakit hanya mahal pak. Bapak tidak akan merasakan penderitaan kami ini karna bapak punya dokter pribadi kepresidenan yang selalu menjaga bapak. Bapak menyuruh kami agar rajin membersihkan lingkungan agar kami sehat tapi kami tidak punya uang untuk itu. Apalagi mau mebersihkan lingkungan tempat tinggal kami, sesuap nasi saja susah kami dapatkan pak.

Pak kami mau tempat tinggal. Kami capek tinggal di jalan dan kami juga capek tinggal di kolong jembatan tapi maumi diapa pak, itulah satu-satunya tempat tinggal kami. Tapi kenapa bapak menggusur kami juga pak?

Pak presiden ini dulu suratku untukmu. Masih banyak yang kami minta darimu tapi cukup itu dulu pak karna kami belum yakin bapak akan mengabulkan permohonan kami ini. Kalau bapak tidak bisa mememenuhi permintaan kami, cukup penuhi sajalah keperluan-keperluan bapak-ibu kami. Kami kasian melihat mereka membanting tulang demi kami. Mereka rela menjadi kuli bangunan, buruh, pedang kaki lima, pedagan asongan demi kami pak, bahkan ada yang sengaja mencuri demi mengurangi air mata lapar anak-anaknya.

Pak,,, sempatkan baca surat kami. Kalau bapak tidak bisa tolong suruh asisten bapak membacakannya untuk bapak dan kalau bisa sempatkan juga untuk membalasnya.
(makassar, 26 agustus 2010)

Kubunuh kau

Semua masa
Kau menemaniku dalam kerisauan
Menjadikan ku lemah tak berdaya
Kau ada tanpa ku harapkan

Tapi kau ada karna aku ada
luasnya dunia kau menyempitkannya
kau menjadikan harapan menjadi nihil
merubah kebahagiaan menjadi kepenatan

Entah apa maumu…
kuharapkan kau tiada
tapi kenapa kau tetap datang menghampiriku
bagai api yang membakat kayu kebahagiaan
dunia kau jadikan penjara bagiku
kau jadikan neraka dalam diriku
itulah dirimu…

Dasar kau…
kuputuskan untukmu
untuk melenyapkanmu
telah kudatangkan untukmu duta kematian
inilah lawanmu wahai pikiran negative
inilah aku sang penyelamat
akulah positive thinking
ha…ha…ha…
(Makassar, 23 agustus 2010)




Minggu, 22 Agustus 2010

Sesuai Dengan Prediksiku

Sudah lebih dari sepuluh hari kita berpuasa. Bagi yang melakasanakan shalat tarwih berarti sudah lebih dari sepulu malam. Pada awal-awal puasa antusias umat islam untuk shalat sangat tinggi berbeda dengan bulan-bulan selain bulan ramadhan. Tapi fenomena itu tidaklah bertahan lama karna semangat untuk itu mengikut seiring dengan semakin banyaknya jumlah puasa.

Ketika saya shalat tarwih tadi (malam ke-12 bulan ramadhan) di masjid, tidak seperti biasanya. Karna awalnya untuk shalat saja hampir tidak dapat tempat untuk membentangkan sejadah. jumlah saf shalat dari depan sampai belakang bahkan di teras masjid juga ful oleh jama’ah. Tapi sekarang telah menyusut hampir setengah dari sebelumnya.

Kenapa sampai begitu? Apakah ramadahan hanyalah sebuah bulan yang hanya meriah pada penyambutan dan awalnya. Saya teringat kara pak ustat bahwa: ‘iman manusia itu tidaklah stabil tapi naik turun’. Saya sepakat dengan perkataan tersebut, karna saya sudah pernah merasakannya dan mungkin apa yang telah terjadi pada sebagaian kaum muslimin yang melakasankan puasa maupun shalat tarwih. Tapi iman bisa dipupuk sehingga dapat meningkat. Jadi mungkin bagi umat muslim yang frekuensi ibadahnya sudah mulai menyusut, itu karna imannya tidak diperbaharui.

Bayar Pajak, Apa Kata Dunia?

