Minggu, 11 Desember 2011

Ayo...!!! Keluarlah dari penjara itu

Biarkan aku berekspresi
Terkekang oleh realitas yang kalian ciptakan
Teralienasi dalam makna yang ku ciptakan

Aku ingin bebas
Bebas dari ocehan dan realitas

Aku bingung
Bingung yang aku sendiri tidak tahu tentang kebingunganku
Melihat dan mendengar membuatku lelah

Terus terang titik terang itu datang menghampiri
Tapi aku terus disandra oleh keadaan ini
Aku ingin bebas
Bebas, sebebas-bebasnya

Aku ingin berbuat sesukaku
Aku ingin buta dan tuli oleh makna yang ingin kau berikan
Biarkan aku sendri merenung dan bekerja
Ingin kuciptakan duniaku sendiri
Aku tidak butuh kata wah, dari kalian
Bagiku akulah yang paling berhak menilainya.
Sekali lagi AKU INGIN BEBAS



Senin, 28 November 2011

Kesan 27-11-2011

Ada beberapa hal yang berkesan dalam perjalanan hidup kemarin. Awalnya, menghadiri kegiatan yang diadakan di kampus. Kebetulan kegiatannya dilaksanankan dua hari berturut-turut yaitu sabtu dan minggu. Hal ini dilaksanakana mengingat sabtu-minggu adalah hari libur lanjut mencari kekosongan ruangan
perkuliahan .

Kegiatan itu adalah sekolah risert dan kepenulisan yang diadakan oleh pusat studi demokrasi (PSD) UNHAS. Kebetulan saya juga masuk dalam kepengurusan dalam lembaga studi ini. Mekipun peserta kurang dari target tapi kegiatan ini tetap konsisten dilaksanakan. Sebenarnya, kegiatan-kegiatan kelembagaan untuk kondisi sekarang sangat kurang di minati oleh mahasiwa. Tidak hanya di PSD UNHAS, bisa dikatakan semua organisasi (lembaga kemahasiswaan) mengalami penurunan animo.

Langsung saja kehari yang kedua (hari mingu). Dalam perjalanan ke kampus, tepatnya di depan pintu kampus terlihat kerumunan orang dijalan. Tidak seperti biasanya karena ditengah padatnya lalu lintas jalan tiba-tiba macet. Banyak kendaraan yang sedang berjalan tiba-tiba memarkir kendarannya. Hal itu dilakukan karena rasa penasaran tak terkecuali saya.

Ada percikan darah di jalan raya. Dua orang pria menggendong seorang nenek yang sudah tak berdaya lagi. Segera ku dekati, dan membantu menggotongnya. Sangat memprihatinkan, di mulut dan kedua rongga hidungnya bercucura darah. Salah satu kakinya (betis) patah karena pada waktu di angkat bagian kaki akan jatuh karena tulang sudah patah dan satu-satunya penyambung (penyangga) adalah tinggakal daging yang dan kulitnya. Sungguh menyedihkan.

Dalam kepanikan, mimik si nenek seolah tak terjadi apa-apa meskipun mulut dan hidungnya mengeluarkan darah. Saya yakin si nenek belum sadar, dan masih dalam kondisi bingung dan bleng. Keprihatinan itu ternyata tidak dimiliki oleh semua orang. Ketika si nenek di carikan kendaraan untuk di bawa ke rumha sakit tepi jarang supir yang mau mengangkutnya. Saya kurang tahu pasti alasannya, tapi asumsi mengatakan para supir takut. Dan pada akhirnya, sebuah mobil yang mengangkut penumpang mahasiswa segera di berhentikan dengan paksa dan ancaman. Karena seperti supir lain, supir mobil ini tidak mau untuk membawa si nenek dalam kondisi krtis.

Lanjut cerita coy…

Di ruangan kelas, tempat kegiatan berlangsung. Banyak hal yang didapatkan. Salah satunya, bertemu pemateri-pemateri yang cerdas dalam bidangnnya. Terkesima oleh salah-satu pemateri dengan kapasitas intelektual dan retorika yang cukup bagus. Irih, wajar saja karena begitulah manusia. Tapi perlu diketahui bahwa irih memiliki dua wajah. Irih yang baik dan yang buruk atau dilarang. irih yang baik adalah irih melihat orang senang atau mendapatkan kelebihan tapi kita berusaha untuk mendapatkannya tanpa berusaha menghilangkan kelebihan (kebahagiaan orang). Selanjutnya, irih yang dilarang adalah irih yang berusaha tidak senang melihat orang bahagia atau memiliki kelebihan dan berusaha menghilangkan kebahagiaan yang dimiliki orang tadi. Dan alahamdulillah irih yang mengindap saya sampai stadium puncak adalah irih yang baik.

Dengan itu, membenah diri untuk lebih baik adalah hal yang terpenting dalam ruangan kelas itu. Ada beberapa sisi yang harus diterapkan pada pribadiku. Yang terpenting bahwa kita memilki keunikan masing-masing. Kita akan menjadi hebat jika ke unikan(potensi) itu di asah dengan sebaik-baiknya.

Cerita berikutnya, bung…

Malamnya, berkunjung ke kamar kos seorang teman. Sebelum acara kunjungan itu dilakukan, Saya di traktir oleh teman.hehehe. cewek lagi. Cantik lagi. Makanannya enak lagi. Momentumnya pas lagi. Olek lanjut, Saya pergi dengan senior yang baru saja ujian akhir dan alhamdulilah sudah predikat sarjananya sudah didapatkan. Kami bertiga menyepakati untuk beljar bahasa inggris. Sebenarnya yang belajar hanya dua orang, saya dan senior saya karena kami berguru pada seorang teman yang kami kunjungin tadi. Dia seorang mahasiswa sastra inggris UNHAS, satu kampus dengan saya. Kalau kapasitasnya dalam bahasa inggris tidak bisa di ragukan lagi.

Lanjut coy…

Terus terang di kamar kosnya, kepalaku mulai pusing. Itulah penyakit kronis dan laten yang mengindap ditubuhku. Biasanya penyakit ini muncul ketika melihat buku-buku yang menarik dan belum dbaca. Bayangkan saja, di kamar kosnya tertimbun buku yang lumayan banyak baik yang berbahasa inggris maupun Indonesia. Yang inggris kebanyakan dibeli ketika dia ke Amerika dalam program pertukaran pelajar. Banyak buku yang menarik untuk di baca dan waktu yang tersedia didunia tidak cukup untuk menguasai pengetahuan-pengetahuan itu.Selain itu, si teman sastra inggirs ini memiliki kelebihan lain.

Sebenarnya banyak hikma saya dapatkan hari itu. Alhamdulillah Ya Allah.

“Sesungguhnya silih bergantinya siang dan malam ada tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir”. Kalimat ini saya mengutipnya dari islam, kalau bukan Al-Qur’an atau Hadist, Wallahu alam. Singkatnya, kalimat ini mengajak kita mencari hikmah di setiap kejadian di muka bumi ini. Kejadian apapun itu punya makna.




Sabtu, 26 November 2011

Jama’ah shalat jum’at = jama’ah shalat shubu?

Menjelang berapa detik setelah pak imam mengucapkan salam tanda shalat jum’at berakhir, saya kaget melihat keluar masjid. Banyak jama’ah shalat jumat hingga ke teras masjid karena masjid tidak bisa lagi menampung seluruh jama’ah. Tidak seperti
waktu shalat lain (isa, shubu, lohor, ashar dan magrib) yang jama’ahnya rata-rata paling banyak dua saf untuk jama’ah laki-laki.

Kurang tahu secara tepat alasannya. Sejak mengenal islam shalat jum’at begitu diistimewakan oleh kaum muslim. Bahkan banyak yang menyebutnya sebagai hari raya dalam tiap minggu. Tapi kalau berbicara masalah shalat, sesungguhnya semua shalat yang lima waktu (isa, shubu, lohor, ashar dan magrib) itu hukumnya wajib. Orang akan berdosa jika meninggalkan shalat karena tak ada bedanya dengan shalat jum’at. Toh, shalat jum’at hanyalah pengganti shalat lohor di hari jum’at. Hemat saya, banyak kaum muslimin yang belum tahu secara umum hakekat shalat jum’at termasuk saya sendiri, ahahaha. Mungkin jama’ah yang banyak hanyalah sebuah motivasi kultural yang terkonsruksi dalam pikiran setiap kaum muslimin.

Melihat fenomena seperti ini, saya bertanya dalam hati: kapan semua shalat wajib jama’ahnya seperti shalat jum’at? Seandainya itu terjadi apa yang akan terjadi dengan umat muslim? Mungkinkah akan disegani oleh kalangan non muslim? Atau efeknya nanti bagaimana?

Usai merenung sejenak, tiba-tiba teringat seorang non muslim (kalau tidak salah seorang yahudi). Dia seorang pemikir yang disegani, pernah berkata seandainya jama’ah shalat jum’at sama dengan jama’ah shalat shubu maka umat islam akan menjadi kekuatan yang luar biasa dan disegani diseluruh dunia. Pertanyaannya: kenapa yang dibandingkan hanya shalat shubu ? karena shalat shubu adalah shalat yang paling berat dilaksanakan.

Sungguh analogi yang mendalam. Mampukah kita mengikuti saran dari seorang non muslim itu?





Rabu, 05 Oktober 2011

Si kaki satu, inspirasiku

Bagi saya dia adalah orang yang pandai bersyukur. Dia sangat bersahabat dengan sebatang tongkat yang dibawanya setiap kali pergi. Tongkat itulah yang digunakan untuk menyangga tubuhnya agar tidak jatuh. Maklum saja, salah satu kaki laki-laki ini
teramputasi.

Saya melihatnya di dalam masjid. Kebetulan kami shalat berjamaah bersama. Kekaguman itu muncul ketika dia berdiri disampingku untuk memulai shalat berjamaah. Dengan fasilitias tubuh yang kurang (kaki) justru dia penuh semangat untuk bersama menunaikan shalat. Di luar sana banyak orang yang sama kasus dengannya. Namun tak semua juga mampu memotivasi dirinya untuk berkarya. Juga, justru banyak yang tak pandai bersyukur nikmat. Lengkap anggota tubuhnya tapi tidak dimanfaatkan secara maksimal. Mungkin di antara banyak orang itu salah satunya adalah saya.  Astagfirullah.

Saya yakin tak sedikit orang yang putus asa dengan keadaan yang memprihatinkan seperti laki-laki tersebut. Bahkan sering kita mendengar cerita ada yang sengaja mengakhiri hidupnya karna depresi kehilangan anggota tubuh. Tapi bagi seorang laki-laki berkaki satu ini, justru memacunya untuk lebih banyak beribadah. Banyak orang ketidaklengkapan anggota tubuh terutama kaki akan menjadi alasan pembenaran untuk tidak berjamaah di masjid.

Inilah sebuah kekuatan yang sangat besar. Kekuatan yang mampu melawan arus negatif dalam dirinya, yakni perasaan tidak mampu, rendah diri (minder) atau berbagai perasaan-perasaan (pikiran) negatif lainnya yang menghambat. Sebagaimana seorang bijak pernah berkata: sesungguhnya perang terbesar adalah perang melawan diri sendiri (hawa nafsu). Ketika kita mampu melawan nafsu badania yang mengajak kepada keburukan maka sesungguhnya itu sebuah kemenangan yang besar. Bagiku dia (si kaki satu) adalah inspirasiku hari ini dan selamanya. Ayo,,, berkarya.

Sabtu, 01 Oktober 2011

Masjid dan empat bocah pengemis

Ketika shalat zuhur tadi, saya menunaikannya di masjid dekat kos. Saya melihat pemandangan yang menggugah kemanusiaan kita. Ada empat orang bocah tertidur di teras masjid. Entah, karena lapar atau lelah tapi yang pastinya mereka sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak? Pakaian dan badan mereka kumuh dan kotor. Di antara tubuh mereka yang lemas dan tertidur pulas terlihat gelas minuman yang digunakan untuk tempat sedekah dari orang para penderma. Bahkan salah seorang dari mereka terdapat luka-luka yang menempel pada tubuhnya. Dia adalah anak paling muda yang usianya seumuran anak taman kanak-kanak.

Sebenarnya pemandangan seperti ini tak jarang ditemukan di kota tempat saya kuliah (baca: Makassar) bahkan saya bisa pastikan di banyak kota lainpun terdapat hal yang demikian. mungkin karena jumlahnya yang cukup banyak, sehingga banyak orang yang beranggapan bahwa mereka tidak murni adalah pengemis. Kadang mereka punya pekerjaan yang layak tapi mereka lebih suka mengemis karna pendapatannya lumayan besar. Atau ada juga yang beranggapan mereka adalah kelompok yang terorganisir yang menjadikan mengmis sebagai tumpuan hidupnya. Stigma inilah yang sering mereka dapatkan dari sebagian masyarakat.

Terlepas dari stigma negatif demikian, sebagai umat muslim fenomena seperti ini harus memunculkan rasa tanggung jawab. Sebagai implementasi dari perintah agama untuk menjaga hubungan antarmanusia (hablumminannas). Apalagi realitas ini terjadi di teras masjid sebagai simbol islam. Rumah ibadah sebagai tempat selalu disadarkan dan dimunculkan rasah kasih sayang. Umat muslim menghadap Tuhannya melalui shalat dan bertemu umat muslim lain (dalam shalat berjamaah).

Tapi sangat disayangkan, jika rasa kasih sayang itu hanya sebatas dalam ruang masjid saja. Ketika diluar masjid rasa itu memudar dan hilang. Realitas inilah yang saya dapatkan ketika selesai melaksanakan shalat zuhur. Banyak jamaah shalat zuhur yang tak memedulikan empat bocah yang tergeletak di teras masjid tadi. Selesai shalat sebagian besar dari mereka (baca: jamaah) pulang begitu saja. Namun tak juga dinafikan ada juga yang menatapi mereka dengan ekspresi memprihatinkan.

Segera selesai shalat saya langsung meninggalkan masjid untuk mengambil uang (waktu itu tidak ada uang dalam saku). Saya berniat untuk memberi mereka uang karna ekspresi wajah mereka menggambarkan rasa lapar yang sangat. Segera saya membangunkan mereka untuk memberinya uang dan mengajaknya makan siang, (maaf saya tidak berniat untuk riya dan sombong).

Sungguh pemandangan yang paradoks. Harusnya masjid bukan hanya tempat penyaluran zakat (sedekah) untuk diberikan kepada fakir miskin di bulan Ramadhan. Di luar Ramadhan praktek sedekah harus tetap dilakasanakan. Bila perlu uang yang ada di kas masjid segera digunakan untuk memberi makan siang ke empat orang bocah tadi. 

Inilah yang kurang dipahami oleh umat islam. Islam dipahami secara sempit dalam ibadah ritual saja (shalat, puasa, zakat, dan haji) sementara ibadah sosial yang menjadi manifestasi ibadah ritual tersebut tidak dijalankan. Ingatlah ketika nabi Musa as di perintahkan oleh Tuhan agar segera turun dari bukit tursina (tempat diambilnya kita taurat) pasca. Sang Nabi diperintahkan oleh Tuhan agar memperhatikan kondisi sosial yang ada. Dan demikian juga dengan Rasulullah SAW diperintahkan untuk memperhatikan masyarakat saat itu untuk diajak pada kebaikan.

Menemukan solusi

Sekian lama di dera sebuah cobaan. Tak usah ku sebut nama cobaan itu, cukup Tuhan dan saya yang tahu. Dalam menyelesaikannya, saya tak jarang mendialektikakan pikiran dengan intensitas yang ekstrim. Jiwa pun demikian terus bergejolak. Siklus berpikir tiada mendapat titik temu. Kadang terang tiba-tiba gelap kembali. Ahahaha…itu analogi bung. Mungkin bisa dikatakan terjebak dalam lingkaran setan yang tak berujung.

Perasaan mengeluh, itu kadang muncul dalam benakku. Tapi kembali mengingat anjuran agama yang saya yakini bahwa mengeluh tidak menyelesaikan masalah malah sebaliknya. Baiknya, kita ikhlas dan sabar dalam mencari solusi. Berikut yakin setiap cobaan punya nilai positif (hikmah) bagi pematangan pemaknaan kehidupan.

Akhirnya kesabaran membuahkan hasil juga. Tiba-tiba saja, pesan singkat temanku menghampiri telpon genggamku. Dia mengajakku dan teman yang lain untuk ngumpul (rapat) sambil mendiskusikan tentang kegiatan yang akan dibuat. Singkat cerita, kami pun bertemu di sebuah ruang yang cukup ideal. Setelah lama tak bertemu, saya merasa ada yang lain dari teman-temanku. Intelektual mereka semakin bertambah. Banyak bahan didiskusikan dalam forum itu, yang mungkin bisa dikatakan penyumbang tema terbanyak adalah mereka.

Terus terang saya sedikit tersentak. Pikiranku semakin berdialektika tanpa sedikit beraturan. Saya cemburu dengan mereka. Dan mungkin juga irih. Tapi irih yang mengindapku adalah irih yang positif. Irih yang menginginkan seperti yang mereka miliki dan malah harus lebih tanpa berusaha menghilangkan prestasi yang mereka raih. Hal inilah yang semakin memacu diriku untuk semakin belajar dan harus berkarya yang membuat mereka berkata; WAH…!!! Padaku. Itu obsesiku. Saya berusaha semaksimal mungkin untuk tidak takabur dan sombong dengan rencana ini. Mudah-mudahan terwujud, Amin.

Oke.  Kita kembali cobaan yang menderaku, sebagaimana disebutkan di atas. Ternyata salah-satu hikmah yang saya dapatkan dari pertemuan dengan kawan-kawanku. Selain memompa semangat untuk belajar. Ternyata bisa mengalihkan konsentrasi yang sebelumnya terserap oleh cobaan yang mendera. Sayapun terasa legah karena melihat dunia baru di luar kerangka pemikiran sebelumnya. Bagiku inilah solusi atas cobaan yang mendera tadi.

Kanda, dinda, bung, coy, pacarku atau siapapun kau ternyata kadang kita harus keluar melihat masalah dari luar. Supaya kita terbebas dari status-quo alam pikiran yang kadang sumpek sehingga kita menemukan referensi baru sebagai bahan dialektika ide kita.

Alhamdulillah, syukur ku ucapkan.

1 banding 100

Siang itu, ditengah lautan lepas menuju kota bau-bau kami duduk melingkar sambil diskusi di atas kapal penumpang kecil yang semua strukturnya terbuat dari kayu. Maklumlah, ini ciri utama dari transportasi laut di desa terpencil. Tak lupa juga di temani dengan ayunan ombak yang merayu kedua bola mata kami agar membenam. Namun siang itu, ayunan ombak tidaklah mampu menidurkan kami. Mungkin karna konsentrasi kami terlalu di pusatkan pada tema yang menjadi bahan pembicaraan kami dalam forum di atas kapal itu.

Perserta yang gabung dalam forum itu hampir semua adalah anak muda Tomia yang sedang melanjutkan studi ke kota. Yah, mungkin di persempit lagi kalau kami adalah mahasiswa yang akan merantau ke beberapa kota di Indonesia di antaranya adalah kendari, Makassar dan Yogjakarta.

Kami adalah para mahasiswa dari sebuah desa di kepulauan wakatobi, ujung Sulawesi tenggara. Kalau dulu pendidikan bagi kebanyakan anak muda seusia kami kurang mendapat perhatian. Kebanyakan mereka  selalu merantau mencari nafka dengan menjadi pedagang dan buruh, bahkan sampai di luar negeri. Sekarang paradigma telah berubah dengan menjadikan pendidikan sebagai investasi masa depan dibanding hanya berdagang apalagi menjadi buruh.

Jujur saja, saya sangat bersyukur dengan paradigma berpikir masyarakat kampung saya yang mengutamakan pendidikan. Peralihan cara berpikir ini di antaranya disebabkan oleh pengalaman masyarakat (nenek moyang) desa kami yang sulit mencari nafka dengan merantau. Selain itu telah terjadi silang budaya di tempat rantauan sehingga merubah pola pikir masyarakat perantau tentang pentingnya pendidikan. Hal inilah yang menjadi inspirasi bagi orang-orang di desa kami untuk menyekolahkan kami.

Dari banyak celoteh yang keluar dari mulut seorang laki-laki paru baya itu, ada beberapa beberapa kalimat yang berkesan bagi saya. Maklumlah beliau salah seorang diantara banyak orang dikampung saya yang banyak mengetahui asam garamnya kehidupan. Beliau juga telah merasakan bagaimana menjadi seorang pedagang dan buruh rantauan. ‘Kalian adalah calon tokoh di desa kita nanti dan di tangan kalianlah tergenggam masa depan kampung kita’ ucapnya. Kamipun menunjukan rasa empati dengan mengangguk-anggukan kepala. Sambil meneguhkan kopi kemulutnya, dia melanjutkan petuahnya 'Belajarlah dengan sungguh-sungguh karena satu dari kalian adalah sama dengan seratus orang di kampung kita yang tidak sekolah’.

     

Senin, 26 September 2011

Demokrasi tanpa masyarakat demokrat

Ironis, jika negeri yang diberi gelar sebagai negeri paling demokrasi ketiga di dunia kemudian dalam ranah impelentatif-subtantif tidak menampakan diri. Itulah yang terjadi di Indonesia kita. Saya yakin penilaian ini tidak melihat secara komprehensif tentang esensi demokrasi itu sendiri. Kadang
kita terjebak dalam euforia demokrasi yang mengajak untuk bebas berekspresi dalam berbagai mekanisme dan prosedural.

Sungguh sebuah prestasi yang luar bisa bagi Indonesia sebagai papan atas negara demokrasi. Lihat saja, penyelenggaraan demokrasi Indonesia baru memakan usia yang cukup muda. Sebagian kalangan mengatakan bahwa keterbuakaan demokrasi atau dimulai ketika tumbangnya rezim orde baru. Sejak Indonesia merdeka pada 1945, tidak serta merta menyelenggarakan kebebasan berpolitik setidaknya sesuai dengan standar demokrasi yaitu kebebasan yang berkeadilan. Sukarnao dikenal sebagai pemimpin memaksakan kekuasaannya melalui mekanisme keterpmpianan (demokrasi terpimpin). Demikian pula suharto yang tak kalah otoriter, selama lebih tiga dekade memimpin negeri ini dengan tangan besi. Barulah rezim reformasi yang jalankan kurang lebih 13 tahun, maka kebebasan mulai digalakkan malah sampai kebablasan.

Tulisan ini tidak akan mendalam membahas tentang sejarah demokrasi di Indonesia. Hanya akan melihat pada studi kasus yang terjadi dalam ranah sosial di era reformasi.

Baru-baru ini, sebuah kasus yang terjadi di sebuah kota sebut saja kota X di Indonesia. Seorang pemuda dari daerah Y yang sedang mabuk oleh alkohol, menikam lima orang di kota X. Tiga diantaranya meninggal dan yang lainnya dirawat di rumah sakit. Hal ini menimbukan emosi dikalangan masyarakat kota X.

Sebagai pelampiasan emosi, mereka melakukan aksi balas dendam. Karna seorang Y yang menjadi tersangka pembuhan sehingga warga Y lainnya menjadi korban pelampiasan kemarahan yang tidak tahu apa-apa. Hati nurani siapa saja akan merasakan ketidakadilan terhadap warga Y yang bukan tersangka. Ketidak terlibataan mereka tapi justru mereka yang harus menjadi korban kemarahan.

Membicarakan demokrasi berarti membicarakan bagaimana menciptakan keadilan secara rasional. Sungguh hal yang mencederai demokrasi jika konflik sosial dilandasi oleh sentimen suku. Demokrasi bukanlah kepentingan pihak manapaun melainkan kepentingan kemanusiaan secara universal. Melihat kasus di atas, perlu kiranya melakukan tinjauan ulang tentang predikat Indonesia sebagai negara demokrasi ketiga. Sangat dini menjadikan prosedural demokrasi sebagai prioritas bahkan satu-satunya indikator kesuksesan demokrasi. Keterjebakan kita melihat parameter demikian menjadikan kita dangkal dalam memaknai demokrasi.

Salah-satu parameter demokrasi adalah adanya kecerdasan sosial masyarakat (civil society). Dalam tataran ideal, konflik sosial seperti ini tak perlu terjadi. Apalagi mengatasnamakan suka, agama, antargolongan dan ras (SARA). Konflik mengindikasikan ketidak mampuan merasionalkan secara adil hubungan sosial kemasyarakatan. Bahkan mungkin tak salah banyak pihak yang mengatakan konflik adalah ciri masyarakat tradisional (primitif) dalam memecahkan permasalahannya. Seandainya masyarakat cerdas secara sosial tidak akan ada reaksi yang berlebihan demikian.

Masyarakat demokrat secara kultural adalah masyarakat yang beradab. Pemikiran akan dijadikan langkah yang rasional dalam melihat kasus seperti ini. Sehingga konflik akan diretas dengan dialog yang akan mempersatukan kesepahaman. Dan masyarakat lainpun tidak akan menjadi imbas kekerasan. Coba bayangkan bagaiamana negeri ini jika dalam menyelesaikan masalahnya selalu dengan kekerasan. Inikah demokrasi yang katanya dalam negeri yang paling demokrasi ke tiga.

Pertanyaan kemudian, layakkah Indonesia mendapat gelar sebagai negeri paling demokrasi ketiga di dunia???