'Gak bayar pajak, apa kata dunia?'. 'Membayar pajak berarti memilki jiwa nasionalisme'. 'Membayar pajak berarti menghargai perjuangan para pahlawan kemerdekaan'. Kalimat-kalimat inilah yang selalu dibahasakan dalam propaganda untuk membayar pajak. Kita di paksakan untuk membayar pajak sebagai bentuk partisipasi terhadap pembangunan negara baik secara langsung maupun tidak langsung.

Kenapa pemerintah begitu ngototnya mengajak masyarakat untuk membayar pajak? pada prinsipnya pemerintah tak mampu mengelolah negara kecuali dengan memungut uang rakyat. Kalau memang pemerintah sadar dengan tugas dan tanggungjawabnya, mungkin kata 'pajak' tidak akan pernah dengar. Dengan memaksa masyarakat untuk membayar pajak berarti pemerintah menunjukan ketidak-becusannya untuk mengelolah negara.

Pemerintah adalah tempat dimana amanah rakyat di embanya. Pemerintah adalah represantasi dari rakyat Indonesia. Mereka dipilih dengan harapan untuk memberikan pelayanan dan memberikan kehidupan yang baik kepada masyarakat. Tapi ironis, karna dalam memberikan pelayanan kepada rakyat justru rakyat dipaksa untuk membayar restribusi. Pemerintah bukan lagi memberikan pelayanan tapi justru diberikan pelayanan.

Pajak adalah sumber pendapatan terbesar bagi negara. tanpa pajak negara tidak bisa berbuat apa-apa. dengan kondisi pemerintah sekarang, mengandalkan alternatif sumber pendapatan negara yang lain adalah hal yang mustahil.

Selain untuk membiayai pembangunan, pajak juga diperuntukan untuk membayar utang negara yang dilakukan oleh pemerintah kepada lembaga keuangan internasional sepeti IMF dan World Bank. lucu, utang pemerintah yang bayar rakyat. Harusnya pemerintah sendiri yang mengusahan bagaimana caranya melunasinya, bukan membebankan rakyat. Bukankah rakyat hanya menerima pelayanan yang baik dari pemerintah? Kalau gitu, apa gunanya pemerintah? lebih baik bubarkan saja pemerintah, bubarakan saja negara. (hehehe...)

Pemerintah bisa saja tidak memaksa rakyat untuk membayar pajak. Pemerintah bisa memanfaatkan sumber pendapatan negara lain, apa bila pemerintah mau. Tapi faktanya pemerintah sengaja tidak melakukan hal itu.

Indonesia terkenal dengan kekayaan alam (SDA) yang melimpah ruah. Namun itu hanyalah identitas yang tak memberikan manfaat yang banyak kepada rakyat dan negara. Jika SDA dikelolah dengan baik secara proporsional oleh pemerintah maka negara tidak perlu mengutang lagi kepada lembaga keuangan internasional dan memungut pajak lagi kepada rakyat. Pemerintah akan mampu berdaulat secara ekonomi. Tapi justru yang terjadi sebaliknya, kekayaan alam hanya menjadi daya tarik negara penjajah untuk menjajah. Mereka (baca: negara penjajah) datang keindonesia dengan tujuan untuk menguras kakayaan alam kita.

Melalui utang yang diberikannya (mereka berkonspirasi dgn lembaga keuangan internasional), pemerintah mempermudahkan jalan mereka di negara kita sehingga lebih leluasa mengeskplorasi dan eksploitasi kekayaan alam yang kita miliki. Dan hasil pengelolaan mereka sebagian besar untuk mereka dan kita hanyalah mendapat sepersekian kecil. Selain itu, negara dibebankan dengan kerusakan lingkungan sebagai imbas dari eksplorasi dan ekploitasi mereka. Kalau demikian adanya, bisa dikatakan sumber daya alam kita adalah sumber daya alam yang terkutuk yang hanya bermanfaat banyak bagi negara penjajah dan menjadi tujuan penjajahan. Akhirnya rakyat tetap harus bayar pajak karna pemerintah tidak mampu mengelolah sendiri hasil alamnya dan lebih diberikan kepada negara penajajah.

Mungkin yang harus kita lakukan adalah melakukan gerakan tidak membayar pajak supaya pemerintah berani mengelolah sendiri SDA yang kita miliki.
Bayar pajak, apa kata dunia?