Jumat, 23 September 2011

Tomiaku, ternyata kau begini

Ternyata apa yang selalu dikhwatirkan oleh mereka terjadi juga. Mungkin ini adalah sebuah kemutlakan dalam dinamika zaman. Banyak para ahli pemikr social telah mengatakan bahwa kita akan sampai pada fase kehidupan industrial. Fase kehidupan yang ditandai dengan penggunaan tekhnologi dalam banyak aktivitas manusia.

Inilah moderenisme kawan. Sebuah keyakinan baru tentang dunia. Dunia yang semua orang akan tak terhindar darinya. Ilmu pengetahuan dan tekhnologi dalam fase ini adalah sebuah hal yang tak terelakan. Manusia serba cepat dan praktis.

Fenomena ini memiliki dua hal yang selalu bertentangn. Yaitu dampak positif maupun negative. Yah, disini akan menyinggung sedikit hal negative yang dikhawatirkan seperti yang disebutkankan sebelumnya.

Beberapa waktu yang lalu aku mendapati seseorang. Dia adalah nara sumberku perihal sesuatu dalam hal ini realitas sosial di kampong halamanku. Lebih khusus lagi terkait dengan moral anak muda. Terus terang akau kaget mendengar ceritanya. Hal yang dulu sangat tabu untuk diperbincangkan apalagi untuk dilakukan sekrang menjadi hal yang lumrah.

Kita langsung saja pada kasus di masyarakat. Bahwa pergaulan bebas yang melahirkan seks bebas (free sex) telah menjadi wacana yang berkembang di masyarakatku (Tomia, red). Pastinya wacana ini lahir karna adanya indikasi yang tampak di masyarkat sehingga orang membicarakannya. Ternyata hal itu benar seperti pengakuan seseorang (nara sumber) yang saya wawancarai. Dia menceritakan banyak hal terkait pergaulan bebas yang terjadi. Kebetulan dia juga adalah salah-satu subjek yang terlibat dalam kasus ini.

Dia (subjek yang bercerita) dengan terang-terangan menceritakan pada saya tentang apa yang telah dilakukan. Sebelumnya perlu di ketahui bahwa tulisan ini akan bercerita tentang narasumber ketika berada di bangku sekolah menengah atas (SMA).

Mungkin bahasa kasarnya”zina”. Itulah yang fenomena yang masih jarang diketahui oleh orang banyak (masyarakat tomia, red) namun sering terjadi dakalangan siswa SMA. Ketika dulu, saat masyarakat masih tradisional kasus seperti ini jarang terjadi dikalangan muda mudi. Dan jika hal itu terjadi maka dianggap sebagai hal yang tabu dan dosa besar. Namun sekarang ini telah menjadi hal yang lumrah terjadi.

Si subjek mengaku telah melakukan seks bebas dengan sepuluh wanita sebayanya dan adik kelasnya. Hal itu dilakukan di sekolah ketika suasana sekolah sunyi terlebih di malam hari. Di luar sekolah yang sunyi dari masyarkat juga sering mereka dilakuakan. Bahkan di dalam kamar, parahnya lagi sementara ada orang tua di dalam rumah. Yang mengherankan dari sepulu wanita (anak SMA) yang merupakan lawan jenisnya ennam diantaranya sudah pernah melakukannya sebelumnya (maaf, tidak perawan lagi) dan empatnya masih perawan. Sungguh hal yang mengagetkan.

Inikah tomia yang saya kenal dulu. Tomia yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman yang tinggi. Kini ternyata hanyalah romantisme yang telah berlalu. Terus terang saya kaget dengan kabar ini. Ternyata budaya seks bebas telah menjadi budaya popular dikalangan pelajar Masyarkatku.

Setelah digalai leibh dalam lagi ternyata salah satu faktor pemicu adalah konsumsi film ‘porno’ melalui ponsel genggam. Tentunya bukan hanya faktor ini namun disini tidak akan dibahas secara komprehensif. Disini hanya menjelaskan permukaan tanpa menggalinya lebih dalam.
Inilah dampak negative dari moderenisasi. Moderenisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi telah menghasilkan nilai-nilai baru yang asing. Seperti pengakuan si subjek bahwa pengaruh tontonannya melalui telepon genggam (HP) sehinggga mereka mempraktekannya. Sungguh memiriskan.

Tuhan Tolong Kami. Sadarkanlah kami bahwa masyarakat kami tidak sedang baik-baik saja. Berikanlah saya kekuatan untuk merubahnya. Amin

Kamis, 21 Juli 2011

Wan, aku merenung sejenak

Wan, hari ini Tuhan memberimu rahmat kembali. Tuhan begitu tidak bosan-bosannya memberikanmu rahmatnya. Ditengah hiruk pikuknya hegemoni kapitalisme yang telah menembus batas-batas peradaban sehingga secara perlahan mengiskis kesadaran yang hampir habis, Tuhan masih peduli denganmu. Padahal
begitu banyak dosa yang kamu perbuat dan begitu banyak juga perintah yang engkau tak indahkan.

Wan, mungkin inilah yang di inginkan oleh seorang pakar pendidikan dari brazil, Paulo Freire yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan sebenarnya adalah membangkitkan kesadaran. Btul, dalam kondisi ini saya spakat. Apalah arti dari pendidikan jika tidak dapat digunakan untuk membebaskan. Karna pendidikan bukanlah barang yang polos yang tidak mampu diwarnai oleh kepentingan. Selain itu pendidikan adalah sebuah alat atau media untuk memindahkan kepentingan dan mempertahankannya.

Wan, poin kedua inilah yang saya takutkan. Jangan sampai arus globalisasi ini yang dimana kesadaran kita telah didominasi oleh kesadaran pasar yang sangat bebas telah menghilangkan jati diri kita yang sesungguhnya. Mungkin inilah yang menimpaku sekarang. Aku hampir tidak mengenal aku sebagaimana aku yang sesungguhnya. Aku yang memiliki kekuatan hasil delegasi dari Tuhan yang Maha hebat, sehebat-hebatnya. Kekuatan itu termanifestasi dalam potensi diri yang seharusnya terus digali dan diasah kemudian digunakan untuk diri dan kemaslahatan umat. Aku hampir lupa tentang itu dan mungkin bisa dikatakan lupa.

Wan, Tuhan semua makhluk, kini menyapamu lebih dekat lagi sebagaimana kau rasakan dan lebih dekat dari urah nadi lehermu. Tuhan yang selalau mencurahkan kasih dan sayangnya dalam setiap waktu dan tempat yang diciptakan-Nya. Wan, saya yakin pergolakan batin dan pikiran yang kau jalani terus menerus kini telah membuahkan hasil meskipun mungkin belum sempurnah tapi syukurilah karna itu kepedulian Tuhan denganmu. Tuhanmu akan menambahkan dan akan terus menambahkan rahmatnya kepada hamba-hambanya yang bersyurkur.

Wan, sedikit aku mengambil lirik lagu bang iwan. Beliau berkata: ambil hikmanya-ambil indahnya. Inilah mungkin yang harus saya lakukan, wan. Maafkan jika aku salah karna aku mendapakan sebuah pengetahuan yang berharga. Wan, sebenarnya pengetahuan ini telah kau dapatkan dalam proses-proses lain tapi mungkin kau lalai untuk menjalankannya. Pengetahuan itu hanya sangat kecil yang tak mampu aku bayangkan jika dibandingkan dari ilmu Tuhan pemilik jagad raya ini.
Wan, dalam perenungan itu saya diajarkan tentang fokus pada tujuan atau cita-cita atau target atau apalah nama yang sejenisnya. Wan, kini aku sadar dan harus menjalankannya. Wan, aku dan kamu harus berdoa terus-menerus kepada Tuhan mudah-mudahan rahmatnya selalu ternaungi dalam kehidupanku.

Wan, aku ingin menangis.

Makassar, 21 Juli 2011

Wan, Aku menyapamu

Wan, mungkin inilah panggilan barumu dalam dunia kita. Dunia yang hanya kita yang tahu dan Tuhan yang Maha tahu. Maaf salama ini kita tidak berkontempelasi dalam dunia virtual ini. Akau tidak mencoretimu dengan ide-ide dalam peikiranku. Wan, aku
ingin berkata padamu bahwa kita telah terkuasai oleh efek globalisasi yang sangat berpihak pada kekuatan modal. Dasyatnya sampai ketubuh kita bahkan kedalam rongga-rongga sel tubuh.

Wan, kita dimalaskan oleh kekautan asing kekuatan lingkungan. Yang saya mau katakan lagi padamu wan, ini kekuatan dasyat di era modern dan banyak yang bilang posmoderen. Wan, saya tidak mau munafik bahwa kita ini mahluk bebas merdeka. Artinya kita berpotensi untuk menang dalam segala pertarungan hidup. Namun kekuatan lingkungan juga sangat perpengaruh sebagai komponen dialektika kehidupanmu. Dan wan, kini kekuatan sekitarmu telah mengalhkanmu. Mungkin saya bisa berkata demikian.

Wan, lihatlah secara terang-benderang kalau media blog ini dalam beberapa bulan tidak kunjung di goresi ole hide-idemu. Mungkin seperti di ataslah alasannya. Wan, kini kau sadar dan tidak lain Tuhan menyadarkanmu tentang hal ini. Wan, apakah kamu berjanji padaku? Berjanjilah untuk konsisten dalam perjuangan ini? Mungan istilah perjuangan terlalu radikal. Hehehe… tapi perjuangan itu banyak jenis dan saya pikir inilah salah-satunya. Wan saya kira engkau sudah mengerti yang saya maksud.

Wan, malam mini tepatnya pukul 01:40 waktu tamalanrea, Makassar atau WITA aku menulisnya dengan perasaan seolah dilimuti oleh rahmat Tuhan yang begitu luar biasa.

Wan, marilah kita bersyukur pada Tuhan semesta alam ini.

Makassar, 21 juli 2011

Sabtu, 30 April 2011

Rumah sakit, tempat merenung

Ketika kita kerumah sakit maka asumsi orang mengatakan bahwa ada yang sedang berobat. Memang hal itu tidak dapat dipungkiri. Karna dari namanya saja “rumah sakit” artinya rumah tempat orang sakit.

Dalam rumah sakit saya melihat banyak manusia-manusia yang mengeluhkan keadaan dirinya. Mereka mengungkapkan
pada perawat bahwa dirinya sendang tidak dalam keadaan baik. Hal inlah yang membuat saya harus mengucapkan syukur kepada Tuhan atas kesehatan yang diberikan karna saya tidak seperti yang tergelatak diruang perawatan menunggu datangnya rasa sehat. Banyak orang yang ingin sehat namun kesempatan itu kadang mereka tidak dapatkan. Banyak pula yang ingin merasakan indahnya hidup dengan berkativitas namun lagi-lagi harus menanggalkannya karna kondisi tubuh yang kurang mendukung.

Setidaknya inilah hal positif yang saya dapatkan dari rumah sakit. Kalau sebelumnya kita menganggap rumah sakit adalah tempat yang paling tidak disukai oleh banyak orang maka bagi saya di sini pula tempat untuk melakukan perenungan untuk mensyukuri hidup. Begitu bnayak orang yang tergeletak di atas ranjang tempat tidur. Sedang di luar sana banyak pula yang menikmati kesehatannya dengan melakukan hal yang sia-sia bahkan merugikan orang lain.

Melihat realitas kehidupan seperti ini, maka kadang-kadang perlu kiranya kita mengunjungi rumah sakit melihat kehidupan di dalamnya. Meskipun mungkin banyak orang yang tidak menginginkannya karna rumah sakit selalu di gambarkan sebagai sesuatu yang menakutkan. Namun itulah yang harus menjadi bahan renungan. Karna di balik pelabelan demikian terdapat hal yang dapat menyadarkan kita.

ku tulis di rumah sakit, sambil menemani dia yang sakit.

Kamis, 21 April 2011

Ingin ku

Membaca beberapa artikel yang dimuat dalam sebuah blog pribadi, aku terkagum-kagum. Sungguh memberikan pencerahan. Saya juga kembali tersadarkan bahwa pengetahuan itu sangat luas. sehingga hasrat untuk memiliknya semakin bertambah.

Sekarang aku harus lebih tekun lagi dalam mencari pengetahuan. Pengetahuan yang ada di alam semesta sangat luas dan sekalipun kita hidup beribu-ribu tahun pasti kita belum mampu untuk mendapatkannya. Menurut
seorang ahli bahwa alam semesta ini ada telah bermiliar tahun sedangkan kehidupan manusia baru hanya sekian juta tahun. Artinya ilmu pengetahuan yang belum terjangkau oleh manusia masih sangat banyak. Dalam sebuah ceramah-ceramah agama pun selalu dianalogikan begitu luasnya ilmu Tuhan karna meskipun lautan menjadi tinta untuk menuliskan ilmu-ilmu itu, maka sampai habispun tak akan mampu menuliskan semua ilmu Tuhan.

Tapi aku kadang terkendala dalam persoalan kenyamanan belajar. Salah-satunya bagaimana menciptakan kondisi yang tepat. Baik kondisi internal dalam diri maupun eksternal (lingkungan). Mungkin akau harus mengikuti saran seorang teman bahwa kenali dulu tipe belajar agar kamu lebih nyaman dalam belajar. Namun saya tidak tahu secara pasti tipe belajarku. Tapi yang pastinya aku akan mencari kenyamanan dengan caraku sendiri (autodidak).

Ayo belajar...!!!

Selasa, 19 April 2011

Sebuah keraguan

Ingin ku menggapai bintang
Namun aku ragu,
Ragu apakah aku mampu
Ataukah hanya menjadi keinginan untuk memeluk gunung
Tapi apa daya tangan tak samapi

Aku ingin bebas dari belenggu
Belenggu yang pernah di rasakan oleh Romeo dan
Juliet
Yang kadang telah keluar menjebol dinding logika akal sehat
Yang selalu bergejolak menuju titik kedamaian

Haruskah ini berakhir dengan kepedihan ataukah kedamaian
Aku hanya ingin kamu tahu tentang belenggu ini
Belenggu yang membatasi jiwa yang bebas
Jiwa yang ingin menari seolah tak ada yang melihat
Jiwa yang ingin bernyanyi seoalah tak ada yang mendengar
Atau jiwa ingin mencintai seolah tak ada yang menolak apalagi membenci

Wahai sang pencinta
Saya ragu apakah ini salahku?
Apakah ini juga salahmu, yang menampakan sosok yang indah
Aku takut dan tidak mau semua orang mempersalahkanmu
Salah karna kehadiranmu sebab dari gejolak ini
Dan mereka perlu tahu
Bahwa aku akan menjadi pahlawan untuk melawan mereka demi engkau
Karena aku untukmu

sekolah yang membosankan

Di belantara kampus unhas, begitu ramainya mereka hilir mudik. Mereka bisa dikata adalah penghuni selama beberapa tahun di tempat itu. Tiap hari aku melihat mereka dalam kesibukan, entah apa yang dikerjakan. Temanku bilang: begitulah mahasiswa. Tapi terus terang saja, kadang akau bosan melihat mereka. Sok atau apalah bahasanya. Yang pastinya mataku sepertinya alergi melihat tingkah mereka. Kalau saya beranalogi, ibaratnya mereka terlalu berbicara tentang fungsi air sementara tenggorokan mereka telah kering karna tidak meminum air yang didiskusikannya. Apalagi untuk memberikan kepada orang-orang yang dahaga disekitarnya.

Selain itu, kadang aku berpikir ingin menghancurkan semua termasuk tempat ini. Aku ingin
keluar segera dari tempat ini tapi aku tak kuasa. Masih dibelenggu oleh persepsi dan budaya yang selalu melekat dan susah untuk dilepaskan. Tapi yang pastinya ini bukan yang kuharapkan.

Ingin egeois untuk menjeneralisasikan semua, bahwa semua lembaga pendidiakan formal terlalu otoriter. Tapi memang begitulah faktanya. Memaksakan dan menyeragamkan kehendak yang banyak menindas itu. Dia merasa Tuhan yang tau akan semua termasuk kami tak terkecuali saya sebagai penghuni kampus yang sesak dengan retorika palsu ini. Bagaiman tidak? Mereka egois untuk tidak mengajak kami untuk mendiskusikan mana yang baik dan apa kebutuhan yang tepat.

Mereka telah mematok kami agar mengikuti alur pikiran mereka. Dari yang paling atas sampai ke bawah. Mungkinkah mereka tidak tahu atau pura-pura tidak mengerti kalau kami ingin dinamis dengan cara kami sendiri. Janganlah mereka mengarahkan secara sepihak mengikuti rencana mereka. Mencetak kami menjadi manusia-manusia yang seragam melalui kurikulum yang diseragamkan pula. Mengurung kami dalam sebuah ruang formal yang di batasi oleh dinding-dinding yang tidak peka dengan keadaan sekitarnya. Banyak tangisan, jeritan atau semua yang sejenisnya terhalangi oleh dinding tembok yang tak ber-prikemanusiaan.

Aku ingin bebas. Bebas menari seolah-olah tak ada yang melihatku. Aku ingin bernyanyi sekeras-kerasnya seolah-olah tak ada yang mendengarkanku. Aku juga ingin terbang bebas ke angkasa nan jauh tinggi disana melintasi cakrawala kehidupan dan melepaskan semua belenggu yang mengikat. Biarlah aku terbang mencari apa yang ku inginkan mencari pelepas dahaga intelektual. Aku tidak terlalu percaya dengan penawar yang ada dalam ruang-ruang formal itu. Bahkan aku muak melihatnya tatkala dia berdiri megah sementara di sampingnya banyak gubuk-gubuk yang akan roboh tatkala angin sepoi berhembus.

Aku ingin bebas. Aku tak mau seperti burung dalam sangkar emas yang indah itu. Banyak yang kagum dengannya karna berada pada sangkar emas yang mengagumkan itu. Tapi mereka yang kagum itu tidak tau keadaan yang sebenar-benarnya bahwa sang penghuni sangkar terkekang dalam sangkar tempat ia berada.

Sekali lagi aku ingin bebas.

Senin, 18 April 2011

Cinta: damai atau benar

Ini hanyalah sebuah rekayasa cinta. Terjebak dalam kolonialisme cinta adalah sebuah penjara yang tak mampu diselesaikan dengan revolusi fisik. Aku putuskan sekarang, kalau aku akan bersama hegel dalam hal ini. Aku butuh anti tesis dalam dialektika makna ini untuk menghancurkan kerasnya tembok cinta yang abstrak.

Sebuah anugerah dan mungkin juga adalah kemutlakan pada manusia ketiaka berbicara
cinta dan memilikinya. Cinta adalah sebuah anugera yang melekat pada setiap insan manusia yang menginginkan kedamaian. Karnanya cinta tak mengenal dimensi waktu dan siapa dia. Karna dia akan menghampiri siapa, kapan dan dimana saja.

Retorika cinta kadang membuat semua menjadi lazim yang sesungguhnya penuh dengan jebakan yang penuh dengan kepedihan. Manis tapi tak bersubstansi atau antara kedamaian dan kebenaran. Tak jarang orang memilih kedamaian yang menjanjikan kebahagiaan itu. Begitu banyak kamuflase untuk menutupi kebejatan cintanya dalam bungkusan kedamaian. Ternyata bagaikan lebah yang di depannya membawa manis namun dibelakang membawa racun yang mematikan.

Akhirnya kalimat ini terucap juga dari mulut mereka yang telah merasakan pahitnya kedamaian yang dijanjikan. Kenapa aku tak memilih kebenaran? dalam jeritan dia mengikhlaskan kalimat ini terucap. Ini adalah ekpresi kekalahan sebagai tanda penyesalan.

Mereka terlalu menjanjikan cinta melalui kedamaian namun kebenaran telah mati olehnya. Sedang kebenaran yang akan membawa cinta dan kedamaian itu telah terpasung dalam nikmat yang sesaat.

Minggu, 10 April 2011

Tentang malam menanti embun pagi

Hari ini, pagi kembali menemuiku. Senyum mentari membuatku silau. Aku ingin marah karna dia menggangu dan menghentikan mimpi. Mimpi yang melarikan aku dalam genggaman malam. Tapi aku harus berbalik dan kembali menyapanya dengan senyuman. Karna ini bertanda aku keluar dari malam yang membosankan itu.

Meskipun dinginnya embun serasa membekukan tangan namun gelapnya malam yang baru aku
lewati seolah menghapus dingin pagi ini. Gelap yang tak kulihat ada dimensi materil karna mereka selalu berdialektika dalam makna. Makna yang selama ini mereka koar-koarkan namun tak mampu membuat apresiasi atau setidaknya memaksaku berkata wah,,,!!! Justru sebaliknya.

Aku bosan sayang. Untunglah kau meninggalkan aku. Aku tak mau kau bersamaku. Aku tidak mau melibatkanmu dalam ruangan yang fatamorgana itu. Telingaku bising oleh retorika yang mereka umbarkan. Harusnya malam itu adalah momentum melepasakan segala kepenatan namun yang terjadi sebaliknya.

Untunglah kau segera meninggalkan aku, dia, mereka dan ruangan yang sedikit ucapan manis yang biasa kita dapatkan. Aku ingin lari meninggalkan malam, namun waktu tidak memihak padaku. Bukannya aku tak ingin bersamamu dan saya yakin kau dan mereka juga demikian. Tapi inilah realitas yang memaksa untuk dijalani.

Sekali lagi aku bosan sayang. Tapi biarlah itu menjadi kenangan pahit dalam sejarah kita. Biarlah embun pagi ini hilang oleh cahaya mentari yang semakin meyengat. Namun ada hal yang harus kalian tau dan juga kamu. Saya tak ingin hilangnya embun pagi ini akan menghilangkan rasa sayang ini. Aku sayang kalian semua, terlebih kamu.


Jumat, 08 April 2011

Hujan, dingin dan ayam di malam hari

Seperti ada yang melempar kerikil ke atap kamar kos, ternyata dugaanku yang salah. Yang terjadi malam itu adalah awan yang menumpahkan airnya ke bumi. Malam yang semakin dingin di tambah dengan guyuran angin malam dan hujan. Sambil mendengar insrumen musik bertanda sedang menenangkan badan dan pikiran yang terasa jenuh.

Ayam yang saling bersahutan menandakan adanya sebuah tanda dalam perputaran waktu kehidupan. Kalau orang tua kampung mengatakan
sebagai terjadinya pergantian waktu ke jam berikutnya. Mungkin itu benar, karna betepatan selesainya mendengar teriakan ayam yang berbunyi “kukkuruyuuukkkk…..” itu saya kembali mendengarkan detak bunyi jam dinding. Gerakan refleks tanpa di sadari ternyata pandanganku telah tertuju pada jam dinding. Dan jarum pendeknya menunjuk angka 1 (satu) malam dan jarum panjangnnya menunjuk angka sedikit melewati angka duabelas.

Ternyata bunyi layaknya orang melempar kerikil ke atap kos tadi tiba-tiba lenyap. Namun segala yang di bawanya tak ikut bersama lenyapnya bunyi itu. Dinginnya yang menusuk sampai ke tulang masih tetap terasa. Sedikit ingin kesal dan protes pada hujan yang tak bijaksana. Bagai mana tidak? Dia meninggalkan dingin dan tak dibawa pergi.

Ah, tak ada guna aku memikirkannya. Mungkin mantra pak ustadz harus aku gunakan. Bahwa ikhlas atas kejadian yang menimpamu tatkala ikhtiarmu telah maksimal. Akhirnya, singkat kata keinginan protes karna tidak terima akhirnya hilang dengan sendirinya bagai hilangnnya bintang langit ketika mentari menampakan wajhnya di ufuk timur.

Mungkin inilah hikmah yang tejadi pukul 1 malam itu. Bukankah Tuhan pernah berkata kalau ada tanda-tanda bagi manusia yang berpikir pada perputaran siang dan malam?. Tuhan memberi ilmunya melalui bacaan pada alam semesta. Tuhan menyuruh kita untuk membaca semua fenomena kehidupan di alam semsta ini. Oleh karna itu bacalah karna ayat-ayat Tuhan sungguh luas ini.

Ditulis di Makassar, pada tanggal 5 April 2011.


Jumat, 25 Maret 2011

Aksi lawan neoliberalisme di wakatobi

(aksi melawan neoliberalisme di wakatobi/ foto: koleksi galaksi makassar)

Pernyataan Sikap
Gerakan Penyelamat Demokrasi (GALAKSI)-Makassar

Sesungguhnya, Indonesia memiliki potensi kekayaan alam yang kaya raya, makanya tak aneh bila Indonesia dijuluki sebagai zamrud khatulistiwa. Potensi kekayaan alam
Indonesia antara lain, kekayaan hutan, perkebunan, kelautan, BBM, emas dan barang-barang tambang lainnya. Menurut data, Indonesia memiliki 60 ladang minyak (basins), 38 di antaranya telah dieksplorasi, dengan cadangan sekitar 77 miliar barel minyak dan 332 triliun kaki kubik (TCF) gas. Kapasitas produksinya hingga tahun 2000 baru sekitar 0,48 miliar barrel minyak dan 2,26 triliun TCF. Ini menunjukkan bahwa volume dan kapasitas BBM sebenarnya cukup besar dan sangat mampu mencukupi kebutuhan rakyat di dalam negeri.

Seperti halnya di kabupaten WAKATOBI-SULAWESI TENGGARA, selain memiliki kekayaan sumber daya alam laut, ia pula memiliki gugusan pulau-pulau indah yang sudah barang tentu menjadi incaran investor dalam dan luar negeri untuk menguasainya. Namun sekali lagi aset daerah yang sudah pasti dapat menjamin kualitas PENDIDIKAN, KESEHATAN dan SARANA PUBLIK yang lainnya sama sekali tidak dimanifestasikan sepenuhnya pada rakyat WAKATOBI. Diberbagai daerah bahkan belahan dunia yang lain, nama WAKATOBI bukanlah sesuatu yang asing ditelinga para pemburu keindahan, karena WAKATOBI melalui Bupati HUGUA dan beberapa mesin Jasa Wisata yang Ia miliki, dipasarkan secara total dan tanpa tanggung tanggung. Tak Heran beberapa pulau dari gugusan kepulauan WAKATOBI telah menjadi daerah privat yang sulit diakses oleh nelayan tradisional dan rakyat yang ingin mencari makan.

Pengambilalihan pengelolaan kawasan konservasi laut oleh lembaga-lembaga internasional The Nature Conservation (TNC), World Wild Foundation (WWF) dan Conservation International (CI) dalam skema CTI sebenarnya bertentangan dengan Pasal 33 ayat 1, 2, dan 3 UUD 1945 yang menempatkan peran negara sebagai pengelola utama kekayaan alam dalam bumi dan air telah bertolak belakang dengan keadaan wakatobi saat ini. Sebagai contoh, telah bercokolnya salah satu perusahaan asing PT Wakatobi Dive Resort yang dikelolah oleh Mr. Lorenz Mader salah-satu kapital asal negara Swis. Disatu sisi pemerintah malah bangga dengan aturan ini dan malah memberikan legitimasi. Ditambah lagi justru ada oknum pemerintah yang terlibat dalam privatisasi sumberdaya alam wakatobi.

Dengan momentum pemilukada wakatobi yang merupakann momentum baru untuk menentukan perubahan nasib wakatobi kedepannya. PILBUP (Pemilu Bupati) dan PILWAPUB (Pemilu Wakil Bupati) di Wakatobi bukanlah sekedar momentum pergantian rezim politik. PilBup dan PilWaBup adalah momentum terjadinya perubahan total atas terpenuhinya kesejahteraan rakyat, berdirinya kedaulatan, dan tegaknya kemandirian nasional sebuah daerah.

Terkait dengan hal tersebut di atas maka kami dari GERAKAN PENYELAMAT DEMOKRASI (GALAKSI)-Makassar menyatakan sikap sbb:

1. lawan neoliberalisme
2. Hilangkan intimidasi hak politik
3. ciptakan pemilu cerdas di wakatobi
4. tinjau ulang kontrak karya dengan pihak asing di wakatobi
5. tolak money politik
6. lindungi dan berikan hak akses bagi nelayan tradisional dalam mengelola wilayah tangkapannya
7. ciptakan lapangan kerja
8. transparansi birokrasi pemda di wakatobi
9. selamatkan kearifan lokal di wakatobi
10. tinjau ulang zonasi perairan laut di wakatobi
11. sediakan transportasi laut lintas wakatobi
12. buka akses komunikasi dan informasi
13. mendesak KPUD WAKATOBI untuk bersikap netral
14. hilangkan kolusi dan nepotisme
15. tolak privatisasi pulau di wakatobi
16. hapuskan rasisme di wakatobi
17. permudah akses pendidikan dan kesehatan

Sabtu, 19 Maret 2011

Hati-hati, ada rutinitas

Berawal dari rutinitas yang terus menerus. Sebenarnnya rutinitas memiliki dua sisi. Pertama, sisi posistif dimana kita tidak perlu lagi repot untuk mempersiapkan pekerjaan itu. Selain itu tidak lagi membutuhkan pemikiran yang lebih karna pekerjaan itu sudah sering dilakukan. Kedua, sisi negatif dimana daya kereativitas kita akan terbunuh. Kita terjebak pada
aktivitas yang telah biasa kita lakukan sehingga merasa terlena dan tidak ingin lagi untuk berkreasi. Tak lupa pula, rutinitas ini berpotensi menjadikan kita merasa kebosanan.

Oleh karena itu hati-hatilah dengan rutinitas. Jika anda sudah dan tengah dalam rutinitas pekerjaan maka berhentilah sejenak. Kemudian lihatlah apa yang anda lakukan. Sadarilah bahwa anda punya banyak kreativitas. Dan gunakanlah itu untuk mengkreasikan yang selama ini anda lakukan.

Salam

Rabu, 16 Maret 2011

Menerka-nerka kehidupan

Sore ini, matahari yang semakin menjauh dari ingar-bingarnya siang hari. Seperti matahari, mereka pun berjalan kembali dalam rutinitas. Suara kendaraan bermotor terus-menerus membuat suasana menjadi bising. Inilah tanda bahwa dunia sedang dilanda modernitas. Tapi itulah keadaan yang sulit terhindar. Dunia yang sudah dipenuhi dengan sesakan tekhnologi modern yang tak jarang membuat kehidupan menjadi tak nyaman.

Kehidupan yang terus bergulir mengharuskan pikiran juga terus bergulir. Kadang orang tidak
percaya dengan dialektika hegel dan juga marks. Tapi biarlah mereka melakukannya karna itulah dialektika. Aku juga kadang mempercayainya dan juga tidak. Tapi inilah dialektika yang harus aku yakini.

Kadang semua ragu tentang semua hal. Seperti halnya Rene Deskartes yang meragukan semua hal. Namun keraguan itu tidak selamanya menghingapinya. Hingga ia berkata pada dirinya bahwasanya “saya ragu akan segala hal tapi aku tidak ragu kalau aku sedang ragu”.

Tapi tidak bagi para sophie yang meragukan semua keberadaan. Aku yakin ungkapannya adalah sebuah keyakinan. Namun haruskah mereka tidak menyakini ungkapannya sebagai keberadaan? Pertanyaan ini harus mereka jawab dengan objektif. Yah, meskipun kata seorang teoritikus, tak ada yang objektif di dunia ini yang ada hanyalah subjektivitas.

Meskipun para sophie bersikukuh dengan keyakinannya tapi haruslah mereka sadar tentang keyakinan dan keberadaannya sebagai sebuah kebenaran. Dan aku yakin seperti halnya Al-Ghazali yang pernah ragu, demikian pula rene deskartes, kalau mereka tahu akan hal itu yang selama ini mereka nafikan. Hingga kalimat yang terlantun itu: “Tidak ada yang ada yang ada hanyalah ketiadaan” akan ditinjau kembali. Ibarat Murtadha Muthahari (seorang ulama revolusioner Iran) dalam sebuah analogi dia berkata: “Mereka berada di atas sebuah ranting pohon yang kemudian mereka sendiri menggergajinya dan jatulah mereka”. Dengan ini haruskah mereka tetap ragu???

Aku sadar kalau sekarang aku terlalu berwacana tentang keraguan terhadap sebuah epistemology. Meskipun aku berbicara tentang keraguan tapi kadang juga terjebak dalam keraguan itu. Ah, lupakanlah semua keraguan itu. Aku yakin silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir.

Aku terus berkhayal hingga matahari kian meredup dan ingin hilang dalam pandanganku. Kadang aku bertanya, kenapa dia harus meninggalkan siang dan mengejar malam. Begitu pun sebaliknya. Siapakah yang menyuruhnya? Dan apa motivasinya? Mungkinkah dia hanya menjalankan misi khusus di siang hari? Trus, kenapa dia tidak menampakan dirinya pada malam hari?

Mungkin juga dia takut akan keberadaan bintang malam dan bulan. Takut keduanya mencapnya sebagai makhluk sombong karna silaunya meyinari bumi. Atau mungkin juga mereka ingin merasakan bagaimana rasanya memberikan penerangan pada kehidupan di bumi.

Aku bosan dalam dialektika ini. Biarlah mereka melakukan itu, siang tampak dan selalu berganti dengan malam. Dan lagi-lagi aku harus kembali berkata pada diri sendiri dan kepada semua bahwa:

“Sesungguhnya silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir”

Minggu, 13 Maret 2011

Mendefinisikan cinta dalam cinta

Mungkin jasad ini tak bisa bersamamu
Biarlah ku biarkan jiwa ini brada dalam liarnya alam imajinasi
Bersama jiwamu yg tak dimakan oleh dimensi ruang
Yang tak terbatasi oleh mereka yang tak menginginkan kita

Ini bukan laila majnun yang dibatasi oleh egoisme orang tua
Ini juga bukan kokohnya sebuah tajmahal karna cinta sang raja
Bukan pula romeo and Juliet
Tapi ini adalah karna cinta

Cinta yang tak pernah ditelan oleh segala dimensi
Cinta yang tak takut karna panasnya api neraka
Bukan pula karna nikmatnya surga
Tapi ini adalah cinta yang mendefinisian dirinya sebagai cinta
Cinta pada Sang maha Pemberi Cinta yang tak butuh balas budi
Karna cinta adalah cinta. Titik.

Kamis, 10 Maret 2011

Saatnya musik menggugat

Musik adalah wujud dari sebuah kebudayaan yang menghususkan dirinya pada seni. Perkembangan industri musik di Indonesia saat ini sangat pesat. Terutama grup music pop yang biasanya personilnya didominasi oleh kaum muda. Juga lirik-lirik dalam lagunya lebih banyak membicarakan masalah yang beraroma cinta.

Inilah ekspresi dari kejiwaan manusia. Musik adalah sebuah bagian yang tak terpisahkan dari hidup manusia. Karena dalam musik mendapatkan posisi penting dalam
kebutuhan manusia. Dia tidak dapat
disamakan dengan makanan atau minuman yang memberikan kebutuhan fisik. Karna musik dapat memberikan energi spiritual manusia. Dengan kata lain musik dapat mengisi enegi psikis manusia sehingga dapat menggetarkan jiwa.

Suatu watu kita mengalami kejenuhan dari rutinitas. Kita tidak memiliki semangat untuk melanjutkan rutinitas itu. Pikiranpun mengalami kebuntuan. Keadaan ini membuat kita untuk mencari suasana baru yang dapat mengeluarkan kita dari kejenuhan itu. Disinilah musik dapat memainkan perannya (meskipun ada cara lain yang perlu dilakukan). Ini salah satu contohnya dan masih banyak lagi contoh dari kekuatan musik tapi secara garis besarnya musik dapat menggerakan jiwa manusia.

Perkembangan industri musik sekarang masih didominasi oleh aliran musik pop. Menurut penulis, perkembangan ini tidak lepas dari kebutuhan pasar. Tapi inilah bagian dari kebebasan berekspresi manusia. Kita juga harus memaklumi dan menghargainya karna bagaimanapun juga musisi juga butuh dana dari komersial musiknya.

Wajar kalau musik terjebak dalam prioritas komersial. Toh, dunia sekarang telah terhegemoni oleh kapitalisme. Sebuah jebakan untuk mengajak segala aktifitas manusia harus tunduk pada kekuatan uang. Musik adalah sebuah komoditas yang sangat strategis untuk mengakumulasi uang. Karna musik merupakan kebutuhan siapapun dari muda sampai tua.

Terlepas dari tujuan komersial maka kita harus melihat musik dalam kacama yang berbeda. Ingat, seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa musik adalah sebuah alat atau media yang sangat strategis untuk mengakumulasi uang. Alasan inilah inilah kita harus menggunakannya juga tidak hanya untuk tujuan komersial tapi juga sebagai alat untuk keluat dari hegemoni kapitalisme. Dalam kondisi ideal, musik harus digunakn dalam membantu menciptakan kehidupan yang sejaterah bagi semua manusia. Oleh karna itu harusnya musik jangan hanya terjebak pada tujuan komersial. Apalagi konten dalam lagu yang dilantunkan hanya membuat manusia terjebak dalam romantisme cinta, kesedihan ataupun bentuk-bentuk kepasifan lainnya.

Realitas abad kapitalisme tidak harus membuat kita terlena dalam permainannya. Termasuk musik yang juga harus terbebas. Sekali lagi bukannya tidak menghargai kebebasan berekspresi sang musisi. Namun tujuan kemanusiaan harus menjadi prioritas utama. Salah satu caranya adalah konten atau lirik dari musik ciptakan. Dengan itu pendengar akan mendapat pesan dari lagu yang didengarnnya. Karna pesan itu adalah refleksi dari segala ketimpangan alam sekitarnya.

Musik dapat dijadikan sebagai alat kritik. Dia bagaikan media massa yang dapat melaksanakan fungsi checks and balances bagi ketimpangan sosial yang ada. Musik seperti ini adalah sebagai musik profetik (kemanusiaan). Jika para musisi takut akan ketidak mampuannya bersaing di pasar maka itu hanyalah ketakutan yang tidak tidak perlu. Karna sudah banyak musisi yang berkarakter profetik seperti ini. Dan justru mereka memiliki penggemar setia karena karakter yang dimilikinya.

Sebagai contohnya lihat Iwan Fals. Beliau pernah dikriminalkan karna lagu yang dilantunkannya. Di zaman orde baru yang penuh dengan penindasan yang terselubung beliau mampu mengungkap hal itu. Meskipun dia harus menanggung akibatnya tapi justru itu beliau memiliki banyak penggemar setia. Dan pasar pun sangat mengakomodasi lagunya.

Oleh karna itu bertepatan dengan hari ini sebagai hari musik maka perlu melakukan rekonstruksi paradigma musik kita. Agar musik menjadi sebuah kebudayaan yang menggugat. Ingatkah kita, saat Bung Karno melarang pemutaran lagu-lagu romantisme. Beliau sengaja melakukan hal itu bukannya untuk membatasi kebebasan manusia. Tapi dia melihat kondisi masyarakat Indonesia saat itu yang masi berada pada transisi revolusi kemerdekaan. Mereka di wajibkan mendengarkan lagu-lagu perjuangan agar semangat revolusi itu tetap terjaga.
Salam pembebasan.

Makassar, 9 maret 2011

Perempuan bangkitlah…!!!

Kelihatannya dia memiliki banyak masalah. Setiap hari dia selalu berada ditempat itu. Tempat dimana mahasiswa selalu melewatinya. Tempat yang dimana para mahasiswa berkunjung untuk mencari referensi pengetahuan.

Hari-harinya dia membersihkan jalan yang dilewati para mahasiswa agar mereka dapat melaluinya dengan perasaan nyaman. Bisa dikatakan dia bekerja demi kenyaman mahasiswa yang lalu lalang di sekitar tempat itu. Tempat itu bernama perpustakaan.

Wajahnya sedikit kotor.
Dan sedikit mengespresikan kekalahan. Kelihatannya dia adalah seorang ibu rumah tangga dan saya yakin akan hal itu. Tidak hanya dia seorang, ada juga beberapa temannya dengan seragam yang sama bekerja seperti yang ibu itu lakukan. Mereka hanyalah sebagai pegawai kecil yang sangat berbeda dengan mereka yang duduk di gedung berlantai itu.

Entah apa yang dipikirkannya. Melihat sepatu-sepatu yang dikenakan oleh mereka yang berjalan melewatinya.

“Mungkin dia lapar” tuturku dalam hati.

Seketika usai merenung. Tiba-tiba tanganya dengan memegang alat pembersih debu itu langsung di arahkan pada bekas jejak kaki yang melintas tadi. Memang itulah yang harus dia lakukan demi melawan kematian. Karna tanpa mereka melakoni pekerjaan itu maka mereka akan mati karna tak makan. Padahal kekayaan alam di negeri ini sungguh banyak. Sungguh ironis.

Yang mengherankan lagi kebanyakan yang bekerja sebagai cleaning service itu adalah perempuan.

“kalau inilah pekerjaan yang cocok bagi mereka” seorang teman berkata.
“Ooo…tidak bisa, pekerjaan ini juga cocok juga buat laki-laki” aku membalas ucapan teman.

Bukan persoalan siapa yang pantas bekerja. Tapi apakah layak atau tidak pekerjaan itu dilakukan oleh mereka. Keberadaan mereka di tempat itu dikarenakan ketidakadaan lapangan kerja yang layak. Pemerintah yang seharusnya menjadi elemen terdepan dalam memberikan pekerjaan yang layak justru berpaling. Mereka lebih melindungi pemilik-pemilik modal yang banyak uangnya.

Ini memang zaman edan. Manusia telah terkotak-kotak. Tidak lagi dilihat sebagai manusia yang utuh melainkan sebagai manusia yang memiliki banyak modal. Dia akan dihargai dan terhormat jika memiliki materi yang banyak. Sebaliknya mereka yang berpakaian compang-camping, hidup di pemukiman yang kumuh akan terlupakan.

Seorang wanita tadi harusnya berada di rumah sedang mengurusi anaknya. Harusnya kekayaan alam yang melimpah di negeri ini telah dinikmatinya tanpa harus menjadi penjaga jejak kaki yang di bawa oleh mahasiswa yang lalu lalang itu. Namun yang terjadi itu bukanlah baru satu kali. Melainkan dari sejarah telah bercerita tentang penderitaan mereka. Mereka kadang harus menjadi lahan eksploitasi kaum laki-laki. Tak jarang mereka dipaksakan untuk pelampiasan nafsu kaum lelaki ataupun menjadi komoditas komersial yang diperjual belikan.

Sungguh begitu kerasnya kehidupan mereka. Selain mengurus anak, urusan dapur juga membantu suami dalam mencari nafka.Selain kekerasan dalam pekerjaan juga mereka sering mendapat kekerasan fisik dalam rumah tangga oleh suami. Tak sedikit dari mereka menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri. Mereka bekerja sebagai pahlawan devisa negara tapi ironisnya negara tidak menjaga melindungi mereka dengan maksimal. Dalam bayangan mereka pekerjaan di luar negeri akan lebih baik dibanding negerinya. Tapi dalam realitasnya banyak dari mereka yang mengisahkan tentang penderitaan yang sangat menggugah hati. Bahkan ada yang meninggal dunia di luar negeri karena kejamnya majikan.

Konstruksi budaya juga dapat membunuh kebebasan mereka. Patriarki yang sangat ekstrim mengharuskan mereka tunduk pada segala kekuatan laki-laki. Kreativitas mereka terbunuh oleh dominasi laki-laki dan regulasi yang diciptakan oleh negara. Kadang mereka terstigmakan sebagai kaum lemah yang harus tunduk pada otoritas laki-laki.

Belum lagi pekerjaan yang disediakan negara justru lebih menindas mereka. Lihat saja buruh-buruh di pabrik yang sampai hari ini masi berdemonstrasi menuntut hak-hak sosial mereka. Kebanyakan dari buruh-buruh itu adalah kaum perempuan.

Inilah sedikit permasalah bagi kaum perempuan. Yang sampai hari ini belum pernah tuntas. Mereka tidak mengiginkan itu tapi karna ada kekuatan yang lebih besar yang memaksakan mereka. Itulah sebagian dari kebudayaan dan sistem regulasi pemerintah.

Fenomena ini mengindikasikan tentang perempuan hari ini belum bangkit dari keterpurukannya. Mereka adalah komunitas terbanyak di dunia dibanding kaum laki-laki. Jika kualitas ini sebanding dengan kuantitas dan tak lupa pula sistem sosial yang mendukung kemajuan mereka mendukung mungkin narasi akan berkata lain.

Bukankah generasi bangsa ini lahir di rahim permpuan. Melalui lembaga keluarga, genarasi bangsa di kader untuk kemudian terjun di masyarakat yang lebih luas. Hasil kader ini tergantung bagaimana proses pengkaderan dilakukan dalam keluarga. Maka disinilah peran sumberdaya perempuan yang menyangkut semua bentuk kecerdasan. Karna partisipasi perempuan memberikan kecerdasan kepada anak-anaknya akan sangat memberikan kostribusi pada kehidupan bermasyarakat nanti.

Oleh karena itu, Wahai perempuan bangkitlah…!!!
Makassar, 9 maret 2011


Rabu, 09 Maret 2011

Akulturasi budaya (Tinjauan kritis kebudayaan wakatobi)

Tapi secara garis besarnya dapat didefinisikan sebagai semua hasil cipta manusia (karya, rasa dan karsa) yang diantaranya adalah sebagai tradisi, kebiasaan, karya, seni dan sejenisnya. tak terkecuali juga wakatobi memiliki tarian daerah, makanan khas,bahasa daerah, nyanyian, upcara adat. Tarian daerah yang ada di wakatobi diantaranya seperti balumpa, fakenta dan eja-eja. Tarian daerah ini biasanya di iringi dengan musik dan nyainyian-nyanyian daerah. Makanan khas juga seperti kasoami dan kukure. Selain itu wakatobi juga memiliki bahasa daerah dan upacara adaat layaknya daerah lain di Indonesia misalnya upacara adat perkawinan.

Dalam perkembangannya dimana kehidupan memasuki era perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi, kebudayaan-kebudayaan ini pun mulai terkikis. Dan akan mengalami kepunahan jika kita masyarakat wakatobi tidak memiliki usaha-usaha untuk menyelamatkan dan melestarikannya. Namun sebelum ada usaha penyelamatan itu terlebih dahulu kita harus melihat sebab yang menimbulkannya.

Berbagi sudut pandang yang melahirkan pendapat pun muncul mengenai sebab ini. Ada yang melihat karna ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Teknologi yang digunakan oleh masyarakat akan menggambarkan pola kehidupnnya, misalnya ‘tumbua’. Teknologi ini biasanya digunakan oleh masyarakat untuk menghancurkan makanan yang akan dimasak contohnya jagung. Dalam proses pengerjaannya, jagung di tumbuk dalam alat yang disebut tumbua ini secara bersama-sama (2- 3 orang). Proses ini menggambarkan adanya kerja sama antara masyarakat dalam sebuah teknologi yang bernama ‘tumbua’ sehingga rasa kebersamaan itu akan tercipta. Namun hal ini kemudia tergeser ketika manusia menemukan teknologi penghancur makanan seperti ‘blender’. Karateristik blender bisa dioperasikan oleh satu orang dan dalam rumah sehingga akan menciptakan karakter individualistis. Dan hal ini akan menjadi kebiasaan baru yang nantinya akan menggantikan pola kehidupan yang bergotong-royong (poasa-asa pohamba-hamba) seperti yang melekat pada alat ‘tumbua’.

Selain itu, ekonomi juga menjadi sebab yang cukup memberikan andil. Misalnya jika tetangga pergi menangkap ikan di laut, biasanya hasil tangkapannya tidak dimakan sendiri. Tetangga yang lain pun selalu mendapatkan hasil tangkapan itu. Namun hal ini mulai hilang ketika masyarakat mulai kekurangan dana untuk membiayai kehidupannya. Sehingga hasil tangkapan tadi tidak lagi dibagikan kepada tetangga sekitarnya. Dan malah dijual demi melengkapi kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya.

Mahasiswa (perantau) juga turut memberikan konstribusi terhadap perubahan budaya ini. Perantau yang pulang ke kampung halamannya akan membawa budaya lain yang ada didaerah perantauannya. Apalagi jika tempat perantauan tersebut berada didaerah perkotaan yang rentan dengan budaya-budaya asing (barat). Ketika berada di kampung mereka tanpa sadar memakai pola kehidupan dari tempat rantauannya sehingga mencemari budaya kampung halamannya dan secara perlahan-lahan akan akan mendominasi dan nantinya akan musnah.

Budaya lokal dan perubahannya bukanlah menjadi hal yang penting jika kita hanya melaksanakan tanpa ada penggalian secara mendalam terhadap budaya itu. Artinya yang terpenting dari budaya adalah bagaimana kita memaknainya dan mengambil hikmah dibaliknya. Dengan itu kita dapat menjadikannya sebagai prakter cara hidup.

tulisan ini adalah hasil Diskusi HIPPMAT Poassa*
BTN Hamzi, 19 Januari 2011

*lingkar diskusi pemuda wakatobi di makassar

Indahnya persahabatan

Bayangkan jika semua interaksi manusia mengikuti mekanisme jual beli. Barang yang kita terima harus ditukar dengan uang. Begitu juga dengan jasa harus tunduk pada uang. Bagaimana kalau yang tidak memiliki uang. Dengan kata lain dia sulit berinteraksi dengan yang lain dalam hal pertukaran barang dan jasa. Inilah konsekuensi yang lahir dari abad kapitalisme karna semua bagaikan komoditas yang tunduk pada kekuatan uang.

Memang benar uang adalah alat tukar barang ataupun jasa. Kita dapat memperoleh
barang dan jasa orang lain ketika kita menukarnya dengan uang. Tapi semua akan berakhir usai pertukaran itu dilakukan. Kita tak lagi mempedulikan siapa yang memberikan kita jasa dan barang itu. Kita hanya mengingat uang yang kita berikan dan barang (jasa) yang kita terima. Ini menandakan kalau interaksi itu akan menimbulkan bekas yang semu dan tidak bertahan lama.

Ikatan uang bukanlah satu-satunya cara yang digunakan. Ada ikatan yang lebih kuat dibanding kekuatan uang. Ikatan ini tidak tidak dapat dikuantitatifkan dengan angka-angka. Karna dia bersifat abstrak yang tak dapat dinominalkan. Ikatan itu bernama persahabatan. Uang tidaklah menjadi syarat terjadinya pertukaran barang dan jasa. Prinsip utama dari persahabatan adalah asalkan kebahagiaan sahabatnya.

Ikatan yang terjalin dalam persahabat bertahan tidak seperti ikatan uang. Sehingga mereka yang terlibat dalam persahabatan akan terikat untuk saling membalas jasa atas apa yang dilakukan oleh sahabatnya. Dan biasanya akan berlanjut terus menerus.

Seorang teman mengirim saya pesan singkat seperti ini:

“Walau akau punya emas tapi sahabat paling terindah, walau akau punya pacar tapi sahabat paling setia, walau akau punya harta tetapi sahabat paling berharga, walau akau punya berlian tapi sahabat paling berkilau dan terimakasih atas segalanya”

Sungguh luar biasa. Kalimat ini sungguh memberikan kita makna yang tentang indahnya sebuah persahabatan. Sahabat yang posisinya tidak bisa diganti dengan emas, pacar, harta ataupun berlian.

Suatu saat anda membantu orang lain dengan meminta balas jasa dengan harta. Orang lain akan memberikan anda harta itu. Namun saya yakin dalam hati orang tersebut akan terbesit rasa dongkol atas sikap yang anda lakukan. Dan dia akan langsung melupakan pertolongan yang anda berikan dan melupakan anda. Kalaupun anda dikenang maka hanya kenangan yang buruk. Tapi coba seandainya yang anda lakukan sebaliknya, maka saya yakin keadaan akan membalik. Orang yang anda tolong akan mengingat jasa anda dan yakin saja pada suatu kesempatan dia akan datang membalas jasa. Selain itu apa yang anda lakukan akan tetap dikenang dan tak akan anda lupakan. Sebaliknya juga anda.

Seorang filsuf yunani, Aristoteles membagi kebahagian menjadi tiga tingkatan yaitu:

Pertama, kesenangan dimana kebahagiaan ini tingkatannya sangat rendah. Dia menyangkut kesenangan seksual, keserakahan atau singkatnya pada kebutuhan badaniyah (materi).

Kedua, kemuliaan. Kemuliaan telah berbicara nilai. Misalnya tentang kepahlawanan, pengabdian, pengorbanan dan lainya.

Dan ketiga yang merupakan tingkatan ketiga sekaligus titik puncak dari kebahagian menurut Aristoteles adalah kebajikan. Kebajikan ini merupakan implementasi dari nilai-nilai itu. Manusia akan memikirkan sesamanya sehingga akan tercipta rasa kemanusiaan.

Pada tingkatan ketiga inilah persahabatan berada. Disinilah implemntasi dari nilai-nilai itu terjewantahkan. Persahabatan memiliki spirit mereduksi konflik karna manusia akan saling menghargai demi kemaslahatan bersama.

Jumat, 04 Maret 2011

Bersyukurlah ketika dapat cobaan?

Mungkin aneh judul tulisan ini. Yah, memang aneh. Setiap saat orang selalu berpikir bagaimana dapat menjalani hidup dengan tenang tanpa ada cobaan. Cobaan selalu menjadi masalah yang menghambat orang untuk meraih yang diinginkan. Tak jarang orang yang sering mengeluh dan akhirnya putus asa. Malah yang lebih ekstrim lagi dengan menghilangkan masalah dengan mengakhiri hidupnya.

Tapi masalah adalah suatu keniscayaan dalam hidup manusia. Manusia tidak dapat
menghindarinya. Oleh karna itu manusia tidak selayaknya terlalu mengeluh? Keberadaan masalah memberikan pengertian pada kita bahwa manusia memiliki kelemahan. Ketika memiliki kelemahan maka tentunya dia membutuhkan sesuatu untuk membenahi kelemahan tersebut. Oleh karna itu maka lahirlah interaksi yang saling membutuhkan (simbiosis mutual).

Saya memiliki ini dan saya juga tidak memiliki itu. Sedangkan orang lain memiliki itu dan tidak memiliki ini. Kekuarangan dan kelebihan masing-masing maka akan melahirkan interaksi yang saling membutuhkan. Maka disitulah tercipta kehidupan sosial.

Dari kelemahan itulah manusia sesungguhnya membutuhkan sebuah kesempurnaan. Ketika manusia mendapat cobaan menandakan alarm ketidak mampuannya sedang berbunyi. Bagi manusia yang tidak ingin dalam keadaan itu maka dia akan selalu mengevaluasi setiap perjalanan kehidupannya. Dia akan selalu mempelajari setiap masalah yang dihadapinya kemudian dijadikan modal menjalani hidup berikutnya. Sehingga terhindar untuk jatuh pada lubang yang sama. Semakin dia belajar dari masalah maka semakin matang cara berpikirnya dan nantinya akan teraktualisasi dalam kebijaksanaannya dalam menjalani hidup.

Sangat hambar hidup tanpa masalah. Bayangkan jika kehidupan di bumi ini hanya siang tanpa malam dan mataharinya selalu terik dan tidak perna tertutup oleh awan gelap. Tentunya keadaan ini akan membuat manusia jenuh dan bosan. Begitu pula pada manusia jika dia tidak pernah mendapat cobaan dalam hidup. Manusia tidak akan membutuhkan yang lain. Tidak lagi membutuhkan manusia lain dalam masyarakat. Padahal betapa bahagianya ketika persaudaraan itu tercipta. Begitu juga dengan kehidupannya. Kehidupan manusia tidak akan monoton tidak ada dinamika. Karna masalahlah yang menciptakan dinamika sehingga manusia dapat belajar.


Kamis, 03 Maret 2011

Menyapa Pemakna

Dalam beberapa hari ini, waktu untuk menulis agak terhambat bahkan tidak ada. Tapi untuk pembaca sekalian dan mungkin penggemar dan bisa jadi memang penggemar blog ini dan ini (hehehe…) akan mendapat berita yang menggembirakan. Jika selama ini anda kurang ter up to date tulisan di blok ini maka jangan khawatir lagi karna aku akan datang untuk kalian.

Melalui tulisan dalam blog ini kita akan saling berjumpa. Meskipun dalam dunia materi (nyata) kita
tidak saling bertemu namun rangkaiang huruf akan mempertemukan kita. Huruf demi huruf terangkai menjadi kata dan kata terangkai menjadi kalimat. Dan tak lupa pula kalimat akan saling menyatu dalam membentuk paragraf. Dan dari itu semua kita saling memberikan makna.

Tak ilmiah atau mungkin rangkaian dan makna kalimatnya buruk. Silahkan pembaca menilainya, itu hak anda. Penulis bukanlah pemegang otoritas tertinggi dalam penetapan interprestasi. Penulis hanyalah pembawa berita sebagai wujud pengejewantahan ide dalam setiap diaklektika. Penulis juga sebagaimana dikatakan oleh widji thukul “aku bukanlah artis pembuat kabar tapi aku adalah kabar buruk bagi penguasa”. Kabar buruk yang dimaksudkan adalah kabar tentang kebuntunan dan kekosongan pemikiran. Melalui blog ini kekosongan itu akan terisi oleh ide yang akan selalu diperbaharui.

Mungkin juga benar. Kematian tengah berlangsung. Dan kematian itu terjadi pada semua penulis. Penulis bukanlah penentu makna dalam setiap bacaan. Kita semua memiliki hak untuk itu. Oleh karna itu silahkan kita saling memaknai selama kebebasan itu masih ada.

Bacalah!!!. Demikian perintah Tuhan. Tanpa membaca kita tak dapat memaknai hidup. Lebih-lebih akan menjalani hidup yang terus menantang. Maka hasil pemaknaan bacaanlah yang akan menjadi jawabannya.

Bebaskan pikiranmu. Tuhan akan bangga ketika melihat akalmu digunakan semaksimal mungkin. Dan terserah anda, silahkan perlakukan tulisan ini sesukamu.

salam pencerahan.


Minggu, 20 Februari 2011

Saya kurang sepakat dengan islam anda

“Gimana diskusinya?” Tanya seorang teman. Dia adalah teman sekaligus senior di kampus. Pertanyaan itu dimaksudkan pada saya untuk dijawab. Kebetulan saya terlihat baru keluar dari ruangan tempat diskusi itu berlangsung. Diskusi seputaran isu-isu yang tengah dihadapi oleh negeri kita,Indonesia. Tak luput juga ahmadiyah yang dibahas sampai adanya pendapat perlunya negara yang berideologikan islam.

“Lumayan seru dan panas”, kataku. Sebenarnya
dalam diskusi itu lebih menjelaskan tentang pertarungan ideologi dan bagaimana seharusnya sistem atau ideologi yang digunakan Indonesia. Beberapa alternatif disampaikan dalam forum. Juga tak lepas dari interupsi dengan menanggapi untuk sepaham, melengkapi juga ada yang tidak sepaham. Bahkan sampai ada bahasa-bahasa yang kurang berkenan untuk diucapakan. Namun beginilah kami, mahasiswa. Adu argumen adalah hal yang biasa dan harus meskipun perdebatan itu sangat ekstrim. Dan kami selalu memakluminya.

Ada sebuah argumen yang menjadi perdebatan yang cukup menarik dalam diskusi itu meskipun ada juga hal menarik lainnya. Yaitu perlunya revolusi islam dan Indonesia dijadikan negara Islam. Saya katakan “sebenarnya sepakat pada ideologi apa saja asalkan itu menegakkan kemanusiaan. Tapi jika anda menerapkan islam sebagai sebagai idoelogi negara maka islam yang bagaiman dulu?”. Pernyataan saya demikian tak lepas dari kondisi objektif yang ada di dunia. Banyak organisasi atau kelompok islam yang gerakannya dari yang libeal sampai ekstrimis begitupun juga dengan model pemerintahan islam yang diinginkan.

Islam tetap satu dan tidak akan berubah. Namun penafsiran tak jarang berbeda dan perbedaan itu islam telah mengakuinya. Intinya forum itu sepakat dengan adanya ideologi islam jika itu tidak merugikan pihak manapun. Karna hakekat islam selalu mengajak pada keadilan.

Di luar ruangan tadi, “kapan gabung dalam kelompok kami?” teman melanjutkan kembali pertanyaannya.

Sambil tersenyum dan saling berjabatangan (itulah kebiasan kami jika saling bertemu). Saya menjawab “Nantilah, yang pentingkan kita sama-sama memperjuangkan islam, agama rahmat sekalian alam”. Dan diselingi dengan sedikit tawa sebagai ungkapan persahabatan dan satu misi.

“Ah, perjuangan islam yang bagaimana?” katanya.
“Yang pastinya Islam yang membawa kedamaian” jawabku.

Ekpresi seorang teman tadi seolah dia mengklaim gerakannyalah yang harus diikuti karna mereka paling benar. Saya maklum atas sikap temanku itu. Sebenarnya percakapan dengannya masi ingin dilanjutkan tapi karna waktu shalat magrib telah tiba maka segera kami sudahi percakapan itu.

Dalam perjalan berpisah dengannya dalam hatiku berkata, “saya bukanlah islam demikian yang langsung menyalahkan saudara muslim lain yang berbeda dengan yang saya pahami”. Dan “jika seperti ini perjuangan anda saya kurang sepakat dengan islam yang anda pahami”

Makassar, 19 Februari 2011


Ingin ke Amerika

Negeri yang dikenal sebagai negeri paman sam ini terkenal dengan demokrasinya. Bahkan hampir setiap negara di dunia menjadikannya sebagai contoh model demokrasi. Namun realitas kebijakan luar negerinya tidaklah demikian. Amerika justru terlihat diskriminatif terhadap kelompok atau negara yang merugikan mereka. Dengan ini demokrasi Amerika sering disebut dengan demokrasi berwajah ganda. Demokrasi yang hanya dijalankan jika memihak kepada mereka dan tidak akan dijalankan jika merugikan mereka.

Terlepas itu, ketika mendengar cerita dari dosen yang usai pulang dari studi di Negara tersebut. Paradigma
saya melihat sisi lain. Menurut cerita seorang dosen, dalam negeri Amerika sungguh kebasan mengespresikan hak asasi manusia itu sangat di junjung tinggi. Memang, jika orang islam yang memasuki negara ini sangat diperketat bahkan harus mengalami pemeriksaan yang menunutut berbeli-belitnya prosedur. Tapi ketika kita telah mampu melewati pemeriksaan maka kita akan bebas menjalankan hak-hak kita. Dan mereka katakan ‘kamu sekarang bebas dan kami berkewajiban melindungimu’.

Kekagumanku juga terletak pada dunia pendidikannya. Dari segi fasilitas negara paman sam ini sangat jauh di depan dibanding negari kita Indonesia. Buku-buku, tekhnologi, manajemen birokrasi pendidikan dan semua hal yang berhubungan dengan pendidikan sangat menggugah untuk dikunjungi. Bahkan buku-buku karya anak Indoensia ada di perpustakaan dalam universitas. Padahal di Indonesia sendiri masih banyak perpustakaan sekolah atau kampus yang tidak memuat buku hasil karya anak negerinya. Sungguh ironis…!!!

Saya kadang bertanya dalam hati, ‘bagaimana Indonesia mau maju? Sementara Negaranya sendiri masih lamban memenuhi kebutuhan pendidikannya’. Namun perlu dimaklumi juga, Indonesai memperoleh kemerdekaan jauh lebih lama di banding Amerika. Apalagi kebebasan berdemokrasi baru ditegakkan belumlah lama yaitu sejak era reformasi sebagai akhir dari rezim orde baru (tahun 1998). Tapi sebagai negara yang ingin maju harusnya menjadi motivasi untuk meraih kemajuan dimasa depan. Jika tidak maka kita akan selalu menjadi negeri pengekor dan akan selau tergantung pada negeri yang lebih maju termasuk Amerika.

Makassar, 19 Februari 2011

Selasa, 15 Februari 2011

Pers masa depan

Pada tanggal 9 Februari beberapa hari yang lalu, pers memperingati hari ulang tahun yang kesekian kalinya. Dalam perayaan itu selain evaluasi kinerja juga agenda pers kedepan juga menjadi bahan pembicaraan. Mengevaluasi keberadaan pers hari ini tidak bisa terlepas kekuatan kuasa modal. Pers tidak bisa dikatakan objektif dalam pemberitaan. Hal ini
telah menjadi rahasia umum dikalangan para penggiat pers sendiri. Proses hadirnya informasi sampai kepenerima tidaklah apa adanya melainkan ada apanya yang tak lepas dari kepentingan atau nilai tertentu.

Kondisi ini memberikan sebuah stigma bahwa pers adalah sebuah media yang sangat erat kaitannya dengan tujuan komersial. Memang itu hal yang wajar, karna dunia globalisasi telah memutlakan uang sebagai alat untuk interaksi. Uang adalah sebagai sebuah kekuatan yang selalu mengarahkan semua hal termasuk pers. Singkatnya pers juga butuh dana sebagai energi penggerak eksistensinya.

Jika hal ini terus dan menjadi agenda prioritas dari pers maka pers yang harusnya menjadi alat penyadaran (pendidikan) akan bias dari tujuannya. Pers harus menjadi kampiun dalam mengontrol gerak gerik ketimpangan yang terjadi. Masyarakat sebagai tujuan pemberitaan dalam pers akan sadar sehingga memungkinkan mempercepat proses demokrasi. Oleh karena itu pemberitaan harus selalu memihak pada misi kemanusiaan.

Misi profetik, layaknya tugas sang nabi utusan Tuhan yang murni menyampaikan kebenaran tanpa ada pemihakan tertentu. Pemihakannya hanyalah kebenaran. Mereka tidak bergerak atas misi komersial melainkan misi kemanusiaan. Sejatinya inilah tugas pers yaitu menjadi media sosial yang dapat membantu transformasi sosial kearah perbaikan. Pers akan menjajikan informasi yang harus selalu sejalan dengan misi kemanusiaan. Sebisa mungkin melepaskan dirinya dari jeratan kekuasaan maupun kuasa modal.

Namun tidak pula dipungkiri, komersialisasi dalam pers tidak dapat dilepas. Pers juga butuh energi penggerak. Meskpun itu, tidaklah menjadi alasan untuk memalingkan dirinya dalam misi kemanusiaan. Semaksimal mungkin pers harus menjadi salah satu pahlawan perubahan. Artinya tujuan kemanusiaan harus diutamakan dibanding tujuan komersial. Dan inilah yang harus menjadi agenda pers kedepan.

Makassar, 14 Februari 2011


Hikmah maulid nabi Muhammad SAW

Tepatnya tanggal 12 rabiul awal tahun 571 Masehi. Seorang anak manusia lahir dari seorang ayah yang bernama Abdullah dan ibu yang bernama Aminah. Anak itu bernama Muahammad bin Abdullah. Kelahirannya diwarnai dengan peristiwa penyerangan salah satu kelompok (suku) dengan menunggangi gajah yang akan menghancurkan ka’abah. Peristiwa itu menandakan pada waktu itu konflik antarmanusia masih sering terjadi.

Kelahiran Muahammad SAW ini nantinya akan membawa wajah baru di masyarakat arab. Sebelumnya kehidupan masyarakat arab yang sangat timpang. Tindakan tak bermoral
mewarnai kondisi waktu itu. Ketimpangan antara si kaya dan si miskin sangat jauh berbeda. Tindak eksploitasi sesama manusia tak jarang terjadi. Maka dengan hadirnya Muhammad SAW maka semua akan berubah. Meskipun banyak tantangan yang dihadapai dalam mennyebarkan ajaran Tuhan namun beliau tetap istiqamah. Sehingga perubahan itu pun mendapatkan hasilnya. Beliau dapat mendirikan sebuah pemerintahan di madinah yang sangat menjunjung tinggi persamaan antarmanusia.

Banyak faktor ang menyebabkan Muhammad SAW dapat mencetuskan perubahan itu. Selain ajaran yang dibawanya sangat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Juga kharisma individu yang cukup memikat hati masyarkat arab saat itu. Beliau memiliki akhlak mulia yang ketika orang bersamanya akan merasa tentram. Muhammad SAW tidak pernah memposiskan diri sebagai manusia yang lebih. Beliau sangat menghargai dan menyayangi sesamanya.

Melihat sejarah emas yang diciptakan beliau maka umat islam seluruh dunia selalu memperingati hari kelahirannya. Umat muslim menganggap hari itu adalah sebuah bentuk penghargaan kepadanya. Namun peringatan itu akan menjadi sia-sia jika hanya sebatas pelaksanaan seremonial belaka. Jika dimaknai secara subtansial harusnya hari kelahiran ini dijadikan momentum untuk mengenang sekaligus merefleksikan segala akhlakul qarimah (akhlak baik) yang dimilikinya. Sehingga dapat menciptakan kehidupan yang rukun antara manusia meskipun berbeda dalam hal segala hal termasuk dalam beragama.

Apalagi kondisi Indonesia sekarang masih sering terjadi permusuhan. Salah satu cara untuk keluar dari masalah ini adalah menjadikan kehidupan Rasullulah SAW menjadi panutan. Karna beliau perna mengalami masa dimana konflik antara manusia itu sering terjadi. Sang rasul dipertemukan dengan berbagai kelompok yang saling berbeda dalam masyarakat. Namun beliau dapat mengatasinya, terbukti dengan lahirnya negara madinah yang merangkul semua kelompok yang berbeda dan dapat hidup rukun.

Sabtu, 12 Februari 2011

Tionghoa dan demokrasi di Indonesia

Tionghoa atau di kenal sebagai warga cina adalah etnis yang cukup diperhitugnkan di Indonesia. Dari segi ekonomi mereka di kenal sebagai para pekerja keras. Lihat saja ekspansi ekonomi pada hampir seluruh kota di Indonesia. Namun sejarah pernah menggoreskan tentang cerita yang berbeda pada komunitas tionghoa. Yaitu tindak diskriminasi hampir seluruh aspek khidupannya hingga keyakinan beragama yang diyakini oleh banyak orang sebagai ruang pribadi antara manusia dan tuhannya.

Perayaan imlek secara terbuka yang dirayakan oleh etnis tionghoa di Indonesia adalah bukti demokrasi di Indonesia mulai ditegakkan. Sebelumnya pada masa orde baru, Indonesia dikenal sebagai Negara yang sangat otoriter terhadap rakyatnya. Selama 32 tahun di bawah
kepemimipnan Suharto, rakyat Indonesai telah kehilangan hak asasi antara lain adalah hak, ekonomi, politik maupun agama. Tak terkecuali warga tionghoa di Indonesia.

Tionghoa di Indonesai terbilang sebagai komunitas minoritas. Mereka telah ada sejak masa pra kemerdekaan Indonesia bahkan mereka juga dikenal terlibat dalam kemerdekaan Indonesia. Namun sejak kemerdekaan direbut dari tangan penjajah maka makna kemerdekaan kembali diplintirkan oleh penguasa. Lebih tegasnya lagi oleh penguasa orde baru.

Komunitas tionghoa dilihat sebagai ancaman yang serius bagi kekuasaan orde baru. Hal ini tidak bisa dilepas dari trauma perang dingin yang tejadi pasca perang dunia ke dua. Perang dingin kita ketahui sebagai perang ideologi untuk merebut hegemoni dan penguasaan tunggal di dunia. Dimana pada fase perang dunia ini, terjadi dua kekuasaan besar atau dua kekuasaan yang terlibat dalm perang yaitu blok barat dan blok timur. Blok barat terdiri dari negara Amerika dan Negara-negara eropa bara sedangkan blok timur diwakili dengan negara-negara yang tergabung dalam Unisoviet yang diantaranya adalah cina.

Perang ideologi yang dijalankan secara halus tanpa perang fisik adalah cirri kahs dari fase perang dingin ini. Komunisme yang dimiliki oleh blok timur selalu bertentangan dengan kapitalisme yang dianut oleh blok barat. Pertentangn ini selalu dan akan terus berlanjut karna di latar belakangi oleh cita-cita kehidupan yang berbeda. Pada saat itu Indonesia tidak terlibat dalam perang dingin tersebut dan mengklaim dirinya bersama Negara dunia ketiga lainnya sebagai Negara non blok atau tidak memihak pada salah-satu blok yang berseteru. Namun dalam dinamikanya kemenanganpun dimiliki oleh penguasa blok barat. Sehingga cengkraman kekuasaanpun berimbasa pada Negara dunia ketiga tak terkecuali Indonesia. Artinya Indonesia telah hari ini secara substansial telah terjebak dalam pengaruh kekuatan blok barat yang di pegang oleh Amerika dan sekutunya.

Ketertundukan Indonesia pada blok barat ditandai dan diawali pada jatuhnya rezim orde lama yang dipimpin oleh sukarno dan digantikan oleh Suharto yang kenal dengan rezim orede baru. orde baru menjadi kaki-tangan penguasa blok barat di Indonesia. sejak itu, segala hal yang mengancam kekuasaan orde baru akan mengalami perlakuan yang diskriminatif. Apalagi mereka yang dicurigai sebagai penganut komunisme. Merekalah komunitas tionghoa.

Ketakutan orede baru itu membuat hak-hak ekonomi, politik, budaya maupun agama waraga tionghoa mengalami penyempitan ruang gerak. Dari segi politik, tidak hanya warga tionghoa namun juga warga pribumi Indonesia sendiri harus tetap tunduk pada mesin politik orde baru. orde baru melakukan pembatasan beraspirasi untuk menjaga kekuasaannya tetap eksist. Tidak ada satupun partai tionghoa yang ada di zaman orde baru. Begitu juga dari segi ekonomi, dimana warga tionghoa yang di kenal sebagai komunitas yang mampu bersaing secara ekonomi mengalami keterbatasan langkah ole orde baru. bahkan di zaman reformasi sekarang pun banyak warga tionghoa di temui sebagai korban- korban represi orde baru, misalnya di daerah di Kalimantan barat, tempat basis tionghoa.

Meskipun symbol karna diliahat sebagai ancaman maka harus di batasi, begitupun yang tejadi pada kebebasan berbudaya. Di masa orde baru ini warga tionghoa mengalami pengucilan dari segi budaya. Symbol marga yang terdapat pada nama harus di sesuaikan agar tidak terkesan sebagai orang tionghoa. Selain itu tarian barongsai di zaman orde baru tidak bias di tampilkan di muka umum. Begitu juga dengan kebebasan beragama, perayaan hari raya tionghoa (imlek) tidak pernah dirayakan secara terang-terangan. Bahkan layaknya hari raya agama lain (islam, Kristen, hindu, budha dan hindu), hari raya Imlek tidak di hargai sebagaimana hari raya agama lain yang dijadikan hari liubr nasional.

Inilah contoh begitu kejamnya orde baru terhadap warga tionghoa. Namun pasca reformasi dgulirkan atau di tumbangkannya rezim orde baru, kebebaan itu mulai longgar. Presiden pertama era reformasi telah membuka kerang demokrasi kepada seluruh warga Indonesia. Kegiatan ekonomi, politik maupun budaya telah di bebaskan bagi siapa saja tak terkecuali warga tionghoa. Bahkan tercatat ada partai tionghoa yang sempat berdiri pada pemilihan umum (pemilu) 1999. Di antaranya adalah partai bhineka tunggal ika dan partai Reformasi tionghoa Indonesia. Bahkan dari partai bhineka tunggal ika telah menempatkan satu orang wakilnya di DPR, L Susanto, sebagai perwakilan dari Kalimantan barat.

Sejak saat itulah seluruh warga Indonesia memiliki hak yang sama untuk terlibat dalam upaya membangun tatanan sosial di Indonesia. Dalam perkembangannya kini mereka telah banyak terlibat dalam kegiatan politik Indonesia. Sejak tumbangnya orde baru di Indonesia, banyak warga tionghoa yang menduduki kursi parlemen maupun eksutif. Salah-satu contohnya adalah tokoh nasional Kwik Kian Gie sebagai menteri sebagai Menteri Koordinator Ekonomi (1999 - 2000) dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional & Ketua Bappenas (2001 - 2004).

Kebebasan itu di pertegas kembali sejak KH Abdurrahman Wahid menjadi presiden republik Indonesia. Presiden yang dikenal dengan bapak pluralisme semakin mmeberikan kebebasan pada siapa saja untuk bersuara. Hari raya imlek kemudian di jadikan sebagai hari libur nasional. Juga, tari barongsai yang pada masa orde baru tidak pernah ditampilkan di public kini telah banyak di kenal oleh masyarakat umum. Begitu juga dengan kebabasan layaknya etnis lain di Indonesia.